cover
Contact Name
Ainurrahman Hidayat
Contact Email
anik_mamang@yahoo.com
Phone
-
Journal Mail Official
biologiyayan@iainmadura.ac.id
Editorial Address
Jalan Raya Panglegur KM 04 Pamekasan Jawa Timur
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
Nuansa: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam
ISSN : 19077211     EISSN : 24428078     DOI : https://doi.org/10.19105/nuansa
Nuansa is a journal that publishes scientific articles that have been derived from research on social sciences and Islamic studies This journal is published biannually in June and December and published articles reviewed by experts on related issues Journal Nuansa scope includes culture politics law economy theology philosophy communication and history
Articles 248 Documents
Kebijakan Sosial dalam Perspektif Pertukaran Sosial: Studi Politisasi Program Keluarga Harapan Kabupaten Malang Wimmy Halim
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 18 No. 2 (2021)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v18i2.5300

Abstract

Social policy like Program Keluarga Harapan (PKH) is not only about poverty but also about developing the quality of the less educated people to become more educated. However, the problem is that in various regions in Indonesia, social assistance is often used by regional authorities for their personal interests. From programs used to support his political electability and popularity to being used as an arena for massive corruption by politicians and other public officials who have power, especially budgetary powers. Social exchange theory can help researchers to explain how society can exchange in public and private affairs into one. This study looks at the relationship between the effects of the behavior of political actors on the environment and their impact on the behavior of subsequent actors. The type of this research approach is descriptive to obtain information about the meaning of social policy recipients in the perspective of social exchange in depth and comprehensively. The politicization of PKH in the perspective of social exchange explains that policy is vulnerable to political interests, especially electoral politics. The history of the birth of PKH cannot be separated from political factors. PKH was used as a political tool to increase the electability of candidates, in the 2009 presidential election, 2018 East Java governor election, and 2020 Malang district election. PKH's vulnerability to the candidate's political agenda does suggest that the poor are in an equally weak position. The economic crush they experienced actually took advantage of the incumbent for electoral political interests. (Kebijakan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH), bukan hanya tentang kemiskinan melainkan juga tentang mengembangkan kualitas masyarakat yang kurang berpendidikan agar menjadi lebih terdidik. Namun yang menjadi permasalahan di berbagai daerah di Indonesia bantuan sosial sering kali dimanfaatkan penguasa daerah untuk kepentingan pribadinya. Dari program yang digunakan untuk menunjang popularitas-elektabilitas politiknya hingga dijadikan ajang korupsi besar-besaran oleh politisi maupun pejabat publik lainnya yang memiliki kuasa, terutama kuasa anggaran. Teori pertukaran sosial bisa membantu peneliti untuk menjelaskan bagaimana bisa masyarakat bisa melakukan pertukaran dalam urusan publik dan privat menjadi satu. Penelitian ini melihat hubungan efek antara perilaku aktor politik pada lingkungan dan dampaknya pada perilaku aktor selanjutnya. Adapun jenis pendekatan penelitian ini adalah deskriptif untuk memperoleh informasi mengenai bagaimana pemaknaan penerima kebijakan sosial dalam perspektif pertukaran sosial secara mendalam dan komprehensif. Politisasi PKH dalam perspektif pertukaran sosial menjelaskan bahwa kebijakan sangat rentan dengan kepentingan politik, utamanya politik elektoral. Sejarah lahirnya PKH memang tidak bisa dilepaskan dari faktor politis. PKH digunakan menjadi alat politik yang digunakan untuk meningkatkan elektabilitas kandidat, pada pilpres 2009, pilgub Jatim 2018, dan pilbup kabupaten Malang 2020. Kerentanan PKH terhadap agenda politik Kandidat memang semakin memperlihatkan bahwa masyarakat miskin semakin berada pada posisi yang sama lemah. Himpitan ekonomi yang mereka alami justru dimanfaatkan bagi kandidat (incumbent) untuk kepentingan politik elektoral.)
Dualisme Pengetahuan Agama: Dinamika Religiusitas Siswa Muslim di SD Kristen Purbo Muhammad Khoiruzzadi; Lia Dwi Tresnani; Nadia Fitria Khairunisa
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 19 No. 1 (2022)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v19i1.5318

