cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
jurnalarsitekturarcade@gmail.com
Phone
+6281220697972
Journal Mail Official
kartowijaya@ukri.ac.id
Editorial Address
Jln. Terusan Halimun No.37 (Pelajar Pejuang 45) Bandung 40263, Jawa Barat, Indonesia (+62) 22-7301987
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : 10.31848
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur Arcade is Open Journal System published by Prodi Architecture (UKRI) in 2023 has migrated to the link: https://e-journal.ukri.ac.id/arcade. This journal is a means of research publications that concentrate on the study of architecture to accommodate authors interested in the field of heritage architecture, built environment, urban design, housing and settlement, Building Technology, Interior Design. Jurnal Arsitektur Arcade was published for the first time in 2017 for its e-ISSN 2597-3746 (Online) and p-ISSN 2580-8613 (Print) publications which are published 3 times a year in March, July and November. The Editorial Board of Jurnal Arsitektur ARCADEÂ starting in 2023 publishes an e-ISSN 2597-3746 (Online) edition which will be published every 3 months, namely in March, June, September and December each year.
Articles 448 Documents
TRANSFORMASI ARSITEKTUR VERNAKULAR BALI AGA (STUDI KASUS: BALE GAJAH TUMPANG SALU DI DESA SIDETAPA, KABUPATEN BULELENG, BALI) wijaya, ryan; Irayani, Ni Putu Yesi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i3.4245

Abstract

Abstract: This study explores the transformation of Bali Aga vernacular architecture in Sidetapa Village, Buleleng Regency, focusing on Bale Gajah Tumpang Salu as a representative traditional house with high historical, spiritual, and socio-cultural value. The vernacular architecture in this village reflects the community’s adaptation to environmental conditions, local cosmology, and evolving social dynamics. Using a qualitative approach and a case study method, the research examines changes in form, materials, and building functions influenced by modernization and contemporary functional needs. Findings reveal that despite significant changes in building orientation, the use of modern materials, and the addition of functional spaces such as kitchens and bathrooms, the people of Sidetapa strive to preserve the core values of their traditional houses. Sacred spaces, internal wooden structures, and symbolic elements like selepitan and jaro are still maintained. Furthermore, traditional houses serve economic functions, such as the production of bamboo crafts, which remain the primary livelihood for many residents. This study highlights the importance of preserving vernacular architecture as a dynamic expression of cultural identity. Conservation strategies that balance modern needs with traditional values are essential to ensuring the continuity of Bali Aga cultural heritage amid changing times. Keyword: Vernacular Architecture, Bali Aga, Sidetapa Village, Gajah Tumpang Salu, Traditional House Transformation Abstrak: Penelitian ini membahas transformasi arsitektur vernakular Bali Aga di Desa Sidetapa, Kabupaten Buleleng, dengan fokus pada Bale Gajah Tumpang Salu sebagai representasi rumah adat yang memiliki nilai historis, spiritual, dan sosial budaya tinggi. Arsitektur vernakular di desa ini mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap kondisi lingkungan, kosmologi lokal, serta dinamika sosial yang terus berkembang. Dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, penelitian ini mengeksplorasi perubahan bentuk, material, dan fungsi bangunan tradisional akibat pengaruh modernisasi dan kebutuhan fungsional masa kini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terjadi perubahan signifikan dalam orientasi bangunan, penggunaan material modern, dan penambahan ruang fungsional seperti dapur dan kamar mandi, masyarakat Sidetapa tetap berupaya mempertahankan nilai-nilai inti rumah adat mereka. Ruang-ruang suci, struktur kayu dalam, serta elemen-elemen simbolik seperti selepitan dan jaro masih dijaga eksistensinya. Selain itu, rumah adat juga berperan dalam aktivitas ekonomi seperti produksi kerajinan bambu yang menjadi mata pencaharian utama warga. Penelitian ini menegaskan pentingnya pelestarian arsitektur vernakular sebagai wujud identitas budaya yang dinamis. Strategi pelestarian yang mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan modern dan nilai tradisional menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya Bali Aga di tengah perubahan zaman. Kata Kunci: Arsitektur Vernakular, Bali Aga, Desa Sidetapa, Gajah Tumpang Salu, Transformasi Rumah Adat  
Analisa Efisiensi Strategi Penerapan Konsep Green Building dalam Desain Bangunan Perpustakaan Universitas Indonesia Ashari, Muhammad Fauzan; Zakariya, Afif Fajar
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i3.4247

