cover
Contact Name
Semual Rudy Angkouw
Contact Email
jurnalkhamisyim@gmail.com
Phone
+62895395000168
Journal Mail Official
jurnalkhamisyim@gmail.com
Editorial Address
Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang Jl. Mundu No. 24-26 Bareng Kec. Klojen, Kota Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Khamisyim : Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 30324068     DOI : 10.71415
KHAMISYI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristiani merupakan wadah bagi setiap penulis, peneliti baik para dosen maupun mahasiswa, yang ingin mempublikasikan naskah penelitian dalam bentuk penelitian literature maupun penelitian lapangan. Adapun Fokus dan Scope ruang lingkup KHAMISYIM Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Meliputi: 1. Teologi Kristen 2. Pendidikan Agama Kristen baik di Gereja maupun di Sekolah 3. Missiologi 4. Kepemimpinan Kristen 4. Etika Kristen 5. Pastoral
Articles 31 Documents
Taktik Tamar dalam Kejadian 38 Menurut Perspektif Etika Kristen Sitanggang, Murni Hermawaty; Simon, Simon
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2025): APRIL
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71415/jkmy.v2i2.43

Abstract

The purpose of this article is to answer whether Tamar's actions, which deceived her father-in-law, Judah, in Genesis 38 are justified from the point of view of Christian ethics. Answering this question can help God's people understand what to consider when making ethical decisions. The method used is a qualitative method with a literature study approach. The author collects data from various literature and then compiles systematic arguments related to the topic. The conclusion is that we could not blame Tamar for her actions since she was only trying to fight for her fate which was oppressed by Judah's indifference. This story teaches us that after God's words, the situation faced by the individual is also important to consider in ethical decision-making. AbstrakTujuan penulisan artikel ini adalah untuk menjawab pertanyaan apakah tindakan Tamar, yang mengelabui mertuanya, Yehuda, dalam Kejadian 38 dapat dibenarkan dari sudut pandang etika Kristen. Menjawab pertanyaan ini dapat menolong umat Tuhan untuk memahami apa saja yang perlu dipertimbangkan saat mengambil keputusan etis. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan kajian literatur. Penulis mengumpulkan data dari berbagai literatur untuk kemudian menyusun argumentasi yang sistematis terkait topik. Kesimpulannya adalah tindakan Tamar tersebut tidak dapat disalahkan karena ia hanya berupaya memperjuangkan nasibnya yang tertindas oleh ketidakpedulian Yehuda. Pembelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini adalah pentingnya untuk memahami firman Tuhan secara komprehensif dan mempertimbangkan situasi sebelum mengambil keputusan etis. Kata Kunci: Tamar, Yehuda, etika Kristen, keputusan etis, Kejadian 38.
Inklusio dan Paralelisme dalam Relasi Ciptaan dan Pencipta Berdasarkan Mazmur 150:1-6 Pattinaja, Aska Aprilano; Kiamani, Andris
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2025): APRIL
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71415/jkmy.v2i2.35

