cover
Contact Name
Teguh Pribadi
Contact Email
teguh@malahayati.ac.id
Phone
+6282282204653
Journal Mail Official
holistik@malahayati.ac.id
Editorial Address
JL Pramuka no 27 Kemiling Bandar Lampung, Kode Pos 35152
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Holistik Jurnal Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 19783337     EISSN : 26207478     DOI : 10.33024
Core Subject : Health,
Berisi kumpulan karya ilmiah dari peneliti diberbagai perguruan tinggi di Indonesia, di bidang ilmu kesehatan khususnya bidang ilmu keperawatan yang berdasarkan kepada kebutuhan pasien secara total meliputi: kebutuhan fisik, emosi, sosial, ekonomi dan spiritual. Adapun penelitiannya mencakup 4 aspek pokok, yakni: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Jurnal akan terbit 8 kali dalam satu tahun (Maret, April, Juni, Juli, September, Oktober, Desember, dan Januari). Artikel ditulis dalam bahasa Indonesia, untuk abstrak artikel ditulis dengan dua bahasa yaitu bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Articles 106 Documents
Olahan ikan sungai dalam pemenuhan gizi pada pekerja di perusahaan x hulu migas: A literature review Muhammad Dwi Hidayatullah; Anita Rahmiwati; Novrikasari Novrikasari; Nur Alam Fajar
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 1 (2024): Volume 18 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i1.253

Abstract

Background: Workers have nutritional adequacy rates that must be met and differ for each individual because it depends on body condition and workload. Upstream oil and gas workers have a heavy workload and are at risk of exposure to very dangerous chemicals in the long term, so workers must also pay attention to the food they eat to maintain balanced nutrition and maximize health. Purpose: To find out the benefits of processed river or freshwater fish in fulfilling nutrition for workers in upstream oil and gas companies. Method: Systematic literature review research related to the nutritional content of various types of freshwater fish with a focus on nutrients such as protein, fat, vitamins and minerals. There are four steps in conducting a review, namely formulating the problem, searching for various relevant literature sources, evaluating the data that has been obtained, and analyzing and interpreting it. Results: Processed river or freshwater fish such as catfish, snakehead, tilapia, gourami, toman, betutu, tilapia fulfill the daily consumption of good protein, fat and vitamins because their nutritional content is protein which averages 18 to 20 grams per 100 grams. grams and fat from 1 to 3 grams, where daily you must consume around 60 to 70 grams of protein and 50 to 75 grams of total fat depending on the condition of each worker. Apart from that, the nutritional content of freshwater fish can minimize problems such as exposure to benzene. Conclusion: River fish can be used as food to fulfill the nutrition of upstream oil and gas workers because of its nutritional content which can reduce inflammation caused by exposure to chemicals while working.   Keywords: Fulfillment of Nutrition; River Fish; Worker.   Pendahuluan: Para pekerja memiliki angka kecukupan gizi yang harus dipenuhi dan berbeda setiap individu karena tergantung dengan kondisi tubuh dan beban kerja. Pekerja hulu migas memiliki beban kerja yang berat dan berisiko terpapar bahan kimia yang sangat berbahaya dalam jangka panjang, sehingga para pekerja juga harus memperhatikan konsumsi makanan yang harus dimakan untuk tetap memenuhi gizi yang seimbang dan dapat memaksimalkan kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui manfaat dari olahan ikan sungai atau air tawar dalam pemenuhan gizi bagi pekerja di perusahaan hulu migas. Metode: Penelitian systematic literature review terkait dengan kandungan gizi dari berbagai jenis ikan air tawar dengan fokus pada nutrisi seperti protein, lemak, vitamin, dan mineral. Terdapat empat langkah dalam melakukan review yaitu memformulasikan permasalahan, mencari berbagai sumber literatur yang relevan, mengevaluasi data yang telah didapatkan, dan menganalisis serta menginterpretasikannya. Hasil: Olahan ikan sungai atau air tawar seperti ikan lele, gabus, nila, gurame, toman, betutu, mujair dalam memenuhi konsumsi harian protein, lemak, dan vitamin yang baik karena kandungan gizinya yaitu protein yang rata-rata 18 hingga 20 gram tiap 100 gram serta lemak dari 1 hingga 3 gram karena dalam harian harus mengkonsumsi sekitar 60 hingga 70 gram protein dan 50 hingga 75 gram lemak total tergantung dari kondisi tiap pekerja. Selain itu, karena kandungan gizi dari ikan air tawar yang dapat untuk meminimalisir permasalahan seperti terpapar benzene. Simpulan: Ikan sungai mampu dijadikan sebagai bahan pangan dalam pemenuhan gizi pekerja hulu migas karena kandungan gizinya yang mampu meredakan peradangan akibat terpapar bahan kimia ketika bekerja.   Kata Kunci : Ikan Sungai; Pekerja; Pemenuhan Gizi.
Tingkat pengetahuan dan kepatuhan menjalankan diit hipertensi pada lansia Putri Wulandari; Kartinah Kartinah
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 2 (2024): Volume 18 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i2.260

