cover
Contact Name
Kusroni
Contact Email
Jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Phone
+628563459899
Journal Mail Official
jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kedinding Lor 30 Surabaya 60129
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal KACA
ISSN : 23525890     EISSN : 25976664     DOI : https://doi.org/10.36781
KACA (Karunia Cahaya Allah) : Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin diterbitkan oleh Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya. Jurnal ini memuat kajian-kajian keislaman yang meliputi Tafsir, Hadis, Tasawuf, Pemikiran Islam, dan kajian Islam lainnya. Terbit dua kali setahun, yaitu bulan Februari-Agustus. Redaksi mengundang para akademisi, dosen, maupun peneliti untuk berkontribusi memasukkan artikel ilmiahnya yang belum pernah diterbitkan oleh jurnal lain. Naskah diketik dengan spasi 1 (satu) spasi pada kertas ukuran B5 dengan panjang tulisan antara 15-25 halaman, 5000-7000 kata. Naskah yang masuk dievaluasi oleh dewan redaksi. Redaktur dapat melakukan perubahan pada tulisan yang dimuat untuk keseragaman format, tanpa mengubah substansinya.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 115 Documents
Penafsiran Ruh Al-Qudus Menurut Abu Zahrah dan Hubungannya dengan Konsep Roh Kudus dalam Kristen Aditama, Rahmat Yusuf; Ramadhan, Ahnaf Gilang; Ach. Khoiri Nabiel; Sabiq Noor; Al Ayyubi, M. Sholahuddin
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.607

Abstract

Selain lazim digunakan dalam teologi Kristen, kata Roh Kudus sendiri juga cukup populer dalam teologi Islam. Bahkan, menurut Fuad 'Abd al-Baqi dalam Al-Qur'an kata Roh Kudus (Ruh al-Qudus) terulang sampai 4 kali yang masing-masing terdapat pada QS. Al-Baqarah [2] : 87, 253, QS. Al-Maidah [5] : 110 dan QS. Al-Nahl [16] : 102. Namun, dalam praktiknya Abu Zahrah memberikan penafsiran yang beraneka ragam terkait kata tersebut. Artikel ini bertujuan untuk mengulik ragam pemaknaan Abu Zahrah terhadap terma (Ruh al-Qudus) yang dinilai berbeda dengan mayoritas mufassir yang hanya menafsirkan kata tersebut dengan Jibril. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan termasuk ke dalam penelitian kepustakaan (library research).  Hasil dari penelitian ini menyebutkan,  bahwa makna dari Ruh al-Qudus Yang terdapat dalam Al-Qur'an ternyata tidak hanya terpaku pada Jibril sebagaimana yang banyak disinggung oleh para mufassir klasik. Lebih dari itu, makna Ruh al-Qudus yang terdapat dalam Al-Qur'an mempunyai makna yang beragam, seperti: Jibril, Injil, Mukjizat dan Anugerah.
Rekonstruksi Pendekatan Munāsabah Ayat dalam Metode Penafsiran Al-Qur’an Kharomen, Agus Imam; In’amuzzahidin, Muh.
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.610

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi masih minimnya kajian munāsabah makna dan perangkat munāsabah yang dijadikan alat analisa dalam metode tafsir yang saat ini masih terbatas pada mengungkap keterkaitan antar ayat yang berdekatan letaknya, bukan pada hubungan maknanya. Penelitian ini merupakan library research, dengan menggunakan metode deskriptif-analitik dan pendekatan interpretasi, dengan mengacu literatur ‘ulum Al-Qur’an dan kaidah tafsir, seperti al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an karya al-Zarkasyi, al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an karya al-Suyuthi, Qawa‘id al-Tafsir karya Khalid al-Sabt, ‘Ilm al-Munasabat fi al-Suwar wa al-Ayat karya Bazamul dan Kaidah Tafsir karya Quraish Shihab, penelitian ini mencoba merumuskan langkah-langkah dalam menerapkan munāsabah makna sebagai pendekatan penafsiran dan kontribusinya dalam penafsiran Al-Qur’an. Penelitian ini menawarkan empat langkah dalam menerapkan munāsabah makna sebagai pendekatan tafsir, yakni: menyimpulkan tema ayat yang sedang dikaji, mengidentifikasi ayat-ayat pendukung yang punya hubungan dengan tema utama, mendialogkan antar makna yang terdapat dalam ayat utama dan pendukung, merumuskan kesimpulan sebagai hasil temuan munāsabah makna ayat Al-Qur’an. Adapun kontribusi pendekatan munāsabah makna dapat menghasilkan penafsiran antar ayat yang memiliki hubungan makna secara komprehensif.
Etos Kerja Islami sebagai Karakter Muslim Perspektif Hadis Riwayat Ibnu Majah Nomor 4168 Rizqiyah, Afi; Nur, Zia Choirul Labib; A’rifah, Alda Nihayatul; Zuhri, Achmad Muhibin
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.624

