cover
Contact Name
Adek Cerah Kurnia Azis
Contact Email
adek_peros@yahoo.com
Phone
+6285278021981
Journal Mail Official
gorgajurnalsenirupa@unimed.ac.id
Editorial Address
Jl. Willem Iskandar / Pasar V, Medan, Sumatera Utara – Indonesia Kotak Pos 1589, Kode Pos 20221
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Gorga : Jurnal Seni Rupa
ISSN : 23015942     EISSN : 25802380     DOI : https://doi.org/10.24114/gr.v9i1
Core Subject : Education, Art,
Gorga : Jurnal Seni Rupa terbit 2 (dua) kali setahun pada bulan Juni dan Desember, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran, hasil penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang ditulis oleh para pakar, ilmuwan, praktisi (seniman), dan pengkaji dalam disiplin ilmu kependidikan, kajian seni, desain, dan pembelajaran seni dan budaya.
Articles 846 Documents
KERAJINAN GERABAH UNTUK MENGANGKAT CITRA PRODUK DI MASA TRANSISI COVID 19 DENGAN PENDEKATAN SWOT Muhammad Arfa; Haryono Haryono; Fatimatuzzahra Fatimatuzzahra
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.48890

Abstract

Sales of penujak pottery products fell significantly during the covid 19 period, some craftsmen did not produce pottery, penujak pottery experienced a decrease in demand due to the high level of competition, penujak pottery did not innovate (2) the purpose of this study was to re-brand pottery products so as to help increase product sales pottery and achieve a larger market share; (3) the research method uses the SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) method with an analytical framework used to evaluate product situations by considering internal factors (strengths and weaknesses) and external factors (opportunities and threats). The following are the steps in implementing the SWOT method; (4) the results of this study indicate that during the Covid 19 period there was a decrease in demand for products that were very far from the target market, a decrease in the level of consumer confidence had implications for the Penujak pottery brand.Keywords: pottery, rebranding, SWOT. AbstrakPenjualan produk gerabah penujak turun signifikan pada masa covid 19, beberapa pengrajin tidak memproduksi gerabah, gerabah penujak mengalami penurunan permintaan karena tingkat persaingan yang tinggi, gerabah penujak tidak melakukan inovasi (2) tujuan penelitian ini adalah untuk membrending kembali produk gerabah sehingga membantu meningkatkan penjualan produk gerabah dan mencapai pangsa pasar yang lebih besar; (3) metode penelitian mengggunakan Metode SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) dengan kerangka analisis yang digunakan untuk mengevaluasi situasi produk dengan mempertimbangkan faktor internal (kekuatan dan kelemahan) serta faktor eksternal (peluang dan ancaman). Berikut adalah langkah-langkah dalam menerapkan metode SWOT; (4) hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada masa covid 19 terjadi penurunan permintaan produk yang sangat  jauh dari target pasar, menurunnya tingkat kepercayaan konsumen berimplikasi pada brand gerabah penujak.Kata Kunci: gerabah, rebranding, SWOT. Authors:Muhammad Arfa : Universitas BumigoraHaryono : Universitas BumigoraFatimatuzzahra : Universitas Bumigora References:Adiputra, K., Suardina, I. N., & Mudra, I. W. (2018). Inovasi Kerajinan Gerabah I Wayan Kuturan Di Desa Pejaten Kecamatan Kediri  Kabupaten Tabanan Provinsi Bali. Prabangkara¯: Jurnal Seni Rupa Dan Desain, 22(2), 127“137. https://jurnal.isi-dps.ac.id/index.php/prabangkara/article/view/578.Duari, I. H. H. (2021). Pengembangan Desa Wisata Gerabah dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Pundong Bantul. Media Wisata, 15(1). https://doi.org/10.36276/mws.v15i1.89.Lestari, F., Tocharman, M., & Rukmayadi, Y. (2013). Analisis Keramik Hias Gerabah Plered Untuk Pangsa Export Tahun 2010-2013. Gradasi, 1(3).Hastuti, I. (2013). Perkembangan Usaha Industri Kerajinan Gerabah, Faktor yang Mempengaruhi, dan Strategi Pemberdayaanya pada Masyarakat di Desa Melikan Kecamatan Wedi Kabupaten Klaten. Benefit: Jurnal Manajemen dan Bisnis, 16(2), 127-145.Khotimah, T., & Fiati, R. (2013). Peningkatan Keunggulan Kompetitif Pada Umkm Gerabah Melalui Model E-Business. Simetris¯: Jurnal Teknik Mesin, Elektro Dan Ilmu Komputer, 3(1), 31. https://doi.org/10.24176/simet.v3i1.86.Kurniawan, I. S., & Rinofah, R. (2017). PengaruhLingkungan Bisnis Dan Strategi Operasi Terhadap Kinerja Operasional Pada Ukm Kerajinan Gerabah Kasongan Bantul. SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial Dan Humaniora, 2(2), 6“16.Listyawati, I. H. (2016). Peran Penting Promosi Dan Desain Produk. Jurnal Bisnis, Manajemen, dan Akuntansi, 3(1), 62-70.Nugraha, H. S. (2017). Pengelolaan Modal Pengetahuan Dalam Membangun Kemampuan Inovasi Pada UKM Gerabah Kasongan Kabupaten Bantul. https://media.neliti.com/media/publications/172069-ID-pengelolaan-modal-pengetahuan-dalam-memb.pdf.Panggabean, D. D., Azis, A. C. K., & Syah, D. H. (2018). Peningkatan Daya Saing Produk Industri Rumah Tangga Bon Bon Santan Sonjay Di Kota Medan. Jurnal Pembangunan Perkotaan, 6(1), 40-45.Prastyoko, F. B., Fanani, D., & Mawardi, M. K. (2016). Strategi Pemasaran Kerajinan Gerabah yang Berorientasi Ekspor pada PT. Lombok Putri Cinderamata. Jurnal Administrasi Bisnis (JAB) Vol, 30.Pratiwi, R. (2019). Sentra Kerajinan Gerabah di Malang. JSRW (Jurnal Senirupa Warna), 7(1). https://doi.org/10.36806/jsrw.v7i1.68.Rizana, D., & Syarifudin, A. (2020). Pelatihan Strategi Marketing Bagi Pengrajin Gerabah Desa Gebangsari Klirong Kebumen. JURPIKAT (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat), 1(3), 326-334.Sundari, J., & Nainggolan, E. R. (2017). E-Marketplace Desa Gerabah Untuk Pengrajin Di Desa Bumi Jaya Serang Banten. Journal Industrial Servicess Vol. 3 No. 1a Oktober 2017, 3(1), 68“73.
MENGLOBALISASIKAN BENDAWI KRIYA DI MUSEUM PRABU GEUSAN ULUN DI SUMEDANG, JAWA BARAT Purwo Prihatin; Sunarmi Sunarmi; Santosa Soewarlan
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.55528

