cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
jurnalarsitekturarcade@gmail.com
Phone
+6281220697972
Journal Mail Official
kartowijaya@ukri.ac.id
Editorial Address
Jln. Terusan Halimun No.37 (Pelajar Pejuang 45) Bandung 40263, Jawa Barat, Indonesia (+62) 22-7301987
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : 10.31848
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur Arcade is Open Journal System published by Prodi Architecture (UKRI) in 2023 has migrated to the link: https://e-journal.ukri.ac.id/arcade. This journal is a means of research publications that concentrate on the study of architecture to accommodate authors interested in the field of heritage architecture, built environment, urban design, housing and settlement, Building Technology, Interior Design. Jurnal Arsitektur Arcade was published for the first time in 2017 for its e-ISSN 2597-3746 (Online) and p-ISSN 2580-8613 (Print) publications which are published 3 times a year in March, July and November. The Editorial Board of Jurnal Arsitektur ARCADEÂ starting in 2023 publishes an e-ISSN 2597-3746 (Online) edition which will be published every 3 months, namely in March, June, September and December each year.
Articles 520 Documents
Kesenjangan antara Standar Baku Aksesibilitas dan Persepsi Penyandang Disabilitas Fisik pada Ruang Terbuka Publik Taman Nostalgia di Kota Kupang Maria Magdalena Paskalia Kambaniru Tuto Gokok; ODILIA RENANINGTYAS MANIFESTY
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2026
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4704

Abstract

Abstract: Public open spaces (POS) are popular places for recreation, exercise, gathering, and socializing. One of the POS that is actively visited by the people of Kupang City is Nostalgia Park. In the concept of an inclusive city, POS must be accessible to all people, including people with physical disabilities. Although accessibility standards are available in Indonesia as guidelines for creating inclusive POS, their implementation in the field has not been optimal in terms of actual user experience. This study aims to identify the extent to which the implementation of the standards of the Permen PU No. 14/PRT/M/2017 on POS elements matches the accessibility experience of users with physical disabilities at Nostalgia Park. The research method used is descriptive evaluative through observation and questionnaires. Observations use a 3-point scale converted into a percentage, while the questionnaire is calculated from the percentage of respondents who choose “agree” and “strongly agree”, then compared to see the level of accessibility suitability. The results show that the accessibility level of some POS elements does not meet technical requirements, especially ramp, signage, and parking areas. Furthermore, perceptions of people with disabilities indicate that elements that actually meet technical standards are not yet fully usable independently and comfortably. This finding indicates a gap between physical conditions and user experience, necessitating an approach to developing accessibility standards for RTP elements that is based on the user experience, particularly for people with physical disabilities. Keywords: Accessibility, inclusive design, public open spaces, physical disabilities Abstrak: Ruang terbuka publik (RTP) merupakan tempat yang diminati masyarakat untuk berekreasi, berolahraga, berkumpul dan bersosialisasi. Salah satu RTP yang aktif dikunjungi masyarakat Kota Kupang adalah Taman Nostalgia. Dalam konsep kota inklusif, RTP harus dapat diakses oleh semua masyarakat termasuk penyandang disabilitas fisik. Meskipun di Indonesia telah tersedia standar aksesibilitas sebagai pedoman terciptanya RTP yang inklusif, namun penerapannya dilapangan belum secara optimal terhadap kepatuhan maupun pengalaman nyata pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana implementasi standar Permen PU No. 14/PRT/M/2017 pada elemen RTP sesuai dengan pengalaman aksesibilitas pengguna disabilitas fisik di Taman Nostalgia. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif evaluatif melalui observasi dan kuesioner. Observasi menggunakan skala 3 poin yang dikonversi menjadi persentase, sedangkan kuesioner dihitung dari persentase responden yang memilih “setuju” dan “sangat setuju”, kemudian dibandingkan untuk melihat tingkat kesesuaian aksesibilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat aksesibilitas sebagian elemen RTP belum memenuhi ketentuan teknis  terutama ramp, signage, dan area parkir. Selain itu, persepsi penyandang disabilitas menunjukkan bahwa elemen yang sebenarnya memenuhi standar teknis belum sepenuhnya dapat digunakan secara mandiri dan nyaman. Temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara kondisi fisik dan pengalaman pengguna, sehingga perlu adanya pendekatan pengembangan standar aksesibilitas elemen RTP yang berbasis pengalaman pengguna penyandang disabilitas fisik. Kata Kunci: Aksesibilitas, desain inklusif, ruang terbuka publik, disabilitas fisik
EVALUATION OF CLASSROOM FURNITURE DESIGN ON POSTURE AND MOBILITY OF ELEMENTARY SCHOOL STUDENTS: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Rizky Edbert Setiawan; Kukuh Rizki Satriaji
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2026
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4714

