cover
Contact Name
Yogi Setiawan
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+62851733700892
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
EDUCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran
ISSN : 27752585     EISSN : 27752593     DOI : https://doi.org/10.51878/educational.v4i4
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pedidikan dan pengajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 36 Documents
Search results for , issue "Vol. 6 No. 1 (2026)" : 36 Documents clear
PERAN MANAJEMEN WAKTU, GAYA BELAJAR, DAN MOTIVASI BELAJAR DALAM MENINGKATKAN INDEKS PRESTASI KUMULATIF MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA Anggraini, Navila Ayu; Dewiarni , Puja; Firasyanidhar, Hanifan; Rahadiyan, Tsara; Lestari, Wahyu
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8523

Abstract

Student academic achievement is an important indicator of educational success, which is influenced by various factors. This study aims to analyze and examine three internal factors, namely time management, learning style, and learning motivation, on the Grade Point Average (GPA) of students at the Faculty of Economics and Business, Jakarta State University. This study uses a quantitative approach with a survey method. The research sample consisted of 66 respondents selected using simple random sampling. Primary data were collected through a Likert scale questionnaire and analyzed using multiple linear regression. The analysis results produced a significant model and were able to explain 57.6% of the variation in GPA (Adj.R²: 0.576). Time management was the most dominant predictor of GPA (=0.429), followed by learning motivation (= 0.370), so that both had a positive and significant effect on student GPA. Meanwhile, learning style with a value of (=-0.039) did not contribute positively to GPA. This indicates that the better the time management and the higher the learning motivation of students, the higher their GPA will be. ABSTRAK Prestasi akademik mahasiswa merupakan indikator penting dalam keberhasilan pendidikan, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menguji tiga faktor internal yaitu manajemen waktu, gaya belajar, dan motivasi belajar terhadap Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sampel penelitian berjumlah 66 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert dan dianalisis dengan regresi linear berganda. Hasil analisis menghasilkan model yang signifikan dan mampu menjelaskan 57.6% variasi IPK (Adj.R²: 0.576). Manajemen waktu merupakan prediktor IPK paling dominan (=0.429) disusul dengan motivasi belajar sebesar (= 0.370), sehingga keduanya berpengaruh positif dan signifikan terhadap IPK mahasiswa. Sedangkan gaya belajar dengan nilai (=-0.039) tidak memberi kontribusi positif terhadap IPK. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin baik pengelolaan waktu, serta semakin tinggi motivasi belajar mahasiswa, maka semakin tinggi pula IPK yang diperoleh.  
ESTETIKA, ETIKA, DAN IDENTITAS DALAM PEMBELAJARAN MUSIK TRADISIONAL UNTUK ANAK USIA DINI Christina, Dina; Yetti, Eliendra; Herdiati, Dian
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8534

Abstract

Traditional music learning in early childhood plays an important role not only in the development of musical abilities, but also in the formation of character, emotional sensitivity, and the strengthening of cultural identity. This article aims to examine traditional music education from a philosophy of education perspective by positioning aesthetics, ethics, and identity as the three main pillars of arts education. The study employs a normative qualitative approach through a literature review and conceptual reflection on traditional music learning practices in early childhood education institutions in Indonesia. The findings indicate that traditional music functions as a holistic educational medium that integrates aesthetic experiences, the cultivation of moral virtues, and the reinforcement of children’s cultural identity. Aesthetic values are reflected in the process of appreciating harmony, rhythm, and musical expression, which foster children’s sensitivity and creativity. Ethical dimensions develop through collective musical practices that instill discipline, responsibility, cooperation, and empathy. Meanwhile, identity values play a role in strengthening a sense of nationalism and appreciation for local cultural heritage amid globalization. These findings affirm that traditional music learning is a sustainable educational strategy that supports the formation of well-rounded individuals. ABSTRAK Pembelajaran musik tradisional pada anak usia dini memiliki peran penting tidak hanya dalam pengembangan kemampuan musikal, tetapi juga dalam pembentukan karakter, kepekaan rasa, dan penguatan identitas budaya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pembelajaran musik tradisional dari perspektif filsafat pendidikan dengan menempatkan estetika, etika, dan identitas sebagai tiga pilar utama pendidikan seni. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif normatif melalui studi literatur dan refleksi konseptual terhadap praktik pembelajaran musik tradisional di lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa musik tradisional berfungsi sebagai media pendidikan holistik yang mengintegrasikan pengalaman estetis, pembentukan kebajikan moral, serta penguatan jati diri budaya anak. Nilai estetika tercermin dalam proses apresiasi harmoni, ritme, dan ekspresi musikal yang menumbuhkan kepekaan dan kreativitas anak. Dimensi etika berkembang melalui praktik musikal kolektif yang menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan empati. Sementara itu, nilai identitas berperan dalam memperkuat rasa kebangsaan dan kecintaan terhadap warisan budaya lokal di tengah arus globalisasi. Temuan ini menegaskan bahwa pembelajaran musik tradisional merupakan strategi pendidikan berkelanjutan yang mendukung pembentukan manusia seutuhnya.
INTEGRASI ETIKA PENDIDIKAN ISLAM DALAM KURIKULUM BERBASIS CINTA DI ERA DISRUPSI DIGITAL DAN ANONIMITAS GLOBAL Syafi’i, Imam; Noviani, Dwi
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8823