Abstract

Etos kerja berperan penting sebagai pendorong produksivitas dalam bekerja dan kualitas kinerja seseorang. Rendahnya etos kerja berdampak pada rendahnya kualitas kinerja. Terjadinya penyelewengan dalam pekerjaan merupakan dampak rendahnya etos kerja. Misalnya kasus korupsi yang hingga kini memiliki angka pelaporan yang cukup tinggi. Etos kerja rendah juga berdampak pada pola hidup. Misalnya masih maraknya pengemis dengan kondisi fisik layak bekerja. Problem ini mendorong dilakukannya penelitian yang bertujuan untuk menganalisis etos kerja Muslim perspektif HR. Ibnu Majah No. 4168. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan. Sehingga sumber utama maupun sekunder penelitian berupa karya tulis yang berhubungan dengan topik penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan prosedur analisis Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, display data, dan pengambilan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etos kerja yang termuat dalam kandungan HR. Ibnu Majah No. 4168 terdiri dari tekad kuat atau tekun dalam bekerja, menghadapi musibah dengan penuh kesabaran, berpikir kritis terhadap segala hal yang terjadi dalam kehidupan, bekerja secara mandiri (tidak meminta-minta), bersungguh-sungguh dalam bekerja, dan mempercayai takdir Allah Swt dalam setiap langkah. Secara garis besar, prinsip utama yang menjadi bingkai etos kerja dalam perspektif hadith ini adalah iman dan takwa.
Philosophical Arguments For The Cosmology of Creation: Al-Kindi's Response to Western Philosophical Views Shobah, Muhammad Nurush; al-Farizi, Salman
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 2 (2024): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i2.631

Abstract

This article is based on al-Kindi's critique of Western philosophy's view of the cosmology of creation. The western theory of creation implies that nature was created from nothing (creatio ex materia). On the other hand, al-Kindi wanted to show the existence of nature from nothing (creatio ex nihilo), one of which was due to materialism. As a result, al-Kindi's various responses to materialism emerged. Al-Kindi recorded three responses, namely Hudust nature, al-Quwwah wa al-fi'l (potential and action), and Ishraqi (illuminative). Based on this problem, this article aims to trace al-Kindi's philosophical thoughts on the cosmology of creation in al-Kindi's interpretation by using critical and descriptive-analytical methods. It sees the emergence of Islamic philosophy as a response to materialism in various philosophical domains that seem to have failed to create a good philosophy, such as the theory of natural creation and causality. To open up the insights of Islamic philosophy, especially those related to nature and causality, al-Kindi offers a philosophical approach by understanding the ontological aspects of the theory of natural creation, the dominance of texts and religion as an epistemology of knowledge. The combination of these two approaches became al-Kindi's offer as a response to the study of Islamic philosophy against Western philosophy.
Infiltrasi Hadis Dha’if dalam Penafsiran Aurat Perempuan: Studi Komparatif Penafsiran Ibnu Katsir dan Al-Qurtubi Solehodin, Muhammad; Lia Nur ‘Aini; Roja Lukmanul Khovid
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 2 (2023): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i2.637

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk melakukan studi kritis terhadap kontruksi penafsiran Ibnu Katsir dan al-Qurthubi dalam menafsiri ayat-ayat seputar aurat perempuan, khususnya terkait status hadis-hadis yang dijadikan sebagai dasar dan argumentasi penafsiran. Urgensitas artikel ini ditunjukkan oleh implikasi dan relevansi dari hasil penafsiran keduanya dalam menentukan batas-batas aurat perempuan dalam konteks hari ini, baik di ruang virtual ataupun ruang faktual. Artikel ini disusun menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan memanfaatkan studi komparatif berbasis data pustaka. Data primer dihimpun dari literatur tafsir Ibnu Katsir dan tafsir al-Qurtubi. Data sekunder bersumber dari literatur lainnya, seperti buku, jurnal dan hasil penelitian yang berkaitan dengan tema penelitian ini. Dalam penelitian ini penulis juga menampilkan analisis kritis sanad terhadap hadis-hadis seputar aurat perempuan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa hadis yang dijadikan dasar penafsiran oleh Ibnu Katsir dan al-Qurthubi dalam tafsirnya dinilai lemah karena terdapat sanad yang terputus, sehingga dalam penafsiran tersebut terdapat infiltrasi (al-Dakhil). Hanya saja keduanya berbeda dalam menampilkan dan memaparkan hadis yang digunakan. Ibnu Katsir cenderung memberikan komentar terhadap status sanad hadis yang digunakan, sementara al-Qurthubi memilih tidak memberikan catatan terhadap hadis yang digunakan sebagai bahan menafsiri ayat-ayat seputar aurat perempuan.
Kaidah Wadih Al-Dilalah: Hierarki dan Urgensinya dalam Penafsiran Al-Qur’an Hermansah, Hermansah; Basri, Ahmad Faizal
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 1 (2023): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i1.638

