cover
Contact Name
Muhammad Yusuf Zulkifli
Contact Email
yusufzulkifli9@gmail.com
Phone
+628116831920
Journal Mail Official
yusufzulkifli9@gmail.com
Editorial Address
Jll. T. Nyak Arife No 333, Jeulingke Kota Banda Aceh, Propinsi Aceh.
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ikhtibar Nusantara
ISSN : -     EISSN : 29645255     DOI : https://doi.org/10.62901/j-ikhsan.v1i1.2
Jurnal Ikhtibar Nusantara merupakan jurnal ilmiah yang memuat naskah di bidang Ilmu Pendidikan Agama Islam. Terbit Pertama Volume 1 Nomor 1 Bulan Juni Tahun 2022 versi Online. Ruang lingkup dari Jurnal ini berupa hasil penelitian dan kajian analisis -kritis dengan tujuan sebagai wadah yang kredibel bagi akademisi dan peneliti untuk menyebarluaskan karya, studi, makalah, dan bentuk penelitian lainnya. Pembentukannya bertujuan untuk menjadi jurnal ilmiah dengan reputasi nasional serta mempromosikan kemajuan, pemahaman, dan hukum, pendidikan dan dakwah Islam. Pemuatan artikel di jurnal ini dialamatkan ke website https://stainusantara.ac.id/ Informasi lengkap untuk pemuatan artikel dan petunjuk penulisan artikel tersedia di dalam setiap terbitan. Artikel yang masuk akan melalui proses seleksi mitra bestari (reviewer) atau editor. Jurnal Ikhtibar Nusantara diterbitkan oleh STAI Nusantara Kota Banda Aceh, Indonesia. Jurnal ini diterbitkan dalam bentuk cetak dan online yang dapat di unduh secara gratis, yang mana akan diterbitkan secara berkala sebanyak dua kali dalam setahun.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 178 Documents
TRADISI ORGANISASI PESANTREN: KAJIAN TEORI DAN PERILAKU KEORGANISASIAN DALAM PEMIKIRAN, PERILAKU, BENTUK, DAN PENERAPAN ORGANISASI Atiqur Rahman Binuri Ramadan; Ach. Maimun; Hariyanto; Muhammad Afan; Moh. Ali Mahdi
Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol 5 No 3 (2026): Jurnal Ikhtibar Nusantara
Publisher : STAI Nusantara Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62901/j-ikhsan.v5i3.664

Abstract

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang di dalamnya beroperasi sebuah tatanan organisasi khas, terbentuk dari perpaduan otoritas kiai, tradisi keilmuan, dan struktur kepengurusan santri. Artikel ini bertujuan mengkaji secara kritis tradisi organisasi pesantren melalui empat dimensi, yaitu pemikiran tentang organisasi, perilaku keorganisasian, bentuk organisasi, dan penerapan organisasi. Penelitian menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif deskriptif-kritis, menelaah 31 sumber pustaka terpilih dari basis data Sinta, Scopus, dan Google Scholar melalui prosedur seleksi berjenjang. Sebagai kontribusi kebaruan, artikel ini merumuskan Model Organisasi Hibrida Pesantren yang menjelaskan dialektika antara otoritas kharismatik-tradisional kiai dan rasionalisasi manajemen modern, serta bagaimana dialektika tersebut membentuk perilaku, bentuk, dan penerapan organisasi dalam kondisi yang diwarnai empat aras ketegangan struktural. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemikiran organisasi pesantren memadukan otoritas kharismatik-tradisional kiai dengan prinsip manajemen modern, namun perpaduan ini menyimpan ketegangan legitimasi kekuasaan yang belum tuntas; perilaku keorganisasian dibentuk oleh nilai ta'zim, kepatuhan, dan komitmen berbasis spiritualitas yang jarang diuji dari perspektif relasi kuasa dan kesetaraan gender; bentuk organisasi bergerak dari struktur informal menuju struktur formal, meski sebagian temuan mengindikasikan gejala decoupling; serta penerapan organisasi tampak dalam pengambilan keputusan yang tetap bersumbu pada kiai namun mulai mendelegasikan kewenangan dan beradaptasi dengan digitalisasi dan globalisasi. Kajian ini menyimpulkan bahwa tradisi organisasi pesantren merupakan model hibrida yang sarat ketegangan antara tradisi dan modernitas, dengan implikasi teoretis, praktis, dan kebijakan bagi pengembangan tata kelola lembaga pendidikan Islam yang adaptif-kritis di masa depan. Kata Kunci: tradisi pesantren; teori organisasi; perilaku keorganisasian; model organisasi hibrida; tata kelola pesantren
PENERAPAN MANAJEMEN MUTU TERPADU DALAM PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN Yusri M. Daud
Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Ikhtibar Nusantara
Publisher : STAI Nusantara Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62901/j-ikhsan.v5i2.665