Abstract

ABSTRAK Disrupsi digital dan anonimitas global telah memengaruhi perilaku moral peserta didik melalui melemahnya kontrol etika dan munculnya fenomena online disinhibition effect di ruang digital. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan antara pengetahuan keagamaan dan praksis moral, sehingga menuntut pendekatan pendidikan yang lebih humanis dan reflektif. Penelitian ini bertujuan menganalisis integrasi etika Pendidikan Agama Islam dalam kurikulum berbasis cinta sebagai respons terhadap tantangan moral di era digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan yang dianalisis secara normatif-teologis, filosofis-pedagogis, dan kontekstual-kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum berbasis cinta yang berlandaskan nilai rahmah, empati, dan penghormatan terhadap martabat manusia mampu memperkuat internalisasi akhlak peserta didik secara kontekstual. Penguatan kesadaran muraqabah serta pembiasaan nilai tabayyun dan akhlak karimah terbukti efektif dalam meredam dampak negatif disinhibisi daring dan membentuk perilaku digital yang bertanggung jawab. Penelitian ini menegaskan bahwa kurikulum PAI berbasis cinta merupakan model pedagogis humanis yang relevan dalam menghadapi kompleksitas kehidupan digital global.
ADAPTASI SOSIAL-EKONOMI MASYARAKAT NELAYAN TERHADAP PERUBAHAN LINGKUNGAN PESISIR Alimato, Alimato; Hanisu, Hanisu; Marsel, Marsel; Jana, La
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8844

Abstract

ABSTRAK Perubahan lingkungan pesisir, seperti kenaikan muka air laut, abrasi, degradasi ekosistem, dan meningkatnya cuaca ekstrem, telah menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan mata pencaharian masyarakat nelayan, khususnya di wilayah kepulauan terpencil yang memiliki keterbatasan akses terhadap modal, teknologi, informasi, dan layanan pemerintah. Kondisi tersebut mendorong nelayan untuk mengembangkan berbagai strategi adaptasi guna menjaga keberlanjutan ekonomi dan sosial rumah tangga mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk strategi adaptasi sosial-ekonomi masyarakat nelayan di Desa Holimombo Jaya, Kabupaten Buton, serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan dan hambatan strategi adaptasi tersebut. Penelitian dilaksanakan selama Juni–Agustus 2025 menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara semi-terstruktur, observasi lapangan, dan dokumentasi. Sebanyak 60 kepala keluarga nelayan dipilih secara purposive sebagai responden penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan tematik melalui proses transkripsi, pengkodean, kategorisasi, dan penarikan tema utama, serta diperkuat dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan menerapkan lima strategi adaptasi utama, yaitu penyesuaian pola dan waktu melaut, diversifikasi mata pencaharian, penguatan jejaring sosial, pemanfaatan teknologi sederhana, dan pengelolaan sumber daya berbasis kearifan lokal. Strategi-strategi tersebut memberikan dampak ganda, yakni memperkuat ketahanan ekonomi melalui pengurangan kerugian, stabilisasi pendapatan, dan peningkatan efisiensi, serta memperkuat ketahanan sosial melalui peningkatan keselamatan, solidaritas, pembelajaran kolektif, dan kesadaran lingkungan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa adaptasi nelayan di wilayah terpencil merupakan proses integratif yang melibatkan dimensi ekonomi, sosial, budaya, dan teknologi, sehingga penting dijadikan dasar dalam perumusan kebijakan pembangunan pesisir yang berkelanjutan dan inklusif. ABSTRACT Coastal environmental changes, including sea level rise, coastal erosion, ecosystem degradation, and increasing extreme weather events, pose serious challenges to the sustainability of fishing livelihoods, particularly in remote island communities with limited access to capital, technology, information, and government services. These conditions have compelled small-scale fishers to develop various adaptation strategies to maintain their economic and social resilience. This study aims to identify the forms of socio-economic adaptation strategies employed by fishing communities in Holimombo Jaya Village, Buton Regency, and to analyze the factors influencing the success and constraints of these strategies. The research was conducted from June to August 2025 using a qualitative approach through semi-structured interviews, field observations, and documentation. A total of 60 fishing household heads were selected purposively as research participants. Data were analyzed using a thematic approach involving transcription, coding, categorization, and theme development, supported by source and method triangulation. The findings reveal that fishers implement five main adaptation strategies: adjustment of fishing patterns and timing, livelihood diversification, strengthening of social networks, utilization of simple technologies, and resource management based on local wisdom. These strategies generate dual impacts by enhancing economic resilience through reduced losses, income stabilization, and improved operational efficiency, while simultaneously strengthening social resilience through increased safety, solidarity, collective learning, and environmental awareness. The study concludes that adaptation among fishers in remote coastal areas represents an integrative process involving economic, social, cultural, and technological dimensions, and therefore should serve as an empirical basis for formulating sustainable and inclusive coastal development policies.
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN KELULUSAN TERBAIK SISWA MENGGUNAKAN METODE SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING Hermanto, Hermanto; Tanwirul Fikri , Muhammad; Hafidz Yusuf, Muhammad; hendi, Ade
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8846

