cover
Contact Name
Adek Cerah Kurnia Azis
Contact Email
adek_peros@yahoo.com
Phone
+6285278021981
Journal Mail Official
gorgajurnalsenirupa@unimed.ac.id
Editorial Address
Jl. Willem Iskandar / Pasar V, Medan, Sumatera Utara – Indonesia Kotak Pos 1589, Kode Pos 20221
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Gorga : Jurnal Seni Rupa
ISSN : 23015942     EISSN : 25802380     DOI : https://doi.org/10.24114/gr.v9i1
Core Subject : Education, Art,
Gorga : Jurnal Seni Rupa terbit 2 (dua) kali setahun pada bulan Juni dan Desember, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran, hasil penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang ditulis oleh para pakar, ilmuwan, praktisi (seniman), dan pengkaji dalam disiplin ilmu kependidikan, kajian seni, desain, dan pembelajaran seni dan budaya.
Articles 806 Documents
PENGARUH PERBEDAAN MORDAN PADA PENCELUPAN DENGAN ZAT WARNA DAUN INAI (LAWSONIA INERMIS L.) TERHADAP KAIN KATUN Khalishah Rezky Muharrani; Adriani Adriani; Sri Zulfia Novrita; Weni Nelmira
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.50050

Abstract

Natural dyes are highly recommended as environmentally friendly dyes so they can be used continuously. This research utilizes henna leaves as a natural dye that is easy to obtain and has a coloring agent. This study means to depict: 1) the color's name (hue), 2) its value, 3) its uniformity, and 4) the effect of various mordant whitting and tunjung on the results of natural dyeing cotton fabric with henna leaf extract. The primary data used in this study come from 18 panelists, making it an experiment. The gathered information is handled and investigated with the SPSS (Factual Item and Administration Arrangement) rendition 22.0 utilizing the K-related example friedman test equation. The research results show that the colors are produced from: 1) the non-mordant dye is Golden Sundance #BB9457, 2) dyeing with whiting mordant produces Golden Sundance color #BDB76B, and 3). dyeing with Tunjung mordant produces Dark Olive Green color #32441E. The results of data value analysis obtained from the Friedman K-relative sample a significance of 0.000 which is smaller than the significance level of 0.05 or 0.000 <0.05. Then Ho is declared rejected, which is  means that there is a significant effect on the color darkness (value) due to the influence of the use of mordant whitting, and tunjung on the dyeing results of henna leaf extract (Lawsonia Inermis L) on cotton fabric. Based on the analysis obtained from the Friedman K-related test the sample for evenness of color is 0.001 which is smaller than the significance level of 0.05 or 0.001 <0.05. Then Ho was declared rejected, which meant that there was a significant difference in the evenness of the color caused by differences in mordant to the results of dyeing henna leaf extract (Lawsonia Inermis L) on cotton fiber material.Keywods: whitting, tunjung, henna leaves.AbstrakPewarna alami sangat direkomendasikan sebagai pewarna yang ramah lingkungan sehingga dapat digunakan terus menerus. Penelitian ini memanfaatkan daun inai sebagai bahan pewarna alami yang mudah diperoleh dan memiliki zat warna. Penelitian tujuannya guna mendeskripsikan 1) nama warna (hue), 2)  gelap terang warna (value), 3) kerataan warna, dan 4) pengaruh perbedaan mordan kapur sirih, dan tunjung terhadap hasil pencelupan alami menggunakan ekstrak daun inai pada kain katun. Jenis penelitian adalah eksperimen, data penelitian yang digunakan adalah data primer yang bersumber dari 18 panelis.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket, kemudian data tersebut diolah dan dianalisis dengan uji Friedman K-Related Sample.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna yang dihasilkan dari: 1) pencelupan tanpa mordan adalah warna Golden Sundance #BB9457 2) pencelupan dengan mordan kapur sirih menghasilkan warna Golden Sundance #BDB76B, dan 3) pencelupan dengan mordan tunjung adalah menghasilkan warna Dark Olive Green #32441E. Hasil analisis data gelap terang yang diperoleh signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05 atau 0,000 < 0,05. Maka Ho dinyatakan ditolak, mempunyai arti bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap gelap terang warna (value) akibat pengaruh penggunaan mordan kapur sirih, dan tunjung terhadap hasil pencelupan ekstrak daun inai (Lawsonia Inermis L) pada kain katun. Berdasarkan analisis yang di peroleh dari uji Friedman K-related sampel untuk hasil kerataan warna adalah 0,001 yang lebih kecil dibandingkan dari taraf signifikansi 0,05 atau 0,001 < 0,05. Maka Ho dinyatakan ditolak, yang berarti adanya perbedaan signifikan terhadap kerataan warna yang diakibatkan oleh perbedaan mordan terhadap hasil pencelupan ekstrak daun inai (Lawsonia Inermis L) pada bahan dari serat katun.  Kata Kunci: kapur sirih, tunjung, daun inai.Authors:Khalishah Rezky Muharrani : Universitas Negeri MedanAdriani : Universitas Negeri MedanSri Zulfia Novrita : Universitas Negeri MedanWeni Nelmira : Universitas Negeri Medan References:Abu, A., & Hading, A. (2016). Pewarnaan tumbuhan alami kain sutera dengan menggunakan fiksator tawas, tunjung dan kapur tohor. Indonesian Journal of Fundamental Sciences, 2(2), 86-91.Ahmad, A. F., & Hidayati, N. (2018). Pengaruh jenis mordan dan proses mordanting terhadap kekuatan dan efektifitas warna pada pewarnaan kain katun menggunakan zat warna daun jambu biji Australia. Indonesia Journal of Halal, 1(2), 84-88.Azizah, E., & Hartana, A. (2018). Pemanfaatan daun Harendong (Melastoma malabathricum) sebagai pewarna alami untuk kain katun. Dinamika Kerajinan dan Batik, 35(1), 1-8.Nisa, A. R., & Singke, J. (2018). Pengaruh Massa Mordan Tunjung Terhadap Hasil Pewarnaan Dengan Kulit Buah Asam (Sweettamarind) Menggunakan Teknik Tie Dye. Jurnal Tata Busana, 7(2), 41“47.Putri, A. W. A., Angelica, J., & Kartawidjaja, K. (2021). Pewarnaan dan Pemberian Motif Alami Kain Celup Ikat Itajime Shibori dengan Ekstrak Indigofera dan Tunjung. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 541-548.Nilamsari, Z., & Giari, N. (2018). Uji Coba Pewarna Alami Campuran Buah Secang Dan Daun Mangga Pada Kain Katun Prima. Jurnal Seni Rupa, 6(01), 839-847.Rosyida, A. (2015). Pengaruh Variasi pH dan Fiksasi pada Pewarnaan Kain Kapas dengan Zat Warna Alam dari Kayu Nangka Terhadap Kualitas Hasil Pewarnaannya. In Prosiding seminar Nasional 4th UNS SME™s Summit & Awards, Universitas Negeri Surakarta, Surakarta (pp. 101-112).Wulandari, C., Loravianti, S. R., & Jamarun, N. (2021). Pituah Paikek: Penciptaan Karya Tari Berangkat Dari Ritus Peralihan Malam Bainai Di Sumatera Barat. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 302-311.Zainab, Z., Sulistyani, N., & Anisaningrum, A. (2016). Penetapan parameter standardisasi non spesifik dan spesifik ekstrak daun pacar kuku (Lawsonia inermis L.). Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi, 13(2), 212-226.Zulikah, K., & Adriani, A. (2019). Perbedaan Teknik Mordanting terhadap Hasil Pencelupan Bahan Katun Primisima menggunakan Warna Alam Ekstrak Daun Lamtoro (Leucaena Leucocephala) dengan Mordan Kapur Sirih. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 8(1), 209-213.
MANAJEMEN ORGANISASI SANGGAR ANDARI DI KOTA PONTIANAK Della Fitriyanti; Dwi Oktariani; Ismunandar Ismunandar
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.58080

