cover
Contact Name
Ihwan Amalih
Contact Email
elwaroqoh1234@gmail.com
Phone
+6281999286606
Journal Mail Official
elwaroqoh1234@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Kampus Pusat Universitas Al-Amien Prenduan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Jawa Timur Kode Pos 69465 email : elwaroqoh1234@gmail.com
Location
Kab. sumenep,
Jawa timur
INDONESIA
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin Dan Filsafat
ISSN : 25804014     EISSN : 25804022     DOI : 10.28944/el-waroqoh
El Waroqoh: Jurnal Ushuluddin dan Filsafat is a peer reviewed journal which is highly dedicated as public space to deeply explore and widely socialize various creative and brilliance academic ideas, concepts, and research findings from the researchers, academicians, and practitioners who are concerning to develop and promote the religious thoughts, and philosophies. Nevertheless, the ideas which are promoting by this journal not just limited to the concept per se, but also expected to the contextualization into the daily religious life, such as, inter-religious dialogue, Islamic movement, living Quran, living Hadith, and other issues which are socially, culturally, and politically correlate to the Islamic and Muslim community development.
Articles 88 Documents
KONSEP SIDRAT AL-MUNTAHÃ DALAM AL-QUR’AN (Studi Penafsiran ?an?âwî Jauharî al-Misrî, Ahmad Mus?ofâ Al-Marâghî dan Sa'îd Hawwâ) Sayyidah Fatimatuz Zahro; Ghozi Mubarok
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v8i1.1631

Abstract

 Textual and contextual interpretation needs to be done, seeing the number of words in the Qur'an that need to be explained so as not to cause ambiguity (more than one meaning) one of which is about Sidrat Al- Muntaha which is believed by some Muslims to be the last place of togetherness of the Prophet Muhammad SAW with the Jibril AS in the Mi'raj event. According to modern and classical mufasir, Sidrat Al-Muntaha has slight differences in interpreting or defining it both linguistically and in terms, location, form and function. In this study, we will discuss the interpretation of the three modern mufasir, namely Tantawi  Jauhari Al-Misri, Ahmad Mustafa Al-Maraghi and Sa'id Hawwa in explaining how the concept of Sidrat Al-Muntaha as well as the differences and similarities of the three mufasir about Sidrat Al-Muntaha. The research method used is library research, then the focus of the discussion uses me. After conducting research, it can be concluded that the interpretation of the three mufasir about the concept of Sidrat Al-Muntaha has two categories including: First, about the source of interpretation used by all mufasir that prioritizes atsar over ra'yu. Second about the details of interpretation. The similarity of interpretation of the three mufasir above can be seen in terms of the presentation of interpretations, both taking the opinions of the mufasir, in explaining the concept of Sidrat Al-Muntaha they both connect it with the events of Mi'raj, the three mufasir do not give ijtihad in interpreting about Sidrat Al-Muntaha. Meanwhile, the difference is that when the three mufasir explain the concept of Sidrat Al-Muntaha both in terms of definitions in language and terms, in interpreting the meaning of the words Sidrah and Al-Muntaha, their location, form and function, the systematics of writing, when interpreting verses about the events of Mi'raj, the sources of passages from hadith and the mufasir, the difference in explaining the concept of Sidrat Al-Muntaha with certain scientific debates.
KOMPOLAN KEAGAMAAN DI DESA PRENDUAN (ANALISIS EKSISTENSIALISME SOREN KIERKEGAARD) Syazna Maulida
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v4i1.501

