Kabuyutan: Jurnal Kajian Iilmu Sosial dan Humaniora Berbasis Kearifan Lokal
KABUYUTAN Jurnal Kajian Iilmu Sosial dan Humaniora Berbasis Kearifan Lokal, yang menjembatani pemikiran-pemikiran kritis menyangkut kearifan lokal tinggalan budaya masa lampau, termasuk di dalamnya kemanusiaan, yang mengedepankan manusia sebagai insan bermartabat dan berbudaya. Filologi secara khusus mengkaji tradisi tulis atau naskah-naskah (kuno, klasik/peralihan, masa kini) tinggalan nenek moyang masa lampau, yang menyimpan ide, gagasan, pandangan hidup, dan lainnya. Naskah sebagai dokumen budaya meliputi tujuh unsur kearifan lokal budaya, sesuai dengan tempat naskah itu ditulis atau disalin. Teks naskah dalam jurnal Kabuyutan bisa dikaji secara multidisiplin dengan ilmu lain, sesuai dengan isi/teks naskah dimaksud, seperti dari sudut pandang sastra, sejarah, hukum, sosial politik, komunikasi, kesehatan masyarakat, farmasi, kedokteran, psikhologi, keperawatan, dan ilmu lainnya yang berkaitan dengan isi teks naskah. Sejarah bisa dikaji dari seluk beluk aspek sejarah, dan berbagai sudut pandang yang berkaitan dengan tinggalan masa lalu, baik dokumen sejarah masa lampau maupun tinggalan/dokumen kekinian/masa kini, yang relevan dengan aspek kesejarahan, termasuk historiografi tradisional yang ada kaitannya dengan tinggalan-tinggalan sejarah masa lampau, baik dengan tradisi tulis (naskah), arkeologi, maupun antropologi, sosial politik, maupun ilmu komunikasi, melalui pendekatan sejarah dan berbagai macan metode yag digunakan dalam penelitian dan kajian ilmu sejarah. Arkeologi pada umumnya berkaitan dengan artefak-artefak tinggalan budaya masa lampau, yang bisa dikaji secara multidisiplin dengan ilmu lain, baik dengan filologi, sejarah, antropologi, geologi, geografi, komunikasi, sosial politik, maupun ilmu lain, yang berkaitan dengan kepurbakalaan.
Articles
109 Documents
KRITIK SOSIAL DALAM FILM-FILM KABAYAN DI ERA ORDE BARU: KETIMPANGAN DESA-KOTA, PERILAKU MATERIALISTIS DAN DAMPAK GLOBALISASI
Mohamad Permana, Rangga Saptya;
Nani Sumarlina, Elis Suryani;
Darsa, Undang Ahmad
KABUYUTAN Vol 4 No 1 (2025): Kabuyutan, Maret 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i1.316
Artikel ini membahas representasi kritik sosial dalam dua film Kabayan produksi awal 1990-an, yaitu Si Kabayan Saba Metropolitan (1992) dan Si Kabayan Mencari Jodoh (1994), yang hadir di tengah situasi sosial-politik Orde Baru Indonesia. Kedua film ini tidak hanya menawarkan hiburan komedi, tetapi juga menyisipkan kritik terhadap ketimpangan pembangunan antara desa dan kota, perubahan nilai-nilai masyarakat desa, serta penetrasi budaya global akibat arus modernisasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menerapkan metode analisis naratif dan semiotik untuk menelaah simbol, dialog, sinematografi, serta representasi karakter dalam kedua film tersebut. Temuan menunjukkan bahwa karakter Kabayan digunakan sebagai metafora dari masyarakat desa yang lugu namun cerdas, yang harus berhadapan dengan kompleksitas modernitas kota. Isu-isu seperti gagap teknologi, stereotip sosial, materialisme, dan disorientasi nilai ditampilkan melalui konflik naratif dan simbol visual, seperti eskalator, jembatan penyeberangan, dan jam tangan. Narasi jenaka yang digunakan menjadi strategi efektif untuk menyampaikan kritik secara halus (polite criticism), mengingat ketatnya sensor budaya pada masa Orde Baru. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film Kabayan tidak hanya menjadi cermin dari realitas sosial saat itu, tetapi juga menjadi arsip budaya yang mencatat transformasi ideologis masyarakat Indonesia dalam menghadapi ketimpangan dan globalisasi. Dengan demikian, film populer dapat berfungsi sebagai media perlawanan kultural yang penting dalam studi pembangunan dan komunikasi.
