cover
Contact Name
Muhammad Ridha Syafii Damanik
Contact Email
mridhadamanik@unimed.ac.id
Phone
+6285225469715
Journal Mail Official
tunasgeografi@unimed.ac.id
Editorial Address
Jl. Willem Iskandar Psr V Medan Estate Medan, 20211 Indonesia
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Tunas Geografi
ISSN : 2301606X     EISSN : 26229528     DOI : https://doi.org/10.24114/tgeo
The main focus of this journal is Geography Learning, Social and Human Geography, Regional Development, Geographic Information Systems, Remote Sensing, Disaster and Mitigation, Geology and Geomorphology, Oceanography and Coastal. This journal target is teachers, lecturers, graduates, and practitioners in the field of geography. As a scientific communication medium, this magazine serves to provide a publication tool for the development of concepts and theoretical studies, and actual issues relevant in the field of Geography. This journal is published twice a year in July and December and is circulated as a publication material for education in geography, geography, or other relevant fields.
Articles 188 Documents
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF THINK TALK WRITE (TTW) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI BIOSFER DI KELAS XI IPS 2 SMA NEGERI 1 SUMBUL T.A 2013/2014 Elisa Rosa Simamora; Marlinang Sitompul
Tunas Geografi Vol 4, No 1 (2015): JURNAL TUNAS GEOGRAFI
Publisher : Department of Geography Education, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/tgeo.v4i1.5754

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) peningkatan aktivitas belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write Pada materi biosfer di Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Sumbul T.A 2013/2014, dan (2) peningkatan hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write Pada materi biosfer di Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Sumbul T.A 2013/2014 Penelitian dilaksanakan di Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Sumbul T.A 2013/2014. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek dalam penelitian ini adalah  siswa kelas XI IPS 2 sebanyak 36 orang dan objek yaitu  upaya  meningkatkan Aktivitas dan Hasil belajar siswa dalam menyelesaikan materi biosfer melalui teknik Think Talk Write (TTW) di kelas XI IPS -2 SMA Negeri 1 Sumbul Tahun Ajaran 2013/2014. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik komunikasi tidak langsung dan Observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write: (1) Terdapat peningkatan aktivitas belajar siswa  sebesar 18,54 % dari 61,79% siklus I meningkat menjadi 80,33%  di siklus II (2) Terdapat peningkatan hasil belajar siswa sebesar 31 % dari 61 % siklus I meningkat menjadi 92 % di siklus II. dengan demikian hipotesis yang diajukan dapat diterima artinya penerapan model pembelajaran Think Talk write dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa   Kata Kunci: Think Talk Write , Aktivitas Belajar, Hasil Belajar, Biosfer
UPAYA PENGEMBANGAN OBYEK WISATA PASIR MERAH DI DESA OMBOLATA AFULU KABUPATEN NIAS UTARA Yulius Gulo; Sugiharto Sugiharto
Tunas Geografi Vol 6, No 1 (2017): JURNAL TUNAS GEOGRAFI
Publisher : Department of Geography Education, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/tgeo.v6i1.8352

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Keadaan prasarana dan sarana, (2) Penerapan sapta pesona, dan (3) upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah dan masyarakat setempat dalam mengembangkan obyek wisata Pasir Merah di Desa Ombolata Afulu. Penelitian ini dilakukan di Desa Ombolata Afulu pada tahun 2016. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh objek wisata Pasir Merah di Desa Ombolata Afulu, penentuan sampel dalam penelitian ini yaitu total sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik komunikasi langsung dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Keadaan prasarana kepariwisataan di objek wisata Pasir Merah Desa Ombolata Afulu yang meliputi jaringan jalan, jaringan listrik, jaringan telekomunikasi, air bersih dan pelayanan kesehatan tergolong sedang (skor 2,2). Keadaan sarana kepariwisataan di objek wisata Pasir Merah Desa Ombolata Afulu yakni transportasi, rumah makan, pondok pengunjung, penyediaan souvenir, tempat penginapan, promosi, obyek/atraksi wisata, pemandu wisata, tempat sampah, toilet dan tempat parkir tergolong buruk (skor 1,45). (2) Penerapan sapta pesona di objek wisata Pasir Merah Desa Ombolata Afulu yang mencakup keamanan, ketertiban, kebersihan, kesejukan, keindahan, keramah-tamahan dan kenangan tergolong sedang (skor 14). (3) Upaya pengembangan objek wisata Pasir Merah di Desa Ombolata Afulu dari pihak pemerintah antara lain membangun pondok dan menjalankan rutin kegiatan kelompok sadar wisata. Upaya pengembangan objek wisata Pasir Merah di Desa Ombolata Afulu dari pihak masyarakat yakni mendukung kegiatan pemerintah dan turut ikut serta dalam membangun penginapan dan rumah makan.Kata kunci : objek wisata, sapta pesona, pasir merah
Analisis Perbandingan Tingkat Pengetahuan Peringatan Dini di Sekolah Muhammadiyah Di Kabupaten Karanganyar Maharani Retno Wulandari
Tunas Geografi Vol 8, No 1 (2019): JURNAL TUNAS GEOGRAFI
Publisher : Department of Geography Education, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/tgeo.v8i1.12156

