cover
Contact Name
Ichsan Setiawan
Contact Email
ichsansetiawan@usk.ac.id
Phone
+6285220189228
Journal Mail Official
depik@usk.ac.id
Editorial Address
Faculty of Marine and Fisheries Universitas Syiah Kuala Jalan Meureubo No. 1, Kopelma Darussalam Banda Aceh, 23111, Indonesia
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir, dan Perikanan
ISSN : 20897790     EISSN : 25026194     DOI : 10.13170/depik
Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan is a peer review international journal, this journal is publishing high-quality articles in aquatic sciences and fisheries in general. The aim of the journal is to publish and disseminate the current or new findings of the research, and give a significant contribution to the development of fisheries and aquatic sciences in several topics, but not limited to: Fisheries (Aquaculture, Capture Fisheries, Fish Processing) Aquatic Ecology (Freshwater, Marine, and Brackishwater) Aquatic Biology (Fish, Mollusk, Crustacean, Plankton, Coral reefs) Oceanography.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2020): August 2020" : 15 Documents clear
Studi klasterisasi industri galangan kapal kayu berdasarkan ukuran kapal perikanan di Banda Aceh dan Aceh Besar dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) Thaib Rizwan; Rizki Ayana; Yusrizal Muchlis; Ratna Mutia Aprilla; Makwiyah Chalilluddin; Muhammad Muhammad; Junaidi M Affan; Fachrurozi Amir
Depik Vol 9, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.2.17356

Abstract

The abundant potential of fishery products in Aceh has encouraged ship growth to increase. Ship growth continued to increase by 8% over the past 5 years. So as to support the availability of a seaworthy and reliable fishing fleet, the availability and suitability of shipyards are needed at strategic locations. This study aims to determine the strategic location of shipyards for vessels size ≤ 10 GT, ≥ 10-20 GT, ≥ 30 GT in Banda Aceh and Aceh Besar. Data were collected by interview method and using a questionnaire. The data were accumulated, weighted, and analyzed by Analytical Hierarchy Process (AHP) method using Expert Choice 11. The results showed that the comparison between Peukan Bada Shipyard and Lampulo Shipyard obtained: Peukan Bada Shipyard is suitable for vessels size ≤ 10 GT, ≥ 10-20 GT, ≥ 30 GT, compared to Lampulo Shipyard which is not suitable to be used as a shipyard. The comparison of Peukan Bada Shipyard with Krueng Raya Shipyard obtained the following results: The Peukan Bada Shipyard is suitable for vessels size ≤ 10 GT and ≥ 30 GT, and the Krueng Raya Shipyard is suitable for vessels size ≥ 10–20 GT. Determination of shipyards suitable for the vessels size ≤ 10 GT, ≥ 10-20 GT, ≥ 30 GT through the consideration of several criteria including land area, human resources, sources of raw materials, and facilities owned by each shipyard.Keywords: Wooden shipyard, Analytical Hierarchy Prosess (AHP), Vessel sizeABSTRAKPotensi hasil perikanan yang melimpah di Aceh telah mendorong pertumbuhan kapal semakin meningkat. Pertumbuhan kapal terus mengalami kenaikan sebesar 8% selama 5 tahun terakhir. Sehingga untuk menunjang ketersediaan armada penangkapan yang laik laut dan handal, maka diperlukan ketersediaan dan kesesuaian galangan kapal pada lokasi yang strategis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui letak lokasi galangan kapal yang strategis untuk kapal yang berukuran ≤ 10 GT, ≥ 10 – 20 GT, ≥ 30 GT di Banda Aceh dan Aceh Besar. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara dan menggunakan kuesioner. Data diakumulasikan, diberikan bobot, dan dianalisis dengan metode Analytical Hierarchy Prosess (AHP) menggunakan Software Expert Choice 11.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari perbandingan antara Galangan Peukan Bada dengan Galangan Lampulo diperoleh hasil,  Galangan Peukan Bada sesuai untuk kapal yang berukuran ≤ 10 GT, ≥ 10–20 GT, ≥ 30 GT dibandingkan dengan Galangan Lampulo yang tidak sesuai untuk dijadikan sebagai galangan kapal. Perbandingan Galangan Peukan Bada dengan Galangan Krueng Raya diperoleh hasil sebagai berikut. Galangan Peukan Bada sesuai untuk kapal ≤ 10 GT dan ≥ 30 GT, dan Galangan Krueng Raya sesuai untuk kapal ≥ 10–20 GT. Penentuan galangan kapal yang sesuai untuk ukuran kapal ≤ 10 GT, ≥ 10-20 GT, ≥ 30 GT melalui pertimbangan beberapa kriteria yang meliputi luas lahan, sumber daya manusia, sumber bahan baku, serta fasilitas yang dimiliki oleh masing-masing galangan.Kata kunci: Galangan kapal kayu, Analytical Hierarchy Prosess (AHP), Ukuran kapal
Peran dinamika laut dan topografi terhadap pola hujan tipe lokal di wilayah Kota Palu Solih Alfiandy; Rheinhart Christian Hamonangan Hutauruk; Donaldi Sukma Permana
Depik Vol 9, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.2.16106

