cover
Contact Name
Juli Hadiyanto
Contact Email
julihadiyanto43@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalstandardisasi@gmail.com
Editorial Address
Gedung 1 BSN, KST BJ Habibie, Setu, Tangerang Selatan, Banten, 15314.
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Standardisasi
ISSN : -     EISSN : 23375833     DOI : 10.31153
Jurnal Standarisasi (hence JS) is a journal aims to be a leading peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We publish original study or research papers focused on standardization policies, development of standards, harmonization of standards, implementation of standards (accreditation, certification, testing, metrology, technical inspection, pre and post market supervision, socio-economic impacts, etc.), standardization of standards, technical regulations, and aspects related to standardization that has neither been published elsewhere in any language, nor is it under review for publication anywhere.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 227 Documents
MANFAAT KORELASI SNI-HS 2013 DALAM RANGKA MENDUKUNG PENGEMBANGAN DAN PENERAPAN SNI Endi Hari Purwanto; Biatna Dulbert Tampubolon
JURNAL STANDARDISASI Vol 16, No 2 (2014): Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v16i2.174

Abstract

Pertumbuhan jumlah SNI yang cepat dengan rata-rata 370 SNI per tahun terjadi dalam dua tahun terakhir. Kodefikasi Harmonize System (HS) di Indonesia sesuai Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI) dilakukan revisi per 5 tahun. Perubahan tersebut mengubah seluruh sistematika korelasi SNI-HS yang telah disusun sehingga hasil korelasi SNI-HS 2007 sudah tidak mutakhir (update). Selain mengakomodasi perubahan tersebut, penyusunan korelasi ini membantu dan memudahkan pengambilan kebijakan standardisasi terkait dengan industri dan perdagangan. Penelitian ini memiliki tujuan menyusun korelasi SNI-HS yang valid sebagai alat pendukung pengembangan dan penerapan SNI di Indonesia. Untuk mendapatkan korelasi SNI-HS yang valid digunakan prinsip kesamaan jenis produk atau komoditi antara SNI dan HS yang akan dikorelasikan. Metode yang digunakan adalah dengan menyandingkan antara kode SNI dengan kode HS yang memiliki definisi produk yang sama atau mendekati kemudian korelasi SNI-HS yang dihasilkan diklasifikasikan berdasarkan tingkat kesesuaian/ketepatan antara produk SNI dengan produk HS meliputi: prioritas 1, prioritas 2 dan prioritas 3. Dari 4300 SNI produk yang teridentifikasi dihasilkan 959 korelasi SNI-HS terverifikasi valid (22,3%) yang terdiri atas: 205 korelasi dengan prioritas 1, 444 korelasi dengan prioritas 2 dan 310 korelasi dengan prioritas 3. Selain itu SNI-HS bermanfaat bagi pengembangan SNI yaitu: 1) Alat identifikasi produk dengan nilai impor tinggi, 2) Alat identifikasi gap ruang lingkup SNI produk dibandingkan dengan variasi produk dalam HS melalui penyusunan PNPS, dan 3) Alat identifikasi peluang ancaman dan kekuatan melalui notifikasi masuk. Terakhir SNI-HS memberikan manfaat bagi penerapan SNI berupa: 1) Alat identifikasi kode HS dari SNI produk yang akan diwajibkan dan 2) Alat identifikasi ketersediaan LSPro dari suatu produk dengan nilai impor tinggi.
PENENTUAN NILAI SERTIFIKAT BAHAN ACUAN LARUTAN BUFER BORAKS UNTUK PENGUKURAN DERAJAT KEASAMAN (pH) Nuryatini Nuryatini; Sujarwo Sujarwo; Ayu Hindayani
JURNAL STANDARDISASI Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v18i1.695

