cover
Contact Name
Yogi Setiawan
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+62851733700892
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
EDUCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran
ISSN : 27752585     EISSN : 27752593     DOI : https://doi.org/10.51878/educational.v4i4
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pedidikan dan pengajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 479 Documents
ANALISIS NILAI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM BUKU SENI MERAYU TUHAN DAN RELEVANSINYA TERHADAP PENGUATAN SPIRITUALITAS MAHASISWA Hawa Purnama Wati; Mar’atul Firdaus; Fathia ‘Ilma Nafi’a; Aulia Laily Zahrotun; Meida Dwi Saputri; Khonsa Latifa Nurrahmah
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i3.10665

Abstract

ABSTRACT Rapid social change in the digital era poses significant challenges to strengthening students’ spirituality, particularly within Islamic Religious Education (PAI), which is expected to adapt to the needs of younger generations who are increasingly engaged with visual, narrative, and reflective forms of learning. This study aims to describe and analyze the Islamic Religious Education values contained in Seni Merayu Tuhan by Husein Ja’far Al-Hadar and examine their relevance to strengthening students’ spirituality. This research employs a qualitative approach using a library research design through content analysis of the book and 15 relevant scholarly articles. The findings indicate that the book contains three main dimensions of PAI values: creed (aqidah), worship (ibadah), and moral character (akhlaq), which are presented in a narrative, humanistic, and contextual manner. These values contribute to strengthening students’ awareness of God, emotional stability, and the formation of moderate and empathetic character. In addition, the book is relevant as a contemporary PAI learning resource. The study concludes that a reflective da’wah approach can enhance students’ spirituality in the digital era. ABSTRAK Transformasi sosial yang dipicu oleh ekosistem digital menghadirkan situasi baru bagi pengembangan spiritualitas mahasiswa dalam Pendidikan Agama Islam (PAI), terutama ketika budaya visual dan reflektif semakin dominan dalam keseharian generasi muda. Dalam konteks tersebut, kajian ini menelusuri muatan nilai keislaman dalam buku Seni Merayu Tuhan karya Husein Ja’far Al-Hadar sekaligus melihat kemungkinan relevansinya terhadap pembentukan spiritual mahasiswa. Penelitian dilakukan melalui pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan teknik analisis isi terhadap satu sumber utama dan 15 artikel ilmiah pendukung. Temuan kajian menunjukkan bahwa teks yang dianalisis mengandung tiga poros nilai PAI, yakni akidah, ibadah, dan akhlak yang disajikan dalam gaya naratif, humanis, serta kontekstual. Representasi nilai tersebut tidak hanya berhenti pada ranah konseptual, tetapi juga berkontribusi pada penguatan kesadaran ketuhanan, kestabilan emosi, serta pembentukan karakter mahasiswa yang lebih moderat dan empatik. Selain itu, buku ini diposisikan sebagai salah satu alternatif media pembelajaran PAI yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran kontemporer. Dari keseluruhan analisis, dapat dipahami bahwa pendekatan dakwah yang bersifat reflektif membuka ruang baru bagi penguatan spiritualitas mahasiswa di tengah arus digitalisasi.
PERAN GURU PAI DALAM PENGUATAN NILAI SPIRITUAL DAN MORAL DI ERA SOCIETY 5.0 Anita Mulia Arifiani; Khoiru Nisa; Muammar Muammar; Anggita Novitasari; Nur Azizah; Desti Widiani
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i3.10668