Abstract

This research aims to find out the organizational management of Andari studio which continues to be active in working and achieving until now in Pontianak City. Specifically, this research reveals how sanggar Andari manages its activities and the role of managers in the organization through the analysis of management functions and elements consisting of: planning; organizing; actuating; controlling; money; method; material; and market. The form of research used is descriptive qualitative with sociological and historical approaches so as to obtain data from interviews, observations and documentation. Data sources in this study are oral sources, written sources and behavioral sources which are then triangulated sources and extended observations as a technique for testing the validity of the data. The results showed that Sanggar Andari uses the functions and elements of management; (1) planning in the form of recruitment of studio management, recruitment of studio members, determination of training schedules, learning curriculum, training venues; (2) organizing contains work details, grouping work, dividing tasks and coordination; (3) implementation of training activities in Sanggar Andari according to a predetermined schedule; (4) finance includes designing funds and allocating funds; (5) marketing through social media by creating a special Instagram account for the studio; (6) the method or system set by the studio manager is a predetermined training schedule; (7) the materials needed by the studio facilities consisting of studio clothing, makeup, musical instruments, training places, and material provision; (8) supervision carried out, the head always monitors the activities held in the studio and outside the studio with the aim of controlling the course of studio management to make it better.Keywords: organizational management, Andari studio.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen organisasi sanggar Andari yang terus aktif dalam berkarya dan berprestasi sampai saat ini di Kota Pontianak. Secara spesifik penelitian ini mengungkap bagaimana sanggar Andari mengelola kegiatannya dan peran pengelola dalam organisasi melalui analisis fungsi dan unsur-unsur manajemen yang terdiri dari; planning; organizing; actuating; controlling; money; method; material; dan market. Bentuk penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologis dan historis sehingga mendapatkan data hasil wawancara, observasi dan dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini yaitu sumber lisan, sumber tertulis dan sumber perilaku yang kemudian dilakukan triangulasi sumber dan perpanjangan pengamatan sebagai teknik pengujian keabsahan data. Hasil penelitian menunjukan bahwa sanggar Andari menggunakan fungsi dan unsur manajemen; (1) perencanaan berupa perekrutan kepengurusan sanggar, perekrutan anggota sanggar, penentuan jadwal latihan, kurikulum pembelajaran, tempat latihan; (2) pengorganisasian berisi rincian pekerjaan, pengelompikan pekerjaan, membagi tugas dan kordinasi; (3) pelaksanaan kegiatan latihan yang ada di Sanggar Andari sesuai jadwal yang telah ditentukan; (4) keuangan meliputi perancangan dana dan mengalokasikan dana; (5) pemasaran melalui sosial media dengan membuat instagram khusus sanggar; (6) cara atau sistem yang ditetapkan pengelola sanggar ialah aturan jadwal latihan yang sudah ditentukan; (7) bahan-bahan yang diperlukan sanggar fasilitas sanggar yang terdiri busana sanggar, tata rias, alat musik, tempat latihan, dan pemberian materi; (8) pengawasan yang dilakukan, ketua selalu memantau kegiatan yang diselenggarakan di sanggar maupun di luar sanggar dengan tujuan mengontrol jalannya manajemen sanggar agar lebih baik.Kata Kunci: manajemen organisasi, sanggar Andari. Authors:Della Fitriyanti: Universitas TanjungpuraDwi Oktariani: Universitas TanjungpuraIsmunandar: Universitas Tanjungpura References:Ahdi, S., Pebriyeni, E., Erwin, E., & Ariusmedi, A. (2020). MULTIMEDIA INTERAKTIF MATERI TEKNIK BATIK JUMPUTAN PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN SDN 50 DAN 53 KAMPUNG JAMBAK PADANG. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 9(2). https://doi.org/10.24114/gr.v9i2.21238Dwi Oktariani, Pendidikan, I., Pendidikan, P., & Pertunjukan, S. (2024). PERAN SANGGAR SENI KESUMBA DALAM MELESTARIKAN KESENIAN TRADISIONAL MELAYU Dwi Oktariani. Journal Ilmiah Rinjani (JIR) Media Informasi Ilmiah Universitas Gunung Rinjani, 12(1).I Gede Tilem Pastika, & Sukerni, N. M. (2022). Strategi Pembelajaran Tari Bali pada Anak Usia Dini di Sanggar Taman Giri Agung Denpasar. Pratama Widya: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7(2). https://doi.org/10.25078/pw.v7i2.1771Mariana, D., Oktariani, D., Seni Pertunjukan Pendidikan Bahasa dan Seni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura Jl Hadari Nawawi, P. H., Laut, B., Pontianak Tenggara, K., Pontianak, K., Pos, K., & Barat Indonesia, K. (2023). MANAJEMEN ORGANISASI SANGGAR SENI KESUMBA DI KABUPATEN MEMPAWAH. Jurnal Seni Rupa, 12.Mulyadi, M., & Herdianto, F. (2022). UPAYA PEMETAAN DAN PENGEMBANGAN SENI BUDAYA BENGKULU TENGAH. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 11(2). https://doi.org/10.24114/gr.v11i2.39274Nauri, K. A., & Fatmawati, N. (2022). Implementasi Kearifan Lokal Gusjigang dalam Perspektif Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Pada Pondok Al Mawadah Kudus. ASANKA¯: Journal of Social Science and Education, 3(2). https://doi.org/10.21154/asanka.v3i2.4671Oktariani, D. (2024a). Pelatihan Tari Jepin Langkah Simpang Pada Siswa SMKN 1 Sukadana. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Nusantara, 5(1). https://doi.org/10.55338/jpkmn.v5i1.2934Oktariani, D. (2024b). Regenerasi Tari Jepin Tembung Panjang di Kota Pontianak. Wacana¯: Jurnal Bahasa, Seni, Dan Pengajaran, 8(1), 88“102. https://doi.org/10.29407/jbsp.v8i1.22306Oktavia, D., Sukmayadi, Y., & Nugraheni, T. (2023). Kurikulum Pembelajaran Tari di Padepokan Surya Medal Putera Wirahma. EDUKATIF¯: JURNAL ILMU PENDIDIKAN, 5(3). https://doi.org/10.31004/edukatif.v5i3.5401Priyanto, W. P. (2018). PROSES KREATIF TARI LENGGASOR DI SANGGAR WISANGGENI KABUPATEN PURBALINGGA BANYUMAS. Imaji, 16(1). https://doi.org/10.21831/imaji.v16i1.19427Putri, V. A., Permanasari, A. T., & Lestari, D. J. (2023). IMPLEMENTASI METODE SAS (STRUKTUR, ANALITIS, DAN SINTESIS) DALAM PEMBELAJARAN TARI JATI LARAS DI SANGGAR RSTUDIO KOTA CILEGON BANTEN. Gesture: Jurnal Seni Tari, 12(2). https://doi.org/10.24114/gjst.v12i2.48425Retno Hayuningtyas, T., & Handayaningrum, W. (2019). Regenerasi Kesenian Reyog Ponorogo Melalui Pembelajaran Reyog Mini Di Sanggar Tari Solah Wetan, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo. Jurnal Pendidikan Sendratasik, 6(1).Rofi™ul Fajar, Yuwana, S., & Trisakti. (2021). MANAJEMEN ORGANISASI SENI PERTUNJUKAN SANGGAR BALADEWA SURABAYA. Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti, 8(1). https://doi.org/10.38048/jipcb.v8i1.120Sakirin, S., Bagiastra, I. K., Murianto, M., Idrus, S., & Kurniansah, R. (2021). PERAN KELOMPOK SADAR WISATA (POKDARWIS) DALAM PENGEMBANGAN POTENSI WISATA GUNUNG SASAK DI DESA KURIPAN GIRI SASAKA. Journal Of Responsible Tourism, 1(2). https://doi.org/10.47492/jrt.v1i1.993
FUNGSI MOTIF GURDA PADA BATIK YOGYAKARTA Septianti Septianti
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.60214