Abstract

This writing explains and traces the culture of Nusantara™s bendawi kriya (crafts) that are stored in the Museum Prabu Geusan Ulun in Sumedang, West Java, which are cultural artifacts as evidence of the skills and abilities possessed by the Sundanese ethnic group in West Java. This Sumedang Museum has various kinds of bendawi kriya relics from the Sumedang Larang Kingdom that are unique and have symbols and meanings in Sundanese culture. The method used in this writing uses qualitative data obtained through several techniques, namely reading literature through library studies of written sources related,  direct observation, interviews with the management of the Pangeran Geusan Ulun Foundation and some of the community, Documentation and reviewing documents related to the Museum Prabu Geusan Ulun, visual photo documentation, collections in the Museum Prabu Geusan Ulun can be concluded that this Sumedang Museum contains various bendawi kriya relics from the Sumedang Larang Kingdom, such as keris, kudi, gamelan, traditional clothes, household appliances, weapons, and chariots that are historical evidence of Sundanese culture in the past that have ethnic cultural traditions of kenusantaran as capital to be globalized according to their times.Keywords: Globalize, Craft,MuseumAbstrakTulisan ini menjelaskan dan menelusuri budaya bendawi kriya Nusantara yang tersimpan di  Museum Prabu Geusan Ulun di Sumedang Jawa Barat  yang merupakan artefak budaya sebagai bukti tentang keahlian, ketrampilan yang dimiliki oleh etnis Sunda di Jawa Barat. Museum Sumedang ini memiliki berbagai macam benda peninggalan bendawi kriya dari Kerajaan Sumedang Larang yang khas dan memiliki simbol, makna dalam kebudayaan Sunda. Metode yang digunakan dalam penulisan ini menggunakan data kualitatif yang diperoleh melalui beberapa teknik yaitu membaca literatur melalui studi pustaka sumber-sumber tertulis, observasi langsung, wawancara dengan pengurus Yayasan Pangeran Geusan Ulun dan sebagian masyarakat, Dokumentasi dan mengkaji dokumen-dokumen yang terkait dengan museum Prabu Geusan Ulun, dokumentasi foto visual, koleksi-koleksi yang ada di museum Prabu Geusan Ulun dapat disimpulkan bahwa  Museum Sumedang ini terdapat berbagai benda peninggalan bendawi kriya dari kerajaan Sumedang Larang, seperti keris, kudi, gamelan, pakaian adat, peralatan rumah tangga, senjata, dan kereta kencana yang merupakan bukti sejarah budaya Sunda masa lalu yang memiliki etnisitas budaya tradisi kenusantaraan sebagai modal untuk diglobalkan sesuai zamannya.Kata Kunci: Menglobalisasikan, Kriya, MuseumAuthors:Purwo Prihatin : Institut Seni Indonesia SurakartaSunarmi : Institut Seni Indonesia SurakartaSantosa Soewarlan : Institut Seni Indonesia SurakartaReferencesAsiarto, Luthfi, Ali Akbar, & Dian Sulistyowati, (2012). Museum Dan Pendidikan, Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.Gina, Luthfiatin, & Aam Abdillah, (2022). œSejarah Penyebaran Islam Di Sumedang Melalui Pendekatan Budaya, Jurnal Priangan, Volume 1,  Nomor 01,  Juni, 48-59.Haryono, Joko, Myrza Rahmanita, & Gratia Wirata Laksmi, (2023). œIdentifikasi Komponen Daya Tarik Wisata dan Manajemen Pengelolaan Museum Prabu Geusan Ulun Sebagai Wisata Pusaka di Sumedang, YUME: Journal of Management, Volume 6, Issue 1, 15-27.Hutama, Krishna, (2006). œPencitraan Kriya Sebagai Produk Seni Wisata, Jurnal Dimensi Seni Rupa Dan Desain, Volume 4, Nomor 1, September, 87-95.Juju, Ai Rohaeni, Wanda Listiani, & Khairul Mustaqin, (2018). œDesain Dan Proses Produksi Cinderamata Ikon Pangeran Aria Soeria Atmadja Sumedang, Jurnal Atrat. Vol. 6, No. 2, April, 1001-108.Kurniawan, Aris, (2014). œKajian Historis dan Filosofis Kujang, Jurnal Itenas Rekarupa, No. 1, Vol. 2, JanuariJuni, 29-40.Lucky, Raden (Raja Kerajaan Sumedang Larang). (2023). œMenglobalisasikan Bendawi Kriya Di Museum Prabu Geusan Ulun Di Sumedang, Jawa Barat. Hasil Wawancara Pribadi: 19 Desember 2023. Sumedang.Meisari, Yuliani, Tita Cardiah, & M Togar Mulya Raja, (2021), œRedesain Interior Museum Prabu Geusan Ulun, e- Proceeding of Art & Design, Vol. 8, No.2 April, 667-674.Muhsin, Mumuh Z., (2012). Kujang, Pajajaran, Dan Prabu Siliwangi, Bandung: Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat.Siti, Nita Mudawamah, (2021). œPengelolaan Koleksi Di Museum Musik Indonesia Sebagai Upaya Pelestarian Warisan Budaya, Fihris: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi,  Vol. 16, No.1, Januari-Juni, 1-20.Soewarlan, Santosa, (2015). Membangun Perspektif Catatan Metodologi Penelitian Seni, Surakarta: ISI Press. Sunarmi, (2023). œTradisi Dalam Kontestasi Global Dengan Kasus Interior Rumah Tradisi Dalam Kontestasi Global Orasi Ilmiah dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum, disampaikan dalam Sidang Terbuka Senat Akademik Institut Seni Indonesia Surakarta, tanggal 29 Agustus,  di ISI Surakarta.Sunarmi, (2013). œPeran Riset Dalam Perwujudan Desain, Jurnal Brikolase, Institut Seni Indonesia Surakarta, Volume 5, No. 1, Juli. 14-23.Tubagus, Mochamad Rilo, Neneng Yanti K.L., & Lip Sarip H, (2020). œFungsi Tradisi Ngumbah Pusaka Prabu Geusan Ulun Sumedang Larang, Jurnal Budaya Etnika, Vol. 4 No. 1, Juni, 3-22.Thresnawaty, Euis, (2011). œSejarah  Kerajaan  Sumedang  Larang,  Jurnal  Patanjala, Volume 3, Nomor 1, Maret, 154-158.https://www.museumprabugeusanulun.org/catalogYunitawati, D., & Latifah, L. (2016, Juni). AKecemasan Dan Gangguan Fungsi Tiroid Pada Wanita Usia Subur. Media Gizi Mikro Indonesia, 7(2), 107-116. 10.22435/mgmi.v7i2.6017.107-116.
PEWARNAAN BATIK DENGAN ZAT WARNA ALAM STUDI KASUS : RUMAH BATIK ANUGRAH DI KOTA SUNGAI PENUH PROVINSI JAMBI Nadila Arena; Adriani Adriani
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.50931

