cover
Contact Name
Juli Hadiyanto
Contact Email
julihadiyanto43@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalstandardisasi@gmail.com
Editorial Address
Gedung 1 BSN, KST BJ Habibie, Setu, Tangerang Selatan, Banten, 15314.
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Standardisasi
ISSN : -     EISSN : 23375833     DOI : 10.31153
Jurnal Standarisasi (hence JS) is a journal aims to be a leading peer-reviewed platform and an authoritative source of information. We publish original study or research papers focused on standardization policies, development of standards, harmonization of standards, implementation of standards (accreditation, certification, testing, metrology, technical inspection, pre and post market supervision, socio-economic impacts, etc.), standardization of standards, technical regulations, and aspects related to standardization that has neither been published elsewhere in any language, nor is it under review for publication anywhere.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 227 Documents
MANAJEMEN RISIKO PADA LAYANAN DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL KOTA SURAKARTA DI ERA NORMAL BARU Fakhrina Fahma; Wahyudi Sutopo; Ferry Dimas Prakoso
JURNAL STANDARDISASI Vol 23, No 2 (2021)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v23i2.936

Abstract

Perkembangan krisis kesehatan saat ini berdampak pada risiko yang dihadapi sektor publik semakin beragam. Berdasarkan PP No.60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), lembaga negara/pemerintah wajib menerapkan manajemen risiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengelola risiko dalam melaksanakan pelayanan pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil)  Kota Surakarta di era kenormalan baru sehingga memiliki standar manajemen risiko yang dapat diandalkan dan diimplementasikan secara efektif. Pendekatan yang dilakukan yaitu berdasarkan kerangka kerja ISO 31000 yang meliputi : komunikasi dan konsultasi, penetapan konteks, penilaian risiko, serta penanganan risiko. Tahap komunikasi dan konsultasi  serta penetapan konteks dilakukan melalui Forum Group Discussion (FGD) dengan pemilik risiko yaitu segenap pimpinan Disdukcapil.  Sedangkan tahap penilaian risiko dilakukan dengan menggunakan metode House Of Risk (HOR). House Of Risk (HOR) adalah suatu model yang didasarkan pada kebutuhan akan manajemen risiko yang berfokus pada tindakan pencegahan untuk menentukan penyebab risiko yang menjadi prioritas dan kemudian akan diberikan tindakan mitigasi risiko. Dari hasil identifikasi risiko pada layanan Disdukcapil Kota Surakarta pada era kenormalan baru, baik secara offline maupun online didapatkan 15 risk event dan 28 risk agent. Setelah dilakukan analisis menggunakan metode HOR Fase 1 dan konsep pareto, dari seluruh risk agent terpilih 10 yang akan diberikan tindakan preventif. Dari evaluasi atas 10 risk agent yang terpilih, didapatkan 19 tindakan preventif. Dengan menggunakan metode HOR Fase 2, dapat diketahui urutan prioritas tindakan preventif yang dapat diterapkan dalam proses penanganan risiko.
MENENTUKAN KLASIFIKASI MUTU FISIK BERAS DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN CITRA DIGITAL DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN Agus Supriatna Somantri
JURNAL STANDARDISASI Vol 12, No 3 (2010): Vol. 12(3) 2010
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v12i3.154

Abstract

Saat ini pemeriksaan kualitas beras telah dilakukan secara manual oleh inspektur yang telah berpengalaman. Dengan cara ini memiliki kelemahan seperti: (1) adanya subjektivitas penilaian mutu antara pengamat yang satu dengan yang lain; (2) adanya kelelahan fisik jika pengamat bekerja terlalu lama, sehingga menyebabkan hasil pengamatan tidak konsisten, dan (3) waktu yang dibutuhkan untuk pengamatan mutu lebih lama. Sehubungan dengan permasalahan diatas, maka diperlukan cara untuk menentukan klasifikasi mutu beras dengan cepat, akurat dan mudah untuk dioperasikan, sehingga dapat meningkatkan efisiensi pengkelasan mutu fisik beras. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sistem penunjang keputusan untuk menentukan klasifikasi mutu beras. Bahan baku yang digunakan adalah beras dari varietas Membramo. Citra beras diambil dengan menggunakan kamera digital dan diproses oleh teknologi pengolahan citra digital dan jaringan syaraf tiruan (JST). Model JST yang dikembangkan adalah 10 parameter input, 20 lapisan tersembunyi dan 4 target. Keempat target tersebut adalah butir utuh, butir kepala, butir patah dan menir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akurasi pelatihan adalah 99%, dan akurasi validasi 93,25%. Penelitian ini dapat dikembangkan untuk varietas padi yang berbeda, sehingga sistem penunjang keputusan dapat diterapkan tidak hanya untuk varietas Membramo, tetapi juga untuk berbagai jenis beras dari varietas yang berbeda. Aplikasi dari penelitian ini berupa perangkat lunak sistem penunjang keputusan yang secara langsung dapat digunakan untuk menguji kelas mutu beras Membramo.
PEMENUHAN PERSYARATAN STANDAR PENGELOLAAN WISATA SELAM REKREASI ellia kristiningrum; Febrian Isharyadi
JURNAL STANDARDISASI Vol 20, No 1 (2018)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v20i1.603