FUNGSI UNGKAPAN SUNDA PADA MASA GEN-Z
Permadi, Yudi;
Hazbini, Hazbini;
Laila, Anggun
KABUYUTAN Vol 4 No 2 (2025): Kabuyutan, Juli 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i2.347
Ungkapan merupakan salah satu bentuk kekayaan budaya lisan masyarakat Sunda yang sarat makna dan nilai. Dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan Sunda digunakan tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter, peneguhan norma sosial, dan pelestarian identitas budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis fungsi-fungsi ungkapan Sunda dalam kehidupan masyarakat, khususnya di lingkungan keluarga dan sosial. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ungkapan Sunda memiliki peran penting dalam menyampaikan nilai-nilai moral, etika, dan kebijaksanaan lokal yang terus relevan hingga saat ini, khususnya juga bagai generasi muda/Gen-Z
MENAFSIR TANDA DALAM CARITA PARAHYANGAN: PERSPEKTIF LINGUISTIK FERDINAND DE SAUSSURE
Pakpahan, Ferry Parsaulian;
Suryana, Nana
KABUYUTAN Vol 4 No 2 (2025): Kabuyutan, Juli 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i2.348
Carita Parahyangan merupakan salah satu naskah penting dalam tradisi sastra Sunda Kuno yang memuat unsur sejarah, mitologi, serta legitimasi kekuasaan politik kerajaan-kerajaan Sunda. Artikel ini menganalisis Carita Parahyangan melalui pendekatan semiotika struktural Ferdinand de Saussure dengan fokus pada konsep dasar tanda sebagai relasi antara penanda (signifier) dan petanda (signified). Melalui kajian terhadap kosakata simbolik seperti prabu, hyang, dan tapa, penelitian ini mengungkapkan bahwa makna dalam teks dibentuk secara arbitrer dan ditentukan oleh sistem nilai sosial dan budaya masyarakat Sunda. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana bahasa dalam naskah bukan sekadar alat penyampai informasi, melainkan juga sistem tanda yang mengonstruksi makna-makna ideologis. Hasil kajian ini menempatkan Carita Parahyangan sebagai teks yang mencerminkan struktur kultural yang tertanam dalam sistem linguistiknya.
TEATER KEBUDAYAAN SEBAGAI MEDIA PROMOSI WISATA KECAMATAN JATIGEDE, SUMEDANG
Susanti, Santi;
Saputra, Sandi Jaya;
Indriani, Sri Seti;
Mahameruaji, Jimi Narotama;
Puspitasari, Lilis;
Rosfiantika, Evi;
Alam, Pandu Watu
KABUYUTAN Vol 4 No 2 (2025): Kabuyutan, Juli 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i2.349
Gagasan pembangunan Teater Kebudayaan Kecamatan Jatigede (TKKJ) sebagai ruang kreatif dan media promosi wisata berbasis budaya lokal merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Prodi Televisi dan Film FIKOM Unpad. TKKJ dirancang sebagai pusat kolaborasi antara komunitas budaya, akademisi, dan pelaku industri kreatif, dengan fungsi utama menyajikan narasi lokal melalui pertunjukan teater dan konten multimedia. Meskipun belum direalisasikan, konsep ini menawarkan pendekatan inovatif dalam pengembangan pariwisata berbasis pengalaman dan partisipasi masyarakat.Metode yang digunakan meliputi produksi konten kreatif berupa video dan foto promosi, serta perencanaan pembangunan fisik Jatigede Display Room di sekitar Masjid Al-Kamil. Konten audiovisual dirancang untuk menampilkan kekayaan budaya lokal, seperti mitos, sejarah, dan ekspresi seni kontemporer, dengan prinsip multimedia learning untuk meningkatkan daya tarik dan retensi informasi wisatawan. TKKJ diharapkan menjadi creative hub yang memperkuat branding Jatigede sebagai destinasi budaya dan edukatif.Tantangan seperti keterbatasan SDM, pendanaan, dan keberlanjutan program diantisipasi melalui sinergi lintas sektor dan dukungan kebijakan. Dengan perencanaan yang matang dan pelibatan komunitas, TKKJ berpotensi menjadi model promosi wisata budaya yang berkelanjutan dan berdampak sosial.
PENINGKATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) MELALUI IDENTIFIKASI DAN MITIGASI RISIKO DI HOME INDUSTRI TAHU EEN
Setiawan, Setiawan
KABUYUTAN Vol 4 No 2 (2025): Kabuyutan, Juli 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i2.351
Perkembangan industri, terutama sektor informal yang sedang tumbuh di Indonesia, memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian negara. Sektor ini menciptakan lapangan kerja bagi pengangguran dan meningkatkan pendapatan pekerja. Kegiatan pengkajian dan sosialisasi di industri tahu EEN bertujuan untuk : a.Mengetahui masalah kesehatan yang ada di home industri tahu EEN. b.Menentukan solusi dan tindakan yang di lakukan dalam mengatasi masalah kesehatan yang ada di home industri tahu EEN. c.Mengetahui faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja di home industri. d.Mengetahui jenis-jenis kecelakaan kerja di dapur secara umum. e.Mengetahui pencegahan kecelakaan kerja di home industri. Metode yang dilakukan dalam sosialisasi ini yaitu ceramah yang dilakukan kepada pekerja di pabrik tahu EEN. Implementasi dilaksanakan pada tanggal 24 Januari 2025, saat dilakukan implementasi seluruh pekerja tampak memperhatikan dengan seksama terkait materi yang disampaikan, acara berjalan lancar sesuai dengan konsep yang telah direncanakan. Kegiatan pendidikan kesehatan berlangsung tertib dan peserta aktif mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan. Pekerja pun mampu mengikuti materi-materi yang sudah diberikan. Berdasarkan hasil pretest pada 8 orang pekerja, nilai pretest rata-rata adalah 70. Sebanyak 4 orang memiliki nilai pretest diatas rata-rata sedangkan 4 lainnya di bawah rata-rata. Selanjutnya pada hasil nilai posttest rata-rata adalah 95. Sebanyak 8 orang memiliki nilai posttest di atas rata-rata. Hal ini menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan pada seluruh pekerja mengenai standar penggunaan APD, potensi bahaya saat bekerja, dan prinsip-prinsip dalam menerapkan kesehatan dan keselamatan kerja. Saran agar pihak pabrik tahu EEN lebih memperhatikan dan menyediakan mengenai penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang aman dan nyaman untuk para pekerja serta menyediakan kotak P3K sebagai obat untuk antisipasi apabila terjadi kecelakaan kerja.
KRITIK SOSIAL DALAM FILM-FILM SI KABAYAN DI ERA ORDE BARU: LEGALISASI JUDI, SISTEM IJON, DAN KETIDAKAMANAN MASYARAKAT
Permana, Rangga;
Darsa, Undang Ahmad;
Nani Sumarlina, Elis Suryani
KABUYUTAN Vol 4 No 2 (2025): Kabuyutan, Juli 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i2.352
Artikel ini membahas representasi kritik sosial dalam tiga film Kabayan, yaitu Si Kabayan (1975), Si Kabayan Saba Kota (1989), dan Si Kabayan dan Gadis Kota (1989), yang diproduksi dalam kurun waktu pemerintahan Orde Baru. Penelitian ini mengangkat tiga isu utama yang terekam dalam narasi film: pertama, legalisasi judi oleh pemerintah dan dampaknya terhadap masyarakat; kedua, sistem ijon yang mencengkeram petani miskin di desa; dan ketiga, ketidakamanan sosial termasuk maraknya penculikan pada era tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis tekstual dengan pendekatan kultural-politik, yang memadukan telaah terhadap unsur sinematografi, dialog, serta konteks historis-sosiologis film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film-film Kabayan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai medium kritik sosial yang efektif. Film Si Kabayan (1975) menyindir keras kebijakan negara dalam melegalkan praktik judi yang merusak tatanan moral masyarakat. Film Si Kabayan Saba Kota (1989) secara eksplisit menampilkan penindasan sistemik terhadap petani melalui praktik ijon, sekaligus memperlihatkan ketidakberdayaan aparat desa. Sedangkan dalam Si Kabayan dan Gadis Kota (1989), kekhawatiran atas penculikan mencerminkan kondisi sosial-politik di mana rakyat merasa tidak aman, baik oleh kriminalitas maupun oleh represi negara. Dengan menjadikan Kabayan sebagai simbol perlawanan kaum marjinal, ketiga film ini menyuarakan keresahan rakyat kecil terhadap ketimpangan struktural di era Orde Baru. Dengan demikian, film Kabayan dapat dibaca sebagai teks kultural yang menawarkan wacana perlawanan terhadap hegemoni negara.