Abstract

Improving educational quality requires a managerial approach that goes beyond document compliance and end-result evaluation by integrating leadership, learning processes, human resource development, data use, and continuous improvement. This article analyses the principles, implementation stages, benefits, and constraints of Total Quality Management (TQM) in improving educational quality. A narrative-analytical literature review was conducted using foundational books, scholarly articles, ISO 21001:2025, international reports, and Indonesian education regulations. Sources were purposively selected for relevance, authority, and contribution to understanding TQM implementation. The review identifies seven interdependent foundations: leadership commitment; learner and stakeholder focus; process management; staff involvement and development; data-informed decision making; continuous improvement; and a quality culture. Effects on learning outcomes are not automatic, but are mediated through better teaching, services, supervision, and collaboration. Effective implementation requires the Plan-Do-Check-Act cycle, balanced indicators, participation across the institution, and consistent follow-up. TQM should therefore be treated as an organizational learning culture and management system rather than merely a certification or quality-administration programme.
INSTITUSIONALISASI KURIKULUM BERBASIS CINTA DALAM MEMBANGUN EKOSISTEM PENDIDIKAN KARAKTER DI MADRASAH IBTIDAIYAH MIFTAHUL FAKHIRIN MELALUI INTEGRASI BUDAYA SEKOLAH DAN PEMBIASAAN RELIGIUS Hariyanto; Ach. Maimun; Muhammad Afan; Atiqur Rahman Binuri Ramadan; Moh. Ali Mahdi
Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol 5 No 3 (2026): Jurnal Ikhtibar Nusantara
Publisher : STAI Nusantara Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the institutionalization of the Love-Based Curriculum (Kurikulum Berbasis Cinta/KBC) in building a character education ecosystem at MI Miftahul Fakhirin, Kadur, Pamekasan, through the integration of school culture and religious habituation. Institutionalization is defined as the embedding of values, norms, and practices into the organizational structure of the school so that they no longer depend on particular individuals. Using a descriptive qualitative single-case study design, data were collected from curriculum documents, institutional records, and observations of daily, weekly, and annual habituation programs, and analyzed following the interactive model of Miles, Huberman, and Saldana (2014). The findings indicate that KBC institutionalization is supported by three main pillars, namely exemplary leadership by the headmaster and teachers, structured religious habituation, and local-national cultural integration, which operate through three interrelated institutional mechanisms: regulative, normative, and cognitive-cultural. Based on these findings, this study proposes a conceptual model termed the Multi-Mechanism Institutionalization of Love-Based Curriculum (IM3-KBC) as a theoretical contribution to the study of character curriculum institutionalization in madrasah. The synergy of these pillars and mechanisms forms a multi-layered character education ecosystem encompassing spiritual, social-emotional, national, and intellectual dimensions. The study recommends strengthening habituation monitoring instruments to ensure sustainable evaluation of the institutionalization process.
TEOLOGI KEBANGSAAN ISLAM PESANTREN: FORMULASI KONSEP TEORITIS DAN KONSTRUKSI PRAKTIK KEBANGSAAN MASYARAKAT PESANTREN Muhammad Afan; Ach. Maimun; Hariyanto; Atiqur Rahman Binuri Ramadan; Moh. Ali Mahdi
Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol 5 No 3 (2026): Jurnal Ikhtibar Nusantara
Publisher : STAI Nusantara Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62901/j-ikhsan.v5i3.667