Abstract

Abstract: The library, as a learning center, plays a crucial role in providing information and serving as a model for sustainable architectural development. Libraries often consume a significant amount of energy for lighting, cooling, and other equipment, increasing carbon emissions and negative environmental impacts. In this context, the green building concept at the University of Indonesia Library is highly relevant. This study examines the application of this concept in the library's design, focusing on strategy efficiency. The method involves literature analysis and case studies. Data was obtained through literature searches on green building concepts in library design and a case study at the University of Indonesia Library. The research aims to elaborate on strategies for applying the green building concept to the library's design using Greenship for New Buildings Version 1.2 by the Green Building Council Indonesia (GBCI). Results show that implementing the green building concept can significantly reduce environmental impacts through the use of eco-friendly materials, optimization of natural lighting and ventilation, efficient water and energy management, and integration of green open spaces. This research is expected to provide insights into developing library designs that meet user needs while minimizing environmental footprints, contributing to sustainable development. Keyword: Green Building, Library, Sustainable Abstrak: Perpustakaan sebagai pusat pembelajaran memiliki peran penting dalam penyediaan informasi dan sebagai model praktik pembangunan arsitektur berkelanjutan. Perpustakaan sering mengonsumsi banyak energi untuk pencahayaan, pendingin ruangan, dan peralatan lainnya, yang meningkatkan emisi karbon dan dampak negatif pada lingkungan. Dalam konteks ini, konsep green building pada perpustakaan Universitas Indonesia menjadi sangat relevan. Penelitian ini mengkaji penerapan konsep green building dalam desain bangunan perpustakaan Universitas Indonesia dengan fokus pada efisiensi strategi yang digunakan. Metode yang digunakan adalah analisis literatur dan studi kasus. Data diperoleh melalui penelusuran literatur tentang konsep green building dalam desain perpustakaan dan studi kasus pada perpustakaan Universitas Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah menyusun strategi penerapan konsep green building pada perancangan gedung perpustakaan Universitas Indonesia dengan menggunakan panduan Greenship untuk Bangunan Baru Versi 1.2 yang dibuat oleh Green Building Council Indonesia (GBCI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan konsep green building dapat secara signifikan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan melalui penggunaan material ramah lingkungan, optimalisasi pencahayaan dan ventilasi alami, efisiensi pengelolaan air dan energi, serta integrasi ruang terbuka hijau. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru mengenai pengembangan desain perpustakaan yang mendukung kebutuhan pengguna dan meminimalkan jejak lingkungan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Kata Kunci: Green Building, Perpustakaan, Berkelanjutan
Penerapan Zonasi Vastu Citra Pada Perancangan Pusat Kesenian Wayang Tradisional Di Bali Mboro, Tegar Septian; Mbake, Imanuel N.; Hardy, I Gusti Ngurah Wiras
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i3.4248

