cover
Contact Name
Semual Rudy Angkouw
Contact Email
jurnalkhamisyim@gmail.com
Phone
+62895395000168
Journal Mail Official
jurnalkhamisyim@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang Jl. Mundu No. 24-26 Bareng Kec. Klojen, Kota Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Khamisyim : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 30324068     DOI : 10.71415
KHAMISYI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani merupakan wadah bagi setiap penulis, peneliti baik para dosen maupun mahasiswa, yang ingin mempublikasikan naskah penelitian dalam bentuk penelitian literature maupun penelitian lapangan. Adapun Fokus dan Scope ruang lingkup KHAMISYIM Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Meliputi: 1. Teologi Kristen 2. Pendidikan Agama Kristen baik di Gereja maupun di Sekolah 3. Missiologi 4. Kepemimpinan Kristen 4. Etika Kristen 5. Pastoral
Articles 31 Documents
Analisis Teologis: "Total Depravity" dalam Konteks Teologi Kovenan dan Refleksinya terhadap Kehidupan Manusia Daniel Pesah Purwonugroho; Yohanes Telaumbanua
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Total Depravity is the condition of human sinfulness resulting from the failure of Adam and Eve to respond to God's covenant of work in the Garden of Eden. Sin renders human consciousness incapable of choosing to accept salvation from God. The state of total depravity renders humans entirely unable to respond to the covenant between humanity and God. Covenant Theology begins with God taking the initiative to establish a covenant of work with Adam. Adam's failure results in death entering the lives of humanity. Jesus, the eternal Son of God, enters into a covenant with God the Father. Jesus and His faithfulness become the determining factor in the covenant between God and humanity. Through a descriptive qualitative approach, the author expounds on the condition of total depravity and how Jesus serves as the focal point of a superior covenant, along with its reflection in human life. Abstrak Total depravity adalah kondisi keberdosaan manusia akibat dari kegagalan Adam dan Hawa merespon perjanjian kerja Allah di taman Eden. Dosa membuat kesadaran manusia tidak mungkin membuat manusia dapat memilih untuk menerima anugerah keselamatan dari Allah. Dalam keadaan rusak total, mustahil bagi manusia untuk mengadakan perjanjian antara manusia dan Tuhan. Teologi perjanjian dimulai dengan Allah mengambil inisiatif untuk membuat kontrak yang sah dengan Adam. Adam gagal, kegagalan Adam membawa kematian pada kehidupan manusia. Yesus adalah Allah Anak yang berasal dari kekekalan yang mengikat perjanjian dengan Allah Bapa. Yesus dan kesetiaanNya menjadi penentu perjanjian antara Allah dengan manusia. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penulis menguraikan tentang kondisi total depravity dan bagaimana Yesus menjadi titik tumpu perjanjian yang lebih baik serta refleksinya dalam kehidupan manusia. Kata Kunci : Total Depravity, Kovenan, Refleksi, Yesus
Pendampingan Pastoral Dalam Melayani Pemulihan Orang dalam Gangguan Jiwa Tanpa Obat Berbahan Kimia Yohanes Twintarto Agus Indratno; Herman Sjahthi Ekoprodjo
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article focuses on explaining how pastoral care should be carried out in services to people with mental disorders (ODGJ) without involving chemical drugs. This topic is explained because it is factual that ODGJ are all around us, even in the church environment. Church involvement is a necessity because the church is a religious institution that is expected to be active in social issues around it. By taking an observational and literary approach, this article is designed to help promote pastoral care. The findings from researching this article reveal that pastoral care, which can be provided through church-based spiritual counseling services, is an important pillar. Then intensive assistance becomes an important part of ODGJ. By implementing this, it will have an impact on significant changes both in the physiological aspects of ODGJ and in their spiritual aspects. Keywords: Church, Pastoral Care, People with Mental Disorders ABSTRAKTulisan ini berfokus menguraikan bagaimana semestinya pendampingan pastoral yang dilakukan dalam pelayanan kepada orang dalam gangguan jiwa (ODGJ) tanpa melibatkan obat-obatan berbahan kimia. Topik ini diuraikan karena secara faktual