cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
JL Pramuka no 27 Kemiling Bandar Lampung, Kode Pos 35152
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal akan terbit 8 kali dalam satu tahun (Maret, April, Juni, Juli, September, Oktober, Desember, dan Januari). Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 106 Documents
Hubungan pemenuhan social needs dengan perilaku pacaran berisiko pada remaja Widya Utami; Dedah Ningrum; Reni Nuryani
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 3 (2024): Volume 18 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i3.303

Abstract

Background: The dating style of today's adolescents shows risky behavior that is not appropriate for their age, such as behavior that leads to premarital sex. The process of sexual interaction in adolescents is described in five phases which include touching, courtship without kissing, kissing, touching sensitive body parts (such as breasts and genitals), and sexual intercourse. Basic social needs are a very important variable in motivating behavior. Purpose: To determine the relationship between fulfilling social needs and risky dating behavior in adolescents. Method: The study used a quantitative descriptive method with a total sampling of 107 respondents. The measuring instrument in this study used a social needs questionnaire and a premarital sexual behavior questionnaire. This study uses a descriptive statistical analysis test and the correlational coefficient Spearman's rho (Sig = <0.05). Results: On average, adolescent’s social needs are met at 69.2% and adolescents dating behavior is at a low risk level at 69.2%. This research shows that there is a significant relationship between the two variables with a significance value of 0.001 (<0.05) and a correlation coefficient of -0.323, meaning that the level of strength of the relationship between the two variables reflects a fairly strong relationship in a negative direction (not in the same direction), which means that if If the value of fulfilling social needs decreases, the value of risky dating behavior will increase. Conclusion: There is a fairly strong negative relationship between fulfilling social needs and risky dating behavior in adolescents. Suggestion: Collaboration between nursing students, schools, parents, health workers and the community to conduct research or sexual health education programs that focus on building healthy interpersonal relationships and managing the risks of premarital sexual behavior in adolescents is important to prevent the emergence of disease from risky dating behavior.   Keywords: Adolescents; Risky Dating Behavior; Social Needs.   Pendahuluan: Gaya berpacaran pada remaja saat ini menunjukan perilaku berisiko yang tidak sesuai dengan usianya seperti perilaku yang mengarah kepada hubungan seks pra-nikah. Proses interaksi seksual pada remaja diuraikan menjadi lima fase yang meliputi, menyentuh, berpacaran tanpa kegiatan berciuman, melakukan ciuman, melakukan sentuhan pada bagian tubuh sensitif (seperti payudara hingga kelamin), dan berhubungan intim seksual. Kebutuhan dasar social needs merupakan variabel yang sangat penting dalam memotivasi perilaku. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pemenuhan social needs dengan perilaku pacaran berisiko pada remaja. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan total sampling sebanyak 107 responden. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan kuesioner social needs dan kuesioner perilaku seksual pra-nikah. Penelitian ini menggunakan uji analisis statistic deskriptif dan Correlational Coefficient Spearman’s rho (Sig = <0.05). Hasil: Rata-rata kebutuhan social needs remaja cukup terpenuhi sebanyak 69.2% dan perilaku pacaran remaja rata-rata pada tingkat risiko rendah sebanyak 69.2%. Penelitian ini menunjukan terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel dengan nilai signifikansi sebesar 0.001 (<0.05) dan koefisien korelasi -0.323, berarti tingkat kekuatan keterkaitan antara kedua variabel tersebut mencerminkan relasi yang cukup kuat dengan arah hubungan negatif (tidak searah) yang artinya, jika nilai pemenuhan social needs menurun maka nilai perilaku pacaran berisiko akan semakin meningkat. Simpulan: Terdapat hubungan negatif yang cukup kuat antara pemenuhan social needs dengan perilaku pacaran berisiko pada remaja. Saran: Kerjasama antara mahasiswa keperawatan, sekolah, orang tua, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk melakukan penelitian atau program pendidikan kesehatan seksual yang berfokus pada pembangunan hubungan interpersonal yang sehat dan pengelolaan risiko perilaku seksual pra-nikah pada remaja penting untuk mencegah timbulnya perilaku pacaran berisiko.   Kata Kunci: Remaja; Perilaku Pacaran Berisiko; Social Needs.
Hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku perawatan kesehatan gigi dan mulut pada anak SD di Lab School UNAI Leticia Fransisca Silitonga; Debilly Yuan Boyoh
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 2 (2024): Volume 18 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i2.312