Abstract

ABSTRACT The digital transformation accompanying the development of Society 5.0 has created new challenges for education, particularly in maintaining a balance between technological advancement and students’ character development. In the context of Islamic Religious Education (IRE), teachers are no longer limited to the role of transmitting religious knowledge but also play a crucial role in shaping the spiritual and moral development of a generation growing up in an increasingly digitalized environment. This study examines how IRE teachers fulfill these responsibilities through a review of relevant scholarly literature. The research employed a library research approach, utilizing scientific articles, books, and other academic sources as the primary data. Data were collected through documentation techniques and analyzed using content analysis involving the processes of selection, categorization, and synthesis of findings. The results indicate that IRE teachers perform interconnected roles as spiritual mentors, learning facilitators, innovators in technology integration, character role models, and promoters of digital literacy grounded in Islamic values. The strengthening of students’ spiritual and moral dimensions is achieved through the integration of digital technology with Islamic teachings, the habituation of religious practices, the implementation of contextual learning, and the development of twenty-first-century competencies. These findings demonstrate that IRE teachers occupy a strategic position in fostering students who can adapt to technological advancements without losing their value orientation, enabling them to grow as religious, ethical, and resilient individuals capable of navigating the dynamics of modern society. ABSTRAK Transformasi digital yang mengiringi perkembangan Society 5.0 menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan, khususnya dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan pembentukan karakter peserta didik. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), keberadaan guru tidak lagi terbatas pada fungsi transfer pengetahuan keagamaan, melainkan turut menentukan arah perkembangan spiritual dan moral generasi yang hidup di tengah arus digitalisasi. Kajian ini menelaah bagaimana Guru PAI menjalankan peran tersebut melalui penelusuran berbagai sumber ilmiah yang relevan. Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan studi kepustakaan yang memanfaatkan artikel ilmiah, buku, dan berbagai literatur akademik sebagai sumber data utama. Informasi yang diperoleh dihimpun melalui dokumentasi, kemudian diolah menggunakan analisis isi melalui proses pemilahan, pengelompokan, dan sintesis temuan. Hasil kajian memperlihatkan bahwa Guru PAI menjalankan fungsi yang saling terhubung, mencakup pembimbing spiritual, fasilitator proses belajar, inovator dalam pemanfaatan teknologi, teladan dalam pembentukan karakter, serta penggerak literasi digital yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Penguatan aspek spiritual dan moral peserta didik dilakukan melalui pemaduan teknologi digital dengan ajaran keislaman, pembiasaan aktivitas religius, penerapan pembelajaran yang dekat dengan realitas kehidupan, serta pengembangan kompetensi abad ke-21. Temuan ini menunjukkan bahwa Guru PAI memegang posisi penting dalam membentuk peserta didik yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan orientasi nilai, sehingga tumbuh sebagai individu yang religius, berkarakter, dan siap menghadapi dinamika masyarakat modern.
PEMBELAJARAN PROFETIK BERBASIS KISAH: ANALISIS METODE BERKISAH NABI MUHAMMAD SAW Imam Aris Utomo; Ari Maulana Ramadan; Muhammad Huda; Nabila Aulya; Brilianfineza Brilianfineza; Nur Zika Fauziah; Aura Ardhana Novia
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.10669

Abstract

ABSTRACT The storytelling method employed by Prophet Muhammad SAW represents a prophetic pedagogical approach oriented toward character building, spiritual reinforcement, and the development of students’ reflective awareness. However, contemporary Islamic education practices still tend to be dominated by cognitive and verbalistic approaches, resulting in the underdevelopment of affective dimensions and value internalization. This study aims to analyze the essence, theological foundations, educational objectives, characteristics, and relevance of the Prophet’s storytelling method from the perspective of hadith tarbawi. The research applied a qualitative approach using a library research method by collecting data from qasas verses of the Qur’an, hadith tarbawi, and relevant scientific articles. The data were analyzed using content analysis with a descriptive-interpretative approach to identify educational value patterns within the Prophet’s storytelling method. The findings reveal that the Prophet’s storytelling method contains three major dimensions: reflective-intellectual dimensions (ulil albab), transformational dimensions (ibrah), and universal value dimensions that remain relevant across time and contexts. This method has proven effective in instilling faith values, shaping character, enhancing empathy, and strengthening students’ spiritual awareness. The novelty of this study lies in positioning the Prophet’s storytelling method as a multidimensional pedagogical system integrating theological, psychological, social, and spiritual aspects within contemporary Islamic education. ABSTRAK Metode berkisah dalam pengajaran Nabi Muhammad SAW merupakan pendekatan pedagogis profetik yang berorientasi pada pembentukan karakter, penguatan spiritualitas, serta pengembangan kesadaran reflektif peserta didik. Namun, praktik pendidikan Islam kontemporer masih cenderung didominasi pendekatan kognitif dan verbalistik sehingga dimensi afektif serta internalisasi nilai belum berkembang secara optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis hakikat, landasan teologis, tujuan edukatif, karakteristik, serta relevansi metode berkisah Nabi Muhammad SAW dalam perspektif hadis tarbawi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis library research melalui pengumpulan data dari ayat-ayat qasas Al-Qur’an, hadis tarbawi, dan artikel ilmiah yang relevan. Data dianalisis menggunakan teknik content analysis dengan pendekatan deskriptif-interpretatif untuk menemukan pola nilai pendidikan dalam metode berkisah Nabi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode berkisah Nabi memiliki tiga dimensi utama, yaitu dimensi reflektif-intelektual (ulil albab), dimensi transformasional (ibrah), dan dimensi universalitas nilai yang relevan lintas ruang dan waktu. Metode ini terbukti efektif dalam menanamkan nilai keimanan, membangun karakter, meningkatkan empati, serta memperkuat kesadaran spiritual peserta didik. Kebaruan penelitian terletak pada penempatan metode berkisah Nabi sebagai sistem pedagogis multidimensional yang mengintegrasikan aspek teologis, psikologis, sosial, dan spiritual dalam pendidikan Islam kontemporer.
RELEVANSI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BUKU “PRIBADI HEBAT” KARYA HAMKA DI ERA SOCIETY 5.0 Ridhwan Bakhtiar; Naufal Rafi’i Ahmad Riza; Muhammad Ali Maskur; Taqiyuddin Zaky; Hajid Nur Kholis; Tamam Ilham Maulana
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.10670

