cover
Contact Name
Ainurrahman Hidayat
Contact Email
anik_mamang@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
biologiyayan@iainmadura.ac.id
Editorial Address
Jalan Raya Panglegur KM 04 Pamekasan Jawa Timur
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
Nuansa: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam
ISSN : 19077211     EISSN : 24428078     DOI : https://doi.org/10.19105/nuansa
Nuansa is a journal that publishes scientific articles that have been derived from research on social sciences and Islamic studies This journal is published biannually in June and December and published articles reviewed by experts on related issues Journal Nuansa scope includes culture politics law economy theology philosophy communication and history
Articles 248 Documents
Strategies For Delivering Islamic Religious Education Learning Materials in The Post-Truth Era Nasikhin; Mahfud Junaedi
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 19 No. 2 (2022)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v19i2.6354

Abstract

This study aims to investigate the delivery strategy of Islamic religious education learning materials in the post-truth era in senior high school. This qualitative research with a phenomenological approach relies on in-depth interview data, observation, and documentation. The research participants involved three teachers of Islamic Religious Education and nine students of SMA Islam Al-Azhar 29 Semarang. Data analysis used the Miles and Huberman model through the stages of data reduction, data display and drawing conclusion. The results of the study indicate that the learning organization strategy tends to be against posh-truth. First, resistance to post-truth can be seen from the pattern of scientific learning approaches through problem-based learning models, cooperative learning models, inquiry learning models, quantum teaching learning models, and learning models for improving thinking skills combined with integrated learning methods. The chosen model has been able to instill character education, literacy, HOTS, and 4C as the main components in fighting posh truth. Third, resistance to post-truth is given through a communication model that is polite, courteous, and not easy to spread hoax information. The results of the study recommend that schools need to prepare adequate learning resource facilities and increase teacher professionalism so that the negative impact of post-truth can be minimized in schools. (Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi penyampaian materi pembelajaran pendidikan agama Islam era post-truth di SMA. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi ini mengandalkan data wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Partisipan penelitian ini melibatkan tiga orang guru PAI dan sembilan siswa SMA Islam Al-Azhar 29 Semarang. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi organisasi pembelajaran cenderung bertentangan dengan posh-truth. Pertama, resistensi terhadap post-truth dapat dilihat dari pola pendekatan pembelajaran saintifik melalui model pembelajaran berbasis masalah, model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran inkuiri, model pembelajaran quantum teaching, dan model pembelajaran peningkatan keterampilan berpikir yang dipadukan dengan metode pembelajaran terpadu. Model yang dipilih telah mampu menanamkan pendidikan karakter, literasi, HOTS, dan 4C sebagai komponen utama dalam memperjuangkan kebenaran. Ketiga, resistensi terhadap post-truth diberikan melalui model komunikasi yang santun, santun, dan tidak mudah menyebarkan informasi hoax. Hasil penelitian merekomendasikan agar sekolah perlu menyiapkan fasilitas sumber belajar yang memadai dan meningkatkan profesionalisme guru sehingga dampak negatif post-truth dapat diminimalisir di sekolah.)
Strategi Bertahan Kelompok Minoritas Agama Menghadapi Diskriminasi: Pengalaman Jemaat Ahmadiyah Indonesia Banjarnegara Jawa Tengah Thomas Rizki Ali; Bowo Sugiarto; Ahmad Sabiq
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 19 No. 2 (2022)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v19i2.6580