Abstract

Dalam rangka pengembangan beberapa bahan acuan yang penting di Indonesia, Pusat Penelitian Kimia-LIPI telah membuat bahan acuan larutan bufer boraks yang siap untuk disertifkasi untuk pengukuran pH basa yang tertelusur ke standar bufer primer dari NIST. Bahan acuan tersertifikasi digunakan untuk memberikan ketertelusuran dan keandalan dari suatu hasil pengukuran kimia. Pada saat ini, bahan acuan tersertifikasi yang digunakan untuk pengukuran pH merupakan barang impor dengan harga yang cukup mahal. Apabila bahan acuan tersebut dapat dibuat di Indonesia, harga akan menjadi lebih murah dan bahan acuan mudah didapatkan. Larutan standar bufer boraks telah dibuat dari natrium tetraborat dekahidrat yang dilarutkan di dalam air demineral dengan konsentrasi 0,01 mol/kg. Nilai pH untuk sertifikat telah diukur dengan menggunakan pH meter yang mempunyai sensitivitas tinggi dengan teknik pengukuran dua titik kalibrasi. Uji Karakterisasi, uji homogenitas, dan uji stabilitas dari bahan acuan yang akan berkontribusi dalam penentuan nilai dan ketidakpastiannya telah dilakukan. Hasil pengukurn memberikan nilai pH 9,18 pada suhu 25 °C dengan nilai ketidakpastian diperluas 0,03 pada tingkat kepercayaan 95% dan faktor pencakupan, k = 2,0. Bahan acuan ini memberikan data yang stabil selama 2 (dua) tahun dan diharapkan dapat menggantikan bahan acuan larutan bufer standar tersertifikat yang masih merupakan barang impor.
Analisis Penerapan Program K3/5 R di PT. X Dengan Pendekatan Standar OHSAS 18001 Dan Statistik Tes U Mann-Whitney Serta Pengaruhnya Pada Produktivitas Karyawan Prihadi Waluyo
JURNAL STANDARDISASI Vol 13, No 3 (2011):
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v13i3.45

Abstract

Gerakan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) di PT X sangat berkaitan erat dengan K3 (Keselamatan danKesehatan Kerja) yang sesuai dengan standar OHSAS 18001 (Occupational Health and Safety AssessmentSeries). Guna mengetahui sejauhmana pengaruhnya terhadap karyawan maka dilakukan analisis penerapanprogram K3/5R di PT X dengan pendekatan standar OHSAS 18001 dan statistik tes U Mann-Whitney sertapengaruhnya pada produktivitas karyawan. Dari hasil analisis produktivitas kerja ternyata setelah penerapan 5Rada pengaruhnya, terlihat dari tes U Mann-Whitney dengan H0 ditolak dan H1Kata kunci: Standar OHSAS 18001, 5R, K3, tes U Mann-Whitney, produktivitasditerima. Dengan demikianpengaruh penerapan 5R cukup besar. Pada saat dimulainya Gerakan 5R terlihat bahwa produktivitas kerjakaryawan naik cukup besar dari Rp. 5,93 juta/karyawan pada tahun ke 6 (Tahun pertama dimulai Gerakan 5)menjadi 10,98 pada tahun ke 7 (Tahun kedua Gerakan 5R) atau naik 85,2%. Demikian pula pada tahun ke 8(Tahun ketiga Gerakan 5R) produktivitas kerja menjadi 20,59 atau naik 87,5% dibandingkan dengan produktivitaskerja tahun ke 7 (Tahun kedua Gerakan 5R)
SNI ISO/IEC 17025:2017 IMPLEMENTATION IMPACT ON TESTING LABORATORY Andarwati, Sari; Brando, Robby Marlon; Mayasari, Ratna; Kristiningrum, Ellia; Agtusia, Arwidya Tantri
JURNAL STANDARDISASI Vol 26, No 1 (2024)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v26i1.1016

