Kabuyutan: Jurnal Kajian Iilmu Sosial dan Humaniora Berbasis Kearifan Lokal
KABUYUTAN Jurnal Kajian Iilmu Sosial dan Humaniora Berbasis Kearifan Lokal, yang menjembatani pemikiran-pemikiran kritis menyangkut kearifan lokal tinggalan budaya masa lampau, termasuk di dalamnya kemanusiaan, yang mengedepankan manusia sebagai insan bermartabat dan berbudaya. Filologi secara khusus mengkaji tradisi tulis atau naskah-naskah (kuno, klasik/peralihan, masa kini) tinggalan nenek moyang masa lampau, yang menyimpan ide, gagasan, pandangan hidup, dan lainnya. Naskah sebagai dokumen budaya meliputi tujuh unsur kearifan lokal budaya, sesuai dengan tempat naskah itu ditulis atau disalin. Teks naskah dalam jurnal Kabuyutan bisa dikaji secara multidisiplin dengan ilmu lain, sesuai dengan isi/teks naskah dimaksud, seperti dari sudut pandang sastra, sejarah, hukum, sosial politik, komunikasi, kesehatan masyarakat, farmasi, kedokteran, psikhologi, keperawatan, dan ilmu lainnya yang berkaitan dengan isi teks naskah. Sejarah bisa dikaji dari seluk beluk aspek sejarah, dan berbagai sudut pandang yang berkaitan dengan tinggalan masa lalu, baik dokumen sejarah masa lampau maupun tinggalan/dokumen kekinian/masa kini, yang relevan dengan aspek kesejarahan, termasuk historiografi tradisional yang ada kaitannya dengan tinggalan-tinggalan sejarah masa lampau, baik dengan tradisi tulis (naskah), arkeologi, maupun antropologi, sosial politik, maupun ilmu komunikasi, melalui pendekatan sejarah dan berbagai macan metode yag digunakan dalam penelitian dan kajian ilmu sejarah. Arkeologi pada umumnya berkaitan dengan artefak-artefak tinggalan budaya masa lampau, yang bisa dikaji secara multidisiplin dengan ilmu lain, baik dengan filologi, sejarah, antropologi, geologi, geografi, komunikasi, sosial politik, maupun ilmu lain, yang berkaitan dengan kepurbakalaan.
Articles
99 Documents
GUNUNG PADANG DALAM PERSPEKTIF MANUSKRIP DAN BUDAYA SUNDA DI ERA MILENIAL: GUNUNG PADANG DALAM PERSPEKTIF MANUSKRIP DAN BUDAYA SUNDA DI ERA MILENIAL
Sumarlina, Elis Suryani Nani;
Darsa, Undang Ahmad;
Mohamad Permana, Rangga Saptya
KABUYUTAN Vol 3 No 1 (2024): Kabuyutan, Maret 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i1.227
Eksistensi budaya yang berkembang di era milenial saat ini tidak terlepas dari budaya masa lampau, sebagai hasil perjalanan sejarah serta proses perubahan budaya dari masa ke masa. Namun, keberadaan Gunung Padang tersebut, baru-baru ini sedikit terusik oleh ketidaksepahaman para ahli, yang masing-masing bersikukuh sesuai dengan kepakarannya. Padahal, sepatutnyalah kita bergandengan tangan dalam upaya merawat dan melestarikan tinggalan nenek moyang dimaksud, apalagi kalau tempat tersebut sudah disepakati dan ditetapkan sebagai situs, yang eksistensinya tidak dapat dinilai dengan materi. Karena setiap bidang ilmu memiliki pendekatan dan metode kajiannya masing-masing. Aspek budaya dan kearifan lokal yang dimiliki oleh suatu daerah, setidaknya berguna untuk mengungkap tonggak bagi suatu kehidupan masyarakat. Kita menyadari bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai budayanya. Tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa pun dapat dilihat dari tinggalan budayanya. Demikian halnya dengan karuhun ‘nenek moyang’ orang Sunda, yang memiliki manuskrip kuno yang tidak sedikit, yang di dalamnya menyimpan beragam ide, gagasan, dan pemikiran cemerlang, yang salah satunya berkaitan dengan Gunung Padang. Lewat manuskrip, dapat ditelusuri bahwa Gunung Padang termasuk ke dalam sistem tataruang kosmologis Sunda yang saling memengaruhi dengan tenaga-tenaga yang bersumber pada tempat-tempat yang ada di sekitarnya, baik secara geologis, geomorfologis, arkeologis, antropologis, filologis, historiografis, folklor, dan religi, yang tidak terlepas dari budaya zaman batu. Penelitian ini mencoba menelusuri keselarasan antara Gunung Padang dengan kearifan lokal budaya Sunda, dari kajian filologis, arkeologis, religi, dengan budaya Kenabian, melalui metode kajian filologis dan kajian budaya, sehingga didapatkan hubungan yang harmonis antar keduanya, melalui pendeskripaian data, sesuai dengan fakta yang ada.
