cover
Contact Name
Adek Cerah Kurnia Azis
Contact Email
adek_peros@yahoo.com
Phone
+6285278021981
Journal Mail Official
gorgajurnalsenirupa@unimed.ac.id
Editorial Address
Jl. Willem Iskandar / Pasar V, Medan, Sumatera Utara – Indonesia Kotak Pos 1589, Kode Pos 20221
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Gorga : Jurnal Seni Rupa
ISSN : 23015942     EISSN : 25802380     DOI : https://doi.org/10.24114/gr.v9i1
Core Subject : Education, Art,
Gorga : Jurnal Seni Rupa terbit 2 (dua) kali setahun pada bulan Juni dan Desember, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran, hasil penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang ditulis oleh para pakar, ilmuwan, praktisi (seniman), dan pengkaji dalam disiplin ilmu kependidikan, kajian seni, desain, dan pembelajaran seni dan budaya.
Articles 806 Documents
COFFEE SHOP SEBAGAI IDE PENCIPTAAN SENI LUKIS KACA DENGAN TEKNIK REVERSE Musda Liffa; Onggal Sihite
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 12, No 1 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i1.40961

Abstract

Glass painting is a traditional art that has existed for a long time. The lack of use of glass as a creative medium causes a lack of innovation in renewing pre-existing themes. This is what motivated the author to create this traditional glass painting by displaying a new theme in order to maintain the existence of glass painting in the world of fine art. The technique used in the creation of this glass painting is the reverse technique or reverse painting technique which is a traditional glass painting technique. The coffee shop theme was chosen to renew the theme of the results of traditional glass painting that had previously existed, which only featured the theme of wayang. The method for creating this work has gone through the exploration or data collection stage, the planning stage is creating design sketches obtained through the exploration stage, and the embodiment stage is the process of painting on glass. The results of the work obtained in this creation amounted to 6 works on clear glass sheets with a size of 40 x 50 cm, with the following titles: (1) Coffee Beans, (2) Milk Coffee Enthusiasts, (3) Roseta in Latte Art, (4) Kalita Charm, (5) The Coffee Connoisseur Woman, (6) StyleMocktail.Keywords:  glass painting, theme, reverse technique. AbstrakSeni lukis kaca merupakan seni tradisional yang sudah lama ada. Minimnya penggunaan kaca sebagai media berkarya menyebabkan kurangnya inovasi dalam pembaharuan tema-tema yang sudah ada sebelumnya. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi penulis untuk membuat seni lukis kaca tradisional ini dengan menampilkan tema baru guna menjaga keeksistensian seni lukis kaca dalam dunia seni rupa. Teknik yang digunakan dalam penciptaan karya seni lukis kaca ini adalah teknik reverse atau teknik melukis terbalik yang merupakan teknik melukis kaca tradisional. Tema coffee shop dipilih guna memperbaharui tema pada hasil seni lukis kaca tradisional yang sudah pernah ada sebelumnya yang hanya menampilkan tema tentang pewayangan saja. Metode pada penciptaan karya ini telah melalui tahap eksplorasi atau pengumpulan data, tahap perencanaan adalah menciptakan sketsa desain yang didapatkan melalui tahap eksplorasi, dan tahap perwujudan yaitu proses melukis di atas kaca. Hasil karya yang diperoleh pada penciptaan tersebut berjumlah 6 karya diatas lembaran kaca bening dengan ukuran 40 x 50 cm, dengan judul sebagai berikut: (1) Coffee Beans, (2) Penggemar Kopi Susu, (3) Roseta In Latte Art, (4) Kalita Charm, (5) Wanita Si Penikmat Kopi, (6) Style Mocktail.  Kata Kunci: lukis kaca, tema, teknik reverse. Authors:Musda Liffa : Universitas Negeri MedanOnggal Sihite : Universitas Negeri Medan References:Asa, F. O., & Sahrul, N. (2018). Kehidupan Surau Di Minangkabau Sebagai Inspirasi Dalam Karya Seni Lukis. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 7(2), 148-155.Blewett, M. (2005). Consolidation Issues and Treatment Strategies for Delaminating Layers on Reverse Glass Painting: A Literature Review and Case Study. The Picture Restorer, 28, 5-11. Dimock, A. (2010). Reverse Glass Painting: Tips,     Tools, and Techniques for Learning the Craft. USA: Stackpole Books.Etty, Laksmiwati. (2017). Glass Painting. Surabaya: Tiara Aksa.Fiyanto, A. (2015). Permasalahan Kehidupan Kaum Urban sebagai Temakarya Seni Lukis. Brikolase: Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa, 7(1).Masruroh, A., & Azis, A. C. K. (2022). Meningkatkan Kemampuan Menggambar Ilustrasi Kartun dengan Teknik Scribble pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Simpang Kiri Kota Subulussalam. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 554-558.Herlyana, E. (2014). Fenomena Coffee Shop sebagai Gejala Gaya Hidup Baru Kaum    Muda. THAQAFIYYAT: Jurnal Bahasa, Peradaban dan Informasi Islam, 13(1), 187-      204.
PERANCANGAN QUICK RESPON (QR) CODE PADA INFOGRAFIS MITIGASI BENCANA ALAM GEMPA DAN TSUNAMI Dwi Mutia Sari; Rifqi Aulia Zaim; Ary Ramadhan
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 12, No 1 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i1.42181