Abstract

Background: Hypertension is a cardiovascular disease that can attack anyone and cause death. The increase in hypertension is still largely due to lack of knowledge. Knowledge about hypertension is one of the factors for someone to adhere to a hypertension diet. Someone who has a high level of knowledge will have compliant behavior in implementing a hypertension diet. Purpose: To determine the relationship between level of knowledge and adherence to a hypertension diet in the elderly. Method: Quantitative with correlative descriptive using a cross sectional approach. This research was conducted at the Pajang Community Health Center in December 2023. The data collection technique used a questionnaire which was distributed directly to respondents. The research sample consisted of 33 respondents using total sampling. Data analysis used univariate and bivariate with the Spearman technique. Results: Based on research that has been conducted, it was found that 24 (72.7%) respondents were in the category of lacking knowledge and in the category of non-compliance with the hypertension diet were 27 (81.8%). Spearmen correlation test results p-value 0.016 < p 0.05. Conclusion: There is a relationship between the level of knowledge and compliance with a hypertension diet in the elderly. Suggestion: It is hoped that the elderly can increase their knowledge about hypertension. If knowledge about hypertension increases, compliance with the hypertension diet will increase. For health workers on duty, they should provide health education to the elderly more regularly and can also provide motivation for the elderly to live a healthy life by maintaining a healthy diet and regular physical activity.   Keywords: Compliance; Diit; Elderly; Hypertension; Knowledge.   Pendahuluan: Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang dapat menyerang siapa saja dan menyebabkan kematian. Peningkatan penyakit hipertensi masih banyak disebabkan karena kurangnya pengetahuan. Pengetahuan tentang hipertensi menjadi salah satu faktor seseorang untuk patuh menjalankan diit hipertensi. Seseorang yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi akan memiliki perilaku yang patuh dalam menjalankan diit hipertensi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan menjalankan diit hipertensi pada lansia. Metode: Kuantitatif dengan deskriptif korelatif menggunakan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Pajang pada bulan Desember 2023.Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner yang dibagikan langsung kepada responden. Sampel penelitian berjumlah 33 responden menggunakan total sampling. Analisa data menggunakan univariat dan bivariat dengan teknik Spearman. Hasil: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan ditemukan sebanyak 24 (72.7%) responden dalam kategori pengetahuan kurang dan dalam kategori tidak patuh menjalankan diit hipertensi sebanyak 27 (81.8%). Hasil uji korelasi Spearman p-value 0.016 < p 0.05. Simpulan: Ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan menjalankan diit hipertensi pada lansia. Saran: Kepada lansia diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mereka tentang hipertensi, apabila pengetahuan tentang hipertensi meningkat maka kepatuhan diit hipertensi akan meningkat. Bagi tenaga kesehatan yang bertugas agar memberikan penyuluhan kesehatan kepada lansia lebih rutin dan juga dapat memberikan motivasi untuk lansia agar dapat hidup sehat dengan menjaga pola makan dan rutin untuk melakukan aktivitas fisik.   Kata Kunci: Diit; Hipertensi; Kepatuhan: Lansia; Pengetahuan.
Hubungan kadar kolesterol total dengan kejadian peripheral artery disease pada penderita diabetes melitus Novita Sabila; Okti Sri Purwanti
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 2 (2024): Volume 18 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i2.261