Abstract

This research is about natural dyeing. Currently, using natural dyeing on batik cloth is very popular because it produces soft and distinctive colors. Batik Anugrah house uses natural dyeing to color its batik. Even though the use of friendly synthetic materials is used by batik craftsmen due to the easy and comfortable use process, Rumah Batik Anugrah always maintains natural coloring as batik dye. The aim of the research is to describe what natural ingredients are used, recipes for making natural dye extracts, natural dyeing techniques at Batik Anugrah House, Sungai Penuh City. This research method is qualitative. The information is that there are four owners and craftsmen at Batik Anugrah House. The data types are primary and secondary. Data collection was carried out using observation, interviews and documentation techniques. Data analysis techniques are carried out by collecting data, reducing data, presenting data and drawing conclusions. The results of the determination are the natural materials used in Anugrah batik, namely jengkol skin, mango leaves, tingi skin and jalawe. As well as other materials such as TRO to remove starch from the fabric, and materials for locking, namely alum lime, tunjung, and battery water. The recipe for making the extract first prepares the ingredients and tools, jengkol peel, mango leaves, jalawe and tall tree bark cut into small pieces, then boiled, filtered and cooled. The dyeing technique is by dyeing, the dyeing process includes, first, dyeing the fabric in mordant, dyeing with TRO, dyeing with natural color extracts, dyeing in alum, tunjung and lime fixation solutions. After it is loosened, when it is loosened, add soda ash and starch. And the final dipping with battery water.Keywords: recipes, techniques, coloring, natural, batik. AbstrakPenelitian ini adalah tentang pencelupan alami. Saat ini menggunakan pencelupan alami pada kain batik sangat diminati karena memperoleh warna yang lembut dan khas. Di Rumah Batik Anugrah menggunakanpencelupan alami sebagai pewarnaan batiknya. Meskipun penggunaan bahan sintetis ramah digunakan oleh pengrajin batik dikarenakan proses penggunaan yang mudah dan nyaman, namun Rumah Batik Anugrah selalu menjaga pewarnaan alami sebagai pewarna batik. Tujuan penelitian untuk mendeskripsian apa bahan alami yang digunakan, resep pembuatan ekstrak pewarna alami, teknik pewarnaan alami di Rumah Batik Anugrah, kota Sungai Penuh. Motode penelitian ini kualitatif. Informannya pemilik dan pengrajin di Rumah Batik Anugrah berjumlah empat orang. Jenis datanya primer dan sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penentuan yaitu bahan alami yang digunakan di Batik Anugrah yaitu kulit jengkol, daun mangga, kulit tingi dan jalawe.Serta bahan lainya seperti TRO untuk menghilangkan kanji yang ada di kain, dan bahan untuk pengunci yaitu kapur tawas, tunjung, dan air aki. Resep membuat ekstrak yang pertama menyiapkan bahan dan alat, kulit jengkol,daun mangga, jalawe dan kulit kayu tingi dipotong kecil-kecil, kemudian direbus, disaring, dan didinginkan. Teknik pewarnaan dengan cara mencelup, proses pencelupan meliputi, pertama pencelupan kain pada mordan, pencelupan dengan TRO, pencelupan dengan ekstrak warna alam, pencelupan pada larutan fiksasi tawas, tunjung dan kapur. Setelah itu dilorot, waktu nglorot tambahkan soda abu dan tepung kanji. Pencelupan yang terakhir dengan air aki.Kata Kunci: resep, teknik, pewarnaan, batik, alami. Authors:Nadila Arena : Universitas Negeri Padang   Adriani : Universitas Negeri Padang References:Arifin, Z. (2011). Penelitian Pendidikan.Bandung: Remaja Rosda.Dewy, S. S., & Novrita, S. Z. (2019). Pengaruh Perbedaan Larutan Celup (Vlot) Terhadap Hasil Pencelupan Zat Warna Alam Ekstrak Bawang Dayak (Eleutherine Palmifolia (L.) Merr.) Pada Bahan Sutera Dengan Mordan Tawas. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 8(1), 249-254. https://doi.org/10.24114/gr.v8i1.13623Eriani W., & Purnama, E. (2017). Pengaruh Waktu Merasi, Perlakuan Bahan Dan Zat Fiksasi Pada Pembuatan Warna Alami Daun Ketapang.Jurnal Teknik Kimia, 1(1): 1- 11.http://eprints.ums.ac.id/id/eprint/56762Hamidin, Aep S. (2010). Batik Warisan Budaya Asli Indonesia. Yogyakarta: PKK FT UNY.Kamala, N., & Adriani, A. (2019). Studi Tentang Motif Dan Pewarnaan Batik Cap Dengan Zat Pewarnaan Alam Di Rumah Batik Dewi Busana Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 8(2), 303-307.  https://doi.org/10.24114/gr.v8i2.14703Linda, T. (2023). œTeknik Pewarnaan Alam. Hasil Wawancara Pribadi:18 Juli 2023, Universitas Negeri Padang.Lisbijanto, Herry. (2013).Batik. Yogyakarta: Graha Ilmu.Paryanto, Purwanto, A., Kwartiningsih, E., & Mastuti, E. (2012). Pembuatan Zat warna Alami dalam Bentuk Serbuk untuk MendukungIndustri Batik di Indonesia.JurnalRekayasaProses, 6(1):26-29.https://doi.org/10.22146/jrekpros.2454Fitrida, A. (2023). œZat Warna Alam. Hasil Wawancara Pribadi:15 Juli 2023, Universitas Negeri Padang.Yuliana, E., & Adriani, A. (2022). Studi Tentang Pewarnaan Alam Batik Studi Kasus di Rumah Batik Krinok Kecamatan Rantau Pandan Kabupaten Muara Bungo Jambi. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 178-184. https://doi.org/10.24114/gr.v11i1.32889Yuliari, G, Nurchayati., & Firyanto, R. (2021). Aplikasi Metoda Pewarnaan Batik Non-Kimia Berbasis Kolaboratif-Partisipatif.Semarang: Butterfly Mamoli Press.Zola, A., & Efi, A. (2022). Pewarnaan Alam Dengan Biji Kusumba Dan Daun Ketapang Studi Kasus di Kabupaten Bungo. Gorga: Jurnal Seni Rupa,11(1), 225-230. https://doi.org/10.24114/gr.v11i1.32195
DIFFERENCES IN TAMARIND, KANDIS ACID, AND STARFRUIT MORDANTS IN THE EFFECT OF DYEING KEDONDONG PAGAR (LANNEA NIGRITANA) BARK EXTRACT ON COTTON FABRIC Yesikaberli Yesikaberli; Adriani Adriani
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 2 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i2.62612

