cover
Contact Name
Adek Cerah Kurnia Azis
Contact Email
adek_peros@yahoo.com
Phone
+6285278021981
Journal Mail Official
gorgajurnalsenirupa@unimed.ac.id
Editorial Address
Jl. Willem Iskandar / Pasar V, Medan, Sumatera Utara – Indonesia Kotak Pos 1589, Kode Pos 20221
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Gorga : Jurnal Seni Rupa
ISSN : 23015942     EISSN : 25802380     DOI : https://doi.org/10.24114/gr.v9i1
Core Subject : Education, Art,
Gorga : Jurnal Seni Rupa terbit 2 (dua) kali setahun pada bulan Juni dan Desember, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran, hasil penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang ditulis oleh para pakar, ilmuwan, praktisi (seniman), dan pengkaji dalam disiplin ilmu kependidikan, kajian seni, desain, dan pembelajaran seni dan budaya.
Articles 806 Documents
PENGARUH MORDAN KAPUR TOHOR DAN TUNJUNG TERHADAP HASIL MOTIF ECOPRINT MENGGUNAKAN DAUN KENIKIR (COSMOS CAUDATUS) PADA BAHAN SATIN BRIDAL Umaira Umaira; Adriani Adriani
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.59914

Abstract

The research aims to utilize the leaves of the Cosmos caudatus in the manufacture of environmentally friendly textile motifs through ecoprint techniques with hammering methods using mordan and fixator. The study aims to describe the names of colors, the clarity of leaf patterns, wash resistance, and the influence of tohor and tohor lime mordans on ecoprint results. This research is an experiment that uses bridal satin material as an object, with the technique of hammering ecoprint on the leaves using tohor limestone mordans and tunches. The primary data in this study was collected through questionnaires. Data analysis techniques are performed with percentage frequency and analyzed with SPSS (Statistical Product and Service Solutions) version 26.0. The color name that uses the tohor limestone mordan produces a warm brown color, and the color name of the bone leaf produces the color canary yellow, and the mordan tunjunga produces a gray color, and the bone color name produces an olive color. To obtain the name of that color in the test using the colorblind assistand, The use of both types of mordan on the ecoprint leaf produces a leaf motif with clarity that covers details such as ends, edges, and leaf base, as well as the bone structure of the leaf (main neck, branch bones, and leaf veins) that are clearly printed on the bridal satin material. After three washes, the color resistance of the resulting ecocrypt leaves on the satin bridal material using the tohor limestone mordan and the spruce showed a slight decrease in color.Keywords: Ecoprint, Kenikir Leaves, Mordant, Satin BridalAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan daun kenikir (Cosmos caudatus) dalam pembuatan motif tekstil ramah lingkungan melalui teknik ecoprint dengan metode hammering, menggunakan mordan dan fiksator. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan nama-nama warna, kejelasan bentuk motif daun, daya tahan cuci, serta pengaruh mordan kapur tohor dan tunjung pada hasil ecoprint. Penelitian ini adalah sebuah eksperimen yang menggunakan bahan satin bridal sebagai objek, dengan teknik hammering ecoprint pada daun kenikir menggunakan mordan kapur tohor dan tunjung. Data primer dalam penelitian ini dikumpulkan melalui kuesioner. Teknik analisis data dilakukan dengan persentase frekuensi dan dianalisis dengan SPSS (Statistical Product and Service Solutions) versi 26.0. Nama warna yang menggunakan mordan kapur tohor menghasilkan warna warm brown, dan nama warna tulang daun menghasilkan warna canary yellow dan mordan tunjung menghasilkan nama warna grey dan nama warna tulang daun menghasilkan warna olive, untuk memperoleh nama warna tersebut diuji menggunakan colorblind assistant. Penggunaan kedua jenis mordan pada ecoprint daun kenikir menghasilkan motif daun dengan kejelasan yang mencakup detail seperti ujung, tepi, pangkal daun, beserta struktur tulang daun (tulang utama, tulang cabang, dan urat daun) yang tercetak dengan jelas pada bahan satin bridal. Setelah tiga kali pencucian, ketahanan warna hasil ecoprint daun kenikir pada bahan satin bridal dengan menggunakan mordan kapur tohor dan tunjung menunjukkan sedikit penurunan warna.KataKunci: Ecoprint, Daun Kenikir, Mordan, Satin Bridal Authors:Umaira : Universitas Negeri PadangAdriani : Universitas Negeri Padang ReferencesAdriani, & Atmajayanti, C.(2023). Pengaruh Mordan Tunjung Dan Kapur Sirih Terhadap Hasil Ecoprint Daun Iler.(Coleus Scutellarioides Linn Benth) Gorga Jurnal Seni Rupa, 12(01), 231“236.Anugrah, H., & novrita, S. Z. (2023). Penerapan Eco Print Daun Jati..( Tectona Grandis ) Pada..Bahan Katun Menggunakan..Mordan Tawas. 7, 1“8.Arsa, F., & Adriani. (2024) Pengaruh..Mordan Terhadap Hasil Ecoprint Daun Pepaya Jepang (Cnidoscolus...Aconitifolius)...Pada Bahan..Katun. Gorga Jurnal Seni Rupa. https://doi.org/10.24114/gr.v13i01.52845Darmadi, Hamid. 2014. Metodologi..Penelitian Pendidikan..dan Sosial. Bandung: Alfabeta.Dwiyanti, W., Ibrahim, M., & Trimulyono, G. (2014). Pengaruh ekstrak daun kenikir (cosmos caudatus) terhadap pertumbuhan bakteri Bacillus cereus secara In Vitro. Lentera Bio, 3(1), 1-5. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/lenterabio/article/view/7082Ernawati dan Nelmira, Weni. 2008. Tata Busana Jilid 3. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.Fitri, E. R., & Adriani, A. 2023. Pembuatan Ekstrak Pewarna Alam Kayu Mahoni untuk Benang Songket Di Studio Pinankabu Canduang Kabupaten Agam. Relief: Journal of Craft, 2(1), 33-37. http://journal.isipadangpanjang.ac.id/index.php/RELIEF/article/view/327Fatihaturahmi, & Novrita, S. Z. (2019). Pengaruh Perbedaan Mordan Tawas dan Kapur Sirih Terhadap Hasil Pencelupan Ekstrak Daun Sawo Menggunakan Bahan Sutera. Gorga Jurnal Seni Rupa, 08(01), 237“242Haryanti, N. H., & Wardhana, H. (2019). Pengaruh komposisi campuran pasir silika dan kapur tohor pada bata ringan berbahan limbah abu terbang batubara. Jurnal Fisika Indonesia, 21(3), 11-15.Revianti, M. M., & Novrita, S. Z. (2019). Pengaruh Mordan Terhadap Pencelupan ekstrak Daun Puring (Codiaeum Variegatum) pada Bahan Katun. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 8(2), 403-408.https://scholar.google.com/scholar?cites=7390780869448167194&as_sdt=2005&sciodt=0,5&hl=idSaputri, A., & Novrita, S. Z. (2021). Perbedaan Berat Mordan Tunjung, Tawas dan Kapur Sirih terhadap Hasil Pencelupan Kulit Buah Alpukat Pada Bahan Katun. Jurnal Pendidikan, Busana, Seni dan Teknologi, 3(2), 80-90.Setya, W. P. & Novrita, S. Z. (2020). Pengaruh Mordan Kapur Sirih Dan Tunjung Terhadap Hasil Pencelupan Ekstrak Batang Pisang Ambon Pada        Bahankatun. Jurnal Kapita Selekta Geografi, 3(2), 47-59. https://ksgeo.ppj.unp.ac.id/index.php/ksgeo/article/download/400/247Suci, P. H. (2019). Pelatiha Pembuatan Motif Kain Dengan Metode Ecoprint Di Nagari Tabek Panjang Kecamatan Baso Kabupaten Agam. Journal Of Community Service, 1 (1), 200-207.Wulan, Suryaning. 2018. Budi Daya Kenikir Secara Organik. Bandung: Mitra Sarana Edukasi.
DEVELOPMENT OF VIDEO LEARNING MEDIA FOR CASUAL FASHION DESIGN CLASS X FASHION MANAGEMENT AT SMK NEGERI 1 AMPEK ANGKEK Kiki Khairani; Agusti Efi
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 2 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i2.62880

