cover
Contact Name
Yogi Setiawan
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+62851733700892
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
EDUCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran
ISSN : 27752585     EISSN : 27752593     DOI : https://doi.org/10.51878/educational.v4i4
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pedidikan dan pengajaran.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 739 Documents
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR IPAS SISWA KELAS V Ella Sutriani Purba; Reflina Sinaga; Joen Parningotan Purba
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i4.15834

Abstract

Low student learning outcomes in elementary Natural and Social Sciences (IPAS) are frequently caused by conventional instructional practices that rarely link learning materials to contextual problem-solving. This pedagogical gap triggers student boredom and results in a low mastery level regarding environmental issues. This study aimed to determine the effect of implementing the Problem-Based Learning (PBL) model on fifth-grade students' IPAS learning outcomes on the topic "My Beloved Earth, My Damaged Earth" at SD Negeri 107104 Tarean during the 2025/2026 academic year. A quantitative approach with a pre-experimental design using a one-group pretest-posttest design was utilized. The sample consisted of 28 students selected using a saturated sampling technique. Data were gathered through a 26-item multiple-choice achievement test that had undergone expert judgment validation and achieved high reliability. Data analysis involved the Lilliefors normality test and hypothesis testing using a paired-sample t-test at a 5% significance level. The results revealed that the students' mean learning outcome score increased from 56.73 in the pretest to 78.43 in the posttest, generating an average improvement of 21.70 points. The normality test confirmed that the data were normally distributed (Sig. = 0.200 > 0.05). Furthermore, the paired-sample t-test yielded a calculated t-value of 10.747, surpassing the critical t-table value of 2.052 with a significance value of 0.001 (< 0.05); thus, H_0 was rejected and H_a was accepted. These empirical findings demonstrate that the Problem-Based Learning model exerts a positive and significant effect on elementary IPAS learning outcomes. ABSTRAK Rendahnya hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di sekolah dasar sering kali disebabkan oleh praktik pembelajaran konvensional yang minim mengaitkan materi dengan pemecahan masalah kontekstual. Kesenjangan ini memicu kejenuhan siswa dan menyebabkan rendahnya ketuntasan hasil belajar pada konsep lingkungan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran Problem-Based Learning (PBL) terhadap hasil belajar IPAS kelas V pada materi "Bumiku Sayang, Bumiku Malang" di SD Negeri 107104 Tarean Tahun Pembelajaran 2025/2026. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pre-experimental design melalui rancangan one-group pretest-posttest design. Sampel penelitian berjumlah 28 siswa yang dipilih menggunakan teknik sampling jenuh. Pengumpulan data dilakukan menggunakan tes hasil belajar sebanyak 26 butir soal pilihan ganda yang telah divalidasi ahli dan terbukti reliabel. Analisis data meliputi uji normalitas Lilliefors dan uji hipotesis menggunakan paired sample t-test pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa meningkat dari 56,73 pada saat pretest menjadi 78,43 pada saat posttest, sehingga terjadi peningkatan rata-rata sebesar 21,70 poin. Hasil uji normalitas menunjukkan data berdistribusi normal (Sig. = 0,200 > 0,05). Selanjutnya, hasil uji paired sample t-test menghasilkan nilai t_"hitung" =10,747 dengan t_"tabel" =2,052 dan nilai signifikansi 0,001 (< 0,05), sehingga H_0 ditolak dan H_a diterima. Temuan ini membuktikan bahwa penerapan model Problem-Based Learning berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri 107104 Tarean.    
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA Cici Andriani Manik; Lasmaria Agnes Sinaga; Paskah Sriulina Tarigan
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i4.15836