Abstract

Persyaratan minimal penyelenggaraan usaha wisata selam rekreasi serta pedoman best practices sertifikasi usaha wisata selam rekreasi, diatur dalam standar usaha wisata selam dalam bentuk Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kesesuaian dengan standar membantu meyakinkan konsumen bahwa produk yang dihasilkan aman, efisien, dan baik untuk lingkungan. Riset ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan dive center dalam memenuhi persyaratan standar usaha wisata selam rekreasi. Terdapat 3 aspek dalam standar usaha wisata selam yang harus dipenuhi oleh pelaku usaha. Aspek pelayanan yang meliputi penyampaian informasi pelayanan merupakan hal utama yang harus dipenuhi oleh pelaku usaha disamping faktor keselamatan dan penanganan kesehatan konsumen. Sedangkan pada aspek produk, hal utama yang perlu dipenuhi adalah peryaratan kompetensi untuk pemandu dan instruktur selam, kepemilikan peralatan permukaan sebagai pendukung keselamatan, kepemilikan peralatan dan paket penyelaman. Aspek pengelolaan termasuk bentuk organisasi, akses layanan kesehatan, sumber daya manusia, dan sarana prasarana juga menjadi persyaratan yang harus dipenuhi. Riset ini juga menghasilkan konsep ekowisata yang mencakup 14 indikator pengelolaan konservasi, 9 indikator manfaat ekonomi, 6 indikator untuk memaksimalkan manfaat bagi masyarakat, pengunjung dan budaya serta meminimalkan dampak negatif, serta 12 indikator untuk manfaat bagi lingkungan dan meminimalkan dampak negatif konservasi. Kesimpulan dari riset ini menunjukkan sebanyak 108 responden pelaku usaha wisata selam (dive center) telah mampu memenuhi persyaratan yang terdapat dalam standar yang telah ditetapkan pemerintah, dan berharap untuk dapat mencapai tujuan keberlangsungan pengelolaan aset wisata dengan dukungan dari pemerintah, masyarakat lokal dan wisatawan. 
PENGUJIAN KONSUMSI ENERGI LISTRIK LEMARI PENDINGIN BERDASARKAN SNI Enny Rosmawar Purba; Sudirman P.; Rohi A. W.
JURNAL STANDARDISASI Vol 7, No 3 (2005): Vol. 7(3) 2005
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v7i3.36

Abstract

Dengan penerapan SNI pada lemari pendingin, maka konsumen akan terlindungi dalam mendapatkan lemari pendingin yang memenuhi standar mutu, keamanan, dan keselamatan serta hemat energi. Makalah ini menyajikan hasil pengujian konsumsi energi listrik lemari pendingin bervolume 170 liter, tipe satu pintu, berdasarkan tiga SNI, yaitu SNI 04-6711-2002, dan SNI 05-3088-1992. Pengujian dilakukan secara terkondisi didalam suatu climatic chamber". Sampel yang diuji sebanyak 1 unit dari 4 unit sampel yang diterima dari pabrikan. Klaim dari pabrik menyatakan bahwa lemari pendingin tersebut memiliki tegangan 220 V frekuensi 50 Hz daya 74 W arus 0,6:00:00 AM dan konsumsi energinya 21,97 kWh/bulan. Hasil pengujian pada suhu ambien 25 derajat C dan kelembaban 60 persen dan tegangan kerja rata-rata 221,05 V; menyerap daya dan arus rata-rata masing-masing 69,09 W dan 0,37 A; serta konsumsi energi listrik 25,74 kWh/bulan
CONTRIBUTION OF INDONESIAN NATIONAL STANDARD (SNI) ON GROSS DOMESTIC PRODUCTS (GDP) BIATNA DULBERT TAMPUBOLON; FEBRIAN ISHARYADI; UTARI AYUNINGTYAS; ARY BUDI MULYONO; MEILINDA AYUNDYAHRINI; HERMAWAN FEBRIANSYAH; AJUN TRI SETYOKO; REZA LUKIAWAN; PUTTY ANGGRAENI; Ellia Kristiningrum; DANAR AGUS SUSANTO; ENDI HARI PURWANTO; Teguh Adinugroho; Novin Aliyah
JURNAL STANDARDISASI Vol 25, No 2 (2023)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v25i2.992

