cover
Contact Name
Wulandari Dianningtyas
Contact Email
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Phone
+6221-7394422
Journal Mail Official
jurnal.lemigas@esdm.go.id
Editorial Address
Jl. Ciledug Raya Kav. 109, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
LEMBARAN PUBLIKASI MINYAK DAN GAS BUMI
Published by LEMIGAS
ISSN : 20893396     EISSN : 25980300     DOI : 10.29017/LPMGB.58.1.1610
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi (LPMGB) merupakan jurnal resmi yang dipublikasikan oleh Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi LEMIGAS untuk menyebar luaskan informasi terkait kegiatan penelitian, pengembangan rekayasa teknologi dan pengujian laboratorium di bidang migas. Naskah dari berbagai lembaga penelitian, perguruan tinggi dan industri migas dari dalam dan luar negeri
Articles 544 Documents
PENGARUH PENGGUNAAN ASAM AZELAT SEBAGAI COMPLEXING AGENT DALAM GEMUK LUMAS NABATI M Hanifuddin; Milda Fibria; Catur Yuliani Respatiningsih; Rona Malam Karina
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 52 No. 1 (2018): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Litium hidroksida (LiOH) sangat umum digunakan sebagai bahan thickener dalam proses pembuatan gemuk lumas dalam bentuk sabun. Gemuk sabun litium merupakan gemuk sabun sederhana yang banyak digunakan untuk aplikasi tujuan umum (general purpose) yang suhu operasinya tidak melebihi 130C, dengan nilai dropping point biasanya 180C. Performa gemuk lumas dapat ditingkatkan dengan cara menambahkan bahan pengompleks ke dalam formulasinya. Beberapa jenis bahan pengompleks yang ditambahkan dalam gemuk lumas diantaranya asam azelat, asam adipat, asam benzoat dan asam salisilat. Dalam penelitian ini, digunakan penambahan asam azelat secara bertahap mulai dari 12,5 gr; 15gr; 17,5gr; 20 gr sebagai substitusi sebagian asam 12-HSA, dengan tujuan untuk mendapatkan gemuk lumas sabun litium kompleks. Penelitian menunjukkan gemuk lumas diperoleh yang diperoleh secara optimum memiliki nilai dropping point sebesar 251OC dan nilai konsistensi sebesar 286 atau masuk dalam kategori NLGI 2. Pada pengujian unjuk kerja didapat nilai scar diameter sebesar 0,37 mm, sehingga dapat disimpulkan bahwa asam azelat bekerja secara sinergis dengan sabun litium sebagai bahan pengompleks dalam gemuk lumas nabati.
Redesain Electric Submersible Pump (ESP) Pada Sumur Yang Mengandung Gas “W- 30” Lapangan “A” Dinar Hananto Kurniawan
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 58 No. 1 (2024): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertamina EP Asset 3 mempunyai 12 sumur yang terpasang ESP pada lapangan “A”. Total produksi pada lapangan “A” ini mencapai lebih dari 15.000blpd. Sumur yang menjadi objek penelitian adalah sumur “W-30”. Pada sumur “W-30” terpasang pompa dengan tipe P4/60Hz pada PSD 1746.93m, jumlah stages 304 dengan motor REDA 540 Series Motor 2300V/101A 126hp yang terhubung dengan surface power FixStar Fixed-Speed Drive melalui kabel Redalead 4kV flat 6AWG 1776.93m. Pompa ini menggunakan gas separator tipe 400 Series Rotary Gas Separator DRS-ES. Pompa ini mempunyai rentang produksi 300blpd-600blpd, sedangkan laju produksi aktual adalah 614blpd. Berdasarkan grafik Coltharp, presentase upthrust 63% di mana batasnya adalah 50% sehingga memerlukan dilakukannya redesain. Redesain diawali dengan pembuatan IPR metode Wiggins. Kemudian sensitivitas frekuensi dan analisa gas bebas pada pompa terpasang. Hasil sensitivitas frekuensi tidak menghasilkan laju alir yang diinginkan, langkah yang dipilih adalah penggantian pompa melalui sensitivitas frekuensi pada PSD konstan dilanjutkan dengan sensitivitas PSD pada frekuensi konstan. Hasilnya adalah penggantian pompa tipe P6/60 Hz, dengan PSD, tipe motor, tipe dan panjang kabel, tipe gas separator, serta surface power tetap seperti pompa eksisting hanya saja jumlah stages berkurang menjadi 132 dan motor power menjadi 33.1hp.