SISI SOSIOLINGUISTIK PENGGUNAAN VOKATIF PANGKAT KEMILITERAN DALAM NOVEL BERBAHASA SUNDA OLEH-OLEH PERTEMPURAN KARYA RUKMAN HS
wahya
KABUYUTAN Vol 4 No 2 (2025): Kabuyutan, Juli 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i2.353
Artikel ini membahas sisi sosiolinguistik penggunaan vokatif pangkat kemiliteran dalam bahasa Sunda. Di dalamnya dibahas penggunaan vokatif pangkat kemiliteran ini dari sisi bentuk, hubungan sosial penutur dan mitra tutur, dan penggunaannya dalam tingkat tutur bahasa Sunda. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Penyediaan adat menggunakan metode simak dengan teknik catat. Penganalisisan data menggunakan metode padan dengan pendekatan sosiolinguistik. Sumber data yang digunakan adalah sumber data tunggal, yaitu sumber data tulis berupa novel berjudul Oleh-Oleh Pertempuran edisi 2006 karya Rukmana Hs. Penggunaan sumber data ini dengan mempertimbangkan terdapatnya data yang diperlukan di samping sebagai sampel. Data yang diperoleh berdasarkan kritreia yang ditentukan dari sumber data berjumlah 18 data. Berdasarkan hasil analsisis data dapat disimpulkan sebagai berikut. Dari 18 data yang diperoleh, 10 data merupakan vokatif pangkat kemiliteran bentuk utuh; 3 data merupakan vokatif pangkat kemiliteran bentuk penggalan, dan 5 data merupakan vokatif pangkat kemiliteran bentuk kombinasi. Secara hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur dalam penggunaan vokatif pangkat kemiliteran ini, ada tiga jenis, yaitu (1) pertemanan ada 3 data, (2) bawahan-atasan/komandan ada 12 data, (3) atasan/komandan-bawahan ada 3 data. Kepangkatan militer yang merupakan pangkat bawahan-atasan ada lima, yaitu (1) Kopral-Sersan, (2) Kapten-Jendral, (3) Kopral-Letnan, (4) Sersan-Kapten, dan (5) Letnan-Kapten. Kepangkatan militer yang merupakan pangkat-atasan bawahan ada (3), yaitu (1) Letnan-Kopral, (2) Sersan-Kopral, dan (3) Letnan Muda-Sersan. Tingkat tutur yang digunakan penutur tehadap mitra tutur ada dua jenis, yaitu tingkat tutur hormat ada 13 data dan tingkat tutur akrab ada 5 data.
STRATEGI PENGELOLAAN MUSEUM POS INDONESIA SEBAGAI WISATA EDUKASI DI KOTA BANDUNG
Perdana, Fitri;
Sinaga, Dian
KABUYUTAN Vol 4 No 2 (2025): Kabuyutan, Juli 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i2.354
Pertumbuhan ekonomi mampu mendukung berbagai sektor dan berkontribusi pada kemajuan pembangunan serta membawa manfaat dan rekreatif bagi masyarakat lokal dan wisatawan asing. Perjalanan wisata ke lokasi tertentu yang tujuan utamanya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang berhubungan langsung dengan lokasi yang dikunjungi menjadi daya tarik tersendiri. Salah satu objek wisata yang menarik untuk dikunjungi, yaitu wisata edukasi yang ditawarkan oleh dengan Museum. Museum tidak hanya memberikan fasilitas rekreasi melainkan juga memberikan aspek edukasi berupa pembelajaran sejarah dan budaya, sehingga wisatawan selain memperoleh hiburan juga memperoleh ilmu pengetahuan baru. Salah satu Museum yang ada di Indonesia khususnya Kota Bandung yaitu Museum Pos Indonesia. Museum Pos Indonesia merupakan pusat informasi, pendidikan dan pengembangan budaya, serta sebagai tujuan wisata edukasi yang menarik, yang dapat berkontribusi dan mengembangkan pariwisata di Kota Bandung. Benda koleksi yang dimiliki Museum Pos Indonesia dikelompokkan ke dalam 3 jenis koleksi yaitu: koleksi sejarah, koleksi filateli, dan koleksi peralatan. Dalam penelitian ini akan membahas mengenai pengelolaan dan pengembangan Museum Pos Indonesia menjadi daya tarik wisata edukasi. Pengelolaan dan pengembangan Museum Pos Indonesia berupa program kegiatan yang meliputi koleksi, pengawasan, pemeliharaan koleksi, penyajian koleksi, pengembangan benda koleksi, serta pengelolaan kunjungan. Strategi pengembangan yang dapat diterapkan di Museum dapat dilakukan melalui kerjasama promosi dan manajemen yang baik. Pemerintah ikut berperan serta dalam memberikan pengawasan terhadap perkembangan Museum.