Abstract

Natural and Social Sciences (IPAS) instruction in primary schools is frequently dominated by one-way lecture methods that restrict collaborative dialogue and individual reflection time. The limited implementation of structured cooperative learning models regarding local cultural materials has resulted in students' suboptimal conceptual understanding and academic performance. This study aims to analyze the effect of the Think Pair Share (TPS) cooperative learning model on students' learning outcomes in the IPAS subject concerning the topic "What is My Local Culture Like?" in fifth-grade classes at UPT SD Negeri 060971 Medan Tuntungan in the 2025/2026 academic year. A quantitative approach utilizing a pre-experimental one-group pretest-posttest design was implemented. The research population comprised 78 fifth-grade students, with a sample of 24 students from class V-C selected via purposive sampling. Data were accumulated through 25-item multiple-choice achievement tests and 25-item student response questionnaires with confirmed validity and high reliability. Data were analyzed sequentially using descriptive statistics, normality tests, Pearson Product Moment correlation, and the paired sample t-test. The findings revealed that the class average score increased from 62.33 in the pretest to 83.50 in the posttest, with classical mastery escalating from 0% to 83.33%. The hypothesis testing confirmed that t_"count" =17.256, which exceeded t_"table" =2.069 at a 5% significance level (p=0.000<0.05), reinforced by an exceptionally strong correlation coefficient (r=0.965). Consequently, the Think Pair Share cooperative learning model exerts a positive and statistically significant effect on elementary school students' IPAS learning outcomes. ABSTRAK Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di sekolah dasar masih sering didominasi oleh metode ceramah satu arah yang membatasi ruang kolaborasi dan waktu berpikir mandiri peserta didik. Keterbatasan penggunaan model pembelajaran kooperatif terstruktur pada materi kearifan budaya daerah menyebabkan rendahnya pemahaman konsep dan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) terhadap hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran IPAS materi "Seperti Apakah Budaya Daerahku?" di kelas V UPT SD Negeri 060971 Medan Tuntungan Tahun Ajaran 2025/2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pra-eksperimen melalui rancangan one-group pretest-posttest design. Populasi penelitian mencakup seluruh peserta didik kelas V yang berjumlah 78 orang, dengan sampel penelitian sebanyak 24 peserta didik kelas V-C yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui instrumen tes pilihan berganda sebanyak 25 butir soal dan angket respons siswa sebanyak 25 butir pernyataan yang telah teruji validitas serta reliabilitasnya. Data dianalisis secara bertahap melalui statistik deskriptif, uji normalitas, analisis korelasi Product Moment, dan uji hipotesis paired sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata hasil belajar dari 62,33 pada saat pretest menjadi 83,50 pada saat posttest, dengan ketuntasan belajar klasikal melonjak dari 0% menjadi 83,33%. Pengujian hipotesis membuktikan bahwa nilai t_"hitung" =17,256 lebih besar daripada t_"tabel" =2,069 pada taraf signifikansi 5% (p=0,000<0,05), didukung oleh derajat korelasi yang sangat kuat (r=0,965). Dengan demikian, model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan hasil belajar IPAS siswa sekolah dasar.    
PENGARUH MODEL PROJECT BASED LEARNING MELALUI KEGIATAN PRAKTIK TERHADAP HASIL BELAJAR IPAS Aldi Revildo Girsang; Dyan Wulan Sari HS; Paska Sriulina Tarigan
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i4.15838