Abstract

This study aims to develop video learning materials for the Fashion Design subject in Fashion Design class X at SMK Negeri 1 Ampek Angkek. The problems identified include conventional teaching methods, low student motivation and creativity, and many students who have not achieved the Minimum Completion Criteria (KKM). Video learning materials have been developed to visualize the concept and steps of designing casual clothing in a more effective and interesting way. This study uses a Research and Development (R&D) approach with the ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation and Evaluation) development model. The results of the study indicate that the developed video learning media is useful and practical for use in the learning process, and is able to improve students' understanding and creativity in designing clothing.
PERANCANGAN DESAIN SCRAPBOOK BACKPACKER PARIS MENGGUNAKAN BAHAN LIMBAH KERTAS DAN AMPAS TEBU Monica Prima Aldelya
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.51243

Abstract

Archives and documentation during travel will be worthless if they are only stored and stacked in one place. If arranged neatly or arranged well, this documentation can become a valuable work of art that can be enjoyed by those who see it. Designing solo backpacker scrapbook designs can be a solution for storing memories in the form of works of art. It looks like a memorabilia album that can store photos complete with decorations, notes, or other objects. The scrapbook design process uses the design thinking method because this method solves a problem by focusing on the needs of the user. The result of this creation is in the form of a scrapbook that uses recycled materials from waste paper and sugar cane bagasse. Sugarcane bagasse has a high fiber and hemicellulose content, both of which are the main requirements for making paper. The results of the paper experiment that can be used for making scrapbooks are mixing paper pulp and bagasse pulp in a ratio of 1:1 and mixing water with pulp in a ratio of 1:1000. Utilizing waste materials such as sugarcane bagasse is one solution to overcome environmental problems that occur. Designing scrapbooks using waste materials can bring innovation or renewal in the field of design and also as an effort to preserve the environment.Keywords: backpacker, recycling, bagasse. AbstrakArsip dan dokumentasi selama perjalanan akan menjadi tidak beharga jika hanya disimpan dan ditumpuk dalam satu tempat saja. Jika disusun dengan rapi atau ditata dengan baik, dokumentasi ini bisa menjadi sebuah karya seni berharga yang bisa dinikmati oleh orang yang melihatnya. Perancangan karya desain scrapbook solo backpacker bisa menjadi sebuah solusi untuk menyimpan kenangan dalam bentuk karya seni. Bentuknya seperti memorabilia album yang dapat menyimpan foto lengkap dengan dekorasi, catatan, atau benda-benda lainnya. Proses perancangan scrapbook menggunakan metode design thinking karena metode ini menyelesaikan suatu permasalahan dengan berfokus pada kebutuhan dari pengguna. Hasil dari penciptaan ini berbentuk scrapbook yang menggunakan bahan daur ulang dari limbah kertas dan ampas tebu. Ampas tebu memiliki kandungan serat dan hemiselulosa yang tinggi, dimana kedua hal tersebut merupakan syarat utama dalam pembuatan kertas. Hasil dari eksperimen kertas yang bisa digunakan untuk pembuatan scrapbook yaitu percampuran pulp kertas dan pulp ampas tebu dengan perbandingan 1:1 dan pencampuran air dengan pulp perbandingan 1:1000. Memanfaatkan bahan limbah seperti ampas tebu menjadi salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan lingkungan yang terjadi. Perancangan scrapbook menggunakan material limbah, dapat membawa inovasi atau pembaharuan dalam bidang desain dan juga sebagai upaya pelestarian lingkungan.Kata Kunci: backpacker, daur ulang, ampas tebu. Author:Monica Prima Aldelya : Institut Seni Indonesia Yogyakarta References:Allita, Y., Gala, V., Citra, A. A., & Retnoningtyas, E. S. (2018). Pemanfaatan Ampas Tebu dan Kulit Pisang dalam Pembuatan Kertas Serat Campuran. Jurnal Teknik Kimia Indonesia, 11(2), 101. https://doi.org/10.5614/jtki.2012.11.2.6.Asih, P. K., Hawanti, S., & Wijayanti, O. (2020). Pengembangan Media Pembelajaran Scrapbook untuk Keterampilan Membaca. Indonesian Journal of Primary Education, 4(1), 87“100. https://doi.org/10.17509/ijpe.v4i1.25404. Bayu, D. J. (2021, October 2). Kementan Perkirakan Produksi Tebu RI 2,36 Juta Ton pada 2021. Databoks. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/ 10/02/kementan-perkirakan-produksi-tebu-ri- 236-juta-ton-pada-2021. Fauzy, L. R., Peternakan, P. S., Pertanian, F., & Mangkurat, U. L. (2023). Kandungan Protein dan Serat Kasar Ampas Tebu yang Diamoniasi Menggunakan Urea dengan Dosis. Journal of Animal Research in Wetland, 3(2), 1“9. https://doi.org/10.2057/jpplb.v3i2.2069. Handakara, Y. Y. (2021). Pengembangan Scrapbook Sebagai Media Karya Kreatif dan Art Therapy. Journal of Contemporary Indonesian Art, 7(2), 105“112. https://doi.org/10.24821/jocia.v7i2.6081.Hussein, A. S. (2018). Metode Design Thinking untuk Inovasi Bisnis. Malang: UB Press.Naibaho, Y. B., & Azmi, A. A. (2018). Eksperimen Penggunaan Berbagai Bahan Limbah untuk Memunculkan Tekstur Luar Kotak Tisu dengan Teknik Mozaik dan Kolase. Gorga : Jurnal Seni Rupa, 7(1), 52. https://doi.org/10.24114/gr.v7i1.10851.Manasikana, O. O. A. (2019). Pemanfaatan Limbah Kulit Jagung Dan Ampas Tebu Sebagai Kertas Kemasan Ramah Lingkungan. Jurnal Zarah, 7(2), 79-85.Pambudi, T. S., Arliando, P., & Muttaqin, T. Z. (2022). Perancangan Tas Modular Sebagai Produk Eco Lifestyle. Gorga : Jurnal Seni Rupa, 11(2), 559. https://doi.org/10.24114/gr.v11i2.39752.
MUTIARA HITAM SEBAGAI IDE PENCIPTAAN BUSANA PESTA Nisrina Habibah Zayyan
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.57190

