cover
Contact Name
Kusroni
Contact Email
Jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Phone
+628563459899
Journal Mail Official
jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com
Editorial Address
Jl. Kedinding Lor 30 Surabaya 60129
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal KACA
ISSN : 23525890     EISSN : 25976664     DOI : https://doi.org/10.36781
KACA (Karunia Cahaya Allah) : Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin diterbitkan oleh Jurusan Ushuluddin Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah Surabaya. Jurnal ini memuat kajian-kajian keislaman yang meliputi Tafsir, Hadis, Tasawuf, Pemikiran Islam, dan kajian Islam lainnya. Terbit dua kali setahun, yaitu bulan Februari-Agustus. Redaksi mengundang para akademisi, dosen, maupun peneliti untuk berkontribusi memasukkan artikel ilmiahnya yang belum pernah diterbitkan oleh jurnal lain. Naskah diketik dengan spasi 1 (satu) spasi pada kertas ukuran B5 dengan panjang tulisan antara 15-25 halaman, 5000-7000 kata. Naskah yang masuk dievaluasi oleh dewan redaksi. Redaktur dapat melakukan perubahan pada tulisan yang dimuat untuk keseragaman format, tanpa mengubah substansinya.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 115 Documents
Analisis Takhrij Hadis Larangan Memakai Sutra dalam Kitab Al-Mu’jam Al-Kabir Al-Tabrani A Fadly Rahman Akbar; Ali Mahfuz Munawar; Syifa Shafira Lutfiyah; Uly Ariana Sari; Nadiya Iffatul Husna
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 2 (2023): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i2.475

Abstract

Islam adalah agama yang paling sempurna di mata Allah SWT, karena semua perbuatan dan perilaku manusia mempunyai aturan dan rambu-rambu yang harus dipatuhi dan diikuti agar tidak tersesat dan terjerumus kedalam perilaku buruk dan dibenci oleh Sang pencipta. Salah satunya adalah berpakaian, di mana adab berpakaian haruslah menutup aurat secara sempurna. Dalam pakaian-pakaian tersebut, ada beberapa larangan yang dilihat dari bahan kain tersebut. Kain sutra menjadi suatu larangan untuk dijadikan bahan pakaian, seperti apa yang Rasulullah SAW sabdakan kepada kita. Dalam artikel ini, peneliti membahas suatu hadis diatas yang diambil dari salah satu ulama hadis yaitu Al-Tabrani dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir. Al-Tabrani adalah pakar hadis yang dilahirkan di Sham pada tahun 260 H/873 M- 360 H/971 M, dengan usia kurang lebih 100 tahun.  Dikarenakan banyaknya perawi yang meriwayatkan suatu hadis saja, maka penelitian ini diadakan dengan tujuan mengetahui keshahihan hadis tersebut dan kualitas kandungan yang terdapat dalam hadis tersebut. Agar ulama mendapatkan suatu sumber yang kuat dan dapat dijadikan rujukan untuk mengistinbath suatu hukum. Studi kepustakaan (library research) adalah metode yang digunakan untuk menunjang penelitian ini. Adapun hasil yang didapatkan dari analisis hadis ini adalah, dapat dibuktikannya keshahihan hadis dalam pelarangan pemakaian kain sutra (khususnya bagi laki-laki). Disamping itu juga, perawi yang meriwayatkan hadis ini dapat dipercaya menurut para ulama Rijal al-Hadith. Oleh karena itu, hadis pelarangan bagi laki-laki untuk memakai sutra dapat dijadikan sebagai hujjah.
Mullā Ṣadrā’s Ontology: The Fundamentality of Existence Over Essence Muhammad Faiq; Ibnu Farhan
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 2 (2023): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i2.476