Abstract

Background: The dental and oral health of children in Indonesia is very worrying and needs serious attention from health workers. People often ignore dental and oral health, even though dental and oral health is the beginning of the entry of bacteria and germs that can disrupt other body organs. Maintaining healthy oral and dental health in children is very important to prevent dental disease. Purpose: To determine the relationship between knowledge and oral health care behavior. Method: This type of quantitative research uses a correlational descriptive design with a cross sectional study method. This research was carried out on December 7 2023 involving students in grades 5-6 at the UNAI Lab School. The sampling technique used total sampling with a sample size of 35 students. The dependent variable in this study is dental and oral care behavior, while the independent variable is the level of students' knowledge about dental and oral care. The analysis used was univariate and bivariate. The statistical test used is the chi square test. Results: Knowledge about dental and oral health care in children is in the good category, with an average of 90.88, while behavior regarding dental and oral health care is in the adequate category at 57.1%. There is no significant relationship between knowledge and oral health care behavior because the p-value obtained is 0.267. Conclusion: Having extensive knowledge does not mean having good behavior. This can be influenced by several factors, one of which is personal experience. Personal experiences influence daily habits which can influence their attitudes and perceptions of social stimuli. Apart from that, it also influences everyone's consciousness. If high awareness and a positive attitude will result in good behavior, and vice versa. Suggestion: For schools to make dental health education programs more attractive by providing health education, so that students' behavior and knowledge become better and of better quality. Future researchers should use samples and provide interventions in the form of health education after collecting data so that the research can further increase awareness and encouragement to children.   Keywords: Behavior; Dental and Oral Health; Knowledge.   Pendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut anak di Indonesia sangat memprihatinkan dan perlu mendapatkan perhatian yang serius dari tenaga kesehatan. Orang sering mengabaikan kesehatan gigi dan mulut, padahal kesehatan gigi dan mulut itu merupakan awal masuknya bakteri dan kuman yang dapat mengganggu organ tubuh lainnya. Menjaga kesehatan gigi dan mulut yang sah pada anak sangat penting untuk mencegah penyakit gigi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan terhadap perilaku perawatan kesehatan gigi dan mulut. Metode: Jenis penelitian kuantitatif menggunakan desain deskriptif korelasional dengan metode studi cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan pada 7 Desember 2023 yang melibatkan siswa kelas 5-6 di Lab School UNAI. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 35 siswa. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah perilaku perawatan gigi dan mulut, sedangkan variabel independen adalah tingkat pengetahuan siswa tentang perawatan gigi dan mulut. Analisis yang digunakan univariat dan bivariat. Uji statistik yang digunakan yaitu uji chi Square. Hasil: Pengetahuan tentang perawatan kesehatan gigi dan mulut pada anak-anak dalam kategori baik, dengan rata-rata 90.88, sedangkan perilaku tentang perawatan kesehatan gigi dan mulut termasuk ke dalam kategori cukup sebesar 57.1%. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan perilaku perawatan kesehatan gigi dan mulut karena  p-value yang didapat sebesar 0.267. Simpulan: Memiliki pengetahuan yang luas belum berarti berperilaku baik. Hal Ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya pengalaman pribadi. Pengalaman pribadi mempengaruhi kebiasaan sehari-hari yang dapat mempengaruhi sikap dan persepsi mereka terhadap rangsangan sosial. Selain itu, juga berpengaruh pada kesadaran setiap orang. Jika kesadaran tinggi dan sikap yang positif akan menghasilkan perilaku yang baik, begitupun sebaliknya. Saran: Kepada pihak sekolah agar menjadikan program pendidikan kesehatan gigi menjadi lebih menarik dengan memberikan penyuluhan kesehatan, sehingga perilaku dan pengetahuan siswa menjadi lebih baik dan berkualitas. Peneliti selanjutnya agar menggunakan sampel dan memberikan intervensi berupa pendidikan kesehatan setelah mengambil data agar penelitian tersebut lebih meningkatkan kesadaran dan dorongan kepada anak.   Kata kunci: Kesehatan Gigi dan Mulut; Pengetahuan; Perilaku.
Analisis faktor pembangun self efficacy pada penderita hipertensi dalam melaksanakan kepatuhan minum obat Inayah Sri Wulandari; Akhmad Faozi; Iis Aisyah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 3 (2024): Volume 18 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i3.332