Abstract

The retentiveness of the color is influenced by the mordant. Mordant can be an corrosive. This ponder points to portray the contrast in mordant on the comes about of coloring kedondong pagar bark extricate on cotton fabric. This sort of investigate is exploratory inquire about. This consider employments essential information determined from 15 panelists, analyzed by the Friedman K-related Test test with the Factual Item and Benefit Arrangement application. The results of dyeing with tamarind mordant produced Clam Shell Pink color #D2AAA0. The color lightness is quite bright. Washing resistance in the first and second washes, the color has no change at all; in the third wash, the color changes slightly or decreases. The result of dyeing with the kandis acid mordant produces Clam Shell Pink color #E1B19F. The light darkness of the color is very bright. Washing resistance in the first and second washings, the color changes or decreases slightly; in the third washing, the color is seen to change or decrease. The result of dyeing with belimbing wuluh mordant produces warm brown color #D3A599. Light dark color. Washing resistance: in the first wash, the color has no change at all; in the second wash and the third wash, the color changes slightly or decreases. The comes about of the investigation of the Friedman K-related Test test for dim light color with the result that Hₐ is acknowledged and H0 is rejected, meaning there's a noteworthy distinction. washing resistance with the result that Hₐ is acknowledged and H₀ is rejected, meaning there's a noteworthy contrast. It can be concluded that there is a difference in the mordant of tamarind, kandis acid, and starfruit on the dyeing of kedondong pagar bark extract.
PENCIPTAAN FILM DOKUMENTER œSOTUNG MAGO MENGGUNAKAN GAYA EKSPOSITORY Surya Darma; Sri Wahyuni; Haga Putra Arza Polem
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.49069

Abstract

Sotung Mago is a Batak language which means don't disappear. The film Sotung Mago explains anxiety to the younger generation of children who do not know and understand the meaning of art, especially in this case the Toba Batak. According to Dennis Huisman art can be conceptualized as an activity imitating nature, an activity playing around with art forms. Art can be equated with work methods or carpentry methods and techniques. Meanwhile, culture contains the whole understanding of values, norms, knowledge and all social, religious and other structures. Art and culture are usually interrelated or related which are inherited by the community, especially in this case the Batak. However, not a few people have ignored the artistic heritage in the Toba Batak so that the current generation doesn't know about it. The purpose of this research is to explore the creation of the documentary film œSotung Mago using expository style and to visualize several Toba Batak arts through documentary films. The method used refers to the stages of creative creation, namely the Preparation Stage, Incubation Stage, Illumination Stage (inspiration stage), and finally the Verification stage (proof or testing stage). The results of the Creation of the Documentary Film "Sotung Mago" use the expository documentary model so that the visuals look natural, descriptive, and informative through explanations from several relevant sources, and added Voice Over (VO) so that the audience can more easily understand the flow of this expository documentary model. Keywords: sotung mago, batak art, expository.  AbstrakSotung Mago merupakan Bahasa Batak yang memiliki arti jangan sampai menghilang. Film Sotung Mago menjelaskan keresahan kepada anak-anak generasi muda yang kurang mengetahui dan memahami mengenai makna kesenian khususnya dalam hal ini Batak Toba. Menurut Dennis Huisman seni dapat dikonsepsi sebagai kegiatan meniru alam, kegiatan bermain-main dengan bentuk seni. Seni dapat dipadankan dengan cara kerja atau metode dan teknik pertukangan. Sedangkan budaya mengandung keseluruhan pengertian nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius dan lain-lain. Kesenian dan kebudayaan biasanya saling berkaitan atau berhubungan yang diwarisi oleh masyarakat khususnya dalam hal ini Batak. Namun, tidak sedikit masyarakat yang telah mengabaikan warisan kesenian dalam Batak Toba sehingga generasi saat ini kurang mengetahui hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mngekplorasi penciptaan film dokumenter œSotung Mago dengan menggunakan gaya ekspository serta memvisualisasikan beberapa kesenian Batak Toba melalui film dokumenter. Metode yang digunakan merujuk pada tahapan-tahapan penciptaan kreatif yaitu Tahap Preparation (persiapan), tahap Incubation (Pengeraman), Tahap Ilumination (tahap ilham, inspirasi), Terakhir tahap Verification (tahap pembuktian atau pengujian). Hasil Penciptaan Film Dokumenter œSotung Mago menggunakan model dokumenter ekspository agar visualnya terlihat alami, mendesktiptif, dan informatif melalui penjelasan dari beberapa narasumber terkait, dan ditambah dengan Voice Over (VO) sehingga penonton lebih mudah memahami alur model dokumenter ekspository ini.Kata Kunci: sotung mago, kesenian batak, ekspository.  Authors:Surya Darma : Universitas Potensi UtamaSri Wahyuni : Universitas Potensi UtamaHaga Putra Arza Polem : Universitas Potensi UtamaReferences:Armanto, R. B., Paramita, P., & Suryana, S. (2017). Penulisan Skenario Film Panjang. Jakarta : Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta. Gerzon, R. A. (2017). Dokumenter : Dari Ide Sampai Produksi. Jakarta: FFTV IKJ. Minawati, R. (2014). Musik Pada Film Bukan Sekedar Latar. Jurnal Musikologi Penciptaan dan Pengkajian. Kartono, G., Sugito, S., & Azis, A. C. K. (2021). Pengembangan Bahan Ajar Bermuatan Lokal Batak untuk Sekolah Menengah di Kota Medan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(1), 215-222.Nurcahyani, I. (2017). Penciptaan Film Dokumenter œArtisan Dengan Gaya Ekspositori (Doctoral Dissertation, Institut Seni Indonesia Yogyakarta).Wibowo, P. N. H. (2019). Penciptaan Film Pendek Terinpirasi dari Kotak Pertanyaan Pelajaran Khas di SD Eksperimental Mangunan. TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema, 16(2).Pratista, H. (2008). Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.Sahman, H. (1993). Mengenali Dunia Seni Rupa tentang Seni, Karya Seni, Aktifitas Kreatif, Apresiasi, Kritik dan Estetika. Semarang: IKIP Semarang Press.Sugiharti, A. (2016). Perancangan Buku Mengenal Dunia Seni Rupa untuk Anak Usia Dini. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.Sugiyono, S. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.Wahyuni, S., Darma, S., & Saaduddin. (2021). Penciptaan Film Fiksi œDibalik Sungai Ular Menggunakan Alur Non-Linear. Gorga : Jurnal Seni Rupa, 10 (01), 45-55. https://doi.org/10.24114/gr.v10i1.22018
PENGARUH MORDAN TERHADAP HASIL ECOPRINT DAUN PEPAYA JEPANG (CNIDOSCOLUS ACONITIFOLIUS) PADA BAHAN KATUN Fawzia Arsa; Adriani Adriani
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.52845

