cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
jurnalarsitekturarcade@gmail.com
Phone
+6281220697972
Journal Mail Official
kartowijaya@ukri.ac.id
Editorial Address
Jln. Terusan Halimun No.37 (Pelajar Pejuang 45) Bandung 40263, Jawa Barat, Indonesia (+62) 22-7301987
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : 10.31848
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur Arcade is Open Journal System published by Prodi Architecture (UKRI) in 2023 has migrated to the link: https://e-journal.ukri.ac.id/arcade. This journal is a means of research publications that concentrate on the study of architecture to accommodate authors interested in the field of heritage architecture, built environment, urban design, housing and settlement, Building Technology, Interior Design. Jurnal Arsitektur Arcade was published for the first time in 2017 for its e-ISSN 2597-3746 (Online) and p-ISSN 2580-8613 (Print) publications which are published 3 times a year in March, July and November. The Editorial Board of Jurnal Arsitektur ARCADEÂ starting in 2023 publishes an e-ISSN 2597-3746 (Online) edition which will be published every 3 months, namely in March, June, September and December each year.
Articles 520 Documents
Analisis Penerapan Prinsip Desain Universal untuk Meningkatkan Aksesibilitas di Tugu Pahlawan Surabaya antonio wishardian; Azkia Avenzoar
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4361

Abstract

Abstract: Tugu Pahlawan in Surabaya is a historic public area that serves as both a city landmark and an educational tourist destination. As a public space, it should be accessible to all groups, including persons with disabilities. This research aimed to analyze the extent to which universal design principles have been implemented at Tugu Pahlawan to enhance accessibility and comfort for all visitors. The method used was a descriptive qualitative approach through direct observation, visual documentation, interviews with site management, and literature review based on the Ministry of Public Works and Housing Regulation No. 14 of 2017 regarding the 7 principles of universal design. The results show that 5 out of the 7 universal design principles have been adequately applied, including the presence of ramps, elevators, audio QR codes, and flat pedestrian paths. However, there are still shortcomings in certain aspects such as the absence of guiding blocks for the visually impaired, information in sign language, and accessible toilet facilities for people with disabilities. Keyword: Universal design, Accessibility, Public space, Disability, Tugu Pahlawan Surabaya. Abstrak: Tugu Pahlawan di Surabaya merupakan kawasan publik bersejarah yang menjadi ikon kota sekaligus destinasi wisata edukatif. Sebagai fungsi publik, kawasan ini seharusnya dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana prinsip-prinsip desain universal diterapkan di Tugu Pahlawan guna meningkatkan aksesibilitas dan kenyamanan bagi seluruh pengunjung. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi langsung, dokumentasi visual, wawancara dengan pengelola, serta studi pustaka dengan acuan Permen PUPR No. 14 Tahun 2017 tentang 7 prinsip desain universal. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dari 7 prinsip universal sudah cukup menerapkan 5 prinsip dan 2 prinsip belum cukup menerapkan prinsip, seperti adanya ramp, lift, QR code audio, dan jalur pedestrian datar. Namun, masih ditemukan kekurangan pada beberapa aspek seperti guiding block untuk tunanetra, informasi dalam bahasa isyarat, dan fasilitas toilet khusus disabilitas. Kata Kunci: Desain universal, Aksesibilitas, Ruang publik, disabilitas, Tugu Pahlawan Surabaya
TRANSFORMASI PERUBAHAN BENTUK RUMAH TINGGAL ARSITEKTUR BETAWI PINGGIRAN DI DEPOK Dwi rachma septiani; Lucia Helly Purwaningsih
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4365

