cover
Contact Name
Sutia Budi
Contact Email
sutia.budi@universitasbosowa.ac.id
Phone
+6285255067957
Journal Mail Official
jurnal.kontemporer@universitasbosowa.ac.id
Editorial Address
Jl. Urip Sumordjo KM 4 Makassar Ruangan Program Studi Sosiologi Lantai 7 Gedung 1 Email: jurnal.kontemporer@universitasbosowa.ac.id
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Sosiologi Kontemporer
Published by Universitas Bosowa
ISSN : 28088859     EISSN : 28088840     DOI : https://doi.org/10.56326/jsk.v3i1
Jurnal Sosiologi Kontemporer menerbitkan artikel yang pada bidang sosiologi. Bagi penulis yang memiliki artikel pada bidang ini dapat disesuaikan dengan panduan penulisan dan template kemudian disubmit secara online di website jurnal dengan melakukan registrasi terlebih dahulu.
Articles 90 Documents
Analisis Pengaruh Kerja Part-Time terhadap Burnout di Kalangan Mahasiswa Universitas Palangka Raya Adluna Ramadhani; Fika Nurriya Hediyaty; Dinawatie Dinawatie
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2026
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v6i1.9232

Abstract

Fenomena mahasiswa yang bekerja part-time semakin meningkat akibat tuntutan ekonomi dan kebutuhan hidup, sehingga banyak mahasiswa menjalani peran ganda sebagai pelajar dan pekerja. Kondisi ini berpotensi menimbulkan academic burnout karena adanya tekanan fisik dan mental dalam menyeimbangkan tanggung jawab akademik dan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kerja part-time terhadap academic burnout pada mahasiswa Universitas Palangka Raya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada mahasiswa yang bekerja part-time, dengan teknik simple random sampling sebanyak 30 responden. Data dianalisis menggunakan analisis univariat untuk menggambarkan kondisi masing-masing variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerja part-time memberikan manfaat bagi mahasiswa, terutama dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menunjang biaya perkuliahan. Selain itu, dukungan sosial dan lingkungan kerja yang kondusif membantu mahasiswa dalam menjalani peran ganda. Meskipun terdapat kelelahan fisik dan mental, tingkat academic burnout yang dialami mahasiswa cenderung rendah. Mahasiswa tetap mampu menjaga motivasi belajar serta menyelesaikan tanggung jawab akademik dengan baik, sehingga kerja part-time tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan academic burnout.
Eco-Masjid Sebagai Model Transformasi Kesadaran Lingkungan Jamaah Di Kota Makassar: Studi Sosiologi Agama Atas Praktik Pengelolaan Sampah Dan Hemat Air Jamal Mirdad
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2026
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v6i1.9235

