cover
Contact Name
Juli Hadiyanto
Contact Email
julihadiyanto43@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalstandardisasi@gmail.com
Editorial Address
Gedung 1 BSN, KST BJ Habibie, Setu, Tangerang Selatan, Banten, 15314.
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Standardisasi
ISSN : -     EISSN : 23375833     DOI : 10.31153
Jurnal Standarisasi (hence JS) is a journal aims to be a leading peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We publish original study or research papers focused on standardization policies, development of standards, harmonization of standards, implementation of standards (accreditation, certification, testing, metrology, technical inspection, pre and post market supervision, socio-economic impacts, etc.), standardization of standards, technical regulations, and aspects related to standardization that has neither been published elsewhere in any language, nor is it under review for publication anywhere.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 227 Documents
IDENTIFIKASI MUTU FISIK JAGUNG DENGAN MENGGUNAKAN PENGOLAHAN CITRA DIGITAL DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN Agus Supriatna Somantri; miskiyah miskiyah; Wisnu Broto
JURNAL STANDARDISASI Vol 10, No 3 (2008): Vol. 10(3) 2008
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v10i3.630

Abstract

Physical quality factors are the main problems in the dried seed corn production. Determination of physical qualityis usually carried out visually by the persons who have expertise related to their experiences. This method isexhaustive and imprecise since it is influenced by human fatigue. The objective of this research is to identify thephysical quality of seed corn by using the digital image processing and artificial neural network (ANN). The imageof seed corn was taken by using digital camera and processed by image processing program. ANN model wasdeveloped with 10 input parameters, 20 hidden layers and 4 targets. The fourth targets were whole seed,damaged seed, broken seed and mouldy seed. The accuracy of the model was 95%.
SISTEM MANAJEMEN ANTI PENYUAPAN ISO 37001 : 2016 DAN REFORMASI BIROKRASI (STUDI KASUS PADA PUSAT PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN DAN KAJIAN DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH) Dewi Sartika; Wildan Lutfi Arieyasmieta
JURNAL STANDARDISASI Vol 23, No 1 (2021)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v23i1.828

Abstract

Birokrasi bebas dan bersih melayani merupakan tujuan pelaksanaan reformasi birokrasi yang dicanangkan sejak tahun 2009. Percepatan reformasi birokrasi dalam roda pemerintahan dengan  membangun Zona Integritas (ZI) sebagai kunci penting dalam pencegahan korupsi di pemerintahan, salah satunya adalah kewajiban memiliki standar pelayanan yang terstandardisasi internasional yang dapat ditandai dari prosedur pelayanan yang ditetapkan tidak membuka celah dan potensi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). ISO 37001 merupakan bentuk implementasi pengendalian gratifikasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis sejauh mana penerapan ISO 37001 dalam tubuh organisasi. Studi kasus dilakukan pada Pusat Pelatihan dan Pengembangan dan Kajian Desentralisasi dan Otonomi Daerah dengan metode survei dan review literature, wawancara kepada 7 (tujuh) responden dan analisis dokumen yang menunjukkan bahwa organisasi sudah cukup optimal dalam penerapan ISO 37001. Dampak penelitian ini adalah sebagai pilot project penerapan sistem manajemen anti penyuapan sehingga membantu organisasi mencegah dan meminimalisir terjadinya kasus gratifikasi, korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang melibatkan oknum perorangan atau yang terorganisir dilakukan oleh korporasi. 
MENINGKATKAN KESTABILAN SISTEM PENGUKURAN STANDAR NASIONAL ARUS AC DENGAN METODA SANGKAR FARADAY LEBIH KECIL DARI 5 PPM R. Hadi Sardjono
JURNAL STANDARDISASI Vol 11, No 3 (2009): Vol. 11(3) 2009
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v11i3.679

