cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
jurnalarsitekturarcade@gmail.com
Phone
+6281220697972
Journal Mail Official
kartowijaya@ukri.ac.id
Editorial Address
Jln. Terusan Halimun No.37 (Pelajar Pejuang 45) Bandung 40263, Jawa Barat, Indonesia (+62) 22-7301987
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : 10.31848
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur Arcade is Open Journal System published by Prodi Architecture (UKRI) in 2023 has migrated to the link: https://e-journal.ukri.ac.id/arcade. This journal is a means of research publications that concentrate on the study of architecture to accommodate authors interested in the field of heritage architecture, built environment, urban design, housing and settlement, Building Technology, Interior Design. Jurnal Arsitektur Arcade was published for the first time in 2017 for its e-ISSN 2597-3746 (Online) and p-ISSN 2580-8613 (Print) publications which are published 3 times a year in March, July and November. The Editorial Board of Jurnal Arsitektur ARCADEÂ starting in 2023 publishes an e-ISSN 2597-3746 (Online) edition which will be published every 3 months, namely in March, June, September and December each year.
Articles 487 Documents
Waterfront, Pelestarian Cagar Bu ANALISIS KENYAMANAN SPASIAL DAN FASILITAS LANSKAP PADA KAWASAN WATERFRONT BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG Zehrina Saputri; Zaskia Sela Sapitri; Nadine Zabarij Yaqutah; Nurjannah; Nayla Tiara Mufidah; Malikin Gofur; Listen Prima; Sri Lilianti Komariah
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4573

Abstract

Abstract: Traditional architecture as a tangible cultural heritage asset requires dynamic preservation efforts through protection, development, and utilization to maintain its existence and enhance its value for future generations. The identity of Palembang as a Water City, recognized since the era of the Palembang Darussalam Sultanate, is reflected in the presence of the Musi River and Benteng Kuto Besak as significant historical and cultural elements. However, the Waterfront area of Benteng Kuto Besak and its surroundings has not been optimally managed as a historic district and as part of Palembang’s urban development. In fact, the Musi River waterfront holds substantial potential in economic, cultural, historical, and sustainable tourism aspects. This study aims to analyze the role of the Musi River waterfront around Benteng Kuto Besak in enhancing sustainable tourism in Palembang through a heritage preservation approach and the strengthening of city identity. In addition, structural considerations are addressed through the use of steel sheet pile foundations with a diameter of 500 mm and a length of 22 m, designed based on allowable stress and loading factors, including seismic forces, to ensure safety and long-term sustainability of the riverside area. Keyword : Waterfront, Cultural heritage Preservation, Foundation Abstrak: Arsitektur tradisional sebagai bagian dari benda cagar budaya bersifat kebendaan memerlukan pelestarian yang dinamis melalui upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan guna mempertahankan keberadaan serta meningkatkan nilainya bagi generasi mendatang .Zain, Zairin (2014) Identitas Kota Palembang sebagai Kota Air yang telah dikenal sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam tercermin pada keberadaan Sungai Musi dan Benteng Kuto Besak sebagai elemen sejarah dan budaya yang penting. Namun, kawasan Waterfront Benteng Kuto Besak dan sekitarnya belum dikelola secara optimal sebagai kawasan bersejarah dan bagian dari pengembangan kota. Firmansyah, K. G. S. (2000) Padahal, kawasan Waterfront Sungai Musi memiliki potensi besar dalam aspek ekonomi, budaya, sejarah, dan pariwisata berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran waterfront Sungai Musi di sekitar Benteng Kuto Besak dalam meningkatkan pariwisata berkelanjutan di Kota Palembang melalui pendekatan pelestarian kawasan bersejarah dan penguatan identitas kota. Robi 2025.Selain itu, kajian teknis struktur turut diperhatikan melalui penggunaan pondasi tiang turap baja berdiameter 500 mm dengan panjang 22 m yang dirancang mempertimbangkan tegangan izin dan faktor pembebanan, termasuk gaya gempa, guna menjamin keamanan dan keberlanjutan kawasan tepi sungai.Vembri Affianto, (2007) Rizky Dendy (2007) Kata Kunci : Waterfront, Pelestarian Cagar Budaya, Pondasi  
EVOLUSI FUNGSI GEDUNG MUSEUM SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II DI PALEMBANG SEBAGAI SIMBOL PELESTARIAN BUDAYA Fadina Nayla
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4574