Abstract

Kompolan merupakan bagian dari Interaksi sosial, yang  dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Kompolan juga bagian tradisi keagamaan yang didalamnya terdapat aktivitas spiritualitas dan ritualitas keagamaan. Aktivitas Kompolan ini menjadi media penting bagi transformasi nilai-nilai agama di masyarakat Prenduan. Aktivitas ini berkembang pesat dan mengakar kuat pada masyarakat Madura terutama di Desa Prenduan. Kompolan adalah pertemuan antara sesama laki-laki atau dengan sesama perempuan. Pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran dari satu rumah ke rumah lainnya yang di mulai dari hal-hal ritual keagamaan seperti doa-doa pembuka, bacaan surat Yaasin, Tahlilan, arisan atau ceramah agama dan pengajian kemudian ada bacaan tertentu dan do’a sebagai penutup. Rangkaian acara tersebut selalu dipimpin oleh tokoh agama, kyai atau nyai sebagai ketua Kompolan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif lapangan dengan pendekatan deskriptif. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis filsafat eksistensialisme Soren Kierkegaard. Sumber data diperoleh dari hasil wawancara dan studi literatur yang dibatasi dengan hal-hal yang hanya memiliki relevansi dengan penelitian ini. Informan dalam penelitian ini adalah Masyarakat Prenduan yang dibagi menjadi ketua Kompolan keagamaan (Tokoh Agama) dan peserta Kompolan keagamaan. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini adalah bahwa terdapat beragam tradisi Kompolan keagamaan di Prenduan yang dijelaskan dibagian pembahasan oleh peneliti, dan motivasi masyarakat Prenduan dalam mengikuti tradisi Kompolan keagamaan, yaitu ; sebagai bentuk religiusitas, interaksi sosial, dan nilai ekonomi. Adapun Kompolan keagamaan dalam perspektif Eksistensialisme memiliki keterkaitan dengan pemikiran Soren Kierkegaard yaitu dalam Wilayah Estetis, Etis, dan Religius.
PENANGGULANGAN FUNDAMENTALISME AGAMA BERBASIS NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL (STUDI ATAS TRADISI PELET BETTENG DI DESA PAKAMBAN LAOK KECAMATAN PRAGAAN KABUPATEN SUMENEP) Moh Samhadi; Sitti Fathimah
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v6i2.1572

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena yang ada di tengah masyarakat mengenai tradisi pelet betteng. Sebagai salah satu kearifan lokal yang masih dijaga dalam kehidupan masyarakat, khususnya daerah Madura. Yakni daerah yang memiliki keberagaman upacara tradisi yang masih dilestarikan. Salah satu tradisi atau adat yang masih dilakukan oleh masyarakat Desa Pakamban Laok adalah tradisi pelet betteng (acara tujuh bulanan masa kehamilan). Hanya dilakukan pada anak pertama yang sering muncul pertanyaan baik dalam pelaksanaannya atau tatacara didalam melakukannya yang bersifat keyakinan. Sehubungan dengan hal itu ada juga upaya dalam menanggulangi fundamentalisme agama dalam tradisi pelet betteng itu sendiri, yang mana adanya tradisi pelet betteng tersebut dapat menanggulangi fundamentalisme agama sebagaimana dapat meminimalisir ancaman-ancaman yang ada di dalam pelaksanaan ataupun hal-hal yang berkaitan dengan pelet betteng.
KONSEP MODERASI ISLAM DALAM AL-QU’RAN (STUDI KOMPARATIF ANTARA TAFSIR AN-NÛR DAN AL-AZHÃR) Achmad Junaidi; Agus Kharir
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 4, No 2 (2020)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v4i2.247

Abstract

Agama Islam adalah agama yang diridhoi Allah SWT. Islam adalah berserah diri, pasrah, patuh, dan tunduk kepada Allah SWT, dan senantiasa mematuhi semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya. Islam ialah agama yang damai. Dewasa ini banyak pemikiran-pemikiran tentang Islam yang menyimpang, seperti Islam radikal, Islam liberal, dan lain-lain. Kemudian muncullah moderasi Islam sebagai solusinya. Moderasi Islam itu menuntut umat muslim untuk bersikap adil, seimbang (moderat), tidak ektrem (radikal) dan tidak liberal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep moderasi Islam dalam Al-Qur’an melalui tafsir An-Nûr dan Al-Azhâr. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif, dengan jenis penelitian pustaka, dan untuk metode analisis datanya, menggunakan metode deskriptif-analitik. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa moderasi Islam ialah salah satu manhaj atau paham dan aliran pemikiran Islam yang mengedepankan pandangan dan sikap moderat (al-tawassuṭ), adil (al-adl), toleransi (al-tasâmuh) tidak berlebih-lebihan (al-ghulu aw al-ifrât), tidak menyempitkan (al-tafrît), mengutamakan kebaikan (al-khairiyah) serta seimbang (al-tawâzun) dan proposional (al-i’tidâl) dalam beragama dan menerapkan ajaran Islam dan ketika berhadapan dengan fenomena-fenomena dan problematika kehidupan manusia. Hasbi Ash-Shiddieqy dan Buya Hamka memandang umat Islam adalah ummat yang wasat (tengah), menurut Hasbi, ummat wasat itu bermakna umat yang paling baik, adil, seimbang (moderat), tidak berlebih-lebihan dan tidak terlalu kurang dalam menunaikan kewajiban agamanya, sedangkan Buya Hamka berpendapat  ummat wasat itu bermakna umat yang senantiasa menempuh jalan yang lurus dan tidak terpaku akan dunia dan akhirat, melainkan antara keduanya berjalan beriringan.
INTERPRETASI PEMUDA MUSLIM TERHADAP SURAT AL-BAQARAH AYAT 120 (STUDI LIVING QUR’AN KOMUNITAS PEACE LEADER JEMBER) Hamim syuhada'
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v6i2.863

