cover
Contact Name
La Ode Agus Salim
Contact Email
sciencetech.group23@gmail.com
Phone
+6289508163057
Journal Mail Official
sciencetech.group23@gmail.com
Editorial Address
Jl. Findayani Indah, Kec. Baruga, Kel. Wundudopi, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia
Published by CV. Science Tech Group
ISSN : -     EISSN : 30478855     DOI : -
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia adalah platform publikasi terkemuka yang berkomitmen menyajikan penelitian berkualitas tinggi dengan penekanan pada inovasi, kreativitas, dan keaslian, yang berlandaskan metodologi ilmiah yang ketat. Jurnal ini mencakup berbagai bidang studi seperti kesehatan umum, farmasi, teknologi dan rekayasa kesehatan, nutrisi dan gizi, sains alam dan lingkungan, biologi, kimia, dan fisika. Terbit enam kali setahun, Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia didedikasikan untuk standar kualitas tertinggi, berupaya menjadi sumber rujukan utama, dan memberikan kontribusi signifikan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan serta peningkatan kesehatan masyarakat.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 78 Documents
Tantangan Implementasi Evidence-Based Practice dalam Praktik Kefarmasian: Narrative Review Tisa Zadya Rio; Dwi Aulia Ramdini; Ihsanti Dwi Rahayu; Asep Sukohar
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 3 (2026): Mei-Jun
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i3.769

Abstract

Pelayanan kefarmasian merupakan bagian penting dalam sistem kesehatan yang berorientasi pada penggunaan obat yang aman, efektif, dan rasional. Evidence-based practice (EBP) menjadi hal yang krusial dalam pengambilan keputusan klinis dalam mendukung pengobatan yang rasional, namun implementasinya masih menghadapi berbagai kendala, baik dari aspek individu, lingkungan, maupun dukungan sistem pelayanan. Narrative review ini bertujuan untuk menyediakan informasi terkait dengan berbagai faktor hambatan implementasi EBP dalam praktik kefarmasian. Artikel ditelusuri melalui database Google Scholar dan PubMed menggunakan kata kunci yang relevan, dengan batasan tahun publikasi 2019–2025. Total hasil penelusuran artikel diperoleh sebanyak 10 artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi, yaitu tersedia dalam bentuk full-text, open access, berbahasa Indonesia atau Inggris, serta relevan dengan topik penerapan EBP dalam pelayanan kefarmasian. Hasil narrative review ini menunjukkan bahwa penerapan EBP dalam praktik kefarmasian masih belum optimal. Hambatan utama dalam penerapan EBP meliputi faktor individu tenaga kefarmasian, faktor lingkungan kerja, serta akses dan pemanfaatan sumber informasi berbasis bukti. Oleh karena itu, diperlukan upaya komprehensif melalui peningkatan kompetensi tenaga kefarmasian, dukungan lingkungan kerja yang kondusif, serta penyediaan sumber informasi yang mudah diakses untuk mengoptimalkan penerapan EBP dalam pelayanan kefarmasian.
Potensi Tanaman Pepaya (Carica papaya L.) sebagai Larvasida Nabati terhadap Larva Aedes aegypti: Literatur Review Alya Izzaty Riduan; Atri Sri Ulandari; Ramadhan Triyandi; Zulpakor Oktoba
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 3 (2026): Mei-Jun
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i3.799