Abstract

 AbstrakBencana tanah longsor saat ini marak terjadi di indonesia. Salah satunya yaitu wilayah kabupaten karanganyar. Intensitas curah hujan yang tinggi dan letak geografis sangat mempengaruhi terjadinya bencana longsor. Tanah longsor tidak hanya mengakibatkan kerugian secara finansial, akan tetapi banyak sekali kerugian yang ditimbulkan seperti korban jiwa, dan sosial.  Maka dari itu perlu adanya sistem peringatan dini untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan. Pengetahuan akan  peringatan dini dapat mempersiapkan individu agar lebih siap dalam menghadapi bencana. Pengimplementasian yang efektif untuk menyalurkan pengetahuan akan peringatan dini bencana longsor yaitu melalui sekolah. Hal tersebut dikarenakan sekolah memiliki generasi muda yang berpotensi sebagai agent of change. Maka dari itu tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan peringatan dini di 33 sekolah di Kabupaten Karanganyar, sehingga dengan mengerti tingkat pengetahuan akan peringatan dini dapat dijadikan pedoman untuk kebijakan selanjutnya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan analisis data menggunakan microsoft excel. Dari ke 33 sekolah yang dijadikan sample diketahui bahwa 27 diantaranya memiliki tingkat pengetahuan yang rendah dan 6 diantaranya memiliki tingkat pengetahuan sedang. Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya tingkat pengetahuan peringatan dini salah satunya kondisi siswa yang cenderung belum matang dan kurangnya materi kebencanaan dan sosialisasi tentang kebencanaan mempengaruhi tingkat pengetahuan.Kata Kunci: Peringatan dini, bencana, tanah longsor, sekolah, kesiapsiagaanAbstract Landslide disasters currently happens a lot in indonesia. One of them, namely the region of karanganyar Regency. The high rainfall intensity and geographical location greatly affects the occurrence of landslide. Landslides caused an awful lot of loss both economically, socially and casualties. Therefore need for early warning systems to mitigate the effects caused. Knowledge of early warning can prepare individuals to be more prepared in the face of disaster. Implementation of effective to transfer the knowledge of landslide early warning through the school. That is because the school has a younger generation of potential as agents of change. Therefore the purpose of this research is to know the level of knowledge of early warning in 33 schools in Karanganyar Regency, so by understanding the level of knowledge of early warning can be used as guidelines for further policy. This research uses descriptive quantitative methods with data analysis using microsoft excel. Of the 33 schools, which provided the sample noted that 27 have low knowledge levels and 6 among them has a moderate level of knowledge. Many factors affect the low level of knowledge of early warning is a lack of disaster material and dissemination of disaster affects the level of knowledge. Key words: early warning, disaster, landslide, school, preparedness
PENGGUNAAN MEDIA AUDIOVISUAL PADA PEMBELAJARAN MATERI BENTUK MUKA BUMI DI KELAS VII SMP SWASTA PEMBANGUNAN GALANG T.A 2011/2012 Hetti T. Simanjuntak
Tunas Geografi Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Tunas Geografi
Publisher : Department of Geography Education, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/tgeo.v1i1.490