SIMBOL SEBAGAI REPRESENTASI KASUNDAAN INDIVIDU KETURUNAN JAWA DI KOTA BANDUNG
Susanti, Santi;
Gunawan, Wahyu
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.240
Kota Bandung merupakan wilayah berpenduduk heterogen. Posisi Kota Bandung sebagai ibukota Jawa Barat menempatkannya sebagai pusat kegiatan yang memiliki fasilitas lebih banyak dari wilayah lainnya sehingga menarik banyak orang untuk singgah bahkan menetap dengan beragam alasan dan tujuan. Individu keturunan Jawa merupakan satu dari beragamnya warga Kota Bandung yang berlatar belakang etnis berbeda. Interaksi antara individu keturunan Jawa dengan masyarakat Kota Bandung yang berlatar budaya Sunda menumbuhkan rasa memiliki budaya Sunda, yang diwujudkan tidak hanya dalam perilaku, juga dalam simbol-simbol yang dapat terlihat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan simbol sebagai representasi kasundaan individu keturunan Jawa di Kota Bandung, yang berprofesi sebagai seniman dan budayawan. Metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi digunakan dalam penelitian ini untuk menggali pengalaman individu Jawa yang tinggal di Kota Bandung dalam menampilkan unsur-unsur kasundaan dalam kehidupan mereka Penggalian informasi dilakukan melalui wawancara mendalam kepada lima individu keturunan Jawa di Kota Bandung, sebagai data primer. Data sekunder diperoleh melalui pengamatan serta studi kepustakaan dan dokumentasi yang berkaitan dengan lima subjek yang diteliti. Hasil studi mengungkapkan, komunikasi simbolik kasundaan diterapkan individu seniman dan budayawan keturunan Jawa di Kota Bandung dalam beragam bentuk, yakni melalui pakaian, aksesoris, hasil karya, serta tata ruang dan desain arsitektur bangunan. Penerapan simbol tersebut merupakan bentuk adaptasi dan apresiasi akan budaya Sunda yang dilakukan oleh individu keturunan Jawa, yang menerapkan prinsip dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.
MENGENAL HEMP SEBAGAI BAHAN CELANA DENIM: MENGENAL HEMP SEBAGAI BAHAN CELANA DENIM
Septiani, Ayu
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.246
Penelitian ini berjudul “Mengenal Hemp sebagai Bahan Celana Denim”. Fokus utama penelitian ini adalah mendeskripsikan manfaat hemp sebagai bahan pakaian khususnya celana denim. Hemp adalah tanaman ganja yang memiliki nama latin Cannabis sativa yang memiliki kadar THC rendah sehingga aman digunakan untuk produksi bahan sandang seperti celana denim. Tujuan penelitian ini yaitu memberikan pengetahuan baru tentang hemp sebagai alternatif pembuatan tekstil yang ramah lingkungan. Masyarakat megetahui bahwa tanaman ganja memiliki dampak negatif bagi tubuh manusia jika disalahgunakan. Namun demikian, ternyata tanaman ganja yang memiliki nama latin cannabis ini juga memiliki sisi positif yaitu sebagai alternatif dalam pembuatan pakaian. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif deskriptif dengan studi kasus pada brand Wingsman Denim. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur dan sumber-sumber digital khususnya dari laman website dan channel YouTube resmi, serta sumber-sumber digital lainnya yang relevan. Adapun konsep yang digunakan yaitu konsep serat ganja, celana denim, dan pelestarian lingkungan hidup. Dalam tulisan ini dibahas pula mengenai brand Wingsman Denim sebagai pelopor penggunaan serat ganja untuk celana denim. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, limbah yang dihasilkan dari produksi pakaian menjadi satu di antara penyebab kerusakan lingkungan. Kemudian munculah ide untuk membuat pakaian khususnya celana denim dari serat ganja. Serat ganja digunakan sebagai bahan pakaian khususnya celana denim sebagai bentuk peduli lingkungan sebagaimana yang dilakukan olah Wingsman Denim. Oleh karena serat ganja dianggap bahan yang ramah lingkungan dan dapat dijadikan alternatif pembuatan pakaian khususnya celana denim.