Abstract

Pengendalian vektor Aedes aegypti masih didominasi oleh insektisida sintetik yang berisiko memicu resistensi serta pencemaran lingkungan sehingga diperlukan alternatif larvasida alami yang ramah lingkungan, salah satunya berasal dari tanaman pepaya (Carica papaya L.) yang diketahui mengandung alkaloid dan enzim proteolitik. Literatur ini bertujuan mengevaluasi pengaruh bagian tumbuhan dan penggunaan formulasi terhadap efektivitas mortalitas larva menggunakan metode literatur review. Data diperoleh dari Google Scholar dengan kriteria inklusi artikel teks lengkap terbitan tahun 2021-2026 yang membahas aktivitas larvasida pepaya terhadap Aedes aegypti. Hasil menunjukkan bahwa bagian biji memberikan tingkat mortalitas tertinggi, sementara formulasi dalam bentuk nanopartikel dan mikropartikel terbukti meningkatkan daya bunuh ekstrak pada konsentrasi rendah. Mekanisme kematian larva meliputi lisis sel epitel midgut, kerusakan abdomen, serta penyumbatan saluran sifon yang menghambat pernapasan. Secara keseluruhan, efektivitas larvasida pepaya dipengaruhi oleh pemilihan bagian tumbuhan dengan kandungan metabolit tinggi dan metode formulasi yang tepat, sehingga berpotensi sebagai agen larvasida yang efektif dan ramah lingkungan.
Identifikasi Faktor–Faktor yang Berhubungan dengan Teknik Penetesan Obat Tetes Mata: Literature Review Anisah Putri Yuana Sari; Rani Himayani; Dwi Aulia Ramdini; Nurma Suri
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 3 (2026): Mei-Jun
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i3.816

Abstract

Kesalahan dalam melakukan teknik penetesan obat tetes mata masih sering terjadi pada pasien dengan gangguan kesehatan mata. Kesalahan tersebut berisiko menurunkan efektivitas terapi serta dapat meningkatkan efek samping. Kajian literatur ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan ketepatan teknik penetesan obat tetes mata. Pencarian literatur dilakukan melalui Google Scholar, Science Direct, dan PubMed dengan tahun terbit 2016 – 2026. Hasil seleksi literatur menunjukkan terdapat 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil kajian menunjukkan bahwa usia yang lebih tua secara konsisten berhubungan signifikan dengan kegagalan teknik penetesan. Penurunan fungsi visual turut memperburuk kemampuan pasien dalam melakukan teknik penetesan. Kondisi fisik dan motorik juga berhubungan signifikan dengan teknik penetesan. Selain itu, penurunan fungsi kognitif serta faktor perilaku dan sosial juga terbukti berhubungan dengan teknik penetesan. Pemahaman terhadap faktor-faktor tersebut dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam menciptakan intervensi berupa edukasi, penilaian kondisi pasien, serta peningkatan peran caregiver untuk mendukung keberhasilan teknik penetesan obat tetes mata
Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Penggunaan Antibiotik tanpa Resep pada Kalangan Mahasiswa: Review Artikel Ghozi Purna Atmaja; Nurma Suri; Afriyani; Rani Himayani
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 4 (2026): Available online
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i4.818

Abstract

Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter merupakan salah satu penyebab utama meningkatnya resistensi antibiotik yang menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global. Mahasiswa sebagai kelompok terdidik masih ditemukan melakukan penggunaan antibiotik secara tidak rasional, sehingga perlu dilakukan kajian mengenai faktor-faktor yang memengaruhi perilaku tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan antibiotik tanpa resep pada kalangan mahasiswa di Indonesia. Metode yang digunakan adalah literature review dengan menelaah artikel penelitian asli yang diperoleh melalui basis data Google Scholar, PubMed, dan ResearchGate yang dipublikasikan pada periode 2020–2025. Hasil penelusuran memperoleh 85 artikel, kemudian dilakukan proses seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi hingga diperoleh 10 artikel yang memenuhi syarat untuk dianalisis. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang paling banyak memengaruhi penggunaan antibiotik tanpa resep pada mahasiswa adalah rendahnya tingkat pengetahuan dan pendidikan, kemudahan memperoleh antibiotik tanpa pengawasan tenaga kesehatan, sumber informasi yang kurang tepat, serta pengalaman penggunaan antibiotik sebelumnya. Keempat faktor tersebut secara konsisten dilaporkan berkontribusi terhadap perilaku penggunaan antibiotik yang tidak rasional dan berpotensi meningkatkan risiko resistensi antibiotik. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi mengenai penggunaan antibiotik yang rasional serta penguatan pengawasan terhadap distribusi antibiotik untuk menekan praktik penggunaan antibiotik tanpa resep di kalangan mahasiswa.
Kesesuaian Peresepan Obat dengan Formularium Nasional pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut: Narrative Review Hecitha Anriesta; Muhammad Fitra Wardhana Sayoeti; Ihsanti Dwi Rahayu; Oktafany
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 4 (2026): Available online
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i4.839