Abstract

ABSTRACT The development of the Society 5.0 era has brought significant changes to people's lives through the integration of digital technology. However, on the other hand, it has also triggered various moral problems such as low self-control, misuse of digital media, the spread of misinformation, and the decline of ethics and social empathy. This condition indicates the importance of strengthening character education as an effort to build the moral resilience of the younger generation. This study aims to analyze the values of character education contained in HAMKA’s book Pribadi Hebat and to examine their relevance in addressing moral challenges in the Society 5.0 era. This research employed the library research method with a qualitative interpretative approach using content analysis techniques. The data sources were obtained from the book Pribadi Hebat as the primary data and various relevant scientific literatures as secondary data. The data were analyzed through the stages of data reduction, theme classification, meaning interpretation, and systematic conclusion drawing. The findings revealed that the values of character education in HAMKA’s thought include spiritual, personal, and social values that are integrated in shaping a holistic human personality. These values are relevant as ethical foundations in controlling digital behavior, strengthening individual integrity, and building more humane social interactions. This study confirms that HAMKA’s thought has contextual relevance as a character education approach in addressing the moral challenges of modern society based on digital technology. ABSTRAK Perkembangan era Society 5.0 membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat melalui integrasi teknologi digital, namun di sisi lain juga memunculkan berbagai persoalan moral seperti rendahnya kontrol diri, penyalahgunaan media digital, penyebaran informasi tidak benar, serta menurunnya etika dan empati sosial. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan pendidikan karakter sebagai upaya membangun ketahanan moral generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai pendidikan karakter dalam buku Pribadi Hebat karya HAMKA serta mengkaji relevansinya dalam menghadapi tantangan moral pada era Society 5.0. Penelitian menggunakan metode library research dengan pendekatan kualitatif interpretatif melalui teknik analisis isi (content analysis). Sumber data diperoleh dari buku Pribadi Hebat sebagai data primer dan berbagai literatur ilmiah yang relevan sebagai data sekunder. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, klasifikasi tema, interpretasi makna, dan penarikan kesimpulan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pendidikan karakter dalam pemikiran HAMKA meliputi nilai spiritual, personal, dan sosial yang saling terintegrasi dalam membentuk kepribadian manusia secara utuh. Nilai-nilai tersebut relevan sebagai landasan etis dalam mengendalikan perilaku digital, memperkuat integritas individu, serta membangun interaksi sosial yang lebih humanis. Penelitian ini menegaskan bahwa pemikiran HAMKA memiliki relevansi kontekstual sebagai pendekatan pendidikan karakter dalam menghadapi tantangan moral masyarakat modern berbasis teknologi digital.
SEBUAH PERSPEKTIF RESPONSIF PENDIDIKAN LITERASI UNTUK MELAWAN KORUPSI Ari Maulana Ramadan; Imam Aris Utomo; Muhammad Huda; Mukhamad Diki Indarto; Mohammad Ulil Abshor Abdalla; Ibnu Hibban; Fauzi Annur
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i4.10671