Abstract

Abstract: This study presents a Systematic Literature Review (SLR) examining the interrelationship between classroom furniture design, postural biomechanics, and the mobility of elementary school students. Guided by the PRISMA framework, from an initial pool of 47 peer-reviewed publications, 14 studies met the inclusion criteria and were analyzed in-depth. The review synthesizes the findings into three core domains: macro-environmental demands, physical mismatch crises at the meso-scale, and cognitive ergonomics deficiencies at the micro-scale. Key findings indicate that the implementation of active learning requires dynamic classroom layouts; however, this is hindered by existing furniture standards that demonstrate an absolute mismatch and possess weights exceeding the safe limits of Manual Material Handling (MMH) for children. Furthermore, the analysis reveals a significant research gap regarding affordances, wherein previous furniture designs overlooked the visual cues necessary to guide safe lifting behaviors among children. This study concludes that future furniture design interventions must integrate cognitive ergonomics to mitigate musculoskeletal injury risks while simultaneously supporting a flexible classroom ecosystem aligned with Sustainable Development Goal 4 (SDG 4). Keyword: Affordances, Cognitive Ergonomics, Flexible Seating, Manual Material Handling, School Furniture. Abstrak: Studi ini menyajikan tinjauan literatur sistematis (Systematic Literature Review/SLR) yang mengkaji interelasi antara desain furnitur ruang kelas, biomekanika postur, dan mobilitas siswa sekolah dasar. Dipandu oleh kerangka PRISMA, dari himpunan awal sebanyak 47 publikasi yang ditelaah sejawat, 14 studi memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara mendalam. Tinjauan ini mensintesis temuan ke dalam tiga domain inti: tuntutan lingkungan makro, krisis ketidaksesuaian (mismatch) fisik pada skala meso, dan defisiensi ergonomi kognitif pada skala mikro. Temuan utama menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran aktif menuntut tata letak kelas yang dinamis, namun pelaksanaannya terhambat oleh standar furnitur eksisting yang memiliki tingkat mismatch absolut dan bobot yang melampaui batas aman Manual Material Handling (MMH) anak. Lebih lanjut, analisis mengungkap adanya celah penelitian yang signifikan pada aspek affordances; di mana perancangan furnitur terdahulu mengabaikan petunjuk visual yang diperlukan anak untuk memandu perilaku mengangkat (lifting behavior) secara aman. Studi ini menyimpulkan bahwa intervensi desain furnitur masa depan harus mengintegrasikan ergonomi kognitif untuk memitigasi risiko cedera muskuloskeletal, sekaligus mendukung ekosistem ruang kelas yang fleksibel sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 4). Kata Kunci: Affordances, Ergonomi Kognitif, Furnitur Sekolah, Manual Material Handling, Ruang Kelas Fleksibel.
STRATEGI PENATAAN RUANG TERBUKA HIJAU YANG ADAPTIF TERHADAP BENCANA GEMPA BUMI, TSUNAMI DAN LIKUIFAKSI DI KOTA PALU Mohamad Alqadry Supu; Burhanuddin; Muhammad Bakri
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2026
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4761

