cover
Contact Name
Reyhan Ainun Yafi
Contact Email
reyainunyafi@gmail.com
Phone
+6287773666282
Journal Mail Official
nagripustaka@gmail.com
Editorial Address
Jl. Padat Karya Komplek Green Rich Residence Blok A 32, RT 004 RW 015, Kelurahan Saigon, Kec. Pontianak Timur, Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, 78132
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya
ISSN : -     EISSN : 30320151     DOI : 10.62238
Education Covers social education studies such as history, geography, sociology, civic education, economics and those related to character education. History History is the study of past events that support the development of nationalism and the formation of national character. Its main focus is on the social, economic, political and cultural aspects of Indonesia and other related regions. This study is also used to foster a sense of nationalism. Culture Culture encompasses studies in anthropology, geography and ancient texts, relating to cultural change, local wisdom, oral traditions, symbols, knowledge, crafts, religion and cultural diversity. These studies are important for understanding and maintaining the identity and cultural heritage of a society.
Articles 48 Documents
Reposisi Otoritas Keagamaan TGH Umar Kelayu di Tengah Perubahan Sosial Masyarakat Sasak Herman Zuhdi
Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya Vol. 4 No. 2 (2026): Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/nagripustaka.v4i2.428

Abstract

Otoritas keagamaan ulama lokal menghadapi tantangan baru seiring modernisasi, ekspansi pendidikan, dan perkembangan teknologi informasi yang mengubah pola relasi masyarakat dengan sumber-sumber legitimasi keagamaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pembentukan, reproduksi, dan reposisi otoritas keagamaan TGH Umar Kelayu dalam masyarakat Sasak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan orientasi sosiologi agama dan sejarah sosial. Data diperoleh melalui studi dokumen, arsip sejarah, sumber biografis, serta wawancara terbatas dengan tokoh masyarakat yang memahami warisan sosial-keagamaan TGH Umar Kelayu. Analisis dilakukan secara tematik dengan memanfaatkan perspektif Weber, Foucault, dan Geertz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otoritas TGH Umar Kelayu dibangun melalui perpaduan kapasitas keilmuan, pengakuan sosial, keterlibatan dalam kehidupan masyarakat, serta dukungan jaringan pendidikan dan keagamaan. Keberlangsungan pengaruhnya dipertahankan melalui memori kolektif, reproduksi nilai, dan institusionalisasi tradisi keilmuan lintas generasi. Temuan ini menegaskan bahwa modernisasi tidak selalu menyebabkan erosi otoritas keagamaan, tetapi dapat mendorong reposisi bentuk dan mekanisme reproduksi legitimasi dalam masyarakat. Local religious authority faces new challenges as modernization, educational expansion, and digital transformation reshape community relations with sources of religious legitimacy. This study examines the formation, reproduction, and repositioning of the religious authority of TGH Umar Kelayu within Sasak society. Employing a qualitative approach grounded in the sociology of religion and social history, the research draws on historical documents, archival materials, biographical sources, and limited interviews with community figures familiar with TGH Umar Kelayu’s socio-religious legacy. Data were analyzed thematically through the interpretive perspectives of Weber, Foucault, and Geertz. The findings reveal that TGH Umar Kelayu’s authority was constructed through the interplay of religious scholarship, social recognition, community engagement, and educational-religious networks. Its continuity has been sustained through collective memory, value reproduction, and the institutionalization of intellectual traditions across generations. The study demonstrates that modernization does not necessarily erode religious authority; rather, it may facilitate the repositioning of legitimacy through new social, cultural, and institutional mechanisms.
Makna Budaya Hizib Nahdlatul Wathan dalam Tradisi Keagamaan Masyarakat Lombok: Kajian Hermeneutika Sufistik Herman Zuhdi; M Zainul Hafizi
Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya Vol. 4 No. 3 (2026): Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/nagripustaka.v4i3.426

