cover
Contact Name
Adit Widodo Santoso
Contact Email
adit.santoso@ukrida.ac.id
Phone
+6285171706076
Journal Mail Official
meditek@ukrida.ac.id
Editorial Address
Gedung A Lantai 5 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Kristen Krida Wacana, Jl. Arjuna Utara No. 6, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11510
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Meditek
ISSN : 26861437     EISSN : 26860201     DOI : https://doi.org/10.36452/jkdoktmeditek
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran MEDITEK merupakan jurnal ilmiah yang mempublikasikan artikel-artikel dalam lingkup bidang kedokteran dan biomedik secara open access. Proses publikasi artikel melalui proses penelaahan oleh pakar sebidang (peer-review) secara double-blind. Jurnal Kedokteran Meditek berafiliasi pada Fakultas Kedokterandan Ilmu Kesehatan Universitas Kristen Krida Wacana, dengan misi mendorong penyebarluasan perkembangan ilmu kedokteran & biomedis di Indonesia maupun secara global dengan menerbitkan 3 edisi dalam setahun, yaitu: Januari, Mei dan September.
Articles 623 Documents
Pengaruh Air Susu Ibu Eksklusif terhadap Perkembangan Kognitif dan Perilaku Anak Usia 6-24 Bulan di Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan pada Tahun 2016 Siti Hajar binti Suffian; Flora Rumiati; Erma Sumbayak
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v23i64.1571

Abstract

Air susu ibu (ASI) eksklusif adalah pemberian ASI setelah bersalin yang diberikan sedini mungkin, tanpa jadwal dan tanpa makanan lain (termasuk air putih) hingga anak berusia enam bulan. Pelbagai manfaat dapat diperoleh dengan memberi ASI eksklusif kepada anak, terutama semasa enam bulan pertama kehidupan. Manfaat ASI adalah meningkatkan kekebalan tubuh dan kecerdasan anak karena ASI mengandung semua nutrisi yang diperlukan oleh anak untuk tumbuh kembangnya. Oleh karena itu, penelitian ini dijalankan untuk mengetahui pengaruh pemberian ASI eksklusif dan pengaruh tidak memberikan ASI eksklusif terhadap perkembangan kognitif dan tumbuh kembang anak usia enam hingga 24 bulan. Selain ASI eksklusif, faktor lain yang turut diteliti adalah usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan ibu, cara persalinan, dan waktu hamil. Penelitian dilakukan di Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan, dengan jumlah responden sebanyak 80 anak. Pada penelitian ini didapatkan ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif terhadap perkembangan personal sosial, motorik halus, bahasa, dan motorik kasar. Dapat disimpulkan bahwa ASI berperan penting dalam perkembangan anak usia enam hingga 24 bulan.Kata kunci: ASI eksklusif, kognitif, tumbuh kembang, nutrisi
Peran Berbagai Jenis Gen Virulensi Uropathogenic Eschericia coli (UPEC) dalam Pembentukan Biofilm Wani Devita Gunardi
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v23i64.1572

Abstract

Bakteri uropathogenic Escherichia coli (UPEC) merupakan bakteri penyebab tersering infeksi saluran kemih (ISK). Bakteri UPEC memunyai gen virulensi yang memudahkan timbulnya ISK seperti P fimbriae (papC), type 1 fimbriae (fimA), afimbrial adhesin (afaI), hemolisin (hlyA), cytotoxic necrotizing factor (cnf 1), aerobactin (aer), S fimbriae (sfaS). Masing-masing dari gen virulensi ini memiliki perannya masing-masing dalam patogenesis ISK yaitu sistitis dan pielonefritis. Saat ini, banyak penelitian yang juga membahas hubungan faktor gen virulensi ini dengan kemampuannya membentuk biofilm, terutama pada bakteri UPEC penyebab ISK. Adanya kemampuan pembentukan biofilm dari bakteri UPEC pada ISK akan meningkatkan virulensi bakteri, sehingga terjadi peningkatan angka morbiditas dan kesulitan dalam terapi antibiotika dalam penatalaksanaannya.Kata kunci: Eschericia coli, UPEC, biofilm, gen virulensi
Tinjauan Pemberian Obat Melalui Selang Enteral Ferina Angelia
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v23i64.1573

