cover
Contact Name
Herianto
Contact Email
muslimhid@gmail.com
Phone
+6285345631391
Journal Mail Official
e.journal@stishid.ac.id
Editorial Address
Jl. Mulawarman, Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak, Kel. Teritip, Kec. BPN Timur, Kota Balikpapan, Prov. Kaltim
Location
Kota balikpapan,
Kalimantan timur
INDONESIA
Ulumul Syar’i : Jurnal Ilmu-Ilmu Hukum dan Syariah
ISSN : 20860498     EISSN : 26224674     DOI : 10.52051/ulumulsyari.v10i2
Ulumul Syari: Jurnal Ilmu Ilmu Hukum dan Syariah is a peer-reviewed journal managed by LPPM STIS Hidayatullah Balikpapan. The scope of the Journal is in the field of Islamic Law Studies with the main topics focused on Akhwal Syahsiyah (Islamic Family Law), Muamalah (Sharia Economic Law), Jinayah (Islamic Criminal Law), Studies of the Quran and Hadith, using an approach normative, history, philosophy, and sociology.
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 56 Documents
Harta Bersama Perkawinan Pasca Perceraian Di Pengadilan Agama Sambas (Putusan Hakim Nomor. 144/Pdt.G/2019/PA.Sbs) Asman Asman
Ulumul Syar'i : Jurnal Ilmu-Ilmu Hukum dan Syariah Vol. 8 No. 1 (2019): Ulumul Syar'i
Publisher : LPPM STIS Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52051/ulumulsyari.v8i1.46

Abstract

Banyak perkawinan yang harus berakhir dengan perceraian, Persoalan mengenai harta bersama sering terjadi antara mantan suami dan mantan istri. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Metode pendekatan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan yuridis normatif. Responden dalam penelitian yaitu hakim di Pengadilan Agama Sambas. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu : (1) Persamaan saat pengajuan gugatan harta bersama dari Pengadilan Agama Sambas, bahwa pembagian harta bersama dalam perkawinan dilakukan setelah ada putusan perceraian. (2) Perbedaan menurut KHI berdasarkan pada Pasal 97 harta bersama setelah perceraian dibagi rata, masing-masing ½ bagian antara suami dan isteri sama. Sedangkan menurut KUHPerdata pembagian dapat dilakukan atas bukti-bukti yang diajukan oleh penggugat dan tergugat. (3) Dasar pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara pembagian harta bersama menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) ada dua yaitu dasar musyawarah dan keadilan.
Pacaran Menurut Muhammad Shodiq Mustika (Studi Terhadap Catatan di Situs www.pacaranislami.wordpress.com) Ahmad Ahmad; Arfan Arfan
Ulumul Syar'i : Jurnal Ilmu-Ilmu Hukum dan Syariah Vol. 8 No. 1 (2019): Ulumul Syar'i
Publisher : LPPM STIS Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52051/ulumulsyari.v8i1.47

Abstract

Muhammad Shodiq Mustika melalui blognya www.pacaranislami.wordpress.com, menyatakan bahwa pacaran tidaklah haram. Pacaran termasuk perkara muamalah, sehingga butuh dalil sebagai pengharamannya. Ia membolehkan berduaan (khalwat), melihat dan menyentuh antar lawan jenis yang bukan mahram. Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research) yang bersifat kualitatif dan diuraikan secara deskriftif-analitik. Pacaran termasuk perkara muamalah adalah pemahaman yang keliru bila dilihat pada pengertian muamalah itu sendiri. Adapun pendapatnya tentang bolehnya berduaan (khalwat), melihat dan menyentuh lawan jenis yang bukan mahram terkesan memudahkan tanpa meninjau akibat yang akan muncul setelahnya. Meskipun beberapa pendapatnya sejalan dengan syariat, namun pendapat-pendapatnya dalam meng-interpretasikan kaidah dan hadits tersebut cenderung terburu-buru, kurang luas dan mendalam. Pendapatnya juga bertolak belakang dengan konsep maqasidus syari’ah tentang larangan yang bersifat preventif dalam pergaulan antar lawan jenis yang bukan mahram.
Pendapat Imam Syafiʻ i Tentang Penangguhan Harta Warisan Orang Hilang (Studi Kitab Al-Umm) Faslul Rahman
Ulumul Syar'i : Jurnal Ilmu-Ilmu Hukum dan Syariah Vol. 8 No. 1 (2019): Ulumul Syar'i
Publisher : LPPM STIS Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52051/ulumulsyari.v8i1.50