Abstract

This design aims to make it easier for user to obtain information about earthquaeke and tsunami natural disaster mitigation in the Universitas Negeri Padang (UNP) area, because this design generates an application pattern using QR code technology from natural disaster mitigation infographics, which is desperately needed as a form of knowledge in early reaction to earthquake and tsunami natural disasters that can threaten at any time, it intends to make it simpler for users to access information about earthquake and tsunami natural disaster mitigation in the Padang State University (UNP) area. The advancement of this technology can undoubtedly make it easier for consumers to find information quickly. In order to give consumers access to knowledge regarding rescue mitigation and preparation in the event of an earthquake and tsunami natural disaster anytime, anyplace, this technology is utilized to deliver earthquake and tsunami natural disaster mitigation infographics in the UNP region. The infographic about earthquake and tsunami natural disaster mitigation in the Padang UNP area uses a QR code to provide information on understanding of earthquake and tsunami natural disaster mitigation. The design process utilized is the 4D method (define, design, develop, and distribute). Because it can be accessible at any time and from any location, the adoption of infographics in the form of a QR code as a result of this design makes it simpler for consumers to receive information.Keywords: design, quick respon code. AbstrakPerancangan ini bertujuan untuk mempermudah user dalam memperoleh informasi mengenai mitigasi bencana alam gempa dan tsunami di kawasan Universitas Negeri Padang (UNP), karena perancangan ini menghasilkan sebuah patern aplikasi berteknologi QR code dari infografis mitigasi bencana alam yang sangat dibutuhkan sebagai bentuk pengetahuan dalam penanggulanan dini terhadap bencana alam gempa dan tsunami yang dapat mengancam sewaktu-waktu. Perkembangan teknologi ini tentu dapat memberikan kemudahan bagi user dalam memperoleh informasi dalam waktu yang singkat. Teknologi tersebut dimanfaatkan dalam penyampaian infografis mitigasi bencana alam gempa dan tsunami kawasan UNP sehingga user dapat mengakses informasi pengetahuan mengenai mitigasi penyelamatan dan persiapan apabila terjadi bencana alam gempa dan tsunami kapan saja dan dimana saja. Metode perancangan yang digunakan adalah metode 4D (define, design, develope dan disseminate) untuk mencapai hasil pembuatan QR code yang sesuai dengan tujuannya dalam pemberian informasi pengetahuan mitigasi bencana alam gempa dan tsunami tersebuah infografis mitigasi bencana alam gempa dan tsunami di kawasan UNP Padang. Hasil dari perancangan ini berupa implementasi infografis dalam bentuk QR code yang mempermudah usernya dalam memperoleh informasi karena dapat diakses kapan saja dan dimana saja.Kata Kunci: perancangan, quick respon code. Authors:Dwi Mutia Sari : Universitas Negeri PadangRifqi Aulia Zaim : Universitas Negeri PadangAry Ramadhan : Universitas Negeri Padang References:Adha, R. (2010). Message Digest dalam bentuk QR Code Sebagai Tanda Tangan Digital. Bandung: Program Studi Teknik Informatika STEI ITB.Azis, N., Pribadi, G., & Nurcahya, M. S. (2020). Analisa dan Perancangan Aplikasi Pembelajaran Bahasa Inggris Dasar Berbasis Android. Ikraith-Informatika, 4(3), 1-5.Fariyanto, F., Suaidah, S., & Ulum, F. (2021). Perancangan Aplikasi Pemilihan Kepala Desa Dengan Metode Ux Design Thinking (Studi Kasus: Kampung Kuripan). Jurnal Teknologi dan Sistem Informasi, 2(2), 52-60.Nugraha, M. P., & Munir, R. (2011). Pengembangan Aplikasi QR Code Generator dan QR Code Reader dari Data Berbentuk Image. In Informatics National Conference (pp. 148-149).Sari, D. M., Afriwan, H., Purnomo, E., & Kharisma, M. (2021). Perancangan Infografis Shelter Bangunan di Kawasan Universitas Negeri Padang sebagai Mitigasi Bencana Alam Gempa dan Tsunami. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 287-294.Simorangkir, A., Mesra, M., Azis, A. C. K., & Sugito, S. (2022). Analisis Gambar Karya Siswa SD Swasta Karang Sari Medan Menurut Lowenfeld. ELEMENTARY SCHOOL JOURNAL PGSD FIP UNIMED, 12(1), 57-61.
ANALISIS KEMAMPUAN MENDESAIN POSTER BERTEMA SENI BUDAYA NTB PADA MAHASISWA CALON GURU SEKOLAH DASAR Nurul Kemala Dewi
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 12, No 1 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i1.43654

Abstract

The lack of adequate poster work for aspiring elementary school teachers served as the inspiration for this study. The placement of language and images pays little consideration to compositional theory, and the outcomes of the poster design efforts are still inadequate. While making billboards and posters is a subject in Class VI SD Cultural Arts and Crafts, additional research is required to delve deeper into it and find out how the quality of student poster work currently is. This study aims to describe the ability to design posters with the Art and Culture theme of NTB for elementary school teacher candidates. This research used a descriptive qualitative method and the data collection is done by using observation and documentation. The research sample was poster works with the theme of NTB Cultural Arts for Semester I and II students of the PGSD UNRAM Study Program of 2022. The sampling technique used purposive sampling, which was based on a variety of NTB Cultural Arts, such as decoration, traditional music, traditional food, pottery, and traditional dances. Data analysis uses theory of art/design composition, in the form of art/design principles. The results showed that the ability to design posters for Art and Culture of NTB was quite good, but there were several items that still require improvement, such as the accuracy of the shapes to make pictures and letters, the arrangement of pictures and letters, and the accuracy of technique to convey the message.Keywords: ability, posters, cultural arts, NTB. AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh kurang maksimalnya karya poster mahasiswa calon guru sekolah dasar. Penataan tulisan dan gambar kurang memperhatikan teori komposisi dan hasil karya merancang poster kurang memuaskan. Sementara materi Seni Budaya dan Prakarya di kelas VI SD adalah membuat reklame/poster.   Untuk lebih mendalaminya maka diperlukan penelitian  agar terungkap dengan jelas seperti apa kualitas karya poster mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan mendesain poster bertema Seni Budaya NTB pada mahasiswa calon guru sekolah dasar. Jenis penelitian adalah kualitatif deskriptif. Pengambilan data dilakukan dengan observasi dan dokumentasi. Sampel penelitian adalah seluruh karya poster bertema Seni Budaya NTB pada mahasiswa  Semester III Prodi PGSD UNRAM Tahun 2022. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yaitu berdasarkan ragam Seni Budaya NTB, yaitu ragam hias, musik tradisional, makanan tradisional, gerabah, dan tarian tradisional. Analisis data menggunakan teori komposisi seni rupa/desain, berupa prinsip-prinsip seni rupa/desain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan mendesain poster bertema Seni Budaya NTB sudah cukup baik, namun masih banyak hal yang perlu ditingkatkan, yaitu ketepatan bentuk dalam membuat gambar dan huruf, penataan gambar dan huruf, dan ketepatan penyampaian pesan.Kata Kunci: kemampuan, poster, seni budaya, NTB. Authors:Nurul Kemala Dewi : Universitas Mataram References:Aswasulasikin, A., Pujiani, S., & Hadi, Y. A. (2020). Penanaman Nilai Nasionalis Melalui Pembelajaran Budaya Lokal Sasak di Sekolah Dasar. Jurnal DIDIKA: Wahana Ilmiah Pendidikan Dasar, 6(1), 63-76.Dewi, Nurul Kemala & Tahir, M. (2020). Penciptaan Ragam Hias De Saphir Sasambo Untuk Mendukung Praktek Komposisi Berbasis Kelokalan di Prodi PGSD FKIP UNRAM. Laporan Penelitian tidak diterbitkan. Mataram: Universitas Mataram.Herliyani, E., & Suryana, J. (2015). DKV Sebagai Perancangan Media Promosi Jurusan Desain Komunikasi Visual (DIII) Undiksha Berbasis Web. Prasi: Jurnal Bahasa, Seni, dan Pengajarannya, 10(20).Kembaren, Y. A., Kartono, G., & Mesra, M. (2020). Analisis Karya Poster Berdasarkan Unity, Layout, Tipografi, Dan Warna. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(1), 121-126.Safitri, Indah Ayu. (2020). Proporsi Kacang Tanah dan kedelai Terhadap Sifat Kimia dan Organoleptik Jajan Manjareal Khas Sumbawa. Skripsi tidak diterbitkan. Mataram: Universitas Muhammadiyah Mataram.Supandi, M. B., & Azis, A. C. K. (2020). Peninjauan Poster dari Warna dan Tipografi di SMK Multimedia Istiqlal. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(2), 419-423.Utoyo, A. W. (2020). Analisis Komunikasi Visual Pada Poster Sebagai Media Komunikasi Mendorong Jarak Sosial Di Jakarta Saat Epidemi Covid 19. LUGAS Jurnal Komunikasi, 4(1), 35-42.
TRANSFORMASI MOTIF BURUNG MERAK PADA PRODUK BORDIR KEBAYA PILA KEBAYA DI KECAMATAN HARAU KABUPATEN LIMA PULUH KOTA Sri Ayu Ramadhani; Weni Nelmira
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 12, No 1 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i1.40041