Abstract

The background of the work is the many accessories worn by women in the form of pearls which are the inspiration for creating the work. Pearls can also be associated with the social class of each individual. Party attire is also an inspiration for visualizing black pearls because it feels suitable and is the right medium to maintain the impression of luxury, majesty, elegance and grace. Black pearls were chosen because they have very different colors depending on how they are cultivated and have different symbols, specifically black pearls contain symbols of dignity and self-respect. The creation of this work is to introduce clothing with a pearl theme where pearls are mostly used as a concept for jewelry and decoration, apart from that from a practical perspective it provides a new variety that stands out not only based on 2D motifs but also embossed or 3D. The method used in creating this work uses the method from SP Gustami, this method is generally used in creating craft works. The stages followed are Three Stages and Six Steps, with the stages carried out namely Exploration, Design and Realization. The exploration process is carried out by exploring the issues, ideas raised and developing designs. Design is carried out by creating alternative designs. Realization of work by realizing work from selected designs. These three works have the titles (1) Black Pearls Magnum Facere, (2) Black Pearls Gretta. (3) Black Pearls Apli gynaika. These three works were made using satin, tile and organza fabric. The materials used are chosen by considering the main ingredients, so that they have a balance in terms of texture, weight of the clothing, and placement on the clothing.Keywords: Black pearls, S.P Gustami Method, MaterialsAbstrakKarya yang memiliki latar belakang dari banyaknya ditemui aksesoris yang dikenakan oleh wanita berupa mutiara yang menjadikan inspirasi pembuatan karya. Mutiara juga dapat dikaitkan dengan kelas sosial dari tiap individual. Busana pesta juga menjadi inspirasi untuk memvisualisasikan mutiara hitam karena dirasa cocok dan merupakan media yang tepat dalam mempertahankan kesan mewah, megah, elegan, dan anggun. Mutiara hitam dipilih karena memiliki warna yang jauh berbeda-beda tergantung bagaimana cara membudidayakan dan memiliki simbol yang berbeda-beda, khusus pada mutiara hitam mengandung simbol martabat dan harga diri. Penciptan karya ini untuk memperkenalkan busana yang dengan tema mutiara di mana mutiara lebih banyak digunakan sebagai konsep dari perhiasan dan dekorasi, selain itu dari segi praktik memberikan ragam baru yang menonjol bukan hanya didasarkan motif bersifat 2D namun juga timbul atau 3D. Metode yang digunakan dalam penciptaan karya ini menggunakan metode dari SP Gustami, metode ini umumnya digunakan dalam menciptakan karya kriya. Tahapan yang dilalui dengan Tiga Tahap Enam Langkah, dengan tahapan yang dilakukan yaitu Eksplorasi, Perancangan, dan Perwujudan. Proses eksplorasi yang dilakukan dengan penggalian isu ide yang diangkat serta pengembangan desain. Perancangan yang dilakukan dengan membuat desain alternatif. Perwujudan karya dengan mewujudkan karya dari desain terpilih. Ketiga karya ini memiliki judul (1) Black Pearls Magnum Facere, (2) Black Pearls Gretta. (3) Black Pearls Apli gynaika. Ketiga karya ini dibuat menggunakan bahan kain satin, kain tile, dan kain organza. Material yang digunakan dipilih dengan mempertimbangkan bahan utama, agar memiliki keseimbangan dari segi tekstur, berat dari busana, dan peletakan pada busana.Kata Kunci: Mutiara hitam, Metode S.P Gustami, Material. Author:Nisrina Habibah Zayyan : Institut Seni Indonesia Yogyakarta ReferencesAdminlina. (2019, August). Mutiara Perhiasan Bangsawan Lintas Generasi. Pelakubisnis.Com. Retreived from https://pelakubisnis.com/2019/08/mutiara-perhiasan-bangsawan-lintas-generasi/Agustini, Sudhirta, I. G., & Angendari, M. D. (2018). Pengembangan Busana Pesta Malam Dengan Sumber Ide Dari Mitologi Kerajaan Yunani. Jurnal Bosaparis: Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, 9(3), 222“233. https://doi.org/https://doi.org/10.23887/jjpkk.v9i3.22152AR, S., Syukur, A., & Suryaningsih, S. (2018). Perbedaan Berat (gram) Bibit Kerang Mutiara (Pinctada Maxima) Antar Warna Cangkang Di Perairan Tekalok Lombok TImur NTB. JURNAL BIOLOGI TROPIS, 18(1), 34. https://doi.org/10.29303/jbt.v18i1.553Ayuningtari, A. W. K. (2022). Youth Cyberbullying Sebagai Tema Penciptaan Karya Seni Lukis. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 521“528. https://doi.org/https://doi.org/10.24114/gr.v11i2.39164Fitrihana, N. (2011). Memilih Bahan Busana. Bahan Busana.Gustami, S. (2007). Butir-butir mutiara estetika timur¯: Ide dasar penciptaan seni kriya Indonesia. Prasista.Hasanah, F. H., & Hidayati, M. H. (2020). Penerapan Hiasan Bias Piping Pada Busana Pesta Malam Dengan Tema Lawang Sewu. Journal of Fashion and Textile Design Unesa, 1, 91“98. https://doi.org/https://doi.org/10.26740/baju.v1n2.p91-98Luh Desi Ariati, N., Gede Sudirtha, I., & Diah Angendari, M. (2018). Pengembangan Busana Pesta Malam Dengan Sumber Ide Busana Ratu Elizabeth Kerajaan Inggris. Jurnal Bosaparis: Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, 9(3), 200“210. https://doi.org/https://doi.org/10.23887/jjpkk.v9i3.22147Maeliah, M. P. M. (2010). Adibusana BU 461*) (pp. 1“5).Matharu, G. (2010). What Is Fashion Design? Roto Vision S.A.Nuraliyah, D., & Suciati. (2012). Corsages Pada Art Fashion. Fesyen Perspektif, 1(1), 1“11. https://ejournal.upi.edu/index.php/fesyen/article/view/9847Paramita, N. P. D. P. (2022). Inovasi Busana Pesta Berbahan Tekstil Tradisional Bali. Style: Journal of Fashion Design, II(1), 36“44. https://journal.isi-padangpanjang.ac.id/index.php/JFD/article/viewFile/2565/1012Sedonya, A. R., & Purwani, S. (2022). Perpaduan Batik Motif Sekar Jagad Khas Kudus, Bludru dan Brokat Pada Busana Pesta Gala. Jurnal Socia Akademika, 8(1), 33“43. https://aks-akk.e-journal.id/jsa/article/view/182Sekartinah, S., & Astuti. (2021). Ekplorasi Motif Tumpal Sarung Betawi pada Busana Pesta dengan Hiasan Teknik Lekapan Payet. Jurnal Teknologi Busana Dan Boga, 9(2), 95“102. https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/teknobuga/indexSucitra, I. G. A. (2015). Eksplorasi Nilai-Nilai Tradisi Dalam Konsep Estetika Seni Rupa Kontemporer Indonesia. Jurnal Seni Rupa Warna, 4(1), 33“45. https://doi.org/https://doi.org/10.36806/.v4i1.25Vera, G. suartini, Sudirtha, I. G., & Angendari, M. D. (2021). Penerapan Hiasan Payet Pada Busana Pesta Berbahan Batik Motif Merak Abyorhokokai. Jurnal BOSAPARIS: Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, 12(3), 88“96. https://doi.org/10.23887/jppkk.v12i3.37470
MAKNA PROPERTI TARI TUPENG NATUNA KABUPATEN NATUNA Saridin Saridin; Dwi Oktariani; Mega Cantik Putri Aditya
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.56508