Abstract

Oleh karena jalur per oral merupakan cara terpilih untuk pemberian obat pada sebagian besar pasien, maka selang enteral dapat menjadi alat yang penting untuk memasukkan obat ke dalam tubuh pasien. Selang enteral umumnya dipasang pada pasien yang mengalami kesulitan menelan, namun masih memiliki fungsi saluran cerna yang adekuat. Terdapat beberapa faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan dalam pemberian obat melalui selang enteral. Pertimbangan pertama terkait kompatibilitas bentuk sediaan obat untuk diberikan melalui selang enteral. Apakah perlu dilakukan substitusi ke formulasi (atau obat) lain atau perlu dilakukan modifikasi dari bentuk sediaan obat awal? Pertimbangan kedua terkait adanya interaksi obat dengan nutrisi enteral, selang enteral atau antarberbagai obat yang diberikan kepada pasien. Terdapat juga beberapa faktor lain yang harus dipertimbangkan terkait kemungkinan perubahan efikasi dan keamanan obat. Tinjauan ilmiah ini dibuat dengan tujuan untuk memberikan informasi dan panduan mengenai pemberian obat melalui selang enteral serta implikasi klinisnya.Kata kunci : Cara pemberian obat, selang enteral, formulasi obat
Variasi Anatomi Percabangan dari Arteri Renalis Handy Winata Hon
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v23i64.1574

Abstract

Tidak semua arteri renalis pada manusia memiliki letak yang normal, sekitar 40% arteri renalis mengalami variasi anatomi, dimulai dari letak percabangan sebelum menjadi arteri renalis, sumber pendarahan pada arteri renalis, serta jumlah percabangan pada saat sudah menjadi arteri renalis. Variasi anatomis dari arteri renalis sendiri tidak mempengaruhi fungsi kerja dari arteri renalis itu sendiri. Contoh dari variasi dari arteri renalis adalah sebagai berikut: arteri renalis yang dipercabangi dari arteri mesenterika superior, ada pula arteri renalis yang bercabang dari vertebra torakalis X,XI,XII, dan yang lain ada ginjal yang memiliki lebih dari satu arteri renalis.Kata kunci: variasi anatomi, arteri renalis, ginjal.
Ikan zebra (Danio rerio) dan Kegunaanya dalam Penelitian Fisiologi William William
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v23i64.1575

Abstract

Ikan zebra merupakan ikan air tawar yang banyak digunakan untuk penelitian biomedis. Embrionya yang transparan dan organogenesis yang cepat serta genetiknya mudah dimanipulasi, membuat ikan ini sangat sesuai untuk penelitian mengenai embriologi, genetika, sampai penyakit kanker. Selain itu ikan zebra juga dapat digunakan untuk penelitian fisiologi karena kemiripan struktur anatomi dan proses fisiologi dengan vertebrata lainnya. Penelitian-penelitian fisiologi yang dapat dilakukan pada ikan zebra antara lain penelitian pada mukus, penelitian perkembangan jantung, elektrofisiologi jantung, regenerasi jantung, perkembangan dan fungsi ginjal, irama sirkardian, pigmentasi kulit, dan penelitian fisiologi mata.Kata kunci: Ikan zebra, penelitian fisiologi, organogenesis
Gangguan Skizoafektif: Penerapan DSM-5 pada Entitas Diagnostik yang Hampir Dihilangkan Theresia Citraningtyas
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v23i64.1576

Abstract

Gangguan skizoafektif sempat dipertimbangkan untuk tidak lagi disertakan dalam edisi kelima Diagnostic and Statistical Manual of mental disorders (DSM-5). Padahal, gangguan skizoafektif merupakan masalah yang lebih berat daripada skizofrenia maupun gangguan bipolar, dengan jumlah kasus yang tidak sedikit. Makalah ini mengangkat sebuah kasus sebagai contoh penerapan DSM-5 dan menjabarkan perbedaan-perbedaannya dengan perangkat diagnostik sebelumnya, yaitu DSM IV/DSM IV-TR. Makalah ini kemudian menunjukkan bagaimana polemik terkait diagnosis tersebut kemudian berdampak pada kurangnya konsensus penatalaksanaan, sehingga pada akhirnya tatalaksana harus didasari oleh konsensus untuk diagnosis lainnya, yaitu gangguan afektif bipolar, sekalipun sebetulnya gangguan skizoafektif dianggap lebih mendekati skizofrenia.Kata kunci: gangguan skizoafektif, DSM-5, diagnosis, studi kasus
Psoriasis Pustular Generalisata yang Diterapi dengan Kortikosteroid Sistemik Grace Lauren S; Khairuddin Djawad; A.M. Adam; Dirmawati Kadir
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v23i64.1577