Abstract

Every child has the right to receive religious subjects that he adheres to. When children get different religious subjects, it will become a dualism of understanding in religion. The purpose of this study was to explain the dynamics of religiosity of Muslim students at Purbo Christian Elementary School. This research includes field research using a qualitative method approach. The subjects of this study were 7 Muslim students in grades 4 to 6, parents of Muslim students, classroom teachers, and the principal of SD Kristen Purbo. Methods of data collection using interviews, observation, and documentation. Data analysis by means of data reduction, data presentation, and conclusions. The results showed that the religiosity of Muslim students at Purbo Christian Elementary School was still the same in general, Muslim students who were adjusted to their development, such as still finding it difficult to pray fardu prayers, and still being egocentric. Children will be more interested in annual worship, such as fasting in Ramadan, Islamic holidays. In addition, children are also more interested in religious activities that are collective and entertaining for children. (Setiap anak berhak mendapatkan mata pelajaran agama yang dianutnya. Ketika anak malah mendapatkan mata pelajaran agama yang berbeda, maka akan menjadi dualisme pemahaman dalam konsep beragamanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan dinamika religiusitas siswa Muslim SD Kristen Purbo. Penelitian ini termasuk penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah 7 siswa Muslim kelas 4 sampai kelas 6, orang tua siswa Muslim, guru kelas, dan kepala sekolah SD Kristen Purbo. Metode pengumpulan data dengan menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dengan cara reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa religiusitas siswa Muslim SD Kristen Purbo masih sama pada umumnya siswa Muslim yang disesuaikan dengan perkembangannya, seperti masih sulitnya untuk ibadah salat fardu, dan masih bersikap egosentris. Anak akan lebih tertarik dengan ibadah yang sifatnya tahunan, seperti puasa Ramadan, hari raya kebesaran Islam. Selain itu, anak juga lebih tertarik pada kegiatan keagamaan yang sifatnya kolektif dan menghibur bagi anak.)
Zuhud Vis A Vis Modernity: The Resistance of Rural Community to Modernity Agus Khunaifi; Mirza Mahbub Wijaya; Ahmad Fahri Yahya Ainuri
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 19 No. 1 (2022)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v19i1.5363

Abstract

This research aims to reveal the opposition of a rural community at Kedungbanteng, Paguyangan, Brebes in responding to the pace of modernity, which tends to degrade human morality as its main actor. This study used a qualitative method with a phenomenological approach. This study uses the interview method with structured interview guidance and participatory observation. A combination of several existing techniques carried out the data collection. Those techniques were observation, interviews, and documentation. Meanwhile, to test the validity of the data, three methods were used: source triangulation, technical triangulation, and time triangulation. It was found that the opposition applied by society in responding to the fundamental changes due to modernization was using zuhud behaviour. Specifically, these oppositions were manifested by eliminating materialism, increasing the caution of seeking sustenance (wirai), and firmly rejecting the formalist tradition diversity (fikih oriented). The zuhud movement can be carried out because a charismatic figure initiated it. In addition, what is quite prominent is the tomb pilgrimage to certain tombs believed to be the tombs of local ancestors and kyai. Pilgrimage can increase awareness that life exists in the world and in the grave; there is also life in the afterlife. So that someone will be careful and prepare provisions for the next life. The emphasis is on the spiritual practice of religious teachings rather than studying texts. So rarely try to find arguments as the basis of certain practices. (Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap resistensi kelompok masyarakat di Dusun Kedungbanteng, Desa Paguyangan, Kab. Brebes dalam menanggapi laju modernisasi yang dewasa ini cenderung menurunkan moralitas manusia sebagai aktor utamanya. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan fenomenologi transendental. Penelitian ini juga dilengkapi dengan metode wawancara serta pedoman wawancara terstruktur, serta observasi partisipatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggabungkan beberapa teknik yang ada. Teknik-teknik tersebut adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan untuk menguji keabsahan data digunakan tiga metode yaitu triangulasi sumber, triangulasi teknis, dan triangulasi waktu. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa resistensi yang dilakukan masyarakat dalam menyikapi perubahan mendasar akibat modernisasi adalah praktik zuhud. Lebih khusus lagi, secara praktis resistensi ini dimanifestasikan oleh; menghilangkan paham materialis, meningkatkan kehati-hatian dalam mencari rezeki (wirai) dan sangat menentang tradisi agama formalis (berorientasi fikih). Gerakan zuhud tersebut dapat terlaksana karena diprakarsai oleh sosok yang kharismatik. Selain itu, yang cukup menonjol adalah ziarah makam ke makam-makam tertentu yang diyakini sebagai makam para leluhur dan kyai setempat. Ziarah dapat meningkatkan kesadaran bahwa hidup ada di dunia dan di alam kubur; ada juga kehidupan di akhirat. Sehingga seseorang akan berhati-hati dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan selanjutnya. Penekanan terdapat pada pengamalan spiritual ajaran agama daripada mempelajari teks. Sehingga jarang mencoba mencari argumentasi sebagai dasar dari praktek-praktek tertentu.)
Integrasi Ajaran Islam dengan Ilmu Pengetahuan pada Program Studi Tadris Ilmu Pendidikan Alam IAIN Madura: Struktur Kurikulum, Strategi Pembelajaran dan Pandangan Masyarakat Mohammad Muchlis Sholichin; Wahab Syakhirul Alim; Achmad Muzammil Alfan Nasrullah
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 19 No. 1 (2022)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v19i1.5431