Abstract

ABSTRACT Corruption remains a serious issue affecting the quality of social, political, and educational life in Indonesia. On the other hand, the low level of literacy culture has caused society to lack critical thinking skills in understanding various forms of abuse of power and information manipulation. This study aims to analyze the role of literacy education in building an anti-corruption culture and to explain the relationship between literacy skills and public social awareness toward corrupt practices. The study employed a library research method with a qualitative interpretative approach through the analysis of various scientific sources, including books, journals, academic articles, and official documents relevant to literacy education, anti-corruption education, and societal development in the Society 5.0 era. Data sources were obtained through literature searches from Google Scholar, GARUDA, and various national and international scientific publications from 2021–2025. Data analysis was conducted through stages of data reduction, classification, interpretation, and systematic conclusion drawing. The findings indicate that literacy education plays an important role in shaping critical awareness, moral integrity, and public courage in rejecting corrupt practices. Literacy functions not only as the ability to read and understand information, but also as a means of developing a culture of transparency, accountability, and social responsibility within society. ABSTRAK Korupsi masih menjadi persoalan serius yang memengaruhi kualitas kehidupan sosial, politik, dan pendidikan di Indonesia. Di sisi lain, rendahnya budaya literasi menyebabkan masyarakat kurang memiliki kemampuan berpikir kritis dalam memahami berbagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan dan manipulasi informasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pendidikan literasi dalam membangun budaya antikorupsi serta menjelaskan hubungan antara kemampuan literasi dengan kesadaran sosial masyarakat terhadap praktik korupsi. Penelitian menggunakan metode library research dengan pendekatan kualitatif interpretatif melalui analisis berbagai sumber ilmiah berupa buku, jurnal, artikel akademik, dan dokumen resmi yang relevan dengan pendidikan literasi, pendidikan antikorupsi, serta perkembangan masyarakat di era Society 5.0. Sumber data diperoleh melalui penelusuran literatur dari Google Scholar, GARUDA, dan berbagai publikasi ilmiah nasional maupun internasional periode 2021–2025. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, klasifikasi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan literasi memiliki kontribusi penting dalam membentuk kesadaran kritis, integritas moral, dan keberanian masyarakat dalam menolak praktik korupsi. Literasi tidak hanya berfungsi sebagai kemampuan membaca dan memahami informasi, tetapi juga sebagai sarana membangun budaya transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
INOVASI MEDIA GAMBAR INTERAKTIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA: UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SEKOLAH DASAR Aris Deby Nur Azizah; Basuki Basuki; Nanik Herawati
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.10910

Abstract

This study aims to analyze the effect of interactive image learning media on improving Indonesian language learning outcomes among elementary school students. This research employed a quantitative approach using a quasi-experimental design through a pretest and posttest control group model. The research subjects consisted of 28 fourth-grade students divided into two groups, namely the experimental group using interactive image learning media and the control group using conventional learning methods. The research instrument was a learning achievement test that measured text comprehension, ability to answer questions, retelling skills, and drawing conclusions. The results showed that the average posttest score of the experimental group was 88.11, which was higher than the control group’s score of 84.12. This finding indicates that interactive image learning media is more effective in improving Indonesian language learning outcomes. In addition, the use of interactive image media was able to increase students’ attention, motivation, and active participation during the learning process. Students found it easier to understand the material because of the attractive and interactive visual displays. Therefore, the use of interactive learning media is recommended as an alternative learning strategy to improve the quality of instruction and student learning outcomes, especially in Indonesian language subjects at the elementary school level. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh media pembelajaran gambar interaktif terhadap peningkatan hasil belajar Bahasa Indonesia pada siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kuasi-eksperimen melalui model pretest dan posttest control group. Subjek penelitian terdiri dari 28 siswa kelas IV yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen yang menggunakan media pembelajaran gambar interaktif dan kelompok kontrol yang menggunakan metode pembelajaran konvensional. Instrumen penelitian berupa tes hasil belajar yang mengukur pemahaman isi teks, kemampuan menjawab soal, kemampuan menceritakan kembali, dan kemampuan menyimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai posttest kelompok eksperimen sebesar 88,11 lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol sebesar 84,12. Hal ini menunjukkan bahwa media pembelajaran gambar interaktif lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia. Selain itu, penggunaan media gambar interaktif mampu meningkatkan perhatian, motivasi, dan partisipasi aktif siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Siswa menjadi lebih mudah memahami materi karena adanya tampilan visual yang menarik dan interaktif. Dengan demikian, penggunaan media pembelajaran interaktif direkomendasikan sebagai alternatif strategi pembelajaran yang mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar.
TRANSFORMASI MUTU PEMBELAJARAN MELALUI KEPEMIMPINAN INSTRUKSIONAL KEPALA SEKOLAH: STUDI KASUS DI SEKOLAH DASAR M. Syaifuddin; Sukirman Sukirman; Enung Hasanah
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.10911