Abstract

Ketelitian pengukuran arus ac ditentukan oleh tingkat keandalan sistem pengukuran terhadap gangguan rugi-rugi baik yang berasal dari dalam maupun luar rangkaian. Selama ini sistem pengukuran standar nasional arus ac dilakukan dengan meletakkan instrument standar TCC (Thermal Current Transfer) diruang terbuka. Pada penelitian ini instrument standar TCC tersebut diletakkan didalam sebuah ruang anti medan elektromagnetik atau disebut sangkar Faraday. Berdasarkan hasil penelitian ini, tingkat rugi rugi telah terminimisasi dari sebesar  2.79 ppm menjadi 0.64 ppm.
A STANDARDIZATION OF THE ELECTRICAL METROLOGY LABORATORY COMPETENCE FOR DC VOLTAGE UNIT Hadi Sardjono
JURNAL STANDARDISASI Vol 9, No 1 (2007): Vol. 9(1) 2007
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v9i1.27

Abstract

Sebagai Laboratorium Metrologi Nasional, Puslit KIM-LIPI berkewajiban untuk memelihara salah satu besaran kelistrikan yaitu standar tegangan dc 10V. Proses pemeliharaan dilakukan berdasarkan ketertelusuran dan uji banding antar laboratorium metrologi nasional negara lain. Pada proses ketertelusuran dipenuhi dengan mengkalibrasi sel standar 10V ke laboratorium Nasional Australia (NMIA). Sedangkan proses uji banding dilakukan bekerjasama dengan laboratorium nasional Singapura (SPRING). Dari hasil uji banding diperoleh nilai validasi kompetensi berdasarkan nilai En yaitu sebesar –0.25.
MANAJEMEN RISIKO PENGENDALIAN MUTU PADA LABORATORIUM UJI DAN KALIBRASI PRTBBN SESUAI PERSYARATAN ISO/IEC 17025:2017 Masripah Masripah; Septi Rizkine Pramukti; Zaidi Oktari; Mustika Fadila
JURNAL STANDARDISASI Vol 24, No 1 (2022)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v24i1.966

Abstract

Manajemen risiko pengendalian mutu pada laboratorium pengujian dan kalibrasi PRTBBN sesuai persyaratan SNI ISO/IEC 17025:2017 dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi risiko, mengukur dampak atau konsekuensi dari risiko pada kegiatan laboratorium yang dapat mempengaruhi validitas hasil pengujian/kalibrasi, sehingga dapat menentukan tindakan pengendalian yang tepat terhadap dampak yang ditimbulkan untuk memastikan mutu keluaran hasil laboratorium selalu terjaga. Penelitian ini dilakukan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi potensi hambatan dari kegiatan yang dilakukan, kemudian melakukan penilaian dan analisis risiko menggunakan metode matriks peta risiko (probabilitas dan dampak) dan pengukuran tingkat keparahan dampak sesuai pedoman MIL-STD-882B System Safety Program Requirements dan Risk Management Guidelines Companion to AS/NZS 4360:2004, melakukan penentuan pengendalian risiko dan pemantauannya. Hasil identifikasi dan analisa risiko pada kegiatan pengendalian mutu laboratorium uji dan kalibrasi PRTBBN diperoleh adanya 6 kegiatan pokok yang dapat menjadi hambatan dan mempengaruhi mutu dan validitas dari output layanan laboratorium uji dan kalibrasi. Berdasarkan 6 kegiatan tersebut kemudian diperoleh 14 potensi hambatan, dan memiliki 3 peringkat risiko yang berbeda dengan rincian 4 kegiatan dengan kategori peringkat risiko rendah, 7 kegiatan dengan peringkat risiko sedang, dan 3 kegiatan dengan peringkat risiko tinggi dan nilai pareto 40%. Setiap risiko ditentukan langkah tindakan preventif untuk pengendalian risiko.  Risiko tersebut kemudian di monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memastikan setiap proses dilakukan dengan benar, efektif dan masih relevan penerapannya. Manajemen Risiko dapat memudahkan pengambilan keputusan dalam kegiatan peninjauan kembali kedepannya dan untuk peningkatan berkelanjutan.
PEMANFAATAN NCB DAN CBTL OLEH PRODUSEN ELEKTROTEKNIKA DI INDONESIA Teguh Pribadi Adinugroho; Danar A. Susanto; Febrian Isharyadi; Ellia Kristiningrum; Rachman Mustar
JURNAL STANDARDISASI Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v17i1.288