Abstract

The establishment of the science study program in IAIN Madura is an attempt to integrate Islam with natural science. This study also wants to understand the views of the Madurese community about the urgency of opening the Mathematics and Natural Sciences Study Program at IAIN Madura. This research is a mixed methods research, which is a research step by combining two approaches in research, namely qualitative and quantitative. Data collection methods are interviews and documentation. At the same time, data analysis consists of data reduction, data display, and concluding. From the research that conducted, several points were made as follows: 1) The curriculum structure of the integration of Islam with the natural sciences consists of courses related to; a) institutions, b) science and expertise, c) Islamic education and education, d) study programs expertise, namely Physics, Chemistry, Biology, e) attitudes and ethics of life in society, f) science based on competitive advantage. 2) Learning strategies used Learning strategies that can be used in science learning are contextual, thematic, practical, collaborative active learning, discovery learning models. 3) The public's perception of the existence of the Science Study Program at IAIN Madura. Lecturers must include Islamic values in the science material at the Natural Science. Students in the science study program must apply Islamic values through attitudes and behavior in their activities. Lecturers are required to include Islamic values in the delivery of lecture material. Lecturers can provide Islamic guidance on student problems in studying at the IAIN Madura science study program. (Pendirian prodi IPA IAIN Madura adalah suatu upaya untuk mengintegrasikan Islam dengan ilmu pengetahuan alam. Penelitian ini juga ingin memahami pandangan masyarakat Madura tentang urgensi pembukaan Prodi MIPA di IAIN Madura. Penelitian ini merupakan penelitian mix methods, yaitu suatu langkah penelitian dengan menggabungkan dua bentuk pendekatan dalam penelitian, yaitu kualitatif dan kuantitatif. Selain itu, strategi metode campuran bertahap (sequential mixed methods) terutama strategi eksplanatoris sekuensial. Pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi. Sementara analisis data terdiri dari reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan. Dari penelitian yang dilakukan dihasilkan beberapa poin sebagai berikut: 1) Struktur kurikulum integrasi Islam dengan ilmu pengetahuan alam terdiri atas mata kuliah yang berkaitan dengan a) institusi, b) keilmuan dan keahlian, c) ilmu kependidikan dan kependidikan Islam, d) keahlian prodi yaitu Fisika, Kimia, Biologi, e) sikap dan etika kehidupan di masyarakat, f) keilmuan atas dasar keunggulan kompetitif. 2) Strategi pembelajaran yang digunakan Strategi pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPA adalah kontekstual, tematik, efektif, kolaboratif pembelajaran aktif, model pembelajaran penemuan (discovery). 3)Persepsi masyarakat tentang keberadaan Prodi IPA di IAIN Madura.Masyarakat sangat mengharapkan kehadiran prodi tadris IPA di IAIN Madura, IAIN adalah Lembaga Pendidikan agama Islam yang sejak dahulu dikenal di masyarakat sebagai yang mencetak sarjana. Dosen harus memasukkan nilai-nilai Islam dalam materi IPA di Prodi Tadris IPA IAIN Madura. Mahasiswa prodi IPA wajib menerapkan nilai-nilai Islam melalui sikap dan tingkah laku dalam beraktivitas. Dosen wajib memasukkan nilai-nilai islami dalam penyampaian materi kuliah. Dosen mampu memberikan bimbingan islami terhadap permasalahan mahasiswa dalam belajar di tadris IPA IAIN Madura.)
Revitalisasi Kelembagaan Madrasah Diniyah di Pamekasan Mohammad Thoha; R. Taufikurrahman
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 19 No. 1 (2022)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v19i1.5446