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) peningkatan aktifitas siswa dengan menggunakan media audiovisual pada pembelajaran materi bentuk muka bumi di Kelas VII-A SMP Swasta Pembangunan Galang, dan (2) peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan media audiovisual pada pembelajaran materi bentuk muka bumi di Kelas VII-A SMP Swasta Pembangunan Galang. Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di SMP Swasta Pembangunan Galang dengan subjek penelitian yaitu siswa Kelas VII-A yang berjumlah 33 orang. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi langsung dan komunikasi tidak langsung, sedangkan teknik analisis datanya adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Ada peningkatan persentase rata-rata aktifitas belajar siswa sebesar 8,44 % dari siklus I sebesar 73,52 % meningkat menjadi 82,06 % pada siklus II yang diajar dengan menggunakan media audiovisual pada pembelajaran materi bentuk muka bumi di Kelas VII-A SMP Swasta Pembangunan Galang, (2) Ada peningkatan persentase rata-rata hasil belajar siswa sebesar 15,15 % dari siklus I sebesar 84,85 % meningkat menjadi 100 % pada siklus II yang diajar dengan menggunakan media audiovisual pada pembelajaran materi bentuk muka bumi di Kelas VII-A SMP Swasta Pembangunan Galang.   Kata kunci : media, audio visual
ANALISIS HUBUNGAN KETINGGIAN TEMPAT DENGAN JENIS DAN KLASIFIKASI FLORA DI WILAYAH HUTAN SIBOLANGIT Rena Saputri Hilaria Sitanggang; Khairul Wahyudi; Pastuti Tafonao
Tunas Geografi Vol 6, No 2 (2017): JURNAL TUNAS GEOGRAFI
Publisher : Department of Geography Education, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/tgeo.v6i2.8570

Abstract

Daerah penelitian adalah Cagar Alam Sibolangit yang merupakan bagian dari Tahura (taman hutan raya) di sumatera utara. cagar alam sibolangit ini memiliki luas 85,15 Ha. Tujuan penelitian ini adalah 1)mengetahui bagaimana ciri fisik vegetasi flora yang ada di hutan sibolangit, 2) menganalisis klasifikasi jenis flora yang tumbuh dengan suhu dan ketinggian tempat yang berbeda di hutan sibolangit. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode survey lapangan. Survey lapangan digunakan untuk mendapatkan data valid terkait ciri fisik flora untuk klasifikasi flora tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis flora yang tumbuh di hutan sibolangit sangat beragam dan diklasifikasikan ke dalam 3 filum yaitu: filum spermatophyta, herydophita, dan byrophita. Ketiga jenis filum ini mendominasi pada ketinggian berbeda. Pada ketinggian 700m – 900m filum yang mendominasi adalah spermatophyta dengan kelas Gymnospermae dan  angyospermae, ptherophyta, ricciocarpus sp, lycophyta, pada ketinggian 900m – 1100m didominasi filum pheryophyta dengan kelas Pherophyta dan sphenphyta serta lycophyta, angyospermae, bryophyta, hepatophyta dan pada ketinggian 1100m – 1300m, didominasi filum byrophyta dengan kelas Bryophyta dan hepatophyta serta rthocerophyta (mendominasi), ptheropchyta, sphenophyta, lycophyta, angyosmpermae.  Kata kunci : Ketinggian tempat, Klasifikasi flora , Filum, Kelas. AbstractThe research area is Sibolangit Nature Reserve which is part of Tahura (forest park) in north sumatera. sibolangit nature reserve has an area of 85.15 Ha. The objectives of this research are 1) to know how the physical characteristics of flora vegetation present in the sibolangite forest, 2) to analyze the classification of flora species that grow with the temperature and height of different places in the sibolangite forest. Data collection techniques in this study using field survey methods. A field survey was used to obtain valid data related to the physical characteristics of the flora for the classification of the florate. The results showed that the type of flora that grows in the forest sibolangit very diverse. And classified into 3 phyla namely: phylum spermatophyta, herydophita, and byrophita. These three types of phyla dominate at different heights. At the height of 700m - 900m the dominant phylum is spermatophyta with class Gymnospermae and angyospermae, ptherophyta, ricciocarpus sp, lycophyta, at an altitude of 900m - 1100m dominated pheryophyta phyla with class Pherophyta and sphenphyta as well as lycophyta, angyospermae, bryophyta, hepatophyta and at an altitude of 1100m - 1300m , dominated byumhyyta phyla by class Bryophyta and hepatophyta and rthocerophyta (dominate), ptheropchyta, sphenophyta, lycophyta, angyosmpermae.Keywords: Elevation of places, Classification of flora, Phylum, Class. 
PERAN MASYARAKAT TERHADAP RUANG TERBUKA HIJAU DI KECAMATAN MEDAN DENAI KOTA MEDAN Ayu Arqamah Surbakti; Sugiharto Sugiharto
Tunas Geografi Vol 5, No 1 (2016): JURNAL TUNAS GEOGRAFI
Publisher : Department of Geography Education, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/tgeo.v5i1.5850