Abstract

Abstract:  The Sultan Mahmud Badaruddin II Museum building is a historic structure in the city of Palembang that has undergone significant functional transformation since the nineteenth century. The building was constructed by the Dutch colonial government in 1823–1824 on the former site of the Palembang Sultanate palace, which had been demolished following the dissolution of the sultanate. Initially, the structure functioned as the official residence of the Dutch Resident and as the administrative office of colonial governance in Palembang. This study aimed to analyse the evolution of the building’s function and to examine the shift in its symbolic meaning from a centre of colonial authority to a symbol of cultural preservation. A qualitative method with historical and architectural approaches was employed. Data were collected through direct observation, interviews with museum administrators, and relevant literature review. The data were analysed descriptively and comparatively through stages of data reduction, historical classification, interpretation, and source triangulation. The findings indicate that the building evolves through several stages, from a colonial administrative centre and a military base during the Japanese occupation to a public museum established in 1984. Its tropical architectural adaptation enables the structure to endure and to be reused without losing its authenticity. The transformation demonstrates that the building now functions as a symbol of cultural preservation and the reinforcement of Palembang’s local identity. Keyword: SMB II Museum, building evolution, cultural preservation, colonial architecture. Abstrak: Gedung Museum Sultan Mahmud Badaruddin II di Kota Palembang merupakan bangunan bersejarah yang mengalami perubahan fungsi signifikan sejak abad ke-19. Bangunan yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1823–1824 di atas bekas Keraton Palembang Darussalam ini awalnya berfungsi sebagai kediaman residen sekaligus pusat administrasi kolonial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis evolusi fungsi bangunan serta mengkaji pergeseran makna simboliknya. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan historis dan arsitektural melalui observasi, wawancara, dan studi literatur, kemudian dianalisis secara deskriptif komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan mengalami perubahan fungsi bertahap, mulai dari pusat administrasi kolonial, basis militer pada masa pendudukan Jepang, aset pemerintahan pascakemerdekaan, hingga menjadi museum sejak tahun 1984. Selain itu, karakter arsitektur kolonial yang adaptif  terhadap iklim tropis memungkinkan bangunan tetap bertahan dan dialihfungsikan tanpa menghilangkan keaslian bentuknya. Transformasi ini menunjukkan pergeseran makna simbolik dari representasi kekuasaan kolonial menjadi simbol pelestarian sejarah dan identitas lokal masyarakat Palembang. Kata Kunci: Museum SMB II, evolusi bangunan, pelestarian budaya, arsitektur kolonial.
Representasi Kognitif Citra Kawasan Reklamasi Pantai Manakarra Bagi Gen Z Syam Rachma Marcillia; Lulu Anggreani Adiyani
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4578