Abstract

ABSTRAK Perkembangan teknologi informasi telah mendorong kebutuhan akan sistem pengelolaan dan pengambilan keputusan yang lebih objektif dan terstruktur di bidang pendidikan, termasuk dalam proses penentuan kelulusan dan peserta didik terbaik. Namun, pada praktiknya masih banyak satuan pendidikan dasar yang melakukan penilaian secara manual sehingga berpotensi menimbulkan subjektivitas dan ketidakakuratan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan sistem pendukung keputusan penentuan kelulusan dan peserta didik terbaik berbasis metode Simple Additive Weighting (SAW) di MI Hayatul Wathon. Metode penelitian yang digunakan adalah model pengembangan sistem waterfall yang meliputi tahap studi literatur, pengumpulan data, analisis kebutuhan, perancangan sistem, dan implementasi sistem berbasis web. Metode SAW diterapkan untuk mengolah berbagai kriteria penilaian, seperti aspek akademik, kedisiplinan, dan prestasi, melalui proses pembobotan dan perangkingan guna menghasilkan nilai preferensi akhir peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem yang dikembangkan mampu menghasilkan perangkingan peserta didik secara objektif dan proporsional serta menetapkan status kelulusan dan predikat secara transparan. Sistem juga memudahkan pihak madrasah dalam memahami hasil penilaian melalui penyajian data yang terstruktur dalam bentuk tabel dan narasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode SAW dalam sistem pendukung keputusan efektif dalam meningkatkan objektivitas, akurasi, dan transparansi proses penentuan kelulusan dan peserta didik terbaik di tingkat Madrasah Ibtidaiyah, serta berpotensi menjadi solusi praktis dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis teknologi informasi di lingkungan pendidikan dasar. ABSTRACT The rapid development of information technology has increased the need for more objective and structured decision-making systems in the education sector, particularly in determining graduation status and identifying the best-performing students. However, in practice, many primary educational institutions still rely on manual assessment processes, which may lead to subjectivity and less accurate decisions. This study aims to develop and implement a decision support system for determining graduation and selecting the best students using the Simple Additive Weighting (SAW) method at MI Hayatul Wathon. The research employed a waterfall system development model, consisting of literature review, data collection, requirements analysis, system design, and web-based system implementation. The SAW method was applied to process multiple assessment criteria, including academic performance, discipline, and achievement, through weighting and ranking mechanisms to generate final preference scores for each student. The results indicate that the developed system is able to produce objective and proportional student rankings and to determine graduation status and student predicates transparently. The system also facilitates decision-makers at the madrasah by presenting structured assessment results in the form of tables accompanied by descriptive explanations. In conclusion, the implementation of the SAW-based decision support system effectively enhances the objectivity, accuracy, and transparency of the graduation determination and best student selection process at the Madrasah Ibtidaiyah level, and it has the potential to serve as a practical solution for supporting information technology–based decision making in primary education.
PERSEPSI GENERASI Z TERHADAP NILA-NILAI MODERASI BERAGAMA DARI DAKWAH MEDIA SOSIAL TIKTOK Rosfiani, Okta; Aulia, Vina; Fadhillah, Muhammad Rizky; A'zizah, Hikmatussalmah Nur; Maulana, Rijal; Islami, Muhammad Ridwan Al; Zamany, Alfia Zahra
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8861