Abstract

ABSTRACT The principal's role as an instructional leader is crucial in accelerating educational standards within the educational unit. This study aims to examine various strategic leadership approaches to optimize the quality of the teaching and learning process, with the research focus being SDN 025 Balikpapan Tengah. The methodology applied in this research is qualitative with a case study design specification. The researcher collected data through a series of techniques, including in-depth dialogue with the principal and teaching staff, direct observation of classroom dynamics, and review of relevant documents. Next, the information obtained was processed through a process of data sorting, presentation of results, and formulation of final conclusions. The results show that improving the quality of learning is carried out through three main strategies. First, strengthening the academic vision that focuses on student learning outcomes. Second, implementing collaborative clinical supervision to support teacher professional development. Third, creating a conducive learning climate through the provision of innovative instructional resources. This study indicates that the shift in the principal's role from administrative manager to instructional leader who is more involved in the pedagogical process is related to increased teacher efficacy and the quality of learning interactions in the classroom. The results of this study strongly indicate the urgency of strengthening principals' managerial capabilities, particularly in the areas of instructional supervision and curriculum governance. This is necessary as a primary foundation for creating a quality and sustainable learning system. ABSTRAK Peran kepala sekolah sebagai pemimpin instruksional merupakan elemen krusial dalam mengakselerasi standar pendidikan di lingkup satuan pendidikan. Studi ini bermaksud untuk membedah berbagai pendekatan strategis kepemimpinan tersebut guna mengoptimalkan kualitas proses belajar-mengajar, dengan lokus penelitian di SDN 025 Balikpapan Tengah. Metodologi yang diterapkan dalam riset ini adalah kualitatif dengan spesifikasi desain studi kasus. Peneliti menghimpun data melalui serangkaian teknik, meliputi dialog mendalam bersama kepala sekolah dan tenaga pendidik, pengamatan langsung terhadap dinamika di kelas, serta penelaahan dokumen relevan. Selanjutnya, informasi yang diperoleh diolah melalui proses pemilahan data, pemaparan hasil, hingga perumusan konklusi akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan mutu pembelajaran dilakukan melalui tiga strategi utama. Pertama, penguatan visi akademik yang berfokus pada capaian belajar siswa. Kedua, pelaksanaan supervisi klinis yang bersifat kolaboratif untuk mendukung pengembangan profesionalisme guru. Ketiga, penciptaan iklim belajar yang kondusif melalui penyediaan sumber daya instruksional yang inovatif. Penelitian ini mengindikasikan bahwa pergeseran peran kepala sekolah dari manajer administratif menjadi pemimpin instruksional yang lebih terlibat dalam proses pedagogis berkaitan dengan peningkatan efikasi guru serta kualitas interaksi pembelajaran di kelas. Hasil studi ini memberikan indikasi kuat mengenai urgensi penguatan kapabilitas manajerial kepala sekolah, khususnya pada aspek pengawasan instruksional dan tata kelola kurikulum. Hal ini diperlukan sebagai fondasi utama dalam menciptakan sistem pembelajaran yang bermutu dan berkelanjutan.
THE INFLUENCE OF ENTREPRENEURSHIP EDUCATION, FAMILY ENVIRONMENT, AND SELF-EFFICACY ON ENTREPRENEURSHIP INTENTION OF EDUCATION STUDENTS Zaqia Izzah Salsabila; Choirul Nikmah
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.10941