Abstract

Abstract: Coastal reclamation occurs due to the increasing growth rate and the rapidly increasing need for land. Mamuju City is one of the cities experiencing a reclamation process that occurred in its coastal area, then developed into a public space with a variety of social, economic and recreational activities. As this development, this area has emerged various groups of space users, including Gen Z. Currently dominating activities in the area. This phenomenon encourages the importance of understanding Gen Z through their spatial experiences. This study aims to determine how Generation Z views the image of the area as a public space formed by the reclamation process. For Gen Z, public space is not only a place to accommodate activities, but how the place is meaningful and provides a spatial experience. The method used is cognitive mapping, based on Lynch's theory, namely landmarks, nodes, paths, districts, and edges. The findings show that the more dominant areas are the structure of the city image chosen by respondents. This shows that the area has unique physical elements and meanings given by Generation Z, so that the image of the area is formed from the results of Generation Z's perceptions as a result of interpretations of the Manakarra Coastal Area. Keyword: Spatial Cognition, Urban Image Elements, Reclamation, Public Space Abstrak: Reklamasi Pantai terjadi karena laju pertumbuhan meningkat serta kebutuhan lahan yang meningkat pesat. Kota Mamuju merupakan salah satu kota yang mengalami proses reklamasi yang terjadi di kawasan pesisirnya, kemudian berkembang menjadi ruang publik dengan beragam aktivitas sosial, ekonomi dan rekreasi. Seiiring perkembangannya, kawasan ini muncul berbagai kelompok pengguna ruang, termasuk Gen Z. Saat ini mendominasi aktivitas di kawasan. Fenomena ini mendorong pentingnya pemahaman Gen Z melalui pengalaman spasial mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Generasi Z memandang citra kawasan sebagai ruang publik yang terbentuk karena proses reklamasi. Bagi Gen Z, ruang publik bukan hanya sebuah tempat untuk mewadahi aktivitas, tetapi bagaimana tempat tersebut bermakna serta memberikan pengalaman ruang. Metode yang digunakan menggunakan pemetaan kognisi (cognitive mapping), berdasarkan teori Lynch,  adalah landmark, node, path, district, dan edge. Hasil temuan bahwa Area-area yang lebih dominan merupakan struktur citra kota yang dipilih oleh responden. Hal ini menujukkan bahwa area tersebut memiliki elemen fisik khas dan makna yang diberikan oleh Generasi Z, sehingga Citra kawasan terbentuk dari hasil persepsi Generasi Z sebagai hasil interpretasi terhadap Kawasan Pantai Manakarra Kata Kunci: Kognisi Spasial, Elemen Citra Kota, Reklamasi, Ruang Publik
RESEARCH ON THE TREND OF SUSTAINABLE ARCHITECTURE: A BIBLIOMETRIC ANALYSIS ON THE HOUSING, THERMAL COMFORT, AND FAÇADE Suniarti Simanjuntak; Jesicha Darmawanti; Ratih Widiastuti; Chely Novia Bramiana
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4583

Abstract

Abstract: Sustainable architecture plays a crucial role in minimizing environmental impact and enhancing energy efficiency in buildings. This study aims to explore research trends in sustainable architecture, particularly in housing, thermal comfort, and façade design, using bibliometric analysis with VOSviewer. The data were retrieved from the leading academic databases (Scopus). The analysis was conducted on the study maps keyword relationships, author collaborations, and institutional influences through co-occurrence network. The findings highlighted a growing emphasis on passive design strategies, innovative façade technologies, and adaptive thermal comfort models to promote sustainability in housing. Further analysis identified the cluster key themes involved thermal comfort, housing, architectural design, energy efficiency, and thermal insulation. This research offers valuable insights to develop the sustainable architecture, providing a useful reference for architects, policymakers, and researchers looking to enchance energi-efficient housing designs yet still prioritizing occupant comfort. Keyword: bibliometric analysis, façade design, housing building, sustainable architecture, thermal comfort Abstrak: Arsitektur berkelanjutan memainkan peran penting dalam meminimalkan dampak lingkungan dan meningkatkan efisiensi energi pada bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tren penelitian dalam arsitektur berkelanjutan, khususnya pada bidang perumahan, kenyamanan termal, dan desain fasad, menggunakan analisis bibliometrik dengan VOSviewer. Data diperoleh dari basis data akademik terkemuka (Scopus). Analisis dilakukan untuk memetakan hubungan kata kunci, kolaborasi penulis, dan pengaruh institusional melalui jaringan ko-okurensi. Temuan penelitian menyoroti semakin besarnya penekanan pada strategi desain pasif, teknologi fasad inovatif, dan model kenyamanan termal adaptif untuk mendorong keberlanjutan dalam perumahan. Analisis lebih lanjut mengidentifikasi tema-tema utama kluster yang meliputi kenyamanan termal, perumahan, desain arsitektur, efisiensi energi, dan insulasi termal. Penelitian ini memberikan wawasan berharga untuk pengembangan arsitektur berkelanjutan, sekaligus menjadi referensi yang berguna bagi para arsitek, pembuat kebijakan, dan peneliti yang ingin meningkatkan desain perumahan hemat energi dengan tetap mengutamakan kenyamanan penghuni. Kata Kunci: analisis bibliometrik, desain fasad, bangunan perumahan, arsitektur berkelanjutan, kenyamanan termal
ANALISIS PARETO 80/20 UNTUK PENGENDALIAN BIAYA PEKERJAAN ARSITEKTUR HOTEL BERTINGKAT TINGGI Nadiifa Firsty; Yani Rahmawati
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4629