Abstract

Psoriasis pustular generalisata atau yang sering juga disebut Von Zumbusch merupakan bentuk psoriasis inflamatori yang jarang terjadi dan secara klinis berkarakteristik demam yang diikuti dengan erupsi generalisata pus steril dengan diameter 2-3mm pada kulit yang eritem. Pengobatan yang umumnya digunakan adalah etretinate, methotrexate (MTX), cyclosporine, infliximab, atau kortikosteroid sistemik. Kami memaparkan seorang wanita berusia 39 tahun dengan psoriasis pustular generalisata yang diterapi dengan kortikosteroid sistemik.Kata kunci : psoriasis pustular generalisata, Von Zumbusch, terapi, kortikostresoid sistemik
Dandy Walker Variant pada Onset Dewasa Sony Sutrisno; Rahmad Mulyadi
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v23i64.1578

Abstract

Dandy Walker Variant didefinisikan sebagai suatu kelainan kongenital dengan karakteristik dilatasi kistik ventrikel IV, hipoplasia vermis serebelum tanpa disertai dengan pembesaran fossa posterior. Dilaporkan bahwa seorang laki-laki berusia 39 tahun dengan keluhan utama kejang disertai gangguan penglihatan dan hilangnya ingatan, yang dengan didahului adanya trauma pada kepala sembilan bulan sebelumnya. Pada pemeriksaan dengan Computed Tomography scan (CT scan) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI), didapatkan adanya hipoplasia vermis serebelum, ventrikulomegali, dan dilatasi kistik ventrikel IV, sehingga diagnosis Dandy Walker Variant onset dewasa ditegakkan. Pada umumnya, gejala Dandy Walker timbul pada masa kanak-kanak karena merupakan kelainan kongenital, tetapi pada beberapa kasus onset dapat terjadi pada orang dewasa dengan adanya pencetus, salah satunya adalah trauma.Kata kunci : Dandy Walker Variant, onset dewasa
Pendekatan Diagnosis dan Tata Laksana Sindroma Nefrotik Elli Arsita
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v23i64.1579

Abstract

Sindroma nefrotik (SN) merupakan salah satu manifestasi klinik dari glomerulonefritis (GN) yang ditandai dengan edema anasarka, proteinuria masif ( 3,5 g/hari), hipoalbuminemia (>= 3,5 g/hari), hipoalbuminemia (< 3,5 g/dl), hiperkolesterolemia, dan lipiduria. Sindroma nefrotik dapat disebabkan oleh GN primer dan sekunder akibat infeksi, keganasan, penyakit jaringan penghubung, obat atau toksin, dan akibat penyakit sistemik misalnya pada lupus eritematosus sistemik, dan diabetes melitus. Anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaaan urin termasuk pemeriksaan sedimen perlu dilakukan dengan cermat. Pemeriksaan kadar albumin dalam serum, kolesterol, dan trigliserida juga membantu penilaian terhadap SN. Pemeriksaan serologik dan biopsi ginjal sering diperlukan untuk menegakkan diagnosis dan menyingkirkan kemungkinan penyebab GN sekunder. Pengobatan SN terdiri atas pengobatan spesifik yang ditujukan terhadap penyakit dasar dan pengobatan non-spesifik untuk mengurangi proteinuria, mengontrol edema, dan mengobati komplikasi.Kata kunci : sindrom nefrotik, glomerulonefritis, lupus
Komplikasi Penderita Sirosis Hati Di RSUD KOJA Pada Bulan Juli - November 2017 Suzanna Ndraha; Imelda Imelda; Marshell Tendean; Mardi Santoso
Jurnal Kedokteran Meditek VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36452/jkdoktmeditek.v24i67.1590

Abstract

Sirosis merupakan tahap akhir dari berbagai penyakit hati kronis. Penyebab tersering adalah infeksi virus hepatitis B, virus hepatitis C dan alkohol. Sirosis hati dengan komplikasinya merupakan masalah kesehatan yang masih sulit diatasi. Hal ini ditandai dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan komplikasi apa saja yang didapatkan pada pasien sirosis hati yang dirawat di RSUD Koja. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian observasional deskriptif, dengan mengambil pasien rawat inap Penyakit Dalam RSUD Koja selama Juli–November 2017. Didapatkan sebanyak 63 pasien yang terdiri dari 41 orang (65,1%) laki-laki dan 22 orang (34,9%) perempuan, usia 20-40 tahun sebanyak 11 orang (17,5%) , usia 40 -60 tahun 46 orang (73%), dan usia lebih dari 60 tahun 6 orang (9,5%). Keluhan utama terbanyak adalah perut membesar (40%). Stigmata sirosis terbanyak adalah ikterus (51%), dan komplikasi terbanyak adalah asites, pada 55 orang (87,3%). Hal ini memberikan kesan penting sekali melakukan evaluasi pada pasien dengan penyakit hati kronis khususnya hepatitis B mengenai kemungkinan sirosis hati. Kata kunci: Sirosis hati, gender, usia, komplikasi