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi atas perbedaan pendapat Imam Syāfıʻī dan Imam mazhab lainnya mengenai warisan orang hilang. Para ulama berbeda pendapat sampai kapan penangguhan dilakukan, apakah ditetapkan berdasarkan perkiraan waktu saja atau diserahkan kepada ijtihad hakim. Ada dua pertimbangan hukum dapat digunakan dalam mencari kejelasan status hukum orang yang hilang ini. Inilah yang mendasari peneliti tertarik untuk meneliti pendapat para ulama mengenai warisan orang hilang, dan peneliti menfokuskan pada pendapat Imam Syāfıʻī. Melalui teknik analisis data yang mencakup content analysis (analisis isi), pendapat Imam Syāfıʻī tentang warisan orang hilang yaitu hartanya tidak boleh dibagikan terlebih dahulu sebelum diketahui dengan yakin oleh ijtihad hakim di setiap tempat akan meninggalnya orang hilang tersebut.
Implementasi Pencatatan Perkawinan di Indonesia (Studi atas Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974) Imam Faishol
Ulumul Syar'i : Jurnal Ilmu-Ilmu Hukum dan Syariah Vol. 8 No. 2 (2019): Ulumul Syar'i
Publisher : LPPM STIS Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52051/ulumulsyari.v8i2.53

Abstract

Pencatatan perkawinan merupakan persoalan baru dalam hukum keluarga Islam yang belum ada perintah dari Al-Quran maupun hadits yang secara tegas. Namun, persoalan pencatatan perkawinan butuh intervensi negara agar terjaminnya administrasi setiap warga negara. Penulisan artikel ini ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan pencatatan perkawinan dalam Undang-Undang Perkawinan dan bagaimana dampak hukum jika perkawinan tidak dicatatkan.
Keharmonisan Rumah Tangga Pemain Persatuan Sepak Bola Indonesia Balikpapan (Persiba) Muh. Zaim Azhar; Ridwan Ponamon
Ulumul Syar'i : Jurnal Ilmu-Ilmu Hukum dan Syariah Vol. 8 No. 1 (2019): Ulumul Syar'i
Publisher : LPPM STIS Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52051/ulumulsyari.v8i1.56

Abstract

Pernikahan adalah merupakan sesuatu yang sakral yang bertujuan membangun keluarga yang sakinah mawaddah warahmah dengan menyatukan dua insan yang berbeda, seorang suami memiliki tanggung jawab kepada istri dan anaknya untuk mendidik, mengayomi, dan menafkahi, keberadaan suami ditengah-tengah keluarganya sangat dibutuhkan agar dapat memberikan keteladanan dalam membimbing anak dan istrinya agar terwujudnya keharmonisan dalam keluarga. Lantas bagaimanakah kondisi keluarga yang sering ditinggal oleh kepala keluarganya demi tuntutan profesi atau untuk mencari nafkah, hal inilah yg terjdi dalam beberapa kasus dengan keluarga pesepak bola. Keharmonisan dalam rumah tangga adalah merupakan sesuatu yang sangat penting, demikian juga dengan keharmonisan keluarga pemain sepak bola.
Pembagian Waris Masyarakat Suku Toraja (Studi Kasus 3 Keluarga RT. 09 Sepinggan Raya Balikpapan Selatan) Sri Hartati; Annisa Nurilahi
Ulumul Syar'i : Jurnal Ilmu-Ilmu Hukum dan Syariah Vol. 8 No. 2 (2019): Ulumul Syar'i
Publisher : LPPM STIS Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52051/ulumulsyari.v8i2.68