Abstract

A globally recognized standard for ensuring the competence of testing and calibration laboratories is SNI ISO/IEC 17025:2017. Many testing laboratories are currently using SNI ISO/IEC 17025:2017, and many have already received accreditation. The laboratory serves a variety of objectives, which is beneficial to enhancing the lab's performance. A laboratory's performance could be measured by how well it serves its customers and their satisfaction. This study aims to examine the impact of applying SNI ISO/IEC 17025:2017 on the number of services provided and the level of customer satisfaction in laboratories that have been accredited by KAN for the scope of CNC vertical-type milling machines and CNC lathes for position accuracy test, cutting result accuracy test, and circular movement accuracy test. This study uses a qualitative, descriptive research design and conducts elementary analysis to characterize the overall state of the data. Information on the number of services provided and the degree of customer satisfaction during 2016–2021 were compared, allowing for a comparison of the trends in service quantity and customer satisfaction. The findings indicate that the rise in laboratory services is influenced by the implementation of SNI ISO/IEC 17025:2017. Furthermore, as evidenced by a strong customer satisfaction score, the performance of the offered service has no bearing on the quantity of technological services falling under the purview of SNI ISO/IEC 17025:2017 accreditation.
KETAHANAN KOROSI METER AIR BERLOGO SNI Deni Cahyadi; Daniel Fajar Puspita
JURNAL STANDARDISASI Vol 17, No 3 (2015)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v17i3.320

Abstract

AbstrakPenelitian mengenai ketahanan korosi air untuk meter air berlogo SNI telah dilakukan. Persyaratan terkait ketahanan korosi produk air minum terdapat pada SNI 2547:2008 yang menyatakan bahwa meter air minum terbuat dari bahan tahan korosi atau dilapisi dengan cat supaya tahan terhadap korosi. Pada SNI tersebut tidak dijelaskan metode uji ataupun kondisi yang harus digunakan untuk memverifikasi bahwa produk meter air tahan terhadap korosi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana ketahanan meter air tersebut terhadap korosi. Meter air yang dipakai sebagai sampel adalah meter air yang telah mencantumkan SNI 2547:2008 pada kemasan produknya, yang didapat di pasaran di daerah Bandung. Metode yang digunakan untuk pengujian ketahanan korosi adalah pengujian semprot kabut garam. Instrumen yang dipakai untuk pengujian ketahanan korosi adalah Salt Spray Tester merek JTM model JTM-1274A dengan kondisi selama pengujian adalah lama pemaparan 100 jam, suhu pengujian 35 + 2 °C, kelembaban 98 + 2 %-RH dan konsentrasi NaCl 5%. Adapun uji komposisi kimia untuk material meter air dan deposit pasca pengujian kabut garam dilakukan dengan motode X-Ray Fluororesence. Dari hasil pengujian dan pengamatan disimpulkan bahwa meter air mengalami korosi terutama pada bagian ring dan konektor. Selain itu terjadi pemudaran warna pada bagian tutup plastik.Kata kunci: meter air, SNI, salt spray, korosi.AbstractStudy on corrosion resistance for SNI-marked watermeter has been done. The requirement related to corrosion resistance for drinking water product according to SNI 2457:2008 mentioned that water meter should be made of corrosion resistant material or coated to prevent corrosion. It is not stated inside the SNI document the exact method and condition for the verification of water meter resistancy to corrosion. The objective of this study is to determine the resistancy of water meter to corrosion. The water meter used as sample is water meter with SNI 2547:2008 marked to its body, which was obtained from market in Bandung area. The method chosen for corrosion resistance testing is Salt Spray Test. The instrument used was JTM Salt Spray Tester, type 1274A, with condition: 100 hours time of exposure, 35 + 2 °C temperature, 98 + 2 % relative humidity, and 5 % salt solution concentration (NaCl). Chemical composition testing for water meter material and surface deposit was performed using X-Ray Fluororesence. According to the test result and observation, it is concluded that corrosion was occurred, especially on connector and water meter ring. Color fading was also founded on the water meter cover.Keywords: water meter, SNI, salt spray, corrosion.
PARAMETER TEKNIS DALAM USULAN STANDAR PENGOLAHAN PENGINDERAAN JAUH: METODE KLASIFIKASI TERBIMBING Endi Hari Purwanto; Reza Lukiawan
JURNAL STANDARDISASI Vol 21, No 1 (2019)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v21i1.737

