cover
Contact Name
Ahmad Yousuf Kurniawan
Contact Email
frontbiz@ulm.ac.id
Phone
+6281211109125
Journal Mail Official
frontbiz@ulm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Agribisnis, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat Jl. Jend. Ahmad Yani Km. 36, Banjarbaru, Kalimantan Selatan 70714, Indonesia
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Frontier Agribisnis
ISSN : -     EISSN : 30481260     DOI : https://doi.org/10.20527/frontbiz
Frontier Agribisnis adalah jurnal yang dikelola Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat. Tema jurnal ini mencakup agribisnis secara umum, meliputi: analisis penyediaan input pertanian, analisis usaha tani dan perkebunan, analisis pengolahan dan pemasaran hasil pertanian, penyuluhan dan komunikasi pertanian, pemberdayaan masyarakat, dan analisis kebijakan pertanian. Terbit 4 kali dalam satu tahun (Maret, Juni, September dan Desember).
Articles 36 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2023)" : 36 Documents clear
Persepsi Konsumen Remaja terhadap Jamu Gendong di Kota Banjarbaru ( Studi Kasus Mahasiswa-Mahasiswi Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat) Salsabilla Arsyad; Hairin Fajeri; Djoko Santoso
Frontier Agribisnis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i2.9425

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi mahasiswa dan mahasiswi Agribisnis di Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat terhadap keputusan pembelian produk jamu gendong dan menganalisis atribut yang dipilih terhadap keputusan pembelian produk jamu gendong di Kota Banjarbaru. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 292 Mahasiswa Agribisnis yang masih aktif. Dari jumlah tersebut yang mendapatkan respon sebanyak 90 orang dan tidak merespon sebanyak 202 orang. Dari 90 orang yang merespon hanya diambil 80 orang, dikarenakan 10 orang tidak memenuhi syarat sebagai responden. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Teknik analisis yang digunakan adalah dengan uji chi kuadrat dan melihat frekuensi jawaban paling banyak dipilih konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis kelamin, suku terhadap atribut-atribut jamu gendong. Sedangkan atribut yang paling dipertimbangkan dalam keputusan pembelian jamu gendong adalah kebersihan jamu gendong, memiliki rata-rata tertinggi dalam dalam atribut yang dipilih mahasiswa-mahasiswi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat.
Karakteristik Petani dan Analisis Usahatani Bawang Daun di Kelurahan Landasan Ulin Utara Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru Adi Atma Yoga; Hamdani Hamdani; Nurmelati Septiana
Frontier Agribisnis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i2.9416

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik petani dan mengetahui besar biaya, penerimaan, pendapatan, dan keuntungan, serta untuk mengetahui kelayakan usahatani bawang daun di Kelurahan Landasan Ulin Utara Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru. Data primer di peroleh melalui wawancara langsung dengan pelaku usahatani di lokasi penelitian menggunakan daftar pertanyaan atau kuisioner yang telah disediakan. Sedangkan data sekunder diperoleh dari sumber buku, jurnal, dinas atau lembaga terkait dengan penelitian ini di Kota Banjarbaru, serta bahan-bahan pustaka lainnya. Responden ditentukan dengan metode rancangan sampling jenuh atau sensus. Semua populasi petani sebagai responden yaitu sebanyak 30 orang petani. Hasil penelitian menunjukkan terdapat beberapa karakteristik yang ada di tempat penelitian seperti petani masuk kedalam kategori dewasa akhir, bersuku Jawa, tingkat pendidikan rendah, berpengalaman dalam berusahatani, luas lahan tergolong sempit, mayoritas mengikuti penyuluhan pertanian, mayoritas mengikuti organisasi sosial, alat transportasi menggunakan sepeda motor, mayoritas menggunakan HP android dan memiliki internet, dan seimbang dalam kepemilikan sosia media. Biaya eksplisit sebesar Rp. 11.113.868/usahatani (Rp. 28.255.595/ha), biaya implisit sebesar Rp. 1.390.178/usahatani (Rp. 3.534.351/ha), total biaya (TC) sebesar Rp. 12.504.046/usahatani (Rp. 31.789.954/ha). Penerimaan total sebesar Rp. 28.304.500/usahatani (Rp. 71.960.593/ha), pendapatan sebesar Rp. 17.190.633/usahatani (Rp. 43.704.998/ha). Kuntungan adalah sebesar Rp. 15.800.454/usahatani (Rp. 40.170.647/ha). Nilai RCR (Revenue Cost Ratio) adalah sebesar 2,26 atau lebih dari 1, artinya usahatani bawang daun di Kelurahan Landasan Ulin Utara menguntungkan dan layak untuk dikembangkan.
Analisis Usahatani Kopi Robusta di Desa Lok Tunggul Kecamatan Pengaron Kabupaten Banjar Didit Gunawan; Hairi Firmansyah; Yudi Ferrianta
Frontier Agribisnis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i2.9405