Abstract

Abstract: Hotel construction projects are highly complex, involving numerous categories of architectural work that make it difficult to prioritize the budget. Without a systematic approach, project managers risk allocating resources to items with little impact. This study applies the Pareto 80/20 principle to analyze the distribution of architectural work costs in the construction of the Voyou Bengawan Surakarta Hotel, a 14-story hotel on Jalan Ir. Sutami, Surakarta City, Central Java. The primary data is sourced from the Bill of Quantities (BoQ) for all architectural work from the basement to the 14th floor, with a total value of Rp23,413,906,489 divided into seven categories. The method used is descriptive quantitative analysis involving Pareto ranking, percentage calculations, and cumulative analysis using Microsoft Excel. The results identify four categories as the "Vital Few", namely facade and canopy work (32.68%), wall work (32.40%), door and window frames (12.85%), and flooring (10.51%), cumulatively accounting for 88.44% of the total BoQ value. The remaining three categories, ceiling work (5.16%), painting (3.90%), and miscellaneous work (2.50%), are classified as "Trivial Many". These findings demonstrate that Pareto analysis is a practical framework for directing procurement strategies, budget monitoring, and on-site supervision toward the most economically significant categories of architectural work. Keywords: Pareto Analysis, Bill of Quantities, Cost Control, Architectural Work Abstrak: Proyek konstruksi hotel memiliki kompleksitas tinggi dengan banyak kategori pekerjaan arsitektur yang menyulitkan penetapan prioritas anggaran. Tanpa pendekatan sistematis, manajer proyek berisiko mengalokasikan sumber daya pada item yang kurang berdampak. Penelitian ini menerapkan prinsip Pareto 80/20 untuk menganalisis distribusi biaya pekerjaan arsitektur pada pembangunan Hotel Voyou Bengawan Surakarta, hotel 14 lantai di Jalan Ir. Sutami, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Data utama bersumber dari Bill of Quantities (BoQ) seluruh pekerjaan arsitektur mulai lantai basement hingga lantai ke-14, dengan total nilai Rp23.413.906.489 yang terbagi dalam tujuh kategori. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan perangkingan Pareto, perhitungan persentase, dan analisis kumulatif menggunakan Microsoft Excel. Hasil penelitian mengidentifikasi empat kategori sebagai "Vital Few", yaitu pekerjaan fasad dan kanopi (32,68%), dinding (32,40%), kusen pintu dan jendela (12,85%), serta lantai (10,51%), yang secara kumulatif mencakup 88,44% dari total nilai BoQ. Tiga kategori lainnya, yaitu plafond (5,16%), pengecatan (3,90%), dan pekerjaan lain-lain (2,50%), diklasifikasikan sebagai "Trivial Many". Temuan ini membuktikan bahwa analisis Pareto merupakan kerangka kerja yang praktis untuk mengarahkan strategi pengadaan, pemantauan anggaran, dan pengawasan lapangan pada kategori pekerjaan arsitektur yang paling signifikan secara ekonomi. Kata Kunci: Analisis Pareto, Bill of Quantities, Pengendalian Biaya, Pekerjaan Arsitektur
EKSPLORASI STRATEGI EKONOMI SIRKULAR DALAM RENOVASI BANGUNAN HOTEL UNTUK PENGURANGAN EMISI KARBON Alifia Niza Salafy; Yani Rahmawati
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4631