Abstract

Abstract: This study aims to formulate a strategy for developing green open space (GTH) that is adaptive to earthquakes, tsunamis, and liquefaction in Palu City. The research method is qualitative, with data collected through literature studies, document analysis, field observations, and in-depth interviews. The qualitative approach was chosen to gain a deeper understanding of the function of green open space in a social and ecological context, community perceptions of risk, and spatial planning practices. The results show that green open space has strategic potential in three main aspects: (1) risk reduction through vegetation, soil permeability, and the function of space as an evacuation zone; (2) adaptive functions in the form of transition spaces, safe gathering places, and buffers against tsunami flow directions and potential landslides; and (3) social recovery functions that strengthen community capacity in facing disasters. Keyword: Green Open Space, Earthquake, Tsunami, Liquefaction Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi penataan RTH yang adaptif terhadap gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi di Kota Palu. Metode penelitian kualitatif, data dikumpulkan melalui studi literatur, analisis dokumen, observasi lapangan, dan wawancara mendalam. Pendekatan kualitatif dipilih untuk menggali pemahaman yang lebih dalam mengenai fungsi RTH dalam konteks sosial dan ekologis, persepsi masyarakat terhadap risiko, dan praktik penataan ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RTH memiliki potensi strategis dalam tiga aspek utama: (1) pengurangan risiko melalui vegetasi, permeabilitas tanah, dan fungsi ruang sebagai zona evakuasi; (2) fungsi adaptif berupa ruang transisi, tempat berkumpul yang aman, serta buffer terhadap arah aliran tsunami dan potensi pergerakan tanah; dan (3) fungsi social pemulihan yang memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana. Kata Kunci: Ruang Terbuka Hijau, Gempa Bumi, Tsunami, Likuifaksi
EVALUASI LEVEL OF SERVICE MELALUI KONFIGURASI SPASIAL BERBASIS SPACE SYNTAX PADA TERMINAL 3 DOMESTIK SOETTA: Evaluating Level of Service Through Space Syntax-Based Spatial Configuration Analysis at Terminal 3 Domestic, Soekarno–Hatta International Airport Dwinanto Dwinanto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2026
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4764

Abstract

Abstract: This study aims to evaluate the relationship between spatial configuration and Level of Service (LoS) within the domestic terminal using the Space Syntax approach and IATA Airport Development Reference Manual (ADRM) 12th Edition. The research employed a quantitative-descriptive method through Visibility Graph Analysis (VGA) using DepthmapX to assess spatial integration, connectivity, and intelligibility across the main passenger processing areas, including check-in hall, security checkpoint, boarding lounge, baggage claim hall, and arrival hall. LoS evaluation was conducted based on peak hour passenger demand, queue capacity, processing time, and spatial capacity standards. The results indicate that the terminal has a strong linear spatial structure with high integration values along the main circulation corridors, supporting efficient passenger movement and orientation. However, several high-demand areas, particularly the check-in hall and baggage claim hall, still experience sub-optimum operational performance despite having adequate spatial capacity. The study concludes that effective terminal performance is influenced not only by spatial configuration but also by operational processing capacity and passenger flow distribution. Keyword: Space Configuration, Level of Service, Passenger Circulation, Airport Terminal, Visibility Graph Analysis Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi hubungan konfigurasi spasial terhadap Level of Service (LoS) pada terminal domestik menggunakan pendekatan Space Syntax dan Airport Development Reference Manual (ADRM) 12th Edition. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif melalui Visibility Graph Analysis (VGA) menggunakan DepthmapX untuk menganalisis tingkat integration, connectivity, dan intelligibility pada area utama terminal, meliputi check-in hall, security checkpoint, boarding lounge, baggage claim hall, dan arrival hall. Evaluasi LoS dilakukan berdasarkan beban penumpang jam sibuk, kapasitas antrean, waktu pemrosesan, dan standar kapasitas ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terminal memiliki struktur spasial linear yang kuat dengan tingkat integrasi tinggi pada koridor utama sehingga mendukung efisiensi pergerakan dan orientasi penumpang. Namun, beberapa area dengan intensitas pergerakan tinggi, terutama check-in hall dan baggage claim hall, masih menunjukkan performa operasional sub-optimum meskipun secara spasial memiliki kapasitas ruang yang memadai. Penelitian ini menyimpulkan bahwa performa terminal tidak hanya dipengaruhi oleh konfigurasi spasial, tetapi juga oleh kapasitas operasional dan distribusi arus penumpang. Kata Kunci: Konfigurasi Spasial, Tingkat Layanan, Sirkulasi Penumpang, Terminal Bandar udara, Analisis Grafis Visibilitas
IDENTIFIKASI DESAIN BIOFILIK PADA BANGUNAN RUMAH SAKIT Bobby Alexander Riady
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2026
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4770