MORAL AND ETHICAL TEACHINGS IN THE MANUSCRIPT "TERJEMAH SA'ADATUL-ANAM" BY SAYID USMAN BIN YAHYA : A PHILOLOGICAL STUDY
Firmansyah, Eka Kurnia
KABUYUTAN Vol 4 No 2 (2025): Kabuyutan, Juli 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i2.356
This study discusses the manuscript “Terjemah Sa’adatul-Anam” written by Sayid Usman bin Yahya. This manuscript not only serves as a translation of the Arabic book of its counterpart, “Sa’adatul-Anam”, but also provides a summary that facilitates the dissemination of moral and ethical Islamic teachings. It plays an important role in promoting Islamic values relevant to the social conditions of society, particularly in addressing the issue of separating religious values from social life. This study aims to reveal the language style and writing techniques used by Sayid Usman bin Yahya in the manuscript and to analyze its content. Using a philological approach, this research examines the manuscript textually to understand the accuracy and relevance of meaning within linguistic and social contexts of its time. The research methods include manuscript inventory, physical description (codicology), transliteration, and manuscript translation. The results show that “Terjemah Sa’adatul-Anam” manuscript exhibits uniqueness in language style and writing techniques, while also possessing significant value in terms of conveying Islamic teachings. Sayid Usman bin Yahya applies a translation method that maintains the original meaning while adapting the language to ensure it is easily understood by the target audience. However, it was found that the writing style of this manuscript does not fully conform to the “Pedoman Bahasa dan Sastra Melayu” (Guidelines for Malay Language and Literature) by J.J. de Hollander. This study emphasizes the importance of preserving ancient manuscripts through digitization and further studies of text editions. Comprehensive conservation and in-depth analysis of this work are expected to contribute to philological studies and the intellectual history of Islam in the Nusantara, while also preserving scholarly heritage with significant historical and academic value.
“KRITIK BERADAB” TERHADAP URBANISASI DI KOTA BANDUNG DALAM FILM SI KABAYAN DAN GADIS KOTA (1989)
Permana, Rangga;
Sumarlina, Elis;
Darsa, Undang
KABUYUTAN Vol 4 No 3 (2025): Kabuyutan, Nopember 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i3.340
Film Si Kabayan dan Gadis Kota (1989) menampilkan dua adegan yang secara implisit mengkritik fenomena gelandangan serta kebijakan pembangunan terpusat pada kota besar pada era Orde Baru. Latar belakang penelitian ini adalah percepatan urbanisasi Bandung pada akhir 1980-an yang memicu ketimpangan pembangunan, kemiskinan, dan peningkatan populasi tunawisma. Tujuan penelitian ialah menguak bagaimana film tersebut menyampaikan kritik beradab—kritik halus, etis, dan humoristik—terhadap urbanisasi berlebih dan penanganan gelandangan. Metode yang digunakan adalah analisis teks (textual analysis) kualitatif, meliputi transkripsi dialog, kode waktu, dan analisis teknik sinematik (close-up, long-shot, medium-shot). Data dikoding berdasarkan tema-tema kritis (urbanisasi, ketimpangan, kebijakan sosial), kemudian diinterpretasikan melalui triangulasi dengan literatur tentang urbanisasi Indonesia, pembangunan desa, dan teori sinema. Hasil menunjukkan film menyampaikan kritik melalui dialog satir Ibing, penggunaan close-up untuk menonjolkan penderitaan tunawisma, serta long-shot yang menegaskan konteks sosial-politik kota. Kritik tersebut bersifat beradab: disampaikan dengan bahasa sopan dan humor, sehingga menghindari konfrontasi langsung namun tetap memicu refleksi sosial. Temuan ini memperluas pemahaman tentang peran sinema sebagai media politik yang dapat menembus sensor Orde Baru dan menyuarakan keadilan sosial.