Abstract

Abstract: The building sector is a significant contributor to global carbon emissions, making it necessary to develop strategies to reduce emissions, particularly during the renovation of commercial buildings such as hotels. This study aims to investigate the application of circular economy principles in hotel building renovations to support carbon emission reduction, particularly embodied carbon. The method used is a descriptive qualitative approach through in-depth interviews with four architecture practitioners selected via purposive sampling. Data were analyzed thematically and validated through triangulation with the literature. The results indicate that relevant circular economy strategies include retaining existing structures (intensive use), extending the building’s lifespan, utilizing modular prefabrication, selecting low-carbon materials, and implementing material reuse. The findings also suggest that reuse is more effective than recycling in reducing emissions because it does not require additional energy-intensive processes. Overall, integrating circular economy principles into hotel building renovations has significant potential to reduce carbon emissions and support more sustainable design practices. Keywords: Carbon Emission, Circular Economy, Embodied Carbon, Hotel Building, Building Renovation Abstrak: Sektor bangunan merupakan kontributor signifikan terhadap emisi karbon global, sehingga diperlukan strategi untuk menekan emisi, khususnya pada tahap renovasi bangunan komersial seperti hotel. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menginvestigasi penerapan prinsip ekonomi sirkular dalam renovasi bangunan hotel guna mendukung pengurangan emisi karbon, terutama karbon tertanam. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara mendalam dengan empat praktisi arsitektur yang dipilih melalui purposive sampling. Data dianalisis secara tematik dan divalidasi melalui triangulasi dengan studi terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi ekonomi sirkular yang relevan meliputi mempertahankan struktur eksisting (intensive use), memperpanjang masa pakai bangunan, penggunaan prefabrikasi modular, pemilihan material rendah karbon, serta penerapan reuse material. Temuan juga menunjukkan bahwa reuse lebih efektif dibandingkan dengan recycling dalam menekan emisi karena tidak memerlukan proses energi tambahan. Secara keseluruhan, integrasi prinsip ekonomi sirkular dalam renovasi bangunan hotel berpotensi signifikan dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung praktik desain yang lebih berkelanjutan. Kata Kunci: Emisi Karbon, Ekonomi Sirkular, Karbon Tertanam, Bangunan Hotel, Renovasi Bangunan
INVESTIGASI ALTERNATIF VARIASI WINDOW-TO-WALL RATIO (WWR) DAN PEMILIHAN MATERIAL KACA JENDELA DALAM MENCAPAI EFISIENSI ENERGI DI BANGUNAN HOTEL BERIKLIM TROPIS Hidayah Salsabiela Nugraharti; Yani Rahmawati
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4633