Abstract

Subjektifitas mufasir sangat berpengaruh terhadap hasil penafsiran. Subjektifitas ini bisa berasal dari horizon-horizon yang dimiliki oleh mufasir, baik latar belakang keilmuan, konteks sosial, politik, ekonomi, maupun budaya. Ironisnya, ada sebagian mufasir yang meligitimasi tindakannya dengan pemahamannya terhadap Al-Qur’an, seraya mengabaikan kaidah tafsir yang telah berlaku, serta mengabaikan aspek sosial-historis ayat-ayat al-Qur’an ketika diturunkan. Oleh karenanya, memahami kaidah Wadih al-Dilalah menjadi sangat urgen dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Penelitian ini berusaha menguraikan kaidah Wadih Al-Dilalah, sekaligus menjelaskan hierarki dan urgensinya dalam penafsiran. Penelitian ini menemukan bahwa hierarki Wadih Al-Dilalah teks al-Qur’an ada empat, yaitu: 1) al-Dilalah al-Dhahir, 2) al-Nash, 3) al-Mufassar, dan 4) al-Muhkam. Memberlakukan teks-teks al-Qur’an, sekalipun sudah jelas, tetapi belum sampai pada tingkatan mutlak atau final turth, maka harus terus dilakukan analisis dan mencari teks-teks yang berkaitan, sehingga mendapatkan pemahaman yan0g komprehensif. Begitu juga, apabila ada pertentangan antar al-Dilalah, tentu harus ditarjih dengan mendahulukan dan mengutamakan yang paling jelas di antara al-Dilalah yang ada.
Dimensi Imajinatif-Etis Jiwa: Analisis Konsep Jiwa pada Teks Risālah fī Ma’rifah al-Nafs al-Nāṭiqah wa Aḥwālihā karya Ibn Sina Fazrian, Muhammad Ihza
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 2 (2024): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i2.639

Abstract

Salah satu isu besar dalam filsafat adalah konsep jiwa. Dalam filsafat Islam, konsep tersebut dijelaskan melalui istilah al-nafs. Penelitian ini berfokus pada konsep jiwa yang digagas oleh salah satu filosof muslim terbesar era klasik yaitu Ibn Sina. Melalui teks nya berjudul Risālah fī Ma’rifat al-nafs al-Nāṭiqah wa Aḥwālihā (Risalah Tentang Jiwa Rasional Beserta Keadaan-Keadaannya) sebagai sumber primernya. Sedangkan sumber sekundernya adalah teks lain Ibn Sina  yaitu al-nafs min Kitāb al-Shifā’, al-Najāh, dan Aḥwāl al-nafs sebagai perbandingan ide atas teks yang dikaji dan pendapat para intelektual sebagai argumen pendukung. Jenis penelitian ini adalah kualitatif melalui metode deskriptif-analitis disertai pendekatan filosofis. Temuan penelitian ini menunjukan terdapat dimensi imajinatif-etis dalam konsep jiwa Ibn Sina. Dimensi imajinatifnya terletak pada potensi kreatif jiwa yang termuat konsep al-wahm/al-mizāj al-insī (kegelisahan/suasana hati) yang berperan kuat dalam proses terjuwudnya spekulasi filosofis-mistik. Sementara dimensi etisnya terletak, dari ide tentang jiwa, dapat diwacanakan suatu cara hidup “yang baik” sebagai upaya untuk mencapai kebahagiaan esensial di kehidupan kelak.
Social Implications and Sectarian Divisions: Analyzing Bid‘ah and Tawhid Within Salafi Teachings A‘la, Abd; Bakar, Abu
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.670

