cover
Contact Name
Abdullah Maulani
Contact Email
jmanuskripta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jmanuskripta@gmail.com
Editorial Address
Gedung VIII Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok 16424 Jawa Barat
Location
,
INDONESIA
MANUSKRIPTA
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : https://doi.org/10.33656/manuskripta
MANUSKRIPTA aims to provide information on Indonesian and Southeast Asian manuscript studies through publication of research-based articles. MANUSKRIPTA is concerned with the Indonesian and Southeast Asian manuscript studies, the numerous varieties of manuscript cultures, and manuscript materials from Southeast Asian society. It also considers activities related to the care and management of Southeast Asian manuscript collections, including cataloguing, conservation, and digitization.
Articles 115 Documents
Manuskrip Al-Qur'an dan Terjemah Jawa K.H. Bakri Koleksi Masjid Besar Pakualaman: Sejarah, Karakteristik, dan Identitas Azami, Hadiana Trendi; Mursyid, Achmad Yafik; Febriyanto, Muhammad Bagus
Manuskripta Vol 12 No 2 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i2.152

Abstract

The article explains the Quran manuscript and Javanese translation K.H Bakri collection Great Mosque of Pakualaman and its relevance to Clifford Geertz’s discourse on the typology of Javanese Muslim society. This study uses literature review and documentation method to analyze the characteristics of Quranic manuskrip and Javanese translation K.H. Bakri. This study uses the auxiliary science of Philology which is oriented towards disclosing the physical aspects of texts (codicology) and texts (textology). Descriptive-analytical method was used to describe and analyze the data. The research results show that (1) The acculturation of Islam and local culture in the manuscripts of the Qur’an KHB can be seen from the influence of Javanese literature on the writing of ruku’, surah heads with twisted decorative patterns, and translation techniques using Arabic-Jawi script; (2) The characteristics of the KHB Qur’an have similarities with the science that developed in santri; (3) Geertz's typology of abangan for Islam in the interior of Java cannot be generalized. === Artikel ini menjelaskan tentang manuskrip Al-Qur’an dan terjemahan Jawa K.H. Bakri koleksi Masjid Besar Pakualaman dan merelevansikannya dengan wacana distingsi Clifford Geertz tentang tipologi masyarakat muslim Jawa. Pengumpulan data menggunakan studi pustaka dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan ilmu bantu Filologi yang berorientasi kepada pengungkapan aspek fisik naskah (kodikologi) dan pernaskahan (tekstologi). Metode deskriptif-analitis digunakan untuk mendeskripsikan dan menganalisis data. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Akulturasi Islam dan budaya lokal dalam manuskrip Al-Qur’an KHB dapat terlihat dari keterpengaruhan sastra Jawa dalam penulisan tanda ruku’, kepala surah dengan pola hiasan dipilin-pilin, dan teknik penerjemahan dengan aksara Arab-Jawi (2) karakteristik manuskrip Al-Qur’an KHB memiliki kesamaan dengan keilmuan yang berkembang di kalangan santri mulai dari penggunaan rasm, qirā’āt, teknik dan bentuk terjemahan; (3) Tipologi Geertz tentang abangan untuk Islam wilayah pedalaman Jawa tidak dapat di generalisasi; meskipun Kadipaten Pakualaman secara stratifikasi sosial termasuk ke dalam priayi, dan abangan secara geografis, akan tetapi karakteristik Al-Qur’an KHB menunjukkan kesamaan keilmuan dengan kalangan santri.
Warisan Budaya Pantun dalam Manuskrip Surat Incung Sunliensyar, Hafiful Hadi
Manuskripta Vol 12 No 2 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i2.153