Abstract

Abstract: The building sector is a major global energy consumer, with windows being the most critical element for heat gain in tropical climates. This research aims to investigate the optimal Window-to-Wall Ratio (WWR) and glass material selection for energy efficiency in hotel building, using Hotel Voyou in Surakarta as a case study. The methodology employs a qualitative approach through descriptive analysis and expert validation (Expert Validation) involving three key stakeholders: a practitioner architect, a green building expert from GBCI, and a glass material vendor. The results confirm that a WWR range of 20-60% is the optimal efficiency zone for balancing daylighting and cooling loads. Among the tested materials, Sunergy Blue Green (Low-E) is the most recommended choice due to its low U-Value (4.1 W/m2K) and Shading Coefficient (0.43), which effectively reduces heat gain without compromising visual quality. The study concludes that WWR and material performance are interdependent; higher WWR can still achieve energy efficiency if paired with high-performance glazing. Keywords: Energy Efficiency, Hotel Building, Window-to-Wall Ratio (WWR). Abstrak: Sektor bangunan merupakan konsumen energi terbesar di dunia, dengan jendela sebagai elemen krusial penyebab perolehan panas di iklim tropis. Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi rentang optimal Window-to-Wall Ratio (WWR) dan pemilihan material kaca guna mencapai efisiensi energi pada bangunan hotel, dengan studi kasus Hotel Voyou di Surakarta. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif melalui validasi ahli yang melibatkan tiga pemangku kepentingan utama: arsitek praktisi, pakar bangunan hijau (GBCI), dan vendor material kaca. Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa rentang WWR 20-60% merupakan zona efisiensi optimal untuk menyeimbangkan kebutuhan pencahayaan alami dan beban pendinginan. Di antara alternatif material, Sunergy Blue Green (Low-E) menjadi pilihan yang paling direkomendasikan karena memiliki nilai U-Value terendah (4,1 W/m2K) dan Shading Coefficient (0,43) yang efektif mereduksi panas tanpa mengorbankan kualitas visual. Penelitian menyimpulkan bahwa keputusan WWR dan pemilihan material bersifat saling bergantung, di mana WWR tinggi tetap dapat mencapai efisiensi energi jika dikombinasikan dengan kaca berperforma tinggi. Kata Kunci: Efisiensi Energi, Bangunan Hotel, Window-to-Wall Ratio (WWR).
PENILAIAN EFISIENSI ENERGI GEDUNG IME UNSOED BERDASARKAN STANDAR BANGUNAN GEDUNG HIJAU Nadia Nasution; Paulus Setyo Nugroho; Gathot Heri Sudibyo
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4647

Abstract

Abstract: Global warming is the increase in Earth's average temperature, primarily driven by greenhouse gas (GHG) emissions. The building sector accounts for 39% of global carbon emissions, underscoring the urgent need for effective mitigation strategies. Implementing green building practices is critical for advancing resource efficiency and sustainable design. In Indonesia, Green Building regulations are regulated in the Minister of Public Works and Public Housing Regulation Number 21 of 2021, which stipulates seven assessment parameters. This study aims to assess the performance of energy-efficiency parameters in the Integrated Medical Education Building at Jenderal Soedirman University. The method used is a descriptive, quantitative analysis of planning documents, field observations, and technical calculations, including Overall Thermal Transfer Value (OTTV), Roof Thermal Transfer Value (RTTV), Window-to-Wall Ratio (WWR), Lighting Power Density (LPD), and utility system performance. The assessment results showed a score of 31 points out of a maximum of 46 points or 67.39%. Further evaluation showed that the building still requires technical recommendations to improve energy efficiency. The implementation of technical recommendations resulted in a significant increase in the achievement score, from 31 points (67.39%) to 45 points (97.56%). Keyword: Climate Change, Green Building, Sustainable Construction. Abstrak: Pemanasan global merupakan peningkatan suhu rata-rata atmosfer bumi yang disebabkan oleh Gas Rumah kaca (GRK). Sektor bangunan menjadi salah satu kontributor utama dengan menyumbang 39% terhadap emisi karbon global. Upaya mitigasi diperlukan untuk menurunkan emisi karbon melalui penerapan bangunan gedung hijau yang menekankan efisiensi sumber daya dan desain berkelanjutan. Di Indonesia, regulasi Bangunan Gedung Hijau diatur dalam Peraturan Menteri PUPR Nomor 21 Tahun 2021 yang menetapkan tujuh parameter penilaian. Penelitian ini bertujuan menilai kinerja parameter efisiensi penggunaan energi pada Gedung Integrated Medical Education Universitas Jenderal Soedirman. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif melalui analisis dokumen perencanaan, observasi lapangan, dan perhitungan teknis yang mencakup Overall Thermal Transfer Value (OTTV), Roof Thermal Transfer Value (RTTV), Window to Wall Ratio (WWR), Lighting Power Density (LPD), serta kinerja sistem utilitas. Hasil penilaian menunjukkan skor 31 poin dari maksimum 46 poin atau 67,39%. Evaluasi lebih lanjut menunjukkan bahwa gedung masih memerlukan rekomendasi teknis untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi. Penerapan rekomendasi teknis menghasilkan peningkatan signifikan pada capaian nilai, dari 31 poin atau 67,39% menjadi 45 poin atau 97,56%. Kata Kunci: Perubahan Iklim, Bangunan Gedung Hijau, Konstruksi Berkelanjutan.
Hubungan Antara Iluminasi Cahaya Alami dan Perolehan Panas Internal pada Model Ruang Tropis Dian Nugraha; Mukhamad Risa Diki Pratama; Muhammad Sega Sufia purnama
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4690