Abstract

Penelitian ini berawal dari adanya pemikiran yang sebagian besar dari kalangan umat Islam yang memahami toleransi dengan menggunakan pemahaman yang salah dan tidak tepat. Misalnya, kata “toleransi” dijadikan pijakan dan landasan paham pluralisme yang menyatakan bahwa “semua agama itu benar”. Bahkan tidak sedikit menjadikannya sebagai alasan untuk memperbolehkan seorang muslim untuk mengikuti acara-acara ritual non-muslim..Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong, pemahaman mereka terhadap surah albaqarah ayat 120, Penelitian ini menggunakan peneltian kualitatif dengan pendekatan lapangan. Teori yang digunakan untuk mengembangkan hasil penelitian ini yaitu teori Tindakan social Max Waber , dengan teori ini diharapkan dapat membantu untuk mengembangkan dan menganalisis hasil data temuan dilapangan sesuai dengan rumusan masalah yang telah disusun.Penelitian ini menfokuskan untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong pemuda tentang pemahaman mereka terhadap Surah Al-Baqarah ayat 120, dan peran mereka dalam membangun kedamaian di komunitas itu. Setelah mendapatkan data-data dari narasumber penulis akan menganalisis hasil data temuan dengan teori tindakan social Max Waber  
FENOMENA JILBAB DI INDONESIA: Antara Agama, Budaya, Gaya Hidup dan Gerakan Sosial Muhtadi Abdul Mun’im
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v1i1.418

Abstract

Artikel ini akan membahas tentang fenomena keagamaan yang muncul di Indonesia, khususnya fenomena jilbab. Kemunculan fenomena jilbab yang merebak di Indonesia dapat dilihat sebagai suatu gerakan sosial dan gerakan keagamaan sekaligus. Meskipun, ada anggapan yang melihat fenomena jilbab sebagai suatu bentuk formalisme agama yang makin menguat. Kehadiran jilbab di Indonesia telah melampaui makna akulturasi budaya Arab (Islam) ke dalam masyarakat Muslim Indonesia. Sebagai suatu gerakan sosial, jilbab telah mengalami suatu proses inkulturasi.Dalam artikel ini, penulis mencoba mengembangkan beberapa tipe ideal (tipologi) yang bisa dipakai sebagai lensa untuk melihat fenomena jilbab di Indonesia. Penulis tidak akan menjelaskan secara detail tentang defenisi tiap tipe yang akan digunakan. Tipologi berikut ini secara langsung dikaitkan dengan fenomena jilbab di Indonesia yang mempunyai hubungan dengan agama, budaya, gaya hidup dan gerakan sosial.Adapun hasil dari kajian artikel ini adalah bahwa fenomena jilbab di Indonesia tidak sederhana dan hanya terbatas pada fenomena keagamaan. Pengaruh lain yang berupa budaya, gaya hidup, dan gerakan sosial menjadi suatu jaringan yang saling mempengaruhi. Tapi, masing-masing fenomena bisa dibedakan berdasarkan landasan motivasi, makna, fungsi, model dan cara pemakain jilbab. Berikut ini bagan yang menjelaskan secara singkat tentang fenomena jilbab di Indonesia.
PROBLEMATIKA PENDIDIKAN ISLAM MELALUI PEMBUDAYAAN KHATAM AL-QUR’AN DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM MADURA Musleh Wahid
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v5i1.943