Abstract

Palu is well – known for its local type rainfall patterns but there are no previous studies examining the relationship between its rainfall pattern and ocean dynamics at regional scale and its unique topography in this region.  The aim of this research is to determine the role of ocean dynamics through an analysis of mean sea surface temperatures (SST) and its correlation to rainfall, analysis of precipitable water and zonal-meridional winds against SST and topographic effects on rainfall which causes Palu is having a local type rainfall pattern. The method used in this research is descriptive analysis and quantitative statistical analysis. The results showed that the pattern of precipitable water and zonal-meridional winds follow the pattern of SST which influenced by the sun’s annual motion.  Rainfall in Palu is affected by the SST and moisture from surrounding waters of Palu with varying amounts each month. Local type rainfall patterns in Palu is influenced by a combination of ocean dynamics, land-sea breeze and valley-mountain winds due to geographical location and unique topographic condition.Keywords: Ocean dynamics, Sea surface temperature, Rainfall, pattern local type, Palu city ABSTRAKKota Palu terkenal dengan pola hujan tipe lokal namun belum ada penelitian yang mengkaji wilayah ini untuk mengetahui hubunganya dengan dinamika laut dalam skala regional dan topografinya yang unik. Tujuan dari kajian penelitian ini adalah untuk mengetahui peran dinamika laut melalui analisis rata – rata suhu permukaan laut dan hubungannya dengan curah hujan, analisis rata – rata kondisi uap air atau precipitable water serta angin zonal – meridional terhadap suhu permukaan laut dan pengaruh topografi terhadap curah hujan yang menyebabkan wilayah kota Palu memiliki pola hujan tipe lokal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis statistik kuantitatif. Hasil menunjukkan bahwa pola precipitable water dan angin zonal – meridional mengikuti pola suhu permukaan laut yang dipengaruhi oleh gerak semu matahari tahunan. Curah hujan di wilayah kota Palu mendapatkan kontribusi dari suhu permukaan laut di sekitar wilayah perairan kota Palu dengan jumlah yang bervariasi disetiap bulannya. Pola hujan tipe lokal di wilayah kota Palu terjadi karena adanya kombinasi antara dinamika laut, angin darat – angin laut dan angin lembah – angin gunung karena letak geografis serta kondisi topografinya yang unik.Kata kunci: Dinamika Laut, Pengaruh suhu Permukaan laut, Pola hujan tipe lokal, Kota Palu
Variasi morfologis induk udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man, 1879) Populasi Siratu, GIMacro, Mahakam, dan Bengawan Solo Nurul Suwartiningsih; Listiatie Budi Utami
Depik Vol 9, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.2.15963