Abstract

AbstrakSejak tahun 2005 BSN mewakili Indonesia sebagai member body dalam IECEE. Sampai dengan saat ini Indonesia telah mempunyai 3 NCB dengan 4 CBTL yang telah mendapat pengakuan untuk beroperasi didalam IECEE CB Scheme, namun demikian potensi NCB dan CBTL tersebut belum dimanfaatkan secara optimal oleh produsen produk elektroteknika yang berlokasi di Indonesia. Berdasarkan data statistik CB Test Certificate (CBTC), hingga tahun 2012 baru terdapat 4 sertifikat yang diterbitkan oleh NCB di Indonesia (Teguh, dkk., 2014). Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui faktor signifikan dari karakteristik produsen yang mempengaruhi pemanfaatan NCB dan CBTL Nasional. Hipotesa penelitian ini adalah karakter yang mempengaruhi adalah: (1) “Permodalan” untuk status PMA/PMDN, (2) “Pengetahuan” untuk pengetahuan produsen terhadap ketersediaan NCB dan CBTL di Indonesia, (3) “Kesadaran” untuk kesadaran perusahaan akan manfaat apabila tersedia NCB dan CBTL di Indonesia, (4) “Kesesuaian” untuk kesesuaian lingkup NCB dan CBTL dibandingkan dengan produk yang dibuat produsen, dan (5) “Penentu” untuk pihak penentu pemilihan NCB dan CBTL. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, wawancara langsung dengan responden serta analisis hasil dengan regresi berganda dan korelasi. Responden dipilih berdasarkan pada kriteria sebagai berikut: (1) tercantum dalam data statistik CBTC, (2) berlokasi di Indonesia, dan (3) produk produsen memiliki lingkup yang sama dengan lingkup NCB nasional (HOUS, LITE, INST dan BATT), diperluas dengan lingkup TRON dan OFF yang mendominasi dalam statistik CBTC di Indonesia dan dunia. Didapat responden sebanyak 28 perusahaan elektroteknika dengan tingkat kepercayaan mewakili populasi sebesar 95%. Kesimpulan penelitian adalah kelima faktor yang diujikan memberikan kontribusi kuat terhadap pemilihan NCB dan CBTL sebesar 78,2% dengan keseluruh arah korelasinya positif. Tiga faktor dengan signifikansi <0,15 adalah “penentu”, “kesesuaian”, dan “pengetahuan”.Kata kunci : IECEE CB Scheme, pemanfaatan NCB dan CBTL Nasional, karakter produsen elektronika.AbstractSince 2005 BSN represent Indonesia as a member body in the IECEE. Up to now, Indonesia has 3 NCB and 4 CBTL which has received recognition to operate within the IECEE CB Scheme, however the potential for NCB and CBTL is not used optimally by the electrical engineering product manufacturer located in Indonesia. Based on the statistical data of CB Test Certificate (CBTC), until 2012, there are only 4 certificates issued by the NCB in Indonesia (Teguh et al, 2014). The aim of the research was to determine the characteristics of the producers that act as significant factors affecting the utilization of National NCB and CBTL. Hypothesis of this study is the character that affect the utilization were: (1) "Capital" for the status of foreign / domestic investment, (2) "Knowledge" for producers’ knowledge to availability of NCB and CBTL in Indonesia, (3) "awareness" for awareness of the company to benefits if NCB and CBTL available in Indonesia, (4) "suitability" for NCB and CBTL scope suitability compared to producers’ products, and (5) "Determinant" for party who deciding the election NCB and CBTL. This study used descriptive quantitative method, direct interviews with respondents, multiple regression analysis and correlation. Respondents were selected based on following criterias: (1) listed in CBTC statistical data, (2) located in Indonesia, and (3) product manufacturers have the same scope with the scope of the national NCB (HOUS, LITE, INST and BATT), expanded with TRON and OFF that the statistics dominate the CBTC in Indonesia and the world. 28 respondents were obtained, with 95% of confidence level for representing it population. Conclusion of the research was the five factors tested contribute strongly to the selection of NCB and CBTL by 78.2%, with positive correlation. Three factors with significance <0.15 were "determinant", "suitability", and "knowledge".Keywords: IECEE CB Scheme, utilization of National NCB and CBTL, electronic producers characteristics.
KANDUNGAN AFLATOKSIN PADA LADA INDONESIA DALAM PENGEMBANGAN STANDAR INTERNASIONAL CODEX Reza Lukiawan; Suminto Suminto
JURNAL STANDARDISASI Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v20i2.689