KARAKTERISTIK NASKAH FUTŪḤUL ‘ĀRIFĪN: KAJIAN KODIKOLOGIS DAN ANALISIS PALEOGRAFI: KARAKTERISTIK NASKAH FUTŪḤUL ‘ĀRIFĪN: KAJIAN KODIKOLOGIS DAN ANALISIS PALEOGRAFI
Hazmi Fauzan, Mohammad;
Kosasih, Ade;
Ikhwan, Ikhwan
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.248
Penelitian ini berfokus pada kajian kodikologi dan pengidentifikasian aksara dalam naskah Futūḥul ‘Ārifīn. Futūḥul ‘Ārifīn adalah naskah yang menguraikan amaliah-amaliah tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah mengenai tata cara dzikir, talqin, bai’at dan tingkatan-tingkatan lathifah dalam tradisi tasawuf yang ditulis pada tahun 1287 Hijriah atau 1870 Masehi. Secara umum, kajian mengenai kodikologi dan identifikasi aksara terhadap naskah Futūḥul ‘Ārifīn belum pernah dilakukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan filologi dan paleografi. Pendekatan filologi dilakukan untuk menguraikan fisik naskah mulai dari judul, bahasa, ukuran, tempat penyalinan, dan sebagainya, sedangkan paleografi digunakan untuk menentukan pola atau model aksara yang digunakan dalam naskah. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dan deskriptif analitik. Dari hasil penelitian penulis menemukan bahwa kondisi naskah Futūḥul ‘Ārifīn dalam kondisi baik, karena tidak terdapat korup, hanya saja ada beberapa halaman yang sobek, namun tidak sampai mengenai teks naskah. Dari segi aksara, naskah ini menggunakan jenis tulisan tsuluts, farisi dan diwani. Selain itu, terdapat beberapa kekhasan dalam penulisannya, yaitu seperti penulisan huruf /p/ tidak menggunakan titik tiga, dan huruf /g/ tidak terdapat titik di atasnya.
MASYARAKAT ADAT KANEKES BADUY DALAM PUSARAN ADAT, TRADISI, DAN RELIGI: MASYARAKAT ADAT KANEKES BADUY DALAM PUSARAN ADAT, TRADISI, DAN RELIGI
Nani Sumarlina, Elis Suryani;
Mohamad Permana, Rangga Saptya;
Darsa, Undang Ahmad
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.249
Keanekaragaman kearifan lokal budaya yang dimiliki oleh suatu daerah merupakan sarana dan prasarana penunjang dalam upaya memperkaya kebudayaan daerah. Kearifan dimaksud dapat berfungsi juga sebagai filter dan alat yang tangguh untuk membendung arus masuknya budaya mancanegara yang tidak sesuai dengan jati diri dan kepribadian serta kepentingan bangsa kita. Kita dituntut untuk memilah dan memilihnya dengan teliti, lewat pengetahuan yang mewadahi latar belakang penciptaan dan sosiokultural. Kearifan lokal budaya masyarakat adat Baduy sebagai ‘icon’ yang masih kuat dan taat memegang adat istiadat dalam tradisi dan religi, merupakan bahasan utama tulisan ini. Metode penelitian secara khusus menggunakan deskriptif analisis, yang disesuaikan dengan metode kajian agar mampu menganalisis dan menafsirkan data-data kongkrit yang terjadi di Masyarakat Adat Kanekes Baduy, melalui suatu proses pemahaman yang akan sangat bergantung pada keadaan data dan objek kajian, sehingga didapatkan hasil adanya keterjalinan yang harmonis antara adat, tradisi serta religi yang dianut oleh masyarakat adat Kanekes Baduy.