Abstract

Two poetic literary forms stand out in Psalm 150:1-6: the thirteen times the phrase "praise the Lord" is part of parallelism (synonymy, synthesis, and climax) and the word "hallelujah" as an inclusio at the beginning and end of the text. Many researchers often overlook the richness of meaning and the extraordinary literary features of the poem in this section, because they focus only on examining the context of the structures that correlate and imply praise. This study aims to explore the rich meanings of parallelism and inclusio, which have profound implications for the relationship between creation and creator. Based on the qualitative hermeneutic method of poetic literature, this study found the main reasons for creation to praise its creator, namely: First, recognition of God's sovereignty; Second, gratitude for God's grace and salvation; Third, response to God's faithfulness. This research is an important reference to open insights for every believer to realize that the main task as a creation is to praise and glorify the Creator.AbstrakDalam Mazmur 150:1-6 terdapat dua bentuk sastra puisi yang sangat menonjol yakni, ada tiga belas kali frase “pujilah Tuhan” yang merupakan bagian dari paralelisme (sinonim, sintesis dan klimaks) dan kata “Haleluya” sebagai inklusio di awal dan akhir teks. Penelitian sebelumya sering mengabaikan kekayaan makna dan ciri khas sastra puisi yang luar biasa dalam bagian ini, karena terfokus hanya meneliti konteks struktur yang berkorelasi dan berimplikasi dengan pujian. Penelitian ini bertujuan untuk menggali kekayaan makna paralelisme dan inklusio yang sangat berdampak bagi relasi ciptaan dan pencipta. Berdasarkan metode kualitatif hermeneutik sastra puisi, maka penelitian ini menemukan alasan utama ciptaan memuji PencipataNya, yakni: Pertama, pengakuan kedaulatan Allah; Kedua, syukur atas kasih karunia dan keselamatan dari Allah; Ketiga, respons terhadap kesetiaan Allah. Penelitian ini sebagai rujukan penting dalam membuka wawasan bagi setiap orang percaya untuk menyadari tugas utama sebagai ciptaan yakni memuji dan meninggikan Sang Pencipta. Kata kunci: Mazmur, Ciptaan, Pencipta, Haleluya, Pujilah Tuhan
Kepribadian Nabi Habakuk dan Relevansinya Terhadap Generasi Zelenial: Sebuah Studi Teologis Terhadap Kitab Habakuk Lawolo, Aprianus
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2025): APRIL
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71415/jkmy.v2i2.38

Abstract

This article examines the personality of the Prophet Habakkuk with the Zelenial Generation. The purpose of this research is to explore how the personality of the Prophet Habakkuk can be a spiritual principle for the Zelenial Generation in the midst of a changing world. Using the literature study method, the author will identify and analyze the attitude of the Prophet Habakkuk towards the situation of his day. The findings of this study show that the Prophet Habakkuk who lived in an era of justice crisis, crime, and moral crisis still had an attitude that was empathetic to the situation, consistent with actions, and also always relied on God. This character will have a positive impact on the Zelenial Generation if applied in the midst of a world that is also constantly changing. This research contributes especially to the field of education to be able to teach and apply the character of the Prophet Habakkuk to the Zelenial generation. Abstrak Artikel ini mengkaji kepribadian dari Nabi Habakuk dengan Generasi Zelenial. Tujuan penelitian ini adalah menggali bagaimana kepribadian dari Nabi Habakuk dapat menjadi prinsip spiritual bagi Generasi Zelenial di tengah perubahan dunia. Dengan menggunakan metode studi literatur penulis akan mengidentifikasi dan menganalisis sikap Nabi Habakuk terhadap situasi pada zamannya. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Nabi Habakuk yang hidup di era krisis keadilan, kejahatan, dan krisis moral tetap memiliki sikap yang empati terhadap situasi yang terjadi, konsisten terhadap tindakan, dan juga selalu mengandalkan Tuhan. Karakter ini akan berdampak positif terhadap Generasi Zelenial jika diterapkan di tengah dunia yang juga terus berubah. Penelitian ini memberikan kontribusi khususnya pada bidang pendidikan untuk dapat mengajarkan dan menerapkan karakter Nabi Habakuk terhadap generasi Zelenial.Kata kunci: Empati, Gen Z, Kepribadian, Konsisten, Nabi Habakuk.
Desain Pengajaran Alkitab dalam Peningkatan Pemahaman Teologi Jemaat di GPdI Philadelphia Sumual, Mona Kadir; Nainggolan, Jisman
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2025): APRIL
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71415/jkmy.v2i2.46