Abstract

This study was motivated by the low student learning outcomes in the Natural and Social Sciences (IPAS) subject, attributed to a teacher-centered instructional process where students were less actively involved in understanding concepts and developing problem-solving skills. The study aimed to determine the effect of the Project-Based Learning model on fourth-grade students' IPAS learning outcomes at SD Negeri 101830 Tanjung Selamat during the 2025/2026 academic year. A quantitative approach with a pre-experimental design—specifically the One-Group Pretest-Posttest Design—was employed. The sample consisted of 25 students selected using the saturated sampling technique. Data collection utilized multiple-choice learning outcome tests administered prior to and following the intervention. Data analysis began with prerequisite testing using the Shapiro-Wilk normality test, followed by hypothesis testing using the paired sample t-test via SPSS version 25. The results indicated an improvement in student learning outcomes following the implementation of the Project-Based Learning model, with the mean pretest score rising from 64 to 78.8 on the posttest. The hypothesis test yielded a Sig. (2-tailed) value of 0.000 (< 0.05), leading to the rejection of  and the acceptance of . Thus, it is concluded that the Project-Based Learning model exerts a positive and significant effect on elementary students' IPAS learning outcomes. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) yang disebabkan oleh proses pembelajaran yang masih cenderung berpusat pada guru, sehingga siswa kurang aktif dalam memahami konsep dan mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Project-Based Learning terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas IV SD Negeri 101830 Tanjung Selamat Tahun Ajaran 2025/2026. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode Pre-Experimental Design melalui desain One-Group Pretest-Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 25 siswa yang ditentukan menggunakan teknik sampling jenuh. Pengumpulan data menggunakan instrumen tes hasil belajar berbentuk pilihan ganda sebelum dan sesudah perlakuan. Analisis data dilakukan melalui uji normalitas Shapiro-Wilk dan uji hipotesis paired sample t-test dengan bantuan aplikasi SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan model Project-Based Learning, dengan rata-rata nilai pretest sebesar 64 meningkat menjadi 78,8 pada nilai posttest. Hasil uji hipotesis memperoleh nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05, sehingga  ditolak dan  diterima. Dengan demikian, disimpulkan bahwa model Project-Based Learning berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar IPAS siswa sekolah dasar.  
ENGLISH LANGUAGE EDUCATION STUDENTS' PERCEPTIONS OF SELF-EFFICACY IN THE CONTEXT OF EFL SPEAKING LEARNING Febi Aulia Silviana; Irsyad Nugraha; Anne Ratna Suminar
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i4.15839

Abstract

This study aims to examine EFL students' perceptions regarding self-efficacy in speaking contexts. Self-efficacy represents an individual's conviction in completing speaking tasks successfully despite facing linguistic and psychological barriers. However, many students encounter difficulties achieving proficient communicative competence due to anxiety, low motivation, and diminished self-confidence. This quantitative study utilized an adapted structured questionnaire administered to 40 EFL students across three Indonesian universities selected through a purposive sampling technique. The gathered data were evaluated using descriptive statistical analysis by calculating frequency distributions and percentages. The results indicate that students maintain a high level of self-efficacy, which substantially enhances their self-confidence to mitigate speaking anxiety. This study confirms that students with elevated self-efficacy manage communicative obstacles more effectively than those possessing lower self-efficacy. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi mahasiswa English as a Foreign Language (EFL) mengenai efikasi diri mereka dalam konteks pembelajaran keterampilan berbicara (speaking). Efikasi diri merupakan keyakinan mendasar bahwa seorang individu mampu menyelesaikan tugas secara optimal di tengah berbagai hambatan linguistik maupun psikologis. Namun, sejumlah mahasiswa kerap menghadapi kendala kecemasan dan stagnasi keterampilan berbicara akibat rendahnya rasa percaya diri dalam menggunakan bahasa Inggris. Penelitian kuantitatif ini menerapkan instrumen kuesioner terstruktur yang diadaptasi dan disebarkan kepada 40 mahasiswa pendidikan bahasa Inggris dari tiga universitas di Indonesia menggunakan teknik purposive sampling. Data yang terkumpul dianalisis secara komprehensif menggunakan teknik analisis statistik deskriptif berupa perhitungan persentase frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki efikasi diri yang positif dan mampu mempertahankannya guna mereduksi kecemasan berbicara. Mahasiswa dengan tingkat efikasi diri yang tinggi terbukti lebih tangguh dan cakap dalam mengendalikan tantangan komunikasi dibandingkan mahasiswa berefikasi rendah.    
EFL LEARNERS’ EXPERIENCES IN PRACTICING ENGLISH CONVERSATION THROUGH AI-GENERATED CHARACTERS ON CHATGPT Anggia Nastya; Anne Ratna Suminar; Yustika Nur Fajriah
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i4.15840