Abstract

Batik has various decorative patterns in its motifs, in batik in Yogyakarta you often see the gurda motif combined with other motifs. The gurda motif is used as a form of reflection of Indonesian culture. This article reviews the gurda motif in terms of function in batik in Yogyakarta. The method used is a descriptive qualitative method with an aesthetic and social approach to understand the form and function of the gurda motif. Apart from that, the aesthetic approach helps in dissecting the function of the gurda motif towards values and paying attention to the current scope of society. To dissect the gurda motif using Edmund Burke Felman's theory in understanding its function. By using Felman's theory, three functions were found, namely spiritual function, social function and industrial commodity function. Through this article, it will result in a change in function from sacred to a form of social strata which will turn into an industrial commodity which is ultimately used as a mass item. Apart from this, we can see a comprehensive change in the significance of the gurda motif in the spiritual realm, which aims to clarify its contemporary function.Keywords: batik, gurda, motif,  YogyakartaAbstrakBatik memiliki berbagai raham hias pada motifnya, pada batik yang ada di Yogyakarta sering kali dilihat motif gurda yang dikombinasikan dengan motif lain. Motif gurda digunakan sebaga bentuk refleski budaya bangsa Indonesia. Tulisan ini mengulas mengenai motif gurda dari segi fungsi pada batik di Yogyakarta. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan estetika dan sosial untuk dapat memahami bentuk dan fungsi dari bentuk motif gurda tersebut. Selain itu dengan pendekatan estetika membantu dalam membedah fungsi yang terdapat pada motif gurda terhadap nilai-nilai dan memperhatikan lingkup masyarakat pada saat ini. Untuk membedah mengenai motif gurda dengan menggunakan teori Edmund Burke Felman dalam memahami fungsinya. Dengan menggunakan teori dari Felman ditemukan tiga fungsi yaitu fungsi sebagai spiritual, fungsi sosial, dan fungsi sebagai komoditas industri. Melalui tulisan ini menghasilkan adanya perubahan fungsi dari sakral hingga sebagai bentuk strata sosial yang akan berubahan mejadi barang komoditas industri yang akhirnya digunakan sebagai barang masal.  Selain hal tersebut dapat dilihat adanya perubahan  komprehensif terhadap signifikansi motif gurda dalam ranah spiritual, yang bertujuan untuk memperjelas fungsi kontemporernya.Kata Kunci:batik, gurda, motif, Yogyakarta Author:Septianti : ISI Yogyakarta ReferencesAtmojo, W. T. (2011). Barong dan Garuda dari Sakral ke Profan. Yogyakarta: Pascasarjana ISI Yogyakarta.Cahya, H. E. (2018). Partisipasi Masyarakat, Kegiatan Pendidikan Membatik, Pelestarian Budaya Lokal Membatik Di Dusun Semin. Jurnal Kebijakan Pendidikan Vol., 7(2), 120“130.Falahi, Y., & Hermawan, H. (2023). Konsumerisme Pada Batik Dalam Perspektif Identitas, Komoditas, dan Gayat Hidup. Katarupa, 1 No.1(Vol. 1 No. 1 (2023): Katarupa Volume 1 no 1 2023), 11“20. Retrieved from https://journals.itb.ac.id/index.php/katarupa/article/view/21067Feldman, E. B. (1991). Art As Image And Idea (Sp Gustami). Yogyakarta: Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.Harmoko. (1996). Indonesia Indah Buku ke-8 " Batik. Jakarta: TMII.Jesper, J. E., & Pirngadie, M. (2017). Batik: Seni Kerajinan Pribumi di Hindia Belanda. Yogyakarta: DEKRANAS.Kawindrasusanta, K. (1981). Mengenai Seni Batik di Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Besar Kerajinan dan Batik.Murtihadi, & Mukminatun. (1979). Pengetahuan Teknologi Batik. Jakarta: Departemen pendidikan dan Kebudayaan.Novrita, S. Z., & Pratiwi, M. (2022). Makna Motif Batik Di Kabupaten Solok Selatan Studi Kasus Pada Sanggar Azyanu Batik 1000 Rumah Gadang. Gorga¯: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 628. https://doi.org/10.24114/gr.v11i2.39652Santana, S. (2007). Menulis Ilmiah Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: OBOR.Septianti. (2019). Gurda Pada Batik Larangan Yogyakarta. Yogyakarta: Tesis Pascasarjana ISI Yogyakarta.Septianti. (2020). Kajian Bentuk, Fungsi, Dan Makna Simbolik Motif Gurda Pada Batik Larangan Yogyakarta. INVENSI (Jurnal Penciptaan Dan Pengkajian Seni), 5(1), 65“80. https://doi.org/10.24821/invensi.v1i1.4125Suwito, S. Y., Marwito, T., Damami, Riswinarno, & Gupta, D. (2010). Nilai Budaya dan Filosofi Upacara Sekaten di Yogyakarta. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Yogyakarta.Suyanto, A. N. (2002). Sejarah Kerajinan Batik Indonesia. Yogyakarta: Rumah Penerbit Merapi.Trixie, A. A. (2017). Filosofi Motif Batik Sebagai Identitas Bangsa Indonesia. Paradigma, 19(2), 127“130.
ANALYSIS OF ADAPTIVE REUSE BUILDING FOR EARLY CHILDHOOD SCHOOL: OPTIMIZING INTERIOR DESIGN FOR CHILD DEVELOPMENT Nury Tanzillah; Kharista Astrini Sakya
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 2 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i2.62371

Abstract

The conversion of unused or abandoned buildings into educational facilities, known as adaptive reuse, is a common practice in school construction. The process involves transforming old buildings to meet new educational needs. While adaptive reuse is considered an innovative and sustainable solution, research shows that this approach often does not support optimal child development. This research explores the application of educational principles in the context of adaptive reuse with a focus on creating learning spaces suitable for early childhood education. The method used involved a qualitative approach with an open-ended questionnaire administered to school principals, teachers, staff and parents. The questionnaire was designed to elicit understanding and perceptions of how interior design can support children's physical, emotional and social development. The novelty of this study lies in the integration of interior design principles specific to early childhood education in the context of adaptive reuse. Different from previous studies that focus on structural or functional aspects, this research offers practical guidance to transform old buildings into learning spaces that support various aspects of children's growth. The results reveal that adaptive reuse applications often do not fulfill all important aspects of designing learning environments. Key issues identified include limitations in creating spaces that support children's creativity, safety, comfort and social interaction. This research emphasizes the need for a more integrated and developmentally-focused design approach to ensure that the resulting learning spaces truly support various aspects of children's growth and learning.
HUBUNGAN KEMAMPUAN MENGGAMBAR RAGAM HIAS DENGAN KEMAMPUAN MEMBATIK SISWA SMA SWASTA SANTA LUSIA Norawaty Simangunsong; Zulkifli Zulkifli
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.50084

