cover
Contact Name
Kusroni
Contact Email
Jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Phone
+628563459899
Journal Mail Official
jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kedinding Lor 30 Surabaya 60129
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal KACA
ISSN : 23525890     EISSN : 25976664     DOI : https://doi.org/10.36781
KACA (Karunia Cahaya Allah) : Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin diterbitkan oleh Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya. Jurnal ini memuat kajian-kajian keislaman yang meliputi Tafsir, Hadis, Tasawuf, Pemikiran Islam, dan kajian Islam lainnya. Terbit dua kali setahun, yaitu bulan Februari-Agustus. Redaksi mengundang para akademisi, dosen, maupun peneliti untuk berkontribusi memasukkan artikel ilmiahnya yang belum pernah diterbitkan oleh jurnal lain. Naskah diketik dengan spasi 1 (satu) spasi pada kertas ukuran B5 dengan panjang tulisan antara 15-25 halaman, 5000-7000 kata. Naskah yang masuk dievaluasi oleh dewan redaksi. Redaktur dapat melakukan perubahan pada tulisan yang dimuat untuk keseragaman format, tanpa mengubah substansinya.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 115 Documents
Sekilas Membandingkan Sunan Abu Dawud dan Turmudzi Mohamad Anas
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 7 No. 1 (2017): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v7i1.307

Abstract

Pengumpulan hadith pada masa awal ini masih sangat sederhana dan terus berkembang hingga sampai pada masa para ulama hadith seperti Imam Malik, Ahmad ibn Hambal, al-Bukhari, Muslim dan lainnya. Ketika masa ini, pengumpulan dan penulisan hadith sudah tertata dan tersusun secara sistematis dan terorganisir secara baik. Setelah Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, kini giliran Imam Abu Dawud dan juga al Tirmidzi, yang juga merupakan ahli hadis dan penghimpun hadis yang terkenal dan masuk dalam kategori kutub al-sittah. Dikenal dalam masyarakat awam khusunya umat Islam dengan nama kitab sunan. Sebagai ringkasan informasi awal bahwa kitab sunan adalah kitab yang disusun berdasarkan bab-bab hukum seperti taharah, salat, zakat yang bersumber dari Nabi Muhammad saw, sedangkan pendapat para sahabat tidak disebutkan didalamnya. Maka dalam karya ini penulis akan memaparkan tentang Sunan Abu Daud dan Al-Turmudzi serta karya-karyanya, sistematika penulisan dan kandungan sunannya, penilaian dan komentar ulama dan pakar, serta kitab-kitab syarahnya. Agar dapat membanding dua nama sunan yang sama baik sisi kelebihan atau kekurangannya.
Konstruksi Epistemologi Islam Kontemporer: Telaah Atas Kritik Nalar Arab Muhammad Abed Al-Jabiri Bahrur Rozi
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 8 No. 1 (2018): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v8i1.308

Abstract

Sejarah merupakan peristiwa yang benar-benar mengikuti keberadaan manusi, yang tidak akan bisa lepas dari manusia itu sendiri. Para sejarawan bahkan tokoh-tokoh yang mewarnai sejarah pun bermunculan seperti Ibn Khaldun pada decade awal yang menawarkan "Determinasi Sosial" dan "Materialisme Historis". Kemudian menjamur di abad ke 20 semisal Muhammad Arkoun, Hasan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zayd, Bassam Tibi dan juga al Jabiri. Al jabiri yang bernama lengkap Muhammad Abid al Jabiri bisa dikatakah salah satu ilmuwan Muslim yang berani memadukan konsep barat dan timur. Dia, Muhammad Abid al-Jabiri, juga salah seorang pemikir asal Maroko adalah sekian dari pemikir muslim kontemporer yang memiliki kepedulian terhadap problem tradisi (termasuk problematika Islam) dan modernitas ini, Dia dikenal dengan proyek "Kritik Nalar Arab" (Naqd al-'Aql al-'Arab) dalam membangun tradisi kritik pada pemikiran Arab-Islam. Pemikiran pembaharuan Abid al-Jabiri yang ditawarkan mempunyai sisi unik yang terletak pada kritik epistemologi yang dilakukan terhadap bangunan keilmuan yang berkembang di tengah peradaban Arab-Islam. Kritik epistemologi menjadi sebuah ranah ilmu pengetahuan yang tidak banyak diperhatikan oleh pemikir muslim khususnya. Tulisan kali ini akan menelusuri inti pemikiran al-Jabiri sebenarnya dapat dimulai pada buku pertama dan kedua dari triloginya mengenai tiga kerangka umum sistem epistemologi yang dominan dalam pemikiran Arab Islam, yaitu nalar tekstual (bayani), nalar gnosis (‘irfani), dan demonstratif (burhani). Oleh al-Jabiri ketiga mainstream nalar ini dicakupkan pada berbagai pemikiran yang hidup dalam ranah kebudayaan Islam seperti fikih, teologi, filsafat, dan tasawuf.
Kritik Al-Qur’an Terhadap Tradisi Mahar: Analisis Penafsiran QS. Al-Nisa’ Ayat 4 Khotibi, Diana
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i1.348