Pencitraan Bawah Permukaan Cekungan Majalengka: Analisis Data Gravity Untuk Eksplorasi Hidrokarbon Dengan Tutupan Vulkanik Hidayat Hidayat; Shofi I. Hawan; Marjiyono Marjiyono
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 58 No. 1 (2024): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sub Cekungan Majalengka dikatogorikan sebagai cekungan sedimen dengan penemuan hidrokarbon. Penemuan rembesan migas di area ini merupakan bukti akan keberadaan batuan induk yang matang di Sub-Cekungan Majalengka. Kurangnya kualitas pencitraan bawah permukaan dari seismik refleksi akibat keberadaan endapan vulkanik menjadikan kawasan ini masih belum dieksplorasi lebih jauh. Survei non-seismik seperti metode gayaberat merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengetahui kondisi geologi bawah permukaan pada kawasan ini. Survei gayaberat terdiri dari 398 titik pengukuran yang mencakup area studi seluas 55 x 60 km persegi dan dilengkapi dengan pengambilan data posisi dan ketinggian menggunakan Differential Global Positioning System (DGPS) untuk reduksi data. Berdasarkan anomali gayaberat, keberadaan dari Bogor Trough yang dipisahkan oleh suatu tinggian berarah relatif barat laut – tenggara berhasil dicitrakan. Beberapa informasi sumur produksi yang diikatkan dengan data gayaberat menunjukkan bahwa keberadaan anomali tinggi di bagian utara berkorelasi dengan sumur-sumur produksi di kawasan ini, sehingga keberadaan anomali tinggi yang memisahkan anomali rendah pada Bogor Trough menjadi kawasan yang menarik untuk dilakukan studi lanjutan. Pemodelan berupa sayatan vertikal dari data gayaberat dilakukan dengan pendekatan pemodelan inversi dan menunjukkan korelasi yang sangat baik dengan penampang seismik refleksi 3D yang ada di ujung bagian utara area survei. Analisis derivative dilakukan untuk penafsiran penampang vertikal dan mengindikasikan keberadaan unexplored area yang memiliki properti fisis yang identik dengan area yang telah terbukti memproduksi minyak.
Studi Geokimia Organik Batuan Sedimen Berumur Trias Di Cekungan Maliana, Timor-Leste: Tinjauan Awal Kemungkinan Sebagai Batuan Induk Joanico Pires; Eddy Ariyono Subroto; Asep H.P. Kesumajana
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 58 No. 1 (2024): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kondisi lingkungan purba yang bervariasi sangat berpengaruh terhadap karakteristik batuan induk di suatu daerah. Daerah penelitian terletak di daerah Bobonaro, Cekungan Maliana, di area daratan (onshore) Timor-Leste. Kajian yang dilakukan di dalam penelitian ini meliputi tatanan geologi, struktur geologi, dan kondisi geologi lainnya, serta dilakukan pengambilan sampel batuan sedimen yang khusus diambil dari formasi yang berumur Trias Tengah-Akhir (Formasi Babulu) dan Trias Akhir (Formasi Aitutu). Sampel batuan sedimen yang diambil berjumlah 136 sampel. Terhadap sampel tersebut dilakukan analisis dasar geokimia, yaitu kekayaan (TOC dan S2). Data nilai TOC dipergunakan untuk seleksi awal dengan batas bawah kandungan TOC 0,5% berat. Untuk seleksi kedua yang seharusnya didasarkan atas nilai kandungan S2 (hasil analisis Rock-Eval) tidak dilakukan, karena hasil analisis kematangan berdasarkan Tmax dan kemudian dikonfirmasi dengan data reflektansi vitrinit (Ro), sampel batuan sedimen tersebut pada umumnya menunjukkan tingkat kematangan yang tinggi, di atas 440oC untuk Tmax dan 0,8% Ro. Setelah seleksi awal dilakukan, ternyata jumlah sampel yang terpilih tersisa delapan sampel, enam sampel dari Formasi Aitutu dan dua sampel Formasi