Abstract

Background: Hypertension can be a dangerous condition if it is not controlled, especially if it lasts for a long time because it can cause complications such as stroke, heart disease and other health problems. In an effort to prevent this, hypertension sufferers need to regularly take antihypertensive medication. A person's compliance with taking medication is determined by self-efficacy or belief in the success of treatment. This is because self-efficacy can influence changes in individual behavior, especially hypertension sufferers, in terms of compliance with taking medication. Purpose: To analyze the relationship between self-efficacy building factors and medication adherence in hypertension sufferers. Method: This type of quantitative research uses an analytical survey design through a cross-sectional approach. Respondents in this study were 68 people who were selected using stratified random sampling techniques. The instruments in this research were the self-efficacy building factor questionnaire and the Morisky medication adherence scale questionnaire (MMAS-8). Data analysis used the Spearman's rho statistical test. Results: The correlation between self-experience (performance achievement) and compliance with taking medication was 0.007 (p<0.05), observation of others (vicarious experience) with compliance with taking medication <0.001 (p<0.05), verbal persuasion and compliance with taking medication was 0.004 (p<0.05), and physiological conditions (physiological information) with medication adherence of 0.104 (p>0.05). Conclusion: There is a positive relationship between own experience (performance achievement), observation of others (vicarious experience), and verbal persuasion with medication adherence in hypertensive patients. Meanwhile, there is no relationship between physiological conditions (physiological information) and compliance with taking medication.   Keywords: Drug Compliance; Hypertension; Self-Efficacy; Sources of Self-Efficacy.   Pendahuluan: Hipertensi dapat menjadi kondisi yang berbahaya jika tidak terkontrol, terutama jika berlangsung dalam jangka waktu yang panjang karena dapat menyebabkan timbulnya komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, dan masalah kesehatan lainnya. Dalam upaya mencegahnya, penderita hipertensi perlu mengonsumsi obat anti hipertensi secara rutin. Kepatuhan minum obat seseorang ditentukan oleh self efficacy atau keyakinan dirinya akan keberhasilan pengobatan. Hal ini karena self efficacy dapat memengaruhi perubahan perilaku individu terutama penderita hipertensi dalam hal kepatuhan minum obat. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan antara faktor pembangun self efficacy terhadap kepatuhan minum obat pada penderita hipertensi. Metode: Jenis penelitian kuantitatif menggunakan desain survei analitik melalui pendekatan cross sectional. Responden dalam penelitian ini sebanyak 68 orang yang dipilih melalui teknik pengambilan sampel stratified random sampling. Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar kuesioner faktor pembangun self efficacy dan kuesioner morisky medication adherence scale (MMAS-8), analisis data menggunakan uji statistik Spearman’s rho. Hasil: Korelasi antara pengalaman diri (performance accomplishment) dengan kepatuhan minum obat sebesar 0.007 (p<0.05), pengamatan terhadap orang lain (vicarious experience) dengan kepatuhan minum obat sebesar <.001 (p<0.05), persuasi verbal (verbal persuasion) dengan kepatuhan minum obat sebesar 0.004 (p<0.05), dan kondisi fisiologis (physiological information) dengan kepatuhan minum obat sebesar 0.104 (p≥0.05). Simpulan: Terdapat hubungan yang positif antara pengalaman diri sendiri (performance accomplishment), pengamatan terhadap orang lain (vicarious experience), dan persuasi verbal (verbal persuasion) dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi. Sedangkan, untuk kondisi fisiologis (physiological information) dengan kepatuhan minum obat ditemukan tidak terdapat hubungan.   Kata Kunci: Efikasi Diri; Hipertensi; Kepatuhan Minum Obat; Sumber Efikasi Diri.
Korelasi antara konformitas dengan cyberslacking pada mahasiswa Nurandini, Hesti; Nuryani, Reni; Lindasari, Sri Wulan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 3 (2024): Volume 18 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i3.336