Abstract

Background: One of the countries facing the problem of non-communicable diseases (NCDs) is Indonesia and they are the cause of 63% of deaths, one of which is diabetes mellitus (DM). Every year, the incidence of DM continues to increase, which can cause chronic complications, peripheral artery disease (PAD). PAD is caused by atherosclerosis in the walls of the leg arteries which can be triggered by the presence of excess cholesterol in the body. Purpose: To analyze the relationship between total cholesterol levels and the incidence of PAD in DM sufferers. Method: The research design used a correlational descriptive design with a cross sectional approach to analyze the relationship between total cholesterol levels and the incidence of peripheral artery disease (PAD) in DM sufferers. The population in this study was 106 DM patients who were hospitalized at UNS Hospital in the period January-August 2023. The sampling technique used purposive sampling, so the total sample was 52 patients without diabetic foot ulcers. Results: The relationship between total cholesterol levels and the incidence of PAD in DM sufferers was tested using the Spearman Rank correlation test which showed a strong correlation (r=0.614) and a significant value (p-value) of 0.001. The test decision is that H0 is rejected and Ha is accepted because the p-value is smaller than 0.05 (0.001<0.05). Conclusion: There is a strong relationship between total cholesterol levels and the incidence of PAD in DM sufferers. Suggestion: DM sufferers can control total cholesterol levels within normal limits by avoiding trigger factors such as cigarette smoke, alcohol consumption and foods high in saturated fat. Sufferers are expected to consume foods high in fiber, such as fruit and vegetables and carry out regular physical activity.   Keywords: Diabetes Mellitus; Peripheral Artery Disease (PAD); Total Cholesterol.   Pendahuluan: Salah satu negara yang menghadapi masalah penyakit tidak menular (PTM) adalah Indonesia dan menjadi penyebab kematian 63%, salah satunya adalah diabetes melitus (DM). Setiap tahun, insiden DM terus meningkat, sehingga dapat menyebabkan komplikasi kronis, peripheral artery disease (PAD). PAD disebabkan adanya aterosklerosis pada dinding arteri kaki yang dapat dipicu oleh keberadaan kolesterol berlebih dalam tubuh. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan kadar kolesterol total dengan kejadian PAD pada penderita DM. Metode: Rancangan penelitian menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional untuk menganalisis hubungan kadar kolesterol total dengan kejadian peripheral artery disease (PAD) pada penderita DM. Populasi pada penelitian ini adalah pasien DM yang dirawat inap di Rumah Sakit UNS pada periode Januari-Agustus 2023 berjumlah 106 pasien. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, sehingga sampel total berjumlah 52 pasien tanpa ulkus kaki diabetic. Hasil: Hubungan antara kadar kolesterol total dan kejadian PAD pada penderita DM diuji dengan menggunakan uji korelasi Spearman Rank yang menunjukkan korelasi yang kuat (r=0.614) dan nilai signifikan (p-value) sebesar 0.001. Keputusan uji adalah H0 ditolak dan Ha diterima karena nilai p-value lebih kecil dari 0.05 (0.001<0.05). Simpulan: Terdapat hubungan yang kuat antara kadar kolesterol total dengan kejadian PAD pada penderita DM. Saran: Bagi penderita DM dapat mengontrol kadar kolesterol total dalam batas normal dengan cara menghindari faktor pemicu seperti, asap rokok, konsumsi alkohol, dan makanan dengan lemak jenuh tinggi. Penderita diharapkan dapat mengonsumsi makanan tinggi serat, seperti buah dan sayur serta melakukan aktivitas fisik secara teratur.   Kata Kunci: Diabetes Melitus; Kolesterol Total; Peripheral Artery Disease (PAD).
Intervensi gizi terhadap kejadian stunting pada balita usia 6-24 bulan Janggu, Jayanthi Petronela; Hamat, Viviana
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 4 (2024): Volume 18 Nomor 4
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i4.263

Abstract

Background: Stunting is still a national and global problem because of its impact on the quality of future generations. There are many factors that cause stunting, so it is necessary to analyze which factors are strong candidates for stunting in the village locus. Purpose: To analyze the effect of nutritional interventions on the incidence of stunting in children under five. Method: Quantitative research with cross-sectional design. Data collection was carried out using a structured questionnaire that had been tested and carried out anthropometric measurements. The research was conducted at the stunting village locus selected by purposive sampling, namely in Lentang Village, Manggarai Regency, East Nusa Tenggara Province. Conducted in December 2022-April 2023. The total sample was 87 toddlers obtained based on the locus data list. Results: Multivariate analysis showed that the age of the baby was related to the incidence of stunting (p=0.02) with an OR value of 3.366. Furthermore, the income variable is related to the incidence of stunting (p=0.03) with an OR value of 3.456. The variable early initiation of breastfeeding has a relationship with the incidence of stunting (p=0.015) with an OR value of 3.576. Apart from that, the variable providing additional food has a relationship with the incidence of stunting (p=0.04) with an OR value of 3.25. Conclusion: Nutritional interventions that are related and have strong candidates for influencing the incidence of stunting are the provision of additional food and the age of children under five. Apart from that, nutritional intervention. Early initiation of breastfeeding is the factor that has the most influence on the incidence of stunting. Suggestion: The government, health services and the community must work together to improve stunting reduction programs, especially for children under 2 years of age and mothers.   Keywords: Nutrition Interventions; Stunting; Toddlers.   Pendahuluan: Stunting masih menjadi masalah nasional dan global karena dampaknya terhadap kualitas generasi mendatang. Multi faktor penyebab terjadinya stunting, sehingga perlu dianalisis faktor apa saja yang menjadi kandidat kuat terjadinya stunting di desa lokus. Tujuan: Untuk menganalisis pengaruh intervensi gizi terhadap kejadian stunting pada balita. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner terstruktur yang telah diuji dan dilakukan pengukuran antropometri. Penelitian dilakukan di desa lokus stunting yang dipilih secara purposive sampling yaitu di Desa lentang Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dilaksanakan pada bulan Desember 2022- April 2023. Jumlah sampel sebanyak 87 balita diperoleh berdasarkan daftar data lokus. Hasil : Analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor usia bayi memiliki keterkaitan dengan kejadian stunting (p=0.02) dan OR sebesar 3.366. Selanjutnya variabel pendapatan memiliki keterkaitan (p=0.03) dan OR sebesar 3.456. Variabel IMD memiliki hubungan dengan kejadian stunting (p=0.015) dan OR sebesar 3.576. Selain itu, variabel PMT memiliki hubungan dengan kejadian stunting (p=0.04) dan OR sebesar 3.25. Simpulan: Intervensi gizi yang terkait dan memiliki kandidat kuat dalam memengaruhi kejadian stunting adalah pemberian makanan tambahan (PMT) dan usia balita. Selain itu, intervensi gizi inisiasi menyusui dini (IMD) menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian stunting. Saran: Pemerintah, pelayanan kesehatan, dan masyarakat harus bekerjasama dalam meningkatkan program penurunan stunting terutama berfokus pada anak di bawah usia 2 tahun dan ibu.   Kata Kunci: Balita; Intervensi Gizi; Stunting.
Correlational study: Self-esteem and fear of missing out (FoMO) in emerging adulthood Dwi Isneniah; Reni Nuryani; Sri Wulan Lindasari
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 2 (2024): Volume 18 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i2.264