Babulu. Kedelapan sampel ini kemudian dianalisis dan diinterpretasi. Berdasarkan analisis data TOC, Formasi Babulu memiliki kekayaan sedang sampai dengan baik dengan nilai TOC antara 0,52 % dan 5,54%, sedangkan Formasi Aitutu memiliki nilai TOC antara 0,54% dan 12,25%. Analisis kematangan yang dilakukan terhadap anggota klastik dan serpih Formasi Babulu dan anggota karbonat Formasi Aitutu, menunjukkan bahwa sampel tersebut sudah memasuki kematangan jendela minyak, dengan Tmax 428-5540 C dan Ro antara 0,68 dan 1,47%.Tipe kerogen yang dikandung sampel Formasi Babulu dan Formasi Aitutu adalah campuran tipe II-III, tetapi terdapat juga kerogen tipe 1 di dalam sebuah sampel Formasi Aitutu. Hasil analisis menyeluruh menunjukkan bahwa kedua formasi tersebut (Babulu dan Aitutu) dapat dikategorikan sebagai batuan induk efektif, batuan induk yang sudah mampu menghasilkan hidrokarbon.
Analisis Procurement Life Cyle pada Moderate to High Offshore Material Untuk Mencapai Value for Money di PT. XYZ Dwi Nurma Heitasari; Diah Ayu Sekar Agung
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 58 No. 1 (2024): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis siklus pengadaan (procurement life cycle) pada material offshore dengan tingkat moderate to high untuk mencapai value for money di PT. XYZ. Pengadaan floating hose sangat penting untuk mencapai keberhasilan proyek di sektor minyak dan gas, terutama ketika melibatkan lokasi offshore yang kompleks. Penelitian ini menggunakan analisis terperinci terhadap siklus pengadaan termasuk identifikasi kebutuhan, persetujuan permintaan pengadaan perusahaan, pemilihan metode pengadaan vendor, seleksi pemilihan vendor, pengumuman vendor terpilih, persetujuan kontrak kerja, pelaksanaan pengadaan, dan evaluasi kinerja vendor. Data dan informasi yang diperoleh dari PT. XYZ digunakan untuk mendukung analisis pengadaan barang terhadap value for money. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan tentang proses pengadaan material offshore yang efektif dan efisien pada kategori moderate to high untuk mencapai value for money
Kinerja Progressive Cavity Pump di Sumur KWG-P 16, Lapangan Kawengan PT. Pertamina Asset 4 Cepu Verona Cycilia Rymoza; Rezta Indayani; Olvie Joebelin Oraplawal; Alif Riza Fauzzan; Rizky Marta; Bambang Yudho Suranta
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 57 No. 3 (2023): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Metode untuk menciptakan tekanan hisap sehingga reservoir dapat merespon danmenghasilkan laju produksi fluida yang diinginkan disebut artificial lift. Sumur KWG P-16merupakan sumur di bawah operasional PT. Pertamina EP Asset 4 Cepu Kawengan Fieldyang diproduksikan menggunakan Artificial LiffPCP. Sumur Artificial Lift ini mengalamibeberapa masalah produksi. Dalam mengatasi masalah tersebut dilakukan analisa kinerjaProgressive Cavity Pump (PCP) di sumur KWG P-16 menggunakan beberapa parameteryang meliputi Productivity Index (PI), Inflow Performance Relationship (IPR), Laju AlirKritis Air (Qc), Laju Alir Kritis Pasir (Qz), Mechanical Properties Log (MPL), PumpDisplacement, Optimum Pump Setting Depth, dan Total Dynamic Head (TDH). Laju alirkritis air (Qc) sebesar 137.37 bpd dan laju kritis pasir (Qz) sebesar 27.2 bpd. Laju produksimaksimum (Qmaks) diperoleh dari hasil analisis kurva IPR Vogel sebesar 454.09 bopd.Laju optimum (Qopt) dan laju produksi ditentukan sebesar 80% dan 364.27 bopd. Halini juga sejalan dengan penempatan pompa yang optimum di kedalaman 1075.42 ft sertanilai total dynamic head sebesar 551.94 ft.