Abstract

Learning the art and culture of batik material at the Santa Lucia Sei Rotan Private High School has not led to the development of the ability to draw ornaments. This is because the teachers who teach fine arts do not come from the fine arts department, so teachers do not understand how to teach decorative learning using batik skills. This research aims to find out how much the ability to draw decorations is related to the ability to make batik in class X students at Santa Lusia Sei Rotan Private High School. The method used in this study is the correlational method. The sampling technique was carried out by using random sampling technique, so that the research sample was X-MIA class with 36 students. The research instrument uses practice tests and data collection techniques are carried out by observation. Data analysis used is quantitative data. Data processing obtained the average pre-test score was 74.78, in the poor score category, while the posttest average score was 82.81 in the good score category. The results obtained show that the pre-test and posttest data are normally distributed and homogeneous. Hypothesis testing obtained tcount = 5.6862 and t(table) = 1.9966,, because tcount (5.6862) >  t(table)(1.9966), then the null hypothesis (Ho) is rejected and the alternative hypothesis (Ha) is accepted . Furthermore, the correlation test obtained rcount = 0.7371 and rtable = 0.329, because rcount (0.7371)> rtable (0.329), and provided input or contribution of 54%. The results of the hypothesis test and correlation test show that there is a relationship between the ability to draw decorations and the ability to make batik.Keywords: relationship, drawing ornaments, batik. AbstrakPembelajaran seni budaya materi batik di SMA Swasta Santa Lusia Sei Rotan belum mengarah pada pengembangan kemampuan menggambar ragam hias. Hal ini dikarenakan guru yang mengajar seni rupa tidak berasal dari jurusan seni rupa, sehingga guru kurang memahami bagaimana cara mengajarkan pembelajaran ragam hias dengan kemampuan membatik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar hubungan kemampuan menggambar ragam hias dengan kemampuan membatik siswa kelas X SMA Swasta Santa Lusia Sei Rotan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan teknik random sampling, sehingga diperoleh sampel penelitian adalah kelas X-MIA sebanyak 36 siswa. Instrumen penelitian menggunakan test praktik dan teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi. Analisis data yang digunakan adalah data kuantitatif. Pengolahan data diperoleh nilai rata-rata pre-test adalah 74,78 dengan kategori nilai kurang, sedangkan nilai rata-rata posttest adalah 82,81 dengan kategori nilai baik. Hasil yang dipeoleh menunjukkan  bahwa data pre-test dan posttest berdistribusi normal dan homogen. Uji hipotesis diperoleh    = 5,6862 dan = 1,9966, karena   (5,6862) > (1,9966), maka hipotesis nihil ( ) ditolak dan hipotesis alternatif ( ) diterima. Selanjutnya uji korelasi diperoleh  = 0,7371 dan = 0,329, maka  (0,329), dan memberikan masukan atau kontribusi sebesar 54%. Hasil uji hipotesis dan uji korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan kemampuan menggambar ragam hias dengan kemampuan membatik.Kata Kunci: hubungan, menggambar ragam hias, membatik. Authors:Norawaty Simangunsong: Universitas Negeri MedanZulkifli : Universitas Negeri Medan References:Atmojo, W. T., Kartono, G., & Nurwani, N. (2021). Revitalisasi Identitas Melayu: Studi Penerapan Ragam Hias Tradisonal Melayu pada Bangunan Modern di Kota Medan. Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), 3(3), 895-903.Herlambang, Y. T. (2015). Pendidikan Kearifan Etnik dalam Mengembangkan Karakter. Edu Humaniora: Jurnal Pendidikan Dasar Kampus Cibiru,7(1).Lisbiyanto, H. (2013). Batik. Yogyakarta: Graha Ilmu.Lubis, S. K. (2022). Evaluasi Kinerja Guru Seni Budaya Ditinjau dari Kesesuaian Latar Belakang Pendidikan Guru Dengan Aspek Seni yang Diajarkan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(2), 394-401.Nurambia, N. (2021). Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Menggunakan Model Role Playing Pada Materi Seni Rupa Dua Dimensi Di Sman 1 Labuhan Deli. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(1), 152-163.Prawira, N. G. (2018). Budaya Batik Dermayon. Bandung: PT Sarana Tutorial Nurani Sejahtera.Sachari, A., & Sunarya, Y. Y. (2000). Tinjauan Desain. Bandung: Institut Teknologi Bandung.Sari, R. (2014). Seni Rupa Nusantara Ragam Hias dan Penerapannya. Medan: Unimed Press.Sarinah, S., & Azmi, A. (2019). Analisis Hasil Menggambar Ragam Hias Melayu Ditinjau Dari Prinsip-Prinsip Seni Rupa Karya Siswa Di Smp Kartika I-1 Medan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 8(2), 284-290.Siregar, N. H., Azis, A. C. K., Mesra, M., & Mirwa, T. (2020). Analisis Gambar Bentuk Bunga Anggrek dengan Teknik Pointilis Berwarna di SMP Al-Fityan School Medan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 9(1), 94-99.Siregar, S. A., Sugito, S., & Atmojo, W. T. (2019). Hubungan Pengetahuan Dan Kemampuan Mendisain Ornamen Dengan Hasil Belajar Membatik Motif Ornamen Batak Angkola Mandailing Siswa Kelas X SMK Karya Bunda Medan. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 8(2), 363-368.Slameto, S. (2003). Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.Sugito, S., & Saragi, D. (2017). Evaluasi Hasil Belajar Seni Rupa. Medan: FBS Unimed Press.Wulandari, A. (2011). Batik Nusantara. Yogyakarta: Andi Offset.
PENERAPAN MATERIAL KOMPOSIT FIBER REINFORCED POLYMER (FRP) PADA STANG KERUGG RAWIT Farras Rafi Maulana; Hardy Adiluhung; Yoga Puji Raharjo
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.50160