Abstract

Abstract:Traditional Balinese wayang, as a cultural heritage, faces the threat of extinction due to digitalization. This research proposes the design of a Wayang Arts Center in Pantai Lembang, Gianyar, as a medium for preserving the artistic meaning through an architectural metaphor approach, utilizing the natural beach lighting as a visual manifestation of "Suryangkara." The methodology begins with field observation, case studies, and secondary data analysis to identify design needs. Based on these findings, the design concept integrates three core principles: Transfer of Illumination, which transforms the philosophy of the cakra into the Vastu Citra structure; Subjective Perception, which creates a dual-stage interpreted as either Kayon (tree of life) or Ajna Chakra (eye of wisdom) depending on the viewer’s perspective; and Hybridization through QR codes embedded in cultural artifacts. This approach is synthesized with Vastu Citra zoning based on Nawa Sanga, linking deity-chakra associations and prana flows, and placing an open stage at the Brahmasthan as a cosmic axis. The result is a symbolic building serving as a space for the "rebirth" of wayang, where the integration of metaphor and Vastu Citra creates a functional space that also acts as a medium for cultural storytelling. The implication offers a locally rooted and adaptive design model for preserving traditional arts in the digital era. Keyword: Balinese wayang, metaphorical architecture, Vastu Citra, arts center, Suryangkara, chakra.  Abstrak: Wayang tradisional Bali sebagai warisan budaya menghadapi tantangan kepunahan akibat digitalisasi. Penelitian ini merancang Pusat Kesenian Wayang di Pantai Lembang, Gianyar, sebagai sarana pelestarian makna seni melalui pendekatan metafora arsitektur dengan memanfaatkan pencahayaan alami pantai sebagai manifestasi visual "Suryangkara". Metode diawali observasi lapangan, studi kasus, dan analisis data sekunder untuk mengidentifikasi kebutuhan desain. Berdasarkan temuan tersebut, konsep desain mengintegrasikan tiga prinsip kunci: (1) Transfer Keterangan mentransformasikan filosofi cakra ke dalam struktur Vastu Citra; (2) Persepsi Subjektif menciptakan panggung ganda yang dibaca sebagai Kayon (pohon kehidupan) atau Cakra Ajna (mata kebijaksanaan) bergantung perspektif pengamat; (3) Hibriditas melalui QR code pada artefak budaya. Pendekatan ini disinergikan dengan zonasi Vastu Citra berbasis Nawa Sanga yang menghubungkan asosiasi dewa-cakra dan aliran prana, serta menempatkan open stage di Brahmasthan sebagai poros kosmis. Hasilnya adalah bangunan simbolis sebagai ruang "kelahiran kembali" wayang, di mana integrasi metafora-Vastu Citra menciptakan ruang fungsional sekaligus medium narasi budaya. Implikasinya menawarkan model desain berbasis kearifan lokal yang adaptif untuk pelestarian kesenian tradisional di era digital Kata Kunci: wayang Bali, Metafora Arsitektur, Vastu Citra, Pusat Kesenian,  Suryangkara, cakra.  
Penerapan Pendekatan Arsitektur Biomimetik Pada Perancangan Botanical Tropicarum di Kota Kupang Djaga, Maria Angelika; Hardy, I Gusti Ngurah Wiras; Manu, Ariency Kale Ada
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i3.4263

Abstract

Abstract:The Botanical Tropicarium is a place with high biodiversity, facing challenges related to the scarcity of endangered endemic flora species, especially in East Nusa Tenggara. This design not only provides an ex-situ conservation area, but also provides a place for education, recreation, and research. In response to this, a biomimetic architectural approach is applied in this design with the aim of imitating natural systems and a building structure that is extensive and adaptive to meet the needs of various types of plants with different habitat conditions. Biomimetic focuses on natural attributes, inspired by the shape of the leaves and branches of sandalwood trees, which are typical flora of East Nusa Tenggara, while applying open-close technology in the botanical dome building to control temperature, humidity, and air circulation within the dome. In an effort to present a spatial experience that is at one with nature, the design prioritizes the principles of sustainability and nature-based education. Keyword: Botanical Tropicarium, Biomimetic, Kupang, East Nusa Tenggara, Biodiversity, Conservation, Endemic Flora Abstrak: Botanical Tropicarium merupakan tempat dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, dalam menghadapi tantangan terkait kelangkaan spesies flora endemik yang terancam punah, terkhususnya di Nusa Tenggara Timur. Perancangan ini tidak hanya menyediakan tempat konservasi ex-sittu, namun juga menyediakan tempat sebagai sarana edukasi, rekreasi dan penelitian. Menanggapi hal tersebut, pendekatan arsitektur biomimetik diterapkan delam perancangan ini dengan tujuan meniru sistem alami dan struktur bangunan yang luas serta adaptif untuk memenuhi kebutuhan berbagai jenis tanaman dengan kondisi habitat yang berbeda. Biomimetik berfokus pada atribut alami, yang terinspirasi dari bentuk daun dan percabangan pohon cendana, yang merupakan flora khas Nusa Tenggara Timur, sekaligus menerapkan teknologi buka tutup pada bangunan dome botanical untuk pengendalian suhu, kelembapan dan sirkulasi udara dalam dome. Sebagai upaya menghadirkan pengalaman ruang yang menyatu dengan alam, perancangan mengedepankan prinsip keberlanjutan dan edukasi berbasis alam.   Kata Kunci: Botanical Tropicarium, Biomimetik, Ex-Situ, Nusa Tenggara Timur, Keanekaraaman Hayati, Konservasi, Flora Endemik 
Adaptasi Permukiman Berkelanjutan Di Daerah Banjir Rob: Studi Kasus Di Kelurahan Panjang Baru Pekalongan Rahardjo, Pudji Teguh; Suzanna Ratih Sari
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i3.4264