bahwa ODGJ ada dikitar kita bahkan dalam lingkungan gereja sekalipun. Keterliban gereja merupakan keharusan, karena gereja merupakan lembaga keagamaan yang diharapkan aktif dalam masalah-masalah sosial di sekitarnya. Dengan melakukan pendekatan observasi dan literatur, artikel ini dirancang bertujuan untuk menolong agar pendampingan pastoral makin menggeliat digalakkan. Hasil temuan dari penelusuran artikel ini mengungkapkan pendampingan pastoral yang dapat dilakukan melalui pelayanan berbasis gereja konseling rohani menjadi pilar penting. Kemudian adanya pendampingan yang intensif menjadi bagian penting kepada ODGJ. Dengan menerapkan itu, akan berdampak pada perubahan secra signifikan baik dalam aspek fisiologis ODGJ maupun dalam aspek spiritualnya. Kata Kunci: Gereja, Pendampingan Pastoral, Orang Dalam Gangguan Jiwa
Family Altar sebagai Upaya Pembentukan Karakter Anak dalam Menghadapi Tantangan di Era Digital Darman Syah Putra Zendrato; Martina Novalina; Anwar Three Millenium Waruwu; Eddy Simanjuntak
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 1 (2023): Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

character of children in an era of rapid technological advancement. With the premise that learning shapes human character, especially inquisitive children, this research aims to identify the significance of the Family Altar as a foundation for character formation in accordance with the example set by Christ. The methodology employed is a literature review, emphasizing character development in the era of globalization. The research findings indicate that the Family Altar, as a cell group within the church, facilitates family interaction and fosters a relationship with Christ. The family, as a divine institution, holds an inherent role in education and character development. Parents, as family leaders, bear the responsibility of guiding, educating, and nurturing the spiritual well-being of the household. The use of gadgets by children in the technological age presents a challenge, necessitating vigilant oversight. By integrating spiritual values through the Family Altar, children's character can be cultivated to be disciplined, God-fearing, and morally upright. This contributes positively to preparing a competitive and morally upright next generation amidst the challenges of the times. The Family Altar serves not only as a place of worship but also as a robust foundation for shaping children's character, thereby yielding positive impacts on their surrounding environment. Keywords: Family Altar; Character Formation; Changing Times; Technological Influence. Abstrak Artikel ini membahas peran penting Family Altar dalam membentuk karakter anak di era teknologi yang berkembang pesat. Dengan latar belakang bahwa pembelajaran membentuk karakter manusia, terutama anak-anak yang penuh rasa ingin tahu, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi signifikansi Family Altar sebagai landasan dalam membentuk karakter sesuai dengan teladan Kristus. Metode studi literatur digunakan untuk menekankan pembentukan karakter anak di era globalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Family Altar, sebagai sel grup dalam gereja, memungkinkan keluarga untuk berinteraksi dan membangun hubungan dengan Kristus. Keluarga, sebagai lembaga ilahi, memiliki peran kodrati dalam pendidikan dan pembentukan karakter. Orang tua sebagai pemimpin keluarga memiliki tanggung jawab membimbing, mendidik, dan memelihara kerohanian rumah tangga. Penggunaan gadget oleh anak-anak di era teknologi adalah tantangan, dan pengawasan bijak diperlukan. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai rohani melalui Family Altar, karakter anak dapat dibentuk menjadi disiplin, takut akan Tuhan, dan berakhlak mulia. Ini memberikan kontribusi positif dalam mempersiapkan generasi penerus yang berdaya saing dan bermoral di tengah tantangan zaman. Family Altar tidak hanya sebagai sarana ibadah, tetapi juga fondasi kuat dalam membentuk karakter anak yang memberikan dampak positif pada lingkungan sekitarnya. Kata kunci: Family Altar; Pembentukan Karakter; Perubahan Zaman; Pengaruh Teknologi
Menghadirkan Khotbah yang Memikat: Strategi Kreatif untuk Menyusun Pendahuluan yang Menginspirasi Berliana Ourisa Febrian; Yonatan Alex Arifianto
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 1 (2024): OKTOBER