Abstract

Abstract: Passive cooling is a critical strategy for reducing energy consumption in buildings located in hot–humid tropical climates, where cooling demand is strongly influenced by both solar heat gains and internal loads from artificial lighting. While daylight-oriented façade design is widely studied for visual comfort, its contribution to reducing lighting-related internal heat gains remains insufficiently explored. This study investigates the relationship between daylight illuminance and internal heat gains from artificial lighting through a simulation-based assessment of a representative tropical room model. Using DIALux, a single office-like space (4 m × 5 m) was simulated under 24 façade configurations derived from variations in window-to-wall ratio (20%, 40%, and 60%), façade orientation (north, south, east, and west), and shading condition (shaded and unshaded). Daylight simulations were conducted on 21 March and 21 June between 08:00 and 16:00. Illuminance results were compared against a 500 lux task-plane threshold to determine the number of lamps required, which was then used as an indicator of lighting energy use and associated internal heat gains. The results show that small openings (20% WWR) consistently require the highest artificial lighting across all orientations. Larger openings do not automatically guarantee daylight sufficiency, particularly for east- and west-facing façades after midday. Shading was found to reduce excessive solar exposure but, in some cases, increased lighting demand due to uneven daylight distribution. Overall, north- and south-facing façades demonstrated superior performance. The study concludes that integrating daylight illuminance analysis with lighting-related heat gain assessment provides a practical framework for linking visual performance and passive cooling strategies in tropical architecture. Keyword: daylight illuminance, internal heat gain, shading device, tropical climate Abstrak: Pendinginan pasif merupakan strategi penting untuk mengurangi konsumsi energi pada bangunan yang berlokasi di iklim tropis panas-lembap, di mana kebutuhan pendinginan sangat dipengaruhi oleh perolehan panas matahari dan beban internal dari pencahayaan buatan. Sementara desain fasad berorientasi pencahayaan alami telah banyak dikaji dalam konteks kenyamanan visual, kontribusinya terhadap pengurangan beban panas internal yang berasal dari pencahayaan buatan masih belum cukup dieksplorasi. Penelitian ini menyelidiki hubungan antara iluminansi pencahayaan alami dan beban panas internal dari pencahayaan buatan melalui penilaian berbasis simulasi terhadap model ruang tropis yang representatif. Dengan menggunakan DIALux, satu ruang tipe kantor (4 m × 5 m) disimulasikan di bawah 24 konfigurasi fasad yang berasal dari variasi rasio jendela terhadap dinding (20%, 40%, dan 60%), orientasi fasad (utara, selatan, timur, dan barat), serta kondisi peneduhan (dengan peneduhan dan tanpa peneduhan). Simulasi pencahayaan alami dilakukan pada tanggal 21 Maret dan 21 Juni antara pukul 08.00 hingga 16.00. Hasil iluminansi dibandingkan dengan ambang batas bidang kerja sebesar 500 lux untuk menentukan jumlah lampu yang dibutuhkan, yang kemudian digunakan sebagai indikator penggunaan energi pencahayaan dan beban panas internal yang terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bukaan kecil (WWR 20%) secara konsisten memerlukan pencahayaan buatan paling tinggi di semua orientasi. Bukaan yang lebih besar tidak secara otomatis menjamin kecukupan pencahayaan alami, khususnya pada fasad yang menghadap timur dan barat setelah tengah hari. Peneduhan ditemukan mampu mengurangi paparan radiasi matahari berlebih, namun dalam beberapa kasus justru meningkatkan kebutuhan pencahayaan akibat distribusi cahaya alami yang tidak merata. Secara keseluruhan, fasad yang menghadap utara dan selatan menunjukkan kinerja yang lebih unggul. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi analisis iluminansi pencahayaan alami dengan penilaian beban panas dari pencahayaan memberikan kerangka kerja praktis untuk menghubungkan kinerja visual dan strategi pendinginan pasif dalam arsitektur tropis. Kata Kunci: iluminansi pencahayaan alami, beban panas internal, perangkat peneduh, iklim tropis
KARAKTER SPASIAL DAN TIPOLOGI RUANG LITERASI KONTEMPORER BAGI GENERASI MUDA DI YOGYAKARTA Yuni Azizah; Harry Kurniawan
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4694