Abstract

Abstract: Biophilic design integrates natural elements into the built environment with the aim of improving occupant well-being and psychological recovery quality. In the context of hospital buildings, this approach holds relevance given the strong and well-documented relationship between the physical environment and the patient recovery process. However, studies in Indonesia and Southeast Asia have tended to examine biophilic design and energy efficiency as two separate research domains. This study identifies and analyses the application of biophilic design principles in two reference hospitals in Singapore, namely the National Heart Centre Singapore (NHCS) and Khoo Teck Puat Hospital (KTPH), using a qualitative descriptive approach through a case study method. Data were collected through secondary document analysis and cross-referencing with precedent studies. The findings indicate that both hospitals apply several biophilic design principles from the fourteen-pattern framework developed by Browning, Ryan, and Clancy (2014), including visual connection with nature, dynamic and diffuse lighting, thermal and airflow variability, material connection with nature, and prospect. The analysis demonstrates that these principles not only support the therapeutic quality of the environment but also contribute to passive energy efficiency strategies. This study concludes that an integrated approach to biophilic design can simultaneously address the need for a healing environment and building energy performance, particularly in the tropical climate context of Southeast Asia. Keyword: Biophilic Design, Hospital Architecture, Healing Environment, Energy Efficiency, Case Study Abstrak: Desain biofilik mengintegrasikan unsur-unsur alam ke dalam lingkungan binaan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan pengguna dan kualitas pemulihan psikologis. Dalam konteks bangunan rumah sakit, pendekatan ini memiliki relevansi yang tinggi mengingat kuatnya hubungan antara lingkungan fisik dan proses pemulihan pasien. Namun, studi-studi di Indonesia dan Asia Tenggara selama ini cenderung mengkaji desain biofilik dan efisiensi energi sebagai dua domain penelitian yang terpisah. Penelitian ini mengidentifikasi dan menganalisis penerapan prinsip-prinsip desain biofilik pada dua rumah sakit rujukan di Singapura, yaitu National Heart Centre Singapore (NHCS) dan Khoo Teck Puat Hospital (KTPH), menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui analisis dokumen sekunder dan tabulasi silang dengan studi preseden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua rumah sakit menerapkan beberapa prinsip dari kerangka empat belas pola desain biofilik yang dikembangkan oleh Browning, Ryan, dan Clancy (2014), meliputi koneksi visual dengan alam, pencahayaan dinamis dan tersebar, variabilitas termal dan aliran udara, koneksi material dengan alam, serta prospek. Analisis menunjukkan bahwa prinsip-prinsip tersebut tidak hanya mendukung kualitas terapeutik lingkungan tetapi juga berkontribusi pada strategi efisiensi energi pasif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan desain biofilik yang terintegrasi dapat secara bersamaan menjawab kebutuhan healing environment dan performa energi bangunan, khususnya dalam konteks iklim tropis Asia Tenggara. Kata Kunci: Desain Biofilik, Arsitektur Rumah Sakit, Healing Environment, Efficiency Energi, Studi Kasus
EVALUASI MULTIDIMENSI PSIKOLOGI LINGKUNGAN PADA CO-WORKING SPACE AKADEMIK DI SGLC UGM Aliya Jauhari Hildayanti; Nedyomukti Imam Syafii
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2026
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4773

