cover
Contact Name
Avi Meilawati
Contact Email
avimeilawati@uny.ac.id
Phone
+6285820103395
Journal Mail Official
avimeilawati@uny.ac.id
Editorial Address
Jl. Colombo no 1 Yogyakarta
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Ikadbudi : Jurnal Ilmiah Bahasa, Sastra, dan Budaya Daerah
ISSN : 20897537     EISSN : 26858282     DOI : https://doi.org/10.21831/ikadbudi.v13i1
Ikadbudi journal is a journal belonging to the professional organization IKADBUDI (Indonesian cultural lecturer association) which accommodates thoughts and research on language, literature, regional culture and learning.
Articles 117 Documents
MODEL VOCABULARY SELF-COLLECTION STRATEGY (VSS) DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA Usep Kuswari Usep Kuswari
JURNAL IKADBUDI Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v7i1.26890

Abstract

MODEL VOCABULARY SELF-COLLECTION STRATEGY (VSS) DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA Usep KuswariUniversitas Pendidikan Indonesiausep.kuswari@upi.edu, usep_kuswari@yahoo.com  AbstrakPentingnya kemampuan membaca yang baik dirasakan dan dituntut dalam pembelajaran bahasa pertama. Para pendidik, filosof, psikolog dan lain-lain telah lama mencurahkan perhatian pada proses pembelajaran membaca. Mereka memandang kemampuan ini sebagai suatu kemajuan besar yang pernah dicapai dalam sejarah peradaban manusia. Hasil yang telah dicapai dalam pembelajaran membaca bahasa Sunda masih belum memuaskan dan masih banyak kendala. Kendala yang paling utama berdasarkan pengalaman adalah belum adanya strategi atau model membaca yang efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca. Untuk meningkatkan kemampuan membaca bahasa Sunda, dosen atau dosen harus berupaya mengembangkan dan mengimplementasikan berbagai pendekatan, metode, dan teknik yang tepat dan efektif serta sesuai dengan kebutuhan belajar para mahasiswa yang sedang belajar membaca bahasa Sunda. Salah satu model yang perlu dicoba adalah model pembelajaran Vocabulary Self-Collection Strategy (VSS). Penelitian ini dirancang melalui (a) pengembangan model pembelajaran Membaca Bahasa Sunda , (b) mendesain eksperimen, dan (c) pelaksanaannya. Melalui penerapan Model Pembelajaran VSS, kemampuan membaca bahasa Sunda pembelajar meningkat, kualitas pembelajaran VSS sangat baik dan menarik. Model pembelajaran VSS efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca bahasa Sunda terutama dalam aspek kosakata. Kata Kunci:  VSS, efektif, membaca
Unsur-unsur budaya upacara adat Kawin Cai di kabupaten kuningan untuk bahan ajar membaca artikel budaya Sunda di SMA kelas XII Pitradi, Pitradi; Ropiah, Opah
Jurnal IKADBUDI Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v13i1.72997