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) peran masyarakat dalam penyediaan RTH pekarangan di Kecamatan Medan Denai dan (2) kepedulian masyarakat terhadap RTH pekarangan di Kecamatan Medan Denai.Penelitian ini dilakukan pada tahun 2013. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rumah tangga di Kecamatan Medan Denai yang terdiri dari 31.180 rumah tangga. Sampel dari penelitian  ditentukan dengan menggunakan rumus krejcie. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik komunikasi tidak langsung dan teknik documenter. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskritif kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Luas lahan dan luas bangunan rumah yang dimiliki masyarakat dikategorikan kecil dan luas halaman pekarangan terbanyak adalah luas lahan pekarangan < 30 meter sebanyak 139 (52%). Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 119 (44%) masyarakat tidak memiliki taman pekarangan atau RTH privat. Sebanyak 11% masyarakat memiliki 1 pohon. Sementara persentase terbanyak adalah masyarakat yang tidak memiliki pohon di pekarangan rumah yaitu sebanyak 57%. (2) Hanya 18% rumah tangga yang tanggap terhadap pengolahan sampah di Kecamatan Medan denai. Seluruh rumah tangga tidak pernah menyumbangkan dana untuk kebutuhan taman kelurahan maupun taman kecamatan. Hanya 48 rumah tangga yang bersedia menyumbangkan tanaman untuk taman kelurahan ataupun taman kecamatan, mayoritas rumah tangga tidak pernah melakukan perawatan tanaman yaitu sebanyak 70 %. Perawatan tanaman yang dilakukan seluruh anggota keluarga sebanyak 5%.  Dan yang mengikuti penyuluhan di kecamatan medan denai hanya sebanyak 34 rumah tangga atau 13%.Kata Kunci: Peran masayarakat, ruang terbuka hijau.
ANALISIS PERUBAHAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN DATA PENGINDERAAN JAUH DI PANTAI CERMIN, KABUPATEN SERDANG BEDAGAI Andrian Lozi; Riki Rahmad
Tunas Geografi Vol 7, No 1 (2018): JURNAL TUNAS GEOGRAFI
Publisher : Department of Geography Education, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/tgeo.v7i1.12230

Abstract

Artikel ini ditulis untuk mengetahui yaitu penggunaan data penginderaan jauh yang dihasilkan oleh teknologi penginderaan jauh untuk menganalisis perubahan garis pantai di Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai. Metode yang dilakukan dalam  penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif yaitu  menentukan sebaran, luasan dan perubahan tutupan lahan yang diperoleh dengan menganalis Citra Landsat 4-5 pada tahun 2007 dan Citra Landsat 2017  tentang perubahan garis  pantai berdasarkan citra 2007 dan ditumpangsusun (superimposition) dengan citra klasifikasi tahun 2017. Berdasarkan hasil dari interpretasi yang di lakukan dengan menggunakan software ArcGIS 10.5 maka di dapatkan luas wilayah di Kecamatan Pantai Cermin yang bertambah pada tahun 2007 dan 2017 mencapai 1481798 km². Penambahan wilayah tersebut tersebar di sepanjang pesisir kawasan Kecamatan Pantai Cermin,  serta dengan rata – rata pengikisan oleh abrasi air laut sebesar 1249322 Km² per tahunnya, dengan penambahan tepi pantai yang cukup signifikan per tahunnya.Kata Kunci: Perubahan Garis Pantai, Abrasi, Sedimentasi, Landsat
ANALISIS POLA SPASIAL KEBAKARAN LAHAN DI KABUPATEN PULANG PISAU TAHUN 2001-2019 Frederik Samuel Papilaya
Tunas Geografi Vol 9, No 1 (2020): JURNAL TUNAS GEOGRAFI
Publisher : Department of Geography Education, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/tgeo.v9i1.17365