Abstract

Penelitian ini membahas eco-masjid sebagai model transformasi kesadaran lingkungan jamaah di Kota Makassar. Isu ini penting karena persoalan sampah, penggunaan air, dan rendahnya kesadaran ekologis masyarakat perkotaan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sosial, budaya, dan keagamaan. Masjid sebagai institusi sosial-keagamaan memiliki posisi strategis dalam membentuk perilaku kolektif jamaah melalui pengelolaan sampah dan prak tik hemat air. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melibatkan 10 informan, tekhnik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi, dengan analisis data model Miles dan Huberman reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini secara khusus mengkaji eco-masjid sebagai model transformasi kesadaran lingkungan jamaah di Kota Makassar melalui perspektif sosiologi agama, terutama dengan melihat dua praktik utama, yaitu pengelolaan sampah dan penghematan air. Teori utama yang digunakan adalah New Ecological Paradigm yang dikembangkan oleh William R. Catton Jr. dan Riley E. Dunlap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik eco-masjid di Kota Makassar belum berjalan optimal. Sebagian besar masjid belum menerapkan pemilahan sampah dan sistem hemat air yang baik. Dari hasil penelusuran peneliti, hanya ditemukan satu masjid yang memiliki program bank sampah, namun partisipasi jamaah masih rendah akibat minimnya kesadaran dan pemahaman lingkungan. Dalam perspektif New Ecological Paradigm (NEP), eco-masjid berpotensi mentransformasi kesadaran jamaah dari pola pikir antroposentris menuju kesadaran ekologis. Penerapan eco-masjid didukung oleh banyaknya jumlah masjid dan fungsi masjid sebagai pusat dakwah, tetapi masih terhambat oleh apatisme jamaah, rendahnya literasi lingkungan, serta keterbatasan lahan pada sebagian masjid kecil. This study examines eco-mosque as a model for transforming the environmental awareness of congregants (jamaah) in Makassar City. This issue is significant because problems of waste management, water use, and low ecological awareness among urban communities are not merely technical, but also social, cultural, and religious in nature. As a socio-religious institution, the mosque holds a strategic position in shaping the collective behavior of congregants through waste management and water-saving practices. This study employs a qualitative approach involving 10 informants, with data collected through observation, interviews, and documentation, and analyzed using the Miles and Huberman model of data reduction, data display, and conclusion drawing/verification. Specifically, this study explores the eco-mosque as a model for transforming congregants' environmental awareness in Makassar City through the lens of the sociology of religion, focusing on two main practices: waste management and water conservation. The main theoretical framework applied is the New Ecological Paradigm (NEP), developed by William R. Catton Jr. and Riley E. Dunlap. The findings indicate that the implementation of eco-mosque practices in Makassar City has not yet run optimally. Most mosques have not adopted proper waste sorting or effective water-saving systems. The study identified only one mosque with a waste bank program, and even there, congregant participation remains low due to limited environmental awareness and understanding. From the perspective of the New Ecological Paradigm, the eco-mosque holds potential to transform congregants' mindset from an anthropocentric orientation toward greater ecological consciousness. The development of eco-mosques is supported by the large number of mosques and their function as centers of da'wah (Islamic outreach), yet it remains constrained by congregants' apathy, low environmental literacy, and land limitations in some smaller mosques.
Praktik Adaptasi Nelayan Dalam Kesenjangan Digital Di Desa Tetehosi I, Nias Erika Enjellina Hia; Rizki Amalia Yanuartha; Antik Tri Susanti
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2026
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v6i1.9257