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A good preacher must have creativity in delivering his sermon, in this day and age when listening to sermons most congregants choose to open their mobile phones rather than listening to the sermon, for that in delivering the sermon introduction the preacher must be able to deliver it as interesting as possible so that the congregation does not feel bored and interested in listening to the sermon delivered. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that if the sermon introduction is well organised and delivered in an interesting way, it will create an emotional and intellectual bond with the congregation, building their interest and enthusiasm to continue listening to the sermon until the end. Thus, an engaging introduction is not only an effective start in delivering the message, but also influences the level of participation and engagement of the congregation during the service. Sermon introduction can be delivered by delivering illustrations, personal testimonies, delivering parables, discussions, viewing or watching videos and through good words can make the sermon delivered look interesting. Abstrak: Seorang pengkhotbah yang baik harus memiliki kreatifitas dalam menyampaikan khotbahnya, pada zaman sekarang ini saat mendengarkan khotbah kebanyakan para jemaat memilih untuk membuka handphone daripada mendengarkan khotbah, untuk itu dalam menyampaikan pendahuluan khotbah pengkhotbah harus bisa menyampaikannya semenarik mungkin agar jemaat tidak merasa bosan dan tertarik untuk mendengarkan khotbah yang disampaikan. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkan bahwa sejatinya pendahuluan khotbah diatur dengan baik dan disampaikan dengan cara yang menarik, maka akan menciptakan ikatan emosional dan intelektual dengan jemaat, membangun ketertarikan dan antusiasme mereka untuk terus mendengarkan khotbah hingga akhir. Dengan demikian, pendahuluan yang menarik bukan hanya menjadi awal yang efektif dalam menyampaikan pesan, tetapi juga mempengaruhi tingkat partisipasi dan keterlibatan jemaat selama ibadah. Pendahuluan khotbah bisa disampaikan dengan menyampaikan Ilustrasi, kesaksian pribadi,menyampaikan perumpamaan, diskusi, melihan atau menonton vidio dan melalui kata-kata yang baik bisa membuat khotbah yang disampaikan terlihat menarik. Kata kunci: Khotbah memikat; strategi kreatif;  pendahuluan, Inspirasi
Penerapan Manajemen Kelas pada Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Berbasis Kurikulum Merdeka Betieli Gulo
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The classroom is the center for all aspects of learning to meet and process. The classroom is a place that allows students to freely learn with efforts made by the teacher which is known as classroom management. However, it is found that many teachers are unable to differentiate between classroom management and teaching activities. Teachers only know how to teach but have weaknesses in managing the class. Teachers should be able to manage the class by looking at elements in teaching such as student background, curriculum used, methods, media and teaching materials. The learning curriculum merdeka is being hotly discussed and recommended by the government to be applied to learning, including in the field of study of Christian Religious Education. Implementing the learning curriculum merdeka in Christian religious education is both a challenge and a necessity through good classroom management skills. This research uses a qualitative method, where the findings are analyzed and then described in sentences. The research results found that teachers who understand classroom management will find it easier to implement an curriculum merdeka, students will have more freedom to learn because learning is in accordance with their comfortable position, and the teacher's expertise in managing the classroom will make it easier to achieve learning goals and increase students' interest in learning Christian Religious Education . ABSTRAKKelas merupakan pusat segala aspek pembelajaran bertemu dan berproses. Kelas merupakan tempat yang memungkinkan siswa bebas belajar dengan upaya yang dilakukan oleh guru yang disebut sebagai manajemen kelas. Tetapi, banyak ditemukan guru tidak mampu membedakan antara manajemen kelas dengan kegiatan mengajar. Guru hanya mengetahui bagaimana mengajar tetapi memiliki kelemahan mengelola kelas. Guru