Penentuan Dosis Demulsifier Terhadap Efektivitas Pemisahan Emulsi Sampel X Menggunakan Metode Bottle Test dan Centrifuge Miftahul Alim Muslim; Lathifah Sukmo Putri; Muchtia Burhana; Febrianda Ahsan Sidiq; Dea Jessica Sirna; Edi Untoro; Moh Sukamo
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 57 No. 3 (2023): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Emulsi minyak-air merupakan masalah umum dalam industri minyak dan gas yangmenimbulkan tantangan signifikan dalam pemisahannya. MOS Menggung adalah stasiunpengumpul minyak di Cepu yang mengumpulkan minyak mentah yang mengandungemulsi. Demulsifier adalah bahan kimia yang digunakan untuk memecah emulsi inimenjadi minyak berkualitas dan komersial. Meningkatkan dosis demulsifier akanmeningkatkan laju pemisahan emulsi, namun hanya sampai pada titik optimal dimanaefektivitas tidak meningkat. Metode pemisahan yang digunakan meliputi metodecentrifuge dan bottle test, yang memisahkan emulsi dengan pengendapan gravitasi.Studi ini menyimpulkan bahwa dosis demulsifier berdampak pada efektivitas pemisahanemulsi pada kedua metode. Dosis optimal adalah 0,2 ml dalam sampel 1000 ml atau 200ppm, menghasilkan nilai BS&W terendah sebesar 1,6%. Penelitian ini dapat memandupengembangan emulsi yang efektif, khususnya di Main Oil Storage (MOS) Menggung
Pengaruh Perubahan Diameter Pipa dan Jenis Insulasi Terhadap Pressure Drop dan Heat Loss di Lapangan Panas Bumi Dimas Masela; Henk Subekti; Arya Dwi Candra
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 57 No. 3 (2023): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lapangan Patuha adalah salah satu lapangan panas bumi yang ada di Indonesia.Patuha Unit 1 memiliki kapasitas terpasang 60 MW, dan kapasitas Unit 2 yang sedangdikembangkan adalah 55 MW. Pada jalur steam line di Patuha Unit 1 terbagi 2 yaitujalur barat dan jalur timur. Pada jalur wellpad D ke wellpad B didapati memiliki nilaipressure drop yaitu 0,53 bar dan heat loss sebesar 54.373,8 kJ/h. Sedangkan untuk nilaiheat loss yang paling besar ada pada jalur wellpad A ke wellpad E yaitu sebesar 235.445,2kJ/h. Dapat dilakukan optimasi pada jalur tersebut agar mengurangi nilai pressure dropdan heat loss yang ada. Optimasi disimulasikan terlebih dahulu menggunakan SoftwareASPEN HYSYS, untuk simulasi pertama dilakukan variasi diameter pipa, yang keduavariasi diameter pipa dengan mengganti bahan insulasi ke cotton woll, dan yang ketigavariasi diameterpipa dan mengganti bahan insulasi ke poliisosianurat. Setelah dilakukanpembesaran diameter pipa menjadi 14 inch pada jalur tersebut, pressure drop berkurangmenjadi 0,3 bar dan untuk heat loss bertambah menjadi 55.892,3 kJ/h. Setelah dicobauntuk mengganti jenis insulasi menjadi cotton wool pada diameter yang sama, nilai heatloss berkurang menjadi 50.652,4 kJ/h. Berdasarkan analisis ekonomi juga menunjukanbahwa optimasi yang dilakukan ini profit untuk dilakukan.