Abstract

Giant freshwater prawn is a native Indonesian freshwater prawn, which has the largest body size among other freshwater prawn. Efforts to increase the production of giant prawns can be done by genetic improvement of the parent. The main basis for conventional genetic improvement of giant freshwater prawns is availability of morphological variation information. This study is to determine the morphological variations of the giant prawn broodstock of Siratu, GIMacro, Mahakam, and Bengawan Solo populations which are cultured in Unit Kerja Budidaya Air Payau Balai Budidaya Udang Galah (UKBAP BBUG) Samas. Through this research it is expected to determine the broodstock with a profitable character that is able to produce hybrids with profitable characters as well. Baseline morphometrics were observed from the ratio of cephalothorax: abdomen length, ratio of carapace: rostrum length and ratio of carapace: abdomen length. Morphological variations were observed using 58 characters which included morphometric, meristic and morphological characters. The results showed the largest ratio of cephalothorax and abdomen average length owned by Bengawan Solo population, while the largest ratio of carapace and abdominal average length owned by Mahakam. The highest morphological variation is owned by Mahakam with 52% similarity. The lowest morphological variation is owned by GIMacro and Siratu populations with 80% similarity. The giant prawn broodstock which is expected to produce hybrid with profitable character is the broodstock from Bengawan Solo population.Keywords: Giant freshwater prawn, Morphological variation, SiratuGIMacro, Mahakam, Begawan Solo ABSTRAKUdang galah merupakan udang air tawar asli Indonesia, yang memiliki ukuran tubuh terbesar di antara udang air tawar lainnya. Sejauh ini beberapa upaya peningkatan produksi udang galah perlu kajian mendalam, di antaranya melalui perbaikan genetik induk. Adapun informasi penting yang harus diketahui untuk perbaikan genetik induk udang galah adalah karakterisasi morfologis induk udang galah yang diperkirakan unggul. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi morfologis induk udang galah populasi Siratu, GIMacro, Mahakam, dan Bengawan Solo yang dibudidayakan di Unit Kerja Budidaya Air Payau Balai Budidaya Udang Galah (UKBAP BBUG) Samas. Adapun karakter morfometrik utama yang diamati meliputi rasio rerata panjang sefalotoraks: abdomen, rasio rerata panjang karapaks: panjang rostrum dan rasio rerata panjang karapaks: abdomen. Selain itu, 58 karakter variasi morfologis juga diamati, meliputi karakter morfometrik, meristik dan morfologi. Hasil penelitian menunjukkan rasio rerata panjang sefalotoraks dan abdomen terbesar dimiliki populasi Bengawan Solo, sedangkan rasio rerata panjang karapaks dan abdomen terbesar dimiliki populasi Mahakam. Variasi morfologis tertinggi dimiliki populasi Mahakam dengan similaritas 52% terhadap ketiga populasi yang lain. Variasi morfologis terendah dimiliki populasi GIMacro dan Siratu dengan similaritas 80%. Induk udang galah yang diharapkan dapat menghasilkan hibrid dengan karakter unggul adalah induk populasi Bengawan Solo.Kata kunci: Udang galah, Variasi morfologis, Siratu, GIMacro, Mahakam, Bengawan Solo
Kinerja Pelabuhan Perikanan Nusantara (Ppn) Karangantu - Banten, Indonesia Agus Suherman; Herry Boesono; Faik Kurohman; Abdul Kohar Muzakir
Depik Vol 9, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.2.17457

Abstract

Karangantu Nusantara Fishing Port (NFP) accommodates production, processing and marketing activities, also fishermen development. Services for vessels as production facilities include: providing a home base for the fishing fleet, ensuring smooth loading of captured fishes, providing supplies for vessels such as fresh water, fuel, ice and others. This study aims to analyze the activities and operational performance and find out the determinants of the performance of Karangantu NFP. This research was conducted in October 2019 to January 2020 at the Karangantu NFP. Data analysis was performed using two methods; the first is a descriptive method to analyze the operational activities of the Karangantu NFP and assess operational performance based on the Decree of Director General of Capture Fisheries in 2015 Number 20 / KEP-DJPT / 2015; the second is Structural Equation Model (SEM) method, which is to define the determinants of Karangantu NFP performance. The results showed that Karangantu NFP operational activities continued to increase. Ship visits during 2019 increased by 15.75%. The production volume of landed fish increased by 9.0%, but the value of production fell by 7.1% due to the catches of most fish with low economic value and poor fish quality. The performance evaluation of 27 criterias based on the Decree of Director General of Capture Fisheries in 2015 showed that the operational performance of the Karangantu NFP during October 2019-January 2020 performed well. Based on SEM test results, internal (human resource/personal, budget, fishermen, and productivity) variables have the most influence on NFP performance. Keywords: Performance, SEM, Fishing Port, Capture Fisheries, KarangantuABSTRAKPelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Karangantu menampung aktivitas produksi, pengolahan dan pemasaran, serta pembinaan nelayan. Pelayanan terhadap kapal perikanan sebagai sarana produksi meliputi: penyediaan basis bagi armada penangkapan, menjamin kelancaran bongkar ikan hasil tangkapan, menyediakan suplai logistik bagi kapal-kapal ikan seperti air tawar, bahan bakar minyak, es untuk perbekalan dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas dan kinerja operasional serta mengetahui faktor-faktor penentu kinerja PPN Karangantu. Penelitian ini dilaksanakan pada Oktober 2019 hingga Januari 2020 di PPN Karangantu. Analisis data dilakukan dengan dua metode; pertama metode deskriptif yaitu untuk menganalisis aktivitas operasional PPN Karangantu dan penilaian kinerja operasional berpedoman Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap tahun 2015 Nomor 20/KEP-DJPT/ 2015; kedua metode Structural Equation Model (SEM) yaitu untuk mengetahui faktor-faktor penentu kinerja PPN Karangantu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas operasional PPN Karangantu terus mengalami peningkatan. Kunjungan kapal selama tahun 2019 mengalami kenaikan sebesar 15,75%. Volume produksi ikan yang didaratkan naik sebesar 9,0 %, namun untuk nilai produksi turun sebesar 7,1 % disebabkan  hasil tangkapan sebagian besar ikan yang nilai ekonomis rendah dan mutu ikan kurang baik. Penilaian kinerja terhadap 27 kriteria berpedoman keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap tahun 2015 menunjukkan bahwa kinerja operasional PPN Karangantu selama Oktober 2019- Januari 2020 berkinerja Baik. Berdasarkan hasil pengujian SEM,  variabel internal (sumberdaya manusia/pengelola, anggaran, nelayan dan produktivitas) mempunyai pengaruh paling besar terhadap kinerja PPN.Kata kunci: Kinerja, SEM, Pelabuhan Perikanan, Perikanan Tangkap, Karangantu
Distribusi spasial komunitas makrozoobentos di Sungai Cilalawi Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat Hana Septiani Suminar; Zahidah Zahidah; Herman Hamdani; Asep Sahidin
Depik Vol 9, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.2.14676