Abstract

Abstract: Since the establishment of Jakarta (formerly Batavia), the coastal area, specifically at the mouth of the Ciliwung River, has been the birthplace of the Betawi ethnic. Rapid development has caused the Betawi people to gradually shift and choose to settle on the outskirts of Jakarta, one of which is Depok. As a result, Depok has become increasingly socially and culturally integrated with Jakarta, giving rise to the Betawi people of Depok known as the Betawi Pinggiran. This study aims to explore the characteristics of Betawi architecture that have transformed and adapted in the outskirts of Jakarta, while still retaining its local values. The method used in this study is a qualitative descriptive method, which involves studying and conducting direct observations of the physical characteristics of Betawi Pinggiran, based on literature studies of the mass & spatial layout, architectural elements, and construction structures of Betawi Pinggiran house objects in Depok. The result shows that the physical characteristics of Betawi houses in Betawi Pinggiran houses are somewhat influenced by Sundanese architecture, particularly in the use of materials and house shapes. This is still represented in the selected research objects, as seen in the use of gable roofs with serondoyan, umpak foundation structure, the use of gedhek, krepyak doors and krepyak windows, langkan, gigi balang, and balaksuji or gelodog stairs, which typically consist of no more than three steps. In some of the remaining Betawi Pinggiran houses, these features are gradually being abandoned with only minor modifications to the carvings, these modifications can be seen in ornaments such as doors, windows, air vents, gigi balang, and langkan. Keyword: Betawi Houses, Physical Characteristics, Betawi Pinggiran, Depok   Abstrak: Sejak awal berdirinya Jakarta (dahulunya Batavia), wilayah pesisir tepatnya di daerah muara Sungai Ciliwung merupakan wilayah cikal bakal etnis Betawi bermula. Pesatnya pembangunan, menyebabkan masyarakat Betawi perlahan tergeser dan memilih untuk menetap di pinggiran kota Jakarta, salah satunya Depok. Sehingga, Depok secara sosial budaya semakin terinklusi dengan Jakarta, yang kemudian melahirkan orang Betawi Depok sebagai generasi Betawi Pinggiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi karakteristik arsitektur Betawi yang bertransformasi dan beradaptasi di wilayah pinggiran Jakarta dengan tetap mengandung nilai lokalitas. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif dengan mempelajari dan melakukan pengamatan atau observasi langsung terhadap karakteristik fisik Betawi Pinggiran berdasarkan studi literatur bentuk massa dan tata ruang, elemen arsitektural dan struktur konstruksi, pada objek rumah Betawi Pinggiran di Depok. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa penerapan karakteristik fisik rumah Betawi pada rumah Betawi Pinggiran, sedikit banyak dipengaruhi oleh arsitektur Sunda, terutama dalam penggunaan bahan material dan bentuk rumah. Hal tersebut masih terwakilkan pada objek penelitian terpilih, terlihat dari penggunaan atap pelana dengan serondoyan, struktur pondasi umpak, penggunaan gedhek, pintu dan jendela krepyak, langkan, gigi balang dan tangga balaksuji atau gelodog yang tidak lebih dari 3 anak tangga. Namun keberadaannya pada rumah tinggal sesungguhnya sudah mulai ditinggalkan, pada beberapa rumah tinggal Betawi Pinggiran yang masih tersisa, hanya dapat dijumpai beberapa modifikasi bentuk ukiran pada ornamen di pintu, jendela, lubang angin dan juga langkan.   Kata Kunci: Rumah Betawi, Karakteristik Fisik, Betawi Pinggiran, Depok
IMPLEMENTATION OF HEALING ENVIRONMENT: PENERAPAN PRINSIP ARSITEKTUR RAMAH LINGKUNGAN PADA SUARGALOKA CAMARI SHELTER PEKANBARU Muhammad Abiyyan Zhafran; Agung Budi Sardjono
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4366