Abstract

After the Ahmadiyya was sentenced as a heretical group outside Islam in 2005 and restrictions on the spread of its doctrines in 2008, in 2018 the Indonesian Ahmadiyya Community (JAI) experienced restrictions on their activities in Banjarnegara, Central Java due to resistance from the number of dominant Islamic organizations and prohibitions from the local district government. In discussing this, this article describes the discrimination received by the Ahmadiyya group in Banjarnegara according to the historical and developmental timelines and the Banjarnegara JAI's strategy to be able to maintain its existence. Based on qualitative research, this article shows that discrimination against Ahmadiyya in Banjarnegara was closely related to the fatwa that mentions Ahmadiyya as a group outside Islam or heretical and concerns of dominant Islamic groups over the spread of Ahmadiyya doctrines. To maintain its existence, the Ahmadiyya group has taken advantage of the structure of political opportunities available in the region where their new activities were located and social capital formed through collective identity, as well as reaching out to the community with framed humanism-altruistic activities. The region which was the new location for their activities has a relatively tolerant of political structure and society towards religious minority groups such as the Ahmadiyya. As an organization that already has several branches, the group also has taken advantage of social networks that had been formed historically. (Setelah Ahmadiyah sempat divonis sebagai kelompok sesat di luar Islam pada tahun 2005 dan pembatasan penyebaran ajarannya pada tahun 2008, pada tahun 2018 Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) mengalami pembatasan aktivitas mereka di Banjarnegara, Jawa Tengah karena adanya resistensi dari jumlah ormas Islam dominan dan larangan dari pemerintah kabupaten setempat. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji dinamika diskriminasi yang dialami Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Banjarnegara dan strategi mereka dalam menghadapinya. Dalam membahas hal tersebut, artikel ini memaparkan diskriminasi yang diterima oleh kelompok Ahmadiyah di Banjarnegara sesuai dengan kronologi sejarah dan perkembangan serta strategi JAI Banjarnegara untuk dapat mempertahankan eksistensinya. Artikel ini, berdasarkan penelitian kualitatif, menunjukkan bahwa diskriminasi terhadap Ahmadiyah di Banjarnegara erat kaitannya dengan fatwa yang menyebut Ahmadiyah sebagai kelompok di luar Islam atau sesat dan kekhawatiran kelompok Islam dominan atas penyebaran doktrin Ahmadiyah. Untuk mempertahankan eksistensinya, kelompok Ahmadiyah memanfaatkan struktur peluang politik yang ada di wilayah tempat aktivitas baru mereka berada dan modal sosial yang terbentuk melalui identitas kolektif, serta menjangkau masyarakat dengan kegiatan berbingkai humanisme-altruistik. Wilayah yang menjadi lokasi baru kegiatan mereka memiliki struktur politik dan masyarakat yang relatif toleran terhadap kelompok minoritas agama seperti Ahmadiyah. Sebagai organisasi yang sudah memiliki sejumlah cabang, mereka juga memanfaatkan jejaring sosial yang telah terbentuk secara historis.)
Resepsi atas Islam Moderat: Antara Kritik dan Sikap yang Representatif Benny Afwadzi
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 19 No. 2 (2022)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of UIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v19i2.6687

Abstract

Until now, many rejections of the terminology of Islam Nusantara have emerged, not only among the general public, but also in the academic environment. In fact, moderate Islam is a means to tackle extremism, radicalism, and terrorism. Therefore, a systematic description of what is meant by moderate Islam is needed from various literatures. It is for this purpose that this article was written. With a qualitative approach and the type of literature research on works related to moderate Islam, it was found that moderate Islam must be understood with middle Islam, not extreme right or left. Although in Western literature, moderate is synonymous with liberal and secular, but a representative attitude is to filter what comes from the West. Not everything that comes from the West must be accepted, and not all must be rejected, as well as the terminology of moderate Islam. Even the arguments against moderate Islam, if analyzed, have a fundamental weakness, because they are not in accordance with the spirit of moderate Islam. The basis for the foundation of moderate Islam is clear, namely Q.S. al-Baqarah [2]: 143, so it has a normative basis that can be accounted for. Furthermore, Islam in the archipelago is essentially a representation of moderate Islam, although it must be admitted that not all adherents are moderate. (Sampai saat ini, penolakan terhadap terminologi Islam Nusantara banyak bermunculan, tidak hanya di kalangan masyarakat awam, namun juga di lingkungan akademik. Padahal, Islam moderat adalah sarana untuk menanggulangi ekstremisme, radikalisme, dan terorisme. Oleh sebab itu, diperlukan uraian yang sistematis terkait apa yang dimaksud dengan Islam moderat dari berbagai literatur. Untuk tujuan itulah artikel ini ditulis. Dengan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian pustaka terhadap karya-karya terkait Islam moderat, ditemukan bahwa Islam moderat haruslah dipahami dengan Islam pertengahan, tidak ekstrem kanan maupun kiri. Meskipun dalam literatur Barat, moderat identik dengan liberal dan sekuler, akan tetapi sikap yang repreentatif adalah dengan melakukan filterisasi terhadap apa yang datang dari Barat. Tidak semua yang datang dari Barat harus terima, dan tidak pula semua pula harus ditolak, begitu pula terminologi Islam moderat. Argumen-argumen penolak Islam moderat pun, jika dianalisis, mempunyai kelemahan yang mendasar, karena tidak sesuai dengan semangat Islam moderat. Dasar pijakan Islam moderat pun jelas, yakni Q.S. al-Baqarah [2]: 143, sehingga mempunyai landasan normatif yang bisa dipertanggungjawabkan. Lebih lanjut, Islam yang ada di Nusantara ini pada hakikatnmya merupakan representasi Islam moderat, meski harus diakui bahwa tidak semua penganutnya berpaham moderat.)
Perlindungan Hukum Keris Aeng Tong-Tong Sumenep Dalam Hukum Nasional dan Konvensi Internasional Yenny Eta Widyanti
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 20 No. 1 (2023)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of UIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v20i1.7319