Abstract

Madrasah diniyah grows and develops with the community. Its existence illustrates the level of community diversity. Along with the shift in the mindset of the community, the sustainability of the madrasah diniyah is threatened because it is seen as a "second class" education and it is only suitable for the lower middle class. This study describes the efforts of madrasah diniyah of Pamekasan in maintaining their institutional existence in the midst of the onslaught of modern education. Using a descriptive qualitative approach, this study reveals: the efforts of madrasah diniyah in revitalizing its institutions; exploring the response of stakeholders to these efforts; and challenges faced. The results of the study:The first: The form of revitalization efforts carried out by Madrasah diniyah is to maintain the Salaf curriculum and maximize community involvement in institutional policy making; The second, the response of stakeholders is good. students, community and teachers welcomed the revitalization movement. The third, the challenges faced are: the low interest and ability of row input in religious studies and the lack of financial support from the government. The solution made by madrasas is to strengthen the economy independently and strengthen the internal solidarity of the institution. (Madrasah diniyah tumbuh dan berkembang bersama masyarakat. Eksistensinya menggambarkan tingkat keberagamaan masyarakat. Seiring bergesernya pola pikir masyarakat, madrasah diniyah terancam keberlanjutannya karena dipandang sebagai pendidikan “kelas dua” dan hanya cocok bagi kelas menengah ke bawah. Penelitian ini menggambarkan upaya madrasah diniyah di Pamekasan dalam mempertahankan eksistensi kelembagaanya di tengah gempuran pendidikan modern. Dengan pendekatan kualitatif diskriptif dan menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumen, penelitian ini mengungkap: upaya madrasah diniyah dalam melakukan revitalisasi kelembagaannya; mendalami respon stakeholders terhadap upaya tersebut; dan tantangan yang dihadapi. Hasil penelitian: pertama: Bentuk upaya revitalisasi yang dilakukan madrasah diniyah adalah mempertahankan kurikulum salaf dan memaksimalkan keterlibatan masyarakat dalam pengambilan kebijakan kelembagaan; Kedua, respon stakehorders baik. murid, masyarakat dan para pengajar menyambut baik gerakan revitalisasi tersebut. Ketiga, tantangan yang dihadapi berupa: rendahnya minat dan kemampuan row input pada kajian keagamaan dan minimnya dukungan dana dari pemerintah. Solusi yang dilakukan madrasah dengan cara melakukan penguatan ekonomi secara mandiri dan menguatkan solidaritas internal lembaga.)
Bantuan Hukum Terhadap Istri dalam Perkara Perceraian Melalui Posbakum di Pengadilan Agama Sampang Eka Susylawati; Siti Musawwamah
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 19 No. 2 (2022)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of UIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v19i2.6168