Abstract

The Natuna Tupeng Dance is a traditional folk dance that grows and develops in Kelanga Village, North East Bunguran District, Natuna Regency, however there has been no writing about the meaning of the properties used by dancers. This research aims to determine the form, meaning and function that need to be revealed from the unique properties of the Natuna Tupeng Dance. The research method is descriptive qualitative with an ethnochoreology and semiotic approach to obtain data results regarding the meaning of property in the Tupeng Natuna dance. Data collection techniques include observation, interviews and documentation. The data validity testing technique used is extended observation and source triangulation. Based on the analysis of the data obtained, the results show that the properties of the Natuna Tupeng Dance contain meaning and messages to be conveyed to the audience. The properties of the Tupeng Natuna Dance include masks in the shape of human faces, men, women, animal faces such as beqok, plates and scarves. The mask in the shape of a human face depicts the young people of the Kelanga Village community in the Bedung forest, the mask in the shape of a beqok face depicts a monkey. The meaning of the three forms of masks is to depict the harmony of life between humans and animals, which can mean that living creatures need and interact with each other. The plate property symbolizes a form of gratitude to God, because he has provided sufficient sustenance to the people in the village. The shawl's properties symbolize the natural beauty that exists in the Bedung forest. The meanings of all the properties of the Natuna Tupeng Dance are interconnected with each other and are related to the daily lives of the people in Kelanga Village, North East Bunguran District, Natuna Regency.Keywords: Meaning, Properties, Tupeng Natuna DanceAbstrakTari Tupeng Natuna merupakan salah satu tari tradisional rakyat yang tumbuh dan berkembang di Desa Kelanga Kecamatan Bunguran Timur Laut Kabupaten Natuna, namun belum ada tulisan mengenai makna properti yang digunakan oleh penari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk, makna, dan fungsi yang perlu diungkap dari keunikan properti Tari Tupeng Natuna. Metode penelitian berupa deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi dan semiotika guna mendapatkan hasil data mengenai makna properti dalam tari Tupeng Natuna. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik penguji keabsahan data yang digunakan adalah perpanjangan pengamatan dan triangulasi sumber. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil bahwa properti Tari Tupeng Natuna terdapat makna dan pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Properti Tari Tupeng Natuna berupa topeng yang berbentuk wajah manusia laki-laki, perempuan, wajah binatang seperti beqok, piring, dan selendang. Topeng yang berbentuk wajah manusia menggambarkan muda mudi masyarakat Desa Kelanga yang berada di dalam hutan Bedung, topeng berbentuk wajah beqok yang menggambarkan seekor monyet. Makna dari ketiga bentuk topeng itu adalah menggambarkan keserasian hidup antara manusia dan binatang yang dapat bermakna bahwa makhluk hitup itu saling membutuhkan dan saling berinteraksi. Properti piring menyimbolkan bentuk rasa syukur kepada Tuhan, karena telah memberikan rezeki yang cukup kepada masyarakat di Desa tersebut. Properti selendang melambangkan keindahan alam yang berda di dalam hutan Bedung.  Makna dari keseluruh properti Tari Tupeng Natuna saling berhubungan satu sama lain dan mempunyai keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat di Desa Kelanga Kecamatan Bunguran Timur Laut Kabupaten Natuna.Kata Kunci: Makna, Properti, Tari Tupeng Natuna Authors:Saridin : Universitas TanjungpuraDwi Oktariani : Universitas TanjungpuraMega Cantik Putri Aditya : Universitas Tanjungpura ReferencesAnwar, A. (2020), œMakna Topeng Perempuan. Hasil Wawancara Pribadi:  5 Februari 2024, Universitas Tanjungpura.Ardiani, A., & Fitriani, N. (2023). Motif dan Makna Motif Tenun Ulos Batak Angkola di Kabupaten Tapanuli Selatan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 12(2).Budihardini, S. S., Tindarika, R., & Aditya, M. C. P. (2022). SEJARAH TARI TOPENG NATUNA DESA TANJUNG KECAMATAN BUNGURAN TIMUR LAUT KABUPATEN NATUNA. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK), 12(2), 665-673.Darmawan, D. (2024), œAsal Mula Bentuk Tari Tupeng Natuna. Hasil Wawancara Pribadi:  13 Februari 2024, Universitas Tanjungpura.Istiandini, W., Tindarika, R., & Sulissusiawan, A. (2022). Makna Simbol Properti Gong pada Tari Tradisional Ngeruai Kenemiak Dayak Kantu. Jurnal Seni Tari, 11(2), 179-187.Kistanto, N. H. (2015). Tentang konsep kebudayaan. Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan, 10(2).Liliweri, A. (2019). Pengantar studi kebudayaan. Nusamedia.Mariana, D., Dwi, O., & Ismunandar, I. (2023). Manajemen Organisasi Sanggar Seni Kesumba di Kabupaten Mempawah. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 12(2).Oktariani, D. (2023). Tari Jepin Langkah Simpang Budaya Melayu. Pontianak: Cv. LakeishaOktariani, D. (2024). Peran Sanggar Seni Kesumba Dalam Melestarikan Kesenian Tradisional Melayu. Jurnal Ilmiah Rinjani 12(1), 15-24.Pujiana, P., & Novrita, S. (2023). Transformasi Bentuk Alam Menjadi Motif Batik di Kecamatan Enam Lingkung Kabupaten Padang Pariaman. Gorga : Jurnal Seni Rupa, 12(2).Purnamawati, S., Adriani, A., & Novrita, S. Z. (2016). Studi Tentang Batik Basurek di Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu. Journal of Home Economics and Tourism, 11(1), 1“12.Suhendra, R., Fretisari, I., & Muniir, A. (2019. MAKNA SIMBOL PROPERTI TARI SELODANG MAYANG DI PULAU PEDALAMAN KABUPATEN MEMPAWAH. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK), 8(3).Swathy, I. D. A. I., Joni, I. D. A. S., & Suryawati, I. G. A. A. (2020). Makna Simbol Komunikasi Dalam Tari Topeng Sidakarya. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ilmu Komunikasi Medium, 1(1), 38-45.Varadibtya, S. D., Ismunandar, I., & Istiandini, W. (2022). MAKNA PROPERTI TARI JEPIN TALI BINTANG DI DESA KALIMAS KECAMATAN SUNGAI KAKAP KABUPATEN KUBU RAYA. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK), 11(6), 365-375.
STUDI KASUS BATIK KAJANG PADATI PADA EMI ARLIN FASHION DESIGNER DI KOTA PADANG Yola Meliza; Ernawati Ernawati
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.55760