harusnya mampu mengelola kelas dengan melihat elemen dalam mengajar seperti  latarbelakang siswa, kurikulum yang digunakan, metode, media, dan bahan ajar. Kurikulum merdeka belajar sedang hangat diperbincangkan dan dianjurkan oleh pemerintah untuk diterapkan pada pembelajaran, termasuk pada bidang studi Pendidikan Agama Kristen. Penerapan kurikulum merdeka belajar dalam pendidikan agama Kristen merupakan sebuah tantangan sekaligus keharusan melalui kemampuan mengelola kelas yang baik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dimana hasil temuan dianalisa  lalu dideskripsikan dalam kalimat. Hasil penelitian ditemukan bahwa guru yang memahami manajemen kelas akan lebih mudah menerapkan kurikulum merdeka, siswa lebih leluasa untuk belajar karena pembelajaran sesuai dengan posisi kenyamanan mereka. Kepiawaian guru dalam mengelola kelas akan memberi kemudahan pada pencapaian tujuan pembelajaran serta meningkatkan minat belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Kristen. Kata Kunci : Manajemen; Kelas; Pembelajaran PAK; Kurikulum Merdeka Belajar
Tantangan Gereja Dalam Menghadapi Tatanan Dunia Baru Di Era Disrupsi Rikardus Marong; Rahmat Kristiono; Kristiani Kristiani
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 2 (2024): April
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The strategy for controlling all governments is to control the world's finances. Through historical events and current circumstances, preparation is made to achieve world government by holding the power that controls that power. The world will undergo changes with the existence of a new world order; therefore, the church is the main shield to face the new world order for society and the congregation of God. This is the focus of this scientific work, namely that the church is a shield to face the new world order. But not only the world, but also the church will undergo changes if the New World Order occurs. Therefore, to anticipate this, the church needs to deal with it first, especially in stemming so that the church is not affected when the new world order occurs.  AbstrakStrategi dalam mengendalikan semua pemerintah adalah pengendalian keuangan dunia. Melalui peristiwa sejarah serta keadaan pada saat ini membuat suatu persiapan untuk mencapai pemerintahan dunia dengan memegang kekuatan yang mengendalikan  kekuasaan itu. Dunia akan mengalami perubahan dengan adanya tatanan dunia baru, oleh sebab itu gereja menjadi perisai utama untuk mengahadapi tatanan dunia baru bagi masyarakat maupun jemaat Allah hal inilah yang menjadi fokus pembahasan karya ilmiah ini yaitu gereja menjadi perisai untuk menghadapi tatanan dunia baru. Namun tidak hanya dunia, tetapi gereja pun akan mengalami perubahan jika Tatanan Dunia Baru itu terjadi. Oleh sebab itu untuk mengantisipasi hal tersebut, gereja perlu menanganinya terlebih dahulu, terutama dalam membendung agar gereja tidak terpengaruh ketika tatanan dunia baru itu terjadi.Kata kunci: Gereja, Tatanan Dunia Baru, Era Teknologi
Strategi Mengajar Guru Sekolah Minggu dalam Penataan Pertumbuhan Rohani Anak Semual Rudy Angkow; Merry Teintang; Lena Anjarsari Sembiring
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 1 (2023): Oktober 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sunday school children who grow, develop, progress and are strong, not only seen from the intellectual intelligence of the Sunday school children. But from the spiritual side too, because in spiritual growth Sunday school children can be able to interact well with the outside world, in this case the surrounding community. Here the role of the Sunday school teacher is needed to help the spiritual development of children through teaching strategies that are relevant to the spiritual needs of Sunday school children. This paper is done with qualitative analysis methods which are then interpreted. The findings of this article are that every Sunday school teacher should effectively and efficiently be able to guide, direct, encourage every Sunday school child, to be able to develop spiritually toward Christ. The impact will be spiritual growth that has a knowledge of the true God and can have an impact on his friends and the environment around him. Keywords: Teacher, Sunday School, Faith Growth AbstrakAnak sekolah minggu yang bertumbuh, berkembang, maju dan kuat, bukan hanya dilihat dari kepintaran intelektual