cover
Contact Name
Kusroni
Contact Email
Jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Phone
+628563459899
Journal Mail Official
jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kedinding Lor 30 Surabaya 60129
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal KACA
ISSN : 23525890     EISSN : 25976664     DOI : https://doi.org/10.36781
KACA (Karunia Cahaya Allah) : Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin diterbitkan oleh Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya. Jurnal ini memuat kajian-kajian keislaman yang meliputi Tafsir, Hadis, Tasawuf, Pemikiran Islam, dan kajian Islam lainnya. Terbit dua kali setahun, yaitu bulan Februari-Agustus. Redaksi mengundang para akademisi, dosen, maupun peneliti untuk berkontribusi memasukkan artikel ilmiahnya yang belum pernah diterbitkan oleh jurnal lain. Naskah diketik dengan spasi 1 (satu) spasi pada kertas ukuran B5 dengan panjang tulisan antara 15-25 halaman, 5000-7000 kata. Naskah yang masuk dievaluasi oleh dewan redaksi. Redaktur dapat melakukan perubahan pada tulisan yang dimuat untuk keseragaman format, tanpa mengubah substansinya.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 135 Documents
Di Antara Wahyu dan Algoritma: Teologi Islam di Era Kecerdasan Buatan Irvan Tri Ardiyanto
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v16i2.1369

Abstract

Perkembangan Artificial Intelligence telah menghadirkan transformasi besar dalam struktur pengetahuan, pola keberagamaan, dan orientasi peradaban manusia modern. Dominasi algoritma digital tidak hanya memengaruhi cara manusia mengakses informasi, melainkan juga membentuk kesadaran epistemologis, otoritas religius, serta relasi manusia dengan dimensi spiritualitas. Artikel ini bertujuan menganalisis relasi antara wahyu, akal, dan kecerdasan buatan dalam perspektif Islamic Theology dan Islamic Philosophy, sekaligus mengkaji tantangan teologi Islam di tengah masyarakat algoritmik kontemporer. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) yang dipadukan dengan analisis filosofis-kritis dan pendekatan hermeneutik konseptual. Data penelitian diperoleh dari literatur filsafat Islam klasik, teori AI kontemporer, kajian agama digital, serta jurnal internasional bereputasi yang relevan dengan tema penelitian. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan AI telah melahirkan pergeseran epistemologis dari otoritas pengetahuan berbasis refleksi menuju struktur algoritmik yang menekankan efisiensi, kalkulasi data, dan percepatan informasi. Situasi tersebut memunculkan problem serius bagi epistemologi Islam karena wahyu sebagai sumber pengetahuan transenden berhadapan dengan dominasi rasionalitas digital modern. Penelitian ini juga menemukan AI tidak dapat disamakan dengan kesadaran manusia karena mesin hanya bekerja melalui simulasi komputasional tanpa dimensi ruhani, moral, dan eksistensial sebagaimana manusia dalam perspektif filsafat Islam. Selain itu, media digital berbasis algoritma telah melahirkan transformasi otoritas keagamaan yang bersifat cair, terfragmentasi, dan rentan terhadap komodifikasi agama serta polarisasi pemahaman religius. Dalam konteks tersebut, rekonstruksi teologi Islam menjadi penting untuk membangun paradigma epistemologis yang mampu mengintegrasikan perkembangan teknologi dengan nilai-nilai spiritual, etika, dan kemanusiaan. Artikel ini berkontribusi pada pengembangan kajian teologi Islam kontemporer dengan menawarkan pembacaan filosofis mengenai relasi wahyu dan algoritma di era kecerdasan buatan. Kajian ini juga memperlihatkan relevansi epistemologi Islam sebagai kritik terhadap absolutisasi teknologi dan krisis spiritual dalam masyarakat digital modern.
Interpretasi Ayat-Ayat Huzn dalam Al-Qur’an dengan Pendekatan Munasabah Makna Ahmad Fauzan Yafi; Mohammad Izdiyan Muttaqin
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v16i2.1410

Abstract

Al-Qur’an tidak hanya membahas aspek hukum dan akidah saja, tetapi juga memberikan perhatian terhadap kondisi emosi manusia, salah satunya adalah emosi sedih (huzn). Dengan menggunakan salah satu metode dalam Ilmu Tafsir yaitu munasabah penelitian ini akan melihat bagaimana sedih dijelaskan dalam al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan munasabah makna yang memiliki empat langkah operasional: pertama mengungkap tema dari ayat utama, kedua mencari ayat-ayat pendukung, ketiga mendialogkan antara ayat utama dan ayat pendukung, keempat merumuskan kesimpulan. Ayat utama yang dipilih adalah Ali Imran ayat 139, sedangkan ayat pendukung adalah QS. Al-Tawbah: 40 dan QS. Yunus: 62-63. Hasil temuan berdasarkan pembacaan data tekstual terhadap Tafsir Ringkas, Tafsir Al-Azhar, dan Tafsir Al-Mishbah. Dalam QS. Ali Imran: 139, huzn (kesedihan) bisa berasal dari ujian yang ditimpakan kepada manusia berupa kekalahan perang. Sedangkan dalam QS. Al-Tawbah: 40 dan QS. Yunus: 62-63, salah satu sifat orang saleh adalah tidak dikuasai kesedihan yang terlalu. Berdasarkan hasil penelitian, makna kata sedih dalam al-Qur’an adalah kegelisahan batin manusia yang berkaitan dengan hal negatif yang dialami atau pernah terjadi. Emosi sedih merupakan fitrah manusia namun manusia dihimbau untuk mengaturnya dengan baik agar tidak menghambat atau melemahkan orang yang mengalaminya.
Wawasan Al-Qur’an tentang Perempuan Berkarir: Kajian Hermeneutika Paul Ricoeur atas QS. Al-Ahzab:33 Muhammad Falihul Anam
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v16i2.1414