Abstract

Background: Cyberslacking is a deviant behavior that is often carried out by students regarding internet use during lectures. Internet access is used for things that have nothing to do with academics. Conformity as a form of social influence is thought to have a relationship with cyberslacking which can make individuals tend to change their attitudes, behavior and beliefs to adapt to existing norms. Purpose: To determine the relationship between conformity and cyberslacking in students. Method: Quantitative research with correlational design. Proportional stratified random sampling technique was used to take a research sample of 346 students. Data collection was carried out using a conformity scale with a reliability value of 0.764 and a cyberslacking questionnaire with a reliability value of 0.901. The correlation analysis used is Spearman's rho. Results: The level of conformity and cyberslacking of respondents was mostly in the medium category with the respective percentages being (70.8%) and (82.7%). The results of the Spearman's rho correlation test obtained a p-value of 0.003, which shows that there is a significant relationship between conformity and cyberslacking. Conclusion: There is a positive and significant relationship between conformity and cyberslacking. Increased conformity will be followed by increased cyberslacking, and vice versa. Suggestion: Future researchers can analyze the factors that strengthen the relationship between conformity and cyberslacking in students.   Keywords: Conformity; Cyberslacking; Student.   Pendahuluan: Cyberslacking merupakan suatu perilaku menyimpang yang sering dilakukan oleh mahasiswa terkait penggunaan internet selama perkuliahan berlangsung. Akses internet tersebut digunakan untuk hal yang tidak ada kaitannya dengan akademik. Konformitas sebagai bentuk pengaruh sosial diprediksi memiliki hubungan dengan cyberslacking yang dapat membuat individu cenderung mengubah sikap, perilaku maupun keyakinannya untuk menyesuaikan diri dengan norma yang ada. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara konformitas dengan cyberslacking pada mahasiswa. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain korelasional. Teknik proportionated stratified random sampling digunakan untuk mengambil sampel penelitian yang berjumlah 346 mahasiswa. Data dikumpulkan menggunakan conformity scale dengan nilai reliabilitas sebesar 0.764 dan kuesioner cyberslacking dengan nilai reliabilitas sebesar 0.901. Analisis korelasi yang digunakan adalah Spearman’s rho. Hasil: Tingkat konformitas dan cyberslacking responden sebagian besar berada pada kategori sedang dengan masing-masing persentase, yaitu (70.8%) dan (82.7%). Hasil uji korelasi Spearman’s rho diperoleh p-value sebesar 0.003 yang menunjukkan hubungan signifikan antara konformitas dengan cyberslacking. Simpulan:Terdapat hubungan positif dan signifikan antara konformitas dengan cyberslacking. Peningkatan konformitas akan diikuti dengan peningkatan cyberslacking, begitu pun sebaliknya. Saran: Peneliti selanjutnya dapat menganalisis faktor-faktor yang memperkuat hubungan antara konformitas dengan cyberslacking pada mahasiswa.   Kata Kunci: Cyberslacking; Konformitas; Mahasiswa.
Penanganan stunting melalui peningkatan pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap sanitasi lingkungan Abu, Nur; Yasin, Azalia Fajri; Ayuningtias, Annisa
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 4 (2024): Volume 18 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i4.339

Abstract

Background: National stunting prevalence fell by 3.3% from 27.7% in 2019 to 24.4% in 2021. However, the reduction in stunting in the Papua and West Papua regions increased from 2019 to 2021 by 29.4%. Based on the Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI), the city of Sorong experienced an increase of 27.2% from 2021-2022. Purpose: To know of the influence of knowledge, attitudes and environmental sanitation on the incidence of stunting. Method: Quantitative design research, the sample was randomly selected from the local community as many as 85 respondents. The variables in this research are knowledge, attitudes and environmental sanitation. Bivariate analysis uses the chi-square test to see the influence and relationship between knowledge, attitudes and environmental sanitation. Results: A p-value of 0.005 indicates a relationship between attitudes towards stunting and environmental sanitation. The p-value of 0.190 shows that there is no dominant relationship between knowledge of stunting and environmental sanitation. Furthermore, the p-value of 0.027 shows that there is a relationship between knowledge and attitudes towards stunting. Conclusion: Knowledge and attitudes have a dominant influence on the incidence of stunting compared to environmental sanitation.   Keywords: Attitude; Knowledge; Sanitation; Stunting.   Pendahuluan: Prevalensi stunting secara nasional turun sebanyak 3.3% dari 27.7% tahun 2019 menjadi 24.4%  pada tahun 2021. Namun penurunan stunting di wilayah Papua dan Papua Barat mengalami peningkatan dari tahun 2019 sampai 2021 sebesar 29.4%. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), kota Sorong mengalami peningkatan sebesar 27.2% dari tahun 2021-2022. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pengetahuan, sikap, dan sanitasi lingkungan terhadap kejadian stunting. Metode: Desain penelitian kuantitatif, sampel dipilih secara acak kepada masyarakat setempat sebanyak 85 responden. Variabel pada penelitian ini adalah pengetahuan, sikap, dan sanitasi lingkungan. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square untuk melihat pengaruh dan hubungan antara pengetahuan, sikap, dan sanitasi lingkungan. Hasil: P-value sebesar 0.005 menunjukkan adanya hubungan antara sikap terhadap stunting dan sanitasi lingkungan. Hasil p-value sebesar 0.190 menunjukkan tidak ada hubungan yang dominan antara pengetahuan terhadap stunting dan sanitasi lingkungan. Selanjutnya hasil p-value sebesar 0.027 menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan dan sikap terhadap stunting. Simpulan: Pengetahuan dan sikap mempunyai pengaruh yang dominan terhadap kejadian stunting dibandingkan dengan sanitasi lingkungan.   Kata Kunci: Pengetahuan; Sanitasi; Sikap; Stunting.
Strategi pendidikan kesehatan dan penurunan stigma TB di masyarakat: A systematic review Anggraini Marissa; Etty Rekawati; Astuti Nursasi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 3 (2024): Volume 18 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i3.344