Abstract

This study examines the nationalist theology of pesantren (Islamic boarding schools) and its concrete manifestations in the social practices of the pesantren community. Classical pesantren literature has long embedded principles of nationalism (hubb al-wathan) within its theological and jurisprudential framework, yet a systematic formulation of this concept and its practical dimensions has not been comprehensively articulated. This study employs a library research approach combined with an ethnographic dimension, grounded in the theory of maqashid al-syariah and the concept of ukhuwah wathaniyah as developed by pesantren scholars, and enriched with reference to contemporary Scopus- and Sinta-indexed studies on pesantren nationalism. Two principal conclusions emerge. First, the theoretical framework of pesantren nationalism rests upon the theological foundation that love of homeland (hubb al-wathan) is an integral part of faith (iman), as affirmed by classical scholars. This manifests in the veneration of national symbols, the tradition of flag-raising ceremonies, and the cultivation of ukhuwah wathaniyah (national brotherhood) as a binding force of the nation. Second, the practical dimensions of pesantren nationalism encompass: the active honoring of the state through respect for its symbols and institutions; the practice of bela negara (national defense) as a religious obligation; contributions to national development in education, economy, and social welfare; and participation in resolving national problems through dialogue, deliberation, and moral-religious guidance. These findings confirm that pesantren is not merely a religious educational institution, but also a primary pillar of Indonesian nationalism.
PENDIDIKAN ISLAM DI ACEH JAYA: PELUANG, TANTANGAN, DAN STRATEGI PENGEMBANGANNYA Susanna
Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol 4 No 1 (2025): Jurnal Ikhtibar Nusantara
Publisher : STAI Nusantara Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62901/j-ikhsan.v4i1.668

Abstract

Pendidikan Islam memiliki posisi yang sangat strategis dalam pembangunan masyarakat Aceh, termasuk di Kabupaten Aceh Jaya yang dikenal sebagai salah satu daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sosial, budaya, dan pemerintahan. Keberadaan madrasah, dayah (pesantren), serta berbagai lembaga pendidikan Al-Qur'an menjadi bagian integral dari sistem pendidikan yang berperan dalam membentuk karakter, moral, spiritual, dan intelektual generasi muda. Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi informasi, serta dinamika globalisasi, pendidikan Islam di Aceh Jaya dihadapkan pada berbagai peluang sekaligus tantangan yang memerlukan strategi pengembangan yang komprehensif, inovatif, dan berkelanjutan. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi pendidikan Islam di Kabupaten Aceh Jaya, mengidentifikasi berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan, menganalisis tantangan yang dihadapi dalam penyelenggaraannya, serta merumuskan strategi pengembangan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui metode studi kepustakaan (library research), dengan mengkaji berbagai literatur ilmiah, peraturan perundang-undangan, dokumen pemerintah, data statistik, serta hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan pendidikan Islam di Aceh. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan Islam di Aceh Jaya memiliki potensi yang besar untuk berkembang melalui dukungan kebijakan pemerintah daerah, penerapan Syariat Islam, budaya masyarakat yang religius, keberadaan dayah sebagai lembaga pendidikan tradisional yang tetap eksis, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan agama. Namun demikian, pendidikan Islam masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain peningkatan kompetensi dan profesionalisme tenaga pendidik, pemerataan mutu pendidikan antarwilayah, keterbatasan sarana dan prasarana, rendahnya pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran, penguatan literasi digital peserta didik, serta perlunya pengembangan kurikulum yang mampu mengintegrasikan ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterampilan abad ke-21. Oleh karena itu, strategi pengembangan pendidikan Islam di Aceh Jaya perlu diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan tata kelola lembaga pendidikan, transformasi digital dalam pembelajaran, pengembangan kurikulum yang adaptif dan berbasis nilai-nilai Islam, penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah, Kementerian Agama, perguruan tinggi, dayah, sekolah, dan masyarakat, serta peningkatan budaya penelitian dan inovasi pendidikan. Dengan implementasi strategi tersebut, pendidikan Islam di Aceh Jaya diharapkan mampu melahirkan generasi yang memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat, berakhlak mulia, unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu berkontribusi terhadap pembangunan daerah dan menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas keislaman dan kearifan lokal Aceh.
URGENSI DILALAH ALFADZ DALAM MEMAHAMI NASH AL-QUR’AN HADIS Siti Zafilah Firdausian
Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol 3 No 2 (2024): Jurnal Ikhtibar Nusantara
Publisher : STAI Nusantara Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62901/j-ikhsan.v3i2.669