Abstract

Penelitian ini mengkaji praktik adaptasi nelayan dalam menghadapi kesenjangan digital di Desa Tetehosi I, Kecamatan Idanogawo, Kabupaten Nias. Fokus penelitian diarahkan pada bentuk kesenjangan digital yang dialami nelayan serta strategi yang mereka lakukan dalam memasarkan hasil tangkapan ikan di tengah keterbatasan akses teknologi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi terhadap 12 informan yang terdiri dari nelayan, pedagang ikan, pengepul, konsumen, dan aparat desa. Analisis menggunakan perspektif digital divide Van Dijk serta konsep modal, habitus, dan arena Pierre Bourdieu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan di Desa Tetehosi I menghadapi kesenjangan digital terutama pada aspek akses infrastruktur dan pemanfaatan teknologi secara produktif. Keterbatasan jaringan internet menyebabkan penggunaan media digital belum berkembang secara optimal. Akan tetapi, sebagian besar nelayan telah memiliki telepon pintar dan mampu menggunakan aplikasi seperti WhatsApp dan Facebook. Teknologi tersebut lebih banyak digunakan untuk komunikasi sehari-hari daripada pemasaran ikan karena hasil tangkapan umumnya telah terserap melalui jaringan pembeli dan pengepul yang telah terbentuk. Dalam kondisi tersebut, nelayan mengembangkan strategi adaptasi melalui penjualan langsung di pantai, pemanfaatan media digital secara terbatas melalui status WhatsApp dan komunikasi telepon, serta penggunaan cool box untuk menjaga kualitas hasil tangkapan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kuatnya modal sosial dan habitus pemasaran tradisional menjadi faktor penting yang membuat praktik pemasaran lokal tetap dipertahankan meskipun peluang digitalisasi tersedia. Oleh karena itu, kesenjangan digital pada masyarakat nelayan tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan teknologi, tetapi juga dipengaruhi oleh struktur sosial dan praktik ekonomi yang telah mengakar dalam kehidupan sehari-hari. This study examines how fishers adapt to the challenges of the digital divide in Tetehosi I Village, Idanogawo District, Nias Regency. It focuses on the forms of digital inequality experienced by local fishers and the strategies they employ to market their catch despite limited access to digital technology. A descriptive qualitative approach was adopted, with data collected through in-depth interviews, field observations, and documentation involving twelve informants, including fishers, fish traders, middlemen, consumers, and village officials. The analysis draws on Van Dijk’s digital divide framework and Pierre Bourdieu’s concepts of capital, habitus, and field. The findings reveal that the digital divide among fishers is primarily reflected in limited digital infrastructure and the underutilization of technology for productive economic activities. Poor internet connectivity remains a major obstacle to the broader use of digital media. Nevertheless, most fishers already own smartphones and are familiar with applications such as WhatsApp and Facebook. These platforms are used mainly for everyday communication rather than fish marketing, as the majority of catches are already distributed through long-established networks of buyers and middlemen. In response to these conditions, fishers have developed various adaptive strategies, including direct sales at the beach, limited use of digital media through WhatsApp status updates and phone communication, and the use of cool boxes to preserve the quality of their catch. The study further demonstrates that strong social capital and a deeply embedded traditional marketing habitus continue to shape local marketing practices, even as opportunities for digitalization become increasingly available. These findings suggest that the digital divide within fishing communities cannot be understood solely as a matter of technological access, but must also be viewed in relation to the social structures and economic practices that have long been embedded in everyday life.
Identitas Sosial Dalam Pola Circle Mahasiswa Fajrianan Lutfi Ramadhan; Arizal Mutahir; Hendri Restuadhi; Wiman Rizkidarajat
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Desember 2025
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v5i2.6359

Abstract

Fenomena circle pertemanan di kalangan mahasiswa menunjukkan bagaimana identitas sosial terbentuk melalui proses interaksi sosial dalam kehidupan kampus. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai individu akademik, tetapi juga sebagai aktor sosial yang membangun jaringan pertemanan sebagai sarana pembentukan jati diri dan nilai sosial. Penelitian ini bertujuan memahami proses pembentukan identitas sosial mahasiswa melalui circle pertemanan di ruang fisik dan digital. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka (library research) berdasarkan teori Identitas Sosial Tajfel dan Turner serta teori Interaksionisme Simbolik Mead dan Blumer. Analisis dilakukan secara interpretatif dan komparatif terhadap literatur primer dan sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas sosial mahasiswa terbentuk melalui proses kategorisasi, identifikasi, dan perbandingan sosial yang menumbuhkan rasa memiliki terhadap kelompok (in-group) serta membedakan diri dari kelompok lain (out-group). Circle pertemanan menjadi arena negosiasi makna sosial dan pembentukan solidaritas, sementara ruang digital seperti grup WhatsApp dan media sosial memperluas interaksi simbolik yang memperkuat kohesi serta ekspresi identitas kolektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa circle pertemanan berperan penting dalam membentuk identitas sosial mahasiswa yang adaptif, reflektif, dan inklusif, sekaligus mencerminkan perubahan pola interaksi sosial generasi muda di era digital. The phenomenon of friendship circles among students shows how social identity is formed through the process of social interaction in campus life. Students not only act as academic individuals, but also as social actors who build a network of friends as a means of forming identity and social values. This study aims to understand the process of social identity formation of students through the circle of friends in the physical and digital space. The method used is descriptive qualitative with library research approach based on social identity theory of Tajfel and Turner and symbolic interactionism theory of Mead and Blumer. The analysis was carried out in an interpretative and comparative manner to the relevant primary and secondary literature. The results showed that the social identity of students is formed through the process of categorization, identification, and social comparison that fosters a sense of belonging to the group (in-group) and distinguish themselves from other groups (out-group). Friendship circles become arenas for negotiating social meaning and forming solidarity, while digital spaces such as WhatsApp groups and social media expand symbolic interactions that strengthen cohesion as well as the expression of collective identity. This study concludes that the circle of friends plays an important role in shaping the social identity of students who are adaptive, reflective, and inclusive, as well as reflecting the changing patterns of social interaction of the younger generation in the digital age.
Penerapan E-Government Dan Kinerja Aparatur Sipil Negara Pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Makassar Muh. Ilham; Andi Muhibuddin; Juharni Juharni
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2025
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v5i1.6416