Abstract

Kris is an object of Indonesian culture which has beautiful artistic and high economic values. Kris making is still maintained in several areas, one of which is in Sumenep Regency. Since 2014, Sumenep Regency has been recognized by UNESCO as the area that has the most Mpu (makers of heirlooms) in the world and most of them are in Aeng Tong-Tong Village. The tradition of making kris in Sumenep has existed since the time of the Majapahit Kingdom and has continued to this day. The rapid development of the industry and the number of kris makers in Sumenep have made Sumenep the Indonesian Kris City. The aim of this research is to analyze the legal protection of the Aeng Tong-Tong Sumenep Kris based on national laws and international conventions using a statutory approach. The legal protection of the Aeng Tong-Tong Sumenep Kris in national law is contained in Law Number 28 of 2014 concerning Copyright and Law Number 5 of 2017 concerning the Promotion of Culture, while the legal protection of the Aeng Tong-Tong Sumenep Kris in International Conventions is contained in The Convention on the Protection and Promotion of the Diversity of Cultural Expressions 2005, The Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage 2003, and The Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic Work. In realizing optimal legal protection for the Aeng Tong-Tong Sumenep Kris in national law and international conventions, a comprehensive legal protection must be provided including legal protection for Intellectual Property and Non-Intellectual Property. (Keris merupakan benda hasil budaya bangsa Indonesia yang memiliki nilai seni yang indah dan nilai ekonomi yang tinggi. Pembuatan keris tetap dipertahankan di beberapa daerah, salah satunya di Kabupaten Sumenep. Sejak Tahun 2014, Kabupaten Sumenep diakui oleh UNESCO sebagai daerah yang memiliki Mpu (pembuat benda pusaka) terbanyak di dunia dan sebagian besar ada di Desa Aeng Tong-Tong. Tradisi pembuatan keris di Sumenep sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit dan masih terus bertahan hingga kini. Pesatnya perkembangan industri dan jumlah perajin keris di Sumenep menjadikan Sumenep sebagai Kota Keris Indonesia. Tujuan pada penelitian ini untuk menganalisis perlindungan hukum Keris Aeng Tong-Tong Sumenep berdasarkan hukum nasional dan konvensi internasional dengan menggunakan pendekatan perundangan. Perlindungan hukum Keris Aeng Tong-Tong Sumenep dalam hukum nasional terdapat dalam UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dan UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, sedangkan perlindungan hukum Keris Aeng Tong-Tong Sumenep dalam Konvensi Internasional terdapat dalam The Convention on the Protection and Promotion of the Diversity of Cultural Expression 2005, The Convention for the Safeguarding of the lntangible Cultural Heritage 2003, dan The Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic Work. Dalam mewujudkan perlindungan hukum yang optimal terhadap Keris Aeng Tong-Tong Sumenep dalam hukum nasional dan konvensi internasional, maka harus dilakukan perlindungan hukum secara menyeluruh meliputi perlindungan hukum atas Kekayaan Intelektual dan Non Kekayaan Intelektual.)
The Potential of Cyber Attacks in Indonesia's Digital Economy Transformation Beny Abukhaer Tatara; Bisma Abdurachman; Desta Lesmana Mustofa; David Yacobus
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 20 No. 1 (2023)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of UIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v20i1.7362