Abstract

Every embroidery business has its own characteristics and uniqueness, one of them is the embroidery product in the Pila Kebaya there is uniqueness in the use of its motifs. The type of motif used is a transformation from the original form of a peacock. For embroidered products, the selection of color combinations in Pila Kebaya uses a combination of many colors. The purpose of this research is to describe the transformation of peacock motifs and thread color combinations used in peacock motifs for embroidery products in the Pila Kebaya embroidery business. This research method uses qualitative, where the type of data is in the form of primary and secondary data. The informants in this study were 1 owner, 10 craftsmen, and 1 consumer in the Pila Kebaya embroidery business. Data collection was carried out by observation, interviews, and documentation. Data analysis techniques used an interactive model which included data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study are the transformation of the peacock motif in Pila Kebaya which is the result of the stylization of various models or original peacock patterns, used as motifs and thread color combinations used are analogous color combinations, complementary color combinations, and monochromatic color combinations. The color combination is a bright color that matches the function of the product.Keywords: embroidery, motif, transformation, color. AbstrakSetiap usaha bordir memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, salah satunya produk bordir di Pila Kebaya yang terdapat keunikan dalam penggunaan motifnya. Jenis motif yang digunakan adalah transformasi dari bentuk asli burung merak. Pada produk bordir pemilihan kombinasi warna di Pila Kebaya menggunakan kombinasi banyak warna. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan transformasi motif burung merak dan kombinasi warna benang yang digunakan pada motif burung merak produk bordir di usaha bordir Pila Kebaya. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif, dimana jenis data berupa data primer dan sekunder. Informan dalam penelitian ini ialah 1 orang pemilik, 10 orang pengrajin dan 1 orang konsumen di usaha bordir Pila Kebaya. Pengumpulan data dilakukan dengan bservasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan model interaktif yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah transformasi motif burung merak di Pila Kebaya merupakan hasil stilasi dari berbagai model atau corak burung merak asli, dijadikan motif dan kombinasi warna benang yang digunakan adalah kombinasi warna analog, kombinasi warna komplementer dan kombinasi warna monokromatis. Kombinasi warna tersebut merupakan warna cerah yang sesuai dengan fungsi produk.Kata Kunci: bordir, motif, transformasi, warna. Authors:Sri Ayu Ramadhani : Universitas Negeri PadangWeni Nelmira : Universitas Negeri Padang References: Ernawati. Nelmira, Weni. (2008). Pengetahuan Tata Busana. Padang: UNP Press.Hery, H. (2006). Desain Ragam Hias. Bandung: Gramedia.Meilani, M. (2013). Teori Warna: Penerapan Lingkaran Warna dalam Berbusana. Humaniora, 4(1), 326-338. https://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/indexPurnomo, M. H., & Kustoro, U. (2018). Transformasi Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono. Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra, 13(2), 329-340. https://ejournal.undip.ac.id/index.php/nusaRahman, D., Efi, A., & Novrita, S. Z. (2015). Ragam Hias Suji Cair pada Sulaman Selendang Kotogadang Kabupaten Agam Sumatera Barat (Studi Kasus di Yayasan Amai Setia). Journal of Home Economics and Tourism, 9(2), 1-18. http://ejournal.unp.ac.id/index.php/jhet/article/view/4824Susiani, R., & Ernawati, E. (2019). Strategi Produk Bordir di Kapalo Koto, Koto Tangah Simalanggang, Kota Payakumbuh (Studi Kasus di Usaha Bordir Limpapeh” s Kebaya). Gorga: Jurnal Seni Rupa, 8(1), 111-119. https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/gorga/article/view/12877Yeni, D. (2018). Kreasi Bentuk Bulu Merak Sebagai Motif Dalam Fashion. SULUH: Jurnal Seni Desain Budaya, 1(2), 175-184. https://ejournal.unisnu.ac.id/JSULUH/article/view/910Yuliarma, Y. (2003). Studi tentang Desain Hiasan pada Bordir di Industri Kerajinan Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam Sumatera Barat. Padang: FT UNP. http://repository.unp.ac.id/1739/1/YULIARMA_382_03.pdf 
SENI TRADISIONAL DALAM SENI RUPA MODREN: ANALISIS BERDASARKAN NILAI PENDIDIKAN Budiwirman Budiwirman; Syeilendra Syeilendra; Ary Ramadhan; Syafei Syafei
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 12, No 1 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i1.27135