Abstract

Al-Qur’an turun bersinggungan langsung dengan persoalan masyarakat dengan berbagai problem sehingga Al-Qur’an berpengaruh besar terhadap terjadinya perubahan terhadap masyarakat Arab. Salah satunya mengkritik budaya dan tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam, misalnya tentang mahar. Oleh karena itu tulisan ini akan mengulas bagaimana kritik Al-Qur’an terhadap mahar yang akan dilacak melalui asbab nuzul ayat, dan berbagai macam penafsiran tentang mahar. Hasil dari penelitian ini menunjukkan mahar merupakan sebuah kewajiban bagi orang yang ingin melakukan pernikahan. Jumlah serta cara merealisasikan mahar tersebut umumnya berbeda-berbeda serta diwajibkan adanya kerelaan hati istri bagi suami yang ingin menggunakan mahar.
The Conception of Rahmah li al-‘Ālamīn through Integration Both Fiqh and Sufism Anshori, Ma'sum; Hayat, Teten Jalaludin
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i1.361

Abstract

Since the beginning, Islam has promised universal and global goodness (raḣmah li al-‘ālamīn). It's just that in reality the goodness was still particular and local. This imbalance is caused by an unequal understanding between the dimensions of exoteric fiqh (body) and esoteric sufism (mind) which represents the human condition which consists of body and mind. Thus, this research is aimed at explaining the universality of Islam for global goodness through integration between both dimensions. This research is a library research. The method used is the thematic method, to explore and confirm a theory to its deepest intent. The analytical tool used for this purpose is content analysis. The results of the analysis show that the fiqh-exoteric dimension will produce physical goodness (maqāṣid al-sharī’ah), and the sufism-esoteric dimension will produce spiritual goodness (maqasid al-ṣūfiyyah), so that with the integration of the two, the goal of Islamic universality (maqasid al-dīniyyah) will be born.
Dimensi Sufistik dalam Penafsiran Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki: Telaah Atas Kitab Muhammad Al-Insan Al-Kamil Kusroni, Kusroni; Majid, Abdul Hamid; Aida, Siti
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i1.378

Abstract

Penafsiran Al-Qur’an dengan pendekatan sufistik saat ini semakin banyak dilirik oleh para peneliti tafsir Al-Qur’an. Meskipun di awal kemunculannya menuai pro dan kontra, akan tetapi pada perkembangannya, tafsir sufistik semakin populer dan bisa diterima di hampir semua kalangan. Penelitian ini berupaya menguak dimensi sufistik dalam penafsiran Sayyid Muhammad Al-Maliki atas ayat-ayat al-Qur’an dalam karyanya berjudul Al-Insan Al-Kamil. Penelitian ini merumuskan dua pertanyaan yaitu, 1) Bagaimana dimensi sufistik dalam penafsiran Sayyid Muhammad Al-Maliki? 2) Bagaimana kontribusi pemikrian Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam bidang tafsir Al-Qur’an? Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan berbasis pada data kepustakaan. Pendekatan historis-filosofis digunakan untuk untuk memotret horizon-horizon yang mewarnai dan mempengaruhi pemikiran tafsir Al-Maliki.  Penelitian ini menemukan bahwa, 1) Penafsiran Al-Maliki banyak memiliki dimensi sufistik. Selain mengemukakan pendapatnya sendiri, Al-Maliki juga mengutip beberapa ulama sufi, antara lain, Al-Qushairi, Al-Junaid, Abu Al-Hasan Al-Shadhili, dan Ibnu Ata’illah Al-Sakandari. 2) Kontribusi Al-Maliki dalam bidang tafsir Al-Qur’an adalah pentingnya pembacaan kritis atas tradisi penafsiran, dan pentingnya pendekatan sufistik dalam memberikan alternatif pemaknaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, yang jika dibaca secara tekstual justru memunculkan kesimpulan yang menciderai nilai-nilai transenden dalam Islam.
Walimah dalam Perspektif Hadis: Telaah Kritis Hadis Koleksi Abu Dawud Nomor Indeks: 3742 Anas, Mohamad
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i1.416