Abstract

One of the critical debates in the philosophical tradition is about existence and essence. The question that arises from this problem is which of the two is more principle or fundamental. Some Muslim philosophers have different points of view regarding this. This article aims to reveal Mullā Ṣadrā's thoughts on the fundamentality of existence. This study is qualitative research with a descriptive and analytical approach. The data were collected from library research. This study found that, in Mullā Ṣadrā’s viewpoint, existence is more fundamental than essence as it causes essence to exist. Mullā Ṣadrā's view leads to the solving of many philosophical problems, such as the problem of causality, Tawhid, the impossibility of the concept of predestination, and dualism, for instance, heaven and hell, world and hereafter, Khaliq and creature, God and universe, material and non-material, transcendent and immanent   Salah satu perdebatan serius dalam tradisi filsafat adalah tentang eksistensi dan esensi. Pertanyaan yang muncul dari persoalan ini adalah mana di antara keduanya yang lebih prinsipil atau fundamental. Para filosof Muslim memiliki pandangan yang berbeda mengenai hal ini. Studi ini bertujuan mengungkap pemikiran Mullā Ṣadrā tentang keutamaan eksistensi. Studi ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan analitis. Data dikumpulkan dari studi kepustakaan. Studi ini mengungkap bahwa menurut Mullā Ṣadrā, eksistensi lebih utama/real ketimbang esensi karena eksistensilah yang menjadikan esensi itu ada/wujud. Pandangan Mullā Ṣadrā ini penting untuk pemecahan beberapa persoalan filosofis, seperti masalah kausalitas, tauhid, kemustahilan konsep predestinasi dan dualisme, misalnya surga dan neraka, dunia dan akhirat, khaliq dan makhluk, Tuhan dan alam semesta, material dan non-material, transenden dan imanen.
Konsep Akal Menurut Fakhr Al-Rāzi dalam Tafsir Mafātīh Al-Ghāib Muhammad Rizqi Romdhon; Masruchin Masruchin
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 2 (2023): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i2.487

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui seperti apa konsep akal yang diusung oleh al-Rāzi dalam tafsirnya Mafātīh al-Ghāib. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Penelitian ini bersifat deskriptif juga dengan melalui penelitian kepustakaan (library research). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka bisa disimpulkan bahwa konsep akal menurut al-Rāzi dalam tafsir Mafātīh al-Ghāib adalah, Pertama, akal bisa memahami keyakinan akan ke-Esa-an Allah, iman kepada yang gaib dan penjelasan al-Qur`an. Kedua, akal bisa mengetahui kebenaran dan kebaikan. Ketiga, Akal mempunyai batasan. Keempat, Akal merupakan sarana untuk berpikir dan pintu ilmu pengetahuan. Kelima, akal terbagi dua; iktisabi dan mathbu’. Kemudian terbagi lagi menjadi mathbu’ dan masmu’.
Dakwah Islam Sufistik di Nusantara Abd. Syakur
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 2 (2022): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i2.497

Abstract

Tulisan ini mengambil tema tarekat sebagai pranata dakwah Islam sufistik yang secara general ingin melacak siasat tarekat dalam menanamkan nilai-nilai moral keislaman pada masyarakat Nusantara terkait dengan pergumulan dan persaingan antartarekat tersebut dengan praktik-praktik mistik lokal-Kejawen. Untuk itu, permasalahan difokuskan pada strategi para da’i sufi dalam menyikapi realitas tradisi dan praktik ritual lokal Jawa; tentang cara mereka mempertahankan ortodoksi ajaran tarekat; serta tentang hasil dakwah dan pendidikan Islam sufistik-inklusif bagi pembentukan mental keberagamaan masyarakat Islam Jawa pada khsususnya? Kajian ini bersifat literer dengan mengambil data dari bahan-bahan kepustakaan yang diolah dengan teknik analisis diskursif. Hasilnya sebagai berkut; Pertama, bahwa Islam, disimping mengandung muatan ajaran eksoterik, adalah sangat lekat dengan nilai-nilai esoteris. Ajaran esoterisme Islam tersebut membekali Islam ketika berada di wilayah dakwah untuk dapat bersapaan dan berdialog dengan budaya lokal dengan damai. Kedua, tarekat-tarekat Islam di Jawa karena bersentuhan dengan tradisi dan budaya lokal yang intensnya, maka konsekuensinya adalah timbulnya variasi tarekat, yaitu, ada tarekat yang berupaya untuk mempertahankan ortodoksi baik dalam tataran teosofik maupun dalam teknik zikir, seperti Tarekat Qadiriyyah dan Naqsyabandiyyah; Namun demikian, ada juga tartekat yang kurang memperhatikan sisi ortodoksi tersebut, bahkan berpinjaman teknik dan terminologi dalam olah spiritualnya dengan teknik mistik Kejawen, misalnya, Tarekat Shiddiqiyyah; Ketiga, bahwa hasil dakwah dan pendidikan Islam sufistik-inklusif seperti di atas adalah tertanamnya sikap mental dan moralitas keberagamaan yang toleran bagi muslim Nusantara, pada umumnya, dan Muslim Jawa pada khususnya.
Tariqa and Prosperity: Investigating Shiddiqiyyah Tariqa Experience in Empowering Communities in Jombang, East Java, Indonesia Abd. Syakur
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 2 (2023): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i2.498