Abstract

Penafsiran QS. Al-Ahzab: 33 sering dipahami secara tekstual, yang menyebabkan pembatasan peran perempuan di ranah publik. Hal ini mencerminkan kesenjangan antara makna literal teks dan dinamika sosial kontemporer. Studi ini bertujuan untuk menafsirkan kembali ayat tersebut menggunakan pendekatan hermeneutika Paul Ricoeur, khususnya konsep dekontekstualisasi dan rekontekstualisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian kepustakaan dan analisis deskriptif-analitis terhadap literatur tafsir dan hermeneutika. Temuan menunjukkan bahwa, dalam bentuk dekontekstualisasinya, ayat tersebut memiliki konteks sosial-historis masyarakat Arab patriarkal dan secara khusus ditujukan kepada istri-istri Nabi. Namun, melalui rekontekstualisasi, maknanya tidak dapat dibatasi pada pemahaman literal tetapi harus mempertimbangkan transformasi sosial kontemporer. Studi ini menyimpulkan bahwa pembatasan perempuan untuk meninggalkan rumah bukanlah prinsip universal tetapi prinsip kontekstual. Oleh karena itu, perempuan diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik selama nilai-nilai etika Islam dijunjung tinggi. Studi ini menyoroti pentingnya hermeneutika dalam menghasilkan interpretasi Al-Qur'an yang kontekstual dan relevan.
Karakteristik Psikologis Manusia dalam Al-Qur’an: Analisis Semantik Penafsiran Al-Alusi terhadap QS. Al-Ma’arij: 19-35 Imelda Wati; Ahmad Isnaeni; Masruchin Masruchin
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v16i2.1429

Abstract

Penelitian ini mengkaji karakteristik psikologis manusia yang terdapat dalam QS. Al-Maʿārij ayat 19-35 merujuk pada Tafsir Ruh al-Maʿānī dengan menggunakan pendekatan analisis semantik Toshihiko Izutsu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis library research dan metode deskriptif analitis. Sumber data primer adalah Kitab Ruh al-Ma'ānī dan teks QS. Al-Ma'ārij ayat 19-35, sedangkan sumber data sekunder meliputi kamus Arab klasik dan jurnal akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan dua temuan utama. Pertama, QS. Al-Ma'ārij ayat 19-35 memuat dua kelompok karakteristik psikologis manusia yang mencakup tiga sifat negatif bawaan yaitu halū’a, jazū’a, dan manū’a ang menurut Al-Ālūsī bersumber dari keterasingan jiwa dari Allah (al-ghurbah al-ruhiyyah) dan tujuh sifat positif sebagai sistem terapi psikospiritual yang holistik mencakup dawām al-salāh, haqq ma'lūm, tasdīq yawm al-dīn, khawf min 'adhāb Allāh, hifz al-farj, ri'āyat al-amānah wa al-'ahd, serta hifz al-salāh. Kedua, analisis semantik mengungkap bahwa halū’a, jazū’a, dan manū’a merupakan bentuk mubālaghah dengan intensitas psikologis tertinggi. Weltanschauung Al-Qur'an merumuskan bahwa manusia rapuh secara fitrah, namun dapat disempurnakan secara spiritual melalui sistem terapi yang holistik, spiritual, sosial, dan moral sekaligus. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan integrasi tafsir ishāri dengan analisis semantik untuk mengungkap dimensi psikologis dalam Al-Qur’an.
Formulasi Etika Penyampaian Informasi Digital dalam Al-Qur’an: Analisis Tafsir Maqasidi Zainal Fahmi; Ahmad Saddad
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v16i2.1473

Abstract

Maraknya penyebaran hoaks, disinformasi, dan konten bermasalah di ruang digital merupakan persoalan sosial yang terus berkembang dan menimbulkan dampak serius bagi kehidupan individu, masyarakat, maupun stabilitas negara. Fenomena ini menunjukkan pentingnya meninjau kembali pemaknaan etika penyampaian informasi sebagaimana terkandung dalam Al-Qur’an, yang seringkali baru dipahami secara normatif dan tekstual sehingga nilai serta orientasi tujuannya belum tergali secara komprehensif. Artikel ini menggunakan pendekatan Tafsir Maqasidi untuk mengkaji penafsiran QS. Al-Hujurat: 6, QS. Al-Isra’: 36, QS. Al-Nisa’: 83, dan QS. Al-Ahzab: 70 serta merumuskan formulasi etika penyampaian informasi digital berdasarkan nilai-nilai maqāṣidī. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif jenis library research dengan teknik analisis deskriptif analitis berbasis kerangka Tafsīr Maqāṣidī Abdul Mustaqim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat ayat membentuk satu kerangka etis yang saling melengkapi dan bekerja sinergis merespons proses penyampaian informasi digital: QS. Al-Hujurat: 6 dan QS. Al-Isra’: 36 meletakkan landasan normatif pada tahap penerimaan dan pengolahan informasi melalui kewajiban tabayyun dan penggunaan instrumen epistemik secara bertanggung jawab; QS. Al-Nisa’: 83 menekankan urgensi merujuk informasi sensitif kepada ulil amri sebelum disebarluaskan; sementara QS. Al-Ahzab: 70 mengatur tahap penyampaian melalui prinsip qawlan sadīdan. Melalui analisis maqasid al-shari’ah dan maqasid al-Qur’an, penelitian ini merumuskan lima prinsip operasional etika penyampaian informasi digital: verifikasi informasi, membangun informasi berdasarkan fakta, merujuk kepada ahli ilmu, penyampaian yang bermartabat, dan pertanggungjawaban atas informasi yang disebarkan.