dari anak sekolah minggu tersebut. Namun dari sisi kerohaniannya juga, karena dalam pertumbuhan rohani para anak sekolah minggu dapat mampu untuk berinteraksi baik dengan dunia luar, dalam hal ini masyarakat di sekitarnya. Di sini dibutuhkan peran guru sekolah minggu untuk membantu perkembangan rohani anak-anak melalui strategi mengajar yang relevan dengan kebutuhan rohani anak-anak sekolah minggu. Tulisan ini dikerjakan dengan metode analisis kualitatif yang kemudian di deskrifsikan. Temuan dari artikel ini bahwa setiap guru sekolah minggu seharusnya dengan efektif serta efisien dan mampu menuntun, mengarahkan, mendorong setiap anak sekolah minggu, untuk dapat mengembangkan kerohaniannya kearah Kristus. Dampaknya akan terjadi  pertumbuhan rohaninya yang memiliki pengenalan akan Tuhan yang benar serta dapat berdampak bagi temannya dan lingkungan disekitarnya. Kata Kunci: Guru, Sekolah Minggu, Pertumbuhan Iman
Eksplorasi Tangiang Metmet au on sebagai Pembelajaran Doa dalam Pendidikan Agama Kristen untuk Anak Sudiarjo Purba
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 1 (2024): OKTOBER
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prayer is part of the activity of faith that is inseparable from Christian life. The need for references in learning prayer in Christian Religion Education (CRE) for children are the background for writing this article. The potential prayer learning material taught to children is Tangiang Metmet Au On. This study aims to explore the deep meaning contained in Tangiang Metmet Au On through exploration of the sentences in the prayer; encourage CRE activists to re-teach this meaningful prayer to children, especially the Batak Toba tribe at home, in church and at school; analyze the potential in Tangiang Metmet Au On to become CRE for Children teaching material in learning with the theme of prayer. The method used in this study is a qualitative method with literature study as a data collection technique. The results of the study are that the four short sentences of prayer in Tangiang Metmet Au On have deep meaning and messages of faith that need to be taught to children. AbstrakDoa merupakan bagian dari aktivitas iman yang tidak terlepaskan dari kehidupan Kristen. Adanya kebutuhan referensi dalam pembelajaran doa dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK) Anak menjadi latar belakang penulisan artikel ini. Bahan pembelajaran doa yang potensial diajarkan pada anak adalah Tangiang Metmet Au On. Penelitian ini bertujuan untuk menggali makna mendalam yang terkandung dalam Tangiang Metmet Au On melalui eksplorasi terhadap kalimat-kalimat dalam doa tersebut; mendorong para penggiat PAK untuk kembali mengajarkan doa penuh makna ini kepada anak-anak khususnya suku Batak Toba di rumah, di gereja dan di sekolah; menganalisis potensi dalam Tangiang Metmet Au On menjadi bahan ajar PAK Anak pada pembelajaran dengan tema doa. Metode yang digunakan penelitian ini adalah metode kualitatif dengan studi kepustakaan sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian adalah bahwa empat kalimat pendek doa dalam Tangiang Metmet Au On memiliki makna mendalam dan pesan iman yang perlu diajarkan kembali kepada anak. Kata Kunci: Doa; PAK Anak; Tangiang Metmet Au On
Gereja sebagai Tempat Pemulihan: Strategi Pastoral dalam Melayani Jemaat yang Terjerat Okultisme Wicaksono, Arif; Pranowo, Rebecca Glorya
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2025): APRIL
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71415/jkmy.v2i2.41

Abstract

The church plays a crucial role as a place of restoration for individuals trapped in occult practices. This study employs a descriptive qualitative method with a literature study approach to analyze pastoral strategies in addressing this phenomenon. Three main strategies identified are doctrinal education, holistic pastoral care, and deliverance prayer ministry. Doctrinal education aims to strengthen congregants’ understanding of the dangers of occultism and God’s power. Holistic pastoral care provides spiritual, psychological, and social guidance for individuals seeking to break free from spiritual bondage. Meanwhile, deliverance prayer plays a role in freeing individuals from dark influences through the authority of Christ. This study highlights that the church must be proactive in educating, guiding, and restoring affected congregants while