Abstract

Too many graduates coming out of teacher-training universities, far more than the education sector especially schools can ever hire, means a large portion end up jobless, which pushes the unemployment rate higher. What drives these graduates toward entrepreneurial careers guided a study looking into both internal and external factors, namely entrepreneurship education, family environment, and self-efficacy. Using a quantitative design and PLS-SEM analysis, the research gathered data from 130 students who had completed both entrepreneurship courses and internships, selected through proportionate stratified random sampling. Findings showed self-efficacy as the strongest predictor of entrepreneurial intention. Family environment shaped both self-efficacy and entrepreneurial intention in meaningful ways. Entrepreneurship education did boost self-efficacy significantly, yet its direct effect on entrepreneurial intention remained negligible. A key lesson emerges from these results, namely that mastering academic content alone will not turn into career action unless self-efficacy rises substantially. For universities, this signals a need to redesign curricula, not just chasing theoretical command but actively building psychological strength and tightening the link between classroom learning and family backing. ABSTRAK Banyaknya lulusan dari universitas kependidikan yang melebihi kapasitas serapan sektor pendidikan, khususnya sekolah, menyebabkan peningkatan angka pengangguran. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi faktor internal dan eksternal yang mendorong para lulusan tersebut menuju karier kewirausahaan, dengan fokus spesifik pada pendidikan kewirausahaan, lingkungan keluarga, dan efikasi diri. Menggunakan desain kuantitatif dan analisis PLS-SEM, penelitian ini mengumpulkan data dari 130 mahasiswa yang telah menyelesaikan mata kuliah kewirausahaan dan magang, yang dipilih melalui teknik proportionate stratified random sampling. Temuan menunjukkan bahwa efikasi diri merupakan prediktor terkuat terhadap minat berwirausaha. Lingkungan keluarga membentuk efikasi diri dan minat berwirausaha secara signifikan. Pendidikan kewirausahaan terbukti meningkatkan efikasi diri secara nyata, namun pengaruh langsungnya terhadap minat berwirausaha tetap tidak signifikan. Pelajaran penting yang muncul dari hasil ini adalah bahwa penguasaan konten akademik saja tidak akan berubah menjadi tindakan karier kecuali jika efikasi diri meningkat secara substansial. Bagi universitas, temuan ini memberikan sinyal perlunya merancang ulang kurikulum agar tidak hanya berfokus pada penguasaan teoretis, tetapi juga secara aktif membangun kekuatan psikologis dan memperkuat hubungan antara pembelajaran di kelas dengan dukungan keluarga.
HUBUNGAN ANTARA OPTIMISME DENGAN ADVERSITY QUOTIENT PADA MAHASISWA AKHIR YANG SEDANG MENGERJAKAN SKRIPSI Carolina Permata Daeli; Karina Meriem Beru Brahmana
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i2.10996