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan: 1) pelaksanaan upacara adat Kawin Cai di Kabupatén Kuningan; 2) unsur-unsur budaya upacara adat Kawin Cai di Kabupatén Kuningan, dan 3) desain bahan ajar artikel budaya upacara adat Kawin Cai di Kabupaten Kuningan untuk mata pelajaran Bahasa Sunda di SMA Kelas XII. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakannya yaitu pedoman wawancara, kamera, dan alat tulis. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tokoh budaya upacara adat Kawin Cai. Hasil penelitian ini adalah: 1) pelaksanaan upacara adat Kawin Cai terdiri dari 4 kegiatan yaitu menyembelih kambing, menjemput air, penyambutan utusan penjemput air, dan pelaksanaan Kawin Cai; 2) unsur-unsur budaya yang terdapat dalam upacara adat Kawin Cai terdiri dari : a) ada dua bahasa yang digunakan yaitu Sunda dan Indonesia; b) dalam sistem pengetahuan adanya ilmu hitungan palintangan; c) sistem organisasi sosial masyarakat terdiri dari 7 pemerintahan desa yaitu Babakanmulya, Jalaksana, Ciniru, Padamenak, Nanggerang, Sadamantra, dan Maniskidul; d) peralatan yang digunakan adalah keris, kendi, totolok, dan payung; e) mata pencaharian masarakatnya adalah petani dan pengrajin; f) sistem kepercayaannya adanya ajaran agama Islam, dan; g) kesenian yang digunakan adalah seni tari dan seni musik Sunda; dan 3) upacara adat Kawin Cai di Kabupaten Kuningan bisa dijadikan sebagai bahan ajar membaca artikel budaya pada mata pelajaran Bahasa Sunda kelas XII.Kata Kunci: Artikel Budaya, Bahan Ajar, Kawin Cai, Unsur Budaya, Upacara Adat AbstractThe purpose of this research is to describe: 1) the implementation of the Kawin Cai traditional ceremony in Kuningan Regency; 2) the cultural elements of the Kawin Cai traditional ceremony in Kuningan Regency, and 3) the design of teaching materials for cultural articles of the Kawin Cai traditional ceremony in Kuningan Regency for Sundanese language subjects in SMA Class XII. This is a qualitative descriptive research. Data collection techniques in this study used interviews, observation, and documentation techniques. The instruments used are interview guidelines, cameras, and stationery. The data sources used in this research are cultural figures of the Kawin Cai traditional ceremony. The results of this research are: 1) the implementation of the Kawin Cai traditional ceremony consists of 4 activities, namely slaughtering goats, fetching water, welcoming water fetching messengers, and carrying out Kawin Cai; 2) the cultural elements contained in the Kawin Cai traditional ceremony consist of: a) there are two languages used, namely Sundanese and Indonesian; b) in the knowledge system there is a science of counting palintangan; c) the community social organization system consists of 7 village governments namely Babakanmulya, Jalaksana, Ciniru, Padamenak, Nanggerang, Sadamantra, and Maniskidul; d) the tools used are krises, jugs, totolok, and umbrellas; e) the livelihoods of the community are farmers and craftsmen; f) the belief system is the teachings of Islam, and; g) the arts used are Sundanese dance and music; and 3) the Kawin Cai traditional ceremony in Kuningan Regency can be used as teaching material for reading cultural articles in class XII Sundanese language subjects.Keywords: Cultural Articles, Teaching Materials, Kawin Cai, Cultural Elements, Traditional Ceremony
Peningkatan Literasi Cerita Wayang sebagai Upaya Pemertahanan Nilai-Nilai Budaya Lokal - Alfiah
JURNAL IKADBUDI Vol 5, No 12 (2016): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v5i12.16746

Abstract

AbstrakWayang merupakan salah satu wahana atau alat pendidikan watak yang efektif, karena wayang mengajarkan ajaran dan nilai tidak secara dogmatis dan teoritis sebagai indoktrinasi, tetapi secara demokrasi dan konkrit dengan menghadirkan kehidupan tokoh-tokoh sebagai teladan yang nyata. Melalui ajaran moral yang berupa ungkapan nilai-nilai keluhuran bagi manusia secara lahir dan batin yang termuat di dalam cerita wayang, dapat dijadikan sebagai teladan hidup guna membina sifat manusia secara berketuhanan, pribadi, dan sosial. Ironisnya, muatan nilai-nilai luhur dalam cerita wayang tersebut belum mampu tercerna secara optimal oleh masyarakat, khususnya generasi muda karena pada umumnya mereka kurang menguasai bahasa Jawa. Keterbatasan dalam pemahaman penggunaan bahasa Jawa menjadi kendala utama dalam pemahaman isi cerita wayang.Berdasarkan fenomena yang cukup memprihatinkan tersebut, mendorong munculnya berbagai upaya untuk menjembatani pemertahanan nilai-nilai budaya lokal dalam bentuk cerita wayang sebagai alternatif media pendidikan karakter pada generasi muda dalam  menghadapi bebasnya arus informasi sebagai dampak dari MEA. Dalam hal ini, peningkatan literasi cerita wayang menjadi konsentrasi yang perlu diberdayakan. Adapun upaya peningkatan literasi tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain: 1) penyediaan buku cerita wayang yang komunikatif dan inovatif bagi anak usia dini; 2) penerapan metode dan media pembelajaran yang kreatif dan inovatif dalam pembelajaran bahasa Jawa di sekolah; 4) penugasan siswa untuk menonton pertunjukan wayang secara rutin oleh guru bahasa Jawa . Melalui upaya tersebut diharapkan cerita wayang dapat tercerna secara optimal sehingga generasi muda mampu memahami dan meneladani nilai-nilai luhur yang tersirat di dalamnya. Kata kunci: literasi, cerita wayang, nilai-nilai budaya lokal
SENI KUNTULAN BANYUWANGI: Keberlanjutan dan Perubahannya - Karsono
JURNAL IKADBUDI Vol 3, No 10 (2014): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v3i10.12041