Abstract

The automotive sector has developed very rapidly and has contributed to world development both in terms of usability as well as in terms of visuals with the phenomenon of vehicles in various forms. But even automotive developments are directly proportional to the negative impact that has arisen. Correlating with this phenomenon, the government issued a solution by developing electric vehicles which made various parties compete to develop it. One of the parties developing electric vehicles, namely PT Konderatu Artistika, has launched a brand called Kerugg Rawit series. Rawit is an electric motorbike with a unique shape, especially on the handlebar, so it requires materials with high flexibility and strength in the manufacturing process. Fiber Reinforced Polymer (FRP) is a composite material with high flexibility and strength that is suitable for use as the main handlebar material. The use of FRP as the main handlebar material is to simplify the manufacturing process without affecting the quality of the handlebars, especially by adding a raft system to make it easier for the user. By using the User-Centered Design method that focuses on user needs, it is known that FRP can be a solution in making handlebars. Rawit Handlebars with the main material FRP have high durability, light weight, anti-rust and easy to manufacture. The use of FRP composite materials is considered very appropriate as the main material for Kerugg Rawit handlebars.Keywords: electric vehicle, FRP, handlebar. AbstrakSektor otomotif telah berkembang sangat pesat dan telah berkontribusi pada perkembangan dunia baik dari segi kegunaan juga segi visual dengan adanya fenomena kendaraan dengan bentuk yang beragam. Tetapi perkembangan otomotif pun berbanding lurus dengan dampak negatif yang ditimbulkan. Berkorelasi dengan fenomena tersebut pemerintah mengeluarkan solusi dengan mengembangkan kendaraan listrik yang membuat berbagai pihak berlomba untuk mengembangkannya. Salah satu pihak yang mengembangkan kendaraan listrik yaitu PT Konderatu Artistika dengan mengeluarkan sebuah brand bernama Kerugg seri Rawit. Penciptaan ini bertujuan untuk penerapan material komposit Fiber Reinforced Polymer (FRP) pada stang kerugg rawit. Penciptaan ini menggunakan metode perancangan User-Centered Design yang berfokus pada kebutuhan pengguna. Hasil penciptaan diketahui bahwa FRP dapat menjadi solusi dalam pembuatan stang. Stang rawit dengan material utama FRP memiliki daya tahan tinggi, bobot ringan, anti-karat dan mudah dibuat. Penggunaan material komposit FRP dinilai sangat tepat sebagai material utama stang Kerugg Rawit.Kata Kuci: kendaraan listrik, FRP, stang. Authors:Farras Rafi Maulana : Telkom UniversityHardy Adiluhung : Telkom UniversityYoga Puji Raharjo : Telkom University References:Adiluhung, H. (2021). Proses Kreatif Tim Desainer Rancang Bangun Kendaraan Tempur Kelas Ringan PT Pindad. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(1), 10-14.Chuan, L. B. (2005). Linear Static Finite Element Analysis of Composites Hat-Stiffened Laminated Plates. (Thesis, Universiti Teknologi Malaysia).Clyne, T.W. & Hull, D. (2019).  An introduction to Composite Materials. Cambridge: Cambridge University Press.Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2021). Uji Emisi Kendaraan sebagai Bentuk Kontribusi Masyarakat terhadap Pengendalian Pencemaran Udara. Jakarta: Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.Kumara, N. S. (2008). Tinjauan perkembangan kendaraan listrik dunia hingga sekarang. Transmisi: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro, 10(2), 89“96.Lego, D., Azis, A. C. K., Medan, J. W. I. P. V., & Tuan, P. S. (2022). Ilustrasi T-Shirt Gunnery Artwear. DEKAVE: Jurnal Desain Komunikasi Visual, 12(2), 116-125.Lowdermilk, T. (2013). User-centered Design: A Developer's Guide to Building User-Friendly Applications. Sebastopol: O'Reilly Media, Inc.Mahardika, I. G. N. (2023), œPerkembangan Kenderaan Listrik. Hasil Wawancara Pribadi: 5 Maret 2023, PT Konderatu Artistika.Masuelli, M. (2013). Fiber Reinforced Polymers: The Technology Applied for Concrete Repair. San Lois: Intech Open.Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 55. (2019). Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Eletric Vehicle) untuk Transportasi Jalan. Jakarta.Tinambunan, N., Triyanto, R., & Azis, A. C. K. Ilustrasi cerpen Renjaya Siahaan pada Koran Analisa. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(1), 56-61.Yuda, R., Sucipto, F. D., & Ghifari, M. (2022). Perancangan maskot ISBI Aceh sebagai Upaya Penguatan Brand Awareness. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 36-44.
PERWUJUDAN KASIH SAYANG KELUARGA DAN KERABAT MELALUI PERTUNJUKAN TOR-TOR Elmi Novita
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.56950