Abstract

Background: Tuberculosis stigma is a challenge in TB management for health care in the community. According to previous research, health education can significantly improve knowledge about TB and reduce public stigma against it. Purpose: To identify how interventions can improve public knowledge about tuberculosis and decrease the stigma people have about TB. Method: Systematic review academic articles were searched through online databases from 2018 to 2022, and 6 articles were obtained for analysis. Results: Health education was provided to the community with a variety of approaches, including structured education, empowerment of the community, support and motivation from the community cadres, a gender approach, and workshop/compliance for service provider agency officials. Conclusion: The provision of structured health education and the approach characterized by local communities proved effective in increasing knowledge about TB and reducing the growing stigma in the community towards TB patients.   Keywords: Health Education; Social Stigma; Tuberculosis (TB).   Pendahuluan: Stigma terhadap TB adalah tantangan dalam pengelolaan TB bagi tenaga kesehatan di masyarakat. Dari penelitian terdahulu, secara signifikan pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan mengenai TB dan menurunkan stigma masyarakat terhadap TB. Tujuan: Untuk mengidentifikasi intervensi yang dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai TB dan menurunkan stigma TB. Metode: Systematic review menggunakan penelusuran artikel akademik melalui online database dari tahun 2018-2022 dan didapatkan 6 artikel untuk dianalisis. Hasil: Pendidikan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat dengan berbagai strategi pendekatan antara lain,  edukasi terstruktur, pemberdayaan masyarakat, dukungan dan motivasi dari kader masyarakat, pendekatan gender, dan pelatihan bagi petugas instansi pemberi layanan.  Simpulan: Pemberian pendidikan kesehatan terstruktur dan pendekatan sesuai dengan kondisi masyarakat setempat terbukti efektif dalam peningkatan pengetahuan mengenai TB dan menurunkan stigma yang berkembang di masyarakat terhadap penderita TB.   Kata Kunci: Pendidikan Kesehatan; Stigma Masyarakat; Tuberkulosis (TB).
Hubungan pengetahuan dan sikap ibu tentang stunting dengan pemberian MP-ASI pada anak usia 12-24 bulan Pratiwi, Rita Dwi; Sari, Diah Ellyana; Darmayanti, Desy; Romlah, Siti Novy
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 4 (2024): Volume 18 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i4.346

Abstract

Background: Stunting is a linear growth disorder in children caused by a lack of nutritional intake over a long period of time, characterized by the child's length or height being shorter than his age. Stunting can occur in the womb, where the process of stunting coincides with obstacles to the growth and development of other vital organs. The mother's attitude and knowledge determine parenting patterns that shape behavior in providing MP-ASI to children, which greatly influences the incidence of stunting. Purpose: To analyze the relationship between knowledge and attitudes of mothers about stunting with the provision of complementary foods to children aged 12-24 months. Method: Quantitative research with a descriptive analytical design using primary data (questionnaires) with a cross-sectional approach. The total sample was 50 respondents. The research instrument uses a questionnaire to measure knowledge, attitudes, and provision of MP-ASI which has been tested for validity and reliability. Results: A total of 50 respondents, the majority aged 20-25 years were 22 respondents (44%) with the highest level of education at vocational school level, namely 30 respondents (60%). The level of knowledge of mothers about stunting was mostly in the good category, namely 23 mothers (46.0%). The majority of mothers' attitudes regarding stunting were in the good category, namely 19 mothers (38%) and mothers who were given complementary foods for breast milk were also in the good category, namely 21 mothers (42%). The chi square test on the level of knowledge and attitudes of mothers regarding stunting and giving complementary breast milk shows a p-value of 0.000 or smaller than α=0.05, so there is a relationship between knowledge and attitudes of mothers towards giving complementary breast milk to children. Conclusion: There is a significant relationship between knowledge variables and attitude variables with the provision of complementary foods. Suggestion: It is hoped that it can become material for evaluating community health centers, increase knowledge and insight about stunting and providing complementary foods to children aged 12-24 months, and can become a reference for future researchers.   Keywords: Attitudes; Complementary Food; Knowledge; Stunting.   Pendahuluan: Stunting adalah gangguan pertumbuhan linier pada anak yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu lama, ditandai dengan panjang atau tinggi badan anak lebih pendek dari usianya. Stunting dapat terjadi sejak dalam kandungan, dimana proses terjadinya stunting bersamaan dengan hambatan pertumbuhan dan perkembangan organ-organ vital lainnya. Sikap dan pengetahuan ibu menentukan pola asuh yang membentuk perilaku dalam pemberian MP-ASI pada anak, yang sangat berpengaruh pada kejadian stunting. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap ibu tentang stunting dengan pemberian MP-ASI pada anak usia 12-24 bulan. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif analitik menggunakan data primer (kuesioner) dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 50 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner untuk mengukur pengetahuan, sikap, pemberian MP-ASI yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil: Sebanyak 50 responden, mayoritas berusia 20-25 tahun sebanyak 22 responden (44%) dengan tingkat pendidikan terbanyak pada jenjang SMK yaitu 30 responden (60%). Tingkat pengetahuan ibu tentang stunting sebagian besar dalam kategori baik yaitu sebanyak 23 ibu (46.0%). Sikap ibu tentang stunting sebagian besar dalam kategori baik yaitu sebanyak 19 ibu (38%) dan ibu dengan pemberian MP-ASI juga dalam kategori baik berjumlah 21 ibu (42%). Uji chi square terhadap tingkat pengetahuan dan sikap ibu tentang stunting dengan pemberian MP-ASI menunjukkan p-value 0.000 atau lebih kecil dari α=0.05, sehingga terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu terhadap pemberian MP-ASI pada anak. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara variabel pengetahuan dan variabel sikap dengan pemberian MP-ASI. Saran: Diharapkan bisa menjadi bahan evaluasi puskesmas, penambah pengetahuan, dan wawasan tentang stunting dan pemberian MP-ASI pada anak usia 12-24 bulan, serta dapat menjadi acuan bagi peneliti selanjutnya.   Kata Kunci: Pemberian MP-ASI; Pengetahuan; Sikap; Stunting.
The effect of bioenergy therapies on blood pressure and anxiety levels: A systematic review Agus Setiawan; Tuti Herawati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 3 (2024): Volume 18 Nomor 3
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i3.350