Abstract

Reservoir inlet. The Cilalawi River receives pollutant from households, as well as agriculture around the river. Utilization of the river as a waste disposal site is the impact of community activities on the environment that causes changes in environmental factors that will adversely affect the life of aquatic organisms. This research aims to map the spatial distribution of macrozoobenthos community along the Cilalawi River. This research was conducted from March-May 2019. The research method used a survey method by taking water and macrozoobenthos samples along the Cilalawi River. Data collection techniques using purposive sampling by setting 4 stations and four times sampling every two weeks. Based on the observation location, composition at station 1 consisted of 3 classes and 12 species of macrozoobenthos. The composition at station 2 consists of 3 classes and 10 species. Composition at station 3 consists of 3 classes and 16 species and composition at station 4 consists of 2 classes and 7 species. The difference in species deficit value at each station is different, this is influenced by physical and chemical parameters according to conditions around the aquatic environment. The index of diversity in the Cilalawi River ranges from 1,59 – 2,94 and the Uniformity Index of the Cilalawi River ranges from 0,2 to 0,9. The distribution pattern of makrozoobentos in the waters of the Cilalawi River based on the Morisita Index is uniform and grouped at station 1 to station 4 Keywords: Distribution, Makrozoobenthos, Cilalawi River, Jatiluhur, Pollutant ABSTRAKSungai Cilalawi merupakan salah satu anak Sungai Citarum yang menjadi inlet Waduk Jatiluhur. Sungai Cilalawi menerima buangan limbah yang berasal dari rumah tangga, serta pertanian yang berada di sekitar aliran sungai. Pemanfaatan Sungai untuk pembuangan limbah merupakan dampak dari aktivitas masyarakat terhadap lingkungan yang menyebabkan perubahan faktor lingkungan yang akan berakibat buruk bagi kehidupan organisme air. Riset ini bertujuan untuk memetakan distribusi spasial makrozoobentos di sepanjang aliran Sungai Cilalawi. Riset ini dilakukan dari bulan Maret –Mei 2019. Metode riset menggunakan metode survey yaitu dengan cara melakukan pengambilan sampel air dan sampel makrozoobentos di sepanjang Sungai Cilalawi. Teknik pengambilan data menggunakan purposive sampling dengan menetapkan 4 stasiun dan empat kali pengambilan sampling setiap dua minggu sekali. Berdasarkan lokasi pengamatan secara komposisi di stasiun 1 terdiri dari 3 kelas dan 12 spesies makrozoobentos. Komposisi di stasiun 2 terdiri dari 3 kelas dan 10 spesies. Komposisi di stasiun 3 terdiri dari 4 kelas dan 16 spesies dan komposisi di stasiun 4 terdiri dari 2 kelas dan 7 spesies. Perbedaan nilai spesies defisit pada masing – masing stasiun berbeda, hal ini dipengaruhi oleh parameter fisik dan kimiawi sesuai kondisi di sekitar lingkungan perairan tersebut. Indeks keanekaragaman di Sungai Cilalawi berkisar 1,59 – 2,94 dan Indeks Keseragaman berkisar 0,2 – 0,9. Pola distribusi makrozoobentos di perairan Sungai Cilalawi berdasarkan Indeks Morisita adalah seragam dan berkelompok di stasiun 1 hingga stasiun 4.Kata kunci: Distribusi, Makrozoobentos, Sungai Cilalawi, Jatiluhur, Bahan Pencemar 
Kesesuaian budidaya keramba jaring apung (KJA) ikan kerapu di perairan Teluk Sabang Pulau Weh, Aceh T. Faizul Anhar; Bambang Widigdo; Dewayany Sutrisno
Depik Vol 9, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.2.15199