Abstract

Affection is a very important relationship in social life. Affection is manifested in various ways, one of which is performing art. This study explains the manifestation of affection between family and relatives in Mandailing culture. The research method is carried out through observation of tor-tor performances, which are performances that combine dance, music, and literature that become Mandailing culture. The results showed that affection in Mandailing culture is an important part of the kinship values of dalihan na tolu. Affection called holong is a noble value that governs relationships in kinship groups dalihan na tolu. Holong became one of the identities attached to the Mandailing community. In line with Islamic values and Mandailing cultural norms, compassion is felt with the heart and is not expressed openly either through touch or eye contact between families during tor-tor performances. The affection of family and relatives in dancing arises in response to togetherness in dancing and song verses that tell the life experiences of family and relatives.Keywords: Affection, kinship, identity, performing arts. AbstrakKasih sayang adalah hubungan yang sangat penting dalam kehidupan sosial. Kasih sayang diwujudkan dalam berbagai cara, salah satunya seni pertunjukan. Penelitian ini menjelaskan perwujudan kasih sayang antara keluarga dan kerabat di kebudayaan Mandailing. Metode penelitian dilakukan melalui pengamatan terhadap pertunjukan tor-tor, yaitu pertunjukan yang menggabungkan tari, musik dan sastra yang menjadi kebudayaan Mandailing. Hasil penelitian menunjukkan kasih sayang di kebudayaan Mandailing merupakan bagian penting dari nilai-nilai kekerabatan dalihan na tolu. Kasih sayang yang disebut dengan holong merupakan nilai luhur yang mengatur hubungan dalam kelompok kekerabatan dalihan na tolu. Holong menjadi salah satu identitas yang melekat dengan masyarakat Mandailing. Sejalan dengan nilai-nilai Islam dan norma budaya Mandailing kasih sayang dirasakan dengan hati dan tidak diungkapkan secara terbuka baik melalui sentuhan ataupun kontak mata diantara keluarga selama pertunjukan tor-tor. Kasih sayang keluarga dan kerabat dalam menari timbul sebagai tanggapan terhadap kebersamaan dalam menari dan syair lagu yang menceritakan pengalaman hidup keluarga dan kerabat.Kata Kunci:  Kasih sayang, kekerabatan, identitas, seni pertunjukan   Author:Elmi Novita : Institut Seni Budaya Indonesia Aceh ReferencesAdiriani, and Nova Fitriani. 2023. œMotif Dan Makna Motif Tenun Ulos Batak Angkola Di Kabupaten Tapanuli Selatan. Gorga: Jurnal Seni Rupa 12(2):302“9. doi: 10.24114/gr.v12i2.49593.Alamo, Enrico, Meria Eliza, and Giat Syailillah. 2021. œMakna Dan Fungsi Kain Ulos Pada Pusat Latihan Opera Batak Pematang Siantar (PLOt) Di Pematang Siantar Provinsi Sumatera Utara. Gorga: Jurnal Seni Rupa 10(1):94“106. doi: 10.24114/gr.v10i1.24824.Blacking, John. 1982. œMovement and Meaning: Dance in Social Anthropological Perspective. Dance Research: The Journal of the Society for Dance Research 1 (1):88“99.Budrianto, Wilma Sriwulan, and Marta Rosa. 2018. œApropriasi Gitar Dalam Kesenian Rejung Pada Masyarakat Suku Bashemah Kabupaten Kaur Provinsi BEngkulu. Gorga: Jurnal Seni Rupa 7(2):94“100. doi: 10.24114/gr.v7i2.10915.Buelow, George J. 1973. œMusic, Rhetoric, and the Concept of the Affections: A Selective Bibliography. Notes 30(2):250“59. doi: 10.2307/895972.Burleson, Mary H., Nicole A. Roberts, David W. Coon, and José A. Soto. 2019. œPerceived Cultural Acceptability and Comfort with Affectionate Touch: Differences between Mexican Americans and European Americans. Journal of Social and Personal Relationships 36(3):1000“1022. doi: 10.1177/0265407517750005.Dissanayake, Ellen. 