Abstract

Background: Hypertension cases globally reach 22% of the world's total population, and are estimated to continue to increase every year. The impact of hypertension can cause complications of other heart diseases. Management techniques that can be used to overcome this with complementary therapy are energy-based or bioenergy therapy. Although several studies have used energy therapy, there has been no systematic examination of the effect of energy therapy on changes in blood pressure and anxiety. Purpose: To identify the bioenergetics actions that most influence changes in blood pressure, pulse rate and anxiety. Method: Systematic review research using PRISMA, PICO flow diagram, and searching for English language articles published in 2013 -2023. The databases used are PubMed, Scopus, Science Direct, Taylor & Francis. This research uses tools for the data selection process to extraction and CASP instruments to evaluate articles. Results: All articles used a randomized controlled trial design. The number of samples used ranged from 42-150 people from Asian and American ethnicity. Three articles about healing touch and Reiki can lower systolic, diastolic blood pressure and anxiety. Meanwhile, in one of the articles, Reiki is able to reduce systolic and diastolic blood pressure. One article healing touch affects anxiety. Both healing touch and Reiki articles had no effect on reducing systolic, diastolic blood pressure or anxiety. All research has medium and high method quality and meets the quality assessment components. Of the seven articles studied, there were differences in the influence on changes in blood pressure and anxiety. Conclusion: Bioenergy therapy can reduce blood pressure and anxiety.   Keywords: Anxiety; Bioenergy; Blood pressure; Complementary Therapies; Hypertension.   Pendahuluan: Kasus hipertensi secara global sebesar 22% dari total populasi dunia, diperkirakan setiap tahunnya meningkat. Dampak dari hipertensi dapat menyebabkan komplikasi penyakit jantung lainnya. Teknik manajemen yang dapat digunakan dalam mengatasinya dengan terapi komplementer yaitu terapi berbasis energi atau bioenergi. Meskipun beberapa penelitian banyak menggunakan terapi energi, namun belum ditemukan sistematis yang meneliti terapi energi yang berpengaruh terhadap perubahan tekanan darah dan anxiety. Tujuan: Untuk mengidentifikasi tindakan bioenergi yang paling berpengaruh terhadap perubahan tekanan darah, nadi, dan anxiety. Metode: Penelitian sistematik review menggunakan diagram alur PRISMA, PICO, dan mencari artikel bahasa Inggris yang diterbitkan dari tahun 2013 -2023.  Database yang digunakan adalah PubMed, Scopus, Science Direct, Taylor & Francis. Penelitian menggunakan tool covidence untuk proses seleksi data sampai ekstraksi dan instrumen CASP dalam mengevaluasi artikel. Hasil: Semua artikel menggunakan desain randomized controlled trials, Jumlah sampel yang digunakan berkisaran 42--150 orang dari etnik Asia dan Amerika. Tiga artikel healing touch dan Reiki dapat menurunkan tekanan darah sistolik, diastolic, dan anxiety. Sedangkan satu artikel Reiki dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik. Satu artikel healing touch memengaruhi anxiety. Dua artikel healing touch dan Reiki tidak memiliki pengaruh terhadap penurunan tekanan darah sistolik, diastolic, maupun anxiety. Seluruh penelitian memiliki kualitas metode sedang dan tinggi serta memenuhi komponen penilaian kualitas. Dari ketujuh artikel yang diteliti terdapat perbedaan pengaruh terhadap perubahan tekanan darah dan anxiety. Simpulan: Terapi energi bioenergi dapat memengaruhi penurunan tekanan darah dan anxiety.   Kata Kunci: Anxiety; Bioenergi; Hipertensi; Tekanan Darah; Terapi Komplementer.
A case report of preoperative care of management protocol for craniotomy after digital subtraction angiography (DSA) Susanto, Dibyo Harjo; Kariasa, I Made
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 4 (2024): Volume 18 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i4.396