Abstract

This article examines the social implications of the Salafi understanding of bid‘ah as well as an analysis of bid‘ah in the Salafi teachings themselves. The Salafi movement often accuses Muslims outside their group of heresy, but the irony arises when their own doctrine of monotheism is the result of interpretations that are not explicitly found in the Quran and Sunnah. The Salafi concept of monotheism triggers excommunication and disbelief of other Islamic groups and deepens group fanaticism, which has a negative impact on the solidity and social cohesion of Muslims. Salafi Jami, for example, opposes Salafi Harakī or Surūrī, exposing fanaticism and divisions within Salafi itself. Using a descriptive-analytical approach, this study finds that unilateral truth claims and sectarian fanaticism within Salafi groups reinforce divisions and prolonged conflicts within the Muslim community. They also have heresy in the context of their tawhīd consisting of ulūhiyyah, rubūbiyyah, and al-asmā’ wa al-sifāt. This research underscores the importance of studying these groups’ interpretations within their social context and subjectivity. As a result, it is difficult for Salafi and other radical groups to unite solidly, and Muslims continue to face divergent views and prolonged conflict.
Peran Ajaran Agama di Kalangan Komunitas Laskar Hijau dalam Melaksanakan Konservasi Hutan Gunung Lemongan Lumajang: Kajian Living Qur’an Thobroni, Ahmad Yusam; Syamsudin, Syamsudin; Rizqiyah, Afi
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 2 (2024): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i2.721

Abstract

Penelitian ini melacak peran ajaran agama di kalangan Komunitas Laskar Hijau dalam konservasi hutan Gunung Lemongan, Lumajang. Penelitian ini dilatarbelakangi tindakan buruk manusia terhadap alam yang masih berlangsng meskipun ada aturan, sehingga dibutuhkan peran agama di dalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Melalui teknik purposive sampling, informan yang ditetapkan terdiri dari aktifis lingkungan Laskar Hijau dan warga sekitar Gunung Lemongan yang terlibat aktif dalam gerakan konservasi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, lalu dianalisis model analisis interaktif. Temuan lapangan dianalisis melalui perspektif al-Qur'an untuk menemukan relevansinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ajaran-ajaran agama yang mendorong komunitas Laskar Hijau dalam melaksanakan gerakan konservasi lingkungan hutan Gunung Lemongan berasal dari ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad saw. meliputi; HR. al-Bukharī:494; QS. Al-Rūm:41; QS. Al-A’raf:56; QS. Al-Ra’d:3; QS. Al-Nahl:15; HR. al-Bukharī:2152; HR. Abū Dawūd:870; QS. Al-Taghabun:11. Ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya berperan memotivasi dan menguatkan kinerja komunitas Laskar Hijau dalam konservasi, serta menjadi pengingat untuk waspada terhadap segala perubahan gejala alam. Problem yang timbul seperti perusakan hutan dan minimnya kesadaran untuk menjaga hutan diatasi dengan strategi berupa sosialisasi penghijauan kepada masyarakat serta kerjasama dengan instansi Perhutani dan BPBD. Konservasi yang dilakukan berdampak positif seperti terjaganya stabilitas debit air di ranu-ranu sekitar Gunung Lemongan, pemulihan hutan, dan ekonomi masyarakat tertanggulangi.
Pandangan Al-Quran Tentang Fenomena Flexing dalam Ibadah Pohan, Ira Yunita; Mualim, Mohamad; Ghifari, Muhammad
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 2 (2024): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i2.723

Abstract

Fenomena flexing atau pamer di media sosial telah menjadi tren yang kian populer, mencakup berbagai aspek kehidupan termasuk ibadah. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting mengenai pandangan Al-Quran terhadap perilaku flexing, khususnya dalam konteks ibadah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena flexing ibadah dengan merujuk pada ajaran-ajaran dalam Al-Quran dan membandingkannya dengan definisi flexing yang ada di media sosial saat ini. Meskipun istilah flexing tidak ditemukan secara langsung dalam Al-Quran, penelitian ini menggunakan konsep-konsep terkait seperti riya’ (pamer), ujub (kesombongan), tamak (keinginan berlebihan), dan takabur (keangkuhan) untuk memahami bagaimana Al-Quran menanggapi fenomena ini. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, mengumpulkan data dari Al-Quran dan kitab tafsir sebagai data primer, serta dari berbagai artikel, jurnal, dan sumber online sebagai data sekunder. Penelitian ini mengidentifikasi bahwa flexing ibadah di media sosial berpotensi mengubah niat ibadah dari tujuan spiritual yang tulus menjadi pencarian validasi sosial, yang bertentangan dengan ajaran Al-Quran tentang keikhlasan dan kesederhanaan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa fenomena flexing ibadah dapat menimbulkan dua dampak berbeda, 1) Negatif apabila tidak dilakukan dengan tepat yang beresiko menimbulkan seperti peningkatan sifat riya’, materialisme, dan krisis identitas, dan 2) Posistif jika dilakukan dengan melihat nilai-nilai yang harus di perhatikan yang dapat memotivasi orang lain untuk mengerjakan amal kebaikan, dan menghindari prasangka buruk yang dapat menjerumuskan orang lain ke dalam dosa.

Page 9 of 12 | Total Record : 115