Abstract

Abstract: Animal shelters play a vital role as spaces for rescue and recovery of abandoned animals. However, most shelters in Indonesia still focus on basic functions without considering environmental quality that supports animal welfare. This study aims to analyze the application of environmentally friendly architectural principles as part of the implementation of the healing environment at Suargaloka Camari Shelter, Pekanbaru. The research method employed a qualitative-descriptive approach through literature review, field observation, and analysis of architectural elements related to natural lighting, ventilation, vegetation, materials, and spatial layout. The findings indicate that the shelter has implemented several healing environment elements, particularly natural lighting, cross ventilation, and green open spaces. However, aspects such as acoustics, sustainable materials, and interactive landscaping still require improvement. In conclusion, the application of environmentally friendly architecture principles has the potential to reduce animal stress, improve health, and accelerate the adoption process. This research contributes to the development of more sustainable shelter designs oriented toward animal welfare in Indonesia. Keyword: Healing Environment, Green Architecture, Animal Shelter Abstrak: Shelter hewan berperan penting sebagai ruang penyelamatan dan pemulihan bagi hewan terlantar. Namun, sebagian besar shelter di Indonesia masih berorientasi pada fungsi dasar tanpa mempertimbangkan kualitas lingkungan yang mendukung kesejahteraan hewan. Penelitian ini bertujuan menganalisis penerapan prinsip arsitektur ramah lingkungan sebagai bagian dari integrasi healing environment pada Suargaloka Camari Shelter Pekanbaru. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi literatur, observasi lapangan, serta analisis elemen arsitektur yang terkait dengan pencahayaan alami, ventilasi, vegetasi, material, dan tata ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa shelter telah menerapkan beberapa elemen healing environment, terutama pencahayaan alami, ventilasi silang, dan ruang terbuka hijau. Namun, aspek akustik, material berkelanjutan, dan lanskap interaktif masih perlu ditingkatkan. Kesimpulannya, penerapan prinsip arsitektur ramah lingkungan berpotensi menurunkan stres hewan, meningkatkan kesehatan, dan mempercepat proses adopsi. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan desain shelter hewan yang lebih berkelanjutan dan berorientasi pada kesejahteraan hewan di Indonesia. Kata Kunci: Healing Environment, Arsitektur Ramah Lingkungan, Shelter Hewan
GREEN WALL VENTILATION BLOCK BERBAHAN DAUR ULANG UNTUK ARSITEKTUR TROPIS BERKELANJUTAN Harry Wibowo; Siti Zulfa Yusni; Zhilli Izzadati Khairuni; Rafika Hilmi Nasution; Ahmad Zulfikar; Kharunnisak Kharunnisak; Denny Meisandy Hutauruk
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4373

Abstract

Abstract: This research develops a Green Wall Ventilation Block made from recycled plastic and glass as an innovative sustainable façade solution for tropical architecture. The study aims to design a modular ventilation block capable of supporting natural airflow while providing planting space for green wall systems. The research method integrates digital modeling using SketchUp, airflow simulation through Autodesk Vasari, formulation of recycled composite material, and fabrication of a full-scale 1:1 prototype using a combined 3D printing and fiberglass mold. Simulation results confirm that the diagonal ventilation geometry improves airflow velocity and stability under tropical climatic conditions, while the planter cavity remains functional without obstructing ventilation. The recycled plastic–glass composite demonstrates good workability, reduced density, and sufficient durability for non-structural façade applications. The final prototype shows precise geometry, structural stability, and compatibility for modular installation as a green façade. Overall, the developed system not only enhances passive ventilation and thermal performance but also contributes to reducing plastic and glass waste by repurposing them into functional architectural components. This innovation offers strong potential for wider implementation in sustainable tropical building design. Keyword: Green Wall; Recycled Materials; Ventilation Block Abstrak: Penelitian ini mengembangkan Green Wall Ventilation Block berbahan limbah plastik dan kaca sebagai solusi fasad berkelanjutan untuk arsitektur tropis. Tujuan penelitian adalah merancang modul ventilasi yang mampu mendukung aliran udara alami sekaligus menyediakan ruang tanam bagi sistem green wall. Metode penelitian mengintegrasikan pemodelan digital menggunakan SketchUp, simulasi aliran udara melalui Autodesk Vasari, formulasi material komposit berbahan daur ulang, serta pembuatan prototipe skala 1:1 menggunakan cetakan gabungan 3D printing dan fiberglass. Hasil simulasi menunjukkan bahwa geometri bukaan diagonal meningkatkan stabilitas dan kecepatan aliran udara pada kondisi iklim tropis, sementara ruang tanam tetap berfungsi tanpa menghalangi ventilasi. Material komposit plastik–kaca menghasilkan densitas lebih ringan, mudah dicetak, dan cukup kuat untuk aplikasi fasad non-struktural. Prototipe akhir memiliki presisi tinggi, stabil secara struktural, dan dapat disusun secara modular sebagai green façade. Secara keseluruhan, sistem ini tidak hanya meningkatkan ventilasi pasif dan kinerja termal bangunan, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan limbah plastik dan kaca melalui pemanfaatan kembali sebagai material konstruksi. Inovasi ini memiliki potensi besar untuk diterapkan lebih luas pada desain bangunan tropis berkelanjutan. Kata Kunci: Green Wall; Material Daur Ulang; Ventilation Block
Penerapan Arsitektur Multisensori pada Perancangan Pusat Wisata Gastronomi Tradisional Bali Ni Made Putri Nadia Saraswati; Made Mariada Rijasa; Siluh Putu Natha Primadewi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4379