Abstract

Abstract: Technological developments have shifted the literacy habits of younger generation from print media to more interactive and visual digital forms. This shift has influenced preferences for literacy spaces that are not only functional but also social and engaging experiences. Consequently, interest in formal libraries often perceived as rigid and inflexible has declined, highlight the need for more responsive to changing behavior and lifestyle. In this context, Yogyakarta, as an educational city with a predominantly young population, has seen the emergence of innovative literacy spaces such as bookstore cafés, literary cafés, and community based spaces, reflecting the dynamic of the development of contemporary literacy space. This study aims to identify the spatial characteristics and typologies of these spaces through a qualitative approach using case studies of eight sites, analyzed descriptively and comparatively to identify common patterns and differences. The findings indicate that literacy spaces have evolved into hybrid environments with two main typological tendencies: integrative, and communal. In terms of spatial characteristics, these spaces are open, flexible, and minimally partitioned with strong visual connections, where hierarchy is shaped by accessibility and visual orientation, positioning reading areas as the central focus. This supports their role as informal third places. Keyword: Contemporary Literacy Space, Spatial Character, Typology, Young Generation, Third Place Abstrak: Perkembangan teknologi telah menggeser pola literasi generasi muda dari media cetak menuju literasi digital yang lebih interaktif dan visual. Pergeseran ini mempengaruhi preferensi terhadap ruang literasi yang tidak hanya fungsional, tetapi juga sosial dan memberikan pengalaman ruang yang menyenangkan. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya minat terhadap perpustakaan formal yang cenderung kaku dan kurang adaptif, sehingga diperlukan transformasi konsep ruang literasi yang lebih responsif terhadap perubahan gaya hidup. Dalam konteks tersebut, Yogyakarta sebagai kota pendidikan dengan dominasi generasi muda memunculkan berbagai inovasi ruang literasi, seperti bookstore cafe, kafe literasi, dan ruang komunitas yang menunjukkan dinamika perkembangan ruang literasi kontemporer. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakter spasial dan tipologi ruang literasi kontemporer di Yogyakarta melalui pendekatan kualitatif dengan studi kasus pada delapan objek ruang. Analisis dilakukan secara deskriptif komparatif untuk menemukan pola umum dan perbedaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara tipologi, ruang literasi berkembang sebagai ruang hybrid dengan dua kecenderungan utama, yaitu tipe integratif, dan tipe komunal. Secara karakter spasial, ruang cenderung menerapkan konsep terbuka, fleksibel, dan minim sekat dengan koneksi visual yang kuat, dimana hirarki ruang dibentuk melalui kemudahan akses dan orientasi visual dengan area baca sebagai pusatnya. Pendekatan tersebut mendukung peran ruang sebagai third place yang informal. Kata Kunci: Ruang Literasi Kontemporer, Karakter Spasial, Tipologi, Generasi Muda, Third Place

Filter by Year

2017 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 10 No 1 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE, Maret 2026 Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025 Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025 Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2025 Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024 Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024 Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024 Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2024 Vol 7 No 4 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2023 Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023 Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2023 Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023 Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022 Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022 Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022 Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021 Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2021 Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021 Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020 Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020 Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020 Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019 Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019 Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019 Vol 2 No 3 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2018 Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2018 Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2018 Vol 1 No 2 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2017 Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2017 More Issue