Abstract

Background: A brain tumor is an unnatural or abnormal mass growth of brain tissue that develops uncontrollably. Petroclival meningioma represents a serious challenge in neurosurgical cases. Surgical procedures or tumor removal via craniotomy have a significant risk of the patient's post-operative condition which will affect the patient's quality of life in the future, so holistic and comprehensive nursing care is needed. Purpose: To analyze cases of brain tumors in patients with petroclival meningioma after digital subtraction angiography (DSA) was performed in preparation for tumor removal via craniotomy. Method: Case study involving respondents through a nursing care analysis approach using the Roy adaptation model. The patient was a 51-year-old woman who underwent a digital subtraction angiography (DSA) procedure in preparation for surgical craniotomy to remove the tumor. Results: The main needs found from the nursing assessment process were sensation (chronic pain), neurological (risk of ineffective perfusion of brain tissue), activity or mobility (barriers to physical mobility), protection (risk of injury or falls), and personal. protection. concept (anxiety). Providing appropriate nursing care can help patients prepare for surgery, speed up the post-operative recovery process, and help patients adapt to post-operative conditions with the aim of shortening the treatment period and improving the quality of life of post-operative patients. Conclusion: Nursing care using the Roy adaptation model approach is quite useful in handling petroclival meningioma cases because it focuses on the patient's ability to adapt to the condition of the disease. Suggestion: Future researchers need to apply nursing care using the Roy adaptation model approach which is supported by the development of nursing interventions for petroclival meningioma patients through the application of evidence based nursing (EBN), so that it will further improve the quality of nursing services.   Keywords: Roy Adaptation; Nursing care; Petroclival Meningioma; Craniotomy.   Pendahuluan: Tumor otak merupakan pertumbuhan massa jaringan otak yang tidak wajar atau abnormal dan berkembang secara tidak terkontrol. Meningioma petroclival menjadi salah satu tantangan berat pada kasus bedah saraf. Tindakan pembedahan atau craniotomy removal tumor memiliki risiko yang cukup besar terhadap kondisi pasien pasca tindakan pembedahan yang akan memengaruhi kualitas hidup pasien ke depannya, sehingga diperlukan asuhan keperawatan yang holistik dan komprehensif.   Tujuan: Untuk menganalisis kasus tumor otak pada pasien meningioma petroclival pasca tindakan digital subtraction angiography (DSA) dalam persiapan craniotomy removal tumor. Metode: Studi kasus yang melibatkan seorang responden melalui pendekatan analisis asuhan keperawatan menggunakan model adaptasi Roy. Pasien berjenis kelamin perempuan berusia 51 tahun pasca tindakan digital subtraction angiography (DSA) untuk persiapan operasi craniotomy removal tumor. Hasil: Kebutuhan utama yang ditemukan dari proses pengkajian keperawatan adalah sensasi (nyeri kronik), neurologis (risiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral), aktivitas atau mobilitas (hambatan mobilitas fisik), perlindungan (risiko cedera atau jatuh), dan konsep diri (ansietas). Pemberian asuhan keperawatan yang tepat dapat membantu pasien mempersiapkan dalam menghadapi tindakan operasi atau pembedahan, mempercepat proses pemulihan pasca pembedahan, dan membantu proses adaptasi pasien terhadap kondisi pasca pembedahan dengan tujuan dapat mempersingkat masa perawatan dan meningkatkan kualitas hidup pasien pasca tindakan pembedahan. Simpulan: Asuhan keperawatan dengan pendekatan model adaptasi Roy cukup bermanfaat dalam penanganan kasus meningioma petroclival karena berfokus pada kemampuan pasien untuk beradaptasi terhadap kondisi penyakitnya. Saran: Bagi peneliti selanjutnya, perlu adanya penerapan asuhan keperawatan dengan pendekatan model adaptasi Roy yang didukung dengan pengembangan intervensi keperawatan pada pasien meningioma petroclival melalui penerapan evidence based nursing (EBN), sehingga akan semakin meningkatkan kualitas asuhan keperawatan.   Kata Kunci: Adaptasi Roy; Asuhan Keperawatan; Meningioma Petroclival; Kraniotomi.
Risiko psikososial pada tenaga kesehatan di rumah sakit: A literature review Rahmila, Septa; Denny, Hanifa Maher; Dewi, Endah Kumala
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 4 (2024): Volume 18 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i4.408