Abstract

Hasil citra satelit penginderaan jauh tidak bemanfaat apabila tidak dilakukan proses pengolahan data lanjutan yang disebut proses interpretasi citra melalui metode klasifikasi terbimbing. Proses klasifikasi terbimbing berperan penting untuk menghasilkan data proses yang menghasilkan informasi pemetaan tutupan lahan yang digunakan sesuai kepentingan sektoral. Metode klasifikasi terbimbing mempunyai pengaruh yang sangat penting terhadap hasil kualitas pemetaan yang dibutuhkan sesuai objek kelas yang diamati. Karena dengan metode klasifikasi terbimbing ini, suatu peta mempunyai kualitas akurasi yang sesuai dengan kebutuhan. Penelitian ini dilakukan pengujian validitas sejumlah parameter dalam usulan standar metode klasifikasi terbimbing dengan menggunakan 38 responden pakar terkait penginderaan jauh/informasi spasial di 14 kota di Indonesia.Responden dari stakeholder terkait penginderaan jauh yang terdiri dari: pengguna pakar, konsultan dan pakar akademisi. Digunakan metode survei lapangan dengan melakukan wawancara interdeep. Hasilnya menunjukkanbahwa rata-rata 94% responden stakeholder menyetujui seluruh 49 parameter yang dipersyaratkan dalam standar tersebut, namun dari 94% responden yang setuju tersebut terdapat 6% responden yang “belum sepakat” setuju terhadap 10 parameter yang ada dalam standar tersebut. Parameter tersebut meliputi: Kriteria liputan awan, Ruang lingkup standar, Penggunaan resolusi spasial 30m – 250 m, Penggunaan resolusi spasial 2,5 m -10 m, training sampel 10%, Ketelitian training sampel 95%, Nilai akurasi total, pengguna, dan producer. Disarankan ada 10 parameter yang “belum sepakat” menjadi perhatian Komtek 07-01 dengan memberikan sejumlah dokumen pendukung atau penguat.
TITIK KRITIS DALAM SKEMA SERTIFIKASI PRODUK ELEKTRIK-ELEKTRONIK DI INDONESIA Endi Hari Purwanto; Suprapto Suprapto
JURNAL STANDARDISASI Vol 19, No 2 (2017)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v19i2.583

Abstract

Skema sertifikasi merupakan kondisi pra-pasar dari proses jaminan mutu suatu produk. Fenomena menunjukkan bahwa meskipun sudah diberlakukan secara wajib masih ada produk elektrik-elektronik (EE) yang tidak memenuhi syarat SNI. Ada lebih kurang 13% dari 10 produk (petikan) tidak memenuhi syarat SNI. Penelitian ini bertujuan mencari titik kritis skema sertifikasi produk EE. Metode yang digunakan adalah survei dengan alat bantu kuesioner dan diskusi dengan pakar. Hasil menunjukkan bahwa titik kritis yang paling penting diperhatikan bagi setiap lembaga sertifikasi produk dalam menyusun skema sertifikasi adalah 1) survailen pasar, 2) validitas hasil laboratorium uji, 3) LSPro menunjuk auditor tidak kompeten, 4) Proses pengambilan contoh, 5) Kalibrasi alat ukur dan 6) Penjadwalan wittness yang tidak mencakup. Dalam penyusunan skema sertifikasi diharapkan Pemerintah dapat memperhatikan prinsip dan poin kritis seperti yang telah disebutkan di atas.
PERBAIKAN AKUISISI DATA PADA METODE PERBANDINGAN DALAM KALIBRASI PENGUKUR ALIRAN JENIS TURBIN Jalu Ahmad Prakosa; Bernadus H. Sirenden
JURNAL STANDARDISASI Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v15i3.121