Abstract

Bentuk syukur yang diekspresikan oleh manusia akan berbeda-beda dengan berbagai kenikmatan yang diperolehnya, ada yang hanya mengucapkan hamdalah, ada yang bereksperi dengan sujud syukur, ada juga berbentuk “syukuran” acara makan-makan. Ditemukan pada kalangan masyarakat sekitar mengadakan “syukuran” identik dengan jamuan makanan, acara makan-makan dalam rangka bersyukur ini dikenal dengan nama acara walimah, prakteknya terkadang menyelengaran dengan besar-besaran, menyelengaran dengan glamor bahkan mengundang dengan jumlah kuantitas di atas rata-rata. Kiranya dipandang perlu ketika praktik pada masyarakat ditinjau ulang dengan merujuk pada praktek keagamaan, praktek rasul dan sahabatnya dalam rangka acara walimah, oleh sebab itu telaah kritis akan hadis walimah dilakukan oleh peneliti agar dapat memahami secara update pada saat Rasul dan sahabatnya dengan masyarakat kekiniaan, menjawab permasalahan tersebut yang diteliti dalam penelitian ini adalah, 1) Bagaimana nilai hadis tentang makanan walimah dalam sunan Abu Dawud 2) Bagaimana sikap yang dianjurkan oleh Nabi dalam menyikapi undangan walimah. Penelitian ini berbasis data kepustakaan dengan meneliti kualitas data yang ada serta melakukan pendekatan historis untuk melihat variabel terkait yang mewarnai dan mempegaruhi pemaknaan hadis dengan mengkaitkan kontekstualitas masyarakat saat ini. Peneliti menemukan, 1) Hadis yang mula-mula berstatus mursal sahabi, menjadi marfu' dengan ditemukan mutabi' lain dari jalur Muslim sehingga dapat diberlakukan setara dengan hadis marfu' itu sendiri, sedangkan kualitas sanadnya berstatus sahih. Kandungan matan tidak ditemukan unsur shad dan 'illat, sehingga hadisnya tetap berkualitas sahih dan dapat dipakai sebagai hujjah. Kondisi sanad dan matan yang sahih menunjukkan keberadaan hadis ini maqbul sebagai hujjah dan ma'mulun bihi. 2) Ketika mengadakan acara walimah disesuaikan dengan kondisi penyelenggara walimah, sebagai penghapus sikap diskriminatif antar golongan berada dengan golongan tidak ada, ta'aruf (saling kenal) antar warga sehingga interaksi sosial semakin solid, mempererat tali silaturrahim atau kerukunan bertetangga yang akhirnya menunjukkan tumbuh berkembangnya kekuatan sosial islami dan stabilitas sosial antar keluarga, warga dan teman seprofesi tetap terjaga.
Mistik Kejawen dalam Dunia Digital: Intrepretasi atas Ajaran Kejawen di Channel Youtube Ngaji Roso Muzayyanah Mutashim Hasan; Wildan Taufiqur Rahman; Yoga Irama; Iqbal Hamdan Habibi
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 2 (2023): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i2.447