Abstract

Abstract: Panjang Baru Village in Pekalongan City is one of the coastal areas affected by tidal flooding. This condition has a direct impact on the quality of life of the community and the sustainability of settlements in the area. This study aims to identify sustainable settlement adaptations implemented by local communities in facing the risk of tidal flooding. The method used is a descriptive qualitative approach, with primary data collection through field observations, in-depth interviews, and documentation, as well as secondary data from literature reviews and local government data. The results show that the community developed various forms of individual and communal environmental, economic and cultural adaptations, such as house repairs, road and water channel repairs, the use of waterproof building materials, independent drainage systems, and strengthening community social networks. In addition, the role of local government in supporting these adaptation efforts is to build tidal embankments, repair roads and water channels, procurement of large-capacity water pumps and also through settlement planning programs and disaster education. This study concludes that participatory and locally based settlement adaptation is key to realizing environmental resilience and sustainability in disaster-prone coastal areas. Keywords: adaptation, sustainable settlement, tidal flooding, coastal areas, Pekalongan Abstrak: Kelurahan Panjang Baru di Kota Pekalongan merupakan salah satu kawasan pesisir yang terdampak banjir rob. Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat serta keberlanjutan permukiman di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adaptasi permukiman berkelanjutan yang diterapkan oleh masyarakat lokal dalam menghadapi risiko banjir rob. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data primer melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi, serta data sekunder dari kajian literatur dan data pemerintah setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat mengembangkan berbagai bentuk adaptasi individu dan komunal lingkungan, ekonomi dan budaya, seperti perbaikan bangunan rumah, perbaikan jalan dan saluran air, penggunaan material bangunan tahan air, sistem drainase mandiri, serta penguatan jaringan sosial komunitas. Selain itu, peran pemerintah daerah dalam mendukung upaya adaptasi tersebut adalah membangun tanggul rob, perbaikan jalan dan saluran air, pengadaan pompa air berkapasitas besar dan juga melalui program penataan permukiman dan edukasi kebencanaan. Studi ini menyimpulkan bahwa adaptasi permukiman yang partisipatif dan berbasis lokal merupakan kunci dalam mewujudkan ketahanan lingkungan dan keberlanjutan kawasan pesisir yang rawan bencana. Kata kunci: adaptasi, permukiman berkelanjutan, banjir rob, pesisir, Pekalongan
A KAJIAN PRINSIP DESAIN ECO-CULTURE PADA BANGUNAN EDUCATIONAL CRAFTS CENTER DI KOTA SOLO Eo, Raimundus; Bahantwelu, Marianus; Mbake, Imanuel N.
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i3.4268