Abstract

Japanese papaya is one of the plants that can be utilized as an ecoprint textile motif, which has finger-shaped leaves, pointed leaf tips, and contains tannin dye. The aim of this research is to describe the name of the color (hue), the clarity of the shape of the leaf motif, the washing resistance and the influence of whiting and tunjung mordant on the clarity of the leaf motif shape and the washing resistance. This research is experimental research. The data in this study used primary data with a data collection method in the form of a questionnaire distributed to 18 respondents. The data analysis technique uses frequency percentages using the SPSS program with the Friedman K-Related Sample Test. Based on the results of the ecoprint experiment of Japanese papaya leaves on cotton using whiting mordant, the color name (hue) obtained was muddy waters brown and tunjung mordant produced the color name (hue) dark olive green. The clarity of the shape of the Japanese papaya leaf ecoprint motif using whiting and tunjung mordant produces a clear category. The washing resistance obtained by the Japanese papaya leaf ecoprint using whiting mordant was good, while tunjung mordant was very good. The results obtained from the Friedman K-Related test on the clarity of the motif shape were 0.000<0.05, Ho was rejected, indicating that there was a difference due to the influence of the use of whiting and tunjung mordant on the clarity of the leaf motif shape. The results of washing resistance of whiting mordant were 0.000<0.05. The washing resistance obtained by Tunjung mordant was 0.003<0.05. This shows that there are differences due to the use of whiting and tunjung mordant on washing resistance.Keywords: influence, mordant, ecoprint, Japanese papayaAbstrakSalah satu tanaman yang dapat dijadikan sebagai motif tekstil dengan teknik ecoprint yaitu pepaya jepang, yang memiliki bentuk tulang daun menjari, ujung daun runcing, dan mengandung zat warna tanin. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan nama warna (hue),  kejelasan bentuk motif daun, ketahanan cuci dan pengaruh mordan kapur sirih dan tunjung terhadap kejelasan bentuk motif daun dan ketahanan cuci. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Data dalam penelitian ini menggunakan data primer dengan metode pengumpulan data berupa kuesioner disebarkan kepada 18 responden. Teknik analisis data menggunakan persentase frekuensi menggunakan bantuan program SPSS  dengan Uji Friedman K-Related Sample. Berdasarkan hasil eksperimen ecoprint daun pepaya jepang pada bahan katun menggunakan mordan kapur sirih nama warna (hue) yang diperoleh adalah muddy waters brown dan mordan tunjung menghasilkan nama warna (hue) dark olive green. Kejelasan bentuk motif ecoprint daun pepaya jepang menggunakan mordan  kapur sirih dan tunjung menghasilkan kategori jelas. Ketahanan cuci yang didapatkan ecoprint daun pepaya jepang menggunakan mordan kapur sirih adalah baik, sedangkan mordan tunjung adalah sangat baik. Hasil yang didapatkan dari uji Friedman K-Related  terhadap kejelasan bentuk motif ialah 0,000<0,05, Ho ditolak, menunjukkan terdapatnya perbedaan akibat pengaruh penggunaan mordan kapur sirih dan tunjung terhadap kejelasan bentuk motif daun. Hasil ketahanan cuci mordan kapur sirih ialah 0,000<0,05. Ketahanan cuci yang diperoleh mordan tunjung ialah 0,003<0,05. Hal ini menunjukkan terdapatnya  perbedaan akibat penggunaan mordan kapur sirih dan tunjung pada ketahanan cuci.Kata Kunci: pengaruh, mordan, ecoprint, pepaya jepang Authors:Fawzia Arsa : Universitas Negeri PadangAdriani : Universitas Negeri Padang References:A`inayah, I., & Sulandjari, S. (2018). Pengaruh Jenis dan Massa Mordan Terhadap Hasil Pewarnaan Alami Buah Galing pada Jaket Batik Bahan Denim. e-Journal, 07(01), 28“33.Adriani, & Atmajayanti, C. (2023). PENGARUH MORDAN TUNJUNG DAN KAPUR SIRIH TERHADAP HASIL Ecoprint Daun Iler (Coleus Scutellarioides Linn. Benth). Gorga Jurnal Seni Rupa, 12(01), 231“236.Arif, W. F. (2019). Uji Coba Warna Daun Sirih Merah dengan teknik Pounding dan Steam. Seni Rupa, 07(02), 73“84.Awwalie, I. Q. (2022). Pengaruh Frekuensi Pencelupan dan Jenis Mordan dari Ekstrak Daun Ketapang sebagai Pewarna Alami Kain Batik. Jurnal Narada, 9(2), 169“182. https://doi.org/10.2241/narada.2022.v9.i2.004Budiyono. (2008). Kriya Tekstil. Departemen Pendidikan Kebudayaan Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.Dailala, I. (2018). Karakteristik Morfologi dan Anatomi Chrysanthemum Morifolium Ramat. Var. Puspita Nusantara dan Var. Tirta Ayuni serta Chrysanthemum Indicum