Abstract

Penelitian ini berawal dari realita yang terjadi pada 3 keluarga masyarakat suku Toraja RT. 09 Kelurahan Sepinggan Raya Balikpapan Selatan mengenai tata cara pembagian waris dengan melebihkan harta warisan kepada anak sulung. Serta tidak memberikan hak warisan kepada salah satu ahli waris. Penelitian ini akan membahas tentang faktor mengapa anak sulung mendapatkan warisan lebih dari ahli waris lainnya serta mengapa dari salah satu ahli waris tidak mendapatkan warisan. Dalam penelitian ini Peneliti memaparkan pada landasan teori; pengertian waris, dasar hukum waris, syarat dan rukun waris, ahli waris, sebab menerima waris dan penghalang-penghalang menerima waris, ashabah, radd serta waris menurut adat. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dalam praktik pembagian waris, yang diuraikan secara deskriptif tentang pembagian waris oleh 3 keluarga suku Toraja RT. 09 Kelurahan Sepinggan Raya Balikpapan Selatan. Teknik pengumpulan data dengan teknik wawancara melalui responden 3 keluarga masyarakat suku Toraja RT. 09 Kelurahan Sepinggan Raya Balikpapan Selatan. Kemudian mendokumentasikan data, dan terakhir menggunakan editing data. Dalam penelitian ini ditemukan tatacara pembagian warisan suku Toraja yaitu dengan melebihkan harta kepada anak sulung karena menganggap anak sulung berjasa dalam keluarga serta tidak memberikan hak warisan kepada salah satu ahli waris karena telah mendapatkan hibah semasa hidup pewaris. Responden dalam penelitian ini beragama Islam. Melalui teknik analisis, peneliti mendeskripsikan secara kualitatif bahwa pembagian waris suku Toraja RT. 09 Sepinggan Raya Balikpapan Selatan tertolak, berdasarkan dalam Qoidah Ushul Fiqih, hal ini merupakan al-Urf Fasid bahwa adat yang berlaku di suatu tempat meskipun membagikan dari hasil musyawarah ahli waris itu sendiri. Namun tatacara pembagiannya tidak sesuai hukum syariat yang berlaku. Keyword: Waris, Suku Toraja, Urf
Pemenuhan Nafkah Pakaian Dari Suami Kepada Istri (Studi Kasus Warga RT. 25 Kelurahan Teritip Kecamatan Balikpapan Timur) Paryadi Paryadi; Isaliyah Isaliyah
Ulumul Syar'i : Jurnal Ilmu-Ilmu Hukum dan Syariah Vol. 8 No. 2 (2019): Ulumul Syar'i
Publisher : LPPM STIS Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52051/ulumulsyari.v8i2.69

Abstract

Pemenuhan nafkah pakaian merupakan kewajiban bagi suami, namun tidak semua suami pada warga RT. 25 memberikan nafkah pakaian kepada istrinya. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Pemenuhan nafkah pakaian Warga RT. 25 Kelurahan Teritip dapat di bagi menjadi tiga kelompok. Pertama, tiga kasus nafkah pakaian yang terpenuhi. Suami berpenghasilan yang cukup dan suami telah mengetahui kewajibannya. Kedua, empat kasus nafkah pakaian yang kurang terpenuhi karena kelalaian suami serta menganggap pakaian bukan hal utama. Ketiga, tujuh kasus suami tidak memenuhi nafkah pakaian kepada istri. Suami yang tidak memberikan nafkah pakaian kepada istri dengan alasan bahwa nafkah pakaian bukan hal yang penting sehingga mendahulukan kebutuhan yang lain tidak dibenarkan dalam syariat. Adapun suami yang berpenghasilan minim dan suami yang tidak mengetahui bahwa nafkah pakaian merupakan kewajiban bagi suami, maka alasan ini adalah udzur, syariat tidak membebani hamba yang tidak mampu dan tidak mengetahui.
Kritik M. Mustafa Al-A’zami Terhadap Ignaz Goldziher Dan A.J. Wensinck Tentang Autensitas Hadis Sebagai Sumber Islam Kusnadi Kusnadi
Ulumul Syar'i : Jurnal Ilmu-Ilmu Hukum dan Syariah Vol. 8 No. 2 (2019): Ulumul Syar'i
Publisher : LPPM STIS Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52051/ulumulsyari.v8i2.70

Abstract

Hadis secara khusus berfungsi sebagai salah satu sumber dalam penetapan hukum. Hadis baru dibukukan secara formal pada akhir abad pertama dan awal abad kedua hijrah yaitu pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat deskriptif. Maksudnya memberikan gambaran pemikiran metode kritik Muhammad Mustafa al-A’zami terhadap Ignaz Goldziher dan Wensinck. Hasil dari penelitian ini, pertama, Menurut A’zami pernyataan Goldziher yang menuduh penelitian hadis yang dilakukan oleh ulama tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, karena lebih banyak menggunakan metode kritik sanad, dan kurang menggunakan metode kritik matan adalah tidak tepat, karena tidak ada bukti historis yang mendukung teori Goldziher dan bertentangan dengan sejarah. Kedua, Wensinck menginkari tentang Hadis akidah. Wensinck menuduh bahwa shalat baru selesai dalam bentuknya yang terakhir sesudah Nabi Saw wafat. Menurut A’zami Aneh sekali pernyataan Wensinck, sebab al-Qur’an berkali-kali menyuruh untuk mengerjakan shalat, begitu pula hadis Nabi SAW yang menerangkan tentang shalat. A’zami menyatakan syahadat dibaca setiap tahiyat dalam shalat. Kemudian A’zami menggunakan metode sejarah sebagai bantahan dan pembatalan terhadap teori dan pernyataan pemikir orientalis tersebut. Menurut hemat peneliti kalau ditelusuri lebih jauh, para orientalis dalam mengkaji teks Hadis cenderung berdasarkan pada perspektif Barat dan dipengaruhi oleh teori Bibel, sehingga mengakibatkan kesimpulan yang fatal.
Keutuhan Pasangan Suami Istri Penderita Sakit Kronis Di Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan Abdurrahman Abdurrahman
Ulumul Syar'i : Jurnal Ilmu-Ilmu Hukum dan Syariah Vol. 8 No. 2 (2019): Ulumul Syar'i
Publisher : LPPM STIS Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52051/ulumulsyari.v8i2.71