Abstract

Abstract:The Eco-culture approach is an approach that considers natural conditions and local culture so that it becomes a combination of ecological and cultural approaches. In its application, the Eco-culture approach has 5 main principles that form the basis of design and development. This research aims to examine and explore the application of the 5 main principles in the Educational Crafts Center building. The method used in this research is descriptive qualitative. The results show that the 5 main principles of the Eco-culture approach are Image of Space (applying the shape of the building mass as a representation of the roof shape of a joglo house); Source of Environmental Knowledge (applying sensory experience through light and air conditioning elements); Building Image (using solo batik elements in building design); Technologies (representation and modification of the joglo house construction structure and the use of local materials); and Idealized Concept of Place (applying the concept of joglo house arrangement to the arrangement of building spaces starting from Pendopo as Lobby, Dalem as exhibition space, Senthong Kiwa as management office, Senthong Tengah as craftsman retail, Shentong Tengen as educational studio and library, Gandhok as Food Court). Keywords: Educational Crafts Center, Eco-Culture, Solo City Abstrak:Pendekatan Eco-culture merupakan pendekatan yang mempertimbangkan keadaan alam dan budaya setempat sehingga menjadi perpaduan antara pendekatan ekologi dan budaya. Dalam penerapannya, pendekatan Eco-culture memiliki 5 prinsip utama yang menjadi dasar perancangan dan pengembangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mengeksplorasi bagaimana penerapan 5 prinsip utama tersebut pada bangunan Educational Crafts Center. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 5 prinsip utama dari pendekatan Eco-culture yaitu Image of Space (menerapkan bentuk massa bangunan hasil representasi dari bentuk atap rumah joglo); Source of Environmental Knowledge (menerapkan pengalaman sensorik melalui elemen cahaya dan penghawaan); Building Image (menggunakan unsur batik solo dalam desain bangunan); Technologies (representasi dan modifikasi struktur konstruksi rumah joglo dan penggunaan material lokal); serta Idealized Concept of Place (menerapkan konsep penataan rumah joglo pada penataan ruang bangunan berawal dari Pendopo sebagai Lobby, Dalem sebagai ruang pameran, Senthong Kiwa sebagai kantor pengelola, Senthong Tengah sebagai retail pengrajin, Shentong Tengen sebagai studio edukasi dan perpustakaan, Gandhok sebagai Food Court). Kata Kunci: Educational Crafts Center, Eco-Culture, Kota Solo  
Pengaruh Gaya Hidup urban Terhadap Desain Arsitektur Pusat Perbelanjaan Dalam Aspek Budaya Konsumtif -, Elang Ilham muchamad; sudarwanto, Budi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i3.4273

Abstract

Abstract: The impact of urban lifestyles on the architectural design of shopping centers in Semarang, focusing on consumerist cultural patterns through case studies of Uptown Mall, Paragon Mall, The Park Mall, and Queen City Mall. In the context of a fast-paced and consumption-oriented urban society, shopping malls have evolved beyond their commercial function to become social, recreational, and lifestyle spaces. Architectural design is therefore required to be adaptive, integrating aesthetics, comfort, and functionality to meet diverse user needs. Elements such as modern interiors, communal spaces, and entertainment facilities are essential in attracting visitors and shaping urban social identity. The findings highlight that urban lifestyles significantly influence consumer preferences, with architectural quality playing a vital role in both the appeal and sustainability of malls. This research offers a valuable reference for future shopping center development, particularly in rapidly urbanizing cities. Keyword: Urban Lifestyle, Shoping Center, architecture,consumerism Abstrak: Pengaruh gaya hidup urban terhadap desain arsitektur pusat perbelanjaan di Kota Semarang lalu di kaji dalam budaya konsumtif pada gaya hidup urban  melalui studi kasus empat mall: Uptown Mall, Paragon Mall, The Park Mall, dan Queen City Mall. Dalam masyarakat urban yang konsumtif dan dinamis, Pusat perbelanjaan kini berperan tidak hanya sebagai lokasi transaksi ekonomi, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial, sarana hiburan, serta representasi gaya hidup. Oleh karena itu, desain arsitektur mall harus bersifat fleksibel, memadukan estetika, kenyamanan, dan fungsi yang mendukung beragam aktivitas pengunjung.. Desain interior yang modern, ruang komunal yang nyaman, serta fasilitas hiburan yang lengkap menjadi faktor penting dalam menarik minat masyarakat. Mall juga menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat urban, sehingga peran desain sangat penting dalam menciptakan pengalaman ruang yang berkesan. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa gaya hidup urban sangat memengaruhi preferensi masyarakat terhadap pusat perbelanjaan, dan keberhasilan desain arsitektur berkontribusi besar terhadap daya tarik serta keberlanjutan mall. Studi ini diharapkan menjadi referensi bagi pengembangan desain pusat perbelanjaan di masa depan, terutama di kota-kota dengan tingkat urbanisasi tinggi. Kata Kunci: Gaya Hidup Urban; Pusat perbelanjaan; Arsitektur; Konsumtif
KORELASI BENTUK PERKOTAAN DENGAN MOBILITAS PERKOTAAN PADA KOTA-KOTA DI NEGARA BERKEMBANG: TINJAUAN SISTEMATIK LITERATUR Galih, Komang Ayu Sari; Juliarthana, I Nyoman Harry; Suartika, Gusti Ayu Made; Sueca, Ngakan Putu
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i3.4282