Abstract

Artikel tentang mistik kejawen ini muncul atas keresahan peneliti dalam pengamatan budaya dan perkembangannya di dunia digital. Satu sisi mistik kejawen masih dianggap satu hal yang eksklusif namun disisi lain banyak dijumpai media sosial seperti akun Youtube yang menyajikan mistik kejawen sebagai kontennya. Penelitian ini mengeksplorasi peran akun Youtube “Ngaji Roso” dalam penciptaan mistik kejawen dalam dunia digital. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana esensi dari mistik kejawen jika disandingkan dengan sufisme. Penelitian ini juga ingin memetakan bagaimana perkembangan dunia digital dalam membentuk wajah baru dari mistik kejawen itu sendiri yang ditinjau dari teori teologi digital. Penelitian ini masuk dalam kategori penelitian kualitatif dengan sumber data berupa konten dari akun Youtube “Ngaji Roso”. Selain itu sebagai data pendukung dalam penelitian ini adalah buku, jurnal dan karya ilmiah lainnya yang masih ada kaitannya dengan topik pembahasan. Data yang terkumpul dianalisis dengan pendekatan content analysis. Kesimpulan dari hasil analisis data antara lain: (1) mistik kejawen dan sufisme memiliki keterkaitan yang cukup kuat dengan dibuktikan antara beberapa ajarannya seperti penyatuan makhluk dan pencipta, (2) perkembangan media sosial (Youtube) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perwajahan mistik kejawen khususnya pada dunia digital, (3) dalam pandangan Teologi Digital pembahasan mistik kejawen bertransformasi menjadi dialektika komprehensif di tengah masyarakat yang cenderung berujung dalam bentuk yang lebih kontemporer.
Konsep Waḥdat Al-Wujūd dalam Tasawuf Sunan Bonang Metsra Wirman
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 2 (2023): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i2.464

Abstract

Artikel ini merupakan pembahasan tentang gagasan Waḥdat al-Wujūd dari Sunan Bonang, yang merupakan salah satu ulama terkemuka yang dikenal sebagai Wali Songo. Terdapat perbedaan kesimpulan dalam kajian sarjana Orientalis dan sarjana Indonesia terdahulu tentang sejarah Sunan Bonang dan ajarannya, dikarenakan sumber rujukan disisipi mitos, legenda, yang kebenaran ceritanya senantiasa samar. Pemikiran dan ajarannya tentang tasawuf disajikan melalui simbol-simbol budaya, seperti karakter, sangkar, burung, topeng, wayang, cermin, dan bayangan yang dapat menimbulkan berbagai penafsiran yang rancu. Oleh karena itu, gagasan Sunan Bonang dan Wali Songo masih disalahpahami oleh kebanyakan para sarjana sebagai “Manunggaling Kawula Gusti”, sebuah konsep yang erat kaitannya dengan gagasan pantheisme dan monisme. Dalam kajian ini jelas, bahwa pemikiran tasawuf Sunan Bonang adalah yang paling otoritatif dari Sunan Bonang tentang Wahdat al-Wujud benar-benar mencerminkan ajaran tasawuf Wali Songo di Jawa. Wahdat al-Wujud yang dipahami dan diajarkan oleh Sunan Bonang adalah berbeda dengan ajaran Manunggaling Kawula Gusti, yakni bersatunya hamba dengan Tuhan (al-Ittihad wa al-Hulul) yang menjadi pemahaman ajaran tasawuf yang keliru. Kajian ini menggunakan metode kajian kepustakaan yang merangkumi metode pengumpulan data dan analisa semantik (Semantic content Analysis). Diharapkan kajian ini dapat menggambarkan ajaran yang benar dari Sunan Bonang pada khususnya dan Wali Songo pada umumnya, dengan maksud untuk melindunginya dari miskonsepsi para esoteris (ahli Kebatinan).
Perbedaan Pendapat KH. Hasyim Asy’ari dan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Tentang Sarekat Islam: Analisis Kitab Kafful Awwam dan Tanbihul Anam Viki Junianto; Iqbal Nursyahbani; Falich Haidar Al-Habsy
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 2 (2023): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i2.465