Abstract

Abstract: The rapid growth of global culinary tourism and its significant contribution to Indonesia's creative economy have driven the design of the Bali Traditional Gastronomy Tourism Center to address the lack of local culinary options in key tourist areas like Canggu, Seminyak, and Kuta. This project aims to formulate specifications, concepts, and a spatial program using a multisensory architectural approach, supported by methods such as observation, comparative studies, and literature reviews. Based on a concept focused on recreational, innovative, and educational experiences, the design specifies a total building area of 5,658.06 m², which includes a restaurant, a cooking class, and a gallery, strategically located on Jalan Sunset Road, Seminyak, with a site area of 13,640 m². The design concept applies a radial circulation pattern, the Balinese architectural concept of natah, and the use of softscape and hardscape elements to enrich the sensory experience, ultimately creating an innovative, informative, and engaging culinary destination for visitors. Keyword: Bali Traditional Gastronomy Tourism, Multisensory Architecture, Innovative Experience. Abstrak: Pertumbuhan pesat pariwisata kuliner global dan kontribusinya yang signifikan terhadap ekonomi kreatif di Indonesia mendorong perancangan Pusat Wisata Gastronomi Tradisional Bali untuk mengatasi minimnya kuliner lokal di area wisata utama seperti Canggu,Seminyak, dan Kuta. Perancangan ini bertujuan merumuskan spesifikasi, konsep, dan program ruang dengan pendekatan arsitektur multisensori, didukung oleh metode observasi, studi banding, dan studi literatur. Dengan konsep yang berfokus pada pengalaman rekreatif, inovatif, dan edukatif, perancangan ini merumuskan total luas bangunan 5.658,06 m² yang mencakup restoran, cooking class, dan galeri, yang berlokasi strategis di Jalan Sunset Road, Seminyak, dengan luas tapak 13.640 m². Konsep perancangan menerapkan sirkulasi radial, serta konsep natah pada arsitektur Bali, serta penggunaan elemen softscape dan hardscape untuk memperkaya pengalaman indrawi, menciptakan destinasi wisata kuliner yang inovatif, informatif, dan menarik bagi pengunjung.  Kata Kunci: Pariwisata Gastronomi Tradisional Bali, Arsitektur Multisensori, Pengalaman Inovatif.
ANALISIS KUALITAS KENYAMANAN JALUR PEDESTRIAN DI KAWASAN WISATA SANUR DENPASAR Yolanda Chindrayani Yofee; I Ketut Mudra; Tri Anggraini Prajnawrdhi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4385