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan E-Government, budaya kerja, motivasi, serta sarana dan prasarana terhadap kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan survei melalui kuesioner yang disebarkan kepada 29 responden ASN di BPBD Kota Makassar. Data dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan E-Government berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja ASN dengan nilai signifikansi 0,000. Selain itu, budaya kerja, motivasi, serta sarana dan prasarana juga berpengaruh signifikan terhadap kinerja dengan nilai signifikansi masing-masing sebesar 0,000; 0,000; dan 0,014. Uji F membuktikan bahwa keempat variabel tersebut berpengaruh secara simultan terhadap kinerja ASN. Temuan ini mengindikasikan bahwa optimalisasi E-Government, peningkatan budaya kerja, motivasi, dan penyediaan sarana-prasarana yang memadai dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan kinerja ASN di BPBD Kota Makassar. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi pengambil kebijakan dalam merancang program peningkatan kinerja aparatur di sektor penanggulangan bencana. This study aims to analyze the influence of E-Government implementation, work culture, motivation, and facilities on the performance of Civil Servants (ASN) at the Regional Disaster Management Agency (BPBD) of Makassar City. A quantitative research method was employed, utilizing a survey approach with questionnaires distributed to 29 ASN respondents at BPBD Makassar. Data were analyzed using multiple linear regression with the assistance of SPSS. The results indicate that E-Government implementation has a positive and significant effect on performance, with a significance value of 0.000. Additionally, work culture, motivation, and facilities also significantly influence performance, with significance values of 0.000, 0.000, and 0.014, respectively. The F-test confirms that these variables collectively impact ASN performance. These findings suggest that optimizing E-Government, enhancing work culture, motivation, and providing adequate facilities can be effective strategies to improve ASN performance at BPBD Makassar. This study provides practical contributions for policymakers in designing programs to enhance civil servant performance in the disaster management sector.
Pengaruh Pengembangan Karir Tunjangan Kinerja Dan Kelas Jabatan Terhadap Kinerja Pegawai Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Makassar Musfiani H.R Musfiani; Syamsul Bahri; Juharni Juharni
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2025
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v5i1.6417