Abstract

Abstract: Urban growth in the 21st century is characterized by massive urbanization, creating complex challenges related to urban form and mobility. This study examines the correlation between urban form and urban mobility in developing countries through a systematic literature review using the SALSA method (Search, Appraisal, Synthesis, and Analysis). A total of 20 articles published between 1999 and 2024 were analyzed, focusing on variables such as density, land-use mix, street connectivity, and transit accessibility. The findings indicate that compact, mixed-use, and well-connected urban forms encourage public transport use, walking, and cycling, thereby reducing dependence on private vehicles and lowering emissions. Conversely, urban sprawl exacerbates congestion, pollution, and energy consumption. Developing countries face unique challenges, including socio-economic disparities, dominance of informal transport, and limited data and governance capacity. These findings highlight the importance of integrating spatial planning with sustainable mobility policies. The study concludes that compact and inclusive transit-oriented development, supported by pedestrian- and cyclist-friendly infrastructure and regulation of informal transport, is essential for achieving sustainable and equitable urban mobility. Keyword: Urban Form, Urban Mobility, SALSA. Abstrak Pertumbuhan kota di abad ke-21 ditandai oleh urbanisasi masif yang menghadirkan tantangan kompleks terkait bentuk perkotaan dan mobilitas. Penelitian ini mengkaji korelasi antara bentuk perkotaan dan mobilitas di negara berkembang melalui tinjauan sistematik literatur dengan metode SALSA (Search, Appraisal, Synthesis, and Analysis). Sebanyak 20 artikel terbitan 1999–2024 dianalisis dengan fokus pada variabel – variabel dalam bentuk perkotaan dan mobilitas perkotaan. Hasil menunjukkan bahwa kota yang padat, bercampur fungsi, dan terhubung baik mendorong penggunaan transportasi umum, berjalan kaki, dan bersepeda, sehingga mengurangi ketergantungan kendaraan pribadi dan menekan emisi. Sebaliknya, urban sprawl memperparah kemacetan, polusi, dan konsumsi energi. Negara berkembang menghadapi tantangan khusus, seperti kesenjangan sosial-ekonomi, dominasi transportasi informal, serta keterbatasan data dan tata kelola. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi perencanaan ruang dan kebijakan mobilitas berkelanjutan. Studi ini menyimpulkan bahwa pengembangan kota padat dan inklusif berorientasi transit, didukung infrastruktur ramah pejalan kaki dan pesepeda serta regulasi transportasi informal, merupakan kunci untuk mewujudkan mobilitas perkotaan yang adil dan berkelanjutan. Kata Kunci: Bentuk Perkotaan, Mobilitas Perkotaan, SALSA.  

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025 Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025 Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2025 Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024 Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024 Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024 Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2024 Vol 7 No 4 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2023 Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023 Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2023 Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023 Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022 Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022 Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022 Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021 Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2021 Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021 Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020 Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020 Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020 Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019 Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019 Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019 Vol 2 No 3 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2018 Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2018 Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2018 Vol 1 No 2 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2017 Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2017 More Issue