Abstract

Hizib Nahdlatul Wathan merupakan salah satu tradisi keagamaan yang tidak hanya berfungsi sebagai praktik spiritual, tetapi juga menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Lombok yang merepresentasikan nilai-nilai sosial dan religius. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna budaya yang terkandung dalam Hizib Nahdlatul Wathan, mengidentifikasi struktur budaya yang membentuk tradisi tersebut, serta menjelaskan mekanisme pewarisan nilai budaya dalam kehidupan masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian kepustakaan yang dipadukan dengan analisis isi dan hermeneutika sufistik. Data utama bersumber dari naskah Hizib Nahdlatul Wathan, sedangkan data pendukung diperoleh dari berbagai literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hizib Nahdlatul Wathan memiliki struktur budaya yang tersusun secara sistematis melalui rangkaian bacaan yang terstandarisasi, memuat nilai-nilai religiusitas, penghormatan kepada guru, solidaritas sosial, kebersamaan, dan identitas budaya, serta berfungsi sebagai media pewarisan budaya melalui pesantren, keluarga, masjid, majelis taklim, dan organisasi Nahdlatul Wathan. Temuan ini memperlihatkan bahwa Hizib Nahdlatul Wathan tidak hanya menjadi praktik ibadah, tetapi juga berperan sebagai media pelestarian budaya religius dan pembentukan identitas kolektif masyarakat. Keterbatasan penelitian ini terletak pada penggunaan pendekatan kepustakaan sehingga belum menggambarkan praktik Hizib secara langsung di lapangan. Hizib Nahdlatul Wathan is a religious tradition that functions not only as a spiritual practice but also as a form of cultural heritage representing the social and religious values of the Lombok community. This study aims to examine the cultural meanings embedded in Hizib Nahdlatul Wathan, identify the cultural structure underlying the tradition, and explain the mechanism through which cultural values are transmitted within the community. A qualitative library research design was employed by integrating content analysis with a Sufistic hermeneutic approach. The primary data consisted of the Hizib Nahdlatul Wathan manuscript, while supporting data were obtained from relevant scholarly literature. The findings reveal that Hizib Nahdlatul Wathan possesses a systematic cultural structure through standardized liturgical sequences, embodies the values of religiosity, respect for teachers, social solidarity, togetherness, and cultural identity, and functions as a medium for cultural transmission through Islamic boarding schools, families, mosques, religious study circles, and the Nahdlatul Wathan organization. These findings demonstrate that Hizib Nahdlatul Wathan serves not only as a devotional practice but also as a medium for preserving religious culture and strengthening collective identity. The study is limited by its library-based design, which does not directly observe ritual practices in the field
Kepribadian sebagai Fondasi Utama dalam Dinamika Interaksi Sosial Adib Ramadhan; Fauzan Aziz
Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya Vol. 4 No. 3 (2026): Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/nagripustaka.v4i3.429

Abstract

Penelitian ini mengkaji peran kepribadian sebagai fondasi utama dalam membent;uk dinamika interaksi sosial di era modern. Kepribadian dipahami sebagai pola relatif stabil dari cara berpikir, merasa, dan berperilaku, sedangkan interaksi sosial merujuk pada proses timbal balik antarindividu atau kelompok yang melibatkan komunikasi, pengaruh, dan pengaturan relasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka terhadap lima belas jurnal ilmiah nasional dan internasional periode 2021–2026. Hasil analisis menunjukkan bahwa tipe kepribadian (ekstrovert–introvert), kecerdasan emosional, serta penggunaan media sosial menjadi penentu signifikan terhadap kualitas dan pola interaksi sosial. Penelitian ini menegaskan pentingnya menjadikan kepribadian yang sehat, ditopang kecerdasan emosional tinggi dan lingkungan sosial suportif, sebagai dasar pengembangan keterampilan sosial, penyesuaian, dan pembentukan karakter sosial yang positif. This study examines the role of personality as the primary foundation in shaping the dynamics of social interaction in the modern era. Personality is understood as a relatively stable pattern of thinking, feeling, and behaving, while social interaction refers to the reciprocal process between individuals or groups involving communication, influence, and relationship management. The research employs a descriptive qualitative approach through library research of fifteen scholarly journals published between 2021 and 2026. The analysis reveals that personality types (extrovert–introvert), emotional intelligence, and social media usage significantly determine the quality and patterns of social interaction. The study emphasizes the importance of developing a healthy personality, supported by high emotional intelligence and a supportive social environment, as the basis for building social skills, adjustment, and positive social character formation.
Tradisi Nyadran sebagai Media Mempererat Ukhuwah Islamiyah di Masyarakat Pesisir Tambak Lorok Ahnaf Nafi; Azmi Salamatul Azami; M. Rikza Chamami
Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya Vol. 4 No. 3 (2026): Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/nagripustaka.v4i3.437