Abstract

Background: Emerging adulthood is a period of self-exploration or identity. In this era, individuals build relationships to connect with other people through social media. Dependence on social media has negative impacts, one of which is anxiety. The anxiety disorder that appears is called fear of missing out (FoMO). Symptoms can be seen from dependence on cell phones, tension when not accessing social media, and obsession with what other individuals upload. The impact is a feeling of inferiority. Low self-satisfaction in an individual's life encourages high levels of FoMO and has negative impacts such as decreased academic achievement, difficulty communicating with other people and disrupting developmental stages in the emerging adulthood phase. Purpose: To determine the relationship between self-esteem and fear of missing out (FoMO) in emerging adulthood. Method: Quantitative descriptive with a correlational approach. The sample in this study amounted to 343 respondents with a sampling technique using proportional stratified random sampling. The research instrument used was a standard self-esteem questionnaire, namely the Rosernberg Self-esteem Scale (RSES) with a validity result of r ≤ 0.30 and a reliability level of 0.889 Cronbach's Alpha, in addition the fear of missing out scale (FoMOS) questionnaire was used with a validity result of r ≤ 0.30 and The reliability level is 0.661 Cronbach's Alpha. Results: The majority of self-esteem levels in emerging adulthood are in the medium category. Obtained p-value <0.001, which means p<α (0.05) indicates a significant relationship between self-esteem and FoMO that occurs in emerging adulthood. Conclusion: There is a significant influence between high self-esteem and low levels of fear of missing out (FoMO) in emerging adulthood. Suggestion: Emerging adulthood who experience high FoMO with low self-esteem can make self-improvement by reducing excessive use of social media to minimize the occurrence of prolonged feelings of low self-esteem.   Keyword: Emerging Adulthood; Fear of Missing Out (FoMO); Self-Esteem.   Pendahuluan: Manusia dewasa awal merupakan masa eksplorasi jati diri atau identitas. Pada masa ini, individu membangun relasi untuk terhubung dengan orang lain melalui media sosial. Ketergantungan terhadap media sosial memberikan dampak negatif, salah satunya adalah kecemasan. Gangguan kecemasan yang muncul disebut fear of missing out (FoMO). Gejalanya dapat terlihat dari ketergantungan akan ponsel, ketegangan saat tidak mengakses media sosial, dan obsesi dengan apa yang diunggah oleh individu lain. Dampak yang ditimbulkan adalah perasaan rendah diri. Rendahnya kepuasan diri dalam hidup individu mendorong tingkat FoMO yang tinggi dan memberikan dampak negatif seperti, prestasi akademik menurun, kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain dan mengganggu tahap perkembangan pada fase dewasa awal. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan harga diri dengan fear of missing out (FoMO) pada emerging adulthood. Metode: Deskriptif kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 343 responden dengan teknik pengambilan sampel menggunakan proportionate stratified random sampling. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner baku harga diri yaitu Rosenberg Self-esteem Scale (RSES) dengan hasil validitas r ≤ 0.30 dan tingkat reabilitas 0.889 Alpha Cronbach’s, selain itu digunakan kuesioner fear of missing out scale (FoMOS) dengan hasil validitas r ≤ 0.30 dan tingkat reabilitas 0.661 Alpha Cronbach’s. Hasil: Tingkat harga diri pada emerging adulthood mayoritas berada pada kategori sedang. Didapatkan p-value <0.001 yang artinya p<α (0.05) menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara harga diri dengan FoMO yang terjadi pada emerging adulthood. Simpulan: Terdapat pengaruh yang signifikan antara tingginya nilai harga diri menjadikan rendahnya tingkat fear of missing out (FoMO) pada emerging adulthood. Saran: Emerging adulthood yang mengalami FoMO tinggi dengan harga diri rendah dapat melakukan perbaikan diri dengan mengurangi penggunaan media sosial yang berlebihan guna meminimalisir terjadinya perasaan rendah diri yang berkepanjangan.   Kata Kunci: Dewasa Awal; Fear of Missing Out (FoMO); Harga Diri.
Karakteristik dan efek samping pemberian vaksinasi Covid-19 terhadap tenaga kesehatan Rachmat Faisal Syamsu; Innayaturrahmatiah Innayaturrahmatiah; Eny Arlini Wello; Indah Lestari Daeng Kanang; Imran Safei
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 2 (2024): Volume 18 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i2.267