Abstract

In the era of the industrial revolution 4.0, many activities use the internet and computers, including economic activities. Many activities in real space are transformed into cyberspace. Currently, the world economy is transforming from conventional methods to digital. Thus, almost all countries in the world are competing to adapt to these changes, one of which is Indonesia which, based on the McKinsey report, ranks first as the country with the fastest growth in adopting the digital economy. The purpose of writing this article is to analyze the potential for cyber attacks that can affect the transformation of Indonesia's digital economy. The research method used is qualitative with data collection techniques in the form of literature studies. The results of the study found that there are several potential cyber attacks in the transformation of Indonesia's digital economy, including: Denial-of-service (DoS) and distributed denial-of-service (DDoS) attacks, Man-in-the-middle (MitM) attacks, Phishing attacks, Drive-by-download attack, Password Attack, SQL Injection Attack, Cross-site scripting (XSS) attack, Eavesdropping attack, Birthday Attack, and Malware Attack. (Pada era revolusi industri 4.0, banyak aktivitas yang menggunakan internet dan komputer, termasuk aktivitas ekonomi. Banyak aktivitas di dunia nyata ditransformasikan ke dunia maya. Saat ini, perekonomian dunia sedang berubah dari metode konvensional ke digital. Oleh karena itu, hampir semua negara di dunia sedang bersaing untuk menyesuaikan diri dengan perubahan ini, salah satunya adalah Indonesia yang, berdasarkan laporan McKinsey, menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan pertumbuhan tercepat dalam mengadopsi ekonomi digital. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menganalisis potensi serangan cyber yang dapat mempengaruhi transformasi ekonomi digital Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka. Hasil penelitian menemukan bahwa ada beberapa potensi serangan cyber dalam transformasi ekonomi digital Indonesia, di antaranya: Serangan Denial-of-service (DoS) dan distributed denial-of-service (DDoS), Serangan Man-in-the-middle (MitM), Serangan Phishing, Serangan Drive-by-download, Serangan Password, Serangan SQL Injection, Serangan Cross-site scripting (XSS), Serangan Eavesdropping, Serangan Birthday, dan Serangan Malware.)
Love for All Hatred for None: Ajaran Teologis dan Respon Ahmadi terhadap Perusakan Masjid Miftahul Huda di Media Sosial Muhammad Rizkita; Arfi Hidayat
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 20 No. 1 (2023)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of UIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v20i1.7378

Abstract

As a result of their religious understanding that is considered different by the dominant group (mainstream), Ahmadiyah - especially those of the Qadian faith - are often the object of persecution in Indonesia with hatecrime nuances. Persecution involves collaboration between community organizations as civil society and the state, forming the phenomenon of godless nationalism. One form of persecution became the public spotlight due to the destruction of the Miftahul Huda mosque in Sintang Regency, West Kalimantan. Although the mosque attack ended on September 3, 2021, in fact, violence against the Indonesian Ahmadiyah Congregation (JAI) continued to occur afterwards. JAI was attacked through social media. This research method is qualitative with a virtual ethnography approach, which is further analyzed using social construction of technology (SCOT). This research tries to see how Ahmadiyah's religious doctrine responds to the violence they experience. And to what extent the teachings of Ahmadiyya's love of peace are realized in Ahmadi when responding to attacks after the destruction of the Miftahul Huda mosque, especially attacks that target JAI's official Instagram account, @ahmadiyah.id. The findings in this article show that the Ahmadiyya teachings have experienced persecution since their birth in India, and throughout the world. Facing this, Ahmadiyya responded with a religious doctrine of love and peace represented by the phrase love for all, hatred for none which is a form of interpretative flexibility in the review of social construction of technology. The response given by the Ahmadis looks passive and tends to be defensive, it is in accordance with their religious doctrine not to reply to anyone who hurts them. (Akibat pemahaman keagamaannya yang dianggap berbeda oleh kelompok dominan (mainstream), Ahmadiyah – khususnya yang beraliran Qadian – sering menjadi objek persekusi di Indonesia yang bernuansa kebencian (hatecrime). Persekusi melibatkan kolaborasi antara organisasi masyarakat sebagai civil society dengan negara membentuk fenomena nasionalisme bertuhan. Salah satu bentuk persekusi menjadi sorotan publik akibat peristiwa perusakan masjid Miftahul Huda di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Meski penyerangan masjid telah usai pada 3 September 2021, nyatanya kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) terus terjadi setelahnya. JAI mendapat serangan lewat media sosial. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi virtual, yang lebih lanjut dianalisis menggunakan social construction of technology (SCOT). Penelitian ini mencoba untuk melihat bagaimana doktrin keagamaan Ahmadiyah merespon kekerasan yang mereka alami. Dan sejauh apa ajaran cinta damai Ahmadiyah terealisasi dalam diri Ahmadi ketika merespon serangan pasca perusakan masjid Miftahul Huda khususnya serangan yang menyasar akun instagram resmi JAI yakni @ahmadiyah.id. Temuan dalam artikel ini memperlihatkan ajaran Ahmadiyah yang telah mengalami persekusi sejak awal kelahirannya di India, dan seluruh dunia. Menghadapi itu, Ahmadiyah membalasnya dengan doktrin keagamaan cinta damai yang diwakili dengan kalimat love for all, hatred for none yang merupakan bentuk dari interpretative flexibility dalam tinjauan social construction of technology. Respon yang diberikan oleh para Ahmadi terlihat pasif dan cenderung defensif, hal itu sesuai dengan doktrin keagamaan mereka untuk tidak membalas siapa saja yang menyakiti mereka.)
Diversitas dan Dialog Lintas Agama: Konstruksi Wacana Perdamaian Pada Siswa Multi-Agama di Sidoarjo Agik Nur Efendi; Agus Purnomo Ahmad Putikadyanto; Moh. Arif Susanto
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 20 No. 1 (2023)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of UIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v20i1.8111