Abstract

Kuntulan merupakan seni pertunjukan musik dan tarian yang hidup dan berkembang di Banyuwangi. Kuntulan merupakan potret budaya musik tradisi yang unik, karena di dalamnya menyatukan elemen-elemen musik dari berbagai kebudayaan, di antaranya budaya musik Jawa, Bali dan budaya Osing, masyarakat pribumi asli Banyuwangi. Artikel ini bertujuan untuk melihat realitas kesejarahan dan perkembangan yang terjadi dalam seni Kuntulan. Selain itu, dalam artikel ini juga dibahas mengapa terjadi proses keberlanjuatan dan sekaligus perubahan dalam seni kuntulan, dari seni Islami menuju seni sekuler. Artikel ini merupakan hasil kajian yang menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa pengamatan, studi diskografi, wawancara, dan studi pustaka. Analisa data menggunakan teknik triangulasi data dengan model analisis budaya yang difokuskan pada tiga ranah yaitu musikal, sosial, dan budaya. Hasil kajian menjelaskan bahwa seni pertunjukan Kuntulan merupakan kelanjutan dari seni pertunjukan Islami yang disebut Hadrah yang berkembang di Banyuwangi seiring masuknya ajaran agama Islam. Dalam perkembangannya sekarang ini, Kuntulan fungsinya tidak hanya untuk aktivitas dakwah Islami tetapi juga untuk fungsi hiburan yang sifatnya sekuler. Perkembangan unsur-unsur sajian pertunjukan, baik unsur musikal maupun tarian dikembangkan berbasis kreasi artistik dan selera estetik masyarakat Osing, meskipun menggunakan elemen-elemen musik dari budaya lain yang ada di Banyuwangi.Kata kunci: Kuntulan, BanyuwangiAbstractKuntulan is the performing arts of music and dance that live and thrive in Banyuwangi. Kuntulan is a portrait of a unique cultural tradition of music, because it brings together the elements of music from various cultures, including Javanese, Balinese, and Osing musical culture, indigenous peoples of Banyuwangi. This article aims to explain the continuity and change of Kuntulan. Furthermore, this article also discussed why the continuity and change occurs on Kuntulan changes, especially Islamic art toward secular art. This article is the result of a study using qualitative methods, which data collection techniques use an observation, study discography, interviews, and literature. Analysis of the data using data triangulation technique with a model of cultural analysis that focused on three areas, namely musical, social, and cultural. The results of the study explained that Kuntulan is continuance from Islamic performing arts called Hadrah, that growing in Banyuwangi with the entry of Islam. In this current development, Kuntulan function is not only to Islamic missionary activity but also to the secular nature of entertainment functions. The development of the elements of performances, both musical and dance elements are developed based artistic creations and aesthetics tastes of Osing community, despite using musical elements from other cultures that exist in Banyuwangi.Keywords: Kuntulan, Banyuwangi
TRADISI NIKAH KAWIN MASYARAKAT KECAMATAN RUMBAI KOTA PEKANBARU Juswandi Juswandi
JURNAL IKADBUDI Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v7i1.26879

Abstract

AbstrakPenelitian ini berjudul “Upacara Aadat Perkawinan Masuarakat Kecamatan Rumbai Pekanbaru Provinsi Riau” Tujuan penelitianiniadalah mengetahui dan tata cara upacara adat perkawinan.penelitian ini berlokasi di Kecamatan Rumbai Provinsi Riau. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan deskriptif dengan cara pendekatan wawancara dan di rekam kemudian di catat. Setiap suku dan etnik setiap suku dan bangsa memiliki adat dan tradisi yang berbeda-beda, hal ini terlihat ketika adat pernikahan khususnya di Kecamatan Rumbai Pekanbaru mulai dari persiapan pernikahan sampaike pelaminan.Kata kunci : Upacara PerkawinanAbstrackThe litle of the resarch is traditional marriage for the society in the districk of rumbai-pekanbaru. The aims of the resarch are to investigate, analyze And documenting the procedures of traditional marriage ceremony this area.the research is located in the districk of rumbai-pekanbaru. In analyzing this research, the writer applies a descriptive qualtative method in wich the result of the analyzis will be descrobed clearly. The data was taken by using interview, records and notes,the result shown that every tribe and ethnic has different customs and traditions. This can be seen at the time of the marriage process especially in the districk of rumbai-pekanbaru starting from marriage preparation until wedding ceremony.Keywords: traditional marriage cermony, customs and traditions
Pembelajaran Sastra Melalui Musikalisasi puisi Jawa untuk Meningkatkan Motivasi Minat Belajar Galang Prastowo
Jurnal IKADBUDI Vol 10, No 2 (2021): JURNAL IKADBUDI
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v10i2.61623