Abstract

Perubahan kehidupan sosial masyarakat modern turut memengaruhi intensitas interaksi dan solidaritas sosial, termasuk pada masyarakat pesisir. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendefinisikan praktik tradisi Nyadran, mengkaji bagaimana tradisi tersebut memperkuat persaudaraan Islam, serta mengidentifikasi nilai-nilai persaudaraan Islam yang diwujudkan di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dan melakukan penelitian lapangan di Tambak Lorok, Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. Model Miles dan Huberman digunakan untuk menganalisis data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan temuan penelitian, tradisi Nyadran dipraktikkan melalui pertunjukan wayang, bancaan, salat berjamaah, persembahan ke laut, tahlilan, dan mauidzah hasanah. Tradisi ini berperan dalam mempererat ukhuwah Islamiyah melalui komunikasi, interaksi sosial, kerja sama, dan silaturahmi. Nilai yang paling dominan meliputi kebersamaan, kepedulian sosial, keharmonisan, dan silaturahmi. Changes in the social life of modern society have also influenced the intensity of social interaction and solidarity, including among coastal communities. The purpose of this study is to define the Nyadran tradition, examine how this tradition strengthens Islamic brotherhood, and identify the values of Islamic brotherhood embodied within it. This study employs a qualitative methodology and conducts field research in Tambak Lorok, Tanjung Mas, North Semarang District, Semarang City. The Miles and Huberman model is used to analyze data collected through observation, interviews, and documentation. Based on the research findings, the Nyadran tradition is practiced through wayang performances, recitation of prayers, congregational prayers, offerings to the sea, tahlilan, and mauidzah hasanah. This tradition plays a role in strengthening Islamic brotherhood (Ukhuwah Islamiyah) through communication, social interaction, cooperation, and social bonding. The most dominant values include togetherness, social concern, harmony, and social bonding.
Peran Gepyok dalam Membangun Kearifan Lokal Masyarakat Pedesaan Rintan Gusvina Ismarinda
Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya Vol. 4 No. 3 (2026): Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/nagripustaka.v4i3.438

Abstract

Alat pertanian tradisional merupakan manifestasi dari kebudayaan material sekaligus wujud kearifan lokal yang berkembang dalam kehidupan masyarakat agraris di Indonesia. Salah satu alat yang masih eksis hingga saat ini adalah gepyok, sebuah alat perontok padi manual yang bekerja dengan prinsip benturan mekanis sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis eksistensi alat gepyok dari dua perspektif utama, yaitu dinamika historis-sosial dan evaluasi kesehatan kerja berdasarkan prinsip ergonomi serta antropometri. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur yang diintegrasikan dengan observasi lapangan terhadap aktivitas pascapanen petani kecil di pedesaan. Hasil kajian historis menunjukkan bahwa gepyok mengalami persistensi kultural yang kuat dari masa kolonial hingga era pasca-Revolusi Hijau karena faktor ekonomi skala kecil dan keterbatasan modal petani untuk mengakses mesin perontok modern (power thresher). Namun, dari sudut pandang ergonomi dan biomekanika, aktivitas "menggepyok" padi yang dilakukan secara berulang dalam durasi lama memicu postur kerja janggal (awkward posture) seperti membungkuk ekstrem dan ekstensi lengan yang berlebih. Kondisi fungsional ini berkorelasi signifikan terhadap tingginya prevalensi keluhan fiksi berupa gangguan muskuloskeletal (Musculoskeletal Disorders/MSDs) pada area punggung bawah (low back pain), lengan, dan bahu.  Traditional agricultural tools represent both a form of material culture and a manifestation of local wisdom that has developed within Indonesia's agrarian communities. One tool that continues to exist today is the gepyok, a manual rice threshing device that operates using a simple mechanical impact principle. This study aims to analyze the existence of the gepyok from two main perspectives: historical-social dynamics and occupational health evaluation based on ergonomic and anthropometric principles. The research employed a descriptive qualitative method with a literature review approach integrated with field observations of post-harvest activities among small-scale farmers in rural areas. The findings indicate that the gepyok has demonstrated strong cultural persistence from the colonial period through the post-Green Revolution era, primarily due to the economic conditions of smallholder farmers and their limited financial capacity to access modern threshing machines (power threshers). However, from an ergonomic and biomechanical perspective, the repetitive activity of manually threshing rice using the gepyok over extended periods results in awkward working postures, including excessive trunk flexion and overextended arm movements. These functional conditions are strongly associated with a high prevalence of musculoskeletal disorders (MSDs), particularly affecting the lower back (low back pain), shoulders, and upper limbs.
Pelestarian Budaya Lokal Melalui Grebeg Sadranan dalam Mempererat Kerukunan Masyarakat di Ngargosari Boyolali Adinda Az-Zahra Islamia Ningrum; Qurrotul Uyun
Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya Vol. 4 No. 3 (2026): Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/nagripustaka.v4i3.439