STUDI KARAKTERISTIK DAN PERMODELAN TERMAL BATUAN INDUK TERSIER DI CEKUNGAN SALAWATI, PAPUA BARAT Arista Muhartanto; Ahmad Helman Hamdani Hamdani; Safrizal; Lili Fauzielly; Afriadhi Triwerdhana
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 52 No. 3 (2018): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cekungan Salawati memiliki cadangan minyak dan gas sejumlah 0.5 BBO dan 0.1 TCFG, diduga hidrokarbon dihasilkan dari batuan induk Tersier dan Pra-Tersier. Beberapa studi batuan induk telah dilakukan, seperti pada Formasi Sirga (Oligosen Akhir), Formasi Kais (Miosen Tengah) dan Formasi Klasafet (Miosen Akhir). Minimnya pengetahuan mengenai studi karakteristik dan pemodelan termal batuan induk Formasi Sirga dan Pre-Faumai, serta keingintahuan mengamati adanya pembalikan polaritas cekungan merupakan hal yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Metode penelitian menggunakan analisis geokimia petroleum yang meliputi: TOC, Rock Eval Pyrolisis, kerogen typing, vitrinite reflectance (%Ro ) dengan sejumlah 9 sampel cuttings. Kekayaan material organik berdasarkan parameter TOC pada kedua formasi menunjukkan kuantitas good to very good, sedangkan parameter PY menunjukkan kualitas fair to good potency sebagai batuan induk dalam menggenerasikan hidrokarbon. Tipe kerogen komposisinya didominasi NFA yang mengindikasikan pengendapan di lingkungan oxidizing marine atau lakustrin. Data plot HI terhadap Tmax, kerogennya menunjukkan campuran tipe II/III yang mengindikasikan pengendapan yang terjadi di lingkungan transisi (fl uvio-deltaic). Kematangan Formasi Sirga dan Pre-Faumai (Oligosen) berdasarkan %Ro dan Tmax menunjukkan tingkat yang rendah. Data kematangan berdasarkan pemodelan cekungan 1D pada sumur Warir-1X dan WIR-1A (di luar daerah penelitian) memperlihatkan evolusi kematangan yang telah mencapai level yang lebih tinggi, yakni early to mid-mature yang terjadi pada kala Pliosen Tengah, dan tingkat kematangan akhir dalam oil generation yang tercapai sejak Pleistosen Awal. Adanya pembalikan polaritas cekungan yang mengarah ke Selatan sebelum Pliosen, berubah menjadi mengarah ke Utara sebagai deposenter cekungan berdampak terhadap peningkatan kematangan termal. Pada deposenter, umumnya bertindak sebagai dapur yang matang (mature kitchen) yang merupakan tempat dihasilkannya hidrokarbon.
STRATIGRAFI SIKUEN BATUAN SEDIMEN JURA-KAPUR, PAPUA Rakhmat Fakhruddin; Taufik Ramli; Dzul Fadli
Lembaran Publikasi Minyak dan Gas Bumi Vol. 52 No. 3 (2018): LPMGB