Abstract

Abstract : This study analyzes the quality of pedestrian comfort in the Sanur Tourism Area, Denpasar, where pedestrian paths play an important role in supporting tourism activities, social interaction, and public mobility. The purpose of this research is to evaluate the quality of pedestrian comfort and identify the factors influencing user comfort along the Sanur coastal pedestrian corridor. This study employed a qualitative descriptive approach through field observations and visual documentation conducted along a 5.8 km pedestrian corridor divided into four segments. The analysis was based on eight comfort aspects, namely circulation, climate, noise, odor, form, safety, cleanliness, and aesthetics. The results show that the level of comfort varies between segments. Segment 2 demonstrates the highest comfort level due to well-organized circulation, adequate shading, good safety, cleanliness, and strong visual aesthetics. Segments 1 and 4 show moderate comfort levels influenced by high tourist activity and coastal environmental factors. Segment 3 exhibits the lowest comfort level due to limited shading, sand intrusion, unclear circulation separation, low lighting, and weak visual elements. The findings indicate that pedestrian comfort in coastal tourism areas is influenced not only by natural beauty but also by proper spatial organization and facility managementKeyword: Pedestrian Path, Comfort, Sanur Tourism Area Abstrak: Penelitian ini menganalisis kualitas kenyamanan jalur pedestrian di Kawasan Wisata Sanur, Denpasar, yang berperan penting dalam menunjang aktivitas wisata, interaksi sosial, dan mobilitas masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kualitas kenyamanan jalur pedestrian serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kenyamanan pengguna di sepanjang koridor pedestrian Pantai Sanur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan dan dokumentasi visual pada jalur pedestrian sepanjang 5,8 km yang dibagi menjadi empat segmen. Analisis dilakukan berdasarkan delapan aspek kenyamanan, yaitu sirkulasi, iklim, kebisingan, aroma, bentuk, keamanan, kebersihan, dan estetika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kenyamanan berbeda pada setiap segmen. Segmen 2 memiliki tingkat kenyamanan paling optimal karena didukung sirkulasi yang tertata, peneduhan yang baik, keamanan, kebersihan, dan kualitas estetika yang tinggi. Segmen 1 dan Segmen 4 berada pada tingkat kenyamanan sedang, sedangkan Segmen 3 memiliki tingkat kenyamanan terendah akibat minimnya vegetasi peneduh, masuknya pasir ke jalur, rendahnya pencahayaan, serta keterbatasan elemen visual buatan. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa kenyamanan jalur pedestrian kawasan wisata dipengaruhi oleh faktor alam dan kualitas penataan ruang.Kata Kunci: Jalur Pedestrian, Kenyamanan, Wisata Sanur
Menjembatani Presisi Olfaktori Tunanetra sebagai Basis Konseptual Pengembangan Desain Ruang Perfumery Indrayana Dwi Pratiwi; Agung Dwiyanto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4395