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyelenggaraan usahatani buah kopi robusta, menganalisis biaya, penerimaan, pendapatan, keuntungan dalam usahatani kopi robusta serta permasalahan dalam usahatani kopi robusta. Jumlah responden sebanyak 6 orang diambil menggunakan metode sampel jenuh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelenggaraan usahatani kopi robusta mendapatkan hasil panen yang baik mulai dari pengolahan lahan sampai dengan teknik penanaman serta pemeliharaan yang tepat dan menyesuaikan waktu. Rata-rata biaya total yang harus dikeluarkan petani yaitu sebesar Rp 32.666.259 per usahatani atau Rp 27.221.885/ha dengan rata-rata biaya eksplisit sebesar Rp 23.742.744 per usahatani atau Rp 19.785.622/ha dan rata-rata biaya implisit sebesar Rp 8.923.515 per usahatani atau Rp 7.436.263/ha. Rata-rata penerimaan usahatani kopi robusta tahun 2022 diperoleh sebesar Rp 45.000.000 per usahatani atau Rp 37.500.000/ha. Rata-rata pendapatan usahatani buah kopi robusta tahun 2022 sebesar Rp 21.248.580 per usahatani atau Rp 17.707.150/ha. Sedangkan rata-rata keuntungan usahatani kopi robusta sebesar Rp 12.166.354 per usahatani atau Rp 10.138.628/ha. Pada usahatani kopi robusta mempunyai masalah pada hama PBKo dan banjir. Hama PBKo, kumbang betina mulai menyerang pada 8 minggu setelah pembungaan saat buah kopi masih lunak untuk mendapatkan makanan sementara, kemudian menyerang buah kopi yang sudah mengeras untuk berkembang biak. Kumbang betina akan menggerek bagian ujung bawah, dan biasanya adanya terlihat adanya kotoran bekas gerekan di sekitar lubang masuk. Banjir di Desa Lok Tunggul Kecamatan Pengaron Kabupaten Banjar sangat mempengaruhi usahatani kopi robusta, bukan hanya gsgal panen, banjir tersebut pun merusak lahan serta tanaman kopi robusta dan mengakibatkan petani kopi mengolah dan memelihara tanaman kopi robusta dari awal.
Analisis Sensitivitas Kelayakan Usahatani Cabai Besar di Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin Muhammad Amin; Nuri Dewi Yanti; Ahmad Yousuf Kurniawan
Frontier Agribisnis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i2.9483

Abstract

Tanaman cabai besar banyak diusahakan oleh petani di beberapa wilayah di Indonesia, hal tersebut dikarenakan secara topografi wilayah Indonesia yang cocok untuk budidaya tanaman cabai besar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya, penerimaan, keuntungan, kelayakan dan tingkat sensitivitas kelayakan usahatani cabai besar di Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Februari 2023 hingga Juni 2023. Metode penarikan contoh yang digunakan adalah metode sensus yaitu semua petani cabai besar pada tahun 2022 yang berjumlah 30 orang dijadikan sebagai responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya total usahatani cabai besar yang dikeluarkan selama satu kali musim tanam sebesar Rp37.777.599/usahatani, dengan penerimaan yang diperoleh sebesar Rp92.177.100/usahatani, sehingga diperoleh keuntungan sebesar Rp54.399.501. Secara finansial usahatani cabai besar layak untuk diusahakan karena nilai RCR yang diperoleh lebih dari 1 yaitu sebesar 2,44/usahatani/musim tanam. Usahatani cabai besar tidak sensitif terhadap ketiga skenario yang dibuat dalam uji kelayakan, yaitu kenaikan biaya produksi, penurunan hasil produksi dan penurunan harga cabai besar. Hal ini dapat dilihat ketika biaya produksi naik sebesar 7% atau hasil produksi turun sebesar 25% atau harga cabai besar turun 45% diperoleh nilai RCR masih lebih dari 1.
Analisis Pemasaran Kulit Kayu Manis di Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan Candra Wahyu Pratama; Kamiliah Wilda; Ahmad Yousuf Kurniawan
Frontier Agribisnis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i2.9430