Abstract

Abstract: Research on co-working spaces has predominantly focused on commercial settings, while studies employing an environmental psychology approach in academic co-working spaces in Indonesia remain limited. This study aims to evaluate user satisfaction in the co-working spaces of the Smart Green Learning Center (SGLC), Universitas Gadjah Mada, based on environmental psychology dimensions. A quantitative-descriptive approach was employed involving 240 respondents across 25 co-working space units. Data were collected through a questionnaire covering environmental control, thermal comfort, visual comfort, acoustics and privacy, spatial flexibility, and social perception. Data were analyzed using descriptive statistics and supported by users’ open-ended responses. The results indicate that overall user satisfaction was very high, with a mean score of 4.26. Spatial flexibility achieved the highest score (4.37), followed by visual comfort (4.22) and social perception (4.20), while acoustics and privacy received the lowest score (3.57). In addition, 26.3% of respondents reported experiencing thermal discomfort while using the spaces. These findings suggest that the quality of user experience in academic co-working spaces is influenced by the interaction of physical, psychological, and social aspects of the environment. The study highlights the importance of an environmental psychology approach in the design and evaluation of collaborative learning spaces in higher education settings. Keyword: Environmental psychology, User satisfaction, Co-working space Abstrak: Penelitian mengenai co-working space umumnya berfokus pada konteks komersial, sedangkan kajian berbasis psikologi lingkungan pada co-working space akademik di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kepuasan pengguna co-working space di Smart Green Learning Center (SGLC) Universitas Gadjah Mada berdasarkan dimensi psikologi lingkungan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif-deskriptif dengan melibatkan 240 responden pada 25 unit co-working space. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mencakup dimensi environmental control, kenyamanan termal, kenyamanan visual, akustik dan privasi, fleksibilitas ruang, serta persepsi sosial. Analisis dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan didukung oleh tanggapan terbuka pengguna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pengguna tergolong sangat tinggi dengan nilai rata-rata 4,26. Fleksibilitas ruang memperoleh nilai tertinggi (4,37), diikuti kenyamanan visual (4,22) dan persepsi sosial (4,20), sedangkan akustik dan privasi memperoleh nilai terendah (3,57). Sebanyak 26,3% responden masih mengalami ketidaknyamanan termal selama menggunakan ruang. Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas pengalaman pengguna co-working space akademik dipengaruhi oleh interaksi aspek fisik, psikologis, dan sosial dalam lingkungan ruang. Hasil penelitian menegaskan pentingnya pendekatan psikologi lingkungan dalam perancangan dan evaluasi ruang belajar kolaboratif pada lingkungan pendidikan tinggi. Kata Kunci: Psikologi lingkungan, Kepuasan pengguna, Co-working space
KAJIAN AWAL JEJAK PERADABAN DAN ARSITEKTUR MEGALITIK DI KAWASAN UMANG, DATARAN TINGGI GAYO, ACEH Elysa Wulandari; Chusni Anshori; Asep Yudi Permana; June Ekawati; Masdar Djamaluddin
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2026
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4793