L. Var. Mustika Kaniya sebagai Sumber Belajar pada Mata Kuliah Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Universitas Islam Negeri Walisongo.Fatihaturahmi, & Novrita, S. Z. (2019). Pengaruh Perbedaan Mordan Tawas dan Kapur Sirih Terhadap Hasil Pencelupan Ekstrak Daun Sawo Menggunakan Bahan Sutera. Gorga Jurnal Seni Rupa, 08(01), 237“242.Fitrihana, N. (2007). Teknik Eksplorasi Zat Pewarna Alam Dari Tanaman di Sekitar Kita untuk Pencelupan Bahan Tekstil. PKK FT UNY.Fox, A. (2015). Natural Processes in Textile Art. Pavilion Books.Haffida, A. A. N., & Rahadhian, F. D. (2017). Ekstraksi Zat Tanin Dari Bahan Alami dengan Metode Steam Extraction. Institut Teknologi Sepuluh Nopember.Hawa, L. C., Nada, U. Q., & Sumarlan, S. H. (2023). Karakteristik sifat fisikokimia sabun cuci cair menggunakan sari lerak sebagai surfaktan alami. Agrointek, 17(1), 213“221. https://doi.org/10.21107/agrointek.v17i1.10696Irianingsih, N. (2018). Yuk Membuat Eco Printing. PT Gramedia Pustaka.Jiménez-arellanes, M. A., Martínez, I.-M., & Tomé, S.-R. (2015). Potencial biológico de especies medicinales del género Cnidoscolus (Euphorbiacea). Revista Mexicana De Ciencias Farmaceuticas, 45(4).Kusumaningtyas, I. A., & Wahyuningsih, U. (2021). Analisa hasil penelitian tentang teknik ecoprint menggunakan mordan tawas, kapur, dan tunjung pada serat alam. Jurnal Tata Busana, 10(3), 9“12. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-tata-busana/article/view/42976Munzi, R. (2007). Pengetahuan Bahan Seni Rupa dan Kriya. UNP Press.Naini, U., & Hasmah. (2021). Penciptaan Tekstil Teknik Ecoprint dengan Memanfaatkan Tumbuhan Lokal Gorontalo. Jurnal Ekspresi Seni, 23(1), 266“276.Obichi, Monago, E., Belonwu, C., & DC. (2015). Effect of Cnidoscolus aconitifolius ( Family Euphorbiaceae ) Aqueous Leaf Extract on Some Antioxidant Enzymes and Haematological Parameters of High Fat Diet and Streptozotocin Induced Diabetic Wistar Albino Rats . Journal Of A Applied Science, 19(1), 201“209.Pambudi, A., Noriko, N., Swandari, R., Azura, P. R., Mesjid, K., Al, A., Sisingamangaraja, J., Baru, K., & Selatan, J. (2014). Identifikasi Bioaktif Golongan Flavonoid Tanaman Anting-Anting ( Acalypha indica L.) 1. 3, 178“187.Revianti, M. M., & Novrita, S. Z. (2019). PENGARUH MORDAN TERHADAP PENCELUPAN EKSTRAK DAUN PURING (Codiaeum Variegatum) PADA BAHAN KATUN. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 8(2). https://doi.org/10.24114/gr.v8i2.15716Ridwan, R. (2015). Pengaruh Perendaman Kulit Buah Lindur (Bruguiera gymnorrhiza) Terhadap Kadar HCN dan Senyawa Bioaktif (Kajian Lama Waktu Perendaman dan Konsentrasi Kapur Sirih). Universitas Brawijaya.Saputri, A., & Novrita, S. Z. (2021). Perbedaan Berat Mordan Tunjung, Tawas dan Kapur Sirih Terhadap Hasil Pencelupan Kulit Buah Alpukat pada Bahan Katun. Jurnal Pendidikan, Busana, Seni, dan Teknologi, 03(02), 80“90.Sari, S. N., Rini, P., & Hayati. (2021). Studi Farmakognisi, Fitokimia dan Aktivitas Farmakologi Tanaman Pepaya Jepang (Cnidoscolus aconitifolius (MILL.) I.M JOHNSTON). Farmasains, 14(18), 1“15.Sartika, D., & Adriani. (2023). Pengaruh Mordan Jeruk Nipis dan Jeruk Purut Terhadap Hasil Pewarnaan Eco Print Daun Jarak Pagar (Jatropha Curcas) pada Bahan Katun. Relief: Journal of Craft, 2(2), 10“15.Simanungkalit, Y. S., & Syamwil, R. (2020). Teknik Ecoprint dengan Memanfaatkan Limbah Mawar ( Rosa Sp .) pada Kain Katun. Fashion and Fashion Education Journal, 9(1), 90“98.Sofyan, Failisnur, & Sy, S. (2015). Pengaruh perlakuan limbah dan jenis mordan kapur, tawas, dan tunjung terhadap mutu pewarnaan kain sutera dan katun menggunakan limbah cair gambir (Uncaria Gambir Roxb). Jurnal Litbang Industri, 5(2), 79“89.Syafitri, R. (2015). PERBEDAAN PERBANDINGAN LARUTAN CELUP (VLOT) TERHADAP HASIL PENCELUPAN BAHAN SUTRA MENGGUNAKAN EKSTRAK KELOPAK BUNGA ROSELLA (HIBISCUS SABDARIFFA L) DENGAN MORDAN TAWAS (AL2(SO4)3). Journal of Home Economics ¦, 151(September), 10“17.Yuled, U. R., & Adriani. (2021). Perbedaan Mordan Tunjung dan Baking Soda Terhadap Hasil Pencelupan Bahan Katun dengan Menggunakan Ekstrak Kunyit (Curcuma Longa). Jurnal Pendidikan, Busana, Seni, dan Teknologi, 3(2), 97“103.Zulikah, K., & Adriani, A. (2019). PERBEDAAN TEKNIK MORDANTING TERHADAP HASIL PENCELUPAN BAHAN KATUN PRIMISIMA MENGGUNAKAN WARNA ALAM EKSTRAK DAUN LAMTORO (Leucaena leucocephala) DENGAN MORDAN KAPUR SIRIH. Gorga Jurnal Seni Rupa, 8(1), 209. https://doi.org/10.24114/gr.v8i1.13179
GLITCH ART SEBAGAI REFLEKSI MEMORI MANUSIA YANG RAPUH: SEBUAH PENCIPTAAN KARYA SENI Hadiyan Yusuf Kuntoro
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.52291