Filter by Year

1995 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 32 No 2 (2026): Maret Vol 32 No 1 (2026): Januari Vol 31 No 6 (2025): November Vol 31 No 5 (2025): SEPTEMBER Vol 31 No 4 (2025): JULI Vol 31 No 3 (2025): MEI Vol 31 No 2 (2025): MARCH Vol 31 No 1 (2025): JANUARI Vol 30 No 3 (2024): SEPTEMBER Vol 30 No 2 (2024): MEI Vol 30 No 1 (2024): JANUARI Vol 29 No 3 (2023): SEPTEMBER Vol 29 No 2 (2023): MEI Vol 29 No 1 (2023): JANUARI Vol 28 No 3 (2022): SEPTEMBER-DESEMBER Vol 28 No 2 (2022): MEI-AGUSTUS Vol 28 No 1 (2022): JANUARI-APRIL Vol 27 No 3 (2021): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 27 No 2 (2021): MEI - AGUSTUS Vol 27 No 1 (2021): JANUARI - APRIL Vol 26 No 3 (2020): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 26 No 2 (2020): MEI-AGUSTUS Vol 26 No 1 (2020): JANUARI - APRIL Vol 25 No 3 (2019): SEPTEMBER - DESEMBER Vol 25 No 2 (2019): MEI - AGUSTUS Vol 25 No 1 (2019): JANUARI - APRIL VOL. 24 NO. 68 OKTOBER-DESEMBER 2018 VOL. 24 NO. 67 JULI-SEPTEMBER 2018 VOL. 24 NO. 66 APRIL-JUNI 2018 VOL. 24 NO. 65 JANUARI-MARET 2018 VOL. 23 NO. 64 OKTOBER-DESEMBER 2017 VOL. 23 NO. 63 JULI-SEPTEMBER 2017 VOL. 23 NO. 62 APRIL-JUNI 2017 VOL. 23 NO. 61 JANUARI-MARET 2017 VOL. 22 NO.60 SEPTEMBER-DESEMBER 2016 VOL. 22 NO. 59 MEI-AGUSTUS 2016 VOL. 22 NO. 58 JANUARI-APRIL 2016 Vol. 21 No. 57 September-Desember 2015 Vol. 21 No. 56 Mei-Agustus 2015 Vol. 21 No. 55 Januari - April 2015 Vol. 20 No. 54 September-Desember 2014 Vol. 20 No. 53 Mei-Agustus 2014 Vol. 20 No. 52 Januari-April 2014 Vol. 18 No. 48 September - Desember 2012 Vol. 18 No. 47 Mei - Agustus 2012 Vol. 18 No. 46 Januari - April 2012 Vol. 17 No. 45 September - Desember 2011 vol. 17 no. 44 Mei-Agustus 2011 vol. 17 no. 43 Januari-April 2011 Vol. 16 No. 43B Mei - Agustus 2010 Vol. 16 No. 42A Januari - April 2010 vol. 16 no. 42 September-Desember 2009 vol. 15 no. 40 Januari-April 2009 Vol. 15 No. 39E September-Desember 2008 Vol. 15 No. 39C Januari-April 2008 Vol. 15 No. 39B September-Desember 2007 vol. 15 no. 39 Januari-April 2007 Vol. 15 No. 39A Mei-Agustus 2007 vol. 14 no. 38 September-Desember 2006 vol. 14 no. 37 Mei-Agustus 2006 vol. 14 no. 36 Januari-April 2006 vol. 13 no. 35 September-Desember 2005 vol. 13 no. 34 Mei-Agustus 2005 vol. 13 no. 33 Januari-April 2005 vol. 12 no. 32 September-Desember 2004 vol. 12 no. 31 Mei-Agustus 2004 vol. 12 no. 30 January-April 2004 vol. 11 no. 29 Agustus-Desember 2003 vol. 11 no. 28 April-July 2003 Vol. 10 No. 27 Januari-April 2002 Vol. 9 No. 26 September - Desember 2001 Vol. 9 No. 25 Mei-Agustus 2001 Vol. 8 No. 23 September - Desember 2000 Vol. 7 No. 20 Juli-Oktober 1999 Vol. 6 No. 17 Oktober-Desember 1998 Vol. 6 No. 15 April-Juni 1998 Vol. 5 No. 13 Oktober-Desember 1997 Vol. 5 No. 12 Juli-September 1997 Vol. 5 No. 11 Juli-September 1997 Vol. 4 No. 10 September-Desember 1996 Vol. 4 No. 9 Mei-Agustus 1996 Vol. 4 No. 8 Januari-April 1996 Vol. 3 No. 7 September-Desember 1995 Vol. 3 No. 6 Mei-Agustus 1995 Vol. 3 No. 5 Januari-April 1995 More Issue