Abstract

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang diyakini kebenarannya oleh seseorang yang mengaku beriman kepada Allah Swt. karena Al-Qur’an juga mukjizat yang diberikan Allah Swt. kepada nabi Muhammad Saw. Untuk itu dalam mengatasi problematika pendidikan islam dalam diri peserta didik dapat melalui membaca dan meng-khatamkan Al-Qur’an sehingga dapat menumbuhkan karakter yang baik bagi para peserta didik. Adapun penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan dengan jenis penelitian studi lapangan. Teknik pengumpulan data ini menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. sedangkan teknik analis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Adapun hasil penelitian ini adalah bahwa problematika pendidikan islam yang terjadi di lembaga pendidikan islam madura disebabkan minimnya nilai-nilai keislaman seperti karakter dan tingkah laku yang baik dalam diri peserta didik, keutamaan dalam membaca Al-qur’an dapat menjadikan hati menjadi tenang dan mendapatkan pahala dari Allah Swt., Serta melalui membaca dan khatam Al-Qur’an di lembaga pendidikan islam madura dapat menginternalisasi nialai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an.
IDENTITAS MANUSIA DALAM KONSEP INSAN AL-KÃMIL (Studi Atas Pemikiran Abdul Karîm Al-Jilî) Ihwan Amalih; Meihesa Khairul Maknun
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v6i1.678

Abstract

Fenomena krisis identitas yang dialami manusia di zaman modern kian menggerus pemahaman dan kesadaran manusia akan esensi dan identitas dirinya sendiri. Manusia terlalu mementingkan kebutuhan jasmani daripada kebutuhan rohaninya. Tidak seimbangnya antara kebutuhan jasmani dan rohani manusia menyebabkan manusia kehilangan identitas dirinya. Manusia mulai lupa akan identitasnya sebagai manusia, padahal mengenal identitas diri merupakan kunci seseorang untuk mengenal tuhannya. Untuk mejawab persoalan tersebut, Abdul Karim al-Jili dengan konsep insan kamilnya menjelaskan tentang bagaimana karakteristik  identitas manusia. Penelitian ini ditulis dengan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian library research (studi pustaka). Teori yang digunakan merupakan analisis isi (content analysis) untuk membuat inferensi yang valid dari teks-teks yang relevan dengan pemikiran Abdul Karim al-Jili. Penelitian ini akan membahas: 1. Definisi identitas manusia dan insan kamil. 2. karakteristik identitas manusia dalam konsep insan kamil Abdul Karim al-Jili. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa definisi identitas manusia menurut Abdul Karim al-Jili merupakan keadaan ataupun ciri-ciri yang ada pada diri manusia berupa daya rohaniyah (metafisik) dan lahiriyah (fisikal) yang menguatkan kedudukan manusia sebagai khalifah Allah di muka Bumi. Adapun karakteristik dari identitas manusia dalam konsep insan kamil Abdul Karim al-Jili adalah bahwa al-Jili mendudukkan identitas manusia dalam kerangka konsep insan kamilnya, sehia al-Jili lebih menitikberatkanidentitas manusia pada aspek rohaniyah (metafisik) sekalipun dia tidak menafikan peran lahiriah atau jasmani (fisikal). Kemudian untuk mencapai tingkatan tajalli, dalam rangka pencapaian sebagai manusia yang sempurna, manusia harus mengamalkan nilai-nilai yang ada pada rukun Islam atau peribadatan secara baik dan sempurna baik lahir maupun batin. Dari segi lahir, manusia harus mengamalkan dengan petunjuk-petunjuk syariat. Sementara dari segi batin, manusia harus mampu untuk menghayati makna-makna yang tekandung dalam amalan-amalan dan ibadah yang dilakukan
KEPUTUSAN CHILDFREE DALAM PERNIKAHAN PERSEPEKTIF AL-QUR'AN (Analisis Hermeneutik Ma'na Cum Maghza Surah An-Nahl Ayat 72) Masrufah -; Nafilah Sulfa
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v8i1.1577