Abstract

This study aims to explore the influence of Bible teaching on improving theological understanding in the Philadelphia GPdI congregation. In the context of church life, a deep understanding of theology is essential to strengthen the faith and spiritual life of the congregation. This research used a qualitative approach with a case study method involving several congregants in a local church. Data was collected through interviews, observations, and document analysis of the Bible teaching implemented in the church. The results showed that structured Bible teaching that is relevant to the needs of the congregation can significantly improve theological understanding. In addition, the study also found that the congregation's involvement in theological discussions and practical applications of biblical teachings play an important role in deepening their understanding. Therefore, this study suggests that churches should focus more on developing in-depth teaching methods to form a solid understanding of theology among congregants. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh pengajaran Alkitab terhadap peningkatan pemahaman teologi di jemaat GPdI Philadelphia. Dalam konteks kehidupan gereja, pemahaman teologi yang mendalam sangat penting untuk memperkuat iman dan kehidupan rohani jemaat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang melibatkan sejumlah jemaat di sebuah gereja lokal. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen pengajaran Alkitab yang diterapkan di gereja tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajaran Alkitab yang terstruktur dan relevan dengan kebutuhan jemaat dapat meningkatkan pemahaman teologi secara signifikan. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa keterlibatan jemaat dalam diskusi teologis dan aplikasi praktis dari ajaran Alkitab berperan penting dalam memperdalam pemahaman mereka. Oleh karena itu, penelitian ini menyarankan agar gereja lebih fokus pada pengembangan metode pengajaran yang mendalam untuk membentuk pemahaman teologi yang kokoh di kalangan jemaat. Kata Kunci: Pengajaran Alkitab, Pemahaman Teologi, Jemaat, Iman, Kehidupan Rohani.
Kepemimpinan yang tidak Visioner sebagai Faktor Penghambat Ketaatan Perpuluhan Jemaat Gunawan, Felicia; Simamora, Parasian; Sentosa, Viktor Iman
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1 (2025): OKTOBER
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71415/jkmy.v3i1.30

Abstract

A non-visionary leader ultimately does not teach the congregation to obey the word correctly, which negatively impacts the church's growth both financially and in terms of the congregation's faith. This study also found that non-visionary leadership often struggles to guide the congregation towards clear goals, making spiritual obedience and tithing practices less effective. Visionary leaders can build a clear vision of how tithing can be a means to improve the well-being of the church and the surrounding community. They can also facilitate effective communication with the congregation, making the congregation more understanding and involved in the practice of tithing. In this context, this research suggests that the church needs to enhance its leadership capacity by developing a clear vision and effective strategies to improve the spiritual obedience of the congregation. This can be achieved through leadership training focused on vision development and the ability to motivate the congregation. AbstrakPemimpin yang tidak visioner pada akhirnya tidak mengajarkan jemaat untuk menaati firman dengan benar sehingga berdampak negatif pada pertumbuhan gereja dari segi finansial maupun pertumbuhan iman jemaat. Penelitian ini juga menemukan bahwa kepemimpinan yang tidak visioner seringkali mengalami kesulitan dalam mengarahkan jemaat menuju tujuan yang jelas, sehingga ketaatan spiritual dan praktik perpuluhan menjadi kurang efektif. Pemimpin visioner dapat membangun visi yang jelas tentang bagaimana perpuluhan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kesejahteraan gereja dan masyarakat sekitar. Mereka juga dapat memfasilitasi komunikasi yang efektif dengan jemaat, sehingga jemaat lebih memahami dan terlibat dalam praktik perpuluhan. Dalam konteks ini, penelitian ini menyarankan bahwa gereja perlu meningkatkan kapasitas kepemimpinannya dengan mengembangkan visi yang jelas dan strategi yang efektif untuk meningkatkan ketaatan spiritual jemaat. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan kepemimpinan yang berfokus pada pengembangan visi dan kemampuan memotivasi jemaat. Kata kunci: Ketaatan Spiritual; Pemimpin Visioner; Pertumbuhan Gereja
Kajian Teologis Diakonia bagi Kehidupan Rohani umat Kristen Sianipar, Rikardo P
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1 (2025): OKTOBER
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71415/jkmy.v3i1.44