Abstract

Each batik product in various regions has its own characteristics with different sources of inspiration. Such as kajang padati batik from West Sumatra which has its own characteristics, characters, and motifs. The purpose of this research is to describe the motif and meaning of Batik Kajang Padati motif. The research method uses a qualitative descriptive method. The types of data are primary data and secondary data. Data collection techniques through observation, interviews and documentation. The data analysis technique used is qualitative descriptive analysis, namely the steps of data reduction, data presentation, verification and conclusions. The results of the research show that the Kajang Padati Batik motif contains motifs and motif meanings such as; 1) The main ornament, namely the Rumah Gadang Kajang Padati motif, contains the meaning of an effort to introduce to the public about the existence of Rumah Gadang Kajang Padati which has a different shape from the current Rumah Gadang in general. it is rare and rarely found; 2) Complementary ornaments, including: a) The Kaluak Paku motif symbolizes leadership in Minangkabau, b) The Pucuak Rabuang motif symbolizes descendants, the next generation, c) The Saik Galamai motif symbolizes caution in taking action. d) Chain motif symbolizes strength, e) Ornament border motif symbolizes boundaries, f). Flame motif symbolizes high spirit, g) symbolizes mutual need, i) The rice motif symbolizes not being arrogant, j) The Bingkuang plant motif symbolizes being good at breaking down the atmosphere, k) The spiral motif symbolizes the process of human life, l) The chess motif symbolizes clever strategic thinking, m) The Ulek Bulu motif symbolizes the life process of a butterfly, n) The Kawung motif symbolizes the hope that humans will always remember their origins, strength and justice, o) The Ombak Lauik motif symbolizes the coastal area.Keywords: motif, meaning of motif, batik kajang padatiAbstrakSetiap produk batik di berbagai daerah memiliki ciri khas tersendiri dengan sumber inspirasi yang berbeda-beda. Seperti batik kajang padati dari Sumatera Barat yang memiliki ciri, karakter, dan motif tersendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan motif dan makna motif Batik Kajang Padati. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Jenis data berupa data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif yaitu dengan langkah reduksi data, penyajian data, verifikasi dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif Batik Kajang Padati terdapat motif dan makna motif seperti; 1) Ornamen utama yaitu motif Rumah Gadang Kajang Padati mengandung makna bahwa upaya memperkenalkan kepada masyarakat tentang keberadaan rumah gadang kajang padati yang mempunyai bentuk berbeda dari bentuk rumah gadang pada umumnya yang saat ini sudah langka dan jarang ditemukan; 2) Ornamen pelengkap, meliputi: a) Motif Kaluak Paku melambangkan kepemimpinan di Minangkabau, b) Motif Pucuak Rabuang melambangkan keturunan, generasi penerus, c) Motif Saik Galamai melambangkan kehati-hatian dalam melakukan tindakan, d) Motif Rantai melambangkan kekuatan, e) Motif Garis Tepi Ornamen melambangkan adanya batasan, f) Motif lidah api melambangkan semangat tinggi, g) Motif Tumbuhan Melati dan Bungo Melati melambangkan kesucian, bersih, harum, h) Motif Batuang melambangkan saling membutuhkan, i) Motif padi melambangkan tidak sombong, j) Motif Tumbuhan Bingkuang melambangkan pandai mencairkan suasana, k) Motif spiral melambangkan proses kehidupan manusia, l) Motif catur melambangkan pintar berfikir strategi, m) Motif Ulek Bulu melambangkan proses kehidupan kupu-kupu, n) Motif Kawung melambangkan harapan agar manusia selalu ingat akan asal usulnya, keperkasaan dan keadilan, o) Motif Ombak Lauik melambangkan daerah pantai.Kata Kunci: motif, makna motif, batik kajang padati.Authors:Yola Meliza : Universitas Negeri PadangErnawati : Universitas Negeri Padang ReferencesAchjadi, J. (2015). Ensiklopedia Motif Batik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.Adityawarman, A. (2016). Ensiklopedi Rumah Adat Indonesia. Jakarta: Anlmage.Ernawati, I., & Nelmira, W. (2008). Tata Busana Jilid 2. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jendral Manajemen, Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan NasionalHadaf, A., Adriani, A., & Novrita, S. Z. (2016). Motif dan Pewarnaan Batik Tulis di Dusun Giriloyo Desa Wukirsari Kecamatan Imogiri Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa YOGYAKARTA (Studi Kasus di Industri Batik Sri Kuncoro). Journal of Home Economics and Tourism, 11(1).Hardanti, E., Adriani, A., & Novrita, S. Z. (2014). STUDI TENTANG BATIK KERINCI DI KOTA SUNGAI PENUH. Journal of Home Economics and Tourism, 6(2).Hasriawati, L., Adriani, A., & Novrita, S. Z. (2021). STUDI TENTANG SUNTING BUNGO SANGGUL DI KENAGARIAN KOTO BARU KECAMATAN KUBUNG KABUPATEN SOLOK. Journal of Home Economics and Tourism, 15(2).Izzara, W. A., & Nelmira, W. (2021). Desain Motif Tenun Songket Minangkabau Di Usaha Rino Risal Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 423-431. https://doi.org/10.24114/gr.v10i2.25928Kuwala, R. N., & Novrita, S. Z. (2022). RAGAM HIAS MOTIF BATIK TANAH LIEK DHARMASRAYA (Studi Kasus di Kerajinan Batik Tanah Liek Citra). Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 08-15. https://doi.org/10.24114/gr.v11i1.32358Purnamawati, S., Adriani, A., & Novrita, S. Z. (2016). Study of Batik Basurek in the City Bengkulu Province Bengkulu. Journal of Home Economics and Tourism, 11(1).RullisM. P., & Heldi, I. D, F., Efrizal,. (2018). Studi Tentang Bentuk, Fungsi Ornamen Dan Penataan Ruang Interior Rumah Gadang Kajang Padati Kota Padang. Serupa The Journal of Art Education, 6(2).
THE EFFECT OF TACTILE-BASED SIGNAGE DESIGN INTERVENTION ON THE WAYFINDING PERFORMANCE OF VISUALLY IMPAIRED STUDENTS THROUGH NAVIGATION TASK Rifqi Fakhruddin; Kharista Astrini Sakya
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 2 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i2.62421