Abstract

Tradisi Grebeg Sadranan di Desa Cabeankunti, Boyolali, merupakan warisan budaya yang terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas masyarakat. Namun, arus globalisasi dan modernisasi menghadirkan tantangan terhadap keberlanjutan tradisi tersebut, terutama menurunnya partisipasi generasi muda. Penelitian ini bertujuan menganalisis pelaksanaan Grebeg Sadranan sebagai bentuk pelestarian budaya lokal sekaligus mengkaji kontribusinya dalam memperkuat persatuan masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi pada 26–28 Mei 2026, dengan informan yang dipilih secara purposive, meliputi tokoh masyarakat, tokoh agama, panitia penyelenggara, perangkat desa, dan warga. Analisis data mengacu pada model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Grebeg Sadranan dilaksanakan melalui rangkaian prosesi yang melibatkan seluruh warga, merepresentasikan nilai religius dan gotong royong, serta memperkuat solidaritas sosial melalui interaksi antarmasyarakat. Keberlanjutan tradisi didukung oleh pewarisan nilai budaya dari generasi tua kepada generasi muda. Grebeg Sadranan berfungsi sebagai ritual keagamaan sekaligus media integrasi sosial dan pelestarian budaya lokal.  The Grebeg Sadranan tradition in Cabeankunti Village, Boyolali, represents a cultural heritage that continues to be preserved as an integral part of the community's identity. Nevertheless, globalization and modernization have posed challenges to its sustainability, particularly through the declining participation of younger generations. This study aims to examine the implementation of Grebeg Sadranan as a means of preserving local culture and to explore its contribution to strengthening community cohesion. A qualitative approach with a descriptive case study design was employed. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation conducted from May 26 to 28, 2026. Informants were purposively selected and included community leaders, religious leaders, event organizers, village officials, and local residents. Data analysis followed the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña. The findings reveal that Grebeg Sadranan involves collective community participation, embodies religious values and mutual cooperation, and reinforces social solidarity through shared cultural activities. The tradition is sustained through the intergenerational transmission of cultural values, demonstrating its dual role as both a religious ritual and a vital instrument for preserving local cultural identity and social unity.
Kesiapan Kerja Murid Bidang Pariwisata di SMK Negeri 2 Bukittinggi Hayatun Nafsiah; Asmar Yulastri; Wiwik Gusnita; Nurhasanah
Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya Vol. 4 No. 3 (2026): Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/nagripustaka.v4i3.450