Abstract

Penyebab utama menurut data Peradilan Agama Mahkamah Agung tahun 2010 adalah faktor ekonomi dan perselingkuhan. Ketika istri atau suami yang sakit, sangat memungkinkan terjadinya perceraian. Karena apabila istri sakit memungkinkan suaminya selingkuh dan apabila suami yang sakit maka secara rasio perekonomian akan menurun. Di Pesantren Hidayatullah terdapat pasutri yang salah satunya menderita sakit kronis namun kehidupannya semakin erat. Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bersifat studi kasus yang diuraikan secara deskriptif tentang cara mempertahankan keutuhan pasutri yang salah satu pasangannya menderita sakit kronis di Ponpes Hidayatullah Balikpapan. Subyek dan objek penelitian yakni 4 pasutri. Teknik pengambilan data dengan wawancara dan observasi. Data diolah dengan teknik editing, klasifikasi, kemudian dianalisa dan disimpulkan. Hasil penelitian mengungkap bahwa pasutri tersebut mempertahankan rumahtangganya karena berlandaskan keimanan, syukur, bersabar, ridha, taat kepada pimpinan, menjaga komunikasi, menyamakan persepsi, saling terbuka, mengalah, memahami, dan menghargai dan didukung dengan kajian pustaka sebagai referensi untuk memperkuat data yang diperoleh dari lapangan. Salah satu cara mempertahankannya adalah dengan kesabaran. Salah satu dari maqasid al-syari’ah tersebut dalam kaitannya dengan pernikahan adalah memelihara agama. Dalam hal ini pasutri di Hidayatullah lebih mementingkan keutuhan rumah tangga demi menjaga agama. Walaupun di sisi lain pasangan tersebut dibolehkan bercerai apabila tidak terpenuhi hak dan kewajibannya.
Persepsi Anggota MUI Balikpapan Tentang Praktik Mapacci Prapernikahan Di Kelurahan Manggar Baru Kecamatan Balikpapan Timur Muh. Zaim Azhar; Nasrullah Nasrullah
Ulumul Syar'i : Jurnal Ilmu-Ilmu Hukum dan Syariah Vol. 9 No. 1 (2020): Ulumul Syar'i
Publisher : LPPM STIS Hidayatullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52051/ulumulsyari.v9i1.72

Abstract

Penelitian ini berawal dari adanya praktik upacara mapacci sebelum akad nikah pada masyarakat Bugis di Kelurahan manggar baru Balikpapan Timur. Yang disinyalir dalam prosesnya tidak sesuai dengan aturan syariat Agama. Praktik yang dilakukan adalah bemandi antara calon mempelai, baik itu laki-laki maupun perempuan, dengan keyakinan bahwa tujuannya adalah membersihkan jiwa lahir dan batin atas segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan, ritual ini juga diyakini oleh masyarakat setempat dapat membersihkan diri dari penghalang yang dapat menghambat pernikahan karena akan melakukan ikrar yang suci, serta mengundang berkah dan rahmat Allah. Meskipun maksud dan tujuan nya sangat baik akan tetapi bertolak belakang dengan hukum syariat. Dalam masalah ini persepsi anggota MUI Balikpapan berbeda pendapat ada yang sepakat karena tujuan dan maksudnya adalah baik, namun yang lain mengatakan bahwa praktik ini tidak sesuai dengan aturan agama Islam sehingga masyarakat harus diberi pencerahan agar budaya ini tidak terus menerus dilakukan. Oleh karena itu kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwasanya praktik mapacci ini adalah merupakan budaya atau adat istiadat yang keliru atau disebut dengan ‘urf fasid, Karena tidak sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam.