cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
jurnalarsitekturarcade@gmail.com
Phone
+6281220697972
Journal Mail Official
kartowijaya@ukri.ac.id
Editorial Address
Jln. Terusan Halimun No.37 (Pelajar Pejuang 45) Bandung 40263, Jawa Barat, Indonesia (+62) 22-7301987
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : 10.31848
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur Arcade is Open Journal System published by Prodi Architecture (UKRI) in 2023 has migrated to the link: https://e-journal.ukri.ac.id/arcade. This journal is a means of research publications that concentrate on the study of architecture to accommodate authors interested in the field of heritage architecture, built environment, urban design, housing and settlement, Building Technology, Interior Design. Jurnal Arsitektur Arcade was published for the first time in 2017 for its e-ISSN 2597-3746 (Online) and p-ISSN 2580-8613 (Print) publications which are published 3 times a year in March, July and November. The Editorial Board of Jurnal Arsitektur ARCADEÂ starting in 2023 publishes an e-ISSN 2597-3746 (Online) edition which will be published every 3 months, namely in March, June, September and December each year.
Articles 448 Documents
Elemen Arsitektural Fasad Kapel Biara Suster Santo Fransiskus di Jalan Ronggowarsito, Semarang Praha, Dion
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejarah karya Suster Santo Fransiskus di Semarang pada era kolonial dimulai dari kompleks Biara Suster Santo Fransiskus di Jalan Ronggowarsito. Awalnya kompleks biara merupakan rumah sakit milik VOC yang dibeli oleh Romo Scholten karena kebutuhan bagi asrama anak yatim piatu. Di dalamnya, terdapat bangunan kapel yang menjadi pusat aktifitas peribadatan bagi para suster yang tinggal di dalam kompleks. Saat ini, kondisi bangunan kapel mulai memprihatinkan, dimana setiap tahun mengalami banjir rob. Selain itu peninggian dan betonisasi Jalan Ronggowarsito yang berdampak terhadap peninggian pagar kompleks biara, membuat fasad bangunan kapel tidak terlihat dari luar kompleks. Pembahasan ini kemudian diangkat guna menganalisa dan mengidentifikasi elemen arsitektur pada fasad bangunan kapel Biara Suster Santo Fransiskus di Jalan Ronggowarsito. Analisa dan identifikasi dilakukan menggunakan teori fasad bangunan dan teori arsitektur kolonial. Teori fasad bangunan bertujuan untuk mengidentifikasi elemen pembentuk pada fasad bangunan kapel. Sedangkan teori arsitektur kolonial bertujuan untuk menganalisa faktor dari usia bangunan. Metode penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti adalah melalui survei lokasi guna mendapatkan data lapangan melalui pengukuran, dokumentasi gambar, hingga wawancara dengan beberapa pihak terkait yang memahami sejarah perkembangan kolonial di kota Semarang. Data yang didapatkan tersebut kemudian dianalisa dan diidentifikasi menggunakan teori fasad dan teori arsitektur kolonial.
Implementasi Space Frame pada Perancangan Bangunan Rental Office di Purwokerto Nursruwening, Yohana -; Lestariningsih, Dwi Jati; Selalatu, Dadi Triawan
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perancangan bangunan Rental Office (Kantor Sewa) membutuhkan program ruang yang luas dan bentuk bangunan vertikal dengan jumlah lantai lebih dari satu. Sistem struktur yang dipilih adalah Space Frame (Rangka Ruang).  Kajian ini bertujuan untuk merancang bangunan Rental Office dengan melakukan penerapan sistem struktur space frame yang sesuai dengan fungsi bangunan dan penerapannya dilakukan pada bagian atap bangunan. Dalam suatu rancangan pada pemilihan bentuk sistem struktur Space Frame pada Rental Office dapat menggunakan kriteria seperti kenyamanan, kebutuhan ruang, estetika, respon lingkungan dan kekokohan (Schodek 1999). Metode Penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan memvisualisasikan kajian obyek berdasarkan studi literatur secara sistematik, rasional serta analitik dan kuantitatif dengan menganalisa, menggambarkan bentuk space frame dari segi kenyamanan dan bentuk yang paling tepat  menggunakan studi komparatif dengan membandingkan bentuk-bentuk space frame kemudian menggunakan metoda programatik dengan dibantu Softwear SAP 2000 versi 25 didapatkan bahwa lendutan yang terjadi pada bentuk 1 sebesar 58,667 mm dan bentuk 2 sebesar 43,98 mm ini menunjukkan bahwa bentuk pelengkung lebih stabil dibandingkan bentuk 1. Dari penelitian ini terlihat bahwa tipe Barrel Vault sangat sesuai digunakan pada rancangan  bangunan Rental Office di Purwokerto.
PELESTARIAN MAKNA BUDAYA-SEJARAH-ALAM LOKAL DALAM ARSITEKTUR PUSAT WISATA GERABAH DESA SITIWINANGUN - CIREBON Suryono, Alwin
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This paper aims to identify the architectural plan of Sitiwinangun Village Pottery Tourism Centre from Form-Function elements, then reveal its local cultural-historical-natural meaning, and identify its preservation actions. The method is descriptive-qualitative with the approach of Architecture, Tourism, Culture and Architectural Preservation. The mass-space layout has historical meaning (pottery centre, Islamic propagation), cultural meaning and local nature meaning. Preservation of cultural and historical meaning through the adaptation of the Pottery Centre into a contemporary Pottery Tourism Centre. Preserving the meaning of local nature by maintaining its integration with local nature. The figure of the building open to the local nature means local nature, and its continuity from the Pottery Centre means history. Preservation of the figure of the old building by preservation and regular maintenance, preservation of the new building by maintaining the architectural style of the old building, then preserved. Open building layout-orientation to the old kiln is historically significant. It is preserved by maintaining the principle of open space layout and orientation. The activities of the Pottery Tourism Centre are meaningful to local history, culture and nature. For preservation, the heritage activities are maintained as before, and the present activities are adapted to the demands of the times.Keyword: Form, layout, figure, function, preservation Abstrak: Tulisan ini bertujuan mengidentifikasi rencana arsitektur Pusat Wisata Gerabah Desa Sitiwinangun dari unsur Bentuk - Fungsi, lalu mengungkap makna budaya-sejarah-alam lokalnya, dan mengidentifikasi tindakan pelestariannya. Metodenya deskriptif-kualitatif dengan pendekatan Arsitektur, Pariwisata, Kebudayaan dan Pelestarian Arsitektur. Tata massa-ruangnya bermakna sejarah (Sentra Gerabah, syiar agama Islam), bermakna budaya serta bermakna alam lokal. Pelestarian makna budaya dan sejarah melalui adaptasi Sentra Gerabah menjadi Pusat Wisata Gerabah kekinian, dan pembukaan akses langsung ke masjid Keramat Kebagusan. Pelestarian makna alam lokal dengan mempertahankan integrasinya dengan alam lokal. Sosok bangunan terbuka ke alam setempat bermakna alam lokal, dan keberlanjutannya dari Sentra Gerabah bermakna sejarah. Pelestarian sosok bangunan lama dengan preservasi dan perawatan rutin, pelestarian bangunan baru dengan mempertahankan bergaya arsitektur bangunan lama, lalu dipreservasi. Tata ruang bangunan terbuka-orientasi ke tempat pembakaran lama bermakna sejarah. Pelestariannya dengan mempertahankan prinsip tata ruang terbuka dan orientasinya. Aktivitas Pusat Wisata Gerabah ini bermakna sejarah, budaya dan alam lokal. Pelestariannya, aktivitas warisan dipertahankan seperti semula, dan aktivitas masa kini diadaptasi terhadap tuntutan zaman.Kata Kunci: Bentuk, tata-ruang, sosok, fungsi, preservasi
KAJIAN SPASIAL AKSESIBILITAS KAWASAN PERBELANJAAN MENGGUNAKAN ANALISIS SPACE SYNTAX Wijaya, Karto; Ananda, Erfina Putri; Soekardi, Rahy R; Nurrohman, Faun
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v8i4.3891