Abstract

Pantun is one of the ancient poetry that is the cultural heritage of the society in the archipelago. At first, the Pantun tradition is an oral tradition that functioned for various purposes. However, Pantuns are also transformed into written form after. The text entity of the Pantun is inserted in various Hikayat Melayu and in local literary manuscripts, such as the Ulu manuscript and the Incung Kerinci manuscript. This study aims to identify Pantuns in the Incung manuscripts that have been translated. The result of this research shows that 14 Incung manuscripts containing the texts of Pantun. Its texts are categorized as “pantun biasa” dan “talibun” with distinctive characteristics. Its specific character is the existence of an interjection or a sentence containing interjection between the “sampiran” and “isi”. The availability of pantuns is only found in the Incung manuscript containing the prose of lamentations. The function of pantuns is as a "sweetener" element and adds poetic value in the Incung prose. the content of pantun always has a correlation with the mood expressed by the manuscript writer. === Pantun merupakan salah satu karya sastra lama yang menjadi warisan budaya masyarakat di Kepulauan Nusantara. Tradisi pantun pada dasarnya adalah tradisi lisan yang difungsikan untuk berbagai tujuan. Namun demikian, pantun juga ditransformasikan dalam bentuk tulisan. Wujud teks pantun disisipkan dalam berbagai hikayat Melayu dan di dalam manuskrip kesusastraan lokal seperti dalam manuskrip Ulu dan manuskrip Incung Kerinci. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi teks-teks pantun dalam manuskrip Incung yang telah dialihaksarakan. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat 14 manuskrip Incung yang memuat teks pantun. Teks pantun tersebut adalah pantun biasa dan talibun dengan karakteristik yang khas. Kekhasan tersebut adalah adanya interjeksi atau kalimat mengandung interjeksi di antara sampiran dan isi. Keberadaan pantun hanya terdapat pada manuskrip Incung yang berisi prosa ratap-tangis. Fungsi pantun adalah sebagai unsur “pemanis” dan penguat nilai puitis dalam sastra Incung. Isinya selalu berelasi dengan suasana hati yang diungkapkan oleh penulis manuskrip.
Serat Baron Sakendher dalam Pusaran Naskah Babad: Negosiasi Kultural Penguasa Jawa Pascaperang Diponegoro 1830 Widodo, Widodo; Pudjiastuti, Titik; Limbong, Priscila Fitriasih; Sudibyo, Sudibyo
Manuskripta Vol 12 No 2 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i2.154

Abstract

This article discusses historical construction of Baron Sakendher manuscripts in the collection of Yogayakarta Sonobudoyo Museum. Serat Baron Sakendher (SBS) was written in the main frame of Babad Tanah Jawi. Various stories frame SBS distinctively based on each manuscript. This study proposes to explain the position of SBS in the Javanese authority domain under the Colonial—which was increasingly entrenched. The study used historical philological research methods, namely by selecting manuscripts and tracing their historical backgrounds to discuss the contents. The results point out that there are six manuscripts containing SBS stories. Four are included in the big frame of Babad Tanah Jawi, one is in Babad Selahardi, and one is in Pakem Ringgit. None of the six was written as a single stand; they were always integrated with the monumental Javanese genealogical story and believed by the Javanese people. As a means of cultural arrangement, stories in SBS are incorporated in the midst of Javanese legendary figures or rulers with different secondary stories. Conquest and cultural approach through genealogy pedigree are crucial in babad (chronicle stories). === Artikel ini membahas konstruksi historis naskah-naskah Baron Sakendher koleksi Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Naskah SBS ditulis dalam bingkai utama yakni naskah Babad Tanah Jawi. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan posisi naskah SBS dalam lingkaran kekuasaan Jawa di bawah bayang-bayang Kolonial yang semakin kuat mengakar. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian dilakukan dengan metode penelitian filologi historis, yaitu pemilihan naskah, kemudian penelusuran latar belakang sejarah naskah untuk membahas isi teks. Hasil penelitian menunjukkan terdapat enam naskah yang memuat cerita SBS. Empat naskah masuk dalam bingkai besar Babad Tanah Jawi satu naskah Babad Selahardi dan satu naskah masuk dalam bingkai Pakem Ringgit. Kelima naskah tidak ada yang ditulis berdiri tunggal tetapi, selalu menyatu dengan cerita genealogi Jawa yang monumental dan dipercaya kebenarannya oleh masyarakat Jawa. Sebagai sarana penataan kultural, cerita SBS dimasukan dalam lingkaran tokoh legenda penguasa Jawa dengan cerita penyerta yang berbeda-beda. Penaklukan dan pendekatan kultural melalui silsilah genealogi menjadi penting dalam cerita babad.
Internalisasi Nilai-Nilai Budi Pekerti dalam Hikayat Nakhoda Asyik Supriadi, Dedi
Manuskripta Vol 12 No 2 (2022): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v12i2.155