Abstract

Childfree saat ini menjadi salah satu topik yang cukup banyak diperbincangkan di berbagai kalangan. Fenomena childfree menarik banyak perhatian masyarakat, bahkan beberapa tokoh intelektual memberikan tanggapan mengenai hal tersebut, mulai dari sisi psikologis dan juga dari sisi agama, utamanya agama Islam, karena hal tersebut terkesan seakan menentang fitrah pernikahan, maka dari hal itu fenomena childfree ini menimbulkan pro dan kontra dari berbagai kalangan baik individu ataupun kelompok (agama, organisasi dan budaya). Berdasarkan hal tersebut, tujuan artikel ini adalah untuk menganalis QS. an-Nahl ayat 72 terkait dengan keputusan childfree dalam pernikahan. Hal ini dilakukan untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an shahih likulli makan wa zaman untuk digunakan sebagai tolok ukur atau pedoman dalam memecahkan suatu masalah, demi mencapai kebaikan dunia dan akhirat. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan metode analisis deskriptif dengan menggunakan pendekatan hermeneutika Ma’na Cum Maghza. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa,  ayat yang disuguhkan oleh penulis, yakni QS. An-Nahl bertolak belakang dengan tindakan childfree. Jika alasan Childfree dikarenakan faktor kesehatan (medis), seperti membahayakan terhadap nyawa ibunya, maka dalam hal ini childfree dapat dibenarkan, karena tidak bertentangan dengan tujuan pernikahan dan tidak termasuk pada pengingkaran nikmat Allah. Akan tetapi childfree yang tidak disertai dengan alasan-alasan syar’i maka tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan.
HAKIKAT GUNUNG BERJALAN DALAM AL-QUR’AN (STUDI KOMPARATIF ATAS PENAFSIRAN SURAH AN-NAML AYAT: 88 DALAM KITAB MAFATIH AL-GHAIB KARYA FAKHRUDDIN AL-RAZI DAN TAFSIR AL-AZHAR KARYA BUYA HAMKA) Moh Muhlis; Moh Jufriyadi Sholeh
El-Waroqoh : Jurnal Ushuluddin dan Filsafat Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/el-waroqoh.v3i1.485

Abstract

Aktifitas penafsiran tidak pernah henti sejak masa Rasulullah hingga sekarang. Tidak jarang penafsiran tersebut dipengaruhi oleh sebuah kepentingan dan perkembangan ilmu pengetahun dan tekhnologi. Seperti halnya penelitian ini yang didorong oleh adanya perbedaan tafsir oleh mufassir klasik dan modern, tentang hakikat gunung berjalan dalam al-Qur’an. Dalam hal ini dibutuhkan sebuah metode komparasi mengenai tema ini, dalam rangka  menciptakan perspektif yang seimbang antara tafsir klasik yang dalam penelitian ini diwakili oleh Fakhruddîn ar-Râzî dan tafsir modern yang diwakili oleh Buya Hamka. Fokus penelitian ini adalah bagaimana gunung berjalan menurut Fakhruddîn ar-Râzî dan Buya Hamka, serta bagaimana persamaan dan perbedaan pemikiran keduanya. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif pustaka. Sementara sifat dari penelitian ini adalah deskriptif-analitis-komparatif. Deskriptif terdiri dari pengumpulan serta penguraian data. Adapun Analitis digunakan dalam rangka menganalisa data. Sedangkan komparatif digunakan untuk melihat perbedaan dan pesamaan antara penafsiran kedua tokoh tersebut terhadap penafsiran Q.S Al-Naml: 88. Dalam ayat tersebut, Fakhruddîn ar-Râzî menafsirkan bahwa gunung berjalan itu adalah salah satu tanda berdirinya hari kiamat yang ketiga. Beliau mengkaitkan hakikat gunung berjalan dengan konteks ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang peristiwa ditiupnya sangkakala. Serta ayat sesudahnya yang menjelaskan tentang balasan amal baik dan buruk kelak di akhirat. Dimana gunung berjalan tersebut disebabkan karena diterbangkan oleh Allah sehingga seperti bulu domba yang berhamburan ditiup angin. Sedangkan menurut Buya Hamka> berjalannya gunung adalah sebuah hakikat yang terjadi saat sekarang (di dunia), dan berjalannya gunung tersebut disebabkan karena adanya pergerakan lempeng yang menyebabkan bumi bergerak. Sehingga karena gunung merupakan bagian dari bumi maka gunung itu ikut bergerak. Perbedaan di antara kedua mufassir tersebut terdapat pada argumen-argumen yang mereka kemukakan berkaitan tentang waktu terjadinya hakikat gunung berjalan dan penyebab terjadinya gunung berjalan. Sedangkan dalam hal fakta Fenoemena gunung berjalan mereka sepakat bahwa hakikat tersebut betul-betul terjadi.