Abstract

Background: Medical personnel who are at the forefront of treating patients generally work optimally and without stopping. The unlimited number of overtime hours and the condition of health workers having to be on standby when needed as well as the erratic workload result in psychosocial risks for health workers. Purpose: To determine the psychosocial risks that occur among health workers in hospital. Method: Systematic literature review research uses the Population, Intervention, Comparison, Outcomes, Context (PICOC) approach. Literature search with the keywords "psychosocial AND health workforce AND psychosocial risk". Identifying 1.006 articles were then filtered according to the topic of discussion to obtain 11 articles related to psychosocial risks to health workers in hospitals. Results: Based on the 11 articles studied, it shows that an ethical culture and low appreciation, monotonous work routines, and transparency of the managerial structure implemented by leaders are factors in increasing self-motivation. The lower the ethical culture, the lower the level of motivation of medical personnel. High emotional pressure with a continuous work system will cause symptoms of depression, resulting in mental damage to health workers. Conclusion: Psychosocial risks that occur in health workers in hospitals include an ethical culture and low rewards, high emotional demands, mental damage, low job control, organizational change management, monotonous work routines, family conflicts, socio-economic status, and risk medical personnel are infected. Suggestion: There needs to be a high ethical culture to build the motivation of health workers to be enthusiastic in serving patients and adjust rewards to work results.   Keywords: Health Worker; Hospital; Psychosocial.   Pendahuluan: Pekerja medis yang menjadi garda terdepan dalam menangani pasien, umumnya bekerja secara maksimal dan tanpa henti. Jumlah lembur yang tidak terbatas dan kondisi tenaga kesehatan yang harus siap siaga apabila diperlukan serta jumlah beban kerja yang tidak menentu mengakibatkan terdapatnya risiko psikososial pada pekerja medis. Tujuan: Untuk mengetahui risiko psikososial yang terjadi pada tenaga kesehatan di lingkup rumah sakit. Metode: Penelitian sistematik literature review menggunakan pendekatan Population, Intervention, Comparison, Outcomes, Context (PICOC). Penelusuran literatur dengan kata kunci “psikososial AND tenaga kerja kesehatan AND risiko psikososial”. Mengidentifikasi 1.006 artikel selanjutnya dilakukan penyaringan yang sesuai dengan topik bahasan mendapatkan sebanyak 11 artikel yang terkait mengenai risiko psikososial pada tenaga kesehatan di rumah sakit. Hasil: Berdasarkan 11 artikel yang dikaji menunjukkan bahwa, budaya etis dan imbalan yang rendah, rutinitas pekerjaan yang monoton, dan transparansi struktur manajerial oleh pimpinan adalah faktor dalam peningkatan motivasi diri. Semakin rendah budaya etis yang terjadi, maka semakin rendah tingkat motivasi tenaga medis. Tekanan emosional yang tinggi dengan sistem kerja yang terus menerus akan menimbulkan gejala depresi, sehingga mengakibatkan adanya kejadian kerusakan mental pada pekerja kesehatan. Simpulan: Risiko psikososial yang terjadi pada tenaga kesehatan di rumah sakit yang meliputi budaya etis dan imbalan yang rendah, tuntutan emosional yang tinggi, kerusakan mental, kontrol pekerjaan yang rendah, manajemen perubahan organisasi, rutinitas kerja yang monoton, konflik keluarga, status sosial ekonomi, dan risiko tenaga medis terinfeksi. Saran: Perlu adanya budaya etis yang tinggi untuk membangun motivasi tenaga kesehatan agar semangat dalam melayani pasien dan penyesuaian reward terhadap hasil kerja.   Kata Kunci: Psikososial; Rumah Sakit; Tenaga Kesehatan.

Page 6 of 11 | Total Record : 106