Abstract

Limited opportunities for authentic conversational practice outside the classroom and high speaking anxiety remain significant barriers for English as a Foreign Language (EFL) learners. Despite the rapid growth of conversational artificial intelligence (AI), empirical investigations into learners' lived experiences when interacting with customized virtual interlocutors remain scarce. This study explored EFL learners' experiences in practicing English conversation through interactions with AI-generated characters on ChatGPT. Employing a qualitative case study design, this research involved seven EFL undergraduate students from the English Education Program at Institut Pendidikan Indonesia Garut selected through purposive sampling. Data were accumulated through expert-validated semi-structured interviews and corroborated by digital chat history documentation, which were subsequently analyzed using Braun and Clarke's thematic analysis framework. The findings identified three overarching themes: practical use, benefits, and challenges. In terms of practical use, participants purposefully customized conversational personas and varied interaction formats, although engagement with advanced prompt settings remained minimal. The most prominent benefits were marked reductions in speaking anxiety, increased communicative confidence, vocabulary acquisition, and autonomous practice accessibility. Meanwhile, the observed challenges included premature AI turn-taking interruptions, vocabulary deficits on unfamiliar topics, and localized motivational decline. This study concludes that AI-generated characters serve as a meaningful low-pressure preparatory environment for authentic EFL speaking practice. ABSTRAK Keterbatasan kesempatan praktik percakapan autentik di luar kelas dan tingginya kecemasan berbicara masih menjadi hambatan utama bagi pembelajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL). Meskipun pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) berkembang pesat, kajian mendalam mengenai pengalaman nyata pembelajar saat berinteraksi dengan karakter berbasis AI masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman pelajar EFL dalam berlatih percakapan bahasa Inggris melalui interaksi dengan AI-generated characters pada platform ChatGPT. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, penelitian ini melibatkan tujuh pelajar EFL dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Institut Pendidikan Indonesia Garut yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur yang telah divalidasi ahli dan didukung oleh dokumentasi riwayat percakapan digital, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik model Braun dan Clarke. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama: penggunaan praktis, manfaat, dan tantangan. Dari segi penggunaan praktis, partisipan menetapkan persona karakter secara aktif dan memvariasikan format percakapan, meskipun pemanfaatan fitur konfigurasi tingkat lanjut masih terbatas. Manfaat utama yang dirasakan meliputi penurunan kecemasan berbicara, peningkatan kepercayaan diri, perluasan kosakata, serta fleksibilitas akses latihan mandiri. Adapun tantangan yang dihadapi mencakup respons prematur sistem AI, kendala kosakata pada topik yang belum dikuasai, serta penurunan motivasi yang bersifat individual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa interaksi dengan AI-generated characters efektif berfungsi sebagai media latihan percakapan awal yang aman dan bebas tekanan sosial bagi pembelajar EFL.  
BIG BOOK LITERASI NUANSA LINGKUNGAN (BILING) SEBAGAI MEDIA PENGENALAN LINGKUNGAN DI KB AL HIDAYAH PEMALANG Ifrohatun Ifrohatun; Swantyka Ilham Prahesti
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i4.15841