Abstract

Background: On January 13 2021, Indonesia authorized the Covid-19 vaccine for emergency use and started a national vaccination program. The Ministry of Health, with support from UNICEF and WHO, carried out an online survey to understand the public's views, perceptions and concerns regarding Covid-19 vaccination. The results obtained showed that 8% of them refused, the remaining 27% expressed doubts about this vaccination, so there is a need for outreach to the public regarding the importance of vaccination, as well as its safety, the type of vaccine used and knowing the side effects felt by each individual who has had it. get vaccinated. Purpose: To determine the characteristics and side effects of administering Covid-19 vaccination to health workers Method: This research is observational analytic with a cross sectional method using a questionna ire filled out by health workers at RSUP Dr. Johannes Leimena Ambon who has taken part in stages 1 and 2 of vaccination with the brand Sinovac (coronavac), numbering 173 people. Results: As many as 80% of respondents did not experience post-vaccination side effects, 20% experienced at least one local symptom and systemic symptoms which were mostly experienced by female health workers in the 26-35 year age group. Conclusion: Ages 26-35 years, female, and nursing staff constitute the majority of respondents who did not experience side effects after stages 1 and 2 of Covid-19 vaccination.   Keywords: Adults; Covid-19; Hospital; Vaccination.   Pendahuluan: Pada 13 Januari 2021, Indonesia telah mengesahkan vaksin Covid-19 untuk penggunaan darurat dan memulai program vaksinasi nasional. Kementerian kesehatan dengan dukungan dari UNICEF dan WHO, melaksanakan survei daring untuk memahami pandangan, persepsi, dan kekhawatiran publik terkait vaksinasi Covid-19. Hasil yang didapat menunjukan bahwa 8% di antaranya menolak, 27% sisanya menyatakan ragu dengan vaksinasi ini, sehingga perlu adanya sosialisasi ke masyarakat mengenai penting nya melakukan vaksinasi, serta keamanannya, jenis vaksin yang digunakan dan mengetahui efek samping yang dirasakan pada setiap individu yang telah melakukan vaksinasi. Tujuan: Untuk mengetahui karakteristik dan efek samping pemberian vaksinasi Covid-19 terhadap tenaga kesehatan Metode: Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan metode cross sectional menggunakan kuesioner yang diisi oleh tenaga kesehatan di RSUP Dr. Johannes Leimena Ambon yang telah mengikuti vaksinasi tahap 1 dan 2 dengan merek sinovac (coronavac) yaitu berjumlah 173 orang. Hasil: Sebanyak 80% responden tidak mengalami efek samping pasca vaksinasi, 20% mengalami setidaknya satu gejala lokal dan gejala sistemik yang banyak dialami oleh tenaga kesehatan perempuan dengan kelompok usia 26-35 tahun. Simpulan: Usia 26-35 tahun, jenis kelamin perempuan, dan tenaga perawat merupakan mayoritas responden yang tidak mengalami efek samping pasca vaksinasi Covid-19 tahap 1 dan 2.   Kata Kunci: Covid-19; Orang Dewasa; Rumah Sakit; Vaksinasi.  
Efektifitas media audio-visual dalam proses pendidikan kesehatan reproduksi pada wanita usia subur Lisda Pasti Gantina; Ida Maryati; Tetti Solehati
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 1 (2024): Volume 18 Nomor 1
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i1.268