1992. Homo Aestheticus¯: Where Art Comes From and Why. Seatle: University of Washington Press.Dyck, Edith Van, Birgitta Burger, and Constantina Orlandatou. 2017. œThe Communication of Emotions in Dance. Pp. 122“30 in The Routledge Companion to Embodied Music Interaction, edited by M. Lesaffre, P.-J. Maes, and M. Leman. New York and London: Routledge, Taylor & Francis Group.Floyd, Kory. 2006. Communicating Affection: Interpersonal Behavior and Social Context. Cambridge: Cambridge University Press.Gabrielsson, Alf. 2016. œThe Relationship between Musical Structure  and Perceived Expression. Pp. 215“32 in The Oxford Handook of Music Psychology, edited by S. Hallam, I. Cross, and M. Thaut. New York, USA: Oxford University Press.Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representation and Signifying Practices. London: Sage Publications.Haosheng, YE, SU Jiajia, and SU Dequan. 2021. œThe Meaning of the Body: Enactive Approach to Emotion. Acta Psychologica Sinica 53(12):1393“1404. doi: https://doi.org/10.3724/SP.J.1041.2021.01393.Kottak, Conrad Phillip. 2005. Mirror for Humanity: A Concise Introduction to Cultural Anthropology. Fifth Edition. New York: McGraw-Hill Higher Education.Lang, Paul Henry. 1967. œThe Enlightenment and Music. Eighteenth-Century Studies 1(1):93“108. doi: 10.2307/3031668.Miles, Mattew. B., and Michael A. Huberman. 1994. Qualitative Data Analysis: An Exspanded Sourcebook. 2nd ed. Beverly Hills, CA: Sage Publications.Nasution, Edi. 2007. Muzik Bujukan Mandailing. Penang, Malaysia: Areca Book.Novita, Elmi. 2024. œSeni Pertunjukan Tor-Tor Pembangun Identitas Komunitas Mandailing Di Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Disertasi, Institut Seni Indonesia Surakarta, Surakarta.Novita, Elmi, Santosa Soewarlan, and Nyoman Sukerna. 2022. œManortor as a Solidarity and Identity Building Media of Mandailing Ethnic Group in Rokan Hulu, Riau Province. Harmonia: Journal of Arts Research and Education 22(2):355“67. doi: http://dx.doi.org/10.15294/harmonia.v22i2.36753.Peick, Melissa. 2005. œDance as Communication: Messages Sent and Received through Dance. Journal of Undergraduate Research VIII 1“9.Rahmadani, Suci, and Erlinda. 2019. œMakna Simbolik Tor-Tor Toping Huda Dalam Upacara Adat Sayumatua Pada Masyarakat Simalungun Sumatera Utara. Gorga: Jurnal Seni Rupa 08(01):61“67. doi: 10.24114/gr.v8i1.12786.Zardi, Andrea, and Rosalba Morese. 2021. œDancing in Your Head: An Interdisciplinary Review. Frontiers in Psychology 12:1“14. doi: https://doi.org/10.3389/fpsyg.2021.649121.
PRESERVING CULTURAL HERITAGE THROUGH SASANDO PERFORMANCE ART MANAGEMENT Rolfi Junyanto Natonis; Hartono Hartono; Muhammad Fazli Taib Bin Saearani
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 2 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i2.59499

Abstract

Sasando is a traditional musical instrument typical of Rote Island, Indonesia which is currently threatened with extinction. One effort to preserve this cultural heritage is through Sasando Performing Art Management. This study aims to analyze Sasando Performing Art Management strategies in efforts to preserve cultural heritage. The research method used is a qualitative case study by collecting data through interviews, observations, and documentation studies. The results showed that there were four main components in Sasando performance art management, namely planning, organizing, implementing, and supervising. At the planning stage, the identification of potential, SWOT analysis, and determining conservation goals.
VISUALISASI KARAKTER SUPERHERO FILM ANIMASI 2D SATRIA BARONG I Gede Yudi Arsana
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 12 No. 2 (2023): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v12i2.46217