Abstract

Traditional arts that have high artistic value must always be preserved from extinction. In order to maintain the popularity of traditional art in Indonesia, it is necessary that artists, teachers, and society understand it deeply. Every fine arts artist, teacher, and community must have a sense of nationalism towards traditional art in order to be able to maintain and become a stronghold of traditional art itself. This study aims to rediscover the values of traditional culture that are spread in several regions in Indonesia with the hope that it can be absorbed into modern art so that the value of traditional art is not completely eroded. This research uses Spradley's qualitative research method or ethnographic qualitative research with the aim of systematically describing deeper cultural characteristics. This research produces a description of the characteristics of traditional culture contained in several traditional arts and crafts spread across Indonesia, each region has cultural characteristics that are different from other regions which are influenced by several diverse factors. The characteristics of each artistic value are maintained and absorbed into modern art for maintained and taught in the world of education so that art saviors are born who are able to transform traditional arts into modern artistic values. As art saviors, artists need awareness of a sense of "nationalism" in each of them which is obtained through an understanding of these traditional arts.Keywords: high art, education, culture, nationalism. AbstrakKesenian tradisional yang memiliki nilai seni tinggi harus selalu dilestarikan dari kepunahan. Untuk mempertahankan popularitas seni tradisional di Indonesia, diperlukan seniman, guru, dan masyarakat yang memahaminya secara mendalam. Setiap seniman seni rupa, guru dan masyarakat harus memiliki rasa nasionalisme terhadap seni tradisional agar mampu menjaga dan menjadi benteng kesenian tradisional itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan kembali nilai nilai kebudayaan tradisional yang tersebar di dibeberapa daerah di Indonesia dengan harapan dapat dilakukan penyerapan kedalam seni modern agar nilai dari kesenian tradisional tidak terkikis sepenuhnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif Spradley atau penelitian kualitatif  etnografi dengan tujuan mendeskripsikan karakteristik kultural lebih mendalam secara sistematis. Penelitian ini menghasilkan deskripsi karakteristik kebudayaan tardisional yang terkandung dari beberapa kerajinan seni tradisional yang tersebar di wilayah Indonesia, setiap daerah memiliki karakterstik kebudayaan yang berbeda dari daerah lain yang dipengaruhi oleh beberapa factor yang beragam, Karakteristik dari setiap nilai kesenian dipertahankan dan diserap kedalam kesenian modern untuk dipertahankan dan diajarkan dalam dunia Pendidikan agar terlahir penyelamat kesenian yang mampu melakukan transformasi seni tradisional menjadi nilai seni modern. Sebagai penyelamat seni, seniman membutuhkan kesadaran akan rasa “Nasionalisme” pada diri masing-masing yang diperoleh melalu pemahaman akan kesenian tradisional tersebut.Kata Kunci: seni tinggi, pendidikan, budaya, nasionalisme. Authors:Budiwirman : Universitas Negeri PadangSyeilendra : Universitas Negeri PadangAry Ramadhan : Universitas Negeri PadangSyafei : Universitas Negeri Padang References:Yoeti, O. K. (1997): Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata.Jakarta: Pradnya Paramita.Elfachmi, A. K. (2015). Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.Arya Pageh, W. (2018). E-PROCEEDING The Phenomenon Of Shafe and Aesthetics Of Balinese Wayang and Cartoon Bog Bog on Bog Bog Bali Cartoon Magazine Vol. 09 Year 2010-2011.Banoe, P. (2003). Kamus Musik. Yokyakarta: Kanisius.Bentley, R. A., & O'Brien, M. J. (2017). The Acceleration of Cultural Change. From Ancestors to Algorithms: MIT Press.Berghaus, G. (1996). Futurism and politics: between anarchist rebellion and fascist reaction, 1909-1944. Berghahn Books.Brumm, A., Oktaviana, A. A., Burhan, B., Hakim, B., Lebe, R., Zhao, J. X., ... & Aubert, M. (2021). Oldest cave art found in Sulawesi. Science Advances, 7(3), eabd4648.Bublitz, M. G., Rank-Christman, T., Cian, L., Cortada, X., Madzharov, A., Patrick, V. M., ... & Townsend, C. (2019). Collaborative art: A transformational force within communities. Journal of the Association for Consumer Research, 4(4), 313-331.Budiwirman, B. (2018). Minangkabau Songket As a Fine Art Study. Padang: Blessing Prima.Caturwati, E. (2008). Tradisi Sebagai Tumpuan Kreatifitas Seni. Bandung: Penertbit Sunan STSI Pres Bandung.Cleaver, D. G. (1967). Linda Nochlin, Impressionism and Post-Impressionism 1874–1904, 222 pp. Realism and Tradition in Art 1848–1900, 189 pp: Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, Inc., 1966 (Sources and Documents in the History of Art series) $2.95 (paperbound).Deswarni, D., & Budiwirman, B. (2019). Meningkatkan Kemampuan Siswa Membaca Notasi Musik dengan Menggunakan Metode Demonstrasi dalam Pembelajaran Seni Musik. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 8(2), 374-377.Dibia, I. W., & Ballinger, R. (2012). Balinese Dance, Drama & Music: A Guide to the Performing Arts of Bali. Tuttle Publishing.Graburn, N. H. (2021). Introduction: Arts of the fourth world Ethnic and Tourist Arts (pp. 1- 32): University of California Press.Hasbullah, H. (2009). Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.Hanurawan, F. (2016). Metode Penelitian Kualitatif Untuk Ilmu Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.Heristian, M., Efi, A., & Budiwirman, B. (2022).Mengembangkan Karakter AnakMelalui Pembelajaran Seni Budaya. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 410-416.Heristian, M., Efi, A., & Budiwirman. Mengembangkan Karakter Anak Melalui Pembelajaran Seni Budaya. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 410-416.Huhmarniemi, M., & Jokela, T. (2020). Arctic arts with pride: Discourses on Arctic arts, culture and sustainability. Sustainability, 12(2), 604.Illahi, Mohammad Takdir. 2012. Pembelajaran Discovery Strategy dan Mental Vocational Skill. Jogjakarta: Diva Press.Ismail, D. E., Nggilu, N. M., & Tome, A. H. (2019). The Urgency of Gorontalo Traditional Cultural Regulation Expression as a Form of Legal Protection for National Culture: ICIDS.Jamalus. 1988. Panduan Pengajaran Buku Pengajaran Musik Melalui Pengalaman Musik. Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan.Johnson, R. B., & Christensen, L. (2019). Educational research: Quantitative, qualitative, and mixed approaches: Sage publications.Metusala, D., Lestari, D. A., DAMAIYANI, J., MAS’UDAH, S., & SETYAWAN, H. (2020). The identification of plant reliefs in the Lalitavistara story of Borobudur temple, Central Java, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 21(5).Muda, K. T., & Susanti, D. (2020). Keterancaman Lukisan Dinding Gua Prasejarah Bulu Sipong I Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan (Prehistoric Cave Paintings of Bulu Sipong I Kabupaten Pangkep South Sulawesi Threatened). Asian Journal of Environment, History and Heritage, 4(2).Nasrudin, N. (2017). Membaca dan menafsirkan temuan gambar Prasejarah di Pulau Misool Raja Ampat, Papua Barat. Berkala Arkeologi Sangkhakala, 18(2), 150-168.Nuruddin, A. F. M. r., Wirawan, P. E., Pantiyasa, I. W., Semara, I. M. T., & Estikowati, F. E. A. S. (2020). Cultural Heritage Tourism in Indonesia Potential of “Gunung Gangsir Temple” as a Tourist Attraction. Systematic Reviews in Pharmacy, 11(12), 283-289.O'Brien, D. (2018). Cubism: Art and Philosophy. ESPES, 7(1), 30-37.Park, S., Hwang, D., Lee, W. S., & Heo, J. (2020). Influence of nostalgia on authenticity, satisfaction, and revisit intention: The case of Jidong mural alley in Korea. International Journal of Hospitality & Tourism Administration, 21(4), 440-455.Pujiono, B., Prilosadoso, B., & Supeni, S. Alternative Media for the Preservation of Traditional ARTS Through Collaboration Pop Art Style Wayang Pacitan Beber. International Journal of Social Sciences and Humanities, 4(3), 151-159.Putra, I. D., & Abdullah, S. (2019). Diversity of Cultural Elements at The Reliefs of Pura Desa Lan Puseh in Sudaji Village, Northern Bali. Paper presented at the 5th Bandung Creative Movement International Conference on Creative Industries 2018 (5th BCM 2018).Putra, I. D. A. D. (2018). Kamasan Puppet Painting, Balinese Traditional Comics. Bandung Creative Movement (BCM) Journal, 4(1).Putra, I. D. A. D., & Abdullah, S. (2020). Early Symptoms of Modernism in Traditional Balinese Painting Began in Northern Bali. Idealogy, 5(2), 55-70.Rampley, M. (2021). 7 Readings of Modern Art: Historicism, Impressionism, Expressionism The Vienna School of Art History (pp. 141-165): Penn State University Press.Naufal, R. (2014) Pertunjukan Gendreh Pada Acara Hiburan di Kampung Cikadu Indah Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang Banten. UPI.Schulz, K., & Hayn-Leichsenring, G. U. (2017). Face attractiveness versus artistic beauty in art portraits: a behavioral study. Frontiers in psychology, 8, 2254.Sedyawati, E. (1995). Kajian Sejarah Kesenian. Jakarta: Dirjen Kebudayaan.Setiawan, A., & Handojo, A. (2017). Indonesian culture learning application based on android. Petra Christian University.Slataper, S. (2020). Futurism My Karst and My City and Other Essays (pp. 102-105): University of Toronto Press.Smith, A. (2002). Fauvism and Cultural Nationalism. Interventions, 4(1), 35-52.Soedjono, S. (2019). Fotografi Surealisme Visualisasi Estetis Citra Fantasi Imajinasi. Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi, 15(1), 1-12. Tacon, P. S. (2019). Connecting to the Ancestors: why rock art is important for Indigenous Australians and their well-being. Rock Art Research: The Journal of the Australian Rock Art Research Association (AURA), 36(1), 5-14.Thom, M. (2017). Arts entrepreneurship education in the UK and Germany: An empirical survey among lecturers in fine art. [Article]. Education and Training, 59(4), 406-426. doi: 10.1108/et-05-2016-0089.Thosibo, A., Soekamto, N., Duli, A., & Mulyadi, Y. (2019). Broken painting in the prehistoric cave and chemical content of paint used in Maros Regency, South Sulawesi. Paper presented at the Journal of Physics: Conference Series.Tompkins Lewis, M. (2007). Critical Readings in Impressionism and Post-Impressionism: An Anthology: University of California Press.Vuk, S., & Bosnar, M. (2021). Process in contemporary visual art as a paradigm shift in the visual art education: Perspective of creativity. [Article]. Creativity Studies, 14(1), 99- 111. doi: 10.3846/cs.2021.12632.
INTERAKSI SIMBOLIK DALAM LUKISAN “KAMPUNG KARO” KARYA RASINTA TARIGAN Vivi Destri Yumielda
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 12, No 1 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i1.41164