Abstract

Introducing the environment and cultivating emergent literacy represent crucial foundational aspects of early childhood education. However, practical environmental instruction in classrooms continues to require concrete, contextual, and developmentally appropriate learning media. This performance-based development aims to design the Big Book of Environmental Literacy (BiLiNG) as an instructional medium to introduce environmental concepts while stimulating emergent literacy among young learners at KB Al Hidayah Pemalang. The media development was conducted through four procedural stages: planning, content and visual structuring, physical assembly, and instructional implementation. BiLiNG was engineered as a large-format book incorporating real-world environmental photographs familiar to children, simple narrative texts, vibrant illustrations, and interactive inquiry prompts. The classroom implementation was conducted through shared reading sessions, guided questioning, and structured dialogues. The implementation results demonstrate that utilizing the BiLiNG media effectively enhanced children's visual attention, learning enthusiasm, communicative participation, and verbal responsiveness during the learning process. The children exhibited greater proficiency in identifying, categorizing, and naming various environmental components displayed in the book. These findings confirm that the BiLiNG media serves as a simple, contextual, and relevant alternative instructional medium to foster early environmental awareness and emergent literacy skills in early childhood education. ABSTRAK Pengenalan lingkungan dan pengembangan literasi awal merupakan aspek esensial dalam pembelajaran anak usia dini. Namun, pelaksanaan pembelajaran pengenalan lingkungan di lapangan masih membutuhkan media konkret yang kontekstual, menarik, dan selaras dengan tahapan perkembangan anak. Karya kinerja ini bertujuan untuk mengembangkan media Big Book Literasi Nuansa Lingkungan (BiLiNG) sebagai sarana pembelajaran guna mengenalkan lingkungan sekaligus menstimulasi literasi awal anak usia dini di KB Al Hidayah Pemalang. Pengembangan media dilakukan melalui empat tahapan prosedural, yaitu perencanaan, penyusunan isi dan ilustrasi, pembuatan media fisik, serta penerapan dalam proses pembelajaran. Media BiLiNG dirancang dalam bentuk buku berukuran besar dengan memanfaatkan dokumentasi foto lingkungan nyata di sekitar anak, teks bersahaja, ilustrasi visual yang kontras, serta stimulus pertanyaan interaktif. Implementasi media diterapkan melalui kegiatan membaca bersama (shared reading), tanya jawab, dan diskusi terarah. Hasil penerapan membuktikan bahwa penggunaan media BiLiNG efektif meningkatkan atensi visual, antusiasme, partisipasi komunikatif, serta respons verbal anak selama proses pembelajaran berlangsung. Anak menjadi lebih mudah mengenali, membedakan, dan menyebutkan beragam objek lingkungan yang disajikan dalam media. Temuan ini menegaskan bahwa media BiLiNG dapat menjadi alternatif sarana instruksional yang sederhana, kontekstual, dan relevan untuk menumbuhkan kepedulian lingkungan serta literasi awal sejak usia dini.    
IDENTIFIKASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KEGIATAN EKSTRAKURIKULER SEPAK BOLA DI SMPK ST. ISIDORUS LEWOTALA Anisetus Kopong Lewobele; Yeremias Mamu Sare; Antonius Harun Ruron
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i4.15842