Abstract

Background: Reproductive health is one of the global health challenges that needs to be considered in everyday life. Problems related to reproductive health are closely related to biological health problems in women of childbearing age. Audio visual media is one of the media that can be used to convey health information, where this media has the advantage of being able to stimulate various senses so it is hoped that it can increase understanding about women of childbearing age. Purpose: To identify the effectiveness of audio-visual media in the reproductive health education process for women of childbearing age. Method: Pre-experimental research with a one group pre-post-test design. The research was carried out in Jatimukti Village on a population of women of childbearing age who attended the advanced and empowered women's informal school, namely Lampu Juara, with a total sample of 50 people taken using total sampling techniques. The instrument used was a modified reproductive health instrument to assess knowledge, the validity test results were 0.294 and the reliability was 0.689. The results of the standard operational procedure test for measuring breast self-examination skills (BSE) used an intraclass correlation test with a test result of 0.816. Data analysis used the Wilcoxon statistical test. Results: Obtained an increase in participants' knowledge of 21.76 and an average increase in skills scores of 25.48. The results of the Wilcoxon test with an asym.sig value of 0.000 (< 0.05) indicate that audio-visual media in the health education process is significantly effective on knowledge and skills. Conclusion: Audio visual media in the health education process is significantly effective in increasing reproductive health knowledge and BSE practice skills, as evidenced by changes in the average score before and after implementing the intervention.   Keywords: Audio Visual Media; Reproductive Health; Women of Childbearing Age.   Pendahuluan: Kesehatan reproduksi merupakan salah satu tantangan kesehatan global yang perlu untuk diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Isu terkait kesehatan reproduksi erat kaitannya dengan masalah kesehatan biologis pada wanita usia subur (WUS). Media audio-visual merupakan media yang dapat dimanfaatkan dalam menyampaikan informasi kesehatan, dimana media ini memiliki keuntungan yaitu bisa merangsang berbagai indera sehingga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman WUS. Tujuan: Untuk mengidentifikasi efektivitas media audio-visual dalam proses pendidikan kesehatan reproduksi pada wanita usia subur. Metode: Penelitian pre-experiment dengan desain one group pre-post-test. Penelitian dilaksanakan di Desa Jatimukti terhadap populasi WUS, peserta dari sekolah informal perempuan maju dan berdaya yaitu Lampu Juara sebanyak 50 sampel yang diambil dengan menggunakan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan modifikasi dari instrumen kesehatan reproduksi untuk menilai pengetahuan, hasil uji validitas 0.294 dan reliabilitas 0.689. Hasil uji SOP untuk mengukur keterampilan SADARI menggunakan uji intraclass correlation dengan hasil uji 0.816. Analisis data menerapkan uji statistik Wilcoxon. Hasil: Didapatkan peningkatan pengetahuan partisipan sebesar 21.76 dan rata-rata peningkatan nilai keterampilan sebesar 25.48. Hasil uji Wilcoxon dengan nilai asym.sig 0.000 (< 0.05) yang menunjukan media audio-visual dalam proses pendidikan kesehatan efektif secara signifikan terhadap pengetahuan dan keterampilan. Simpulan: Media audio-visual dalam proses pendidikan kesehatan efektif secara signifikan dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi dan keterampilan praktik SADARI, dibuktikan dengan terjadinya perubahan nilai rata-rata sebelum dan setelah pelaksanaan intervensi.   Kata Kunci:  Kesehatan Reproduksi; Media Audio-visual; Wanita Usia Subur.
Tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dengan sikap remaja terhadap seks bebas di SMA Sukoharjo Salza Tri Widyaningrum; Abi Muhlisin
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 2 (2024): Volume 18 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i2.270