Abstract

Obat merupakan komponen besar dalam pembiayaan kesehatan di Indonesia (20,6%) sehingga penggunaannya perlu rasional, efektif, dan efisien. Upaya tersebut didukung melalui pengendalian peresepan dengan mengacu pada Formularium Nasional (Fornas), yang berkontribusi dalam mendukung pencapaian SDGs. Namun, perbedaan karakteristik antara Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut (FKRTL) menyebabkan variasi tingkat kesesuaian peresepan dengan Fornas. Studi artikel naratif ini bertujuan mengetahui perbedaan kesesuaian peresepan terhadap Fornas dan faktor yang memengaruhinya. Data diperoleh melalui basis data artikel pada Google Scholar dan Portal Garuda dengan menggabungkan kata kunci dan operator boolean (AND, OR). Penelusuran dilakukan berdasarkan kriteria inklusi berupa artikel penelitian asli pada tahun 2016–2026 di FKTP dan FKRTL. Berdasarkan seleksi, terdapat 8 artikel jurnal yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil pengkajian menunjukkan kesesuaian peresepan ditemukan lebih tinggi pada FKTP (60,60% - 97,80%) dibandingkan FKRTL (53,97% - 80,91%). Perbedaan tingkat kesesuaian peresepan terhadap Fornas antara FKTP dan FKRTL ini dipengaruhi oleh faktor karakteristik pelayanan dan kebutuhan terapi pada masing-masing tingkat fasilitas kesehatan.
Pengaruh Jenis Pelarut terhadap Aktivitas Antioksidan dan Antibakteri Ekstrak Daun Sirih Hijau (Piper betle L.) dengan Metode Maserasi: Literatur Review M. Ghazi Al Ghifari; Ramadhan Triyandi; Afriyani; Tri Umiana Soleha; Muhammad Iqbal
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 4 (2026): Available online
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i4.843

Abstract

Daun sirih hijau (Piper betle L.) mengandung berbagai metabolit sekunder, seperti fenolik, flavonoid, tanin, alkaloid, dan minyak atsiri yang berperan sebagai antioksidan dan antibakteri alami. Efektivitas ekstrak dipengaruhi oleh metode ekstraksi dan jenis pelarut, kedua faktor tersebut menentukan jenis serta jumlah senyawa bioaktif yang terekstraksi. Metode maserasi merupakan metode ekstraksi yang banyak digunakan karena mampu mempertahankan stabilitas senyawa termolabil tanpa pemanasan sehingga sesuai untuk ekstraksi metabolit sekunder daun sirih hijau. Literatur Review ini bertujuan mengevaluasi pengaruh penggunaan pelarut polar dan non-polar terhadap aktivitas antioksidan dan antibakteri ekstrak daun sirih hijau berdasarkan berbagai publikasi ilmiah akses terbuka yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pelarut polar, seperti etanol dan metanol, lebih efektif dalam mengekstraksi senyawa fenolik dan flavonoid dibandingkan pelarut non-polar. Kandungan senyawa bioaktif yang lebih tinggi berkontribusi pada peningkatan aktivitas antioksidan, yang ditunjukkan oleh nilai IC₅₀ metode DPPH sebesar 44,929 µg/mL dan termasuk kategori antioksidan sangat kuat. Selain itu, ekstrak daun sirih hijau menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Gram-positif, seperti Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, dan Streptococcus mutans, serta bakteri Gram-negatif, seperti Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa. Berdasarkan hasil kajian, pelarut polar terutama etanol dan metanol secara konsisten menghasilkan ekstrak dengan aktivitas antioksidan dan antibakteri yang lebih tinggi dibandingkan pelarut non-polar. Dengan demikian, pemilihan pelarut yang tepat menjadi faktor penting dalam mengoptimalkan potensi daun sirih hijau sebagai sumber antioksidan dan antibakteri alami.
Identifikasi Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Frekuensi Eksaserbasi dan Rawat Inap pada Pasien PPOK : Literature Review Fidela Yolan Dani; Atri Sri Ulandari; Dwi Aulia Ramdini; Rani Himayani
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 4 (2026): Available online
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i4.845