Abstract

AbstractIn the era that has entered the digital revolution, academic publication articles on the creation of digital-based fine art are still not widely found compared to the creation of conventional fine art. One area of the digital art creation that has a limited number of academic publication articles is the creation of glitch art. In this article, the creation of glitch art is presented along with the explanation of the definition of glitch art, the methods of creation, the technical embodiment, and the concrete artworks. The creation method follows the nine stages of creation: preparation, concentration, incubation, ideation, insight, verification, planning, production, and validation. Glitch art as the visual idea is used as an object to express the creative idea about the fragility of human memory. The technique used in the artwork creation is data bending. By utilizing the digital visual data as the metaphor for memory, the distortion process is carried out to create artistic expressions in the artworks. The application used in the distortion process is Audacity, an open-source digital audio editor application software. The purpose of this article is to enrich the variety of academic publication articles on the topic of fine art creation which are still dominated by the conventional fine art creation articles.Keywords: digital art, glitch art, memory, data bending, contemporary art.AbstrakDi era revolusi digital, paparan dalam ranah publikasi ilmiah mengenai penciptaan seni rupa berbasis digital masih belum banyak ditemukan dibandingkan dengan penciptaan seni rupa konvensional. Salah satu cabang dari penciptaan seni rupa digital yang paparan publikasi ilmiahnya masih terbatas adalah tentang penciptaan karya glitch art. Dalam artikel ini, penciptaan karya glitch art dipaparkan dengan penjelasan perihal definisi glitch art, metode penciptaan, teknis perwujudan, dan wujud konkret karya. Metode penciptaan karya mengikuti sembilan tahapan penciptaan, yaitu preparation, concentration, incubation, ideation, insight, verification, planning, production, dan validation. Glitch art sebagai gagasan visual dijadikan wadah untuk mengekspresikan gagasan kreatif kerapuhan memori manusia. Teknik yang digunakan dalam penciptaan karya adalah data bending. Dengan memanfaatkan data visual digital sebagai metafora dari memori, proses distorsi dilakukan guna menciptakan ungkapan-ungkapan yang artistik dalam karya. Aplikasi yang digunakan dalam proses distorsi adalah Audacity, sebuah aplikasi edit audio digital berbasis open-source. Artikel penciptaan ini bertujuan untuk memperkaya ragam artikel penciptaan pada publikasi ilmiah yang selama ini masih didominasi oleh artikel penciptaan seni rupa konvensional.Kata Kunci: seni digital, glitch art, memori, data bending, seni kontemporer Author:Hadiyan Yusuf Kuntoro : Institut Seni Indonesia Yogyakarta ReferencesAbdullah, A. M. (2021). Paradoks Bunuh Diri sebagai Ide dalam Penciptaan Karya Seni Grafis. Journal of Contemporary Indonesian Art, 7(1). 50-56. https://doi.org/10.24821/jocia.v7i1.5276Adam, S. (2018). Seni Lukis sebagai Refleksi Ketidakberdayaan dan Keterpinggiran Cokek. Mudra Jurnal Seni Budaya, 33(1), 1-8. https://doi.org/10.31091/mudra.v33i1.323Adityatama, R. (2020). Apresiasi pada Film Menumbuhkan Rasa Empati sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Grafis. Journal of Contemporary Indonesian Art, 6(2), 121-129. https://doi.org/10.24821/jocia.v6i2.5113Asa, F. O., Ahdi, S., & Elpatsa, A. (2021). Fenomena Korupsi: Tikus sebagai Inspirasi Lukis. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 508-514. https://doi.org/10.24114/gr.v10i2.28059Ayuningtari, A. W. K. (2022). Youth Cyberbullying sebagai Tema Penciptaan Karya Seni Lukis. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 521-528. https://doi.org/10.24114/gr.v11i2.39164Botella, M., Zenasni, F., & Lubart, T. (2011). A Dynamic and Ecological Approach to the Artistic Creative Process of Arts Students: An Empirical Contribution. Empirical Studies of the Arts, 29(1), 17-38. https://doi.org/10.2190/EM.29.1.bBullot, N. J., Seeley, W. P., & Davies, S. (2017). Art and Science: A Philosophical Sketch of Their Historical Complexity and Codependence. The Journal of Aesthetics and Art Criticism, 75(4), 453-463. https://doi.org/10.1111/jaac.12398Cahyono, E. (2020). Kehidupan Fauna sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Patung. Journal of Contemporary Indonesian Art, 6(1), 28-37. https://doi.org/10.24821/jocia.v6i1.4722Crowther, P. (2008). Ontology and Aesthetics of Digital Art. The Journal of Aesthetics and Art Criticism, 66(2), 161-170. https://doi.org/10.1111/j.1540-6245.2008.00296.xden Heijer, E. (2013). Evolving Glitch Art. Dalam P. Machado, J. McDermott, A. Carballal (Eds.), Evolutionary and Biologically Inspired Music, Sound, Art and Design (pp. 109-120). Springer. https://doi.org/10.1007/978-3-642-36955-1_10Dickerson, B. C., & Eichenbaum, H. (2010). The Episodic Memory System: Neurocircuitry and Disorders. Neuropsychopharmacology, 35(1), 86-104. https://doi.org/10.1038/npp.2009.126Faruq, U., & Hamzah, A. (2022). Living Qur™an dalam Karya Seni Lukis. Journal of Contemporary Indonesian Art, 8(2). 122-131.Fritz, D. (2016). International Networks of Early Digital Arts. Dalam C. Paul (Ed.), A Companion to Digital Art (pp. 46-68). John Wiley & Sons Inc. https://doi.org/10.1002/9781118475249.ch2Galanter, P. (2016). Generative Art Theory. Dalam C. Paul (Ed.), A Companion to Digital Art (pp. 146-180). John Wiley & Sons Inc. https://doi.org/10.1002/9781118475249.ch5Goodfellow, P. (2022). Channelling the Unknown: Noise in Art Ecosystems. Arts, 11(2), 39. https://doi.org/10.3390/arts11020039Hidayatulloh, T. I. I. (2022). Visualisasi Ibu dan Ayah dalam Karya Patung Assembling. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 505-512. https://doi.org/10.24114/gr.v11i2.39923Kane, C. L. (2016). GIFs that Glitch: Eyeball Aesthetics for the Attention Economy. Communication Design, 4(1-2), 41-62. http://doi.org/10.1080/20557132.2016.1275478Kemper, J. (2023). Glitch, the Post-digital Aesthetic of Failure and Twenty-First-Century Media. European Journal of Cultural Studies, 26(1), 47-63. https://doi.org/10.1177/13675494211060537Kusrini. (2016). Fotografi Jalanan: Membingkai Kota dalam Cerita. Journal of Urban Society™s Arts, 3(2), 102-109. https://doi.org/10.24821/jousa.v3i2.1482Liffa, M., & Sihite, O. (2023). Coffee Shop sebagai Ide Penciptaan Seni Lukis Kaca dengan Teknik Reverse. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 12(1), 70-78. https://doi.org/10.24114/gr.v12i1.40961Lilipaly, M. R. H., & Wiyono. (2022). Visualisasi Garis Tangan Biografi Tokoh sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Lukis. Journal of Contemporary Indonesian Art, 8(1), 39-48.Menkman, R. (2011). The Glitch Moment(um). Institute of Network Cultures. https://networkcultures.org/_uploads/NN%234_RosaMenkman.pdfMigotuwio, N. (2020). Aspek Komunikasi Visual dan Estetika pada Karya Desain Grafis Bergaya Glitch Art. Journal of Contemporary Indonesian Art, 6(1), 48-64. https://doi.org/10.24821/jocia.v6i1.3901Peña, E., Dobson, T. M., & Juárez, O. (2017). Pixualization: Glitch Art and Data Visualization. InfoDesign - Revista Brasileira De Design Da Informação (InfoDesign - Brazilian Journal of Information Design), 14(1), 89-105. https://doi.org/10.51358/id.v14i1.502Prastyo, I. D., & Zarkasi, M. S. (2019). Wujud Rasa Syukur sebagai Keluarga Petani dalam Visual Karya Seni Grafis. Brikolase: Jurnal Kajian Teori, Praktik, dan Wacana Seni Budaya Rupa, 11(1), 52-69. https://doi.org/10.33153/brikolase.v11i1.2675Puyt, R. W., Lie, F. B., & Wilderom, C. P. M. (2023). The Origins of SWOT Analysis. Long Range Planning, 56(3), 102304. https://doi.org/10.1016/j.lrp.2023.102304Qeis, M. I., & Azizi, M. F. (2017). Eksplorasi Visual Psychedelic Experience Melalui Ilustrasi Berbasis Seni Psychedelic. Jurnal Desain, 4(3), 275-281. http://dx.doi.org/10.30998/jurnaldesain.v4i03.1608Read, S., Comas-Herrera, A., & Grundy, E. (2020). Social Isolation and Memory Decline in Later-life. The Journal of Gerontology: Series B, 75(2), 367-376. https://doi.org/10.1093/geronb/gbz152Shaw, D. B. (2020). The Aesthetics of Retrieval: Beautiful Data, Glitch Art, and Popular Culture. Anthropocenes - Human, Inhuman, Posthuman, 1(1), 13. https://doi.org/10.16997/ahip.15Sufajar, H. B. (2020). Barang Sehari-hari sebagai Metafor dalam Penciptaan Seni Patung. Journal of Contemporary Indonesian Art, 6(2), 101-106. https://doi.org/10.24821/jocia.v6i2.5098Wiggins, R. H., Davidson, H. C., Harnsberger, H. R., Lauman, J. R., & Goede, P. A. (2001). Image File Formats: Past, Present, and Future. RadioGraphics, 21(3), 789-798. https://doi.org/10.1148/radiographics.21.3.g01ma25789
EDUCATIVE BOARD GAME DESIGN AS AN ANTI-BULLYING CAMPAIGN MEDIA FOR CHILDREN AGED 9-12 YEARS OLD Ainun Adila; Nurul Fitriana Bahri; Hanif Azhar
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 2 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i2.61305