Abstract

Penelitian ini bertujuan 1). untuk menganalisis Pengaruh Pengembangan karir terhadap Kinerja Pegawai pada Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Makassar. 2). Untuk menganalisis pengaruh Tunjangan Kinerja terhadap Kinerja Pegawai pada Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Makassar. 3). Untuk menganalisis pengaruh Kelas Jabatan terhadap Kinerja Pegawai pada Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Makassar. 4). Untuk menganalisis pengaruh secara Simultan Pengembangan Karir Tunjangan Kinerja dan Kelas Jabatan terhadap Kinerja Pegawai pada Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Makassar.dan 5). Untuk menganalisis Variabel yng dominan berpengaruh terhadap Kinerja Pegawai pada Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Makassar Pendekatan penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif. Penelitian dilakukan pada Kantor Imigrasi Kelas I TPI Makassar dengan Populasi penelitian adalah pegawai Kantor Imigrasi Kelas I TPI Makassar yang berjumlah 122 orang. Pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tehnik sampling jenuh populasi sekaligus menjadi Sampel jadi jumlah sampel adalah 122 orang. Tehnik pengumpulan data menggunakan kusioner dan tehnik analisis data menggunakan tehnik analisis regresi berganda. Hasil Penelitian 1). Variabel Pengembangan Karir (X1) berpengaruh positif dan signifikan terhadap variable Kinerja Pegawai Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Makassar. 2). variabel Kinerja Pegawai Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Makassar. 3). variabel Jabatan Kelas (X3) berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Kinerja Pegawai Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Makassar. 4). Uji simultan menunjukkan Pengambangan Karir (X1) Tunjangan Kinerja (X2) Kelas Jabatan (X3) secara bersama- sama berpengaruh terhadap Kinerja Pegawi (Y) pada Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Makassar.dan 5). Variabel yang paling dominan mempengaruhi Kinerja Pegawai pada Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi Makassar adalah Tunjangan Kinerja.
Pengaruh Flexible Working Arrangement Integritas Dan Tunjangan Terhadap Kinerja Pegawai Dprd Kabupaten Barru Nurmahdi Nurmahdi; Imran Ismail; Juharni Juharni
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2025
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v5i1.6418

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1). Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Flexible Working Arrangement terhadap Kinerja Pegawai DPRD Kabupaten Barru. 2). Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Integritas terhadap Kinerja Pegawai DPRD Kabupaten Barru. 3). Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Tunjangan terhadap Kinerja Pegawai DPRD Kabupaten Barru. 4). Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh secara Simultan Flexible Working Arrangement, Integritas dan Tunjangan terhadap Kinerja Pegawai DPRD Kabupaten Barru dan 5). Untuk mengetahui dan menganalisis variabel yang dominan berpengaruh terhadap Kinerja Pegawai DPRD Kabupaten Barru Pendekatan penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif. Penelitian dilakukan pada Kantor DPRD Kabupaten Barru dengan Populasi penelitian adalah pegawai DPRD Kabupaten Barru yang berjumlah 25 orang. Pemilihan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode sampling jenuh jumlah populasi sekaligus menjadi sampel sehingga jumlah sampel sebanyak 25 orang, tehnik pengumpulan data menggunakan kusioner dan tehnik analisis data menggunakan tehnik analisis regresi berganda. Hasil Penelitian 1).Variabel Flexible Working Arrangement (X1) berpengaruh positif dan signifikan terhadap variable Kinerja Pegawai DPRD Kabupaten Barru. 2). Variabel Tunjangan Kinerja (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Kinerja Pegawai DPRD Kabupaten Barru. 3). variabel Integritas (X3) berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Kinerja Pegawai DPRD Kabupaten Barru. 4). Nilai sig. uji F sebesar 0,000 pada tingkat signifikan 0,05. Nilai ini lebih kecil dari 0,05 yang menunjukkan bahwa semua variabel independen yaitu teridiri dari; Flexibel Working Arrangement (X1) Tunjangan Kinerja (X2) Integritas (X3) secara bersama-sama berpengaruh terhadap Kinerja Pegawai (Y) pada DPRD Kabupaten Barru. 5). variabel yang paling dominan mempengaruhi Kinerja Pegawai pada Kantor DPRD Kabupaten Barru adalah Integritas.
Efektivitas Pelayanan Izin Mendirikan Bangunan Di Dinas Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Tana Toraja Palerias Serang; Syamsul Bahri; Nurkaidah Nurkaidah
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2025
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v5i1.6419