Abstract

Forest and land fires have become a problem for the Republic of Indonesia in the last few decades. Statistically based on MODIS data for 19 years from 2001 to 2019, Central Kalimantan is the province with the most number of fires totaling 255,334 fire spot or 18% of fire occurance from 34 provinces in Indonesia. This study will look at spatial patterns and spatial correlations of forest and land fires in Pulang Pisau District from 2001 to 2019. Spatial patterns of hotspots were analyzed using a statistical Getis-Ord (Gi *) analysis, the relationship between hotspots was analyzed using Spatial Autocorrelation Moran's I (Index). The results of the hotspot analysis show the high significance of the hotspots that occurred in the subdistricts of Sebangau Kuala, Kahayan Kuala, Kahayan Hilir and Jabiren. The result of spatial autocorrelation of hotspots from 2001-2019 (except in 2010) is that hotspots pattern are clustered. Based on the findings it can be concluded statistically that 99% of the likelihood of a group fire event occurred intentionally. This hotspot incident that arose intentionally can be a clue for the Local Government to be able to better engage the community to prevent and overcome the hotspot by providing coaching and trainingKeywords: Pola Spasial, Hotspot, Spatial Autocorrelation, Pulang Pisau Kebakaran hutan dan lahan telah menjadi masalah bagi Republik Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. Secara statistik berdasarkan data MODIS selama 19 tahun mulai dari tahun 2001 sampai 2019, Kalimantan Tengah merupakan provinsi yang paling banyak memiliki titik api sejumlah 255.334 titik atau sebesar 18% kejadian kebakaran hutan dan lahan dari 34 provinsi di Indonesia. Penelitian ini akan melihat pola spasial dan korelasi spasial kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Pulang Pisau pada tahun 2001 sampai 2019. Pola spasial hotspot dianalisa dengan menggunakan analisis Getis-Ord (Gi*) statistic, hubungan antar titik api dianalisa dengan menggunakan Spatial Autocorrelation Moran’s I (Index). Hasil analisis hotspot menunjukan signifikasi tinggi hotspot yang terjadi pada kecamatan Sebangau Kuala, Kahayan Kuala, Kahayan Hilir dan Jabiren. Hasil spatial autocorrelation kejadian titik api dari tahun 2001-2019 (kecuali tahun 2010) adalah titik api memiliki pola yang merupakan berkelompok (clustered). Berdasarkan temuan bisa disimpulkan secara statistik bahwa 99% kemungkinan kejadian titik api yang berkelompok tersebut terjadi secara disengaja. Kejadian titik api yang muncul secara disengaja ini dapat menjadi petunjuk bagi Pemerintah Daerah untuk dapat lebih mengajak masyarakat dalam mencegah dan menanggulangi titik api dengan memberikan pembinaan dan pelatihan. Kata Kunci: Pola Spasial, Hotspot, Spatial Autocorrelation, Pulang Pisau
ANALISIS MIGRASI PENDUDUK DI KELURAHAN TAKENGON TIMUR KECAMATAN LUT TAWAR KABUPATEN ACEH TENGAH Desy Dara Jelita
Tunas Geografi Vol 4, No 2 (2015): JURNAL TUNAS GEOGRAFI
Publisher : Department of Geography Education, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/tgeo.v4i2.5818