Abstract

ABSTRACT The social media platform TikTok has become a significant medium for Islamic  preaching (dakwah), particularly among Generation Z. This quantitative study aims to analyze Generation Z's perceptions of religious moderation values conveyed through dakwah content on TikTok. Religious moderation in this study is understood as an attitude emphasizing balance, tolerance, non-violence, and harmony in religious life. The research uses a descriptive quantitative approach with a survey method. Data was collected through an online questionnaire distributed to 100 Generation Z respondents (born 1997-2012) who actively use TikTok and have been exposed to dakwah content on the platform. The results show that, in general, Generation Z's perceptions of the religious moderation values conveyed through TikTok dakwah tend to be positive. Most respondents view that the dakwah content they encounter emphasizes values of compassion, interfaith tolerance, and the rejection of radicalism. However, the findings also reveal variations in perception. On one hand, dakwah content presented creatively and in an accessible manner is considered effective in conveying messages of moderation. On the other hand, some respondents expressed skepticism regarding the depth of the material and concerns about the potential for oversimplified delivery or even the existence of dakwah content with exclusive nuances. The implication of this research is the importance for digital religious communicators to pay more attention to source credibility, depth of substance, and communication strategies that are creative yet comprehensive in spreading religious moderation values, so that the messages conveyed are not only viral but also foster a complete and balanced understanding for Generation Z. ABSTRAK Media sosial TikTok telah menjadi platform dakwah yang signifikan, terutama di kalangan Generasi Z. Penelitian kuantitatif ini bertujuan untuk menganalisis persepsi Generasi Z terhadap nilai-nilai moderasi beragama yang disampaikan melalui konten dakwah di TikTok. Moderasi beragama dalam studi ini dipahami sebagai sikap yang menekankan keseimbangan, toleransi, anti-kekerasan, dan keselarasan dalam kehidupan beragama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner online yang disebarkan kepada 100 responden Generasi Z (kelahiran 1997-2012) yang aktif menggunakan TikTok dan pernah terpapar konten dakwah di platform tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, persepsi Generasi Z terhadap nilai moderasi beragama dari dakwah TikTok cenderung positif. Sebagian besar responden memandang bahwa konten dakwah yang mereka temui lebih banyak menekankan pada nilai-nilai kerahmatan, toleransi antarumat beragama, dan penolakan terhadap radikalisme. Namun, temuan juga mengungkap adanya variasi persepsi. Di satu sisi, konten dakwah yang disajikan secara kreatif dan ringan dinilai efektif dalam menyampaikan pesan moderasi. Di sisi lain, sebagian responden menyatakan skeptisisme terhadap kedalaman materi dan kekhawatiran terhadap potensi penyampaian yang terlalu simplistik atau bahkan adanya konten dakwah yang justru bernuansa eksklusif. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya para pendakwah digital untuk lebih memperhatikan kredibilitas sumber, kedalaman substansi, dan strategi komunikasi yang kreatif namun tetap menyeluruh dalam menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama.
AL AZHAR SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN FATIMIYAH: ASPEK INSTITUSIONAL, KURIKULUM DAN WARISAN PENDIDIKAN ISLAM DI MESIR (970–1171?M) Fitriyan, Yassir Hafidh; Jinan, Mutohharun
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8954