Abstract

Loss of visual function reduces the accessibility of the environment. A person's ability to move around is closely related to their skills in wayfinding, i.e. finding clues and mental mapping. Individuals with visual impairment use non-visual sensory aspects, such as tactile clues, to form a cognitive map of the structure of the environment. Navigating new and complex environments can cause confusion, anxiety and take longer. Environmental interventions through tactile-based media conditioned into signage design are still scarce, therefore this study aims to try to identify the different roles of three design conditions namely; Rised lines (RL), Texture (TX) and Elevated Graphics (EG) on the wayfinding performance of blind individuals through a navigation task. Data collection involved an experiment with the participation of totally blind and low vision individuals in a simulated environment with three design conditions: raised lines, textures and raised graphics. The experimental process used spatial tasks including; navigation tasks. Measurements on the navigation task used questionnaires and duration scores. This experiment used repeated measure procedures on the three tactile design conditions, as well as a randomized sequence of conditions. The data obtained was analyzed through statistics using repeated measure ANOVA test to test the effect and difference of intervention of three tactile sensor-based signage designs. The findings showed that there was no significant difference in the navigation experience, but there was a significant difference in the navigation task duration score. The Rised Lines (RL) condition showed good performance especially in the aspect of duration score. This research has concluded that, tactile-based signage design has a significant role to help blind individuals understand the environment. This signage design is expected to be a medium for blind individuals, especially special education students in practicing Orientation & Mobility skills properly.
PERANCANGAN DESTINATION BRANDING KAWASAN PANTAI PUCANGLABAN SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN BRAND AWARENESS Nadya Cahya Faradita; Siswo Martono; Dhika Yuan Yurisma
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.49570

Abstract

One of the beaches in Tulungagung Regency known for its beautiful waves and pristine white sand is Pucanglaban Beach. It is suitable for swimming, sunbathing, or simply relaxing by the shore. This tourist destination is directly adjacent to the southern sea. The natural potential of Desa Pucanglaban encompasses the coastal area, including Pacar Beach, Kedung Tumpang Beach, and Molang Beach. The entrance fee to access this beach area is highly affordable, costing only Rp. 8,000, allowing visitors to enjoy all three beaches simultaneously. Facilities in the Pucanglaban Beach area include a mosque, restrooms, safety equipment, tent rentals, food and beverage stalls, parking facilities, and photo spots. However, despite the comprehensive facilities, this beach area lacks a strong brand identity. This research aims to design a destination branding strategy for the Pucanglaban Beach area with the goal of increasing brand awareness, contributing to the economic growth of Desa Pucanglaban, introducing the beauty and allure of Pucanglaban Beach to a wider audience, and creating a positive image. The design methodology used is design thinking, which involves various stages such as empathy, definition, ideation, prototype, and testing. The result of this design process is a key concept, namely "happiness," which signifies that this natural tourist destination can evoke a sense of happiness during and after a visit to Pucanglaban Beach by enjoying its natural beauty. This design is applied to create a logo, develop branding materials for the Pucanglaban Beach area, and implement it through various promotional tools such as x-banners, Instagram feeds, brochures, as well as various merchandise including clothing, mugs, stickers, keychains, and office stationery.Keywords: design, destination branding, brand awareness. AbstrakSalah satu pantai di kabupaten Tulung Agung  yang terkenal dengan ombaknya yang indah dan pasir putihnya yang bersih adalah pantai pucanglaban. Cocok untuk berenang, berjemur, atau bersantai di tepi pantai. Destinasi wisata ini berbatasan langsung dengan laut  selatan. Potensi alam yang dimiliki oleh Desa Pucanglaban meliputi area pesisir pantai, meliputi  Pantai Pacar, Pantai Kedung Tumpang, dan Pantai Molang. Tiket masuk untuk mengakses kawasan pantai ini sangat terjangkau, hanya seharga Rp. 8000, yang memungkinkan pengunjung untuk menikmati ketiga pantai tersebut secara sekaligus. Sarana dan prasarana di kawasan pantai Pucanglaban diantaranya adalah mushola, toilet, peralatan keselamatan, penyewaan tenda, stan makanan dan minuman, tempat parkir, serta lokasi untuk mengabadikan kegiatan dengan berfoto. Namun, meskipun fasilitasnya lengkap, kawasan pantai ini belum memiliki identitas merek yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk merancang strategi branding destinasi bagi kawasan pantai Pucanglaban, dengan tujuan meningkatkan kesadaran akan merek, berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi Desa Pucanglaban, memperkenalkan keindahan dan daya tarik Pantai Pucanglaban kepada masyarakat secara lebih luas, serta menciptakan citra yang positif. Metode perancangan yang digunakan adalah desain berpikir (design thinking), yang melibatkan berbagai tahap seperti empati, definisi, berideasi, pembuatan prototipe, dan pengujian. Hasil dari perancangan ini adalah sebuah konsep utama, yaitu "kebahagiaan," yang menggambarkan bahwa destinasi wisata alam ini mampu memberikan pengalaman kebahagiaan selama dan setelah berkunjung ke Pantai Pucanglaban dengan menikmati keindahan alamnya. Perancangan ini diterapkan dalam pembuatan logo, pengembangan materi branding untuk kawasan Pantai Pucanglaban, dan implementasinya dalam beraneka pendukung promosi,  seperti x-banner, feed Instagram, brosur, serta berbagai merchandise seperti pakaian, mug, stiker, gantungan kunci, dan peralatan tulis kantor.Kata Kunci: perancangan,destination branding, brand awareness. Authors:Nadya Cahya Faradita : Universitas DinamikaSiswo Martono : Universitas DinamikaDhika Yuan Yurisma : Universitas Dinamika References:Adam, M., Siswo, A., Setya, M., & Erdiana, P. (2023). Perancangan Destination Branding Desa Jatipasar Sebagai Upaya Meningkatkan Brand Awareness. Jurnal Art Nouveau, 1(1).Michandani, E. S., & Arida, I. N. S. (2019). Perancangan Destination Branding Desa Wisata Kerta di Kecamatan Payangan Kabupaten Gianyar. JURNAL DESTINASI PARIWISATA, 7(1).https://doi.org/10.24843/jdepar.2019.v07.i01.p17.Sayatman, S., Soewito, B. M., & Noordyanto, N. (2021). Pengembangan Konsep Brand Identity dan Visual System ITS yang Lebih Terintegrasi. Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 20(1), 10.https://doi.org/10.12962/iptek_desain.v20i1.9329.Seragih, Y. G., & Azis, A. C. K. (2021). Tinjauan Hasil Gambar Ilustrasi Kartun dengan Objek Binatang. Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni, 23(2), 302-318.Simarmata, J. G., Azis, A. C. K., & Syukri, A. (2023). Desain Kemasan Bubuk Bandrek Betalana Desa Pohan Tonga. Seni Rupa, 19(02), 6-13.Tarumanagara, U., Barat, K. J., & Manual, S. (2023). Perancangan ulang identitas visual sebuah usaha elektronik rumah tangga. 12. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 12(1), 26-32.Todings, R. E., E, P., & Nurfitri, R. (2022). Perancangan Corporate Identity Cv Arya Wasa Sebagai Citra Perusahaan. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 480. https://doi.org/10.24114/gr.v11i2.37300.Sayatman, S., Soewito, B. M., & Noordyanto, N. (2021). Pengembangan Konsep Brand Identity dan Visual System ITS yang Lebih Terintegrasi. Jurnal Desain Idea: Jurnal Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 20(1), 10.https://doi.org/10.12962/iptek_desain.v20i1.9329.Seragih, Y. G., & Azis, A. C. K. (2021). Tinjauan Hasil Gambar Ilustrasi Kartun dengan Objek Binatang. Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni, 23(2), 302-318.Simarmata, J. G., Azis, A. C. K., & Syukri, A. (2023). Desain Kemasan Bubuk Bandrek Betalana Desa Pohan Tonga. Seni Rupa, 19(02), 6-13.Tarumanagara, U., Barat, K. J., & Manual, S. (2023). Perancangan ulang identitas visual sebuah usaha elektronik rumah tangga. 12. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 12(1), 26-32.Todings, R. E., E, P., & Nurfitri, R. (2022). Perancangan Corporate Identity Cv Arya Wasa Sebagai Citra Perusahaan. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 480. https://doi.org/10.24114/gr.v11i2.37300.
PEMBUATAN SKENARIO FILM œLEGENDA TANJUNG MENANGIS DARI NASKAH LONTAR CILINAYA: SEBUAH PROSES EKRANISASI Eva Mawinda Widiyastantia
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.56713