Abstract

This article describes the struggle of the Shiddiqiyyah to become a nationalist tariqa that teaches a balanced way of life. The research was conducted qualitatively. Data was collected by interviewing the murshid, three caliphs, and 20 tariqa followers, observing their activities, and documenting the doctrine and community empowerment activities. The collected data were analyzed using reflective-inductive thinking techniques to produce a systematic narrative about the movements of the Shiddiqiyyah tariqa. The results show that Shiddiqiyyah is a native Indonesian tariqa founded by Muchtar Mu’thi in Jombang, East Java, who struggled the tariqa to become a tariqa teaching the love of the motherland and dhikr of work. To realize this, first, the murshid of Shiddiqiyyah develops the doctrine of ‘unity of faith and humanity’ so that the tariqa adherents become humanity who are close to Allah through dhikr kautsaran and work creativity; second, holding training to cultivate local resources into goods of economic value such as bags, mats, and wallets. [Artikel ini menjelaskan perjuangan tarekat Shiddiqiyyah untuk menjadi tarekat nasionalis yang mengajarkan cara hidup yang seimbang duniawi-ukhrawi. Penelitin dilakukan secara kualitatif. Data dikumpulkan dengan mewawancarai musrsyid, tiga khalifah, dan dua puluh pengikut tarekat; mengamati kegiatan warga tarekat; dan mendokumentasikan doktrin dan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik berpikir reflektif-induktif untuk menghasilkan narasi sistematis tentang program-program tarekat Shiddiqiyyah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Shiddiqiyyah merupakan tarekat asli Indonesia yang didirikanoleh Muchtar Mu’thi di Jombang, Jawa Timur, yang memperjuangkan Shiddiqiyyah untuk menjadi tarekat yang mengajarkan cinta tanah air dan dzikir kerja. Untuk mewujudkan hal tersebut maka, pertama, mursyid Shiddiqiyyah mengembangkan doktrin ‘kesatuan iman dan kemanusiaan’ agar penganut tarekat menjadi umat yang dekat dengan Allah melalui dzikir Kausaran dan kerja kreatif; kedua, mengadakan pelatihan untuk mengolah sumberdaya alam berupa daun pandan dan bambu menjadi produk barang bernilai ekonomi seperti tas, tikar, dan dompet.]
Motivasi Qur’ani Santri Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an (PPTQ) Fatchussalam Surabaya dalam Menghafal Al-Qur’an: Sebuah Kajian Living Qur’an Kusroni Kusroni
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 12 No. 1 (2022): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v12i1.578

Abstract

Interaksi antara umat muslim dengan kitab sucinya, al-Qur’an, dalam lintasan sejarah Islam, selalu mengalami perkembangan yang dinamis. Pembacaan al-Qur’an menghasilkan pemahaman yang beragam sesuai kemampuan masing-masing, dan pemahaman tersebut melahirkan perilaku yang beragam pula sebagai tafsir al-Qur’an dalam praksis kehidupan, baik pada dataran teologis, filosofis, psikologis, maupun kultural. Dalam ranah kajian “Qur’anic Studies” ada satu pendekatan yang disebut dengan Living Qur’an. Tulisan ini, dengan berpijak pada konsep tersebut, berupaya mengungkap motivasi para santri tahfiz di PPTQ Fatchussalan Surabaya yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw. Motivasi ini menurut penulis merupakan salah satu dari bentuk al-Qur’an yang “hidup” (Living Qur’an) di tengah-tengah komunitas pesantren. Penelitian ini menemukan bahwa, motivasi para santri PPTQ Fatchussalam dalam menghafal al-Qur’an banyak dipengaruhi oleh pemahaman dan penghayatan serta pengamalan dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw. Pemahaman mereka terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan hadis nabi saw. ini diperoleh di pesantren, sekolah, dan di rumah. Pemahaman dan penghayatan ini kemudian termanifestasikan dalam aktivitas mereka menghafal al-Qur’an di pesantren
Konstruksi Karakter Salaf Mahasantri: Peran Bu Nyai Pesantren dalam Pendampingan Pembelajaran Mahasantri di Kota Semarang Syakur, Moh
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.579