Abstract

Technological developments provide space to adapt local culture without having to eliminate the characteristics of the story of a culture. 2d animation is one of the media that is currently widely used in various needs that are intended to provide information or convey a message to the audience. The story of Satria Barong contains the values of character education through sat kerti loka bali which contains moral messages. The type of research used is qualitative research. Primary data collection method is a method of collecting data obtained directly from the source, namely interviews and observations and secondary data, namely literature studies. A good character design is able to make an impact on the audience. Chibi's visual style gives a positive impression, which is funny or cute. This style is used by researchers to create a visual style of characters by combining cartoon elements and curved line patterns with bright colors. The identification of the character of Satria Barong comes from four sources, namely religion, Pancasila, culture and national education goals. The same factor applies to the valuesthat will be used in Sad Kerti Bali by raising 6 existing themes, namely Jana Kerti, Jagat Kerti, Samudra Kerti, Wana Kerti, Danu Kerti and Atma Kerti. The physical characteristics of Satria Barong in the colors used at this stage are the dominant silver and gold colors. The use of silver on Barong to symbolize modern and technological progress and yellow as a symbol of might and majesty.Keywords: 2D animation, Satria Barong. AbstrakPerkembangan teknologi memberikan ruang unuk melakukan adaptasi budaya lokal tanpa harus menghilangkan ciri khas dari cerita sebuah budaya. Animasi 2d merupakan salah satu media yang saat ini banyak digunakan dalam berbagai kebutuhan yang dimaksudkan untuk memberikan informasi atau menyaampaikan sebuah pesan kepada audience. Cerita Satria Barong mengandung nilai-nilai pendidikan karakter melalui sat kerti loka bali yang mengandung pesan-pesan moralnya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data primer merupakan metode pengumpulan data yang didapat langsung dari sumbernya, yaitu wawancara dan observasi serta data sekunder yaitu studi literature. Desain karakter yang baik mampu memberikan impact kepada para penonton. Gaya visual Chibi memberikan kesan yang positif, yaitu lucu atau imut. gaya ini di gunakan peneliti untuk  membuat gaya visual karakter dengan menggabungkan unsur kartun dan pola garis yang melengkung dengan warna yang cerah. Identifikasi karakter Satria Barong ini berasal dari empat sumber, yakni agama, Pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional. Faktor yang sama terhadap nilai-nilai yang akan digunakan pada Sad Kerti Bali dengan mengangkat 6 tema yang ada yaitu Jana Kerti, Jagat Kerti, Samudra Kerti, Wana Kerti, Danu Kerti dan Atma Kerti. Ciri-Ciri Fisik Satria Barong pada warna yang digunakan pada tahapan ini adalah dominan swarna silver dan warna emas. Penggunakan warna silver pada Barong untuk melambangkan modern dan kemajuan teknologi dan warna kuning sebagai simbol keperkasaan dan keagungan.Kata Kunci: animasi 2D, Satria Barong. Author:I Gede Yudi Arsana : Universitas PGRI Mahadewa Indonesia References:Pratiwi, A., & Asyarotin, E. N. K. (2019). Implementasi literasi budaya dan kewargaan sebagai solusi disinformasi pada generasi millennial di Indonesia. Jurnal Kajian Informasi & Perpustakaan, 7(1), 65-80.Gunawan, B. B. (2012). Nganimasi Bersama Mas Be!. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.Pandanwangi, W. D., & Nuryantiningsih, F. (2017). Animasi Kartun Bertema Falsafah Jawa sebagai Pendidikan Karakter bagi Anak Usia dini. Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi, 13(1), 21-28.Rakhman, R. T., Piliang, Y. A., Ahmad, H. A., & Gunawan, I. (2021). Pemetaan Jenis Dongeng Nusantara Dalam Infografis. ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia, 7(01), 59-78.Segara, S. (2000). Barong dan Rangda. Surabaya: Paramitha. Sumarli, C. O., & Kurnianto, A. (2018). Developing Karakter Animasi Berbasis Kudapan Khas Tionghoa. Jurnal Desain, 5(03), 162-173.Suzuki, M. (2016). Chibi: The Japanese Word That™s Cute and Offensive. Japan.Wiana, K. (2018). Sad Kertih: Sastra Agama, Filosofi, dan Aktualisasinya. Bali Membangun Bali, Jurnal Bappeda Litbang, 1, 159-179.Winarni, R. W., & Wardani, W. G. W. (2015). Produksi film animasi sebagai media kampanye anti kejahatan perdagangan manusia. Jurnal Desain, 3(01), 37-48.Sofiana, Y. (2014). Pemahaman Critical Thinking, Design Thinking Dan Problem Solving Dalam Proses Desain. Humaniora, 5(2), 649-654. 
AESTHETIC MORPHOLOGICAL STUDY OF ZERO WASTE PATTERN IN MEN'S SHIRT DESIGN Regina Simamora M; Faradillah Nursari; Tiara Larissa; Sari Yuningsih
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 2 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i2.57483

Abstract

Aesthetic morphology studies can be carried out on men's shirt fashion design using the Zero Waste Pattern technique as one of the more varied men's shirt model design ideas. The study of Aesthetic Morphology by Thomas Munro is a study through the description, comparison, and analysis of the structure of the shape of an art object scientifically and systematically on the elements of art, design principles, and expressions resulting from the elements that form an art object. The purpose of this study is to examine the Aesthetic Morphology of men's shirt design using the Zero Waste Pattern technique, so as to find a shirt design whose product can be visualized and in accordance with aesthetic principles. The method used in this study is qualitative descriptive, the purpose is to understand the study of Aesthetic Morphology with research practices that emphasize exploratory aesthetics to describe the visual form, style, and visual expression of men's shirt design using the Zero Waste Pattern technique. The results of creative exploration resulted in 2 men's shirt designs, one of which is  a Fit To Body design with a Casual Style with  fabric waste of 2.1% and a Regular Fit Men's Shirt  design with a Retro Style with  fabric waste of 1.7%. The results of the study found that the 5 main criteria for designing using the Zero Waste Pattern  technique, namely Aesthetics, Comfort, Cost, Sustainability, and Manufacturability, are known to consider psychological and sociology factors of art. A study using description, comparison, and analysis on the Zero Waste Pattern  technique can find a men's shirt design line that is more varied, practical, supports sustainable trends, and is in accordance with aesthetic principles.