Abstract

AbstractOn the island of Lombok, one of the renowned ancient manuscripts both in presence and legend is the Cilinaya palm-leaf manuscript. Historically, the ancient lontar Cilinaya manuscript has only been kept in museums and held by traditional leaders to be read occasionally during cultural processions. This research deliberately made the script into a film scenario as a form of revitalization and cultural preservation that has the potential to continue to be developed. The objective of this endeavor is to create the film screenplay " Legenda Tanjung Menangis," an adaptation of the ancient Cilinaya palm-leaf manuscript. The findings of this research indicate the feasibility of adapting the ancient Cilinaya palm-leaf manuscript from Lombok into a film screenplay. The process of adaptation involves three primary stages: transcription, translation, and transcreation. Transcription, as the initial phase, encompasses the conversion of the original script written in the traditional script into Latin script. Subsequently, the translation phase involves the transliteration of the original text from the Sasak language of the palm-leaf manuscript into Indonesian. Following this, the transliterated text serves as the foundation for crafting a film screenplay, necessitating a transcreation process to adapt the text into a visual format suitable for the film medium. After undergoing these three stages, the ancient palm-leaf manuscript has successfully been adapted into the film screenplay "Legenda Tanjung Menangis".Keywords: Ancient Manuscript, Cilinaya Lontar, Ecranisation, LegendAbstrakDi Pulau Lombok, salah satu naskah lontar yang terkenal keberadaan dan legendanya adalah lontar Cilinaya. Selama ini naskah kuno lontar Cilinaya hanya tersimpan di museum dan dipegang oleh pemangku adat untuk sesekali dibacakan pada prosesi kebudayaan. Penelitian ini dengan sengaja membuat naskah tersebut menjadi skenario film sebagai bentuk revitalisasi dan pelestarian budaya yang berpotensi untuk terus dikembangkan. Tujuan penciptaan ini adalah menciptakan skenario film œLegenda Tanjung Menangis yang merupakan ekranisasi dari naskah kuno lontar Cilinaya. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa naskah kuno lontar Cilinaya yang berasal dari Pulau Lombok dapat diekranisasi menjadi sebuah skenario film. Proses ekranisasi melibatkan tiga langkah utama, yakni alih aksara, alih bahasa, dan alih wahana. Alih aksara merupakan langkah pertama yang melibatkan konversi tulisan asli dalam aksara jejawan menjadi aksara latin. Langkah berikutnya adalah alih bahasa, yang melibatkan transliterasi teks asli dari bahasa lontar Sasak ke dalam bahasa Indonesia. Setelah itu, hasil transliterasi tersebut dijadikan bahan dasar untuk menyusun sebuah skenario film yang sesuai, yang memerlukan proses alih wahana untuk mengadaptasi teks ke dalam format visual yang sesuai dengan medium film. Setelah melewati tiga tahap tersebut, naskah kuno lontar telah berhasil diekranisasi menjadi skenario film œLegenda Tanjung Menangis.Kata Kunci: Naskah kuno, Lontar Cilinaya, Ekranisasi, Legenda Author:Eva Mawinda Widiyastantia: Institut Seni Indonesia YogyakartaReferences:Buda, I. K., Payuyasa, I. Nyoman, & Chrisna, I. M. D. (2020). Pendidikan yang memerdekakan dalam film œSokola Rimba. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 09(02), Juli-Desember 2020. DOI: 10.24114/gr.v9i2.19823Cahir, L. C. (2006). Literature into Film: Theory and Practical Approaches. North Carolina: McFarland.Desmond, J. (2006). Adaptation: Studying Film and Literature. New York: McGraw-Hill Education.Field, S. (2005). Screenplay: The Foundations of Screenwriting. London: Delta.Herman, R. (2017). Ekranisasi, Sebuah Model Pengembangan Karya Sastra. CEUDAH Jurnal Ilmiah Kesusastraan, 7(1). https://susastra.hiski.or.id/jurnal/index.php/susastra/article/view/42Oktafiyani, A., Suseno, A., & Nuryati. (2017). Transformasi Makna Simbolik Mihrab pada Novel ke Film dalam Mihrab Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy: Kajian Ekranisasi. Jurnal Sastra Indonesia, 6(3). https://journal.unnes.ac.id/sju/jsi/issue/view/1242Permadi, T. (2017). Naskah Nusantara dan Berbagai Aspek yang Menyertainya. Diakses dari http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BHS._DAN_SASTRA_INDONESIA, 1“33.Primadesi, Y. (2012). Peran Masyarakat Lokal dalam Usaha Pelestarian Naskah-Naskah Kuno Paseban. Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, dan Seni, 11(2). DOI:  10.24036/komposisi.v11i2.88Suwaji, I. G. M. G. (2011). Lontar, Katalog Induk Naskah Koleksi Bali. Bali: Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.Seger, L. (2009). The Art of Adaptation: Turning Fact and Fiction into Film. London: Routledge.
TINJAUAN IKONOGRAFI DAN IKONOLOGI POSTER IKLAN RED BULL œPOWER ON FOR STRENGTH Desiana Muryasari; Rohiman Rohiman; Iqbal Mahendra
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.58339