Abstract

Lada merupakan salah satu rempah-rempah yang dihasilkan dari sektor perkebunan. Komoditas lada Indonesia juga diekspor ke negara lain. Adanya kandungan aflatoksin dalam rempah-rempah saat ini menjadi isu hangat dalam sidang Codex. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan aflatoksin pada lada dalam rangka mendukung pengembangan standar Codex. Sampel lada yang diambil yaitu biji lada yang berasal dari petani, pengepul dan eksportir. Lokus pengambilan sampel dari Lampung, Bangka dan Kutai. Jumlah total sampel dalam penelitian ini sebanyak 26 sampel lada. Pengujian terhadap sampel lada yang telah diambil dilakukan di laboratorium yang telah bekerjasama yaitu Balai Pengujian Mutu Barang-Kementerian Perdagangan. Dalam analisis data kandungan aflatoksin pada lada, metode pengujian yang digunakan adalah metode AOAC Official Method 991.31.2005 dengan LOQ berturut-turut 1,07 ppb (Aflatoksin B1); 0,39 ppb (Aflatoksin B2); 1,35 ppb (Aflatoksin G1), dan 0,48 ppb (Aflatoksin G2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel lada nilai kandungan aflatoxin B1 < LOQ, sedangkan kandungan total aflatoxin juga < LOQ. Nilai kandungan tersebut masih dikategorikan aman untuk dikonsumsi karena dibawah ambang batas yang ditetapkan BPOM dan regulasi Uni Eropa.
STANDAR SPESIFIKASI DESAIN UNTUK ANALISIS UMUR LELAH PELAT BAJA TAHAN KARAT AKIBAT BEBAN DINAMIS AKSIAL Harkali Setiyono
JURNAL STANDARDISASI Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v16i1.75

Abstract

Makalah ini membahas pemanfaatan Standar Spesifikasi Desain untuk analisis umur lelah pelat baja tahan karat tanpa dan dengan lobang akibat beban dinamis aksial. Didalam Standar Desain, umur lelah ditentukan berdasarkan nilai kekuatan lelah acuan (Reference fatigue strength) masing-masing pelat baja. Nilai acuan ini terkait dengan umur lelah sebesar 2x106 cycles dan untuk masing-masing pelat baja, nilai ini ditentukan secara empiris. Berdasarkan nilai kekuatan lelah acuan, maka umur lelah masing-masing pelat pada setiap tingkat pembebanan uji dapat dihitung. Selanjutnya data umur lelah hasil perhitungan digunakan untuk menggambarkan perilaku umur lelah yang berbentuk grafik rentang tegangan terhadap siklus patah lelah. Disamping itu, umur lelah masing-masing pelat juga diukur melalui pengujian kelelahan menggunakan beban dinamis beramplitudo konstan. Data umur lelah hasil pengujian pada setiap tingkat pembebanan digunakan untuk menggambarkan grafik perilaku aktual umur lelah pelat. Hasil pengukuran umur lelah secara eksperimental juga digunakan untuk memverifikasi perilaku umur lelah yang diperoleh dari Standar Spesifikasi Desain. Didalam verifikasi, terindikasi dengan jelas bahwa korelasi data Standar Desain terhadap data eksperimental mendekati berimpit
PERBANDINGAN CARA PENGERINGAN MENGGUNAKAN OVEN LABORATORIUM DAN ALAT PENGERING SKALA PABRIK TERHADAP KADAR KARET KERING (KKK) Afrizal Vachlepi; Mili Purbaya
JURNAL STANDARDISASI Vol 19, No 3 (2017)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v19i3.589