Abstract

Posbakum is a place within the Religious Courts that provides free legal aid services to the poor. But in reality there are certain parties who need more services than Posbakum, for example the wife in fighting for her rights in divorce. Considering that wives in general have low levels of education, economy and access compared to their husbands. This study uses a qualitative approach that is directed at a sociological approach by using interview, observation and documentation data collection techniques. The results showed that the application of legal assistance for wives in divorce cases through Posbakum at the Sampang Religious Court was in accordance with applicable regulations, namely providing consultation and making claims (application for divorce) and providing information about advocate organizations that can provide legal assistance and among these services the dominant one is the making of divorce papers. The obstacles to the role of Posbakum in providing legal assistance to wives in divorce cases include the Posbakum rules which only provide services in the early stages of making a lawsuit (application for divorce), the wife's knowledge is minimal about the role and function of Posbakum, the Posbakum service room which is one with a court waiting room (without any partitions) and the lack of funds allocated by the state through the DIPA of the Sampang Religious Court. (Posbakum merupakan tempat yang berada di dalam Pengadilan Agama yang memberikan layanan bantuan hukum secara prodeo kepada masyarakat miskin. Namun dalam realita terdapat pihak tertentu yang membutuhkan pelayanan lebih dari Posbakum, misalnya pihak istri dalam memperjuangkan hak-haknya dalam perceraian. Mengingat istri pada umumnya memiliki tingkat pendidikan, ekonomi dan akses yang rendah dibandingkan dengan suami. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang diarahkan pada pendekatan sosiologis dengan menggunakan tehnik pengumpulan data wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan bantuan hukum bagi istri dalam perkara perceraian melalui Posbakum di Pengadilan Agama Sampang telah sesuai dengan aturan yang berlaku yaitu pemberian konsultasi dan pembuatan gugatan (permohonan cerai gugat) serta pemberian informasi tentang organisasi advokat yang dapat memberikan bantuan hukum dan diantara layanan tersebut yang dominan adalah pembuatan surat gugat cerai. Adapun kendala atas peran Posbakum dalam memberikan bantuan hukum bagi istri dalam perkara perceraian antara lain aturan Posbakum yang hanya memberikan layanan pada tahap awal pembuatan gugatan (permohonan cerai gugat), pengetahuan pihak istri yang minim tentang peran dan fungsi Posbakum, ruang pelayanan Posbakum yang menjadi satu dengan ruang tunggu sidang (tanpa ada sekat) dan minimnya dana yang diperuntukan oleh negara melalui DIPA Pengadilan Agama Sampang.)
Analisis Konflik Perubahan Tradisi Pra-Pernikahan “Diba’an” dalam Kelompok Masyarakat Islam Nahdlatul Ulama Desa Gading Ayu Febriani; Agus Mahfud Fauzi
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 19 No. 1 (2022)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v19i2.6174

Abstract

Gading Village, Madiun Regency has a tradition which is a relation between the beliefs of the Nahdlatul Ulama community and local culture, namely diba'an. Generally, diba'an is understood as a prayer activity accompanied by a sermon. Meanwhile, in Gading Village, the diba'an is carried out as a series of pre-wedding rituals because it is believed to be a prayer hoping for smoothness and harmony between two couples getting married. However, due to the COVID-19 pandemic, the implementation of the diba'an tradition has changed or even been stopped and caused conflict. The purpose of this study was to analyze the conflict by using the conflict theory of Karl Marx and descriptive qualitative methods sourced from primary and secondary data. The results of the study indicate that the conflict stems from the conflict between "priyayi" religious leaders and ordinary people who are subject to social distancing policies. Starting from religious leaders who devote themselves to the interests of the hereafter so as to position themselves to protect and defend the diba'an and prevent people from returning to old habits that glorify their ancestors compared to God in expecting a smooth wedding ceremony. In contrast to ordinary people who have their own views on traditional and worldly asceticism, namely prioritizing the safety of the world. So, there are two things that are caused by this conflict, namely the number of marriages has decreased and there are people who have re-adopted the old habit of making offerings at the village punden in pre-wedding rituals. (Desa Gading Kabupaten Madiun memiliki suatu tradisi yang merupakan relasi antara kepercayaan masyarakat Nahdlatul Ulama dan budaya lokal yaitu diba’an. Umumnya, diba’an dipahami sebagai aktivitas bersholawat disertai khotbah. Sedangkan, di Desa Gading diba’an rutin dilaksanakan sebagai serangkaian ritual pra-pernikahan karena diyakini sebagai doa mengharapkan kelancaran dan keharmonisan antara dua pasangan yang akan menikah. Akan tetapi, karena pandemi covid-19 pelaksanaan tradisi diba’an mengalami perubahan atau bahkan dihentikan dan menyebabkan konflik. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis konflik tersebut menggunakan teori konflik Karl Marx dan metode kualitatif deskriptif yang bersumber pada data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik berasal dari pertentangan antara tokoh agama “priyayi” dengan masyarakat biasa yang memilih tunduk terhadap kebijakan social distancing. Diawali dari kelompok tokoh agama yang mengabdikan dirinya pada kepentingan akhirat sehingga menempatkan diri mereka untuk menjaga dan mempertahankan diba’an serta mencegah masyarakat kembali pada kebiasaan lama yang mengagungkan leluhur dibandingkan Tuhan YME dalam mengharapkan kelancaran acara pernikahan. Berbeda dengan masyarakat biasa yang memiliki pandangan tersendiri pada askestisme tradisional dan keduniawiannya yaitu mengutamakan keselamatan dunia. Maka, ada dua hal yang diakibatkan oleh konflik ini yaitu angka pernikahan turun dan terdapat masyarakat yang kembali mengadopsi kebiasaan lama dengan membuat sesajen di punden desa dalam ritual pra-pernikahan.)
DIFFERENT OPINION ON THE AMOUNT OF AL-QUR’AN VERSES AND ITS IMPLICATION TO THE PUBLISHING MUSHAF AL-QUR’AN IN INDONESIA Moh. Zahid
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 14 No. 2 (2017)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of IAIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v14i2.6188