Abstract

This study examines the implications of diakonia as a means of holistic spiritual recovery for Christians. Employing a qualitative approach, primary data were collected through interviews with five informants, supported by secondary sources such as books and scientific journals. Data analysis was conducted using NVIVO 11 Pro software. The findings reveal that several churches in Indonesia have practiced holistic diakonia, yet its implementation remains inconsistent. The study also indicates that when Christians overcome personal challenges and recognize God’s work in their lives, they become more attentive to their spiritual growth. It concludes that diaconal ministry extends beyond addressing physical needs, encompassing psychological and spiritual dimensions as well. The spiritual life of Christians is closely tied to their relationship with God and with others. This research contributes to the discourse on church ministry by encouraging holistic diakonia in accordance with the example of Jesus. AbstrakPenelitian ini bertujuan mengungkap implikasi diakonia sebagai sarana pemulihan holistik bagi kehidupan rohani umat Kristen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan data primer dikumpulkan melalui wawancara kepada lima orang narasumber dan data sekunder meliputi literatur berupa buku dan jurnal ilmiah. Data-data yang dikumpulkan, dianalisis menggunakan perangkat lunak NVIVO 11 Pro. Hasil penelitian menunjukkan sebagian gereja di Indonesia sudah melakukan diakonia holistik, namun belum diterapkan secara konsisten; ketika umat Kristen bisa keluar dari permasalahan hidupnya dan menyadari Allah turut bekerja didalamnya, maka kemungkinan untuk jemaat memperhatikan kehidupan rohaninya akan meningkat. Dapat disimpulkan bahwa pelayanan diakonia tidak hanya mengatasi permasalahan jasmani, melainkan psikologis dan rohani. Kehidupan rohani umat Kristen erat kaitannya dengan relasi mereka bersama Allah dan sesama manusia. Penelitian ini memberikan sumbangsih yang positif bagi gereja agar melakukan diakonia secara holistik seperti yang dilakukan Yesus.Kata Kunci: Diakonia, Kehidupan Rohani, Umat Kristen.
Merangkul Kelemahan dan Kekuatan dalam Kuasa Allah: Refleksi Teologis 2 Korintus 12:9 Purwonugroho, Daniel Pesah
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1 (2025): OKTOBER
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71415/jkmy.v3i1.45

Abstract

This paper aims to provide a theological reflection on 2 Corinthians 12:9 regarding weakness and strength in the power of God. Weakness and strength is a common paradox in the Christian perspective. Paul uses this paradox in 2 Corinthians 12:9 to embody the paradoxical concept of weakness and strength. Paul explained that he was experiencing weakness in his ministry. However, through his weakness, Paul experienced the power of God. Through a descriptive qualitative approach, the author will conduct a theological reflection on the verse 2 Corinthians 12:9. This theological reflection provides a deep understanding of weakness and strength in the life of a believer. The author states that the concept of weakness and strength of God that is raised in the theological reflection of 2 Corinthians 12:9 brings every believer to experience significant spiritual growth. This paper provides a reflective academic contribution on weakness and strength and their relationship with God's grace and its dynamics in the lives of believers. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk memberikan sebuah refleksi teologis dari 2 Korintus 12:9 mengenai kelemahan dan kekuatan dalam kuasa Allah. Kelemahan dan kekuatan adalah sebuah paradoks yang umum dijumpai di dalam perspektif Kristen seperti di dalam perjalanan kehidupan rohani orang percaya.  Paulus menggunakan paradoks ini di dalam 2 Korintus 12:9 untuk mengejawantahkan konsep paradoks mengenai kelemahan dan kekuatan. Paulus menjelaskan bahwa dirinya tengah mengalami kelemahan di dalam pelayanannya. Namun, melalui kelemahan yang Paulus alami membuat Paulus mengalami kuasa Allah. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penulis akan melakukan refleksi teologis ayat 2 Korintus 12:9. Refleksi teologis ini memberikan pemahaman yang mendalam mengenai kelemahan dan kekuatan di dalam kehidupan orang percaya. Penulis menyatakan bahwa konsep kelemahan dan kekuatan Allah yang dimunculkan dalam refleksi teologis 2 Korintus 12:9 ini membawa setiap orang percaya mengalami pertumbuhan rohani yang signifikan. Tulisan ini memberikan kontribusi akademik yaitu refleksi teologis mengenai kelemahan dan kekuatan di dalam kehidupan orang percaya. Tulisan ini juga memberikan bentangan pemahaman tentang kelemahan dan kekuatan serta relasinya dengan anugerah Allah dan dinamikanya dalam kehidupan orang percaya.Kata kunci: Kekuatan, Kuasa Allah, Refleksi Teologis, 2 Korintus 12:9
Filosofi Manajemen Pendidikan Kekristenan dalam Konteks Sekolah Minggu di Era Disrupsi Karbui, Titus; Yuli, Purwisasi
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1 (2025): OKTOBER
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71415/jkmy.v3i1.34