Abstract

Background: Adolescents with insufficient knowledge about reproductive health will easily lead them to fall into wrong attitudes about sex, which will have an impact on promiscuous sexual behavior. Preliminary research shows that the school has carried out outreach and outreach activities regarding sex education to students during the school orientation (MOS) period when they first enter school, but the school does not know how students behave outside of school. Purpose: To determine the relationship between the level of knowledge about reproductive health and adolescents' attitudes towards free sex. Method: Correlation type quantitative research, carried out in November 2023 at SMA Negeri 2 Sukoharjo. The population of this study was 323 class XI students. The sample was taken using proportional random sampling technique and a sample size of 76 respondents was obtained. The questionnaire has been tested for validity and reliability with Cronbach's Alpha values of 0.807 and 0.700. The statistical test uses the Chi Square test with a significance value of α<0.05 which indicates that the alternative hypothesis is accepted. Results: Statistical tests using the Chi-Square test showed that the level of knowledge and attitudes of adolescents had a significant relationship (p= 0.000; r= 16.340). Obtaining this value can be interpreted to mean that there is a significant relationship between the level of knowledge about reproductive health and teenagers' attitudes towards free sex, so the higher the knowledge, the better the teenagers' attitude towards free sex. Conclusion: There is a positive relationship between the level of knowledge about reproductive health and adolescents' attitudes towards free sex. It is hoped that students can increase their enthusiasm for learning to increase their knowledge and understanding of reproductive health in order to avoid promiscuous sexual behavior.   Keywords: Adolescents; Attitude; Free Sex; Knowledge Level; Reproductive Health.   Pendahuluan: Remaja dengan pengetahuan kurang mengenai kesehatan reproduksi maka akan mudah membawa mereka terjerumus ke dalam sikap yang salah mengenai seks, sehingga akan berdampak pada perilaku seks bebas. Pada studi pendahuluan menunjukkan bahwa pihak sekolah sudah menjalankan kegiatan penyuluhan dan sosialisasi mengenai sex education kepada siswa-siswi pada masa orientasi sekolah (MOS) awal masuk sekolah, namun pihak sekolah tidak mengetahui bagaimana perilaku siswa ketika di luar sekolah. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dengan sikap remaja terhadap seks bebas. Metode: Penelitian kuantitatif jenis korelasi, dilaksanakan pada bulan November 2023 di SMA Negeri 2 Sukoharjo. Populasi penelitian ini yaitu siswa kelas XI yang berjumlah 323, pengambilan sampel menggunakan teknik proportional random sampling dan diperoleh jumlah sampel sebanyak 76 responden. Kuesioner telah diuji validitas dan reliabilitas dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0.807 dan 0.700. Uji statistik menggunakan uji Chi Square dengan nilai signifikansi α<0.05 yang menunjukkan bahwa hipotesis alternatif yang diterima. Hasil: Uji statistik menggunakan uji Chi-Square menunjukkan tingkat pengetahuan dan sikap remaja mempunyai hubungan yang signifikan (p= 0.000; r= 16.340). Perolehan nilai tersebut dapat diartikan bahwa, terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi terhadap sikap remaja terhadap seks bebas, maka semakin tinggi pengetahuan, akan semakin baik pula sikap remaja terhadap seks bebas. Simpulan: Terdapat hubungan positif antara tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dengan sikap remaja terhadap seks bebas. Diharapkan siswa-siswi dapat meningkatkan semangat dalam belajar untuk menambah ilmu pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi agar terhindar dari perilaku seks bebas. Kata Kunci: Kesehatan Reproduksi; Remaja; Sikap; Seks Bebas; Tingkat Pengetahuan.
Analisis efektivitas pelatihan bantuan hidup dasar pada masyarakat awam: A systematic literature review Rofi Ali Nurgi; Iwan Purnawan
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 2 (2024): Volume 18 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i2.271

Abstract

Background: Basic life support (BLS) for ordinary people is an urgent need considering the complexity of health challenges and accidents that can occur in everyday life. Cardiac arrest in public places is one of the medical emergencies that is often encountered by the public. At that time, the community needs to help the victim until capable medical assistance arrives. The community needs to be equipped with sufficient knowledge and skills to provide assistance to victims of cardiac arrest. Purpose: To determine the effectiveness of BLS methods for ordinary people. Method: Systematic literature review (SLR) of three databases PubMed, CINAHL, and Google Scholar. Identified 668 articles which were then extracted to obtain 10 articles that were relevant and usable. This review of findings describes methods of understanding and training in the management of cardiac arrest in the lay public. Results: Based on ten articles, the results showed that the general public needs explanations, descriptions, views and procedures that are easy to understand and easy to remember. Regarding the article that the author researched, he wrote that methods that can be used to conduct training for lay people include writing in the form of management of cardiac arrest management, lectures given by instructors to training participants, providing and showing videos of cardiac arrest management, transmitting directly in front of participants regarding management of cardiac arrest, discussions by instructors and participants regarding management of cardiac arrest, and providing explanations via teaching slides regarding management of cardiac arrest. Conclusion: Providing simulations, visualization via video, providing narratives that are easy to understand, and doing practice together are more effective methods in conducting BLS training for lay people.   Keywords: Basic Life Support; Cardiac Arrest Method; Ordinary People.   Pendahuluan: Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi masyarakat awam menjadi suatu kebutuhan yang mendesak mengingat kompleksitas tantangan kesehatan dan kecelakaan yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kejadian henti jantung di tempat umum merupakan salah satu kejadian darurat medis yang sering dijumpai oleh masyarakat. Pada momen tersebut, masyarakat perlu untuk membantu korban tersebut hingga datang bantuan medis yang memadai. Masyarakat perlu dibekali dengan pengetahuan serta keterampilan yang memadai untuk melakukan bantuan pada korban henti jantung tersebut. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas cara pelatihan BHD pada masyarakat awam. Metode: Systematic literature review (SLR) dari tiga basis data PubMed, CINAHL, dan Google Scholar. Mengidentifikasi sebanyak 668 artikel yang kemudian diekstraksi hingga mendapatkan 10 artikel yang relevan dan dapat digunakan. Temuan review ini menggambarkan metode pemahaman dan pelatihan terhadap penatalaksanaan henti jantung pada masyarakat awam. Hasil: Berdasarkan sepuluh artikel didapatkan hasil bahwa masyarakat umum memerlukan penjelasan, gambaran, pandangan, serta tata laksana yang mudah dipahami dan mudah diingat. Adapun artikel yang penulis teliti, menuliskan bahwa metode yang bisa digunakan untuk melakukan pelatihan terhadap orang awam bisa menggunakan tulisan berupa tatalaksana penanganan henti jantung, ceramah yang dilakukan oleh instruktur kepada peserta pelatihan, memberikan serta menayangkan video penatalaksanaan henti jantung, mempraktikkan langsung di depan peserta mengenai penatalaksanaan henti jantung, diskusi oleh instruktur dan peserta mengenai penatalaksanaan henti jantung, dan memberikan penjelasan melalui slide pengajaran mengenai penatalaksanaan henti jantung. Simpulan: Pemberian simulasi, visualisasi melalui video, memberikan narasi yang mudah dimengerti, dan melakukan praktik bersama adalah metode yang lebih efektif dalam melakukan pelatihan BHD kepada masyarakat awam.   Kata Kunci: Bantuan Hidup Dasar; Metode Henti Jantung; Masyarakat Awam.
Efektivitas penggunaan terapi topical herbal pada perawatan ulkus kaki diabetik: A systematic literature review Elviera Djuma; Yulia Yulia; Dikha Ayu Kurnia
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 2 (2024): Volume 18 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i2.281