Abstract

Sports extracurricular activities in secondary schools frequently prioritize technical skill mastery and athletic achievements while overlooking the systematic internalization of moral values. The limited empirical exploration regarding the integration of ethical values within team sports at rural boarding-based junior high schools establishes the primary research gap of this study. This research aims to identify the implementation process, manifested character education values, and influencing factors within the football extracurricular program at SMPK St. Isidorus Lewotala. A descriptive qualitative case study design was employed. The research subjects were determined using total sampling, incorporating 1 head coach and all 30 students actively enrolled in the football extracurricular program. Data were gathered through participatory field observation, semi-structured in-depth interviews, and documentation review. Data analysis was executed interactively utilizing Miles and Huberman's framework, encompassing data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings demonstrate that the extracurricular implementation proceeds through three structured stages: training program planning, tactical-technical practice, and reflective behavioral evaluation. The identified character education values encompass discipline, responsibility, teamwork, sportsmanship, and honesty, which are internalized through coach role modeling, habituation, and direct reflection. Key supporting factors include coach exemplary leadership and adequate sports infrastructure, whereas inhibiting factors involve initial student disciplinary inconsistencies and constrained practice time. Consequently, the football extracurricular program is proven to function not only as athletic skill training but also as a strategic medium for character education in schools. ABSTRAK Kegiatan ekstrakurikuler olahraga di sekolah sering kali hanya menitikberatkan pada penguasaan keterampilan teknis dan pencapaian prestasi fisik semata, sementara internalisasi nilai-nilai moral belum teridentifikasi secara sistematis. Keterbatasan eksplorasi mengenai integrasi nilai etika dalam olahraga beregu di tingkat sekolah menengah pertama berbasis asrama daerah menjadi kesenjangan yang melatarbelakangi kajian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi proses pelaksanaan, wujud nilai-nilai pendidikan karakter, serta faktor-faktor yang memengaruhinya dalam kegiatan ekstrakurikuler sepak bola di SMPK St. Isidorus Lewotala. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus terpancang. Subjek penelitian ditentukan melalui teknik sampling jenuh (total sampling) yang melibatkan 1 orang pelatih dan seluruh peserta didik anggota ekstrakurikuler sepak bola sebanyak 30 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif di lapangan, wawancara mendalam semi-terstruktur, dan studi dokumentasi kegiatan. Analisis data dilakukan secara interaktif mengadopsi model Miles dan Huberman yang meliputi tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian membuktikan bahwa proses pelaksanaan ekstrakurikuler berlangsung melalui tiga tahapan terstruktur, yaitu perencanaan program latihan, pelaksanaan sesi teknik-taktik, dan evaluasi pembinaan sikap. Nilai-nilai pendidikan karakter yang berhasil diidentifikasi mencakup disiplin, tanggung jawab, kerja sama, sportivitas, dan kejujuran yang diinternalisasikan melalui keteladanan pelatih, pembiasaan aturan, dan refleksi bersama. Faktor pendukung utama meliputi keteladanan pelatih dan ketersediaan sarana prasarana sekolah, sedangkan faktor penghambatnya berupa inkonsistensi kedisiplinan awal siswa serta keterbatasan alokasi waktu latihan. Dengan demikian, kegiatan ekstrakurikuler sepak bola terbukti tidak hanya melatih kemahiran fisik, tetapi juga berfungsi sebagai wahana strategis pendidikan karakter bagi peserta didik di sekolah.    
ANALISIS INSTRUMEN PENILAIAN KETERAMPILAN MENYIMAK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS III SD Elfridayanti Zega; Dernius Hura; Eka Periaman Zai; Mastawatin Ndruru
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i4.15935

Abstract

ABSTRACT This study was motivated by the need for an assessment instrument capable of providing a structured representation of students’ listening skills in Indonesian language learning. The study aimed to describe the form of the listening skills assessment instrument, its characteristics and alignment with learning objectives, as well as the challenges encountered during its implementation in Grade III at SD Negeri 074056 Dahana Humene. A qualitative approach was employed, with data collected through observation, interviews, and documentation. The research informants were selected using a purposive sampling technique, consisting of a Grade III teacher and five students. Data were analyzed through open coding, axial coding, and selective coding stages to identify the form of the instrument, assessment quality and indicators, alignment with learning objectives, as well as the strengths and limitations of the instrument in its implementation. The findings indicate that listening skills assessment covered cognitive, affective, and psychomotor domains. In the cognitive domain, the teacher predominantly used essay questions developed based on learning materials and objectives, while the affective and psychomotor domains were assessed through observation. The instrument addressed the indicators of listening, paying attention, understanding, and responding to the information presented, supported by scoring guidelines. Implementation challenges primarily involved students’ lack of concentration, differences in their ability to understand information, learning interest, and an unconducive classroom environment. The study concludes that the quality of listening assessment needs to be supported by alignment between the assessment instrument and learning objectives, as well as conducive implementation conditions. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perlunya instrumen penilaian yang mampu menggambarkan keterampilan menyimak peserta didik secara terarah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk instrumen penilaian keterampilan menyimak, karakteristik dan kesesuaiannya dengan tujuan pembelajaran, serta kendala yang muncul dalam penerapannya pada kelas III SD Negeri 074056 Dahana Humene. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri atas guru kelas III dan lima peserta didik. Analisis data dilakukan melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding untuk mengidentifikasi bentuk instrumen, kualitas dan indikator penilaian, kesesuaian dengan tujuan pembelajaran, serta kelebihan dan kelemahan instrumen dalam pelaksanaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian keterampilan menyimak mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pada ranah kognitif, guru dominan menggunakan soal uraian (essay) yang disusun berdasarkan materi cerita dan tujuan pembelajaran, sedangkan ranah afektif dan psikomotorik dinilai melalui observasi. Instrumen mencakup indikator mendengar, memperhatikan, memahami, dan menanggapi informasi yang disimak serta menggunakan pedoman penskoran. Kendala penerapan terutama berkaitan dengan kurangnya fokus peserta didik, perbedaan kemampuan memahami informasi, minat belajar, dan kondisi kelas yang kurang kondusif. Penelitian menyimpulkan bahwa kualitas penilaian menyimak perlu didukung keselarasan instrumen dengan tujuan pembelajaran dan kondisi pelaksanaan yang kondusif.
GANGGUAN BERBICARA PADA TATARAN FONOLOGI ANAK USIA 4–5 TAHUN: KAJIAN SEGMENTAL DAN PSIKOLINGUISTIK Susanti Susanti; M. Ridlwan; Suher Suher
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v6i4.16053