Abstract

Abstract: The Umang area in the Gayo highlands, Aceh, is a cultural landscape that strongly indicates traces of prehistoric (megalithic) civilization of the Gayo people. This study aims to examine the relationship between geological conditions, landscape elements, and human intervention through the analysis of archaeological features and a landscape architecture approach. The research method was carried out through field observations of site locations, spatial orientation, and symbolic motifs found in the area. The results show a series of archaeological features with a linear structure from the valley to the highlands, consisting of split stone platforms in low elevation areas and slate along the path to the mountains. The slate motifs in the form of various circular patterns indicate symbolic and ritual functions in the area. The absence of traces of permanent habitation, along with the geological conditions of steep slopes and traces of large landslides on the northern side of the area, strengthens the hypothesis that Umang was a ritual site or pilgrimage route, not a residential area. The past community is thought to have been aware of the dangers of natural disasters and created patterns of adaptation to their settlement space. Cosmological understanding is evident in the slate path that climbs from East to West towards the sacred mountain. From a landscape architecture perspective, the lower courtyard functions as a communal space, while the slate path becomes a spiritual transitional space. Keywords: Gayo, Prehistory, landscape archaeology, cosmology, ritual sites. Abstrak: Kawasan Umang di dataran tinggi Gayo, Aceh, merupakan lanskap budaya yang menyimpan indikasi kuat memiliki jejak peradaban pra sejarah (megalitik) masyarakat Gayo. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kondisi geologis, elemen lansekap, dan intervensi manusia melalui analisis fitur arkeologis serta pendekatan arsitektur lanskap. Metode penelitian dilakukan melalui observasi lapangan terhadap lokasi situs, orientasi ruang, dan motif simbolik yang ditemukan di kawasan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan adanya rangkaian fitur arkeologi yang berstruktur pola linear dari lembah menuju dataran tinggi, terdiri atas pelataran batu belah di area elevasi rendah dan batu tulis di sepanjang jalur menuju pegunungan. Motif batu tulis berupa ragam pola melingkar mengindikasikan fungsi simbolik dan ritual pada kawasan tersebut. Tidak ditemukannya jejak hunian permanen, serta kondisi geologi berupa lereng curam dan jejak longsoran besar di sisi utara kawasan, memperkuat hipotesis bahwa Umang merupakan situs ritual atau jalur ziarah (pilgrimage), bukan kawasan permukiman. Masyarakat masa lalu diduga memiliki kesadaran tentang bahaya bencana alam dan mencipatakan pola adaptasi ruang bermukimnya. Tampak pemahaman Kosmologis pada Jalur batu tulis yang mendaki dari Timur ke Barat menuju gunung yang sacral. Dalam perspektif arsitektur lanskap, pelataran bawah berfungsi sebagai ruang komunal, sedangkan jalur batu tulis menjadi ruang transisi spiritual. Kata Kunci: Gayo, pra-sejarah, arkeologi lanskap, kosmologi, situs ritual
POTENSI METODE FRAKTAL UNTUK EKSPLORASI BENTUK ORNAMENTASI DALAM ARSITEKTUR Ernaning Setiyowati; Juhari Juhari; Achmad Gat Gautama; Pudji Pratitis Wismantara
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 1 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE, Maret 2026
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i1.4364

Abstract

Abstract: Ornamentation is one of the elements that can enrich architectural design, both on the exterior and interior. One method that can be used in exploring ornamentation design is the fractal method. A fractal is a geometric form or pattern characterized by self-repetition. In architecture, fractals can be used to create forms that are complex yet structured. This study aims to explore architectural ornamentation design forms using fractals. The method employed is a mathematical operation by generating Julia set fractals and Sierpinski fractal patterns to obtain Islamic ornamentation patterns involving floral and geometric forms. The results of the fractal Julia program produce 24 fractal forms that can be further developed into architectural ornamentation through geometric modification and repetition. The design exploration outcomes can be applied to interiors, building façades, and secondary-skin façades for shading devices. Keyword: fractal, ornamentation, design exploration Abstrak: Ornamentasi merupakan salah satu hal yang bisa memperkaya desain arsitektur, baik pada eksterior maupun interior. Salah satu metode yang bisa digunakan dalam eksplorasi desain ornamentasi ini adalah metode fraktal. Fraktal adalah bentuk atau pola geometris yang memiliki sifat pengulangan diri. Dalam arsitektur, fraktal dapat digunakan untuk menciptakan bentuk yang kompleks namun terstruktur. Penelitian ini bertujuan untuk mencari eksplorasi bentuk desain ornamentasi arsitektur menggunakan fraktal. Metode yang digunakan adalah operasi matematika dengan cara membangkitkan fraktal Julia set dan pola fraktal Sierpinski untuk memperoleh pola ornamentasi Islam yang melibatkan bentuk floral dan geometri. Hasil running program fractal Julia menghasilkan 24 bentuk fraktal yang bisa dikembangkan ke dalam ornamentasi arsitektur, seperti modifikasi dengan geometri dan repetisi. Hasil eksplorasi desainnya bisa digunakan pada interior, fasad bangunan, dan juga secondary skin facade untuk shading device. Kata Kunci: fraktal, ornamentasi, eksplorasi desain
Kajian kawasan Kota Lama Tangerang Berdasarkan Komponen Fisik Pariwisata Perkotaan Prisca Bicawasti Budi Sutanty; Lutfi Aulia Makarim; Meirisa Trinkawati; Gabriella Candani Paramesti Ardhana; Muhammad Afrija Ardiansyah
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 1 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE, Maret 2026
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i1.4522