Abstract

Jenis bahan olah karet di Indonesia umumnya berupa sleb dan lum mangkok. Transaksi jual-beli bahan olah karet ditentukan kadar karet kering (KKK). Kadar karet kering menunjukkan persentase partikel karet (karet kering) di dalam bahan olah karet. Pengujian KKK koagulum dapat dilakukan baik pada skala laboratorium maupun skala pabrik pengolahan karet remah. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji perbedaan penggunaan oven laboratorium dan alat pengering skala pabrik terhadap faktor pengeringan dan KKK karet. Data yang diperoleh kemudian dianalisa secara statistik dengan menggunakan uji statistic independent sample t-test. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan program computer Statistical Product and Service Solution (SPSS) serie 16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengeringan menggunakan dryer pabrik menghasilkan nilai KKK yang agak sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pengujian yang menggunakan pengering oven laboratorium. Tetapi perbedaan ini tidak signifikan, seperti yang ditunjukkan oleh hasil pengujian statistic. Selain itu, hasil perhitungan tingkat kesalahan juga diperoleh nilai yang sangat rendah yang mengindikasikan sedikitnya tingkat kesalahan dalam pengukuran.
DESIGN AND CHARACTERIZATION OF SPIN COATER TO SUPPORT NATIONAL SEMICONDUCTOR INDUSTRY Ardi Rahman; Okasatria Novyanto; Nurul Alfiyati; Ahmad Sidik; Irman Idris; Asep Ridwan Nugraha
JURNAL STANDARDISASI Vol 21, No 3 (2019)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v21i3.761

Abstract

Recently, semiconductor industry grows rapidly due to high demand of modern electronic system. In addition, the value of investments in Indonesia electronic industries also more than doubled during 2015-2017. This increase in investment will certainly have an impact on the increasing the needs for electronic / semiconductor component processing machines. To support it, well performed spin coater then were designed. The characterization of spin coating process was done at BSN (formerly was known as Research Center for Metrology LIPI) using roughness measuring instrument/ profilometer that traceable to PTB (Germany) to guarantee the validity of the measurement results. Characterization experiment used positive photoresist SPR3018 to see the performance of system designed. Three different experiments were performed to determine the impact of spin speed and spin time to photoresist thickness and uniformity. The characterization shown that on spin speed increased, the photoresist was deployed thinner. The thickness of the photoresist is inversely proportional to the square root of spin speed. Furthermore, the longer spin coating time, it increases the tendency of concave surface. This work is expected to benefit the practitioners of electronic systems, semiconductor industries, and even SNI conceptors.

Filter by Year

2005 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 2 (2014): Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 3 (2012): Vol. 14(3) 2012 Vol 14, No 2 (2012): Vol. 14(2) 2012 Vol 14, No 1 (2012): Vol. 14(1) 2012 Vol 13, No 2 (2011): Vol. 13(2) 2011 Vol 13, No 1 (2011): Vol. 13(1) 2011 Vol 13, No 3 (2011): Vol 12, No 3 (2010): Vol. 12(3) 2010 Vol 12, No 2 (2010): Vol. 12(2) 2010 Vol 12, No 1 (2010): Vol. 12(1) 2010 Vol 11, No 3 (2009): Vol. 11(3) 2009 Vol 11, No 2 (2009): Vol. 11(2) 2009 Vol 11, No 1 (2009): Vol. 11(1) 2009 Vol 10, No 3 (2008): Vol. 10(3) 2008 Vol 10, No 2 (2008): Vol. 10(2) 2008 Vol 10, No 1 (2008): Vol. 10(1) 2008 Vol 9, No 3 (2007): Vol. 9(3) 2007 Vol 9, No 2 (2007): Vol. 9(2) 2007 Vol 9, No 1 (2007): Vol. 9(1) 2007 Vol 8, No 3 (2006): Vol. 8(3) 2006 Vol 8, No 2 (2006): Vol. 8(2) 2006 Vol 8, No 1 (2006): Vol. 8(1) 2006 Vol 7, No 3 (2005): Vol. 7(3) 2005 Vol 7, No 2 (2005): Vol. 7(2) 2005 Vol 7, No 1 (2005): Vol 7(1) 2005 More Issue