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis saluran pemasaran kulit kayu manis, fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan serta efisiensi pemasaran kulit kayu manis di Kecamatan Loksado, Menganalisis biaya pemasaran dan marjin pemasaran kulit kayu manis di Kecamatan Loksado. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan yang dilaksanakan mulai dari bulan Juni 2022 sampai dengan bulan Desember 2022. Data pada penelitian ini merupakan data primer yang diperoleh secara langsung dari petani, pedagang pengumpul, dan pedagang pengecer dengan melakukan wawancara yang berpedoman pada daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah disusun sebelumnya dan data sekunder yang diperoleh dari serta dinas/instansi dan sumber lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini. Metode penarikan contoh pada penelitian ini dilakukan menggunakan metode purposive sampling dan proporsional random sampling sehingga didapatkan sampel sebanyak 40 orang petani. Efisiensi pemasaran yang diproleh dari hasil analisa efisiensi ekonomis dan efisiensi teknis, disimpulkan bahwa ketiga saluran pemasaran efisien. Biaya pemasaran yang paling besar terdapat pada saluran I yaitu sebesar Rp. 2.600/Kg dengan total margin pemasaran sebesar Rp. 40.000/Kg. Sedangkan biaya pemasaran yang paling kecil terdapat pada saluran II yaitu sebesar Rp. 1.900/Kg dengan total margin pemasaran sebesar Rp. 40.000/Kg. Pada saluran III biaya pemasaran yang dikeluarkan sebesar Rp. 2.560/Kg dengan total margin pemasaran sebesar Rp. 58.333/Kg.
Analisis Pemasaran Bawang Daun (Allium Fistolisum L.) yang Diproduksi di Kelurahan Landasan Ulin Utara Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru Normayanti Normayanti; Mariani Mariani; Luthfi Fatah
Frontier Agribisnis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i2.9421

Abstract

Bawang daun merupakan salah satu jenis sayuran dalam kelompok bawang yang lazim ditanam di Indonesia. Produk yang dihasilkan dari kegiatan bercocok tanam tersebut kemudian dipasarkan melalui berbagai saluran pemasaran. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis saluran pemasaran, besar biaya, margin, keuntungan pemasaran dan Share yang diterima produsen atau petani, dan permasalahan yang terjadi di lembaga pemasaran yang terlibat. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Landasan Ulin Utara Kecamatan Liang Anggang Kota Banjarbaru dari bulan Juli 2022 sampai dengan Maret 2023. Lokasi penelitian dipilih secara purposive sampling. Untuk menentukan metode dalam pengambilan sampel petani yaitu dengan metode simple random sampling dari 112 orang populasi petani dan diambil 28 petani bawang daun. Sedangkan untuk pedagang pengumpul dan pengecer dengan metode snowball sampling. Berdasarkan hasil dari penelitian terdapat dua saluran pemasaran yang berbeda. Hasil yang didapat dari besarnya biaya, margin dan keuntungan dari saluran I bawang daun, untuk tempat pemasarannya yaitu di pasar Laura Banjarbaru adalah sebesar Rp 3.356,66/kg, Rp 5.250,00/kg dan Rp 533,34/kg. dan untuk besarnya biaya, margin dan keuntungan pada saluran II bawang daun adalah yaitu sebesar Rp 4.207,56/kg, Rp 7.000,00/kg dan Rp 2.792,44/kg, untuk wilayah pemasarannya di pasar Pom Liang Anggang. Share yang didapat petani pada saluran I yaitu sebesar 75,29%, dan untuk pedagang pengecer sebesar 24,70%. Share yang didapat petani pada saluran II yaitu sebesar 65,85%, untuk pedagang pengumpul yaitu sebesar 9,75%, dan untuk pedagang pengecer sebesar 24,39%. Permasalahan yang terjadi di petani yaitu kurangnya pengetahuan mengenai harga pasar. Untuk pedagang pengumpul masalah yang dihadapi yaitu kualitas dan kerusakan bawang daun yang diterima dari petani. Sementara yang dihadapi pedagang pengecer yaitu penanganan sebelum habis terjual.
Analisis Keuntungan Pengepul Kelapa Sawit di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut Hasbi Noor; Sadik Ikhsan; Muhammad Fauzi
Frontier Agribisnis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i2.9411

Abstract

Kecamatan Panyipatan merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Tanah Laut yang sebagian petani bermata pencaharian sebagai petani kelapa sawit dan sebagian menjadi pengepul kelapa sawit. Pada umumnya, petani kelapa sawit tidak menjual langsung ke pabrik melainkan mereka menjual hasil taninya ke pengepul yang ada disekitar daerah. Peran Pengepul disini sangat penting bagi petani sebagai sarana petani untuk menjual buah sawit rakyat ke pabrik pengolahan dan memberikan penghasilan bagi petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keuntungan pengepul kelapa sawit di Kecamatan Panyipatan dan untuk mengetahui permasalahan pengepul kelapa sawit di Kecamatan Panyipatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode sensus dengan jumlah populasi sebanyak 17 orang pengepul kelapa sawit yang ada di Kecamatan Panyipatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya yang dikeluarkan oleh pengepul kelapa sawit rata- rata sebesar Rp 308.677.852/bulan dan penerimaan pengepul kelapa sawit rata-rata sebesar Rp 340.866.124/bulan, sehingga keuntungan yang diperoleh pengepul kelapa sawit di Kecamatan Panyipatan rata-rata sebesar Rp 32.188.272/bulan. Adapun permasalahan yang dihadapi oleh pengepul adalah adanya naik turunnya harga sawit, persaingan antar pengepul, grading buah berlebihan, mencari pelanggan kelapa sawit, kerusakan alat transportasi, naiknya harga solar dan proses sortir yang dilakukan kembali oleh pihak perusahaan penerima buah kelapa sawit.
Pengaruh Suasana Kedai Kopi, Harga, dan Lokasi Terhadap Loyalitas Konsumen Manupi Coffee di Kota Banjarbaru Rosari Rizqiya Farhana; Hairin Fajeri; Ana Fauziatun Nisa
Frontier Agribisnis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i2.9479

Abstract

Meningkatnya tren dan budaya mengonsumsi kopi di kalangan masyarakat Indonesia membuat para pebisnis domestik merespon fenomena ini dengan ramainya membuka gerai-gerai kedai kopi, jumlahnya terus meningkat hingga tiga kali lipat. Perkembangan tersebut juga terjadi di Kota Banjarbaru. Situasi tersebut mengakibatkan persaingan antarkedai kopi yang semakin kompetitif sehingga dibutuhkan atribut-atribut tertentu sebagai kelebihan sebuah kedai kopi untuk mempertahankan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh signifikan suasana kedai kopi, harga, dan lokasi terhadap loyalitas konsumen Manupi Coffee. Metode penarikan contoh yang digunakan adalah Nonprobability sampling dengan metode purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 51 responden. Metode pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner. Teknik analisis yang digunakan adalah Structural Equation Modeling Partial Least Square (SEM-PLS). Pada penelitian ini variabel eksogen yang digunakan adalah suasana kedai kopi (X1), harga (X2), dan lokasi (X3). Sementara itu, variabel endogen yang digunakan adalah Loyalitas Konsumen (Y). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Suasana kedai kopi berpengaruh positif sebesar 0,406 dan signifikan (H1 diterima) terhadap loyalitas konsumen Manupi Coffee di Kota Banjarbaru, (2) Harga berpengaruh positif sebesar 0,238 dan signifikan (H2 diterima) terhadap loyalitas konsumen Manupi Coffee di Kota Banjarbaru, dan (3) Lokasi berpengaruh positif sebesar 0,167, tetapi tidak signifikan (H0 tidak dapat ditolak) terhadap loyalitas konsumen Manupi Coffee di Kota Banjarbaru.
Analisis Usahatani Cabai Rawit (Capsicum frutescens) di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut Bayu Nurkholis; Masyhudah Rosni; Nina Budiwati
Frontier Agribisnis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i2.9426

Abstract

Cabai merupakan salah satu komoditas holtikultura yang dibutuhkan dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Cabai rawit merupakan jenis cabai yang banyak digunakan dalam masakan sehari-hari. Beragamnya masakan Indonesia yang menggunakan cabai rawit sebagai bahan baku membuat meningkatnya kebutuhan atau permintaan pasar akan cabai rawit. Hal ini berpotensi dapat meningkatkan penerimaan petani karena cabai rawit memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Panyipatan merupakan salah satu daerah dengan penanaman cabai terbesar di Tanah Laut dengan total luas lahan 42 ha pada tahun 2020. Hal ini membuat Kecamatan Panyipatan dijadikan tempat penelitian dalam usahatani cabai rawit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya, penerimaan, serta keuntungan usahatani cabai rawit di Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut. Disisi lain, penelitian ini juga menganalisis tentang kelayakan usahatani cabai rawit. Metode penarikan contoh yang digunakan dalam penelitian yaitu Simple Random Sampling dengan pengambilan secara acak 30 orang dari 72 orang sebagai sampel penelitian. Hasil dari penelitian, diketahui bahwa rata-rata dalam 1 periode tanam, biaya yang dikeluarkan petani per usahatani sebesar sebesar Rp18.923.150,00/ut atau Rp75.525.525,44/ha dengan rincian Rp197.750,00/ut atau Rp811.625,23/ha untuk biaya tetap dan Rp18.725.400,00/ut atau Rp74.713.900,20/ha untuk biaya variabel. Penerimaan usahatani cabai rawit rata-rata sebanyak Rp84.311.666,67/ut atau Rp336.201.020,61/ha. Keuntungan yang diperoleh setiap usahatani rata-rata yaitu Rp65.388.516,67/ut atau Rp260.675.495,18/ha dengan nilai RCR 4,52. Nilai ini berarti setiap 1 rupiah yang dikeluarkan petani, maka petani akan mendapat penerimaan sebanyak 4,52 rupiah. Dengan nilai lebih daripada 1, maka usahatani cabai rawit di Kecamatan Panyipatan layak untuk diusahakan.
Peran Penyuluh dalam Keberhasilan Petani Menanam Padi Unggul di Desa Binderang Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin Cindy Audini; Luthfi Fatah; Rifiana Rifiana
Frontier Agribisnis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i2.9417

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui peran penyuluh dalam keberhasilan petani menanam padi unggul didesa Binderang Kabupaten Tapin dan hambatan penyuluh dalam melakukan penyuluhan. Persiapan dan pelaksanaan penelitian sampai dengan penulisan laporan berlangsung dari bulan Mei 2021 sampai dengan bulan Januari 2023. Data yang digunakan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner sedangkan data sekunder diperoleh melalui BPS Kabupaten Tapin, Desa Binderang serta literatur melalui buku dan jurnal. Penentuan sampel menggunakan Slovin dan pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Analisis data menggunakan skala likert dan deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian peran penyuluh dalam keberhasilan petani menanam padi unggul di Desa Binderang sangat tinggi yaitu rata-rata sebesar 92,5%. Tiga indikator peran penyuluh menunjukkan hasil yang sangat tinggi yaitu motivator sebesar 93,1%, dinamisator sebesar 92,8% dan fasilitator sebesar 91,7%. Hambatan penyuluh dalam melakukan kegiatan penyuluhan yaitu sebesar 71,4%. Hambatan yang ada seperti penentuan jadwal pertemuan, akses jalan menuju tempat penyuluhan, anggota kelompok tani sulit mengerti informasi yang disampaikan, tidak ada kendaraan penyuluh saat akan melakukan kegiatan penyuluham, penerapan inovasi dan anggota yang kurang aktif dalam kelompok.

Page 3 of 4 | Total Record : 36