Publisher : BBPMGB LEMIGAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Unit batuan yang diteliti adalah elemen petroleum system yang penting di wilayah Papua dan sekitarnya. Tujuanpenulisan ini adalah untuk menyusun kerangka stratigrafi sikuen batuan sedimen berumur Jura-Kapur di wilayahPapua. Selanjutnya, hasil dari kerangka stratigrafi sikuen akan digunakan untuk mendeteksi batuan sumberhidrokarbon potensial. Dua lintasan singkapan batuan Jura-Kapur yang diteliti adalah:

Page 8 of 55 | Total Record : 544


Filter by Year

1980 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 58 No. 1 (2024): LPMGB Vol. 57 No. 3 (2023): LPMGB Vol. 57 No. 2 (2023): LPMGB Vol. 57 No. 1 (2023): LPMGB Vol. 56 No. 3 (2022): LPMGB Vol. 56 No. 2 (2022): LPMGB Vol. 56 No. 1 (2022): LPMGB Vol. 55 No. 3 (2021): LPMGB Vol. 55 No. 2 (2021): LPMGB Vol. 55 No. 1 (2021): LPMGB Vol. 54 No. 3 (2020): LPMGB Vol. 54 No. 2 (2020): LPMGB Vol. 54 No. 1 (2020): LPMGB Vol. 53 No. 3 (2019): LPMGB Vol. 53 No. 2 (2019): LPMGB Vol. 53 No. 1 (2019): LPMGB Vol. 52 No. 3 (2018): LPMGB Vol. 52 No. 2 (2018): LPMGB Vol. 52 No. 1 (2018): LPMGB Vol. 51 No. 3 (2017): LPMGB Vol. 51 No. 2 (2017): LPMGB Vol. 51 No. 1 (2017): LPMGB Vol. 50 No. 3 (2016): LPMGB Vol. 50 No. 2 (2016): LPMGB Vol. 50 No. 1 (2016): LPMGB Vol. 49 No. 3 (2015): LPMGB Vol. 49 No. 2 (2015): LPMGB Vol. 49 No. 1 (2015): LPMGB Vol. 48 No. 3 (2014): LPMGB Vol. 48 No. 2 (2014): LPMGB Vol. 48 No. 1 (2014): LPMGB Vol. 47 No. 3 (2013): LPMGB Vol. 47 No. 2 (2013): LPMGB Vol. 47 No. 1 (2013): LPMGB Vol. 45 No. 3 (2011): LPMGB Vol. 45 No. 2 (2011): LPMGB Vol. 45 No. 1 (2011): LPMGB Vol. 44 No. 3 (2010): LPMGB Vol. 44 No. 2 (2010): LPMGB Vol. 44 No. 1 (2010): LPMGB Vol. 43 No. 3 (2009): LPMGB Vol. 43 No. 2 (2009): LPMGB Vol. 43 No. 1 (2009): LPMGB Vol. 42 No. 3 (2008): LPMGB Vol. 42 No. 2 (2008): LPMGB Vol. 42 No. 1 (2008): LPMGB Vol. 41 No. 3 (2007): LPMGB Vol. 41 No. 2 (2007): LPMGB Vol. 41 No. 1 (2007): LPMGB Vol. 40 No. 3 (2006): LPMGB Vol. 40 No. 2 (2006): LPMGB Vol. 40 No. 1 (2006): LPMGB Vol. 39 No. 3 (2005): LPMGB Vol. 39 No. 2 (2005): LPMGB Vol. 39 No. 1 (2005): LPMGB Vol. 38 No. 3 (2004): LPMGB Vol. 38 No. 2 (2004): LPMGB Vol. 38 No. 1 (2004): LPMGB Vol. 37 No. 1 (2003): LPMGB Vol. 36 No. 3 (2002): LPMGB Vol. 36 No. 2 (2002): LPMGB Vol. 36 No. 1 (2002): LPMGB Vol. 24 No. 2 (1990): LPMGB Vol. 24 No. 1 (1990): LPMGB Vol. 23 No. 3 (1989): LPMGB Vol. 23 No. 1 (1989): LPMGB Vol. 21 No. 3 (1987): LPMGB Vol. 21 No. 2 (1987): LPMGB Vol. 21 No. 1 (1987): LPMGB Vol. 20 No. 3 (1986): LPMGB Vol. 20 No. 2 (1986): LPMGB Vol. 20 No. 1 (1986): LPMGB Vol. 19 No. 3 (1985): LPMGB Vol. 19 No. 2 (1985): LPMGB Vol. 19 No. 1 (1985): LPMGB Vol. 18 No. 3 (1984): LPMGB Vol. 18 No. 2 (1984): LPMGB Vol. 18 No. 1 (1984): LPMGB Vol. 17 No. 2 (1983): LPMGB Vol. 15 No. 1 (1981): LPMGB Vol. 14 No. 3 (1980): LPMGB Vol. 14 No. 2 (1980): LPMGB Vol. 14 No. 1 (1980): LPMGB More Issue