ANOMI: KRISIS MASYARAKAT DAMPAK SEBUAH PERUBAHAN SOSIAL: ANOMI: KRISIS MASYARAKAT DAMPAK SEBUAH PERUBAHAN SOSIAL
Setiaman, Agus;
El Karimah, Kismiyati
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.250
Indonesia adalah salah satu negara yang pernah mengalami krisis ekonomi yang kemudian berlanjut menjadi krisis kepercayaan, krisis kepemimpinan hingga krisis kebudayaan yang pada akhirnya semua krisi itu menjadi krisis multi demensional. Dan semua itu sebetulnya bermuara pada perubahan setiap masyarakat kapan pun dan dimana pun akan mengalami perubahan baik dalam skala besar maupun kecil. Secara sosiologis perubahan yang terjadi akan berdampak pada masyarakat, ada sebagian masyarakat yang kurang atau tidak bisa mengikuti perubahan yang sedang terjadi. Masyarakat dibuat bingung dengan perubahan yang berlangsung sehingga tidak tahu apa yang harus dilakukan, masyarakat tidak tahu bagaimana mengantisipasi dampak perubahan, jangankan menikmati hasil perubahan, atau mengisi pada perubahan yang sedang berlangsung. Konsep situasi dan kondisi masyarakat yang sedang mengalami perubahan dalam sosiologi disebut Anomi dimana masyarakat berada dalam kebimbangan dan ketidaktahuan mesti apa yang dilakukan. Masyarakat menyaksikan bagaimana norma, aturan yang ada seolah tidak lagi di hiraukan, norma dan aturan tidak lagi bisa dijadikan sebagai panduan dan pedoman dalam bertindak dan berprilaku.
KRITIK MENGENAI MARJINALISASI ORANG KOTA TERHADAP ORANG DESA DI FILM-FILM SI KABAYAN
Permana, Rangga;
Sumarlina, Elis;
Darsa, Undang
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.252
Dongeng-dongeng mengenai Si Kabayan sudah dikenal luas sejak zaman dahulu di tengah masyarakat Sunda di Jawa Barat. Tujuan utama dari dongeng-dongeng Si Kabayan adalah untuk menghibur, tidak jarang pula ada beberapa pencipta yang juga memasukkan unsur-unsur nilai moral, pendidikan, sampai kritik pada karya-karyanya. Dalam perkembangannya, dongeng-dongeng tersebut juga telah bertransformasi menjadi berbagai medium, mulai dari tradisi lisan sampai yang terbaru adalah serial yang ditayangkan di platform YouTube. Salah satu bentuk media yang dapat menjadi medium utnuk menyampaikan pesan-pesan bernada kritik sosial adalah film-film fitur Si Kabayan. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk melakukan kajian mengenai film-film Kabayan sebagai medium kritik, terutama kritik mengenai marjinalisasi yang dilakukan oleh orang-orang kota terhadap orang-orang desa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana scene-scene dari film Si Kabayan dan Anak Jin (1991) dan Si Kabayan Saba Metropolitan (1992) menggambarkan kritik dengan tema marjinalisasi orang kota terhadap orang desa. Penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis teks yang terdapat dalam scene-scene kedua film tersebut. Penulisan ini berfokus untuk mencari dan menganalisis data yang berkaitan dengan perkataan, sikap dan perilaku orang kota yang memarjinalisasi orang desa. Penulis mengambil tiga unit analisis dari dua film Si Kabayan di atas. Hasil menunjukkan bahwa scene pertama yang diambil dari film Si Kabayan dan Anak Jin (1991) mengkritisi sikap arogan orang kota terhadap orang desa. Sedangkan scene kedua dan ketiga yang diambil dari film Si Kabayan Saba Metropolitan (1992) mengkritisi sikap orang kota yang selalu merasa lebih superior dibandingkan orang desa, dan menganggap bahwa semua hal dan keinginan bisa dicapai dengan kekuatan uang.
GAMBARAN TINGKAT KEMANDIRIAN EMOSIONAL PADA REMAJA AWAL TUNARUNGU YANG BERSEKOLAH DI SMPLB NEGERI CICENDO KOTA BANDUNG: GAMBARAN TINGKAT KEMANDIRIAN EMOSIONAL PADA REMAJA AWAL TUNARUNGU YANG BERSEKOLAH DI SMPLB NEGERI CICENDO KOTA BANDUNG
Setiawan, Setiawan;
Nur Fazriah, Diva Lutfia;
Mardiah, Ai;
Aat, Aat;
Purnama, Dadang
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.254
Remaja awal tunarungu menghadapi tantangan dalam perkembangan kemandirian emosionalnya dikarenakan dampak ketulian yang menghambat komunikasi. Kemandirian emosional adalah aspek penting bagi remaja dalam dalam mencapai kedewasaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat kemandirian emosional pada remaja awal tunarungu. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan alat ukur Emotional Autonomy Scale (EAS). Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik responden mayoritas adalah laki-laki dan merupakan anak kedua serta seluruhnya tinggal bersama orang tua. Tingkat kemandirian emosional mayoritas responden berada pada kategori sedang. Berdasarkan dimensinya, dimensi non-dependency, perceive parent as people dan individuation berada pada kategori sedang, sementara dimensi de-idealized berada pada kategori rendah.