Abstract

Pondasi utama dalam menggali hukum Islam diperlukan pemahaman terhadap nash Al-Qur’an dan hadis. Namun perbedaan makna lafadz, penggunaan bahasa arab serta kaidah kebahasaan terkadang melahirkan perbedaan penafsiran di kalangan ulama. Sehingga sangat penting mengkaji kaidah lughowiyah dan kaidah-kaidah yang digunakan sebagai metode (dilalah alfadz) petunjuk lafadz-lafadz dalam memahami nash al-Qur‟an dan Hadits. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library reseach). Data dianalisis menggunakan metode deskriptif-analitis melalui proses reduksi, klasifikasi, interpretasi dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan kaidah lughawiyah adalah kaidah –kaidah yang dipakai oleh ulama/uhul (ushuliyyin) berdasarkan makna dan tujuan ungkapan-ungkapan yang ditetapkan oleh para ahli bahasa Arab. Memahami dilalatul alfadz dibutuhkan beberapa kaidah Kaidah-kaidah interpretasi I dedukasi hukum dari sumber-sumbernya dan Kaidah-kaidah interpretasi II implikasi-implikasitekstual.
TRANSFORMASI PENDIDIKAN ISLAM DI ACEH MELALUI INOVASI PEMBELAJARAN DIGITAL Irwandi; Fakhrul Rijal
Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Ikhtibar Nusantara
Publisher : STAI Nusantara Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62901/j-ikhsan.v5i2.673

Abstract

Transformasi pendidikan Islam di Aceh menjadi suatu keniscayaan dalam merespons perkembangan teknologi informasi, perubahan karakteristik peserta didik, serta tuntutan kompetensi abad ke-21. Sebagai daerah yang menerapkan syariat Islam dan memiliki tradisi pendidikan keislaman yang kuat melalui dayah, madrasah, sekolah Islam, dan perguruan tinggi keagamaan, Aceh memiliki peluang besar untuk mengembangkan inovasi pembelajaran digital tanpa menghilangkan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk transformasi pendidikan Islam di Aceh melalui penerapan inovasi pembelajaran digital, mengidentifikasi peluang yang tersedia, serta mengkaji tantangan yang dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam dalam proses digitalisasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari jurnal ilmiah, buku, dokumen kebijakan pemerintah, serta berbagai hasil penelitian yang berkaitan dengan pendidikan Islam dan transformasi digital. Analisis data dilakukan secara deskriptif melalui proses reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi pembelajaran digital telah mendorong perubahan paradigma pembelajaran dari yang berpusat pada pendidik menjadi berpusat pada peserta didik melalui pemanfaatan Learning Management System (LMS), media pembelajaran interaktif, kelas virtual, aplikasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), serta berbagai platform digital lainnya. Inovasi tersebut berkontribusi terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran, akses terhadap sumber belajar yang lebih luas, penguatan literasi digital, dan pengembangan keterampilan berpikir kritis. Namun demikian, transformasi pendidikan Islam di Aceh masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan infrastruktur teknologi di beberapa wilayah, rendahnya kompetensi digital sebagian pendidik, kesenjangan akses internet, serta perlunya penguatan kurikulum yang mampu mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, pendidik, dan masyarakat dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat infrastruktur digital, serta mengembangkan model pembelajaran inovatif yang tetap berlandaskan nilai-nilai Islam sehingga pendidikan Islam di Aceh mampu menghasilkan lulusan yang religius, adaptif, inovatif, dan berdaya saing pada tingkat nasional maupun global.
PENGALAMAN GURU MERANCANG ASESMEN DIAGNOSTIK UNTUK MENDUKUNG PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI PADA PAI SEKOLAH DASAR Okta Rosfiani; Batara Giflan Khairan; Gina Azizah; Khayla Adhani; Cecep Maman Hermawan
Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol 5 No 3 (2026): Jurnal Ikhtibar Nusantara
Publisher : STAI Nusantara Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62901/j-ikhsan.v5i3.674