Abstract

Imam Qurra have different opinions in calculating the amount of verses in Qur’an, they are: 1) Al-Madanî al-Awwal stated that there are 6217 or 6214 verses, 2) Al-Madanî al-Akhîr mentioned that there are 6214 verses, 3) Ahl Mekkah stated that there are 6210 verses, 4) Ahl Bashrah counted for 6204 verses, 5) Ahl Damaskus stated that there are 6227 or 6226 verses, 6) al-Humushi stated that there are 6232 verses, and 7) ahl Kufah mentioned that there are 6236 verses. While the Mushaf al-Qur’an published in Indonesia have 6236 verses. Therefore, The Indonesian Standard Mushaf followed the opinion of Kûfiy, They are Imam 'Asim (127/744), Imam Hamzah (156/772), Imam Al-Kisa'i (189/804) Khalaf al-Asyir (229/843) and al-A’masy (148/765).
Pencarian Kembali Moderasi Beragama Dalam Kitab Itḥāf Al-Dhaki Senata Adi Prasetia
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 19 No. 2 (2022)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of UIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v19i2.6211

Abstract

This article explores the concept of religious moderation in the Kitab Itḥāf al-Dhaki and its relevance in contemporary Indonesian Islam. As a new national policy, religious moderation is open to criticism for conceptual establishment. This policy aims for addressing the threat of religious extremism and intolerance in Indonesia which has become more active over the past two decades. Also, have been a move to curb the political exploitation of religion which has led to identity politics and hate speech flourishing in the 2019 elections. By using a qualitative type of research based on a literature study, i.e. the Kitab Ithaf al-Dhaki, this article results that remaking of religious moderation in this manuscript is accommodating two streams of thought is more important than choosing one of them, as long as it can be done. The meaning of moderation according to Ibrahim al-Kurani, author of the Kitab Ithaf al-Dhaki, is a someone who can combine the two meanings of the Qur'an both esoteric and exoteric (i.e., a perfect man or insan kamil). Furthermore, Al-Kurani in Kitab Itḥāf al-Dhaki argues to be moderate, one should be understand both (esoteric and exoteric) thoughts. It's impossible to moderate if you don't know the two streams of thought.. (Artikel ini mengeksplorasi konsep moderasi beragama dalam Kitab Itḥāf al-Dhaki dan relevansinya bagi Islam Indonesia kontemporer. Sebagai kebijakan nasional baru, moderasi beragama terbuka untuk dikritisi demi pematangan konseptual. Terlebih, tujuan dari moderasi beragama adalah untuk mengatasi ancaman ekstremisme dan intoleransi agama di Indonesia yang semakin aktif selama dua dekade terakhir. Selain itu, juga merupakan langkah untuk mengekang eksploitasi politik agama yang telah menyebabkan politik identitas dan ujaran kebencian berkembang dalam pemilu 2019 silam. Dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif berbasis studi pustaka, artikel ini menghasilkan temuan bahwa pencarian kembali moderasi beragama dalam manuskrip ini adalah mengakomodir dua aliran pemikiran berseberangan daripada memilih salah satunya, dengan syarat memahami betul kedua aliran pemikiran tersebut. Makna moderasi menurut Ibrahim al-Kurani adalah seseorang yang dapat memadukan dua makna al-Qur’an, baik yang esoteris maupun yang eksoteris (itulah manusia yang sempurna/insan kamil). Lebih lanjut, Al-Kurani dalam Itḥāf al-Dhaki berpendapat untuk menjadi moderat, seseorang harus memahami kedua pemikiran (esoteris dan eksoteris). Tidak mungkin memoderasi jika orang tersebut tidak mengetahui dua aliran pemikiran). Dalam konteks ini, pencarian jati diri moderasi beragama melalui Ithaf al-Dhaki menjadi keniscayaan demi kedewasaan beragama di Islam Indonesia kontemporer.)
Penguatan Kompetensi Professional Guru PAI Dalam Menghadapi Era Society 5.0 (Studi Deskriptif Strategi Peningkatan Mutu Guru PAI di SMP Negeri 16 Samarinda) Muhammad Nasikin; Umar Fauzan; Noor Malihah
NUANSA: Jurnal Penelitian Ilmu Sosial dan Keagamaan Islam Vol. 20 No. 1 (2023)
Publisher : Research Institute and Community Engagement of UIN MADURA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/nuansa.v20i1.6350