Abstract

Rasinta Tarigan is a Karo artist who created  a painting titled “Kampung Karo” with the romance of Karo people’s lives. He emphasized the cultural values of the Karo people in the past into his paintings. The painting has its own place for the public of his art, as Rasinta specifically presented this work to those who shared the same socio-cultural background as the value groups in the painting. The communication that occurs between the art public – arts – creator painting, there is interaction in it and causes interpretation through symbols but there is still miscommunication or misperception by the public. Therefore, this study was conducted with the aim of revealing the meaning and form of symbolic interaction in painting to minimize errors in interpreting a work. The research method used was qualitatively-interpretative descriptive with Herbert Blumer’s theory of symbolic interaction to describe the narrative of the meaning and form of symbolic interaction in the work. The results of this study were concluded that the characteristics of the painting could immediately look like Karo’s typical traditional house, which he located at a center point, so the public focus of his art led to the object. This study no longer leads to formal analysis, but rather to symbolic aesthetic appreciation or message contained in the painting. Again, of course, the art public who appreciates symbolic aesthetics is the art public who has the same socio-cultural background so that good and correct art communication occurs.Keywords: public, art communication, Rasinta Tarigan.AbstrakRasinta Tarigan yang merupakan seorang seniman Karo, menggarap lukisannya berjudul “Kampung Karo” dengan romantisme kehidupan masyarakat Karo. Ia menekankan nilai-nilai budaya yang ada pada masyarakat Karo pada masa lampau ke dalam lukisannya. Lukisan ini memiliki tempat tersendiri untuk publik seninya, karena Rasinta secara khusus mempersembahkan karya ini untuk mereka yang memiliki latar sosial-budaya yang sama dengan gugus nilai yang terdapat di dalam lukisan tersebut. Komunikasi seni yang terjadi antara publik seni – lukisan – pencipta seni, terdapat interaksi di dalamnya dan menyebabkan proses interpretasi melalui simbol-simbol. Namun masih terdapat miskomunikasi atau mispersepsi oleh publiknya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengungkap makna dan bentuk interaksi simbolik pada lukisan agar meminimalisir kekeliruan dalam menginterpretasi sebuah karya. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif kualitatif-interpretatif dengan teori interaksi simbolik oleh Herbert Blumer untuk menguraikan narasi makna serta bentuk interaksi simbolik yang terdapat dalam karya tersebut. Hasil penelitian ini disimpulkan bahwa karakteristik lukisan dapat langsung terlihat seperti rumah adat khas Karo yang ia letak pada center point, sehingga fokus publik seninya mengarah pada objek tersebut.Kajian Ini tidak lagi mengarah pada analisa formal, melainkan lebih pada apresiasi estetika simbolik atau pesan yang terkandung dalam lukisan tersebut. Kembali lagi, tentu publik seni yang mengapresiasi estetika simbolik tersebut ialah publik seni yang memiliki latar sosial-budaya yang sama sehingga terjadinya komunikasi seni yang baik dan benar.Kata Kunci: publik, komunikasi seni, Rasinta Tarigan. Authors:Vivi Destri Yumielda : Universitas Negeri PadangReferences:Ahmadi, D. (2008). Interaksi Simbolik: Suatu Pengantar. Mediator: Jurnal Komunikasi, 9(2), 301-316.Asa, F. O., & Sahrul, N. (2018). Kehidupan Surau di Minangkabau sebagai Inspirasi dalam Karya Seni Lukis. Gorga: Jurnal SeniRupa, 7(2),148-155.Farida, D. N. (2017). Kritik Ekologi Sastra Puisi Perempuan Lereng Gunung Karya Ika Permata Hati dalam Antologi Puisi Perempuan di Ujung Senja Melalui Ekofeminisme Susan Griffin. BASINDO: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya, 1(2), 48-52.Ghifari, M., Susandro, S., & Taruan, H. N. Kajian Semiotik Lukisan Kawan-Kawan Revolusi Karya S. Sudjojono. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(1), 77-82.Muklisin, M., & Triyanto, R. (2020). Analisis Formal Lukisan Andi Ian Surya. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(2), 292-299.Saad, N., Adnan, H. M., Harun, A., & Rasdi, F. M. (2021). Analisis Formalistik dalam Kartun Politik Zunar. International Journal of the Malay World and Civilisation, 9(3), 2021: 13-24.Sapari, R. (2019). Interaksi Simbolik Dalam Tiga Lukisan Kaca Karya Haryadi Suadi. Jurnal Rekarupa, 5(2).Sumadi, S. (2005). Definisi Seni Achdiat K. Mihardja dan Aplikasinya pada Seni Kriya. Ornamen, 2(1).Sumardjo, J. (2000). Filasafat Seni. Bandung: Penerbit ITB.Susanto, M. (2011). Diksi Rupa. Yogyakarta: DictiArt Lab & Djagad Art Space.Triyanto, R. (2014). Seni Rupa Medan: Kajian Kritis Dari Berbagai Aspek. Medan: UNIMED PRESS.Yadi, S., Munaf, Y., & Dhasono, D. (2018). Aso Gumbalo sebagai Inspiras dalam Penciptaan Seni Lukis. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 7(2), 178-186.Yumielda, V. D., & Zulkifli, Z. (2022). Kajian Semiotika Peirce Pada Karya Seni Lukis di Sanggar Seni Rupa Simpassri. Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya, 5(1), 28-38.Zulkarnain, A., Setiana, F., Kristella, F., & Violetta, F. (2019). Analisa Unsur Estetika Desain Identitas Visual Karya Studio Desain Pentagram Berdasarkan Kacamata Teori Ekspresi dan Formalisme. Gestalt: Jurnal Desain Komunikasi Visual, 1(1), 1-12.
STUDI MOTIF BATIK KEMBANG DANGAR KHAS KABUPATEN LOMBOK UTARA Gozin Najah Rusyada; Christofer Satria; Irfan Hidayat
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 12, No 1 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i1.44225