Abstract

Abstract: This study examines the relationship between the olfactory precision of individuals with visual impairment and the spatial conditions that influence odor clarity in perfumery work environments. A systematic literature review was conducted to synthesize findings from neuroscience, behavioral olfaction studies, and research on odor dynamics in architectural space. The review shows that olfactory precision in visually impaired individuals emerges through neural reorganization that enhances cortical processing of smell. However, the accuracy of odor evaluation is strongly influenced by environmental factors, particularly airflow stability, material neutrality, spatial configuration, and the separation of activities that generate varying odor intensities. The study also identifies a disciplinary gap between olfactory research and architectural studies, resulting in the absence of an integrated design framework for perfumery spaces. Based on these findings, the research proposes conceptual principles for treating perfumery space as a sensory system that precisely manages odor stimuli. These principles highlight the importance of atmospheric control, neutral materials, regulated odor distribution, and clear activity zoning to support evaluative performance, including for visually impaired individuals with enhanced olfactory potential. Keyword: Olfactory; blindness; perfumery workspace design Abstrak: Penelitian ini mengkaji hubungan antara presisi olfaktori penyandang tunanetra dan kondisi ruang yang memengaruhi kejernihan aroma dalam lingkungan kerja perfumery. Systematic literature review dilakukan untuk mensintesis temuan dari neurosains, studi olfaktori perilaku, dan penelitian mengenai dinamika aroma dalam ruang. Hasil kajian menunjukkan bahwa presisi penciuman tunanetra terbentuk melalui reorganisasi neural yang memperluas pemrosesan bau pada tingkat kortikal. Meskipun demikian, ketelitian evaluasi aroma sangat dipengaruhi oleh kualitas ruang, khususnya stabilitas aliran udara, netralitas material, konfigurasi geometris ruang, serta jarak antaraktivitas yang menghasilkan intensitas aroma berbeda. Kajian ini juga mengidentifikasi adanya pemisahan disipliner antara penelitian olfaktori dan arsitektur, sehingga belum tersedia kerangka desain terpadu untuk ruang kerja perfumery. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merumuskan prinsip konseptual bagi ruang yang diperlakukan sebagai sistem sensoris yang mengelola stimulus aroma secara presisi. Prinsip ini menekankan pentingnya kontrol atmosferik, material netral, distribusi aroma yang teratur, dan zonasi aktivitas yang jelas untuk mendukung performa evaluatif, termasuk bagi penyandang tunanetra yang memiliki potensi olfaktori tinggi. Kata Kunci: Olfaktori, Tunanetra, Desain ruang perfumery Keyword: Olfactory; blindness; perfumery workspace design
KAJIAN KARAKTERISTIK PEMBENTUK KENYAMANAN TERMAL PADA PASAR RAKYAT GIANYAR Ida Bagus Trena Windu; Made Yudantini; Nyoman Susanta
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4405

Abstract

Abstract: Traditional markets are public facilities that play an important role in supporting daily economic and social activities; therefore, thermal comfort within market buildings is an essential aspect that requires attention. In tropical humid regions such as Indonesia, high air temperature and relative humidity often lead to thermal discomfort in market buildings. This study aims to analyze the thermal comfort conditions of the Gianyar Traditional Market building and to evaluate its compliance with ASHRAE Standard 55-2017 and SNI 03-6572-2001. The research employed a quantitative method with a descriptive approach. Primary data were obtained through direct field measurements of thermal environmental parameters, including air temperature, relative humidity, air velocity, and mean radiant temperature, as well as questionnaires distributed to traders and visitors to assess thermal comfort perception. Thermal comfort analysis was conducted using the PMV Calculator V2 Modified to determine the Predicted Mean Vote (PMV) and Predicted Percentage of Dissatisfied (PPD) values. The results indicate that all floors of the Gianyar Traditional Market building fall within the neutral to slightly warm category and generally meet the comfort range specified by ASHRAE standards. User perception analysis shows that most traders and visitors feel comfortable performing their activities inside the market building. However, relative humidity levels on all floors exceed the recommended standard limits. Therefore, improvements in thermal comfort are required, particularly through humidity control strategies, such as the application of dehumidifiers and appropriate passive cooling systems that align with the characteristics of traditional market buildings. Keyword: thermal comfort, traditional market, PMV, ASHRAE 55, SNI 03-6572-2001. Abstrak: Pasar rakyat merupakan fasilitas publik yang memiliki peran penting dalam menunjang aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat, sehingga kenyamanan termal di dalamnya perlu mendapat perhatian. Pada wilayah beriklim tropis lembap seperti Indonesia, suhu dan kelembapan udara yang tinggi sering menimbulkan ketidaknyamanan termal pada bangunan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kenyamanan termal Gedung Pasar Rakyat Gianyar serta mengevaluasi kesesuaiannya terhadap standar ASHRAE Standard 55-2017 dan SNI 03-6572-2001. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Data primer diperoleh melalui pengukuran langsung parameter lingkungan termal yang meliputi suhu udara, kelembapan udara, kecepatan angin, dan temperatur radiasi, serta melalui kuesioner persepsi kenyamanan termal kepada pedagang dan pengunjung. Analisis kenyamanan termal dilakukan menggunakan PMV Calculator V2 Modified untuk memperoleh nilai Predicted Mean Vote (PMV) dan Predicted Percentage of Dissatisfied (PPD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh lantai Gedung Pasar Rakyat Gianyar berada pada kategori neutral hingga slightly warm dan secara umum masih termasuk dalam rentang kenyamanan menurut standar ASHRAE. Persepsi pengguna menunjukkan bahwa mayoritas pedagang dan pengunjung merasa nyaman beraktivitas di dalam gedung pasar. Namun demikian, parameter kelembapan udara pada seluruh lantai masih berada di atas batas standar yang ditetapkan. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan kenyamanan termal melalui pengendalian kelembapan udara, antara lain dengan penggunaan dehumidifier dan sistem pendinginan pasif yang sesuai dengan karakteristik bangunan pasar rakyat. Kata Kunci: kenyamanan termal, pasar rakyat, PMV, ASHRAE 55, SNI 03-6572-2001.  
Analisis Komparatif Karakteristik Arsitektur Andyrahman pada Ragam Tipologi Fungsional: Studi Kasus Masjid, Kantor, dan Hunian M. Said Abdul Djalil Al Juken; Lalu Mulyadi; Jarot Wahyono
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4407