Abstract

Weh Island is one of the coastal region that has high prospect in fisheries, one of it is floating net cage. Unfortunately, the unavailability of the classification zone for fish net culture and the oceanographic conditions of the coastal water become the main issues of the success of the fish net cage (KJA) culture activities.  The aim of this study is analyze suitability of floating net cage culture for grouper in Sabang Bay. The method use in this research is Inverse Distance Weighted (IDW) method. There were 10 water quality variabels measured, such as protection, bathimetry, water transparency, current velocity, temperature, salinity, pH, dissolved oxygen, nitrate and phosphate. Area suitability divided into three suitability criteria, i.e very suitable, suitable and not suitable were used to determine the suitability of floating net cage. The result of the analysis are obtained show that the area for grouper culture Sabang Bay covering 11.3 % or 9.08 Ha of Sabang Bay were classified as very suitable (S1), suitable class (S2) covering an area of 39.8 % or 32.08 Ha of Sabang Bay, and not suitable class (N) covering 49 % or 39.54 Ha of Sabang Bay. Based on this percentage can be concluded that some of the coastal of the Sabang Bay can be utilized as a floating net cage culture of grouper fish activities.Keywords: Grouper culture, GIS, Suitability, Sabang Bay, Aceh Province ABSTRAKPulau Weh merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi perikanan yang cukup besar. Akan tetapi dengan belum tersedianya penentuan lokasi budidaya keramba jaring apung serta data kondisi perairan yang tersedia menjadi kendala utama dalam peningkatan keberhasilan dan pengembangan budidaya keramba jaring apung (KJA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis luasan kesesuaian perairan budidaya keramba jaring apung ikan kerapu di perairan Teluk Sabang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Inverse Distance Weighted (IDW). Terdapat sepuluh parameter yang diukur, yaitu keterlindungan, kedalaman, kecerahan, kecepatan arus, suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, nitrat dan fosfat. Tingkat kesesuaian perairan dibagi menjadi 3 (tiga) kelas kesesuaian, yaitu sangat sesuai, sesuai dan tidak sesuai. Hasil analisis yang didapat menunjukkan bahwa luasan untuk budidaya ikan kerapu Teluk Sabang sangat sesuai (S1) seluas 9,08 % atau 11,3 Ha dari Teluk Sabang, kelas sesuai (S2) seluas 39,8 % atau 32,08 Ha dari Teluk Sabang, dan kelas tidak sesuai (N) seluas 49 % atau 39,54 Ha dari Teluk Sabang. Berdasarkan persentase tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian perairan Teluk Sabang dapat dimanfaatkan sebagai usaha budidaya keramba jaring apung ikan kerapu.Kata kunci: Budidaya ikan kerapu, SIG, Kesesuaian perairan, Teluk Sabang, Provinsi Aceh
Perubahan sebaran dan kerapatan hutan mangrove di Pesisir Pantai Bama, Taman Nasional Baluran menggunakan citra satelit SPOT 4 dan SPOT 6 Andhika Rahmatullah Laksmana Fudloly; Mochammad Arif Zainul Fuad; Anang Dwi Purwanto
Depik Vol 9, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.2.14494