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai pembelajaran sastra melalui musikalisasi puisi Jawa untuk meningkatkan motivasi atau minat belajar peserta didik. Musikalisasi puisi Jawa digunakan sebagai strategi pembelajaran sastra yang dapat menyenangkan siswa dan mengandung unsur hiburan, sehingga pembelajaran tidak membosankan dan memiliki kreativitas agar siswa dan guru dapat melakukan kegiatan pembelajaran dengan penuh semangat dan antusias yang tinggi. Melalui bantuan multimedia berupa musikalisasi dalam sebuah pembelajaran, pendidik juga dapat menyajikan teks, gambar, suara, dan video dengan tampilan yang lebih konkrit, dan lebih menarik bagi peserta didik. Dengan demikian, materi pembelajaran yang disajikan dapat lebih menggugah minat dan memotivasi peserta didik untuk belajar, selain itu juga dapat mengakomodasi semua kegiatan pembelajaran bahasa dan sastra secara interaktif melalui keterampilan mendengarkan, membaca, menulis dan berbicara. 
MERUNUT LEADERSHIP CHARACTERS RAJA-RAJA JAWA BERDASARKAN MANUSKRIP KLASIK Endang Nurhayati; Hesti Mulyani; Venny Indria Ekowati
JURNAL IKADBUDI Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v6i1.18189

Abstract

ABSTRAKPenelitian yang berjudul Merunut Leadership Characters Raja-Raja Jawa Berdasarkan Manuskrip Klasik dan Implementasinya pada Kepemimpinan Masa Kini ini bertujuan untuk: mendeskripsikan nilai-nilai kepemimpinan para raja Jawa yang terkandung dalam manuskrip Jawa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan sumber data berupa manuskrip klasik Jawa yang berjudul Serat Wedhatama dan Serat Wulangreh. Berdasarkan hasil pembahasan, Analisis dilakukan dengan menggunakan teknik analisis kualitatif. Berdasarkan hasil pembahasan, didapatkan simpulan bahwa leadership characters yang paling ditekankan dalam dua karya sastra karangan raja-raja Jawa ini berturut-turut adalah: rendah hati, waspada, sabar, taat beragama, prihatin, suka bekerja keras, mampu mengintrospeksi diri, berpendirian teguh, menjunjung tinggi nilai kesusilaan, tekun, santun, dan lain-lain.Kata kunci: karakter kepemimpinan, raja, Jawa, manuskrip ABSTRACTThe research entitled Leadership Characters of Java Kings Based on Classical Manuscripts and Its Implementation on Today's Leadership aims to: describe the values of the leadership of the Javanese kings contained in the Javanese manuscripts. This research uses literature research method with data source in the form of Javanese classical manuscript entitled Serat Wedhatama and Serat Wulangreh. Based on the results of the discussion, the analysis is done by using qualitative analysis techniques. Based on the results of the discussion, it is found that the most emphasized leadership characters in these two works of literary essay of Javanese kings are: humble, alert, patient, devout, concerned, hardworking, able to introspect, uphold the value of decency, diligence, courteous, and others.Keywords: leadership characters, kings in java, manuscript
AJARAN YANG TERKANDUNG DALAM SERAT BAWARASA OLEH R. TANOYO Aji Tulus Prasetyo
JURNAL IKADBUDI Vol 10, No 1 (2021): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v10i1.50154

Abstract

AbstrakPenelitian yang berjudul “Ajaran yang Terkandung dalam Serat Bawarasa Oleh R.Tanoyo” berlatar belakang minimnya minat dalam mengkaji naskah kuno. Naskah hanya tersimpan sebagai arsip di perpustakaan daerah. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah “apakah ajaran yang terkandung dalam Serat Bawarasa?”. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguak ajaran yang terkandung dalam SB. SB termasuk serat murtatuli yang ditulis tangan atau manuskrip beraksara jawa dengan penulisan dalam bentuk prosa. Serat bawarasa tersimpan di perpustakaan Sonobudaya Yogyakarta diberi kode PB C.161 12 Bhs Jawa Aks Jawa Prosa Rol 136 no. 19. PB artinya Panti Budaya yang berarti naskah aslinya tersimpan di Panti Budaya, Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan kajian filologi. Ajaran yang ada dalam SB adalah Seperti pepatah pohon besar dan kecil. Menjadi manusia harus hidup rukun dan saling membantu. Meskipun sebagai pejabat juga harus menerima gagasan dari rakyat kecil dan semua pekerjaan tidak bisa hanya dikerjakan pejabat sendiri, pejabat dan rakyat harus hidup rukun dan saling menolong. Apabila ada rakyat menyuarakan pendapat, pejabat harus menerima dengan ikhlas dan sadar, sadar akan diri sendiri atau instropeksi. Semua itu agar tidak terjadi kesalahan. Kata Kunci : Ajaran, Serat, Bawarasa
PAHAM KEKUASAAN JAWA DALAM BUDAYA POLITIK ORDE BARU DI INDONESIA SEBUAH KAJIAN ANTROPOLOGI SASTRA Suwardi Endraswara
JURNAL IKADBUDI Vol 3, No 10 (2014): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v3i10.11492