Abstract

Studi ini mengeksplorasi peran ulama perempuan, atau yang sering disebut sebagai Bu Nyai, dalam konteks pesantren di Indonesia, dengan fokus pada pembentukan karakter mahasantri. Mahasantri dalam konteks ini merujuk pada para santri yang mengikuti pendidikan formal di bangku perkulian dan mengikuti pendidikan Islam di pesantren, yang menekankan pendalaman ajaran agama, pengembangan karakter, dan kehidupan yang sederhana. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menjelaskan dan memberikan pemahaman yang mendalam tentang peran Bu Nyai dalam konstruksi karakter mahasantri selama menempuh pendidikan pesantren. Hasil penelitian menemukan bahwa peran Bu Nyai dalam pembentukan karakter santri di pesantren sangat signifikan. Mereka berfungsi sebagai penasehat, pembimbing, dan sumber dukungan emosional bagi santri. Melalui peran ini, Bu Nyai membantu santri dalam mengatasi konflik, menjaga keseimbangan emosi, dan mengarahkan santri dalam menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun peran ulama perempuan sangat signifikan, mereka menghadapi berbagai tantangan, termasuk stereotip gender yang membatasi pengakuan mereka.
Kajian Asbāb Al-Wurūd Terhadap Hadis Al-Thaqalayn Rizaka, Maghza; Zahri, Ahmad Fauzan; Mahbubiati, Nadia Maulida; Achmadana Syachrizal M. F; Aan Darwati
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.587

Abstract

Al-Thaqalayn adalah Al-Quran dan Ahlul Bayt, ditinggalkan oleh Nabi sebagai warisan berharga. Hadis ini memunculkan berbagai interpretasi dari ulama terkait konteks, signifikansi, dan implikasinya. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini, menelaah asbāb al-wurūd dan metode analisis konten dari kitab-kitab hadis utama serta literatur terkait. Pengertian asbāb al-wurūd menjadi krusial, memberi informasi tentang konteks sejarah hadis. Memahami hal ini membantu menjelaskan hadis al-Thaqalayn dan signifikansinya secara kontekstual. Konteks ini juga relevan bagi ahli hukum Islam (faqīh) dalam menerapkan ajaran dalam situasi aktual. Hadis ini merupakan pesan keselamatan yang disampaikan Nabi sebelum meninggalkan umatnya. Beliau ingin memastikan pesan Ilahi terpelihara dan tidak terdistorsi setelahnya. Pesan beliau tentang meninggalkan al-Thaqalayn di tengah-tengah umat merupakan panggilan untuk menjaga ajaran suci itu sendiri. Para ulama memberikan beragam interpretasi terhadap hadis ini. Sebagian besar menekankan pada beratnya tugas mengikuti dan menjaga al-Thaqalayn. Ada pula penekanan pada keagungan dan kesulitan dalam melaksanakan ajaran keduanya. Beberapa ulama menjelaskan istilah “al-Thaqalayn” sebagai penghormatan pada kedudukan Al-Quran dan Ahlul Bayt. Ada upaya untuk mengartikan pesan Nabi dalam konteks pemilihan pengganti untuk melanjutkan peran beliau setelah wafat. Semua interpretasi ini menegaskan pentingnya mengikuti dan menjaga Al-Quran serta Ahlul Bayt sebagai sumber ilmu agama, petunjuk syariat, dan warisan suci dari Nabi. Penelitian ini berfokus pada pemahaman mendalam terhadap konteks, signifikansi, dan implikasi dari hadis al-Thaqalayn, menyoroti urgensi pemahaman terhadap pesan Nabi dalam konteks kehidupan umat Islam.
Pesan Poligami dalam Kisah Nabi Ibrahim: Kajian Historis Komparatif Al-Quran dan Alkitab Masruchin, Masruchin; Muttaqin, Ahmad; Rohana, Selti
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.588