Abstract

Sarekat Islam (SI) merupakan gerakan politik dan sosial yang berdiri pada awal abad ke-20 dan berkembang sangat pesat. Namun dibalik kebesaran nama SI, terdapat pro-kontra yang ikut menyelimutinya. Di antaranya adalah silang pendapat antara KH. Hasyim Asyari dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dalam memandang organisasi ini. Silang pendapat antara dua tokoh ini tentunya sangat penting dan wajib untuk diungkapkan. Hal ini bertujuan agar informasi yang sampai kepada masyarakat tidak terkesan sepihak dan hanya berisi menjelekkan atau sebaliknya. Juga untuk menunjukkan kepada khalayak akan besarnya peran para ulama dalam melayani umatnya dengan perbedaan pendapatnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan pendapat antara KH. Hasyim Asyari dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi mengenai SI serta faktor yang mempengaruhinya dengan melakukan analisis terhadap Kitab Kafful ‘Awam dan Tanbihul Anam. Studi ini berfokus pada metode analisis dua kitab penting, yaitu Kitab Kafful ‘Awam dan Tanbihul Anam, yang menjadi sumber pemikiran dan pandangan KH. Hasyim Asyari dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi tentang SI. Melalui analisis tekstual, penelitian ini akan mengidentifikasi perbedaan pendapat yang ada antara keduanya dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan pemikiran mereka terkait SI. Faktor-faktor yang akan diteliti meliputi konteks historis dan sosial yang mempengaruhi pandangan KH. Hasyim Asyari dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi tentang SI, serta faktor-faktor internal seperti pemahaman agama, pengalaman pribadi, dan latar belakang keilmuan yang dapat memengaruhi perbedaan pendapat mereka. Analisis faktor-faktor ini akan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang perbedaan pemikiran antara kedua tokoh. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa perbedaan pendapat antara KH. Hasyim dan Syekh Khatib perihal Sarekat Islam berpusat dalam tiga hal utama. Pertama, silang pendapat perihal hukum Islam. Kedua, perbedaan persepsi perihal persatuan. Ketiga, perbedaan dalam menyikapi oknum. Dan perbedaan tersebut setidaknya disebabkan oleh tiga faktor. Pertama, perbedaan interpretasi teks-teks keagamaan. Kedua, perbedaan prinsip serta pengalaman pribadi. Ketiga, perbedaan sumber informasi. Penelitian ini memiliki relevansi penting dalam studi sejarah, studi agama, dan pemikiran Islam di Indonesia. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang hal-hal yang menjadi titik perbedaan pendapat antara KH. Hasyim Asyari dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi terkait SI serta faktor-faktor yang melatarbelakanginya.
Ideologi Radikal dalam Islam: Doktrin Khawarij dalam Gerakan Islam Kontemporer Achmad Muhibin Zuhri
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 2 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i2.470

Abstract

Semenjak abad pertama sejarah Islam hingga saat ini, seringkali terjadi konflik dan pertikaian antar pemeluknya. Akar konflik tersebut tak hanya berasal dari perbedaan cara pandang keagamaan, namun juga berakar dari ketidakadilan sosial dan perbedaan pandangan politik. Di antara kelompok Islam era awal yang sering diklaim sebagai tunas radikalisme Islam adalah kelompok khawarij. Kelompok ini yang berhasil mendesain perbedaan politik menjadi perbedaan yang bernuansa konflik keagamaan. Artikel ini mendiskusikan tentang ketersambungan ideologi Khawarij dengan Gerakan Islam kontemporer yang jamak menjadikan aksi intoleransi, radikalisme dan terorisme sebagai “cara berislam yang benar”. Dengan menggunakan pendekatan sejarah kritis yang berupaya mengulik ideologi kelompok radikal yang eksis hari ini, riset ini menyimpulkan bahwa kelompok teroris dan gerakan radikal di Indonesia memiliki kesamaan ideologi dengan kelompok khawarij. Doktrin kelompok khawarij yang diwarisi oleh jaringan kelompok teroris, antara lain: takfirisme, jihadisme dan khilafah. Tridoktrin inilah yang menjadi lokomotif ajaran Islam pada beberapa kelompok yang dengan sengaja diajarkan dan diidoktrinasikan oleh ideolog masing-masing kelompok. Sebagaimana paradigma khawarij, kelompok radikal beranggapan bahwa tidak ada konstitusi di dunia yang sah dan legal untuk ditegakkan kecuali yang bersumber dari hukum Tuhan.

Page 7 of 12 | Total Record : 115