Abstract

The condition of mangrove forests in the Baluran National Park area is always changing. Mapping changes of mangrove area and density is needed to find out areas that need attention for mangrove conservation. The study aimed to determine the distribution and the density of mangrove forests in coastal waters of Bama, Baluran National Park. The image data used were SPOT 4 acquisition in 2007 and SPOT 6 acquisition in 2017 as well as field data that have been collected on 23-25 January 2019. The method of separating mangrove and non-mangrove objects used supervised classification, whereas for estimating the density of mangrove using the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) algorithm. The results showed the distribution of mangrove forests in coastal waters of Bama, Baluran National Park from 2007-2017 decreased in area by 8.9 ha. In contrast, the condition of mangrove density increased significantly, where the changes in mangrove density were dominated in the high-density class. The results of the accuracy tests using the method confusion matrix obtained an overall accuracy of 88%, while the accuracy-test with the kappa method obtained an accuracy of 87.76%. The resulting accuracy value indicates a high level of accuracy (more than 85%) and according to the specified requirements.Keywords: Mangrove, NDVI, SPOT 4, SPOT 6, Baluran National Park ABSTRAKKondisi luasan hutan mangrove di kawasan Taman Nasional Baluran terus mengalami perubahan. Pemetaan perubahan luasan dan kerapatan mangrove sangat diperlukan untuk mengetahui area yang membutuhkan perhatian untuk pelestarian mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran dan kerapatan hutan mangrove di  pesisir pantai Bama, Taman Nasional Baluran. Data yang digunakan dalam penelitian adalah citra SPOT 4 akuisisi tahun 2007 dan citra SPOT 6 akuisisi tahun 2017 dan data hasil survei lapangan yang telah dilakukan pada tanggal 23 - 25 Januari 2019. Metode pemisahan obyek mangrove dan non mangrove menggunakan klasifikasi terbimbing (supervised), sedangkan untuk pendugaan tingkat kerapatan mangrove menggunakan algoritma Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Hasil penelitian menunjukkan sebaran hutan mangrove di pesisir pantai Bama, Taman Nasional Baluran dari tahun 2007-2017 mengalami penurunan luasan sebesar 8,9 ha, sedangkan kondisi tingkat kerapatan mangrove mengalami peningkatan yang cukup signifikan dimana perubahan kerapatan mangrove didominasi pada kelas kerapatan rapat. Hasil uji akurasi menggunakan metode matriks kesalahan (confusion matrix) memperoleh overall accuracy sebesar 88%, sedangkan uji akurasi dengan metode kappa diperoleh tingkat akurasi sebesar 87,76%. Nilai akurasi yang dihasilkan menunjukkan tingkat ketelitian yang cukup tinggi (lebih dari 85%) dan telah memenuhi syarat yang ditetapkan.Kata kunci: Mangrove, NDVI, SPOT 4, SPOT 6, Taman Nasional Baluran
Kualitas dan distribusi spasial karakteristik fisika-kimia Sungai Siak di Kota Pekanbaru Luri Anita Vanri; Adriman Adriman; Muhammad Fauzi
Depik Vol 9, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.2.16578

Abstract

Siak River is one of the biggest rivers and the deepest in Riau Province in Indonesia with its 20-30 depth and depth 370 kilometers. The Siak River used for bathing, washing, dumping industrial palm oil, plantation, domestic waste, and port so it has an impact on water quality changing. This study analyzed the water quality and distribution spatial physical and chemical parameters the river around in Pekanbaru city, using Principal Component Analysis (PCA), this study used laboratory in situ and ex situ water quality measurement instruments. Water sampling each station done three times in two weeks during October to November 2019. The results obtained from this study shows the water quality of these 6 stations in the category of bad and the water quality from headwaters to downstream river influenced by organic parameter as a dominant pollutant. The correlation of water quality characteristic was 74.4% main factor 1 (F1) 47.4% and main factor 2 (F2) 26.7% with main characteristics fecal coliform, phosphate, and nitrate. Grouping these characteristics through a dendrogram showed three levels of relationship based on the characteristic parameter. The first group stands for station 1,2, and 4 have higher brightness and Dissolved oxygen (DO) parameters than other stations. The second group stands for stations 3 and 5 that have relatively high in parameter phosphate and nitrate. The third group is station 6 (river estuary) which results in shows high of fecal coliform proportional to pollution. The study can be concluded that three groups heavily contaminated. Each group has different parameters that show influence upland and waters activities.Keywords: Distribution of spatial, The quality of water, Siak River, Physical and Chemical Parameters, PCA ABSTRAKSungai Siak merupakan salah satu sungai terbesar di Provinsi Riau dan terdalam di Indonesia, dengan kedalaman sekitar 20-30 meter dan panjang 300 kilometer. Sungai siak masih dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sarana Mandi Cuci Kakus (MCK), tempat buangan limbah industri kelapa sawit, perkebunan, rumah tangga dan pelabuhan, sehingga berdampak pada perubahan kualitas perairan. Penelitian dilakukan untuk menganalisa kualitas dan distribusi spasial karateristik fisik-kimia perairan Sungai Siak di sekitar Kota Pekanbaru, dengan menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Kajian menggunakan instrument pengukuran kualitas air in situ dan ex situ di laboratorium. Pengambilan sampel air pada masing-masing stasiun dilakukan sebanyak tiga kali setiap dua minggu selama bulan Oktober hingga November 2019. Hasil yang diperoleh dari kajian ini adalah kualitas air di keenam stasiun masuk dalam katagori buruk dan mengalami penurunan kualitas dari hulu ke hilir yang disebabkan bahan organik. Korelasi karakteristik kualitas air sebesar 74,3%, faktor utama 1 (F1)  47,4% dan faktor utama 2 (F2) 26,7% dengan penciri utama fecal coliform, fosfat dan nitrat. Pengelompokan stasiun pada dendogram klarifikasi hierarki menunjukkan adanya tiga tingkat hubungan kekerabatan berdasarkan parameter pencirinya. Kelompok satu terdiri dari stasiun 1, 2 dan 4 memiliki hasil relatif tinggi pada parameter kecerahan dan oksigen terlarut (DO) dibandingkan dengan stasiun lainnya. Kelompok dua terdiri dari stasiun 3 dan 5 memiliki hasil relatif tinggi pada paramter nitrat dan fosfat dibandingkan dengan stasiun lainnya. Kelompok tiga adalah stasiun 6 (muara sungai sail) dengan parameter fecal coliform relatif tinggi yang berbanding lurus dengan tingkat pencemarannya. Berdasarkan hasil kajian dapat disimpulkan bahwa tiga kelompok sama-sama tercemar berat, namun masing-masing kelompok memiliki perbedaan parameter pencirinya yang memperlihatkan pengaruh berbagai aktifitas di darat maupun di perairan itu sendiri.Kata kunci: Distribusi spasial, Kualitas air, Sungai Siak, Parameter fisika dan kimia, PCA
Komunitas Echinodermata di kawasan intertidal Pantai Mandalika Pulau Lombok, Indonesia Imam Bachtiar; I Wayan Merta; Kusmiyati Kusmiyati; AR Syachruddin
Depik Vol 9, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.2.13582