Abstract

ABSTRACT The preparation of a thesis is often a challenge for university students because it requires the ability to cope with academic pressure and obstacles. This situation is related to the adversity quotient, namely an individual’s capacity to face, endure, and overcome various difficulties encountered. This study was conducted to analyze the relationship between optimism and adversity quotient among final-year students who are completing their thesis at HKBP Nommensen University. A quantitative approach with a correlational research design was applied in this study involving 150 students selected through purposive sampling. The data collection instruments consisted of an optimism scale (α = 0.929) and an adversity quotient scale (α = 0.948). The relationship between variables was tested using Pearson Product Moment correlation analysis. The results showed a correlation coefficient of 0.714 and a significance value of 0.000 (p < 0.05), indicating a positive and significant relationship between optimism and adversity quotient. The findings suggest a tendency that students with higher levels of optimism are better able to face academic obstacles during thesis writing. Thus, optimism can strengthen students’ motivation and resilience in completing their studies on time. ABSTRAK Penyusunan skripsi sering menjadi tantangan bagi mahasiswa karena menuntut kemampuan menghadapi tekanan dan hambatan akademik. Situasi tersebut berhubungan dengan adversity quotient, yakni kapasitas seseorang untuk menghadapi, bertahan, serta menyelesaikan berbagai hambatan yang dialami. Penelitian ini dilakukan guna menganalisis keterkaitan antara sikap optimis dengan adversity quotient pada mahasiswa semester akhir yang tengah menyelesaikan tugas skripsi di Universitas HKBP Nommensen. Pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional diterapkan dalam studi ini terhadap 150 mahasiswa yang dipilih secara purposive sampling. Instrumen pengumpulan data berupa skala optimisme (α = 0,929) dan skala adversity quotient (α = 0,948). Pengujian hubungan antarvariabel dilakukan melalui analisis korelasi Pearson Product Moment. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,714 dan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya hubungan positif serta signifikan antara optimisme dan adversity quotient. Temuan penelitian menunjukkan adanya kecenderungan bahwa mahasiswa yang memiliki tingkat optimisme lebih tinggi mampu menghadapi hambatan akademik dengan lebih baik selama penyusunan skripsi. Dengan demikian, optimisme dapat memperkuat motivasi dan daya tahan mahasiswa dalam menyelesaikan studi tepat pada waktunya.
ANALISIS PELAKSANAAN SUPERVISI PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN MUTU SEKOLAH DI SDIT DARUNNAJAH KABUPATEN KERINCI Hanif Faddillah; Dedi Noperman; Wisnarni Wisnarni
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i3.11028

Abstract

This study aims to analyze the accuracy of educational supervision in improving school quality at SDIT Darunnajah in Kerinci Regency. The study used a qualitative approach with a case study type. The research subjects consisted of the principal and teachers directly involved in the implementation of educational supervision. Qualitative data collection techniques were carried out through interviews, observation, and documentation, while data analysis used data reduction, data presentation, and drawing conclusions with triangulation to maintain data validity. The results of the study indicate that educational supervision at SDIT Darunnajah is carried out systematically through three main stages: planning, implementation, and follow-up supervision. Supervision planning is carried out in a structured manner by compiling an annual program based on teacher needs. Supervision is carried out periodically through classroom observation and direct coaching. Supervision follow-up is carried out through training, group discussions, and individual coaching to improve teacher competency. The impact of educational supervision is seen in the improvement of learning quality, teacher competency, and school achievement. Teachers become more focused in developing learning tools and using more varied methods. In addition, the improvement in school quality is also demonstrated by the selection of SDIT Darunnajah as a Driving School and Model School. Appropriate and ongoing educational supervision contributes significantly to improving overall school quality. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketepatan supervisi pendidikan dalam meningkatkan mutu sekolah di SDIT Darunnajah Kabupaten Kerinci. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian terdiri dari kepala sekolah dan guru yang terlibat langsung dalam pelaksanaan supervisi pendidikan. Teknik pengumpulan data kualitatif dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, sedangkan analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi untuk menjaga keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa supervisi pendidikan di SDIT Darunnajah dilakukan secara sistematis melalui tiga tahapan utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan tindak lanjut supervisi. Perencanaan supervisi dilakukan secara terstruktur dengan menyusun program tahunan berdasarkan kebutuhan guru. Pelaksanaan supervisi dilakukan secara berkala melalui observasi kelas dan pembinaan langsung. Tindak lanjut supervisi dilakukan melalui pelatihan, diskusi kelompok, dan pembinaan individu guna meningkatkan kompetensi guru. Dampak supervisi pendidikan terlihat dari meningkatnya kualitas pembelajaran, kompetensi guru, serta prestasi sekolah. Guru menjadi lebih terarah dalam menyusun perangkat pembelajaran dan menggunakan metode yang lebih variatif. Selain itu, peningkatan mutu sekolah juga ditunjukkan dengan terpilihnya SDIT Darunnajah sebagai Sekolah Penggerak dan Sekolah Model. Supervisi pendidikan yang tepat dan berkelanjutan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan mutu sekolah secara keseluruhan.