Abstract

This article examines the use of children's language in religious dialogue in schools. Language is a means of communication and a means of forming one's understanding. Through language, they are able to respond to and explore various religious ideas of each other. This study uses the conceptual theory of dialogueism from Mikhail Bakhtin on the assimilation of language and meaning which is a feature of children's religious discourse construction. In addition, Martin and Bartlett's concept of positive discourse and Fairclough's lingual device were also used in this study. This research was conducted in one of the private elementary schools in Sidoarjo Regency. . The choice of location cannot be separated from the fact that the school has diverse students and teachers, both in terms of ethnicity, religion, economy, and background. Students at the school are synonymous with diversity. Observations and interviews were used for data collection in this article. The results showed that children's language got various concepts and language related to religion. They engage with narratives of various beliefs and position their own understanding of religion in confluence with the words and meanings they have assimilated from the encounters of each of these traditions. In addition, the various features of language that children show positive and diverse words, This article is important to review language for religious education from a broader understanding of children's religious dialogue. (Artikel ini mengkaji penggunaan bahasa anak dalam dialog keagamaan di sekolah. Bahasa menjadi sarana komunikasi dan sarana membentuk pemahaman seseorang. Melalui bahasa, mereka mampu menanggapi dan mengeksplorasi berbagai ide agama masing-masing. Penelitian ini menggunakan teori konsepsi tentang dialogisme dari Mikhail Bakhtin pada asimilasi bahasa dan makna yang merupakan ciri konstruksi wacana keagamaan anak-anak. Selain itu, konsep wacana positif Martin dan Bartlett serta piranti lingual Fairclough turut digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini dilakukan di salah satu Sekolah Dasar Swasta yang ada di Kabupaten Sidoarjo. Pemilihan lokasi tidak terlepas bahwa sekolah tersebut memiliki siswa dan guru yang beragam, baik dari segi etnis, agama, ekonomi, dan latar belakang. Siswa di sekolah identik dengan keberagaman. Observasi dan wawancara digunakan untuk pengumpulan data pada artikel ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa anak-anak mendapatkan berbagai konsep dan bahasa terkait dengan agama. Mereka terlibat dengan narasi berbagai kepercayaan dan memposisikan pemahaman agama mereka sendiri dalam kaitannya dengan kata-kata dan makna yang telah mereka asimilasi dari pertemuan dengan masing-masing tradisi tersebut. Selain itu, berbagai fitur lingual yang diungkapkan oleh anak-anak menunjukkan kosa kata yang positif dan membangun keberagaman, Artikel ini penting untuk meninjau implikasi bahasa bagi pendidikan agama dari pemahaman yang lebih luas tentang proses membangun makna dalam dialog keagamaan anak.)
Perilaku Konsumsi Generasi Milenial Terhadap Produk Kosmetik dalam Islam (Studi Pemikiran Monzer Kahf) Siti Nur Azizah; Desi Erawati
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 20 No. 2 (2023)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of UIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v20i2.8473