Abstract

STUDI PENERAPAN HACCP (HAZARD ANALYSIS CRITICAL CONTROL POINT) PADA PROSES PENGOLAHAN MI SAGU Miskiyah Miskiyah; Widaningrum Widaningrum; Hetty Herawati
JURNAL STANDARDISASI Vol 8, No 1 (2006): Vol. 8(1) 2006
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v8i1.646

Abstract

Sago is one of local food at some regions in Indonesia. Processing technology of sago become noodle is one way to vary sago processing product. The main factor that effect sago noodle processing are quality, self life, andlimited marketing of sago noodle. Thus to make sago noodle assurance, HACCP plan is needed. This study purposes to assess the HACCP system guidelines which are suitable for processing of sago noodle base on 7 principles system guidelines. Result of the study shown that sago noodle processing have chemical hazard (heavy metal contamination, coloring and textures), and microbiological hazard (pathogens from operator such as Streptococcus; also water source such as Coliform and Shigella). As conclusion, HACCP system guidelines on sago noodle processing is very important to develop quality and safety assurance.
KETERKAITAN KEAMANAN PANGAN DAN WORLD TRADE ORGANIZATION DALAM ASPEK KULTURAL, ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Sylvia Laksmi Sardy
JURNAL STANDARDISASI Vol 7, No 1 (2005): Vol 7(1) 2005
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v7i1.4

Abstract

Recently, international trade regime has rejected cultural perceptions of what is safe to eat, overturning millennial of tradition. In WTO Agreement on Sanitary and Phytosanitary Measures (SPS), science has been used as the arbiter in resolving disputes related to food safety. However, the SPS Agreement is under attack by many parties, critics cite concern on ethical, local culture, unpredictably changing technology, etc. The WTO-SPS approach is increasingly challenged for its balance in favor of economic consideration towards its a unique cultural identities. Food as culture and food as commerce. Dispute on Beef Hormones is the ideal example on this matter. The local perception of food and food safety, evolution of food production technologies, and security aspects of food, then being explored, in order to analyze the relationship between SPS Agreement, food tradition, science and technology. At the end, it is realized that no matter how strong the faith in science and economics, it is unwise to dismiss the deeply-rooted beliefs of many people in the world.

Filter by Year

2005 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 2 (2014): Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 3 (2012): Vol. 14(3) 2012 Vol 14, No 2 (2012): Vol. 14(2) 2012 Vol 14, No 1 (2012): Vol. 14(1) 2012 Vol 13, No 2 (2011): Vol. 13(2) 2011 Vol 13, No 1 (2011): Vol. 13(1) 2011 Vol 13, No 3 (2011): Vol 12, No 3 (2010): Vol. 12(3) 2010 Vol 12, No 2 (2010): Vol. 12(2) 2010 Vol 12, No 1 (2010): Vol. 12(1) 2010 Vol 11, No 3 (2009): Vol. 11(3) 2009 Vol 11, No 2 (2009): Vol. 11(2) 2009 Vol 11, No 1 (2009): Vol. 11(1) 2009 Vol 10, No 3 (2008): Vol. 10(3) 2008 Vol 10, No 2 (2008): Vol. 10(2) 2008 Vol 10, No 1 (2008): Vol. 10(1) 2008 Vol 9, No 3 (2007): Vol. 9(3) 2007 Vol 9, No 2 (2007): Vol. 9(2) 2007 Vol 9, No 1 (2007): Vol. 9(1) 2007 Vol 8, No 3 (2006): Vol. 8(3) 2006 Vol 8, No 2 (2006): Vol. 8(2) 2006 Vol 8, No 1 (2006): Vol. 8(1) 2006 Vol 7, No 3 (2005): Vol. 7(3) 2005 Vol 7, No 2 (2005): Vol. 7(2) 2005 Vol 7, No 1 (2005): Vol 7(1) 2005 More Issue