VARIAN KOSAKATA KULINER TRADISIONAL SUNDA BERBAHAN SINGKONG, TAHU, DAN ONCOM ( KASUS DI KOTA BANDUNG): VARIAN KOSAKATA KULINER TRADISIONAL SUNDA BERBAHAN SINGKONG, TAHU, DAN ONCOM ( KASUS DI KOTA BANDUNG)
Sunarni, Nani
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.255
Kota Bandung merupakan kota multikultur sebagai tujuan pariwisata yang populer dengan sebutan kota kuliner. Seiring dengan kebutuhan kuliner, produktivitas menu baru sangat tinggi dengan nama-namanya yang baru. Dari satu nama makanan “tahu” muncul kosakata lain seperti tahu gejrot, tahu hot jeletot, tahu isi, bakso tahu, bakso tahu goreng (batagor), tahu bulat, goreng tahu, pais tahu, tahu burintik, kupat tahu, angeun tahu dll. Munculnya kosakata-kosakata tersebut merupakan cermin perkembangan budaya dan identitas masyarakat pemilik kosakata tersebut. Kajian ini merupakan kajian kebahasaan yang terkait dengan budaya yang bertujuan mendeskripsikan bentuk lingual dari jenis-jenis kosakata yang terkait dengan kuliner. Proses pengumpulan data dilakukan dengan metode survey yang dilanjutkan dengan teknik catat yaitu dengan mencatat kosakata-kosakata nama kuliner di kota Bandung. Data dianalisis dengan pendekatan struktural dan kultural (Riley, 2008). Hasil penelitian ini memberikan perspektif budaya dan identitas Sunda dalam memandang tata nama kuliner sebagai kajian antroponomenika.
PENGEMBANGAN FIKOM KNOWLEDGE HERITAGE SEBAGAI PUSAT WARISAN ORGANISASIONAL DAN PENGETAHUAN FIKOM UNPAD: PENGEMBANGAN FIKOM KNOWLEDGE HERITAGE SEBAGAI PUSAT WARISAN ORGANISASIONAL DAN PENGETAHUAN FIKOM UNPAD
Kusnandar, Kusnandar;
CMS, Samson;
Rukmana, Evi Nursanti
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.256
Penelitian ini dilaksanakan atas dasar adanya fenomena terkait dengan kebutuhan pihak manajemen Fikom Unpad untuk mengembangkan konsep pengelolaan koleksi hibah Dr. Ronny Adhikarya yang diberikan melalui Perpustakaan Fikom Unpad. Hibah tersebut berkaitan dengan koleksi pribadi Dr. Ronny Adhikarya dapat dikategorikan sebagai Documentary Heritage yang memiliki nilai penting bagi perkembangan ilmu komunikasi. Sebagai Documentary Heritage koleksi hibah Dr. Ronny Adhikarya perlu dikelola dengan baik guna mendukung program Memory of the World dari UNESCO. Adapun fokus dari penelitian ini meliputi: (1) konsep pengelolaan koleksi khusus di Perpustakaan Fikom Unpad; (2) kriteria koleksi khusus di Perpustakaan Fikom Unpad; serta (3) skema pengelolaan koleksi khusus di Perpustakaan Fikom Unpad. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Participatory Action Research (PAR) dengan teknik pengambilan data menggunakan teknik wawancara informal, diskusi, observasi, serta studi dokumen. Partisipan penelitian ini adalah pada Pimpinan Fakultas, Pustakawan, Arsiparis, Dosen, Mahasiswa, dan Alumni Fikom Unpad. Penelitian ini telah mengembangkan beberapa rumusan terkait dengan Pengelolaan Koleksi Khusus Perpustakaan Fikom Unpad sebagai berikut: (1) “Fikom Knowledge Heritage” sebagai istilah yang digunakan untuk Koleksi Khusus Perpustakaan Fikom Unpad; (2) Kriteria koleksi "Fikom Knowledge Heritage" adalah karya intelektual individual dan organisasional Fikom Unpad yang memilki nilai-nilai sejarah dan keilmuan pada bidang Ilmu Komunikasi; serta (3) Pengelolaan "Fikom Knowledge Heritage" dirumuskan sebagai bentuk pengelolaan kolaboratif yang melibatkan para pemangku kepentingan dan pihak-pihak lain sebagai mitra pengelola.