Abstract

ABSTRACT Early childhood speech sound production develops gradually and may exhibit individual variation, particularly when children encounter consonant sounds that have not yet been produced consistently. This study aimed to describe sound changes in children’s utterances, identify the characteristics of segmental sounds undergoing changes, and examine variations in phonological production among children aged 4–5 years from a psycholinguistic perspective. The study employed a qualitative approach with a case study design involving seven children at Taman Kanak-kanak Islam Terpadu Insan Budi Mulia Surabaya. Data were collected through observation, video recordings, and documentation during classroom communication activities, then transcribed and analyzed using the Miles and Huberman interactive model through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that three children exhibited changes in sound production, whereas four children did not demonstrate changes that met the research data criteria. The identified patterns included the substitution of /r/ with /l/, deletion of /r/ in consonant clusters, and changes involving several other phonemes in one participant. Changes in production occurred in contoid sounds, while no changes were observed in vocoid sounds. These findings indicate that children’s phonological development is dynamic and individual, highlighting the need for continuous language stimulation through interaction, conversation, and literacy activities. ABSTRAK Perkembangan produksi bunyi pada anak usia dini berlangsung secara bertahap dan dapat memperlihatkan variasi individual, terutama ketika anak menghadapi bunyi konsonan tertentu yang belum diproduksi secara konsisten. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perubahan bunyi dalam tuturan, karakteristik bunyi segmental yang mengalami perubahan, serta variasi produksi fonologis anak usia 4–5 tahun dari perspektif psikolinguistik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus yang dilaksanakan pada tujuh anak di Taman Kanak-kanak Islam Terpadu Insan Budi Mulia Surabaya. Data dikumpulkan melalui observasi, rekaman video, dan dokumentasi selama kegiatan komunikasi di kelas, kemudian ditranskripsikan dan dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahap reduksi data, penyajian data, serta penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga anak memperlihatkan perubahan produksi bunyi, sedangkan empat anak tidak menunjukkan perubahan yang memenuhi kriteria data penelitian. Pola yang ditemukan meliputi perubahan /r/ menjadi /l/, pelesapan /r/ pada gugus konsonan, serta perubahan beberapa fonem lain pada salah satu subjek. Perubahan produksi ditemukan pada bunyi kontoid, sedangkan bunyi vokoid tidak menunjukkan perubahan. Temuan menunjukkan bahwa perkembangan fonologis anak bersifat dinamis dan individual, sehingga stimulasi bahasa melalui interaksi, percakapan, dan kegiatan literasi perlu dilakukan secara berkelanjutan.