Abstract

Abstract: Kota Lama Tangerang is a historic district with significant potential to be developed as a culture-based urban tourism destination; however, it faces challenges in the integration of its physical components. This study aims to identify the existing condition of the physical components of urban tourism and to analyze their level of suitability across three main corridors, namely Jalan Kisamaun, Jalan Bhakti, and Jalan Cilame. The research employed a descriptive-quantitative approach with an evaluative method based on the classification of primary, secondary, and additional elements in urban tourism theory. Assessment was conducted through ordinal scoring and weighting using the Weighted Product method to determine the suitability level of each corridor. The results indicate that Jalan Kisamaun achieved the highest suitability level (84.22%), classified as very high, due to the relatively strong integration of attractions, supporting facilities, and accessibility. Jalan Cilame falls within the high category (66.00%), while Jalan Bhakti is classified as moderate (57.78%) due to limitations in supporting accessibility. These findings highlight that the balance between attractions, facilities, and accessibility is a key factor in strengthening the area as a sustainable urban tourism destination. Keyword: Kawasan Kota Lama Tangerang, Physical Components of the Area, Urban Tourism Abstrak: Kota Lama Tangerang merupakan kawasan bersejarah yang memiliki potensi sebagai destinasi pariwisata perkotaan berbasis budaya, namun menghadapi tantangan dalam integrasi komponen fisik kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting komponen fisik pariwisata perkotaan serta menganalisis tingkat kesesuaiannya pada tiga koridor utama, yaitu Jalan Kisamaun, Jalan Bhakti, dan Jalan Cilame. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif-kuantitatif dengan metode evaluatif berdasarkan klasifikasi elemen primer, sekunder, dan tambahan dalam teori urban tourism. Penilaian dilakukan melalui skoring ordinal dan pembobotan menggunakan metode Weighted Product untuk memperoleh nilai kesesuaian masing-masing koridor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jalan Kisamaun memiliki tingkat kesesuaian tertinggi (84,22%) dengan kategori sangat tinggi karena integrasi daya tarik, fasilitas pendukung, dan aksesibilitas yang relatif baik. Jalan Cilame berada pada kategori tinggi (66,00%), sedangkan Jalan Bhakti berada pada kategori sedang (57,78%) akibat keterbatasan aksesibilitas penunjang. Temuan ini menegaskan bahwa keseimbangan antara daya tarik, fasilitas, dan aksesibilitas menjadi faktor kunci dalam penguatan kawasan sebagai destinasi pariwisata perkotaan yang berkelanjutan. Kata Kunci: Kawasan Kota Lama Tangerang, Komponen Fisik Kawasan, Pariwisata Perkotaan
PERAN WAYFINDING DALAM ARSITEKTUR: ANTARA FUNGSI DAN ESTETIKA Muhammad Fathur Hidayat; Agung Budi Sardjono2
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 1 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE, Maret 2026
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i1.4547