Abstract

Abstract: Rapid urban growth and changes in people's lifestyle patterns have a significant impact on the dynamics of accessibility in shopping areas. Shopping centers and business areas are very crucial elements in meeting consumer needs. This study is related to the spatial study of accessibility of shopping areas in Kebon Jeruk Village, Bandung City, using space syntax analysis. The approach used in this study is quantitative and carried out spatially, where the method utilizes Space Syntax software. Intelligibility analysis or clarity value shows a significant relationship between connectivity and integrity. A space will be more easily recognized if it has a strong relationship between the two variables. The results of the analysis using the space syntax method show that the intelligibility value in the spatial configuration in the Kebon Jeruk Village Shopping Area reflects a high level of connectivity, especially focused on main routes such as Jalan Pasir Kaliki and Gardujati. The R² value of the road network in Kebon Jeruk Village is 0.709084, which indicates a moderate correlation and is approaching strong because it is approaching 1. With connectivity as the x variable and integration as the y variable, the intelligibility value is approaching strong, meaning a very good level of proximity to other spaces.Keyword: Accessibility, Urban Spatial Pattern, Space SyntaxAbstrak: Pertumbuhan pesat perkotaan dan perubahan pola gaya hidup masyarakat membawa dampak signifikan terhadap dinamika aksesibilitas di kawasan perbelanjaan. Pusat perbelanjaan dan kawasan bisnis menjadi elemen yang sangat krusial dalam memenuhi kebutuhan konsumen. Studi ini terkait dengan kajian spasial aksesibilitas kawasan perbelanjaan di Kelurahan Kebon Jeruk, Kota Bandung, menggunakan analisis space syntax. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kuantitatif dan dilakukan secara spasial, dimana metodenya memanfaatkan perangkat lunak Space Syntax. Analisis Intelligibility atau nilai kejelasan memperlihatkan relasi yang signifikan antara connectivity dan integrity. Sebuah ruang akan lebih mudah dikenali apabila memiliki keterkaitan yang kuat dari kedua variabel tersebut. Hasil analisis menggunakan metode space syntax menunjukkan bahwa nilai intelligibility pada konfigurasi ruang di Kawasan Perbelanjaan Kelurahan Kebon Jeruk mencerminkan tingkat konektivitas yang tinggi, terutama terfokus pada jalur-jalur utama seperti Jalan Pasir Kaliki dan Gardujati. Nilai R² jaringan jalan di Kelurahan Kebon Jeruk yaitu 0,709084 yang mengindikasikan adanya kolerasi yang sedang dan menuju ke kuat karna mendekati 1. Dengan konektivitas sebagai variabel x dan integrasi sebagai variabel y, nilai intelligibility yang sedang menuju ke kuat, memiliki makna tingkat kedekatan yang sangat baik ke ruang – ruang lainnya.Kata Kunci: Aksebilitas, Pola Ruang Kota, Space Sintax
KAJIAN SPASIAL PADA SISTEM KEKERABATAN MATRILINEAL MASYARAKAT MINANGKABAU NAGARI KOTO BARU DALAM RUMAH GADANG Putri, Giska Sari Yulia
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i1.3963

Abstract

Sistem kekerabatan matrilineal menggambarkan realitas sosial, budaya masyarakat Minangkabau. Salah satu ciri dari sistem kekerabatan matrilineal adalah Rumah gadang. Rumah Gadang merupakan representasi budaya masyarakat Minangkabau. Rumah gadang memiliki tata ruang yang dirancang untuk mencerminkan hierarki dan fungsi sosial, dengan beberapa area khusus untuk perempuan yang hidup di dalamnya. Nagari Koto Baru merupakan sebuah wilayah yang masih memuat banyak bangunan Rumah Gadang. Namun tradisi sistem matrilineal dalam pelestarian Rumah Gadang secara fisik dan non fisik terganggu karena adanya urbanisasi, modernisasi dan perubahan gaya hidup. Tercatat 12 Rumah gadang yang beralih fungsi menjadi homestay. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji tentang ruang arsitektur yang terbentuk dari sistem kekerabatan Matrilineal pada Rumah Gadang masyarakat Minangkabau di Nagari Koto Baru. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan cara pengamatan langsung ke lapangan,  wawancara, dan dokumentasi berupa gambar dan sketsa denah rumah. Hasil penelitian menunjukkan Rumah Gadang yang beralih fungsi menjadi homestay mengubah aspek fisik dan non fisik secara keseluruhan di Rumah Gadang. Peralihan fungsi membuat peran pewaris melestarikan Rumah Gadang untuk tujuan wisata saja. Sedangkan pewaris Rumah Gadang rakyat Kampai masih menjadikan sistem kekerabatan matrilineal untuk melestarikan Rumah Gadang termasuk sosial budaya yang terjadi di dalam Rumah Gadang itu sendiri.
Efektivitas Desain Rumah Deret Perbaikan Lingkungan Permukiman Manggarai Berdasarkan Arsitektur Perilaku kusuma, irine nur sabrina; Budi Sudarwanto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i1.3990

Abstract

Abstract: Urbanization with unbalanced population and economic growth is the main factor of slums creation. These slums are characterized by inadequate provision of basic infrastructure and public services, and must be improved. Through the housing and infrastructure and utility improvement program, the Government expects improvements, construction of habitable houses in the form of row houses, by arranging the order of buildings and the environment. The target is the indicative location of Manggarai Jakarta, which is generally known as an area that mostly doesn’t meet the indicators of a habitable house and is located in a densely populated slum area. In order for the improvement program to run effectively, the design needs to be adjusted to the behavior and identity of its residents. This study aim of identifying attributes that affect the comfort of housing. Using a qualitative approach to the behavioral setting architectural method, this study maps the activities of residents in their homes and their environment, allowing visualization of resident behavior patterns with spatial functions, design, and environmental atmosphere. The results of this study are expected to provide recommendations for residential designs that create a more humane, healthier, more conducive and effective residential environment, and able to answer the problems of slums in Manggarai, also contribute to development of architectural science, especially the row housing designs. Keyword: Row House Housing, Spatial Planning, Behavioral Architecture, Manggarai Jakarta Settlement Abstrak: Urbanisasi dengan perkembangan jumlah penduduk dan ekonomi tak seimbang menjadi faktor utama terciptanya permukiman kumuh. Permukiman kumuh ini ditandai dengan tidak memadainya penyediaan infrastruktur dasar, juga layanan publik, dan harus dibenahi. Melalui program perbaikan rumah dan prasarana sarana dan utilitas, Pemerintah mengharapkan perbaikan, pembangunan rumah layak huni berupa rumah deret, dengan menata keteraturan bangunan dan lingkungan. Sasarannya pada lokasi indikatif Manggarai Jakarta yang secara umum area ini dikenal mayoritas tidak memenuhi indikator Rumah Layak Huni dan berada pada kawasan permukiman kumuh padat penduduk. Agar program pembenahan berjalan efektif, desain hunian perlu menyesuaikan dengan perilaku serta identitas warganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi atribut yang mempengaruhi kenyamanan hunian. Menggunakan pendekatan kualitatif metode arsitektur setting perilaku, penelitian ini memetakan aktivitas warga dalam hunian serta lingkungannya, memungkinkan visualisasi pola perilaku warga dengan fungsi ruang, desain, dan lingkungan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi desain hunian yang menciptakan lingkungan permukiman yang lebih manusiawi, menjadi lebih sehat, kondusif juga efektif, dan mampu menjawab permasalahan permukiman kumuh di Manggarai, juga dapat berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan arsitektur, terutama pengembangan desain hunian permukiman deret. Kata Kunci: Hunian Rumah Deret, Tata Ruang, Arsitektur Perilaku, Permukiman Manggarai Jakarta
KORELASI FAKTOR FISIK RUANG PUBLIK DENGAN PERSEPSI TEMPAT KETIGA (THIRD PLACE) BAGI GENERASI Y DAN Z: STUDI KASUS: Generasi Y dan Z di Wilayah Denpasar - Badung susanti, ardina; Ida Ayu, Shanty Pradnya Paramitha
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i1.3993

Abstract

Abstract: Variation and characteristics of third places can change and develop according to user needs and activities. So that, one of the third place concepts is unstructured, and can adapts the social interaction needs of the humans who use it. Therefore, this research aims to further examine the characteristics of public spaces that can meet the needs of a third place for the young productive population, namely generation Y and generation Z in Indonesia. This research will focus on examining the characteristics of the third place of generations Y and Z in Bali, especially in the Denpasar - Badung area. The data collection method was obtained through a questionnaire, and 119 respondents' answers were obtained which were in accordance with the sampling criteria. The results of this questionnaire will be a reference for selecting further observation objects The perceptual data from respondents was then analyzed for correlation with the physical characteristics of the objects of observation, and the results showed that the factors adequacy of seating, diversity of accommodation, environmental temperature, permeability of facades, and personalization of seating areas were physical factors of public space that were strongly correlated with perceptions of third places. Keyword: Physical factors, Public space, Third place Abstrak: Variasi dan karakteristik tempat ketiga dapat berubah dan berkembang sesuai dengan perubahan kebutuhan dan aktivitas dari penggunanya. Salah satu konsep dari tempat ketiga adalah memiliki karakter yang tidak terstruktur, dan menyesuaikan dengan kebutuhan interaksi sosial dari manusia yang menggunakannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk dapat mengkaji karakteristik ruang publik dapat memenuhi kebutuhan tempat ketiga bagi penduduk usia muda produktif yaitu generasi Y dan generasi Z di Indonesia lebih lanjut. Penelitian ini akan memfokuskan untuk meneliti karakteristik tempat ketiga dari generasi Y dan Z di Bali, khususnya pada wilayah Denpasar – Badung. Metode pengumpulan data diperoleh melalui kuisioner, dan didapatkan 119 jawaban responden yang sesuai dengan kriteria sampling. Hasil kuisioner ini akan menjadi acuan pemilihan obyek observasi selanjutnya. Data perseptual dari responden kemudian dianalisis korelasinya dengan karakter fisik obyek observasi, dan hasil yang ditunjukkan bahwa faktor ketercukupan tempat duduk, keberagaman akomodasi, temperatur lingkungan, permeabilitas fasad, dan personalisasi area duduk menjadi faktor fisik ruang publik yang berkorelasi kuat dengan persepsi tempat ketiga Kata Kunci: Faktor fisik, Ruang publik, Tempat ketiga
PENERAPAN INCLUSIVE ARCHITECTURE PADA YAYASAN PEMBINAAN ANAK CACAT (YPAC) SURABAYA Mardiandra, Stella Putri
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i1.3999

Abstract

Abstract: Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Surabaya is an educational facility for children with cerebral palsy. Cerebral palsy is a permanent disorder that attacks their brain and affects the motor system, causing limited activity and dependence on the help of other individuals. For now, the number of cerebral palsy is increasing, so that standards for educational need to be considered. Therefore, it is necessary to conduct research completeness of facilities and accessibility at YPAC Surabaya. The research was conducted with a qualitative descriptive method, by conducting a literature search, field observations, facility measurements, and interviews with an inclusive architecture. Inclusive architecture’s aspect, involve equality, accessibility, flexibility, measurability, and ease of understanding. The results showed that YPAC Surabaya has several facilities that are suitable and several facilities that require improvement and need to be improved, such as ramps, toilets, signs that aren’t accordance with inclusive architecture standards. This research emphasizes the importance of implementing inclusive architecture to create more inclusive and usable learning environment for people with cerebal palsy. With the results of this evaluation, it is expected to improve the quality of life of children with cerebral palsy, so as to achieve equality, ease of access, comfort, and safety for users. Keyword: Cerebral Palsy, Inclusive Architecture Abstrak: Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Surabaya merupakan fasilitas pendidikan bagi anak-anak penyandang cerebral palsy. Cerebral palsy merupakan gangguan permanen yang menyerang otak dan berpengaruh pada sistem motoriknya sehingga menyebabkan keterbatasan aktivitasnya dan bergantung pada bantuan individu lain. Saat ini, jumlah penyandang cerebral palsy semakin meningkat sehingga standar terhadap kebutuhan pendidikan juga perlu diperhatikan. Maka, perlunya penelitian terhadap fasilitas dan aksesibilitas pada YPAC Surabaya. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif, dengan melakukan pencarian studi litelatur, observasi lapangan, pengukuran fasilitas, dan wawancara terhadap pengajar dan kepala sekolah YPAC Surabaya dengan pendekatan inclusive architecture. Aspek inclusive architecture, yaitu kesetaraan, aksesibilitas, fleksibilitas, keterukuran, dan kemudahan pemahaman. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa YPAC Surabaya memiliki beberapa fasilitas yang sesuai dan memerlukan perbaikan dan perlu ditingkatkan, seperti ramp, toilet, rambu pemandu yang masih belum sesuai dengan standar inclusive architecture. Penelitian ini menekankan pentingnya penerapan inclusive architecture untuk mewujudkan lingkup belajar yang lebih inklusif dan dapat digunakan bagi penyandang cerebal palsy. Dengan hasil evaluasi ini, diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup anak-anak cerebral palsy, sehingga dapat mencapai kesetaran, kemudahan, kenyamanan, dan keamanan. Kata Kunci: Cerebral Palsy, Inclusive Architecture
EVALUASI RUANG TERAPI SENSORI INTEGRASI BERDASARKAN KARAKTERISTIK HIPOVISUAL DAN HIPERVISUAL PADA ANAK AUTIS Rosyid, Iffat Rifdah; Rachma Marcillia, Syam
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i1.4025

Abstract

Abstract: The increasing prevalence of autistic children globally, including in Indonesia, has highlighted the need for effective therapeutic environments, particularly sensory integration therapy spaces. These spaces play an essential role in supporting the development of autistic children by meeting their unique sensory needs. This study aims to compare the spatial characteristics of existing sensory integration therapy spaces with ideal design criteria, focusing on visual stimuli, which significantly impact the emotions, behaviors, and therapeutic outcomes of autistic children. This study used a comparative method to analyze two therapy sites, namely SLBS Mitra Ananda and Puspa Holistic Integrative Care, focusing on eleven design variables related to visual aspects. Findings showed significant differences in the design and functionality of the two spaces, with one space leaning towards a more open and visually stimulating environment. In contrast, the other space emphasized containment and controlled sensory input. The study concludes that while both sites meet some of the criteria for sensory integration therapy, there is a notable gap in achieving an optimal design that fully supports the sensory needs of children with autism. This research contributes on designing therapy spaces that meet the specific needs of autistic individuals in improving their quality and therapy outcomes. Keyword: Autism spectrum disorder, sensory dysfunctions, spatial design Abstrak: Meningkatnya prevalensi kelahiran anak autis secara global, termasuk di Indonesia, telah menyoroti kebutuhan akan lingkungan terapi yang efektif, khususnya ruang terapi integrasi sensori. Ruang ini memainkan peran penting dalam mendukung perkembangan anak-anak autis dengan memenuhi kebutuhan sensorik mereka yang unik. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik spasial ruang terapi integrasi sensori yang ada dengan kriteria desain yang ideal, dengan fokus pada rangsangan visual, yang secara signifikan berdampak pada emosi, perilaku, dan hasil terapi anak-anak autis. Penelitian ini menggunakan metode komparasi untuk menganalisis dua lokasi terapi, yaitu SLBS Mitra Ananda dan Puspa Holistic Integrative Care, dengan fokus pada sebelas variabel desain yang terkait dengan aspek visual. Temuan menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam desain dan fungsionalitas kedua ruang, dengan satu ruang yang condong ke arah lingkungan yang lebih terbuka dan merangsang secara visual, sementara ruang lainnya menekankan pada penahanan dan input sensorik yang terkendali. Studi ini menyimpulkan bahwa meskipun kedua lokasi memenuhi beberapa kriteria untuk terapi integrasi sensori, terdapat kesenjangan yang mencolok dalam mencapai desain optimal yang sepenuhnya mendukung kebutuhan sensorik anak autis. Penelitian ini berkontribusi pada wacana yang sedang berlangsung tentang merancang ruang terapi yang memenuhi kebutuhan spesifik individu autis dalam meningkatkan kualitas dan hasil terapi. Kata Kunci: Gangguan spektrum autisme, Disfungsi sensori, Desain spasial ruang
KAJIAN KONSEP HEALING THERAPEUTIC ARCHITECTURE PADA BALAI BESAR REHABILITASI NARKOBA BNN LIDO BOGOR Arsitama, Albitya Helmi; Paryoko, Vijar Galax Putra Jagat
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i1.4031