Abstract

Poligami merupakan hal yang lumrah di kalangan para nabi pada berbagai masa, salah satu Nabi yang melakukan poligami ialah Nabi Ibrahim, poligami yang dilakukannya terdapat permasalahan yang kontroversial dalam ranah agama dan budaya. Adapun fokus pada penelitian ini terdapat pada dua kitab suci yaitu Al-Qur’an dan Alkitab, dimana keduanya memiliki pandangan yang berbeda dalam menceritakan poligami Nabi Ibrahim lalu alasan apa yang menyebabkan Nabi Ibrahim berpoligami. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis library research yang bertitik tolak memahami nilai komparatif historis yang mendasari poligami Nabi Ibrahim dalam pemaparan lintas agama. Berdasarkan hasil penelitian dari pesan poligami Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an dan Alkitab dapat disimpulkan bahwa poligami boleh dilakukan jika dalam keadaan darurat dengan mengikuti peraturan yang berlaku, Poligami sah karena seorang istri tidak dapat melahirkan anak sendirian, tetapi poligami yang dilakukan harus dengan izin seorang istri atau istri yang meminta suaminya untuk berpoligami. Dengan demikian Al-Qur’an dan Alkitab mengajarkan bahwa perkawinan yang ideal ialah perkawinan monogami, sebab poligami bukanlah suatu keharusan dan tidak boleh dilakukan sesuka hati tetapi dapat menjadi pilihan bagi mereka yang membutuhkannya, karena poligami menuntut pengabdian dan tanggung jawab yang utuh jika tidak akan menimbulkan konflik ketidakharmonisan didalam rumah tangganya.
Pola Asuh Toxic Parenting dalam Tinjauan Hadis Nabi: Upaya Spiritual Sebagai Langkah Preventif Atas Pola Asuh Toxic Parenting Pratama, Ferdy; Putri, Delfiani Safira Darminto; Rizaka, Maghza; Afifah, Alvin; Asaaf, M. Amil Hikam
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.596

Abstract

Artikel ini mengkaji suatu permasalahan sosial di tengah masyarakat yang menjadi isu global, yaitu pola asuh toxic parenting. Pola asuh toxic parenting adalah pola asuh anak yang kekuasaan selalu ada pada orang tua, seperti mengekang anak, orang tua mendahulukan egonya dan anak tidak diberi kesempatan untuk mengutarakan keinginannya. Hal ini dapat berdampak negatif pada kondisi kesehatan mental anak, seperti anak selalu merasa rendah diri, memiliki sikap perfeksionis dan mengalami depresi. Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Tirmidhi: 1911  dijelaskan bahwa, sesama makhluk di muka bumi harus saling mengasihi dan mencintai. Begitu pula dengan perlakuan orang tua terhadap anaknya, yang harus memberikan kasih sayang dengan cara menunjukkannya secara baik dan benar, agar terjalin hubungan yang sehat antara orang tua dan anak. Tulisan ini bertujuan untuk menemukan korelasi antara pola asuh toxic parenting  dan hadis, serta mengeksplorasi tindakan preventif yang ditawarkan oleh Rasulullah. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif melalui studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan psikologi. Hasil atas kajian ini, 1) Hadis riwayat Tirmidhi: 1911 secara umum menjelaskan mengenai pandangan Nabi terhadap pola asuh toxic parenting. 2) Pemaknaan kandungan hadis di dalamnya mengenai pola asuh anak yang baik dan penuh kasih sayang. 3) Dampak bagi anak atas pola asuh toxic parenting dalam sudut pandang psikologi. 4) Tindakan preventif yang ditawarkan untuk mecegah pola asuh toxic parenting.  

Page 8 of 12 | Total Record : 115