Abstract

This article discusses the problems of internalizing moral values ​​in the Malay literary work entitled Hikayat Nakhoda Asyik. As an old literary work, the text written in the Jawi script using the Betawi Malay language and became a guide for the development of character in the past, became the uniqueness and novelty of this literary work. The aim of this research is to portray the internalization of cultural values ​​and moral values in Hikayat Nakhoda Asyik. This study employed a perspective-based philological discourse analysis approach to obtaining a complete description of the texts written in Jawi script using Betawi Malay. The findings show that Hikayat Nakhoda Asyik contains moral values ​which are categorized into three parts, namely characters towards God who is the creator of the universe; second, manners to human beings; and third, manners to the environment. Hence, the duty of human being as a khalīfah fī al-ard (leader on earth) becomes harmonious and mercy to the universe. === Artikel ini membahas masalah internalisasi nilai-nilai budi pekerti dalam karya sastra melayu Hikayat Nakhoda Asyik. Sebagai karya sastra lama, teks manuskrip ini yang ditulis dengan aksara jawi dengan pemakaian bahasa Melayu Betawi ini menjadi pedoman pengembangan budi pekerti di masa lampau, ini kemudian yang menjadi keunikan tersendiri terhadap karya sastra ini. Adapun tujuan penelitian ini yaitu, mendeskripsikan internalisasi nilai budaya dalam Hikayat Nakhoda Asyik dan mendeskripsikan internalisasi nilai-nilai budi pekerti dalam teks. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis teks menggunakan perspektif filologi untuk mendapatkan gambaran secara utuh terhadap isi teks yang ditulis dengan aksara jawi dengan pemakaian bahasa Melayu Betawi. Hasil analisis menunjukkan bahwasanya Hikayat Nakhoda Asyik mengandung nilai-nilai budi pekerti yang dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu budi pekerti kepada Tuhan yang maha pencipta sekalian alam; kedua, budi pekerti kepada sesama manusia; dan ketiga, budi pekerti kepada alam sekitar. Dengan demikian trias panca kehidupan manusia sebagai khalīfah fī al-ard (pemipin di muka bumi) menjadi harmonis dan menjadi rahmat bagi semesta.
Kepekaan Filologis untuk Pengkajian Budaya Arps, Bernard
Manuskripta Vol 10 No 2 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v10i2.158