Abstract

Pendahuluan: Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) ditandai dengan hambatan aliran udara kronis yang sering mengalami eksaserbasi akut dan memerlukan rawat inap. Kejadian rawat inap ulang (readmission) menjadi masalah utama dalam manajemen penyakit ini karena meningkatkan risiko mortalitas. Temuan dalam literature review ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 mengenai Good Health and Well-being melalui upaya penurunan kematian dini akibat penyakit tidak menular (Target 3.4), peningkatan cakupan pelayanan kesehatan (Target 3.8), pengurangan dampak polusi udara terhadap kesehatan (Target 3.9), serta SDG 11 mengenai pembangunan kota dan permukiman berkelanjutan melalui pengendalian kualitas udara. Tujuan: Literature review ini bertujuan menelaah penelitian ilmiah terkini mengenai determinan yang memengaruhi kejadian eksaserbasi dan rawat inap pada pasien PPOK. Metode: Penelitian ini merupakan literature review dengan sumber data artikel original research dari Google Scholar dan PubMed dalam rentang waktu 2017-2025. Terdapat 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi untuk ditelaah secara kritis. Hasil: Hasil telaah menunjukkan bahwa rawat inap dipengaruhi oleh faktor demografi seperti usia, jenis kelamin laki-laki, dan riwayat merokok. Pada faktor klinis, keberadaan komorbiditas (jantung dan diabetes), derajat keparahan (FEV1%, skor BODE/CAT), serta lama menderita PPOK menjadi prediktor utama. Penelitian lain menunjukkan peran kadar eosinofil rendah (< 2%), peningkatan indikator inflamasi, serta faktor psikososial yang mencakup keterbatasan aktivitas harian (BADL) dan kurangnya dukungan keluarga dalam meningkatkan frekuensi rawat inap. Simpulan: Eksaserbasi dan rawat inap PPOK dipengaruhi oleh faktor demografi, kondisi klinis, biomarker, dan dukungan sosial. Manajemen pasien memerlukan penanganan pada aspek medis paru, penyakit penyerta, serta penguatan dukungan perawatan di rumah.
Gambaran Kepatuhan Minum Obat Anti Epilepsi pada Pasien Anak di Klinik Utama Martadinata Kuningan Rakhmawati Hanifah; Rahmawati Rahmawati; Rahma Fauziah
Jurnal Riset Sains dan Kesehatan Indonesia Vol. 3 No. 4 (2026): Available online
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/jrski.v3i4.861

Abstract

Kepatuhan terhadap pengobatan anti epilepsi merupakan faktor penting dalam pengelolaan epilepsi pada pasien anak untuk mencegah kejang berulang. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat kepatuhan minum obat anti epilepsi pada pasien anak di Klinik Utama Martadinata pada periode Januari-April 2025. Penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional ini mengumpulkan data melalui wawancara dan observasi terhadap orang tua atau pengasuh pasien. Sampel penelitian sebanyak 34 responden, dihitung dengan rumus Slovin. Hasil dianalisis dengan analisis univariat. Faktor yang mempengaruhi kepatuhan antara lain pemahaman orang tua, usia pasien, dan dukungan keluarga. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan dan memperkuat edukasi kepada orang tua atau pengasuh dalam pengelolaan epilepsi anak. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa gambaran tingkat kepatuhan minum obat anti epilepsi pada pasien anak di Klinik Utama Martadinata Kuningan menunjukkan bahwa dari 34 responden sebagian besar memiliki tingkat kepatuhan minum obat tidak patuh sebanyak 19 (55,9%), sebagian kecil memiliki kepatuhan cukup patuh sebanyak 10 (29,4%) dan sebagian kecil memiliki tingkat kepatuhan patuh sebanyak 5 (29,4%) responden. Disarankan agar penelitian selanjutnya melibatkan responden yang lebih luas dan mempertimbangkan faktor psikososial serta dukungan sistemik dalam meningkatkan kepatuhan penggunaan obat anti epilepsi.