Abstract

Cosmetics and other beauty treatments are now a major need for women, especially the millennial generation. Millennials are a generation marked by changes or developments in life that can have an impact on the surrounding environment, people often refer to millennials as trend setters. In general, the findings of this study indicate significant changes in the way consumers spend their money. Consumption behavior based on Monzer Kahf's theory examines consumption ethics in Islam which can describe the consumption phenomenon that affects Muslims today, especially the millennial generation. This research is a descriptive research combined with literature research, namely a data collection method based on library data and relying on predetermined theories and concepts to be interpreted based on writing. The results of research on consumption behavior for cosmetic products carried out by the millennial generation are not fully consistent with the theory of consumption behavior implementation, because in the theory of consumption behavior based on Monzer Kahf's thinking, it emphasizes various interpretations of the application of the Islamic system. Where in the theory of its application, human choice and consumption of manufactured goods must fully comply with God's rules. (Kosmetik dan perawatan kecantikan lainnya kini menjadi kebutuhan utama bagi wanita khususnya generasi milenial. Milenial adalah sebuah generasi yang ditandai dengan adanya perubahan atau perkembangan dalam kehidupan yang dapat memberikan pengaruh terhadap lingkungan sekitar, orang-orang sering menyebut milenial sebagai trend setter. Secara umum, temuan studi ini menunjukkan perubahan signifikan dalam cara konsumen membelanjakan uang mereka. Perilaku konsumsi yang didasarkan pada teori Monzer Kahf mengkaji etika konsumsi dalam Islam yang dapat menggambarkan fenomena konsumsi yang mempengaruhi umat Islam saat ini, khususnya pada generasi milenial. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dipadukan dengan studi kepustakaan (literature research) yakni metode pengumpulan data berdasarkan data pustaka serta mengandalkan teori dan konsep yang telah ditetapkan sebelumnya untuk ditafsirkan berdasarkan tulisan. Hasil dari penelitian pada perilaku konsumsi terhadap produk kosmetik yang dilakukan oleh generasi milenial belum sepenuhnya sesuai pada teori penerapan perilaku konsumsi, karena dalam teori perilaku konsumsi berdasarkan pemikiran Monzer Kahf ialah menekankan berbagai interpretasi penerapan sistem Islam. Dimana dalam teori penerapannya, pilihan dan konsumsi manusia terhadap barang-barang manufaktur sepenuhnya harus sesuai dengan aturan Tuhan.)
Modal Sosial Perawat Perempuan Pada Masa Pandemi Covid-19 di RSUD Kota Bogor Afifah Bidayaturrohmah
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 20 No. 1 (2023)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of UIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v20i1.8605