Abstract

Echinoderm community was studied at the Mandalika Beach which is the main habitat of nyale worms in the southern coast of Lombok Island, from July to September 2017. The aim of study was to describe community structure of Echinoderm fauna and population structure of predominant species. Data on species richness and its abundance were collected using transect-quadrate methods. Five transects were laid haphazardly seaward that may represent the whole reef flat with about 200 m length and 100 m wide.  On every 10 meter along the transect length a 5x1 m2 quadrate was made, that overall there were 44 quadrates. The results showed that only eight species of Echinoderms found in the quadrate samples, i.e. sea urchin Echinometra mathaei (Echinoidea), and brittle stars, Ophiocoma scolopendrina, O. echinata, O. erinaceus, Ophiomastix annulosa and Ophioderma sp. (Ophiuroidea). Two other Echinoidea were also found outside the quadrates, i.e. Echinothrix calamaris and Diadema setosum. Simpson diversity index (D) was 1,243, eveness index (E) was 4,023, Shanon-Winner diversity index (H) was 0,430 and equatibility index (J) was 0,267. Sea urchin E. mathaei was the most predominant population (89,38% of total composition) with average abundance 11,87±22,37 individual m2. Brittle star O. scolopendrina come the second predominant population (7,31%) with average abundance 0,86±2,43 individual m2. The other four brittle stars had very low proportion (2%) and low abundance ( 0,20  individual m2). Population stucture showed that these two populations mostly consisted of reproductive members. Ecological interactions of these two predominant Echinoderms should be studied in more detail on interactions among of the Echinoderms and nyale worms. Keywords: Ophiocoma, Echinometra, Nyale, Lombok Tengah, population structure ABSTRAKPenelitian komunitas Echinodermata dilakukan di Pantai Mandalika yang menjadi habitat utama cacing nyale, pada bulan Juli-September 2017. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur komunitas Echinodermata dan struktur populasi spesies yang dominan. Data kekayaan spesies dan kelimpahan diambil dengan metode transek kuadrat. Lima transek diletakkan tersebar ke arah laut pada pantai yang panjangnya sekitar 200 m dan lebar 100 m tersebut. Setiap titik 10 meter pada transek dibuat kuadrat ukuran 5 m2, dengan jumlah kuadrat sampel seluruhnya 44 kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas Echinodermata mempunyai kekayaan spesies yang rendah di Pantai Mandalika. Organisme Echinodermata yang dijumpai hanya 8 (delapan) spesies, yaitu landak laut Echinometra mathaei (Echinoidea), serta lima jenis bintang mengular, Ophiocoma scolopendrina, O. echinata, O. erinaceus, Ophiomastix annulosa dan Ophioderma sp. (Ophiuroidea). Di luar kuadrat tercatat dua jenis landak laut lainnya, yaitu Echinothrix calamaris dan Diadema setosum, dengan kelimpahan yang sangat rendah. Indeks-indeks komunitas pada umumnya rendah. Indeks diversitas Simpson (D) 1,243, indeks keseragaman (E) 4,023, indeks keanekaragaman spesies Shanon-Winner (H) 0,430 dan indeks kesetaraan (J) 0,267. Landak laut E. mathaei sangat dominan (89,38%) dengan kelimpahan rata-rata 11,87±22,37 individu m-2 di dalam komposisi komunitas Echinodermata. Bintang mengular O. scolopendrina menempati urutan dominansi kedua (7,31%) dengan kelimpahan rata-rata 0,86±2,43 individu m-2, sedangkan empat bintang mengular lainnya mempunyai proporsi kurang dari 2% dan kelimpahan rata-rata kurang dari 0,20  individu m-2. Struktur populasi E. mathaei dan O. scolopendrina menunjukkan bahwa sebagian besar anggota populasi mempunyai ukuran reproduktif. Kehadiran hewan Echinodermata tersebut di habitat cacing nyale (Eunicidae, Polychaeta) menuntut penelitian lanjutan tentang peran ekologis dari masing-masing hewan Echinodermata dan interaksinya dengan cacing nyale.Kata kunci: Ophiocoma, Echinometra, Nyale, Lombok Tengah, Struktur populasi
Status dan sebaran mangrove di kawasan konservasi Taman Pulau Kecil, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara Ahmad Muhtadi; Zulham Apandy Harahap; Ahyar Pulungan; Nurmatias Nurmatias; Pardamean Lubis; Zufriwandi Siregar; Rudolf Y. Ompusunggu; Fauzan Aulia
Depik Vol 9, No 2 (2020): August 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.2.15065