Abstract

Gross Domestic Product (GDP) is the number of goods and services produced by a country in a certain period as a measuring tool for a country's economic development. GDP comprises many factors, including national household consumption, investment, state consumption, exports, and imports. Standards are inherent in goods and services produced, consumed, and nationally and internationally traded. This study aims to determine the effect of standards on GDP. The method used is econometrics through case studies in Indonesia by considering the independent factors, namely fixed capital, number of workers, patents, and Indonesian National Standard (SNI), while the dependent factor is GDP. The results showed that a 1% percent increase in  SNI, patents, fixed capital, and labor could increase Indonesia's GDP by 0.3%, 0.08%, 0.04%, and 0.4 %, with alpha 5% from 1998 to 2017, respectively. With an average SNI growth of 5.43%, the contribution of SNI is 1.63% year to the average GDP growth. In monetary terms, a 1% increase in total SNI in 2017 increased to about 5.9 trillion in GDP. 
PEMILIHAN SNI WAJIB SEBAGAI OBJEK PENELITIAN DENGAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) Muh. Azwar Massijaya; Sik Sumaedi; Medi Yarmen; Tri Rakhmawati; Tri Widianti; I Gede Yudha Bakti
JURNAL STANDARDISASI Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v17i2.311

Abstract

 Abstrak Kebijakan SNI wajib yang diberlakukan oleh pemerintah secara nasional sangat penting untuk melindungi berbagai kepentingan konsumen di tanah air. Sehubungan dengan masih banyaknya pelanggaran yang terjadi terhadap ketentuan SNI Wajib, maka sebaiknya diadakan analisis mengenai efektifitas penerapan SNI wajib oleh pemerintah dari sudut pandang masyarakat. Akan tetapi, adanya keterbatasan operasional, sumber daya, dan anggaran yang dimiliki untuk melakukan penelitian, penting untuk dilakukan prioritasi SNI wajib yang akan dijadikan obyek penelitian. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan kriteria yang harus dipertimbangkan untuk menentukan SNI wajib yang sebaiknya menjadi prioritas sebagai obyek penelitian, memberi bobot pada setiap kriteria yang teridentifikasi, dan memilih SNI wajib yang penting untuk diprioritaskan sebagai objek penelitian efektifitas penerapan SNI. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen kuesioner perbandingan berpasangan. Metode analisis yang digunakan adalah Analytical Hierarchy Process (AHP). Kesimpulan utama yang dapat ditarik adalah terdapat enam kriteria yang dapat digunakan untuk memprioritaskan SNI Wajib yang harus diteliti, yaitu jumlah pengguna produk yang diwajibkan SNI (bobot: 0,189), tingkat kesiapan konsumsi produkyang diwajibkan SNI (0,065), tingkat kerendahan kepedulian konsumen produk yang diwajibkan SNI terhadap keberadaan label SNI (0,182), tingkat kesiapan infrastruktur untuk mendukung pelaksanaan SNI wajibpada produk yang diwajibkan SNI (0,07), tingkat risiko keselamatan jiwa, kesehatan dan keamanan apabila terjadi pelanggaran terhadap SNI wajib pada produk yang diwajibkan SNI (0,45), dan tingkat kompetensi personel penelitian yang tersedia (0,044). Selain itu, penelitian ini juga menyimpulkan bahwa SNI wajib yang paling tepat untuk dijadikan objek penelitian efektifitas penerapan SNI wajib adalah SNI helm. Kata kunci: obyek penelitian, Analytical Hierarchy Process (AHP), SNI wajib, teori keputusan. AbstractMandatory SNI policy, which is implemented by government nationally, is very important to protect the rights of consumers in this country. Given there are still many infringements that occurred on the requirements of mandatory SNI, it is urgent to analyze the effectiveness of the implementation of mandatory SNI by the government from community perspective. However, due to the limited budget, resources, and operational constraint, it is important to prioritize the SNI Mandatory as the research object. Therefore,this research aims to identify the criteria that should be considered to decide which mandatory SNI that should be prioritized as research object, to weight the identified criteria, and to choose the mandatory SNI that should be prioritized as research object. Therefore research method employed was Analytical Hierarchy Process (AHP).The data collection was performed by using pair wisecomparison questionnaire. The research result shows that there are six criteria that should be considered to decide which mandatory SNI that should be prioritized as research object, namely the number of user (weight: 0.189), the product consumption readiness level (0.065), the consumers’ unawareness level on the availability of SNI mark (0.182), the infrastucture readiness on supporting the implementation of mandatory SNI (0.07), the risk level of safety, health and security if the requirements of SNI are not fulfilled (0.45), and the competence level of the research personnel (0.044). Furthermore, this research revealed that the mandatory SNI that should be prioritized as research object is SNI related to helmet.Keywords: research object, Analytical Hierarchy Process (AHP), mandatory SNI, decision theory.
DISSEMINATION METHOD FOR STANDARD METER RATIO USING TWO DC VOLTAGE STANDARD SOURCES Hadi Sardjono
JURNAL STANDARDISASI Vol 20, No 3 (2018)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v20i3.716

Abstract

ABSTRACT Since 2004, Research Center for Metrology – Indonesian Institute of Sciences (RCM – LIPI) has maintained the DC voltage standard traceability from 1.018 V up to 1000 V based on two standard source types, that work as secondary standards, namely standard cell groups and a multifunction calibrator. In this research, a new method was developed in maintaining the tertiary standard accuracy using a ratio meter. The accuracy of the standard meter ratio could be achieved by a dissemination process. This dissemination process was validated using an error number (En) through a comparison between two voltage standards obtained from indirect measurement method and direct measurement method. The result showed that the standard meter ratio validated on 3 ranges of comparison measurement namely 1.018:1.018, 1.018:10, and 1.018:100 gave En values of 0.87, 0.05, and -0.041 respectively.
PENGEMBANGAN SISTEM PENGUKURAN TEGANGAN TEMBUS FREKUENSI RENDAH (50 Hz/60 Hz) UNTUK STANDARISASI PENGUKURAN ARUS BOCOR ISOLATOR PADA TEGANGAN TINGGI KONTINYU DI KONDISI KERING DAN BASAH R. Hadi Sardjono; Ahnan Ma’ruf; Dono Bardono
JURNAL STANDARDISASI Vol 14, No 3 (2012): Vol. 14(3) 2012
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v14i3.89

Abstract

Isolator tegangan tinggi adalah salah satu komponen listrik di saluran transmisi yang dipergunakan untuk penyaluran daya listrik tegangan tinggi. Kualitas penyaluran daya berbanding terbalik dengan tingkat kebocoran arus isolator. Tingkat kebocoran arus isolator dapat dikuantitasi dengan metode pengukuran tegangan tembus pada kondisi kering dan basah. Tujuan dari penelitian ini  adalah mengembangkan kemampuan pengukuran tegangan tinggi kontinyu yang telah dimiliki oleh Puslit KIM – LIPI sejak 1980-an, menjadi sebuah sistem pengukuran tegangan tembus isolator mencapai 100 kV pada frekuensi rendah (50 Hz/60 Hz) yang dilengkapi dengan sebuah chamber (pengondisi ruang) pengukuran. Pada penelitian ini telah diukur sebuah isolator tegangan tinggi telah terukur dalam ruang chamber dan telah menunjukkan tingkat penurunan kualitas mencapai 94 % pada kondisi kering dan mencapai 42 % pada kondisi basah.
MUTU BERAS PENGGILINGAN PADI DI RICE PROCESSING CENTER KABUPATEN MUKOMUKO SESUAI SNI 6128:2015 Lamhot Parulian Manalu; Himawan Adinegoro
JURNAL STANDARDISASI Vol 19, No 1 (2017)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v19i1.422