Abstract

The author argues for the importance of a scholarly attitude and competence he terms philological sensitivity. Philology is usually associated with the study of manuscripts, where it is a sophisticated approach for making sense of texts. It entails a specific focus and mode of understanding. But the significance and utility of philology are not restricted to texts or manuscripts. Its scope is wider. Its approach is grounded in a cultural tendency that lives in society, namely the tendency to experience and try to understand five aspects of a cultural process or object: its artefactuality, apprehensibility, compositionality, contextuality, and historicity. If cultivated to meet the requirements of academic scholarship, this philological sensibility may form a perspective for understanding other kinds of artefacts too – especially if selectively enriched with elements from philological traditions worldwide. The author discusses examples from his own research: a manuscript with the narrative of Amir Hamza in Javanese, religious sermons in Osing on Youtube, and oral critique regarding shadow puppetry. === Penulis mengemukakan pentingnya sebuah sikap dan keterampilan ilmiah yang disebutnya kepekaan filologis. Filologi lazim dihubungkan dengan studi naskah tulisan tangan, di mana filologi merupakan pendekatan canggih untuk mengapresiasi teks. Pendekatan tersebut membawa fokus dan cara pemahaman yang khas. Tetapi makna dan guna filologi tidak terbatas pada teks, apalagi naskah. Jangkauannya lebih luas. Pendekatan yang telah dikembangkan dalam rangka filologi teks itu berdasarkan kecenderungan kultural yang hidup di masyarakat, yaitu kecenderungan untuk menghayati dan memahami lima aspek dari sebuah proses atau benda budaya: keterbuatan, ketercerapan, ketersusunan, kontekstualitas dan kesejarahannya. Jika dipupuk sehingga memenuhi syarat ilmu pengetahuan, sensibilitas filologis tersebut bisa menjadi wawasan yang andal untuk pemahaman artefak budaya lain pula – apalagi kalau wawasan tersebut diperkaya dengan menyerap unsur-unsur terpilih dari tradisi filologi seantero dunia. Penulis mengutip contoh dari penelitiannya sendiri: naskah berisi ceritera Amir Hamzah berbahasa Jawa, ceramah agama Islam berbahasa Osing di Youtube, dan kritik lisan atas pertunjukan wayang.
Sanksi Pidana dalam Teks Naskah Undang-Undang Hukum Laut Mahardhika, Kholifatu Nurlaili; Kramadibrata, Dewaki
Manuskripta Vol 10 No 2 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v10i2.159

Abstract

This article explains how to apply criminal sanctions in the text of the Undang-Undang Hukum Laut (UUHL). This study aims to explain the form of regulations contained in the UUHL by looking at the criminal sanctions applied. In addition, this research is expected to provide benefits to overcome marine problems faced today. The research was conducted by means of philology. The analysis is carried out with a legal law approach to see the criminal sanctions contained in the UUHL. Based on the analysis that has been done, it can be seen that in the UUHL that the criminal sanctions imposed on people on board vary not only depending on the type of crime, but also on the subject of criminal law. The application of the UUHL law has certain stratifications. For the same crime, criminal offenders of different positions can receive different sentences. This shows that when the UUHL was implemented, there was no principle of equality of rights in effect. === Artikel ini menjelaskan bagaimana penerapan sanksi pidana dalam naskah Undang-Undang Hukum Laut (UUHL). Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk peraturan yang terkandung dalam UUHL dengan melihat sanksi pidana yang diterapkan. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk mengatasi masalah kelautan yang dihadapi pada masa kini. Penelitian dilakukan dengan cara kerja filologi. Analisis dilakukan dengan pendekatan hukum untuk melihat sanksi pidana yang terdapat dalam UUHL. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, terlihat bahwa dalam UUHL, sanksi pidana yang dijatuhkan untuk orang-orang di atas kapal berbeda-beda tidak hanya bergantung kepada jenis pidana, tetapi juga kepada subjek hukum pidana. Penerapan hukum UUHL memiliki stratifikasi tertentu. Atas tindak pidana yang sama, pelaku pidana yang berbeda jabatannya dapat menerima hukuman yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa pada saat UUHL diterapkan, tidak ada azas kesamaan atas hak yang berlaku.
Keindahan dalam Hikayat Sultan Taburat Hidayah, Adilah Nurul
Manuskripta Vol 10 No 2 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v10i2.160