Abstract

Abstract: This study examines the consistency and adaptation of Andyrahman’s architectural characteristics, focusing on local materiality and Nusantara contextuality across three different functional typologies: Mosque (sacred), Office (commercial), and House (private). A qualitative descriptive approach with a comparative case study strategy was employed. Three representative projects were selected Masjid Al-Fattah, Kinekora Office, and Omah Boto. Data were collected through structured observation of architectural documentation and critical literature review. The analysis compared tectonic materiality, spatial organization, and climatic response. Findings reveal significant consistency in the values of craftsmanship spirit and material poetics, particularly the use of exposed or custom brick. Design adaptations appear in functional outcomes: in the mosque, brick acts as a filter of light and air while conveying symbolic narrative; in the office, diversified materials such as precast concrete support corporate identity and “breathing office” efficiency; and in the house, materiality enhances visual privacy and intimate thermal comfort. The study concludes that Andyrahman’s architecture represents an adaptive design system maintaining local material identity and contextual aesthetics while flexibly responding to contrasting functional demands. Keyword: Andyrahman Architecture, Local Materiality, Functional Typology Abstrak: Penelitian ini mengkaji konsistensi dan adaptasi karakteristik arsitektur Andyrahman yang berfokus pada materialitas lokal dan kontekstualitas Nusantara dalam tiga tipologi fungsional yang berbeda, yaitu Masjid (sakral), Kantor (komersial), dan Hunian (privat). Pendekatan kualitatif deskriptif dengan strategi studi kasus komparatif digunakan dalam penelitian ini. Tiga proyek representatif yang dianalisis meliputi Masjid Al-Fattah, Kinekora Office, dan Omah Boto. Data diperoleh melalui observasi terstruktur terhadap dokumentasi arsitektur serta tinjauan literatur kritis. Analisis dilakukan secara sinkronis dengan menyoroti aspek tektonika material, organisasi ruang, dan respons terhadap iklim tropis. Hasil penelitian menunjukkan adanya konsistensi nilai semangat ketukangan dan poetika material terutama pada penggunaan bata ekspos atau kustom. Adaptasi terjadi pada keluaran fungsional: pada masjid, bata berperan sebagai penyaring cahaya dan udara sekaligus narasi simbolik; pada kantor, diversifikasi material seperti beton pracetak mendukung identitas korporat dan efisiensi breathing office; sedangkan pada hunian, materialitas diolah untuk menciptakan privasi visual serta kenyamanan termal yang intim. Kesimpulannya, arsitektur Andyrahman merupakan sistem desain adaptif yang mempertahankan identitas lokal dan estetika kontekstual dengan fleksibilitas terhadap tuntutan fungsi yang berbeda. Kata Kunci: Arsitektur Andyrahman, Materialitas Lokal, Tipologi Fungsional
Konsep Open-Air Shopping Center sebagai Solusi Retail di Era Post-Pandemic Anggelia Yaufik Anggelia; Lucia Helly Purwaningsih
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4436