Abstract

Background: Diabetic foot ulcers are a complication that affects the health and quality of life of diabetes mellitus patients. Topical herbs are botanical treatments used to treat diabetic foot ulcers, with the aim of speeding up the healing process and reducing inflammation by applying them directly to the affected area. Purpose: To identify the effectiveness of topical herbal use in the intervention group compared to those receiving standard care in the control group in type 1/type 2 DM patients. Method: Using a systematic review by selecting articles according to a randomized controlled trial (RCT) research design and arranged based on Preferred Reporting Items For Systematic Reviews and Meta Analyzes (PRISMA). Article searches were carried out through a number of databases, Science Direct, Clinical Key, Pubmed, Proquest, and Sage published in the last 5 years (2018-2023). Results: Wound healing in diabetics is often complicated and involves many things besides local infection. In addition, vascular problems resulting in systemic infections and a decrease in the immune system make it more difficult for diabetic wounds to heal. The use of topical herbal medicine can improve the healing of diabetic foot ulcers and does not have significant side effects. To manage superficial diabetic foot ulcers, topical use of herbs may be an effective, safe, accessible, and inexpensive adjunct option to conventional therapy. Conclusion: The use of topical herbal therapy improves the healing of diabetic foot ulcers and does not have significant side effects.   Keywords: Diabetic Foot Ulcers (UKD); Diabetes Mellitus; Tropical Herbs.   Pendahuluan: Ulkus kaki diabetik merupakan komplikasi yang mempengaruhi kesehatan dan kualitas hidup pasien diabetes melitus. Herbal topikal adalah perawatan botani yang digunakan untuk mengatasi ulkus kaki diabetik, dengan tujuan mempercepat proses penyembuhan dan mengurangi peradangan dengan menerapkannya langsung ke daerah yang terkena. Tujuan: Untuk mengidentifikasi efektifitas penggunaan topical herbal pada kelompok intervensi dibandingkan dengan yang menerima perawatan standar pada kelompok kontrol pada pasien DM tipe 1/tipe 2. Metode: Menggunakan systematic review dengan memilih artikel sesuai desain penelitian randomized controlled trial (RCT) dan disusun berdasarkan Preferred Reporting Items For Systematic Reviews and Meta Analyzes (PRISMA). Pencarian artikel dilakukan melalui sejumlah database, Science Direct, Clinical Key, Pubmed, Proquest, dan Sage terbitan 5 tahun terakhir (2018-2023).   Hasil: Penyembuhan luka pada penderita diabetes seringkali rumit dan melibatkan banyak hal selain infeksi lokal. Selain itu, masalah vaskular sehingga mengalami infeksi sistemik dan penurunan sistem kekebalan tubuh menyebabkan luka diabetes lebih sulit sembuh. Penggunaan obat topikal herbal dapat meningkatkan penyembuhan ulkus kaki diabetik dan tidak memiliki efek samping yang signifikan. Untuk mengelola ulkus kaki diabetik superfisial, penggunaan topikal herbal dapat menjadi pilihan tambahan yang efektif, aman, mudah diakses, dan murah untuk terapi konvensional. Simpulan:  Penggunaan terapi topical herbal meningkatkan penyembuhan ulkus kaki diabetik dan tidak memiliki efek samping yang signifikan.   Kata Kunci: Diabetes Melitus; Herbal Tropis; Ulkus Kaki Diabetik (UKD).

Page 5 of 11 | Total Record : 106