Abstract

The Kembang Dangar batik motif is a batik motif from north lombok and has high historical value. this motif was inspired by the shape of the dangar tree, an ancient tree with a rich cultural history in north lombok. this motif is relatively new, so there are still many people who do not know about it. it was influenced by the community's lack of reading material or literature about the historical and philosophical values of the kembang dangar batik motif. this study is aimed to describe kembang dangar batik motif, such as: 1) the history or background of the creation of kembang dangar batik motif; 2) the design of kembang dangar batik motif; and 3) the application of kembang dangar batik motif. the method used in this study is the descriptive-qualitative method. the data collection techniques used interviews, observation, and documentation. the techniques of data analysis used reduction, presentation, and conclusion. The research shows that 1) the kembang dangar batik motif has been developed by raden prawangsa jayaningrat as a form of concern for the traditional artwork from north lombok; it was inspired by the shape of dangar trees. 2) in general, the design of the kembang dangar batik motif was classified into some structural elements, main decoration, and filler decoration. 3) the application of the kembang dangar batik motif is limited, only for bongot or sapuk. sapuq or bongot is a local headband from lombok; it is usually used when there is a traditional ceremony or other regional traditional events.Keywords: kembang dangar, batik, motif. AbstrakMotif batik Kembang Dangar merupakan motif batik khas Kabupaten Lombok Utara yang memiliki nilai sejarah tinggi. Pembuatan motif tersebut terinspirasi dari wujud pohon dangar, yakni pohon purba yang sarat dengan sejarah kebudayaan kabupaten lombok utara. motif batik kembang dangar tergolong baru sehingga masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang motif tersebut. hal tersebut dipengaruhi pula kurangnya bahan bacaan ataupun literatur bagi masyarakat terkait nilai historis dan filosofis motif batik kembang dangar. penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan motif batik kembang dangar meliputi; (1) sejarah atau latar belakang penciptaan motif batik Kembang dangar, (2) bentuk motif batik kembang dangar dan (3) pengaplikasian motif batik kembang dangar. metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yakni, reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) Motif kembang dangar dikembangkan oleh raden prawangsa jayaningrat sebagai bentuk kepedulian terhadap karya seni tradisional lombok utara, pembuatannya terinspirasi dari wujud pohon dangar. (2) Secara umum, bentuk motif kembang dangar terdiri dari beberapa elemen penyusun struktur, yakni ragam hias utama dan ragam hias pengisi (3) Pengaplikasiannya motif kembang dangar untuk sementara hanya sebatas pada bongot atau sapuk. Sapuq atau bongot merupakan ikat kepala khas Lombok yang biasa digunakan pada saat upacara adat atau acara tradisional daerah lainnya.Kata Kunci: kembang dangar, batik, motif. Authors:Gozin Najah Rusyada : Universitas BumigoraChristofer Satria : Universitas BumigoraIrfan Hidayat : Universitas Bumigora References:Helmi, P. (2022). Kerajinan Anyaman Pandan Daerah Paninggahan. Gorga : Jurnal Seni Rupa, 11(2), 621–627. https://doi.org/10.24114/GR.V11I2.39830.Miranti, A., Lilik, Winarni, R., & Surya, A. (2021). Representasi Pendidikan Karakter Berbassis Kearifan Lokal dalam Motif Batik Wahyu Ngawiyatan sebagai Muatan Pendidikan Senirupa di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 5(2), 546–560. https://doi.org/10.31004/BASICEDU.V5I2.763.Rohisa, D., & Haryana, W. (2022). Desain Motif Batik Cimahi Sebagai Wujud Identitas Budaya Dalam Kacamata Antropologi. Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik Dan Wacana Seni Budaya Rupa, 14(1), 1–13. https://doi.org/10.33153/brikolase.v13i1.3644.Sila, I. N., & Budhyani, I. D. A. M. (2013). Kajian Estetika Ragam Hias Tenun Songket  Jinengdalem, Buleleng. Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora, 2(1), 2303–2898. https://doi.org/10.23887/JISH-UNDIKSHA.V2I1.1311.Soeprayogi, H., Studi Pendidikan Seni Rupa Jurusan Seni Rupa Fakultas Bahasa dan Sen Universitas Negeri Medan Jl Willem Iskandar Pasar Medan Estate, P. V, Sei Tuan, P., & Deli Serdang, K. (2020). Eksperimen Motif Bentuk Flora Dengan Media Sabun Menggunakan Teknik Ukir. Gorga : Jurnal Seni Rupa, 9(2), 475–483. https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/gorga/article/view/22244.Valenta, N. S., & Adriani. (2022). Studi Tentang Batik Batam (Studi Kasus di Indra Batik Batam di Kota Batam). Gorga : Jurnal Seni Rupa, 11(01), 89–106. https://doi.org/https://doi.org/10.24114/gr.v11i1.29696.Jayaningrat, R. P. (2022), “Sejarah Pembuatan Motif Batik Kembang Dangar”. Hasil Wawancara Pribadi: 20 September 2022, Tanjung.
PERANCANGAN BANGUNAN MODULAR PENUNJANG GREEN ECONOMY UNTUK HUNIAN RESILIENSI BENCANA
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 12, No 1 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i1.42894