Abstract

The era of disruption has brought significant changes to the world of education, including in the spiritual education of children within the church environment thru Sunday School. Digitalization, cultural changes, and shifts in family parenting patterns pose serious challenges that require the church to restructure its educational management approach. This article discusses the philosophy of Christian educational management rooted in biblical values and its application in Sunday School ministry amidst the dynamics of the times. Using a theological approach and literature review, this article emphasizes the importance of integrating spiritual values such as love, example, integrity, and service into the entire managerial process, from planning to evaluation. Additionally, strategies such as curriculum revision, teacher training, the use of digital technology, family involvement, and strengthening children's spiritual community are outlined as concrete solutions. It is hoped that this writing will contribute to the church in building relevant, transformative, and faithful Christian educational management amidst the era of disruption.Keywords: Management, Education, Christianity, Sunday School.  Abstrak Era disrupsi telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pendidikan rohani anak di lingkungan gereja melalui Sekolah Minggu. Digitalisasi, perubahan budaya, serta pergeseran pola asuh keluarga menjadi tantangan serius yang mengharuskan gereja untuk menata ulang pendekatan manajemen pendidikannya. Artikel ini membahas filosofi manajemen pendidikan Kristen yang berakar pada nilai-nilai Alkitabiah dan penerapannya dalam pelayanan Sekolah Minggu di tengah dinamika zaman. Dengan menggunakan pendekatan teologis dan kajian literatur, artikel ini menekankan pentingnya integrasi nilai-nilai rohani seperti kasih, keteladanan, integritas, dan pelayanan dalam seluruh proses manajerial,mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Selain itu, strategi-strategi seperti revisi kurikulum, pelatihan guru, pemanfaatan teknologi digital, keterlibatan keluarga, dan penguatan komunitas rohani anak diuraikan sebagai solusi konkret. Diharapkan, tulisan ini menjadi kontribusi bagi gereja dalam membangun manajemen pendidikan Kristen yang relevan, transformatif, dan tetap setia pada misi ilahi di tengah era disrupsi. Kata Kunci: Manajemen, Pendidikan  Kekristenan, Sekolah Minggu.
Teologi Politik Paulus sebagai Respons terhadap Konflik Ideologi dan Kepatuhan Hukum Taurat pada Jemaat Galatia Christiaan, John Abraham; Manuputty, Mozes
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1 (2025): OKTOBER
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71415/jkmy.v3i1.65