Abstract

This study analyzes Al-Azhar during the Fatimid Dynasty (970–1171 CE) as a center of Islamic education that played a significant role in the development of science, theology, and politics. Using a library research method with a descriptive-historical approach, this study examines Al-Azhar's institutional structure, curriculum, and Islamic educational legacy. The results show that Al-Azhar was initially established as a state mosque and served as a means of disseminating Shia Ismaili ideology as well as an educational center that integrated religious knowledge with rational sciences such as logic, philosophy, and astronomy. Support from the Fatimid Caliphate and the waqf (endowment) system were key factors in sustaining the institution's survival. After the fall of the Fatimids, Al-Azhar transformed into an inclusive Sunni educational institution while maintaining its intellectual heritage. This study confirms that Al-Azhar's educational model during the Fatimid era contributed significantly to the emergence of the madrasah system and modern Islamic education, while also providing important lessons on the integration of religious knowledge and science, waqf-based funding, and collaboration between the state and educational institutions. ABSTRAK Penelitian ini menganalisis Al-Azhar pada masa Dinasti Fatimiyah (970–1171 M) sebagai pusat pendidikan Islam yang berperan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teologi, dan politik. Menggunakan metode penelitian pustaka dengan pendekatan deskriptif-historis, studi ini mengkaji struktur kelembagaan, kurikulum, serta warisan pendidikan Islam Al-Azhar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Azhar awalnya didirikan sebagai masjid jum‘ah negara dan berfungsi sebagai sarana penyebaran ideologi Syiah Ismailiyah serta pusat pendidikan yang mengintegrasikan ilmu agama dengan sains rasional seperti logika, filsafat, dan astronomi. Dukungan kekhalifahan Fatimiyah dan sistem wakaf (waqf) menjadi faktor utama dalam menopang keberlangsungan lembaga ini. Setelah kejatuhan Fatimiyah, Al-Azhar bertransformasi menjadi lembaga pendidikan Sunni yang inklusif dan tetap mempertahankan warisan intelektualnya. Studi ini menegaskan bahwa model pendidikan Al-Azhar pada masa Fatimiyah berkontribusi besar terhadap lahirnya sistem madrasah dan pendidikan Islam modern, sekaligus memberikan pelajaran penting tentang integrasi ilmu agama dan sains, pendanaan berbasis wakaf, serta kolaborasi antara negara dan lembaga pendidikan.    
FAKTOR DETERMINAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM KAJIAN FILSAFAT Apriyani, Nur; Mahyuddin, Mahyuddin
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.8955

Abstract

Education is a system consisting of various interconnected components, such as educational goals, educators, students, the educational environment, and educational tools. The success or failure of education depends not only on schooling but also on the synergy between these factors. This research is a qualitative study using literature review methods to identify the determinants influencing Islamic education, particularly in curriculum development and the formation of students' moral foundations. Each educational system is influenced by a philosophy underlying its educational vision and mission, encompassing views on humans, knowledge, and the ultimate goal of education. This philosophy influences curriculum development oriented toward achieving national educational goals, as well as the development of intellectual, moral, social, and work skills competencies. Furthermore, external factors such as family, environment, media, religion, and educational policy also play a significant role in the formation of students' moral foundations. This research provides insight into the importance of integrating various factors in achieving holistic educational goals. ABSTRAK Pendidikan merupakan sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan, seperti tujuan pendidikan, pendidik, peserta didik, lingkungan pendidikan, dan alat pendidikan. Keberhasilan dan kegagalan pendidikan tidak hanya bergantung pada persekolahan, melainkan pada sinergi antara faktor-faktor tersebut. Penelitian ini merupakan kajian kualitatif yang menggunakan metode studi kepustakaan untuk mengidentifikasi faktor-faktor determinan yang mempengaruhi pendidikan Islam, khususnya dalam pengembangan kurikulum dan pembentukan landasan moral peserta didik. Setiap sistem pendidikan dipengaruhi oleh filosofi yang mendasari visi dan misi pendidikannya, yang mencakup pandangan tentang manusia, pengetahuan, dan tujuan akhir pendidikan. Filosofi ini memengaruhi pengembangan kurikulum yang berorientasi pada pencapaian tujuan pendidikan nasional, serta pembentukan kompetensi intelektual, moral, sosial, dan keterampilan kerja. Selain itu, faktor eksternal seperti keluarga, lingkungan, media, agama, dan kebijakan pendidikan juga memainkan peran penting dalam pembentukan landasan moral peserta didik. Penelitian ini memberikan wawasan tentang pentingnya integrasi berbagai faktor dalam mencapai tujuan pendidikan yang holistik.    
MAKNA SIMBOL TOKOH UTAMA DALAM NOVEL BIOLA TAK BERDAWAI KARYA SEKAR AYU ASMARA Sahara, La; Mas'ulah, Mas'ulah
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9013