Abstract

Modular house technology is one of the creative innovations in developing work methods for building houses to achieve time and cost efficiency. Modular home manufacturing technology is a non-conventional construction process that involves modern technology and is carried out centrally and integrated in a workshop. The application of modular houses in the construction of residential houses has been carried out in various countries (Adinda, 2014) therefore, a modular house was designed with the main objective as a temporary residence for victims of natural disasters. In this study using a qualitative descriptive method, which is a research method that utilizes qualitative data or utilizes existing data and theories and is described descriptively. This modular house is designed with several advantages such as fast construction, easy delivery in terms of transportation, can be used continuously, economical, and can be built with only one person. The result of this study made a modular house using woven bamboo materials and resinous fabrics. By using a modular house folding system when construction does not require many people in construction and can be built quickly when a disaster occurs. Researchers hope that modular home innovation and the use of materials can continue to grow and can help every human need.  Keywords: efficiency, concise, sustainable, portable, economical. AbstrakTeknologi rumah modular merupakan salah satu inovasi kreatif dalam rangka pengembangan metoda kerja pembangunan rumah untuk pencapaian efisiensi waktu dan biaya. Teknologi pabrikasi rumah modular merupakan proses konstruksi non-konvensional yang melibatkan teknologi modern dan dilakukan secara terpusat dan terintegerasi dalam sebuah wokshop. Penerapan rumah modular pada pembangunan rumah tinggal sudah telah dilakukan di berbagai negara (Adinda, 2014 : 15) oleh karena itu, dilakukan perancangan rumah modular dengan tujuan utama sebagai tempat tinggal sementara bagi para korban bencana alam. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu sebuah metode penelitian yang memanfaatkan data kualitatif atau memanfaatkan data dan teori yang ada dan dijabarkan secara deskriptif. Rumah modular ini didesain dengan beberapa kelebihan seperti cepat dalam pembangunannya, mudah dikirim dalam hal transportasi, dapat digunakan secara terus-menerus, ekonomis, dan dapat dibangun hanya dengan satu orang. Hasil penelitian ini dibuat sebuah rumah modular dengan menggunakan material anyaman bambu dan kain yang diresin. Dengan menggunakan sistem lipat rumah modular saat pembangunannya tidak membutuhkan banyak orang dalam pembangunannya dan dapat dibangun dengan cepat saat terjadi sebuah bencana. Peneliti berharap inovasi rumah modular dan penggunaan material dapat terus berkembang dan dapat membantu setiap kebutuhan manusia.   Kata Kunci: efisiensi, ringkas, berkelanjutan, portabel, ekonomis. Authors:Winston Halim : Universitas Kristen MaranathaKrismanto Kusbiantoro : Universitas Kristen MaranathaCindrawaty Lesmana : Universitas Kristen MaranathaIrena Vanessa Gunawan : Universitas Kristen Maranatha References:Adinda, N. R. (2014). Aplikasi teknologi pabrikasi rumah modular pada konstruksi rumah tinggal. Jurnal Online Sekolah Tinggi Teknologi Mandala, 7(1), 15-25.https://www.ejournal.sttmandalabdg.ac.id/index.php/JIT/article/view/3.Arifin, H. R. (2021). Analisis Pemanfaatan Air Hujan sebagai Alternatif Penyediaan Air Sanitasi dan Pertamanan pada Kompleks Gedung Pemerintahan Kota Bandung. Skripsi tidak diterbitkan. Bandung: Institut Teknologi Nasional Bandung. http://eprints.itenas.ac.id/1470/1/01%20Cover%20222015095.pdf.Sari, D. M., Afriwan, H., Purnomo, E., & Kharisma, M. (2021). Perancangan Infografis Shelter Bangunan di Kawasan Universitas Negeri Padang Sebagai Mitigasi Bencana Alam Gempa dan Tsunami. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 287-294.          https://doi.org/10.24114/gr.v10i2.Dyastari, F., Agus, S., & Tyaghita, B. (2017). Penerapan Konsep Modular dalam Perancangan Rumah Susun Berdasarkan Right Conservation Method. Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI), 37-42. D037–D042. https://doi.org/10.32315/ti.6.d037.Mameli, M. (2016). Le Corbusier and the American modulor. LE CORBUSIER. 50 AÑOS DESPUÉS, 1282-1297. https://doi.org/10.4995/lc2015.2015.984.Nazaruddin, M. (2015). Jurnalisme bencana di Indonesia, setelah sepuluh tahun. Jurnal Komunikasi, 10(1), 79-88. https://doi.org/10.20885/komunikasi.vol10.iss1.art8.Putri, S. P. S., & Purwantiasning, A. W. (2021). Kajian Konsep Arsitektur Modular Pada Rumah Susun ITB Jatinangor. Nature: National Academic Journal of Architecture, 8(1), 81-93. https://doi.org/10.24252/nature.v8ila9.Smith, R. E. (2010). Prefab architecture: A guide to modular design and construction. John Wiley & Sons. http://books.google.com/books?hl=en&lr=&id=pOCliGMKpzUC&oi=fnd&pg=PT20&dq=PREFAB+ARCHITECTURE:+a+guide+to+modular+design+and+construction&ots=j0n5GteYZ6&sig=wUYE0qhNDvy5tN_r6P9WQe79p4U.Prasetyo, Eka. (2021). Tanah Longsor, 1.105 Warga Ile Boleng Flores Timur Kehilangan Tempat Tinggal. https://m.merdeka.com/peristiwa/tanah-longsor-1105-warga-ile-boleng-flores-timur-kehilangan-tempat-tinggal.html (diakses tanggal 1 Mei 2023).
PELESTARIAN TARI GALOMBANG DUO BALEH MELALUI PENCIPTAAN TARI TATAGOK Pamela Mikaresti; Herlinda Mansyur; Elizar Elizar
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 12, No 1 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i1.43258

Abstract

The existence of the "Galombang Duo Baleh" Dance among the young generation of cultural heirs in Nagari Pitalah is in an alarming condition. It is clear that the lack of interest of the younger generation in learning and preserving the "Galombang Duo Baleh" Dance is because many other interesting things can be played from home without having to gather at the Sasaran. It is evident that Sasaran has begun to be abandoned as a forum for learning various things including silat and the "Galombang Duo Baleh" Dance as games and entertainment for village children in the past. The reasons mentioned above are inseparable from developments in science, technology and art. It is evident that the younger generation prefers online games which are accessed from their respective devices, watching entertainment from YouTube, to being busy in establishing social relations through social media such as TikTok, Instagram, Twitter, Facebook and other social media because they are more interesting. To overcome this, it is necessary to have a new innovation that can attract the interest of the younger generation in learning traditional dance so that it continues to live and develop in the life of the people who inherit it. The dance creation method uses the theory of the stages of creating dance works referring to Alma M Hawkins' theory of motion exploration, motion improvisation, motion composition and motion evaluation. The result of the creation of the development of the "Galombang Duo Baleh" Dance is the "Tatagok" Dance. "Tatagok" dance is a newly created dance that develops the basic movements of the "Galombang Duo Baleh" dance. Learning the "Tatagok" Dance means participating in learning the basics of the "Galombang Duo Baleh" Dance, because the movements of the "Tatagok" Dance come from the basic movements of the "Galombang Duo Baleh" Dance which are packaged in a new form by considering the knowledge of dance composition to make it look more attractive.Kata Kunci: preservation, traditional dance, creation dance. AbstrakEksistensi Tari Galombang Duo Baleh diantara generasi muda pewaris budaya di Nagari Pitalah berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Terlihat jelas bahwa kurangnya minat generasi muda untuk mempelajari dan melestarikan Tari Galombang Duo Baleh karena banyak hal menarik lainnya bisa dimainkan dari rumah tanpa harus berkumpul di Sasaran. Terbukti bahwa Sasaran sudah mulai ditinggalkan sebagai wadah mempelajari berbagai hal termasuk silat dan  gerak Tari Galombang Duo Baleh sebagai permainan dan hiburan anak nagari dahulunya. Penyebab hal yang disebutkan di atas tidak terlepas dari perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, terbukti bahwa generasi muda lebih menyukai permainan online yang diakses dari gawai masing-masing, menonton hiburan dari Youtube, hingga sibuk dalam menjalin hubungan sosial melalui media sosial seperti TikTok, Instagram, Twitter, Facebook dan media sosial lainnya karena lebih menarik. Untuk mengatasi hal demikian, maka perlu adanya sebuah inovasi baru yang bisa menarik minat generasi muda dalam mempelajari tari tradisional agar tetap hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat pewarisnya. Metode penciptaan tari menggunakan teori Tahapan penciptaan karya tari merujuk teori Alma M Hawkins adalah eksplorasi gerak, improvisasi gerak, komposisi gerak dan evaluasi gerak, Hasil penciptaan pengembangan Tari Galombang Duo Baleh adalah Tari Tatagok. Tari Tatagok adalah tari kreasi baru pengembangan gerak dasar Tari Galombang Duo Baleh. Mempelajari Tari Tatagok, berarti ikut mempelajari pakem-pakem Tari Galombang Duo Baleh, sebab gerakan Tari Tatagok berasal dari gerak dasar Galombang Duo Baleh yang dikemas dalam bentuk baru dengan mempertimbangkan ilmu komposisi tari agar terlihat lebih menarik. Authors:Pamela Mikaresti : Universitas TerbukaHerlinda Mansyur : Universitas Negeri PadangElizar : Institut Seni Indonesia Padangpanjang References:Dewi, F. S. P. (2022). Konsep Perkembangan Kognitif Anak Usia Sekolah Dasar dalam Implementasi Pembelajaran Menurut Teori Jeas Piaget (Telaah Buku Teori Perkembangan Kognitif Jean Peaget). Lampung: UIN Raden Intan Lampung.Hajizar, H. (2022). “Pewarisan Tari”. Hasil Wawancara Pribadi: 23 April 2022, Padangpanjang.Hidayat, R. (2022). “Pewarisan Tari”. Hasil Wawancara Pribadi: 24 April 2022, Padangpanjang.Mikaresti, P., Mikaris, Y., & Tamara, C. (2020). Symbolic Meaning of Dance with Masks People’s Life from Muaro/Jambi District. In Proceeding International Conference on Malay Identity (Vol. 1, pp. 162-174).Mikaresti, P., & Mansyur, H. (2022, April). Creating an Indonesian Archipelago Creation Dance for Elementary School-Aged Children. In International Conference on Elementary Education (Vol. 4, No. 1, pp. 542-552).Przybylski, A. K., & Weinstein, N. (2017). A Large-Scale Test of the Goldilocks Hypothesis: Quantifying the Relations Between Digital-Screen Use and the Mental Well-Being of Adolescents. Psychological Science, 28(2), 204-215.Ramlan, P. M., Bahar, M., & Gunawan, I. (2018). Tari Skin Sebagai Identitas Kehidupan Masyarakat Kabupaten Merangin. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora, 2(02), 253-268.Suharto, B. (1985). Komposisi Tari Sebuah Petunjuk Praktis. Yogyakarya: Ikalasti.Susanti, M., Erlinda, E., & Sastra, A. I. (2016). Estetika Main Bungo dalam Penyajian Galombang Duobaleh di Nagari Pitalah Kabupaten Tanah Datar. Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni, 4(1), 13-28.Hadi, Y. S. (2014). Koreografi: Bentuk, Teknik, Isi. Yogyakarta: Cipta Media.  
PERKEMBANGAN TAPESTRI DI BALI Ni Putu Desy Sonnya Suandhari; I Wayan Mudra; Tjokorda Istri Ratna Cora Sudharsana
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 12, No 1 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i1.41109