Abstract

Penelitian bertujuan menganalisis efektivitas pelayanan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Tana Toraja serta faktor-faktor determinan yang memengaruhinya. Metode kualitatif deskriptif diterapkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap 15 informan kunci (pejabat struktural, petugas, dan pemohon), dan kajian dokumen sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan IMB telah mencapai tingkat efektivitas signifikan, ditandai oleh ketepatan waktu penyelesaian permohonan, kecermatan verifikasi dokumen, dan gaya pelayanan profesional-ramah. Faktor determinan utama mencakup Kesadaran Masyarakat terhadap kepatuhan prosedural, Aturan yang Jelas dan transparan, Organisasi yang Terstruktur dengan koordinasi optimal, Pendapatan yang Memadai dari retribusi untuk pengembangan sarana, serta Kemampuan dan Keterampilan Petugas yang mumpuni. Pemanfaatan teknologi informasi berperan krusial dalam meningkatkan transparansi dan efisiensi proses. Temuan ini mengonfirmasi bahwa komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan infrastruktur pendukung telah berdampak positif pada kepuasan masyarakat. Implikasi kebijakan merekomendasikan intensifikasi sosialisasi prosedur, pelatihan berkala petugas, dan pengembangan sistem online terintegrasi untuk menjaga konsistensi kualitas layanan. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi perbaikan tata kelola pelayanan perizinan di daerah berkarakteristik serupa. This study examines the effectiveness of Building Permit (IMB) services at the Investment and One-Stop Integrated Service Office (DPMPTSP) in Tana Toraja Regency and its determinant factors. A descriptive qualitative method was employed, utilizing participatory observation, in-depth interviews with 15 key informants (structural officials, officers, and applicants), and secondary document analysis. Results indicate that IMB services have achieved significant effectiveness, characterized by timely processing, accuracy in document verification, and professional-friendly service delivery. Key determinants include Public Awareness of procedural compliance, Clear and Transparent Regulations, a Well-Structured Organization with optimal coordination, Adequate Revenue from retribution for infrastructure development, and sufficient Employee Competence and Skills. The utilization of information technology played a crucial role in enhancing transparency and process efficiency. These findings confirm that the local government’s commitment to strengthening human resource capacity and supporting infrastructure has positively impacted community satisfaction. Policy implications recommend intensifying procedural socialization, regular staff training, and integrated online system development to maintain service quality consistency. The study provides practical contributions for improving permit service governance in regions with similar characteristics, emphasizing the synergy between institutional readiness and community engagement in public service optimizationretribution management.
Peran Pemerintah Dalam Pembangunan Rumah Ibadah Di Kabupaten Mimika Provinsi Papua Tengah Renzo Kalvien Palino Ada; Delly Mustafa; Juharni Juharni
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2025
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v5i1.6420

