cover
Contact Name
Tyson Jeidi Jeri Supit
Contact Email
tysonsupit@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkardia@gmail.com
Editorial Address
8RPM+CPF, Kakaskasen, Tomohon Utara, Tomohon City, North Sulawesi
Location
Kota tomohon,
Sulawesi utara
INDONESIA
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 29862019     DOI : https://doi.org/10.69932/kardia
Adapun yang menjadi Fokus dan Ruang Lingkup dalam Jurnal KARDIA adalah: 1. Teologi Biblika (Perjanjian Lama & Perjanjian Baru) 2. Teologi Historika 3. Teologi Sistematika 4. Teologi Sosial dan Publik 5. Teologi Digital dan Internet of Things 6. Teologi Kontekstual 7. Misiologi Biblikal & Praktikal 8. Etika Kristen 9. Pendidikan Kristiani dalam Gereja, Keluarga & Sekolah
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 2 (2024): Agustus 2024" : 5 Documents clear
Tersembunyi tapi Nyata: Makna Pertolongan Allah dari Balik Layar dalam Kitab Ester Nendissa, Julio Eleazer; Manoppo, Febri Kurnia; Mongkau, Dedy Efendy
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v2i2.27

Abstract

Abstract: The theological meaning in the book of Esther is very difficult for lay people to understand because the name and power of God are not visible, so this is the characteristic and character of the book of Esther. The controversy over the book of Esther is when it maintains its spiritual existence so that it is tested whether the book of Esther is a holy book or not with various considerations regarding the controversy over the word of God. The purpose of this article is to explain and analyze the meaning of God's help based on God's absence throughout the storyline in the book of Esther so that God's invisible existence can be interpreted theologically. This article uses qualitative research with a library study approach, namely books and journals as references for researching existing problems. This article offers new understanding through the findings obtained, namely the theology of the book of Esther as a depiction of a woman able to provide resistance and appear confident and responsible because she was chosen by the king. Another finding, although the book of Esther does not contain the word God, God's help is also not visible or hidden, it can be felt by the figure of Esther in a real way through the incident of Esther being chosen by the king as queen, God's help through Esther which turned the situation around for the Jews. Abstrak: Makna teologis dalam kitab Ester sangat sulit dicerna sebagai kaum awam karena nama dan kuasa Allah tidak tampak secara jelas sehingga ini menjadi ciri serta karakter dari kitab Ester. Kontroversi kitab Ester ini ketika mempertahankan eksistensi kerohanian sehingga diuji kelayakan bahwa kitab Ester sejatinya kitab suci atau bukan dengan berbagai pertimbangan terhadap kontroversi kata Allah. Tujuan dari tulisan ini ialah menjelaskan dan menganalisis makna pertolongan Allah dengan berlandaskan pada ketidakhadiran Allah di kitab Ester yang secara sengaja tidak menceritakan sosok Allah dengan penuh kebaikan dan pertolongan untuk muncul dalam kitab tersebut sehingga keberadaan Allah yang tidak tampak itu bisa dimaknai secara teologis. Artikel ini memakai penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka yakni buku dan jurnal sebagai acuan untuk dipakai meneliti persoalan yang ada. Artikel ini menawarkan pemahaman baru lewat temuan yang didapatkan yaitu teologi kitab Ester sebagai gambaran sosok wanita mampu memberikan perlawanan dan tampil percaya diri serta bertanggungjawab karena dipilih oleh raja. Temuan lainnya, walaupun kitab Ester tidak mengandung kata Allah dan pertolongan Allah juga tidak tampak kasat mata atau tersembunyi itu bisa dirasakan oleh sosok Ester secara nyata melalui peristiwa Ester dipilih oleh raja sebagai ratu, pertolongan Allah melalui Ester yang membalikkan keadaan Yahudi.
Profil Gamaliel sebagai Role Model Pejabat Gereja: Kajian Hermeneutik Naratif Kisah Para Rasul 5:26-42 Hendro; Masinambow, Yornan; Bollu, Paulus; Lumintang, Sheren Angelina
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v2i2.28

Abstract

Abstract: This paper is motivated by the lack of exemplary church officials in carrying out the duties and responsibilities entrusted to serve church members. Therefore, the church needs role models from the Bible. We chose Gamaliel because he was a religious leader who studied the Scriptures (Torah) and set an example in terms of thinking, teaching, and making decisions with wisdom. Thus, the purpose of this article is to examine and analyze the text of Acts 5:26-42 based on a narrative hermeneutic interpretation approach and explain implicatively the essence of this text for today's church officials. A qualitative research approach through literature study was utilized through the critical narrative hermeneutic method. The researchers collected data either through journal articles, books or documents relevant to the topic discussed. The results and discussion regarding the insights and profile of Gamaliel in the text of Acts 5:26-42 as a wise advisor and making comparisons as material for consideration in advising the Religious Council. Gamaliel's thinking emphasizes that there must be obedience, loyalty, discipline, and dynamism from Gamaliel's profile to then become a reminder and must be applied to church officials who are entrusted to lead and direct people who must be carried out with wisdom. Through Gamaliel's profile, church officials are expected to be servants for people who educate, guide both from the way of thinking, to have an impact on a quality way of life. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketidakteladanan pejabat gereja dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab yang dipercayakan untuk melayani anggota gereja. Oleh karena itu, gereja membutuhkan tokoh teladan dari Alkitab. Kami memilih Gamaliel karena ia merupakan pemimpin agama yang memelajari Kitab Suci (Taurat) dan menjadi teladan dalam hal berpikir, mengajar dan mengambil keputusan dengan hikmat. Dengan demikian, tujuan dari artikel ini adalah untuk mengkaji serta menganalisis teks Kisah Para Rasul 5:26-42 berdasarkan pendekatan interpretasi hermeneutik naratif serta menjelaskan secara implikatif esensi teks ini bagi pejabat gereja masa kini. Pendekatan penelitian kualitatif melalui studi literatur digunakan melalui metode hermeneutik naratif kritis. Para peneliti mengumpulkan data baik melalui artikel jurnal, buku-buku atau dokumen yang relevan dengan topik yang dibahas. Hasil dan pembahasan mengenai wawasan dan profil Gamaliel dalam teks Kisah Para Rasul 5:26-42 sebagai seorang penasehat yang bijaksana dan membuat perbandingan sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan nasehat kepada Mahkamah Agama. Pemikiran Gamaliel menekankan bahwa harus ada ketaataan, kesetiaan, kedisiplinan, dan dinamisitas dari profil Gamaliel untuk kemudian menjajdi pengingat serta harus diaplikasikan bagi pejabat gereja yang dipercayakan untuk memimpin dan mengarahkan umat yang harus dilaksanakan dengan penuh hikmat. Melalui profil Gamaliel, pejabat gereja diharapkan menjadi para pelayan bagi umat yang mendidik, membimbing baik dari cara berpikir, hingga berdampak pada cara hidup yang berkualitas
Teokrasi dalam Kitab Daniel sebagai Rujukan Prinsip Ketaatan pada Keputusan Pemerintah Eksekutif Nassa, Grace Son
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v2i2.29

Abstract

Abstract: This research aims to analyze and expose the theocracy in the book of Daniel, then use it as a reference for the principle of obedience to the executive government towards a decision on the proposed change in the nomenclature of Isa Almasih to Jesus Christ. Because there is very little or no research that links the theocracy of the book of Daniel with the issue of changing the nomenclature of Isa Almasih to Jesus Christ. The method used is content analysis. Thus, the book of Daniel will be analyzed, especially the theme of theocracy in it and then the pattern of theocracy will be constructed based on the findings. The pattern is then used as a principle of obedience to the government's decision regarding the proposed change in the nomenclature of Isa Almasih to Jesus Christ. As a result, the theocracy building constructed from the book of Daniel has effectiveness for His chosen people personally and communally, which has an apocalyptic dimension and is strongly tied to eschatological expectations. This cannot be separated from the Jewish tradition that is closely related to theocracy. This research can enrich the discourse on theocracy for Christians in particular through the perspective of the book of Daniel and can be used as a principle of obedience to the executive government's decision on a decision.   Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengekspos teokrasi dalam kitab Daniel, lalu dijadikan sebagai rujukan prinsip ketaatan pada pemerintah eksekutif terhadap sebuah keputusan tentang usulan perubahan nomenklatur Isa Almasih menjadi Yesus Kristus. Sebab sangat sedikit bahkan belum ada penelitian yang mengaitkan teokrasi kitab Daniel dengan masalah perubahan nomenklatur Isa Almasih menjadi Yesus Kristus. Metode yang digunakan adalah analisis konten. Dengan demikian, kitab Daniel akan dianalisis khususnya tema teokrasi yang ada di dalamnya lalu dikonstruksi pola teokrasi berdasarkan hasil temuan tersebut. Pola itu kemudian dijadikan sebagai prinsip ketaatan pada keputusan pemerintah terkait usulan perubahan nomenklatur Isa Almasih menjadi Yesus Kristus. Hasilnya, bangunan teokrasi yang dikonstruksi dari kitab Daniel memiliki keefektifan bagi umat pilihan-Nya secara personal maupun komunal, yang memiliki dimensi apokaliptik dan terikat kuat dengan harapan eskatologis. Hal itu tidak lepas dari tradisi Yahudi yang berkait erat dengan teokrasi. Penelitian ini dapat memperkaya wacana tentang teokrasi bagi umat Kristen khususnya melalui perspektif kitab Daniel dan dapat dijadikan sebagai prinsip ketaatan terhadap keputusan pemerintah eksekutif tentang suatu keputusan
Menyelami Kekayaan Humor dalam Perkataan dan Perbuatan Yesus berdasarkan Kitab Injil Zakarijah, Edi; Bengke, Melki; Suranto
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v2i2.30

Abstract

Abstract: Humour is human and not the result of sin. But some people live their religious life rigidly and seriously.  This study explains that Jesus had a sense of humor. The richness of Jesus' humor is so abundant and impressive in terms of technique, content, and impact. Jesus' humor was in no way destructive or disruptive to his teaching. This fact should make all Christians feel entitled to laugh without guilt at funny, fun, and happy things. And what Jesus did, is worth emulating for all Christians in doing ministry, of course with the right portion and creativity. This research was conducted using descriptive qualitative methodology, by collecting data from various sources and information. It can be concluded that Jesus is believed to have rich and varied humor in his teachings, evident through various humor techniques such as situational, wordplay, and dramatic contrast. His humor was not only to entertain but also to clarify teachings, challenge thinking, and oppose evil. However, when Jesus experienced suffering and death on the cross as part of the work of salvation, there was no use of humor demonstrated by Him. Abstrak: Humor adalah sesuatu yang manusiawi dan bukan karena akibat dosa. Oleh karena itu dalam menjalani kehidupan agama tidak harus secara kaku dan serius.  Penelitian ini menjelaskan bahwa Yesus memiliki selera humor. Kekayaan humor Yesus begitu melimpah dan sangat mengaggumkan baik dalam hal cara penyajiannya, kontennya, bahkan dampaknya. Humor Yesus sama sekali tidak merusak atau mengganggu dalam bangunan pengajaranNya. Fakta ini seharusnya membuat semua orang Kristen merasa berhak tertawa tanpa rasa bersalah terhadap hal-hal yang lucu, menyenangkan dan membahagiakan. Dan apa yang Yesus lakukan, layak ditiru bagi semua orang Kristen dalam mengerjakan pelayanan, tentu dengan porsi dan kreatifitas yang tepat. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metodologi kualitatif deskriptif, dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber dan informasi. Maka dapat disimpulkan bahwa Yesus dipercaya memiliki humor yang kaya dan beragam dalam ajarannya, terbukti melalui berbagai teknik humor seperti situasional, permainan kata, dan menciptakan kontras dramatis. Humor-Nya tidak hanya untuk menghibur tetapi juga untuk memperjelas ajaran, menantang pemikiran, dan menentang kejahatan. Namun, saat Yesus mengalami penderitaan dan kematian di kayu salib sebagai bagian dari karya keselamatan, tidak ada penggunaan humor yang ditunjukkan-Nya.
Peran Guru Pendidikan Agama Kristen: Menangani Konflik dan Membangun Toleransi di Sekolah Kaka, Debora; Kristiani, Kristiani; Cinta, Yesa
KARDIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 2 No. 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Parakletos Tomohon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69932/kardia.v2i2.31

Abstract

Abstract: This study aims to explore the role of teachers in handling conflict in schools and increasing tolerance among students. Through a qualitative approach, the results show that teachers act as mediators and facilitators in conflict resolution. They use various strategies, such as direct mediation, integration of tolerance values in religious lessons through Bible stories, and group discussions that encourage empathy and respect for differences. Christian religious education teachers have a key role in creating a peaceful and inclusive school environment, shaping students into individuals who are tolerant and respectful of differences. PAK teachers must teach the concept of tolerance clearly and provide concrete examples of its application in everyday life, PAK teachers can help students understand that tolerance does not mean sacrificing personal beliefs, but rather appreciating and respecting the beliefs of others. In addition, PAK teachers also serve as agents of spiritual transformation, guiding students toward deeper spiritual maturity, and preparing them to grow in Christ and become individuals who are able to contribute to the creation of a more tolerant and harmonious school environment. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran guru dalam menangani konflik di sekolah dan meningkatkan toleransi di kalangan siswa. Melalui pendekatan kualitatif, Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru berperan sebagai mediator dan fasilitator dalam resolusi konflik. Mereka menggunakan berbagai strategi, seperti mediasi langsung, integrasi nilai-nilai toleransi dalam pelajaran agama melalui cerita Alkitab, dan diskusi kelompok yang mendorong empati serta penghargaan terhadap perbedaan. Guru pendidikan agama Kristen memiliki peran kunci dalam menciptakan lingkungan sekolah yang damai dan inklusif, membentuk siswa menjadi individu yang toleran dan menghargai perbedaan. Guru PAK harus mengajarkan konsep toleransi secara jelas dan memberikan contoh konkret tentang penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, guru PAK dapat membantu siswa memahami bahwa toleransi bukan berarti mengorbankan keyakinan pribadi, melainkan menghargai dan menghormati keyakinan orang lain. Selain itu, guru PAK juga bertugas sebagai agen transformasi spiritual, membimbing siswa menuju kedewasaan rohani yang lebih mendalam, dan mempersiapkan mereka untuk berkembang dalam Kristus serta menjadi individu yang mampu berkontribusi pada terciptanya lingkungan sekolah yang lebih toleran dan harmonis.

Page 1 of 1 | Total Record : 5