Abstract

This article examines the political theology of the Apostle Paul in the Letter to the Galatians as a response to the ideological conflict that arose from the insistence of the Judeo-Christian group that non-Jewish congregations obey the Law of Moses. In the pluralistic socio-political context of the province of Galatia, which was under Roman rule, religious identity became a battleground between loyalty to Jewish law and new freedom in Christ. Through a historical-theological approach and narrative analysis, this article asserts that Paul not only defended his apostolic authority but also shaped a vision of a transnational community that transcended ethnic and legal boundaries, grounded in love and freedom in the Spirit. Paul's political theology serves as a sharp critique of exclusive ideologies that enslave people, while simultaneously offering an alternative inclusive and eschatological community in Christ. AbstrakArtikel ini mengkaji teologi politik Rasul Paulus dalam Surat Galatia sebagai respons terhadap konflik ideologis yang muncul akibat desakan kelompok Yudeo-Kristen agar jemaat bukan Yahudi menaati Hukum Taurat. Dalam konteks sosial-politik provinsi Galatia yang plural dan berada di bawah kekuasaan Romawi, identitas keagamaan menjadi medan tarik menarik antara kesetiaan kepada hukum Yahudi dan kebebasan baru dalam Kristus. Melalui pendekatan historis-teologis dan analisis naratif, artikel ini menegaskan bahwa Paulus tidak hanya membela otoritas kerasulannya, tetapi juga membentuk suatu visi komunitas transnasional yang melampaui batas-batas etnis dan hukum, berlandaskan kasih dan kebebasan dalam Roh. Teologi politik Paulus menjadi kritik tajam terhadap ideologi eksklusif yang membelenggu umat dan sekaligus menawarkan alternatif komunitas yang inklusif dan eskatologis dalam Kristus. Kata Kunci: Paulus, Teologi Politik, Galatia, Hukum Taurat
Etika Keadilan Upah: Kritik Sosial Ulangan 24:14-15 dan Relevansinya bagi Moralitas Kristen Masa Kini Yohanis, Santi
KHAMISYIM: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1 (2025): OKTOBER
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Batu, Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71415/jkmy.v3i1.18

Abstract

This article presents an in-depth study of the Ethics of Just Wages as a crucial social critique relevant to contemporary Christian Morality. Driven by the pervasive issues of wage inequality, exploitation, and economic disparities that undermine worker dignity, the research posits that the biblical command found in Deuteronomy 24:14-15 is an urgent theological mandate, not merely social advice. The research method employed is qualitative library research, focusing on historical-grammatical exegesis of Deuteronomy 24:14-15 to ascertain its original meaning, followed by hermeneutical analysis for normative relevance. The Results and Discussion demonstrate that the absolute prohibition against oppression (‘āšaq) and the obligation to pay wages promptly manifest the principle of Human Dignity (Imago Dei). This principle requires every follower of Christ to practice a just wage as tangible evidence of faith obedience. It is concluded that commitment to wage justice, which aligns with the advocacy positions of PGI, is an unavoidable prerequisite for developing a Christian Morality that is both prophetic and deeply integrated with social justice. AbstrakArtikel ini menyajikan kajian mendalam mengenai Etika Keadilan Upah sebagai kritik sosial mendasar yang relevan bagi Moralitas Kristen masa kini. Dilatarbelakangi oleh meluasnya isu ketidakadilan upah, praktik eksploitasi, dan ketimpangan ekonomi yang merusak martabat kaum pekerja, penelitian ini berargumen bahwa perintah Alkitab dalam Ulangan 24:14-15 adalah mandat teologis yang mendesak, bukan sekadar anjuran sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka kualitatif dengan fokus pada eksegesis historis-gramatikal teks Ulangan 24:14-15 untuk menentukan makna aslinya, diikuti oleh analisis hermeneutik untuk menarik relevansi normatif. Hasil dan Pembahasan menunjukkan bahwa larangan mutlak untuk menindas (‘āšaq) dan kewajiban membayar upah tepat waktu adalah manifestasi prinsip Martabat Manusia (Imago Dei). Prinsip ini menuntut setiap pengikut Kristus untuk mempraktikkan upah yang layak (just wage) sebagai bukti ketaatan iman. Disimpulkan bahwa komitmen terhadap keadilan upah, yang sejalan dengan posisi advokasi PGI, adalah prasyarat yang tidak dapat dihindari bagi terbentuknya Moralitas Kristen yang berintegritas, profetik, dan mampu menantang ketidakadilan struktural.Kata Kunci: Keadilan Upah; Ulangan 24:14-15; Kritik Sosial: Moralitas Kristen

Page 3 of 4 | Total Record : 31