avoiding sensationalism in deliverance ministry. With a holistic approach based on God’s word, the church can effectively serve as a place of healing for those seeking to return to a Christ-centered life.Abstrak Gereja memiliki peran penting sebagai tempat pemulihan bagi individu yang terjerat dalam praktik okultisme. Studi ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka untuk menganalisis strategi pastoral dalam menangani fenomena ini. Tiga strategi utama yang diidentifikasi adalah pendidikan doktrinal, pendampingan pastoral yang holistik, dan pelayanan doa pelepasan. Pendidikan doktrinal bertujuan memperkuat pemahaman jemaat mengenai bahaya okultisme dan kuasa Tuhan. Pendampingan pastoral memberikan bimbingan spiritual, psikologis, dan sosial bagi individu yang ingin melepaskan diri dari keterikatan spiritual. Sementara itu, doa pelepasan berperan dalam membebaskan individu dari kuasa gelap melalui otoritas Kristus. Studi ini menekankan bahwa gereja harus aktif dalam mendidik, membimbing, dan memulihkan jemaat yang terdampak, serta menghindari praktik sensasionalisme dalam pelayanan pelepasan. Dengan pendekatan yang holistik dan berbasis pada firman Tuhan, gereja dapat menjadi tempat pemulihan yang efektif bagi mereka yang ingin kembali kepada kehidupan yang berpusat pada Kristus.Kata kunci: Gereja, Okultisme, Pastoral, Pemulihan, Doa Pembebasan
Etis Teologi Kristen dalam Menyikapi Gerakan #MeToo: Membaca Makna Kesetaraan Gender dalam Konteks Teologi dan Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual Arifianto, Yonatan Alex; Rahayu, Yohana Fajar
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2025): APRIL
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71415/jkmy.v2i2.42

Abstract

The #MeToo movement has brought global attention to issues of sexual harassment and gender inequality, sparking widespread debates about women's rights and safe spaces for victims of crime. In the context of Christian theology, this issue is often faced with the challenge of interpreting teachings that can maintain gender hierarchy. This article aims to examine the ethics of Christian theology in response to the #MeToo movement, with a focus on gender equality and the protection of victims of sexual violence. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it is concluded that Christianity needs to reinterpret biblical teachings in the context of gender equality. Which indeed focuses on the theology of feminism and religious perspectives on women and certainly narrates the role of Christian theological ethics in Responding to Sexual Violence. So that Christianity can theologically analyse gender equality in religious teachings in responding to the #metoo movement.  This is very much needed because Christian theology has the capacity to become an agent of change in supporting gender equality and fighting sexual violence, although it requires a more progressive transformation of thought in the interpretation of religious teachings.AbstrakGerakan #MeToo telah membawa perhatian global terhadap isu pelecehan seksual dan ketidaksetaraan gender, memicu perdebatan luas tentang hak perempuan dan ruang aman bagi korban tindak kejahatan. Dalam konteks teologi Kristen, masalah ini sering kali dihadapi dengan tantangan interpretasi ajaran yang dapat mempertahankan hierarki gender. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji terkait etika teologi Kristen dalam merespons gerakan #MeToo, dengan fokus pada kesetaraan gender dan perlindungan terhadap korban kekerasan seksual. Menggunkan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature, maka disimpulkan bahwa perlunya kekristenan dalam reinterpretasi ajaran Alkitab terkait konteks kesetaraan gender. Yang memang berfokus pada teologi feminisme dan perspektif agama terhadap perempuan dan tentu menarasikan peran etika teologis Kristen dalam Menyikapi Kekerasan Seksual. Sehingga kekristenan dapat menganalisis teologis terhadap kesetaraan gender dalam ajaran agama dalam merespons gerakan #metoo.  Hal itu sangat dibutuhkan sebab teologi Kristen memiliki kapasitas untuk menjadi agen perubahan dalam mendukung kesetaraan gender dan melawan kekerasan seksual, meskipun memerlukan transformasi pemikiran yang lebih progresif dalam interpretasi ajaran agama. Kata Kunci:  Teologi Kristen, Gerakan #MeToo, Kesetaraan Gender, Kekerasan Seksual.

Page 2 of 4 | Total Record : 31