Abstract

Hikayat Sultan Taburat written by Muhammad Bakir. It is one of adventure stories which is also included in the type of solace tale. This research used transliteration of Hikayat Sultan Taburat ML 259 version from Rias Anto Suharjo in 2019. It has a dominant aesthetic elements and function in it. Malay aesthetic theory by Bragunsky used to be able to reveal those purpose. The various elements of external aesthetic in Hikayat Sultan Taburat could be identified through the description of the beauty of clothing, the charm of the princess, garden, music, reception, warfare, ship, and the crowds of the country. The function of external aesthetic in Hikayat Sultan Taburat is to entertain the reader. === Hikayat Sultan Taburat merupakan hikayat karangan Muhammad Bakir. Hikayat ini merupakan salah satu cerita petualangan yang juga termasuk dalam jenis cerita pelipur lara. Penelitian ini memakai transliterasi Hikayat Sultan Taburat versi ML 259 oleh Rias Anto Suharjo pada tahun 2019. Hikayat Sultan Taburat memiliki unsur dan fungsi keindahan yang dominan di dalamnya. Teori estetika Melayu oleh Braginsky dipakai untuk dapat mengungkapkan keduanya. Berbagai unsur keindahan dapat ditemukan melalui penggambaran keindahan pakaian, pesona tuan putri, taman, musik, periringan, peperangan, kapal, dan keramaian negeri. Fungsi keindahan dalam Hikayat Sultan Taburat berfungsi sebagai pelipur lara bagi pembacanya.
Paheman Radyapustaka sebagai Skriptorium Alhamami, Ahmad Alfan Rizka
Manuskripta Vol 10 No 2 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v10i2.161

Abstract

Since its establishment on October 28, 1890, Paheman Radyapustaka has only been known for its function as a museum. The main activity of Paheman Radyapustaka is as a place for writing, copying, and collecting Surakarta manuscripts, so that Paheman Radyapustaka deserves to be called a Scriptorium. This paper aims to reveal the production activities of the Paheman Radyapustaka scriptorium which includes the writers/copyists, the writing results, and the genre. The method in this paper is a method of codicological studies that includes history, writers/copyists, and scriptorium collections. The results of the search through the archives and manuscript colophon of the Paheman Radyapustaka scriptorium were that of the 400 manuscripts in his collection, there were 82 manuscripts written by the Scripts of the Scriptures. The scribes of the Paheman Radyapustaka Scriptorium were Wirapustaka, Sastrasayana, Dayapangreka, Karyarujita and the residents. The genres written by the scribes of the Paheman Radyapustaka scriptorium are macapat and gancaran. === Sejak berdiri pada 28 Oktober 1890, Paheman Radyapustaka hanya dikenal fungsinya sebagai sebuah museum. Aktivitas utama dari Paheman Radyapustaka adalah sebagai tempat penulisan, penyalinan, dan pengoleksian naskah-naskah Surakarta sehingga Paheman Radyapustaka pantas disebut sebagai Skriptorium. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap aktivitas produksi naskah Skriptorium Paheman Radyapustaka yang meliputi para penulis/penyalin, hasil penulisan, dan genrenya. Metode dalam tulisan ini adalah metode kajian kodikologi yang mencakup sejarah, penulis/penyalin, dan koleksi skriptorium. Hasil penelusuran melalui arsip dan kolofon naskah Skriptorium Paheman Radyapustaka adalah dari 400 naskah koleksinya terdapat 82 naskah yang ditulis oleh para juru tulis Skriptorium. Para juru tulis Skriptorium Paheman Radyapustaka adalah Wirapustaka, Sastrasayana, Dayapangreka, Karyarujita dan para warga. Genre yang ditulis oleh para juru tulis Skriptorium Paheman Radyapustaka adalah macapat dan gancaran.
Analisis Nilai Karakter dalam Naskah Wawacan Samun Dewi, Trie Utari; Hidayatullah, Syarif; Puspitasari, Nur Aini
Manuskripta Vol 10 No 2 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v10i2.162