Abstract

The Merdeka Curriculum positions diagnostic assessment as the starting point for designing differentiated instruction, yet how teachers actually build this practice from field experience—particularly in Islamic Religious Education (PAI) at the elementary level—remains underexplored. This study aims to describe and interpret teachers' experiences in designing cognitive and non-cognitive diagnostic assessments to support differentiated learning at SD Rawa Buntu 03. A qualitative approach with an instrumental case study design was employed. Data were collected through semi-structured interviews with three teachers whose teaching experience ranged from eight to more than fifteen years, complemented by field notes and observation results. Data were analyzed using the reduction, display, and conclusion-drawing model of Miles, Huberman, and Saldaña. The findings show that teachers developed informal non-cognitive assessments based on spontaneous behavioral observation to map student character, alongside cognitive assessments using rotating oral tests to map students' Qur'anic reading and writing abilities. These mapping results were followed up through learning grouping, peer tutoring, intensive out-of-class guidance, and flexible task deadlines. A notable anomaly emerged: the most effective non-cognitive assessment arose from the teacher's spontaneous improvisation rather than from a pre-designed formal instrument. This study contributes to strengthening the concept of contextual non-cognitive diagnostic assessment within PAI instruction and recommends developing a systematic, replicable informal observation guideline.
KEWARGAAN DALAM TEORI ISLAM PESANTREN: TRADISI SOSIAL DAN PRAKTIK KEHIDUPAN KEWARGAAN MASYARAKAT PESANTREN Moh. Ali Mahdi; Hariyanto; Ach. Maimun; Muhammad Afan; Atiqur Rahman Binuri Ramadan
Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol 5 No 3 (2026): Jurnal Ikhtibar Nusantara
Publisher : STAI Nusantara Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62901/j-ikhsan.v5i3.675

Abstract

This article examines the concept of citizenship (muwathanah) within Islamic pesantren theory and its practice in the social tradition of pesantren communities in Indonesia. Prior studies on Islamic citizenship largely remain at the normative-theoretical level of fiqh siyasah, while pesantren studies typically focus on character education without framing it as a citizenship practice; this article addresses that gap by using fiqh siyasah categories as an analytical lens to read the social practice of pesantren life. Using a qualitative library-research method, the study finds that pesantren function as a social laboratory that internalises Islamic citizenship values through traditions such as bahtsul masail and the three-tiered brotherhood (ukhuwah islamiyah, wathaniyah, and basyariyah), together with national-insight education. Based on these findings, the article proposes the Pesantren Muwathanah Framework, a conceptual model linking theological grounding, the relational structure of ukhuwah, the space of internalisation within pesantren, and the space of dissemination by alumni into wider society. The study recommends strengthening a citizenship curriculum grounded in pesantren values as a model for religious moderation and social capital building in Indonesia.
INTERNALIZATION OF HIFZ AL-‘AQL THROUGH RELIGIOUS LITERACY ON SOCIAL MEDIA FOR STRENGTHENING STUDENTS’ CRITICAL THINKING IN FIQH LESSONS Erdiyan Saputra; Ahmad Muhtar Syarofi; Ahmad Khoiri
Jurnal Ikhtibar Nusantara Vol 5 No 3 (2026): Jurnal Ikhtibar Nusantara
Publisher : STAI Nusantara Kota Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62901/j-ikhsan.v5i3.676

Abstract

The development of social media provides easy access to various religious information; however, it also has the potential to cause misunderstandings in interpreting Islamic teachings. This study aims to analyze the internalization of hifz al-‘aql through religious literacy on social media in fiqh learning. This research employs a qualitative approach using a library research method. The data were obtained from various literature sources such as books and journal articles relevant to the study of maqasid al-shari’ah, digital literacy, and Islamic education. The results indicate that the internalization of hifz al-‘aql can be implemented through strengthening digital religious literacy that encourages students to understand religious arguments rationally, analyze religious information, and think critically when dealing with various religious issues on social media.