Abstract

Abstract: Wayfinding is an important concept in architecture that relates to an individual's ability to find direction and purpose in the physical environment, whether familiar or unfamiliar. The concept not only emphasizes functional aspects as a navigation tool, but also contains aesthetic dimensions that enrich the user's experience of the space being traversed. As architectural design develops and the complexity of modern public spaces increases, the role of wayfinding becomes increasingly crucial to ensure the comfort, safety and efficiency of user mobility in various types of buildings, such as stations, airports, museums, hospitals, shopping centers and other public facilities. This research uses a descriptive qualitative method with a literature study and case study approach to examine in depth the integration of navigation functions and aesthetic values in architectural wayfinding systems. Data were collected from various literature sources as well as observations of buildings that implement wayfinding, both highlighting functional and aesthetic aspects. The results show that an effective wayfinding system not only provides clear and intuitive directional information through signage, circulation paths, colors and landmarks, but is also able to strengthen the visual identity of the building through the design of aesthetic elements that are harmonious with the architecture. Case studies of the Guggenheim Museum in New York and the U District Station in Washington demonstrate the application of wayfinding that successfully combines navigation functions with aesthetic values, both through communicative space design and the use of strategic and visually appealing signage. Thus, the integration of function and aesthetics in wayfinding is both a challenge and an opportunity for architects and designers to create a built environment that is not only functional, but also aesthetic and comfortable for all users. Keyword: Wayfinding System, Wayfinding Function, Wayfinding Aesthetics Abstrak: Wayfinding merupakan konsep penting dalam arsitektur yang berkaitan dengan kemampuan individu untuk menemukan arah dan tujuan di lingkungan fisik, baik yang familiar maupun asing. Konsep ini tidak hanya menekankan aspek fungsional sebagai alat navigasi, tetapi juga mengandung dimensi estetika yang memperkaya pengalaman pengguna terhadap ruang yang dilalui. Seiring berkembangnya desain arsitektur dan meningkatnya kompleksitas ruang publik modern, peran wayfinding menjadi semakin krusial untuk memastikan kenyamanan, keamanan dan efisiensi mobilitas pengguna di berbagai jenis bangunan, seperti stasiun, bandara, museum, rumah sakit, pusat perbelanjaan dan fasilitas publik lainnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur dan studi kasus untuk mengkaji secara mendalam integrasi fungsi navigasi dan nilai estetika dalam sistem wayfinding arsitektur. Data dikumpulkan dari berbagai sumber pustaka serta pengamatan terhadap bangunan yang menerapkan wayfinding, baik yang menonjolkan aspek fungsional maupun estetika. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem wayfinding yang efektif tidak hanya memberikan informasi arah secara jelas dan intuitif melalui signage, jalur sirkulasi, warna dan landmark, tetapi juga mampu memperkuat identitas visual bangunan melalui desain elemen yang estetis dan harmonis dengan arsitektur. Studi kasus pada Museum Guggenheim di New York dan Stasiun U District di Washington memperlihatkan penerapan wayfinding yang berhasil menggabungkan fungsi navigasi dengan nilai estetika, baik melalui desain ruang yang komunikatif maupun penggunaan signage yang strategis dan visual menarik. Dengan demikian, integrasi fungsi dan estetika dalam wayfinding menjadi tantangan sekaligus peluang bagi arsitek dan desainer untuk menciptakan lingkungan binaan yang tidak hanya fungsional, tetapi juga estetis dan nyaman digunakan oleh seluruh pengguna. Kata Kunci: Sistem Wayfinding, Fungsi Wayfinding, Estetika Wayfinding

Filter by Year

2017 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2026 Vol 10 No 1 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE, Maret 2026 Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025 Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025 Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025 Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2025 Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024 Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024 Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024 Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2024 Vol 7 No 4 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2023 Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023 Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2023 Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023 Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022 Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022 Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022 Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021 Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2021 Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021 Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020 Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020 Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020 Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019 Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019 Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019 Vol 2 No 3 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2018 Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2018 Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2018 Vol 1 No 2 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2017 Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2017 More Issue