Abstract

This article discusses the character values contained in the Wawacan Samun (WS). The Wawacan Samun manuscript tells about the journey of the Gnadasari character in trying to be able to meet his brother again, Gandawerdaya. On that journey there were obstacles that he faced. however, he managed to face all these obstacles thanks to the good qualities he had and the kindness of other characters. Therefore, the character and attitude of the characters in the WS text need to be emulated by the wider community. For this reason, the purpose of this study is to reveal the character values ​​contained in the Wawacan Samun manuscript so that it can be used as a guide for life for the nation's future generations. The character values ​​contained in the Wawacan Samun manuscript include 1) Responsible; 2) Trustworthy and Honest; 3) Respect and Courtesy; 4) Compassion, Caring, and Cooperation; 5) Confident, Creative, Hard Work, and Never Give Up; 6) Fairness and Leadership; 7) Kind and Humble; and 8) Tolerant. === Artikel ini mendiskusikan nilai-nilai karakter yang terkandung dalam naskah Wawacan Samun (WS). Naskah ini menceritakan tentang perjalanan tokoh Gandasari dalam berupaya untuk dapat bertemu dengan kakaknya kembali, Gandawerdaya. Dalam perjalanan tersebut terdapat halang rintangan yang ia hadapi. Akan tetapi, semua rintangan tersebut berhasil ia hadapi berkat sifat baik yang ia miliki serta kebaikan dari tokoh-tokoh lainnya. Oleh karena itu, sifat dan sikap baik yang terdapat pada para tokoh dalam naskah WS perlu untuk diteladani oleh masyarakat luas. Untuk itu, tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengungkap nilai karakter yang terdapat di dalam naskah WS agar dapat dijadikan pedoman kehidupan bagi generasi penerus bangsa. Nilai karakter yang terdapat dalam naskah Wawacan Samun antara lain adalah 1) Bertanggung Jawab; 2) Amanah dan Jujur; 3) Hormat dan Santun; 4) Kasih Sayang, Peduli, dan Kerjasama; 5) Percaya Diri, Kreatif, Kerja Keras, dan Pantang Menyerah; 6) Adil dan Kepemimpinan; 7) Baik dan Rendah Hati; serta 8) Toleran.
Citra Kepemimpinan Wanita dalam Naskah Hikayat Pandu dan Naskah Dewi Maleka: Kajian Sastra Bandingan Apriyadi, Clara Shinta Anindita
Manuskripta Vol 10 No 2 (2020): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33656/manuskripta.v10i2.163

Abstract

This article explains the image of female leadership in the Hikayat Pandu and Dewi Maleka. The value of leadership or the image of leadership that serves as the basis of classification is Astabrata teaching. The aim of this research is to compare the leadership image of the female leaders from the Hikayat Pandu, the goddess Rara Amis and the female leaders of the Dewi Maleka. The research method used is descriptive analysis method and the theory used is comparative literature theory. This research resulted in a comparison of leadership imagery between female leader figures derived from the Malay version and Javanese version. It can therefore be concluded that there are similarities and differences in the image of female leadership between Dewi Rara Amis and Dewi Maleka. Similarities and differences, namely Dewi Maleka has 8 classifications in astabrata, while Dewi Rara Amis only has five classifications in Astabrata as follows: ambeging surya, ambeging rembulan, ambeging angin, ambeging banyu, and ambeging bumi. === Tulisan ini membahas citra kepemimpinan yang terkandung dalam Hikayat Pandu dan naskah Dewi Maleka. Nilai kepemimpinan atau citra kepemimpinan yang dijadikan landasan sebagai dasar klasifikasi yaitu ajaran astabrata. Tujuan penelitian ini adalah melakukan perbandingan citra kepemimpinan tokoh pemimpin wanita dari naskah Hikayat Pandu yaitu tokoh Dewi Rara Amis dan pemimpin wanita dari naskah Dewi Maleka yaitu tokoh Dewi Maleka. Metode penelitian yang digunakan ialah metode deskriptif analisis dan teori yang digunakan ialah teori sastra bandingan. Penelitian ini menghasilkan perbandingan citra kepemimpinan antara tokoh pemimpin wanita yang berasal dari naskah versi Melayu dan naskah versi Jawa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat persamaan dan perbedaan citra kepemimpinan wanita antara Dewi Rara Amis dan Dewi Maleka. Persamaan dan perbedaannya, yaitu Dewi Maleka memiliki delapan klasifikasi dalam astabrata, sedangkan Dewi Rara Amis hanya memiliki lima klasifikasi dalam Astabrata antara lain ambeging surya, ambeging rembulan, ambeging angin, ambeging banyu, dan ambeging bumi.

Page 11 of 12 | Total Record : 115