Abstract

Tapestry is a type of simple weaving structure composed of braiding of warp and feed threads. Currently, tapestry has begun to develop in Indonesian regions such as Bali. This tapestry is widely used as a wall decoration or applied to other products. This study aims to determine the development of tapestry in Bali and its preservation efforts so that it can be used as a reference or reference in understanding tapestry. The method used in this study is a qualitative method with data collection techniques in the form of observation, interviews, documentation, and literature studies on tapestry. The theory used is the tapestry theory to describe more specifically about tapestry and its patterns, and use aesthetic theory. The results of this study show that the development of tapestry has entered Bali and is widely traded, even tapestry craftsmen can be found in Bali but there are still many people who do not know or know about tapestry. The development of motifs can be seen in the diversity of motifs consisting of natural motifs, batik motifs, and abstract motifs. Techniques have also developed, namely there are flat techniques, soumak, giordes, hook joints, and kilite joints. The use of colors has also been diverse and brighter. The Indonesian Institute of the Arts Denpasar also develops tapestry by providing tapestry courses to students and even making tapestri workshops. The conclusion that can be conveyed is that in Bali tapestry has developed in terms of craftsmen / students, motifs, techniques, and their concentration.Keywords: tapestry, development, Bali, learning. AbstrakTapestri merupakan jenis struktur tenun sederhana yang tersusun atas jalinan dari benang lungsi dan pakan. Saat ini tapestri sudah mulai berkembang di daerah-daerah Indonesia seperti Bali. Tapestri ini banyak digunakan sebagai hiasan dinding atau diaplikasikan pada produk-produk lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan tapestri di Bali dan upaya pelestariannya sehingga dapat dijadikan acuan atau referensi dalam pemahaman mengenai tapestri. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi literatur mengenai tapestri. Teori yang digunakan yaitu teori tapestri untuk menjabarkan lebih spesifik mengenai tapestri dan coraknya, serta menggunakan teori estetika. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan tapestri sudah masuk di Bali dan banyak diperjual belikan, bahkan perajin tapestri pun sudah dapat ditemukan di Bali namun masih banyak masyarakat yang belum mengenal atau mengetahui tentang tapestri. Perkembangan motif dapat dilihat keragaman motif yang terdiri dari motif alam, motif batik, dan motif abstrak. Teknik juga mengalami perkembangan yaitu ada teknik rata, soumak, giordes, sambungan kait, dan sambungan kilim. Penggunaan warna juga sudah beragam dan lebih cerah. Institut Seni Indonesia Denpasar juga mengembangkan tapestri dengan memberikan pembelajaran mata kuliah tapestri kepada mahasiswa bahkan hingga membuat workshop tapestri. Simpulan yang dapat disampaikan bahwa di Bali tapestri sudah berkembang dari sisi perajin/mahasiswa, motif, teknik, dan pemaanfatannya.Kata Kunci: tapestri, perkembangan, Bali, pembelajaran. Authors:Ni Putu Desy Sonnya Suandhari : Institut Seni Indonesia DenpasarI Wayan Mudra : Institut Seni Indonesia DenpasarTjokorda Istri Ratna Cora Sudharsana : Institut Seni Indonesia Denpasar References:Ardianti, S. R., & Affanti, T. B. (2021). Pemanfaatan Teknik Tapestri Pada Rompi Dengan Bahan Renda. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 486-494.Astiti, N. P. P. S., & Panggabean, R. (2013). Eksplorasi Ragam Hias Tenun Rangrang (Doctoral dissertation, Bandung Institute of Technology).Dwigantara, A. (2011). Kajian Karya Tapestri Biranul Anaz Zaman Tahun 2006-2020. Skripsi tidak diterbitkan. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.Joesyiana, K. (2018). Penerapan Metode Pembelajaran Observasi Lapangan (Outdor Study) pada Mata Kuliah Manajemen Operasional (Survey pada Mahasiswa Jurusan Manajemen Semester III Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Persada Bunda). PEKA, 6(2), 90-103.Khasanah, A. U. (2019). Penciptaan Round-Weaving Tapestry Dengan Bunga Edelweis (Anaphalis Javanica) Sebagai Inspirasi. Disertasi tidak diterbitkan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.Pramesthi, I. A. N. (2022), “Perkembangan Tapestri di Bali”. Hasil Wawancara Pribadi: 1 Desember 2022, Institut Seni Indonesia Denpasar.Pujaastawa, I. B. G. (2016). Teknik Wawancara dan Observasi untuk Pengumpulan Bahan Informasi. Manuskrif Tidak Diterbitkan. Bali:  Universitas Udayana.Soelistyowati, S. P., & Julia, F. R. (2020). Pemanfaatan Sisa Kain Perca pada Desain Wearable Art dengan Menggunakan Teknik Tapestry.