Abstract

Red Bull is an energy drink brand owned by Red Bull GmbH from Austria. With a share of Red Bull is an energy drink brand owned by Austrian company Red Bull. With a market share of 38%, Red Bull became the world's most popular energy drink brand in 2019. Rather than relying on traditional marketing methods, Red Bull gained attention and built a œbrand myth through several extreme sports series. Red Bull has repeatedly used nonverbal forms of signs and signals (icons) when designing advertising posters for its products. What is interesting to study is that the symbols used in Red Bull product advertisements have an important and lasting role. The purpose of this study is to identify the signs and markings on Red Bull's œPower on for Strength advertising posters. The qualitative research method uses a historical approach. This research review is historical and based on Erwin Panofsky's theory of iconography and iconology. Translated with DeepL.com (free version). The iconography review emphasizes the themes and concepts in the Product advertising posters. The first conclusion regarding the visual design of the Red Bull œPower On For strength advertising poster has factual and representational meanings. The main object is factual in the object of can packaging and the Power icon which is explicitly an expression of Red Bull can packaging is strength. The second conclusion is the theme of the advertisement about the representation of recognizable objects. The representation of familiar objects is often used to express the objective relationship between the sign of an object in the icon and the real object. The third conclusion is the meaning of the Red Bull advertising poster œPower On For Strength Red Bull product identification process through the shape and icon of power on the object of can packaging. The can packaging symbolizes the product name Red Bull, and the Power icon as a sign of power. Using the power icon means that drinking Red Bull increases energy in the body, in other words making you feel like you just woke up.Keywords: Advertising, Poster, Iconography, Iconology, RedBullAbstrakRed Bull merupakan sebuah merek minuman energi milik Red Bull GmbH asal Austria. Dengan pangsa Red Bull adalah merek minuman energi yang dimiliki oleh perusahaan Austria Red Bull. Dengan pangsa pasar sebesar 38%, Red Bull menjadi merek minuman energi terpopuler di dunia pada tahun 2019. Daripada mengandalkan metode pemasaran tradisional, Red Bull mendapatkan perhatian dan membangun "mitos merek" melalui beberapa seri olahraga ekstrim. Red Bull telah berulang kali menggunakan bentuk  tanda dan tanda (ikon) nonverbal ketika merancang poster iklan untuk produknya. Yang menarik untuk dikaji adalah simbol yang digunakan dalam  iklan produk Red Bull mempunyai peranan penting dan abadi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tanda dan penandaan pada poster iklan œPower on for Strength Red Bull. Metode penelitian kualitatif menggunakan pendekatan sejarah. Tinjauan  penelitian ini bersifat historis dan didasarkan pada teori ikonografi dan ikonografi Erwin Panofsky. Tinjauan ikonografi menekankan kepada tema dan konsep pada poster iklan Produk. Kesimpulan pertama mengenai desain visual poster iklan Red Bull œPower On For trength'' memiliki makna faktual dan representasionalnya. Objek utama bersifat faktual ialah pada objek kemasan kaleng dan ikon Power yang secara eksplisit bersifat ekspresi dari kemasan kaleng Red Bull ialah kekuatan. Kesimpulan kedua tema iklan tentang representasi objek yang mudah dikenali. representasi objek yang familiar sering digunakan untuk mengungkapkan hubungan objektif antara tanda suatu objek dalam ikon dan objek nyata. Kesimpulan ketiga adalah makna poster iklan Red Bull œPower On For Strangth Red Bull proses identifikasi produk melalui bentuk dan ikon power pada objek kemasan kaleng. Kemasan kaleng melambangkan nama produk Red Bull, dan ikon Power sebagai tanda bentuk kekuasaan. Menggunakan ikon power berarti meminum Red Bull meningkatkan energi dalam tubuh, dengan kata lain membuat Anda merasa seperti baru bangun tidur.Kata Kunci: Iklan, Poster, Ikonografi, Ikonologi, RedBullAuthors:Desiana Muryasari : Institut Informatika dan Bisnis DarmajayaRohiman : Institut Informatika dan Bisnis DarmajayaIqbal Mahendra : Institut Informatika dan Bisnis DarmajayaReferencesAppel, G., Grewal, L., Hadi, R., & Stephen, A. T. (2020). The future of social media in marketing. Journal of the Academy of Marketing Science, 48(1), 79“95. https://doi.org/10.1007/s11747-019-00695-1Burhan, M. A. (2008). Perkembangan Seni Lukis Mooi Indie sampai Persagi di Batavia, 1900-1942. Jakarta. Galeri Nasional Indonesia.Burhan, M. A. (2015). Lukisan Ivan Sagita œMakasih Kollwitz (2005) dalam Sejarah Seni Lukis Modern Indonesia: Tinjauan Ikonografi dan Ikonologi. Panggung, 25(1), Article 1. https://doi.org/10.26742/panggung.v25i1.10Firat, D. (2019). YouTube advertising value and its effects on purchase intention. Journal of Global Business Insights, 4(2), 141“155. https://doi.org/10.5038/2640-6489.4.2.1097Justin, M. R., Rohiman, R., Moussadecq, A., Darmawande, A., & Ramadhan, A. A. (2023). Iklan Layanan Masyarakat Sebagai Media Kampanye Sosial Bahaya Adiksi Game Online. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 12(1), 48. https://doi.org/10.24114/gr.v12i1.42857Official Website., R. B. E. D. (2024). Red Bull Energy Drink”Official Website. https://www.redbull.com/id-id/energydrink/company-profilePanofsky, E. (1955). Meaning in the Visual Arts. Doubleday & Company, Inc.Ramadhan, A. Z. (2020). Analisis Semiotika Iklan Cetak La Lights œJangan Mau Diadu Versi Ayam. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(2), Article 2. https://doi.org/10.24114/gr.v9i2.19551Rohiman, R., Mousadecq, A., Darmawan, A., & Ramadhan, A. A. (2022). Kajian Tanda Pada Poster Iklan Produk IKEA. Prosiding Seminar Nasional Darmajaya, 1(0), Article 0.Rohiman, R., Moussadecq, A., & Widakdo, D. T. (2022). Ornamen Kapal Lampung Typeface. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 439. https://doi.org/10.24114/gr.v11i2.38959Schouten, A. P., Janssen, L., & Verspaget, M. (2020). Celebrity vs. Influencer endorsements in advertising: The role of identification, credibility, and Product-Endorser fit. International Journal of Advertising, 39(2), 258“281. https://doi.org/10.1080/02650487.2019.1634898Utoyo, A. W. (2020). Analisis Komunikasi Visual Pada Poster Sebagai Media Komunikasi Mendorong Jarak Sosial Di Jakarta Saat Epidemi Covid 19. LUGAS Jurnal Komunikasi, 4(1), 35“42. https://doi.org/10.31334/lugas.v4i1.939