Abstract

The era of Society 5.0 brought extraordinary changes in all human life in various fields, including health, economy, technology and education. In the field of education, the existence of teachers is very important in order to shape the character building of students to control the negative effects of technology and make good use of technology. The purpose of this study is to find out how the challenges of PAI teachers are in the era of society 5.0', how is the strategy for strengthening the professional competence of PAI teachers at SMP Negeri 16 Samarinda in accordance with the demands of the era of society 5.0. and what are the inhibiting and supporting factors. This study uses a qualitative approach with descriptive data analysis, researchers provide analysis and descriptions of various sources of information. The main data collection techniques are in-depth interviews, non-participant observation, and documentation studies. The results of this research are the various challenges faced by teachers in the era of society 5.0, making strengthening the professional competence of PAI teachers an absolute must, as is the program for strengthening the professional competence of PAI teachers was conducted at SMP Negeri 16 Samarinda. The program for strengthening the professional competence of PAI teachers includes: making learning contracts at the beginning of meetings with students, thinking out of the box in overcoming student problems, making HOTS questions, and making Classroom Action Research (PTK) every semester. The obstacle is the limited facilities and infrastructure in schools such as IT-based laboratories and scientific publications for the work of teachers. The spirit of learning from the teacher is a supporting factor that can help the success of the strategy for strengthening the competence of PAI teachers at SMP Negeri 16 Samarinda. (Era Society 5.0 membawa perubahan luar biasa dalam seluruh kehidupan manusia diberbagai bidang baik kesehatan, ekonomi, teknologi dan juga pendidikan. Dalam bidang pendidikan keberadaan guru menjadi sangat penting dalam rangka membentuk karakter building peserta didik untuk mengendalikan pengaruh negatif teknologi dan memanfaatkan teknologi dengan baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana tantangan guru PAI di era society 5.0’, bagaimana strategi penguatan kompetensi profesioal guru PAI di SMP Negeri 16 Samarinda yang sesuai dengan tuntutan di era society 5.0. dan apa saja yang menjadi faktor penghambat dan pendukungnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis data deskriptif, peneliti memberikan analisis dan deskripsi dari berbagai sumber informasi. Teknik pengumpulan data yang utama adalah wawancara mendalam, observasi non participant, dan studi dokumentasi Adapun hasil penelitian ini adalah adanya berbagai tantangan yang dihadapi oleh Guru di era society 5.0 menjadikan penguatan kompetensi profesional guru PAI mutlak harus dilakukan, sebagaimana program penguatan kompetensi profesional guru PAI yang dilakukan di SMP Negeri 16 Samarinda. Program penguatan kompetensi profesional guru PAI meliputi: pembuatan kontrak belajar pada saat awal pertemuan dengan siswa, berfikir out off the box dalam mengatasi persoalan siswa, membuat soal HOTS, dan membuat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) setiap semester. Adapun hambatannya adalah keterbatasan sarana dan prasarana yang ada di sekolah seperti laboratorium berbasis IT dan publikasi ilmiah untuk hasil karya guru. Semangat belajar dari guru merupakan faktor pendukung yang dapat membantu suksesnya strategi penguatan kompetensi guru PAI di SMP Negeri 16 Samarinda.)