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui : 1) Faktor apa saja yang mendorong migran melakukan migrasi ke kelurahan Takengon Timur, 2) Faktor apa saja yang menjadi penarik bagi migran untuk melakukan migran di Kelurahan Takengon Timur, 3) Dampak yang ditimbulkan Migran di Kelurahan Takengon Timur.Populasi dalam penelitian ini adalah para migran yang sudah berumah tangga di kelurahan Takengon Timur , minimal tinggal menetap 6 bulan dan maksimal 5 tahun yang berjumlah 140 kepala keluarga. Sampel dalam penelitian ini diambil 35% yang berjumlah 49 kepala keluarga. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara acak sederhana. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitia ini adalah teknik komunikasi langsung, alat yang digunakan adalah Daftar Wawancara.Hasil penelitian menunjukan bahwa : 1) Faktor – Faktor yang mendorong migran melakukan migrasi sari daerah asal menuju Kelurahan Takengon Timur adalah: faktor ekonomi 63,26 %, Faktor sosial 28,57 %, Faktor alam 8,16 %. 2) faktor penarik utama adalah faktor ekonomi yakni ingin meningkatkan pendapatan, dan di kelurahan ini tersedianya lapangan pekerjaan, Lapangan pekerjaan itu di antaranya berdagang sebanyak (69,38 %), sopir (18,36 %), bertani (10,20 %) dan tukang kunci (2,04%). 3). Dampak positif: Meningkatkan pendapatan migran dan Terciptanya hubungan kekerabatan, sedangkan Dampak negatif yakni terjadi penyempitan lahan baik lahan permukiman dan lahan pertanian, terganggunya keseimbangan ekologi mengakibatkan masalah sosial ekonomi di Kelurahan Takengon Timur, serta mengurangi kesempatan kerja penduduk asli dan secara tidak langsung menambah penganguran.Kata kunci : Faktor Pendorong, Faktor Penarik Dan Dampak Yang Ditimbulkan Migran
Analisis Potensi Lahan Pertanian Padi Sawah Di Kabupaten Nias Utara Dengan Memanfaatkan Sistem Informasi Geografi Selamat Gea; Muhammad Ridha Syafii Damanik
Tunas Geografi Vol 7, No 1 (2018): JURNAL TUNAS GEOGRAFI
Publisher : Department of Geography Education, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/tgeo.v7i1.11085

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Karakteristik fisik wilayah kabupaten Nias Utara berdasarkan parameter IPL. (2) Potensi lahan pertanian padi sawah di Kabupaten Nias Utara. (3) Kelas IPL penggunaan lahan pertanian padi sawah di Kabupaten Nias Utara. Metode yang digunakan adalah metode pengharkatan (skoring) dan tumpang susun (overlay). Pengharkatan dilakukan terhadap parameter-parameter penyusun Indeks Potensi Lahan yang meliputi kelerengan, litologi, jenis tanah dan hidrologi sebagai faktor pendukung serta kerawanan bencana erosi sebagai faktor pembatas. Metode overlay adalah metode menggabungkan dua buah peta atau lebih yang memiliki koordinat yang sama untuk menghasilkan satuan pemetaan baru (peta potensi lahan).Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Wilayah Kabupaten Nias Utara sebagian besar memiliki lereng berombak – bergelombang, litologi sediment klastik berbutir halus, tekstur tanah agak halus, potensi air tanah kurang berpotensi, kerawanan longsor berpotensi ringan. (2) Kabupaten Nias Utara memiliki potensi lahan pertanian padi sawah kelas sangat tinggi seluas 14.381,44 Ha dengan persentase 11,56%, kelas tinggi seluas 15.529,58 Ha dengan persentase 12,48%, kelas sedang seluas 40.770,89 Ha dengan persentase 32,77%, kelas rendah seluas 46.554,24 Ha dengan persentase 37,42%, kelas sangat rendah seluas 7.182,08 Ha dengan persentase 5,77%. (3) Kelas IPL penggunaan lahan pertanian padi sawah di Kabupaten Nias Utara terdiri dari kelas sangat tinggi seluas 376,42 Ha dengan persentase 9,37%, kelas tinggi 466,92 Ha dengan persentase 11,63%, kelas sedang seluas 1.633,98 Ha dengan persentase 40,69%, kelas rendah seluas 1.476,40 Ha dengan persentase 36,77%, kelas sangat rendah seluas 61,74 Ha dengan persentase 1,54%.

Page 8 of 19 | Total Record : 188