Abstract

Abstract: Drug abuse has become a serious problem in Indonesia and even around the world, with the number of addicts continuing to rise. In the period 2021 to 2023, approximately 3.3 million people in Indonesia were involved in drug abuse. One of the main causes of this phenomenon is the lack of adequate drug rehabilitation facilities in Indonesia. Most rehabilitation facilities in Indonesia only offer active detoxification of the body or medical rehabilitation, often neglecting the passive healing aspects that involve the soul and psychological awareness with the building or surrounding environment as referred to in the concept of healing therapeutic architecture. Based on this background, this research aims to examine whether the BNN Lido Drug Rehabilitation Center, which acts as a standard reference for the provision of drug rehabilitation facilities in Indonesia, has applied the principles of healing therapeutic architecture. This research uses a qualitative method with descriptive analysis. Data collection is done through literature study or secondary data. The analysis was conducted using Chrysikou's healing therapeutic architecture principles approach, resulting in the BNN Lido Drug Rehabilitation Center applying the concept including care in community, design for domesticity, social valorization, and integrated with nature. However, the application of the principle of using natural materials is still lacking. Keywords: healing therapeutic architecture, rehabilitation, drug abuse, facilities, psychology. Abstrak: Penyalahgunaan narkoba telah menjadi masalah serius di Indonesia bahkan di seluruh dunia, dengan jumlah pecandu yang terus meningkat. Pada periode 2021 hingga 2023, sekitar 3,3 juta orang di Indonesia terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. Salah satu penyebab utama fenomena ini adalah kurangnya fasilitas rehabilitasi narkoba yang memadai di Indonesia. Sebagian besar fasilitas rehabilitasi di Indonesia hanya menawarkan detoksifikasi tubuh secara aktif atau rehabilitasi medis, seringkali mengabaikan aspek penyembuhan pasif yang melibatkan jiwa dan kesadaran psikologis dengan bangunan atau lingkungan sekitar sebagaimana disebut dalam konsep healing therapeutic architecture. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji apakah Balai Besar Rehabilitasi Narkoba BNN Lido yang berperan sebagai acuan standar penyediaan fasilitas rehabilitasi narkoba di Indonesia telah menerapkan prinsip healing therapeutic architecture. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur atau data sekunder. Analisis dilakukan dengan pendekatan prinsip healing therapeutic architecture dari Chrysikou, menghasilkan bahwa Balai Besar Rehabilitasi Narkoba BNN Lido menerapkan konsep tersebut meliputi care in community, design for domesticity, social valorization, dan integrated with nature. Namun, penerapan prinsip penggunaan material alami masih sangat kurang. Kata Kunci: healing therapeutic architecture, rehabilitasi, penyalahgunaan narkoba, fasilitas, psikologis.  

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025 Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025 Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2025 Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024 Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024 Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024 Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2024 Vol 7 No 4 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2023 Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023 Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2023 Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023 Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022 Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022 Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022 Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021 Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2021 Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021 Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020 Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020 Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020 Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019 Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019 Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019 Vol 2 No 3 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2018 Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2018 Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2018 Vol 1 No 2 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2017 Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2017 More Issue