Abstract

Tujuan penelitian untuk menganalisis peran pemerintah terkait pemberian izin, penyediaan lahan, pemberian subsidi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, Sumber data yaitu sumber data primer dan sekunder. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Peran pemerintah dalam pemberian izin dalam pembangunan rumah ibadah di Kabupaten Mimika, terkait regulasi/kebijakan Perizinan mengacu pada aturan/regulasi pemerintah yang memang sudah ada; terkait Persyaratan Administratif, pemerintah daerah dalam pengurusan pembangunan rumah ibadah, syarat administrasi harus terpenuhi; terkait Penegakan Kebijakan Zonasi dan Tata Ruang, semua dokumen dan prosedur harus dipenuhi, barulah izin pembangunan rumah ibadah dapat diberikan. Peran pemerintah terkait Penyediaan lahan dalam pembangunan rumah ibadah; terkait Regulasi dan Kebijakan. cukup baik dijalankan oleh pemerintah setempat, Terkait Penyediaan lahan, walaupun agak sulit, tetapi diupayakan tersedia; terkait proses izin dan persetujuan dijalankan berdasarkan peraturan pemerintah daerah yang sudah berjalan. Peran pemerintah terkait pemberian subsidi dalam pembangunan rumah ibadah; Kebijakan yang mendukung dengan adanya kebijakan pemberian subsidi. Alokasi Anggaran sudah dilakukan, program bantuan subsidi sudah dilakukan, akan tetapi masih sangat minim. Masalah yang dihadapi antara lain: masalah tanah dan lokasi, persoalan perizinan dan regulasi, isu sosial dan keagamaan, keterbatasan anggaran daerah, keamanan dan ketertiban, dan konflik kepentingan. The purpose of the study is to analyze the role of the government in granting permits, land provision, and subsidies. This study uses a qualitative approach. Data sources are primary and secondary data sources. Data collection methods through observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate that the role of the government in granting permits for the construction of houses of worship in Mimika Regency, related to licensing regulations/policies refers to existing government rules/regulations; related to Administrative Requirements, the local government in managing the construction of houses of worship, administrative requirements must be met; related to Enforcement of Zoning and Spatial Planning Policies, all documents and procedures must be met, only then can a permit for the construction of a house of worship be granted. The role of the government in the provision of land in the construction of houses of worship; related to Regulations and Policies. is quite well carried out by the local government, related to Land Provision, although it is rather difficult, it is attempted to be available; related to the permit and approval process is carried out based on existing local government regulations. The role of the government in the provision of subsidies in the construction of houses of worship; Policies that support the existence of subsidy policies. Budget allocation has been carried out, subsidy assistance programs have been carried out, but are still very minimal. The problems faced include: land and location issues, licensing and regulatory issues, social and religious issues, regional budget limitations, security and order, and conflicts of interest.
Monitoring Dan Evaluasi Kinerja Pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Makassar Pada Program Penanganan Stunting Siti Musafira Nisa; Syamsul Bahri; Nurkaidah Nurkaidah
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Juni 2025
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v5i1.6421

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas pelaksanaan monitoring dan evaluasi (monev) dalam program penurunan stunting di Kota Makassar, dengan fokus pada peran Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Data diperoleh dari informan kunci, termasuk pejabat struktural dan fungsional Bappeda, serta operator Aksi Bangda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan monev stunting di Kota Makassar telah berjalan dengan baik, didukung oleh alokasi anggaran yang memadai dan pelatihan kader posyandu. Namun, tantangan utama meliputi ketidakakuratan data, ego sektoral antar-organisasi perangkat daerah (OPD), serta rendahnya kesadaran masyarakat tentang pola asuh anak. Studi ini mengidentifikasi lima faktor kunci yang memengaruhi efektivitas monev, yaitu ketersediaan data, komitmen pemimpin, penggunaan teknologi informasi, koordinasi lintas sektor, dan partisipasi masyarakat. Rekomendasi yang diajukan meliputi penguatan sistem pendataan terintegrasi, peningkatan kapasitas kader, dan sosialisasi kebijakan yang lebih efektif. Temuan ini memberikan kontribusi praktis bagi perbaikan kebijakan penurunan stunting di tingkat daerah, khususnya dalam konteks pembangunan kesehatan berbasis bukti. This study aims to analyze the factors influencing the effectiveness of monitoring and evaluation (monev) implementation in stunting reduction programs in Makassar City, focusing on the role of the Regional Development Planning Agency (Bappeda). The research employs a descriptive qualitative method, with data collected through observation, in-depth interviews, and documentation studies. Key informants include structural and functional officials of Bappeda, as well as Aksi Bangda operators. The results indicate that stunting monev in Makassar City has been implemented effectively, supported by adequate budget allocation and posyandu cadre training. However, major challenges include data inaccuracy, sectoral egos among regional apparatus organizations (OPD), and low public awareness of child-rearing practices. This study identifies five key factors affecting monev effectiveness: data availability, leadership commitment, information technology utilization, cross-sector coordination, and community participation. Recommendations include strengthening integrated data systems, enhancing cadre capacity, and improving policy socialization. The findings provide practical contributions to refining stunting reduction policies at the regional level, particularly in evidence-based health development contexts.