Abstract

Bullying cases in educational institutions have shown high numbers each year, with the highest cases in 2023 occurring in elementary schools. This was validated by the 4th-grade homeroom teacher at SDN 119 Cijagra, Mrs. Novriza Puspita Widiyana, S.Pd., who reported at least three bullying cases each month. Based on the characteristics of children aged 9-12, the use of educational toys can be an effective solution as a medium for campaigning anti-bullying values. Board games, which involve experimental learning, direct interaction, and actions that engage children's socio-emotional skills in relation to their environment, can effectively help children aged 9-12 absorb the values being taught through educational play tools. This study aims to design educational toys as a medium for anti-bullying campaigns that support the socio-emotional development of children aged 9-12 by applying the concept of board games. The research is conducted using a qualitative method with a case study approach and the ADDIE design method (Analyze, Design, Development, Implementation, and Evaluation). Data collection techniques used include observation, interviews, documentation, questionnaires, and literature review. This study is expected to serve as an effective and enjoyable campaign medium for children aged 9-12.
MUATAN BUDAYA CHINA DALAM DESAIN KARAKTER YUN JIN GAME GENSHIN IMPACT Fauzia Nurrahma Dewi; Intan Rizky Mutiaz
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.49133

Abstract

Genshin Impact is an open world game where the character details of each religion represent the culture of several countries, one of which is the character design in Liyue which takes representations of Chinese culture. The small details of the combination of cultural representations are the reason this research was conducted to answer the relationship between the use of culture in the game and in the real world. This research will use qualitative methods in the form of Roland Barthes semiotic analysis. The results related to the use of culture in Yun Jin's character design show that Chinese culture shown with idle and skill displays represents the culture of Chinese art called Chinese Peking opera role-playing art with the role played, namely the role of Wusheng. The design used in the design of Yun Jin is one way to renew the introduction of Chinese culture so that it is more easily accepted and recognized in a wide audience. The design used to strengthen the impression given by Yun Jin that as an artist also has an authority that is carried in a display of artwork.Keywords: Chinese culture, genshin impact, liyue, semiotics. AbstrakGenshin Impact merupakan game open world yang detail karakter dari setiap religion merepresentasikan budaya yang ada di beberapa negara, salah satunya yaitu pada desain karakter yang ada di Liyue yang mengambil representasi budaya China. Detail-detail kecil dari perpaduan representasi budaya tersebut menjadi alasan penelitian ini dilakukan guna menjawab keterkaitan dari penggunaan budaya di dalam game dengan di dunia nyata. Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif dalam bentuk analisis semiotika Roland Barthes. Hasil  terkait penggunaan budaya pada desain karakter Yun Jin menunjukan bahwa budaya China yang ditunjukan dengan tampilan idle dan skill merepresentasikan budaya kesenian China yang bernama kesenian bermain peran opera peking China dengan peran yang dimainkan yaitu peran Wusheng. Desain yang digunakan dalam desain Yun Jin menjadi salah satu cara dalam pembaharuan pengenalan budaya China sehingga lebih mudah diterima dan dikenal di khalayak luas. Desain yang digunakan untuk memperkuat kesan yang diberikan Yun Jin bahwa sebagai seorang seniman juga memiliki sebuah kewibawaan yang di bawa di dalam sebuah tampilan karya seni.Kata Kunci:budaya China,genshin impact, semiotika.Authors:Fauzia Nurrahma Dewi : Institut Tegnologi BandungIntan Rizky Mutiaz : Institut Tegnologi Bandung References:Barthes, Roland. 2012. Elemen-Elemen Semiologi Sistem Tanda Bahasa, Hermeneutika, Struktiralisme. Jogjakarta: IRCiSoD.Dwiyanto, A., & Wihardi, D. (2020). Analisis Semiotika Charles Sanders Pierce Pada Cover Majalah Tempo Online Edisi 25 Februari“03 Maret 2019. PANTAREI, 4(03).Fanani, F. (2013). Semiotika Strukturalisme Saussure. Jurnal The Messenger, 5(1), 10-15.Hutasuhut, M. L. (2009). Language, Culture and Society: a Theoretical Analysis of Stuart Halls Representation and Signifying Practices. -.Mahdayeni, M., Alhaddad, M. R., & Saleh, A. S. (2019). Manusia dan Kebudayaan (Manusia dan Sejarah Kebudayaan, Manusia dalam Keanekaragaman Budaya dan Peradaban, Manusia dan Sumber Penghidupan). Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 7(2), 154-165.Mudjiyanto, B., & Nur, E. (2013). Semiotics In Research Method of Communication [Semiotika Dalam Metode Penelitian Komunikasi]. Jurnal Pekommas, 16(1), 73-82.Syakhrani, A. W., & Kamil, M. L. (2022). Budaya Dan Kebudayaan: Tinjauan Dari Berbagai Pakar, Wujud-Wujud Kebudayaan, 7 Unsur Kebudayaan Yang Bersifat Universal. Cross-border, 5(1), 782-791.Keesing, R. (2014). Teori-teori tentang Budaya. Antropologi Indonesia.
EXPLORATION OF ALTERNATIVE CANTING CAP WITH LIDI MATERIALS IN CONTEMPORARY BATIK PRODUCTION Dewita Sekar Ayu; Ahda Yunia Sekar Fardhani
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 2 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i2.61979

Abstract

Batik, a cherished heritage of the archipelago, holds significant artistic value. This research endeavors to introduce novel innovations in the tools employed in contemporary batik production. Several advancements have been made in batik-making tools, notably the utilization of sticks as a substitute for writing canting. This discovery presents an opportunity to employ sticks as an alternative to canting cap tools in contemporary batik production. The accessibility and cost-effectiveness of sticks compared to copper canting caps make this alternative a viable option. The research methodology employed is a descriptive qualitative approach, utilizing data collection techniques such as literature review, observation, interviews, and exploration. The creative process involved three stages: initial exploration, which aimed to identify the optimal stick type and visual form by comparing the strokes produced by canting with small and thick sticks; further exploration, which involved utilizing sticks as alternative batik canting tools by arranging sticks on clay based on the motifs obtained in the initial exploration; and final exploration, which utilized the glass comparison technique to refine the composition. The outcomes of this research provide an alternative tool made of stick material and fabric sheets, derived from the exploration of contemporary batik motifs using alternative tools to replace canting caps with stick material.