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mempelajari proses penggilingan beras di usaha penggilingan rakyat dan Rice Processing Centre (RPC) Kabupaten  Mukomuko serta menganalisis mutu beras hasil penggilingannya berdasarkan SNI 6128-2015. Kajian ini juga akan memberikan masukan bagi RPC untuk mengoptimalkan kinerjanya dalam menghasilkan beras bermutu. Rendemen beras kepala merupakan persyaratan utama dalam penetapan mutu beras, karena akan menentukan jumlah berat beras yang dihasilkan dan pada akhirnya menentukan nilai ekonomis beras tersebut. Komponen mutu beras yang diukur adalah derajat sosoh, kadar air, beras kepala, butir patah, butir menir, butir merah, butir kuning, butir mengapur, benda asing dan butir gabah dengan mengacu pada SNI beras. Analisis pengamatan dan pengukuran dilakukan pada 100 gram sampel beras. Hasil pengukuran dan pengamatan kemudian dibandingkan dengan kriteria mutu beras berdasarkan SNI 6128-2015. Rendemen beras yang dihasilkan penggilingan padi di RPC Mukomuko bervariasi pada angka 59-65% dengan derajat sosoh 95,8%, beras kepala 73,5% dan butir patah 20,1%.  Sedangkan beras penggilingan rakyat derajat sosohnya 83,5%, beras kepala 61,7% dan butir patah 26,9%.  Kualitas beras hasil penggilingan RPC berdasarkan SNI  6128-2015 masuk kedalam kategori mutu medium 2, lebih baik daripada penggilingan rakyat. Kategori mutu beras yang dihasilkan RPC masih dapat ditingkatkan menjadi mutu 1 atau premium dengan melakukan penyetelan ulang setiap unit mesin dan sinkronisasi antar-alat secara keseluruhan. Hal yang perlu mendapat perhatian untuk meningkatkan mutu beras hasil penggilingan RPC adalah peningkatan derajat sosoh dan rendemen beras kepala.
VALIDASI METODE PENGUJIAN SENYAWA 1,8-SINEOL DALAM MINYAK ATSIRI MELALUI STUDI KOLABORASI ANTAR LABORATORIUM Tina Rosmalina; Een Sri Endah; Yohanes Susanto Ridwan
JURNAL STANDARDISASI Vol 22, No 1 (2020)
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v22i1.766

Abstract

1,8-Sineol merupakan suatu senyawa terpenoid yang banyak dikandung pada minyak atsiri serta berbagai rempah-rempah. Senyawa 1,8-Sineol memiliki karakteristik segar dan aroma menyengat juga rasa tajam yang memiliki bioaktifitas yang banyak manfaatnya, yaitu penurunan aktivitas lokomotor (antikejang), anti-kanker dan anti-tumor, antifungi, antiinflamasi, antioksidan, sebagai insektisida atau repelan, dan dapat mengurangi resiko penyakit kardiovaskular. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan memvalidasi metode penetapan kadar senyawa 1,8-Sineol menggunakan kromatografi gas yang dilengkapi dengan detektor nyala (FID) melalui studi kolaborasi antar laboratorium. Validasi metode meliputi uji linieritas, nilai perolehan kembali, presisi, akurasi, konfirmasi identitas, dan estimasi ketidakpastian pengukuran. Kandungan Sineol ditetapkan dengan GC-FID menggunakan kolom HP-5 (30 m x 0,32 mm i.d, 0,25 µm). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode yang diusulkan memenuhi persyaratan kesesuaian sistem dengan kurva kalibrasi memberikan hasil yang linier dalam rentang konsentrasi 1 – 20 µg/mL dengan koefisien korelasi 0,999. Uji presisi dari minyak atsiri untuk 1,8-Sineol diperoleh 1,81% dan rata-rata nilai uji perolehan kembali dalam rentang 89,77-106,10 %. Uji metode dilakukan juga dengan studi kolaborasi melibatkan tiga laboratorium dengan hasil seluruhnya linier. Dengan demikian, metode yang diusulkan dapat digunakan untuk menetapkan kandungan 1,8-Sineol dalam minyak atsiri.

Filter by Year

2005 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 2 (2014): Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 3 (2012): Vol. 14(3) 2012 Vol 14, No 2 (2012): Vol. 14(2) 2012 Vol 14, No 1 (2012): Vol. 14(1) 2012 Vol 13, No 2 (2011): Vol. 13(2) 2011 Vol 13, No 1 (2011): Vol. 13(1) 2011 Vol 13, No 3 (2011): Vol 12, No 3 (2010): Vol. 12(3) 2010 Vol 12, No 2 (2010): Vol. 12(2) 2010 Vol 12, No 1 (2010): Vol. 12(1) 2010 Vol 11, No 3 (2009): Vol. 11(3) 2009 Vol 11, No 2 (2009): Vol. 11(2) 2009 Vol 11, No 1 (2009): Vol. 11(1) 2009 Vol 10, No 3 (2008): Vol. 10(3) 2008 Vol 10, No 2 (2008): Vol. 10(2) 2008 Vol 10, No 1 (2008): Vol. 10(1) 2008 Vol 9, No 3 (2007): Vol. 9(3) 2007 Vol 9, No 2 (2007): Vol. 9(2) 2007 Vol 9, No 1 (2007): Vol. 9(1) 2007 Vol 8, No 3 (2006): Vol. 8(3) 2006 Vol 8, No 2 (2006): Vol. 8(2) 2006 Vol 8, No 1 (2006): Vol. 8(1) 2006 Vol 7, No 3 (2005): Vol. 7(3) 2005 Vol 7, No 2 (2005): Vol. 7(2) 2005 Vol 7, No 1 (2005): Vol 7(1) 2005 More Issue