Abstract

ABSTRACT The novel Biola Tak Berdawai by Sekar Ayu Asmara raises humanitarian issues related to child abandonment and the dehumanization of persons with disabilities through the symbolization of the main character. This study aims to analyze the symbolic meanings attached to the character Dewa and to interpret the author’s message through a semiotic approach. The research uses a qualitative method with Charles Sanders Peirce’s semiotic analysis (icon, index, and symbol) of the novel text through the stages of identification, classification, and interpretation of denotative and connotative meanings. The results show that the character Dewa is constructed through five main symbols, namely Sukasrana, the metamorphosis of caterpillar–chrysalis–butterfly, the shell, the doll, and the violin without strings as the central symbol. The dominance of the symbolic category of signs indicates the strong use of cultural conventions and metaphors in the construction of meaning. These symbols reveal social criticism of the marginalization of persons with disabilities while conveying humanistic-spiritual messages about the value of life, the potential for transformation, and the recognition of human dignity. The conclusion of the study confirms that the symbolization of the main character becomes an effective medium for linking fictional reality with actual social issues and for reflecting on the meaning of life within limitations. ABSTRAK Novel Biola Tak Berdawai karya Sekar Ayu Asmara mengangkat persoalan kemanusiaan yang berkaitan dengan pembuangan anak dan dehumanisasi penyandang disabilitas melalui simbolisasi tokoh utama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik yang melekat pada tokoh Dewa serta menafsirkan pesan pengarang melalui pendekatan semiotik. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan analisis semiotik Charles Sanders Peirce (ikon, indeks, dan simbol) terhadap teks novel melalui tahapan identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi makna denotatif serta konotatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Dewa dibangun melalui lima simbol utama, yaitu Sukasrana, metamorfosis ulat–kepompong–kupu, kerang, boneka, dan biola tanpa dawai sebagai simbol sentral. Dominasi kategori tanda simbol menunjukkan kuatnya penggunaan konvensi budaya dan metafora dalam konstruksi makna. Simbol-simbol tersebut mengungkap kritik sosial terhadap marginalisasi penyandang disabilitas sekaligus menyampaikan pesan humanistik-spiritual tentang nilai hidup, potensi transformasi, dan pengakuan atas martabat manusia. Simpulan penelitian menegaskan bahwa simbolisasi tokoh utama menjadi medium efektif untuk mengaitkan realitas fiksi dengan isu sosial aktual serta merefleksikan makna hidup dalam keterbatasan.
HUBUNGAN ACADEMIC SELF-EFFICACY DENGAN ACADEMIC HOPELESSNESS PADA MAHASISWA SEMESTER AKHIR Frans, Nathanael Darrel; Idulfilastri, Rita Markus
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i1.9046

Abstract

ABSTRACT Final-year students face a crucial phase fraught with academic pressure, which risks triggering Academic Hopelessness, a loss of hope regarding academic success. This study aims to examine the relationship between Academic Self-efficacy and Academic Hopelessness among final-year students. Using a non-experimental quantitative approach with convenience sampling, this study involved 219 active 7th and 8th-semester students in the Jabodetabek area. Data were collected using the Academic Hopelessness Inventory (AHI) and The Academic Self-efficacy Scale (TASES). Data analysis was performed using binary logistic regression and Spearman's rho correlation. The results showed a significant negative relationship between Academic Self-efficacy and Academic Hopelessness (p < 0.05). These findings indicate that the higher the students' self-confidence in their academic abilities, the lower their tendency to experience hopelessness. The research implications highlight the importance of strengthening self-efficacy as a protective factor for the mental health of final-year students. This finding is expected to serve as a reference for the development of preventive academic counseling services and psychological interventions in modern Indonesian higher education institutions. ABSTRAK Mahasiswa semester akhir menghadapi fase krusial yang sarat tekanan akademik, yang berisiko memicu Academic Hopelessness atau hilangnya harapan terhadap kesuksesan studi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara Academic Self-efficacy dengan Academic Hopelessness pada mahasiswa semester akhir. Menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan teknik convenience sampling, penelitian ini melibatkan 219 mahasiswa aktif semester 7 dan 8 di wilayah Jabodetabek. Pengumpulan data menggunakan Academic Hopelessness Inventory (AHI) dan The Academic Self-efficacy Scale (TASES). Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi logistik biner dan korelasi Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara Academic Self-efficacy dan Academic Hopelessness (p < 0.05). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi keyakinan diri mahasiswa terhadap kemampuan akademiknya, semakin rendah kecenderungan mereka mengalami keputusasaan. Implikasi penelitian menyoroti pentingnya penguatan efikasi diri sebagai faktor protektif kesehatan mental mahasiswa tingkat akhir. Hasil ini diharapkan menjadi rujukan pengembangan layanan konseling akademik preventif dan intervensi psikologis di perguruan tinggi Indonesia saat ini modern.

Page 2 of 4 | Total Record : 36