Abstract

Mangroves are an important part of determining conservation areas as well as determining zoning within conservation areas. Therefore, information on the status and distribution of mangroves is essential in managing conservation areas. This study was conducted in Taman Pulau Kecil, Central Tapanuli District. The data was collected in June 2019. The sampling sites consisted 26 points (1-15 at the Mursala Island and its surroundings and 16-27 in the Tapian nauli Bay (maindland)). The study revealed 17 mangrove species from 9 families consisted of 14 true mangroves and 3 associated mangroves namely pandan (Pandanus tectorius), waru (Thespesia populnea), and ketapang (Terminalia catappa). Analysis of the importance of mangrove species in Taman Pulau Kecil, Central Tapanuli district showed that Rizophora, Xilocarpus, and Bruguiera have a large influence and role in the mangrove vegetation community. Mangroves in conservation area at Taman Pulau Kecil were in the good category. However, the condition and status of mangroves in Tapian Nauli Bay had better condition with the density of 3.120 ind/ha while in Mursala  Island and its surroundings with density of 2.356 ind/ha.Keywords: Mangrove, Marine Protected area, Mursala Island, Tapian Nauli BayABSTRAKMangrove merupakan salah satu ekosistem penting dalam penentuan kawasan konservasi serta dalam penentuan zonasi di dalam kawasan konservasi. Oleh karena itu, informasi status dan sebaran mangrove penting dalam upaya pengelolaan kawasan konservasi. Lokasi pengambilan data mangrove di kawasan konservasi daerah Taman Pulau Kecil Kabupaten Tapanuli Tengah. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni 2019. Lokasi pengambilan data pada 26 titik pengamatan yang terdiri dari titik 1-15 di Pulau Mursala dan sekitarnya dan titik 16-27 di Teluk Tapaian Nauli (pulau sumatera). Hasil penelitian ditemukan 17 spesies mangrove dari 9 famili. Jenis mangrove tersebut terdiri dari 14 mangrove sejati dan 3 mangrove ikutan yaitu pandan (P. tectorius), waru laut (Thespesia populnea), dan ketapang (Terminalia catappa). Analisis nilai penting jenis mangrove di KKPD Taman Pulau Kecil Tapanuli Tengah menunjukkan bahwa Rizophora, Xilocarpus, dan Bruguiera memiliki pengaruh dan peran yang besar dalam komunitas vegetasi mangrove. Mangrove di KKPD Taman Pulau Kecil Tapanuli Tengah termasuk kategori baik. Namun kondisi dan status mangrove di Teluk Tapian Nauli lebih baik dengan kerapatan rata-rata 3,120 ind/ha dibanding di Pulau Mursala dan sekitarnya dengan kerapatan rata-rata 2,356 ind/ha.Kata kunci: Mangrove, Kawasan konservasi perairan, Pulau Mursala, Teluk Tapian Nauli

Page 1 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2020 2020