Abstract

Dosa budaya politik orde baru banyak dipengaruhi oleh penyalahgunaan paham kekuasaan Jawa. Kekuasaan Jawa yang mustinya adiluhung, berdasarkan wahyu atau pulung telah dibelokan oleh penguasa sehingga tumbuh sistem patronase (bapakisme,) yang melahirkan budaya KKN (kolusi, korupsi, dan nepotisme). Hal itu terjadi dalam wawasan antropologi sastra karena ada pengaruh zaman edan yaitu sebuah era yang memungkinkan tcrjadinya kekacauan dan kebimbangan. Pada saat semacam itu muncul pula gerakan ratu adil yang menginginkan lahirnya panguwasa sejati artinya pemerintahan baru yang legitimate.Hasil kajian terhadap teks-teks Jawa secara antropologi sastra dan historis, tampak bahwa pengaruh zaman edan terhadap budaya politik orde baru juga telah memunculkan budaya ewuh pakewuh sehingga pengadilan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Zaman edan juga telah memicu lahirnya budaya ingin menyenangkan atasan. Akibatnya dalam pemerintahan orde baru sering terjadi upeti dan sogok-menyogok kepada atasan. Atas dasar ini, pemerintahan menjadi tidak bersih dan berwibawa, melainkan penuh dengan intrik seperti dagang sapi. Gema pemerintahan orde baru yang kotor itu ternyata juga berimbas pada orde reformasi. Lahirnya budaya politik yang kurang sehat (kontra) di atas, karena terdorong juga oleh godaan kekuasaan dan kewibawaan. Kekuasaan dan kewibawan dianggap sesuatu yang sakral dan sakti sehingga terjadi keinginan mempertahankan status quo. Akibatnya, lahir pemerintahan yang otokratik, seperti tempu dahulu di era kerajaan. Jika di era kerajaan terjadi demokrasi demokrasi semu, era orde baru dan orde reformasi pun tidak jauh berbeda. Dalam konteks ini,secara antropologi sastra ada sebuah warisan historis yang hendak dipertahankan oleh pelaku budaya kekuasaan. Pemerintahan yang berdemokrasi semu biasanya anti kritik dan mengasumsikan bahwa pemerintah selalu benar.Kata kunci: kekuasaan Jawa, orde baru, dan antropologi sastra
BUDAYA JAWA DALAM DIASPORA: TINJAUAN PADA MASYARAKAT JAWA DI SURINAME - Darmoko
JURNAL IKADBUDI Vol 5, No 12 (2016): Jurnal Ikadbudi
Publisher : Fakultas Bahasa Seni dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ikadbudi.v5i12.12307

Abstract

Javanese society and culture has been forged by the situation and condition of the times centuries. Cultural influences from outside, such as the Hindu - Buddhist, Islamic, Chinese, and European, indigenous cultures should lead to "adapt", the acculturation strategy. Local genius to filter incoming external cultural influence of local culture. Javanese culture and society continues to change, whether caused by external and internal factors.Policy and socio-economic problems caused the population of a particular region should move. Dutch colonial period to independence there has been a migration of people from rural to urban areas of Java, from a rural island to another, and from a village in Indonesia to foreign countries. In new areas of the Javanese form a new community as the Javanese developed overseas and that's where Javanese culture that was once their preserve, coached, and developed, such as the Java community in Jakarta, Deli Serdang - North Sumatra, Sitiyung - west Sumatra, Lampung, and Suriname. Java community in this new place coexist and mingle with other tribes and not seldom of those who later married and have children and grandchildren .In the early days of the country Suriname frequent conflicts between tribes that are in there. Suriname Javanese people often act as peacemaker for the tribes opposing it. Javanese cultural values operate to defuse a tense situation and soften the situation and condition of the nuances of violence. The value of local knowledge of Java can be used as an "heirloom" wherever people are and in what circumstances they experience. The value of local knowledge of Java prioritize a sense of leadership and uphold the principles of equality and harmony and respect. This paper aims to explore the value of indigenous leadership that operates on Java Javanese in Suriname. Results will be achieved this paper determined the value of local knowledge is Java - oriented leadership as a solution for the value of a conflicts in society.Keywords : Java, culture, values, diaspora, Suriname

Page 2 of 12 | Total Record : 117