Abstract

Kesiapan kerja merupakan tujuan utama pendidikan vokasi yang menggambarkan kemampuan murid untuk memasuki, menyesuaikan diri, dan berperan secara efektif di lingkungan kerja. Penelitian ini mendeskripsikan tingkat kesiapan kerja murid Program Keahlian Pariwisata di SMK Negeri 2 Bukittinggi berdasarkan lima indikator, yaitu kompetensi teknis, soft skills, sikap kerja, kepercayaan diri, dan adaptabilitas. Dengan desain kuantitatif deskriptif, data dikumpulkan dari 168 murid kelas XII yang dipilih melalui proportional random sampling dari populasi 291 murid pada program Tata Boga, Tata Busana, Tata Rias Kecantikan, dan Manajemen Perhotelan, menggunakan angket skala Likert yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Hasil analisis statistik deskriptif menunjukkan bahwa kesiapan kerja murid secara keseluruhan berada pada kategori sangat tinggi dengan skor rata-rata 88,34%. Sikap kerja memperoleh capaian tertinggi (89,29%), sedangkan soft skills memperoleh capaian terendah (87,50%), meskipun seluruh indikator tetap berada pada kategori sangat tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa murid bidang pariwisata di SMK Negeri 2 Bukittinggi telah memiliki bekal teknis, interpersonal, sikap, dan adaptasi yang memadai untuk memasuki dunia kerja, meskipun penguatan soft skills tetap perlu menjadi perhatian mengingat karakter industri pariwisata yang berorientasi pelayanan.  Work readiness is a central goal of vocational education, referring to students’ ability to enter, adjust to, and perform effectively in the workplace. This study describes the level of work readiness among tourism vocational students at SMK Negeri 2 Bukittinggi, examined through five indicators: technical competence, soft skills, work attitude, self-confidence, and adaptability. Using a quantitative descriptive design, data were collected from 168 twelfth-grade students, selected through proportional random sampling from a population of 291 students across the Culinary, Fashion Design, Beauty and Cosmetology, and Hotel Management programs, using a validated and reliable Likert-scale questionnaire. Descriptive statistical analysis shows that students’ overall work readiness falls into the very high category, with a mean score of 88.34%. Work attitude recorded the highest achievement (89.29%), while soft skills recorded the lowest (87.50%), although all indicators remained in the very high category. These findings indicate that tourism vocational students at SMK Negeri 2 Bukittinggi already possess adequate technical, interpersonal, attitudinal, and adaptive capacities to enter the workforce, although continued attention to soft-skills development is recommended given the service-oriented nature of the tourism industry.
Pengembangan Instrumen Penilaian Menggunakan Aplikasi Spreadsheet Berbasis Deep Learning Pada Mata Kuliah Microteaching Muhammad Khairul Hazli; Fadriati; David
Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya Vol. 4 No. 3 (2026): Nagri Pustaka: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sejarah, dan Budaya
Publisher : CV. Yazri Aksara Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62238/nagripustaka.v4i3.452

Abstract

Perkembangan teknologi digital menuntut inovasi dalam sistem penilaian pembelajaran, khususnya pada mata kuliah microteaching yang menekankan keterampilan mengajar mahasiswa.     Temuan ini menunjukkan bahwa instrumen penilaian berbasis spreadsheet dengan pendekatan deep learning efektif dalam meningkatkan objektivitas, efisiensi, dan akurasi penilaian microteaching. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model Borg & Gall. Subjek penelitian terdiri dari dosen dan mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Teknik pengumpulan data menggunakan angket validitas dan praktikalitas, sedangkan analisis data menggunakan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen memiliki tingkat validitas sangat tinggi dengan rata-rata 84% (kategori sangat valid), meliputi aspek kelayakan isi (89%), penyajian (80%), grafika (82%), dan bahasa (91%). Selain itu, tingkat praktikalitas mencapai 92% (kategori sangat praktis). Temuan ini menunjukkan bahwa instrumen penilaian berbasis spreadsheet dengan pendekatan deep learning efektif dalam meningkatkan objektivitas, efisiensi, dan akurasi penilaian microteaching. The development of digital technology demands innovation in learning assessment systems, especially in microteaching courses that emphasize student teaching skills.     These findings indicate that the spreadsheet-based assessment instrument with a deep learning approach is effective in increasing the objectivity, efficiency, and accuracy of microteaching uses the Research and Development (R&D) method with the Borg & Gall model. The research subjects consisted of lecturers and students of the Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Data collection techniques used a validity and practicality questionnaire, while data analysis used percentages. The results showed that the instrument had a very high level of validity with an average of 84% (very valid category), covering aspects of content feasibility (89%), presentation (80%), graphics (82%), and language (91%). In addition, the level of practicality reached 92% (very practical category). These findings indicate that the spreadsheet-based assessment instrument with a deep learning approach is effective in increasing the objectivity, efficiency, and accuracy of microteaching assessment.