Abstract

The purpose of writing this article is to explain the social capital obtained by female nurses during handling in the Covid-19 room. The spread of the Covid-19 virus has had a severe impact in the city of Bogor with a population density that is mostly mobilised in DKI Jakarta, thus triggering an increase in the spread of the Covid-19 virus. The recent Covid-19 pandemic strengthens the evidence that cities are vulnerable to disease, even the Covid-19 pandemic has become a big problem for female nurses, where they face a lot of pressure, anxiety, and stress while on duty in the Covid-19 room. Nurses need social capital as a form of interpersonal relationships among colleagues, superiors and faith in Allah SWT that can reduce workload while on duty in the Covid-19 treatment room. The methodology used in this study is a qualitative approach with a case study research type. Data sources were obtained through observation and interviews using purposive sampling with specialised snowball sampling through semi-structured interviews with four informants. Some characteristics of the informants involved in the study are: female aged approximately 35 years; nurse with permanent employee status; married status; and served in the special treatment room for Covid-19 virus patients. The findings of this study show that social capital owned by female nurses has three components, namely: bonding, bridging, and linking. In addition, religious values are also important as social capital which is divided into three aspects, namely: Tauhid, Patience, Tawakal, and Ikhlas. These four aspects can play an important role as a form of spiritual support to Allah SWT and as a self-strengthener while on duty in the Covid-19 treatment room at Bogor City Hospital. (Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menjelaskan modal sosial yang diperoleh perawat perempuan selama melakukan penanganan di ruang Covid-19. Penyebaran virus Covid-19 memberi dampak cukup parah di Kota Bogor dengan kepadatan penduduk yang sebagian besar bermobilitas di DKI Jakarta, sehingga memicu peningkatan penyebaran virus Covid-19. Pandemi Covid-19 belakangan ini memperkuat bukti bahwa kota rentan menjadi sasaran penyakit, bahkan pandemi Covid-19 telah menjadi masalah besar bagi para perawat perempuan, di mana mereka menghadapi banyak tekanan, kecemasan, dan stres selama bertugas di ruang Covid-19. Perawat membutuhkan modal sosial sebagai bentuk hubungan interpersonal di antara rekan kerja, atasan serta keyakinan kepada Allah SWT yang dapat mengurangi beban kerja selama bertugas di ruang perawatan Covid-19. Metodologi yang digunakan di dalam studi ini berada dalam pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Sumber data diperoleh melalui observasi dan wawancara secara purposive sampling dengan secara khusus menggunakan snowball sampling melalui wawancara semi-terstruktur kepada empat orang informan. Beberapa karakteristik informan yang dilibatkan di dalam penelitian yaitu: perempuan berusia kurang lebih 35 tahun; perawat berstatus pegawai tetap; status menikah; dan bertugas di ruang perawatan khusus pasien virus Covid-19. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa modal sosial yang dimiliki perawat perempuan memiliki tiga komponen, yaitu: bonding, bridging, dan linking. Selain itu, penting juga nilai agama sebagai modal sosial yang terbagi menjadi tiga aspek yaitu: Tauhid, Sabar, Tawakal, serta Ikhlas. Dari ke-empat aspek ini dapat berperan penting sebagai bentuk dukungan spiritual kepada Allah SWT dan sebagai penguat diri selama bertugas di ruang perawatan Covid-19 di RSUD Kota Bogor.)
Figur Kiai di Madura Perspektif Teori Pemikiran Kekuasaan (Politik) Al-Ghazali Abu Aman; Achmad As’ad Abd. Aziz; Atiyatus Syarifah
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 20 No. 2 (2023)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of UIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v20i2.8658

Abstract

The kiai figure is very important in the daily life of the Madurese people. So far, the kiai has been a figure who has contributed greatly in various fields, thus making the kiai a figure in power over the future of society. The purpose of this research is to study and analyze the figure of the kiai in Madura from the perspective of Al-Ghazali's theory of power (political) thought, which figure kiai have a big influence on the sustainability of Madurese society, especially in religion and religious rituals and indirectly the figure of kiai has become the ruling leader so far. This type of research is descriptive qualitative research, the data collection technique uses a literacy study approach related to kiai in Madura and Al-Ghazali's (political) thought of power. Furthermore, the data were analyzed through text analysis techniques used to collect and analyze the content of a text, which can be in the form of words, the meaning of images, symbols, ideas, themes and various forms of messages. This research shows that the figure of the kiai in Madura in the perspective of Al-Ghazali's theory of power (political) thought shows that the kiai is in control of all the problems of the Madurese community who defeats government figures and the kiai is also the successor of the prophet's treatise and is the person who dominates in the realm of religion. (Figur kiai menjadi hal yang sangat penting di kehidupan sehari-hari masyarakat Madura. Selama ini, kiai menjadi sosok yang berkontribusi besar diberbagai bidang, sehingga menjadikan kiai sosok yang berkuasa atas masa depan masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji dan menganalisis terkait figur kiai di Madura perspektif teori pemikiran kekuasaan (politik) Al-Ghazali, yang mana figur kiai memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan masyarakat Madura, khususnya dalam beragama dan ritual keagamaan dan secara tidak langsung sosok kiai menjadi pemimpin yang berkuasa selama ini. Penelitian ini jenis penelitian kualitatif deskritif, teknik pengumpulan datanya menggunakan pendekatan studi literasi yang berkaitan dengan kiai di Madura dan pemikiran kekuasaan (politik) Al-Ghazali. Selanjutnya data dianalisis melalui teknik analisis teks yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis muatan sebuah teks, dapat berupa kata-kata, makna gambar, simbol, gagasan, tema dan bermacam bentuk pesan. Penelitian ini menunjukkan bahwa figur kiai di Madura dalam perspektif teori pemikiran kekuasaan (politik) Al-Ghazali menunjukkan, kalau kiai menjadi pemegang kendali atas semua persoalan masyarakat Madura yang mengalahkan figur pemerintah dan kiai juga menjadi penerus dari risalah nabi serta menjadi orang yang mendominasi dalam ranah agama.)