Abstract

Abstract: The COVID-19 pandemic has transformed patterns of interaction within public and commercial spaces, particularly in retail environments. Heightened awareness of health, air quality, and hygiene has shifted public preferences from enclosed shopping centers toward open spaces perceived as safer and more comfortable. In response to these changes, the Open-Air Shopping Center emerges as an architectural approach aligned with Post-Pandemic Architecture, addressing evolving social, economic, and environmental conditions. This study examines the potential of open-air shopping centers as a retail design solution that supports public health, user comfort, and Environmental Sustainability. The research employs a qualitative method through a literature review of post-pandemic architectural discourse and sustainable design principles, combined with a descriptive analysis of spatial configuration, natural ventilation, daylighting, and user behavior in commercial public spaces. The findings indicate that open spatial layouts integrating cross-ventilation, green vegetation, and semi-open transitional spaces enhance thermal comfort, reduce reliance on mechanical cooling systems, and improve visitor experience. This study concludes that the open-air shopping center represents a resilient, sustainable, and human-centered architectural model for future retail development. Keyword: Open-Air Shopping Center; Post-Pandemic Architecture; Environmental Sustainability Abstrak: Pandemi COVID-19 telah mengubah pola interaksi dalam ruang publik dan komersial, khususnya pada lingkungan ritel. Meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan, kualitas udara, dan kebersihan telah menggeser preferensi masyarakat dari pusat perbelanjaan tertutup menuju ruang terbuka yang dianggap lebih aman dan nyaman. Menanggapi perubahan tersebut, Pusat Perbelanjaan Terbuka muncul sebagai pendekatan arsitektural yang sejalan dengan konsep Arsitektur Pasca-Pandemi, dengan menjawab kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan yang terus berkembang. Penelitian ini mengkaji potensi pusat perbelanjaan terbuka sebagai solusi desain ritel yang mendukung kesehatan publik, kenyamanan pengguna, dan Keberlanjutan Lingkungan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif melalui studi literatur mengenai wacana arsitektur pasca-pandemi dan prinsip desain berkelanjutan, yang dipadukan dengan analisis deskriptif terhadap konfigurasi ruang, ventilasi alami, pencahayaan alami, dan perilaku pengguna pada ruang publik komersial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata ruang terbuka yang mengintegrasikan ventilasi silang, vegetasi hijau, serta ruang transisi semi-terbuka mampu meningkatkan kenyamanan termal, mengurangi ketergantungan pada sistem pendingin mekanis, dan meningkatkan kualitas pengalaman pengunjung. Penelitian ini menyimpulkan bahwa open-air shopping center merupakan model arsitektur ritel yang tangguh, berkelanjutan, dan berorientasi pada manusia untuk pengembangan ritel di masa depan. Kata Kunci: Pusat Perbelanjaan Terbuka; Arsitektur Pasca-Pandemi; Keberlanjutan Lingkungan.

Filter by Year

2017 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2026 Vol 10 No 1 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE, Maret 2026 Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025 Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025 Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025 Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2025 Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024 Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024 Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024 Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2024 Vol 7 No 4 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2023 Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023 Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2023 Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023 Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022 Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022 Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022 Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021 Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2021 Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021 Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020 Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020 Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020 Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019 Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019 Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019 Vol 2 No 3 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2018 Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2018 Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2018 Vol 1 No 2 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2017 Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2017 More Issue