cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
jurnalarsitekturarcade@gmail.com
Phone
+6281220697972
Journal Mail Official
kartowijaya@ukri.ac.id
Editorial Address
Jln. Terusan Halimun No.37 (Pelajar Pejuang 45) Bandung 40263, Jawa Barat, Indonesia (+62) 22-7301987
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : 10.31848
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur Arcade is Open Journal System published by Prodi Architecture (UKRI) in 2023 has migrated to the link: https://e-journal.ukri.ac.id/arcade. This journal is a means of research publications that concentrate on the study of architecture to accommodate authors interested in the field of heritage architecture, built environment, urban design, housing and settlement, Building Technology, Interior Design. Jurnal Arsitektur Arcade was published for the first time in 2017 for its e-ISSN 2597-3746 (Online) and p-ISSN 2580-8613 (Print) publications which are published 3 times a year in March, July and November. The Editorial Board of Jurnal Arsitektur ARCADEÂ starting in 2023 publishes an e-ISSN 2597-3746 (Online) edition which will be published every 3 months, namely in March, June, September and December each year.
Articles 520 Documents
PELESTARIAN ELEMEN FASAD BANGUNAN PEMBENTUK GAYA ARSITEKTUR KOLONIAL PADA BANGUNAN LAMA STASIUN GARUT M. Pasha Adhima Basuki; Alwin Suryono
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4243

Abstract

Abstract: Garut Station, inaugurated on August 14, 1889, has undergone various historical transformations, including its destruction in 1947 and revitalization in 2022. The existence of this building as a cultural heritage is important for preserving the character of local architecture amidst the unplanned urban development. This study aims to identify the architectural characteristics of the old Garut Station building, focusing on the components that make up its facade. The research method used is qualitative descriptive, involving field observations and literature studies. The data obtained are reconstructed into a three-dimensional model to achieve a more comprehensive understanding of the facade components, including the entrance, walls, doors, windows, roof, signage, and ornaments. The results of the study indicate that the Garut Station, rebuilt in 1949, represents a modern colonial architectural style characterized by symmetrical buildings and sloped roofs. The influence of Art Deco is also evident in the geometric details of the building's facade elements. Keyword: Colonial Architecture, Building Facade, Garut Station Abstrak: Stasiun Garut, yang diresmikan pada 14 Agustus 1889, telah mengalami berbagai transformasi sejarah, termasuk pembumihangusan pada 1947 dan revitalisasi pada 2022. Keberadaan bangunan ini sebagai cagar budaya penting untuk melestarikan karakter arsitektur lokal di tengah perkembangan kota yang tidak terencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik arsitektur bangunan lama Stasiun Garut, dengan fokus pada komponen pembentuk fasad bangunan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, yang melibatkan observasi lapangan dan studi literatur. Data yang diperoleh direkonstruksi dalam model tiga dimensi untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai komponen fasad, termasuk entrance, dinding, pintu, jendela, atap, signage dan ornamen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meski Stasiun Garut yang dibangun kembali pada 1949 pada periode arsitektur kolonial, bangunan lebih merepresentasikan gaya arsitektur kolonial transisi dengan ciri bangunan yang simetris dan beratap miring. Pengaruh Art deco juga terlihat dalam detail-detail geometris pada elemen fasad bangunan. Kata Kunci: Arsitektur Kolonial, Fasad Bangunan, Stasiun Garut
Penerapan Pendekatan Creative Leisure Space dalam Desain Taman Buku dan Majalah di Surakarta Merlynda Nge; I Gusti Ngurah Wiras Hardy; Lodwik O. Dahoklory
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4262

Abstract

Abstract: Surakarta is considered as a city of literacy due to its strong history background in writing. However, the reading interest of its residents is largely accommodated  through informal spaces, as formal reading facilities and government-provided facilities are often perceived as uncomfortable, overly rigid, and inaccessible to all groups. This design aims to present a Book and Magazine Park with a creative leisure space approach, which combines educational, social, and recreational functions in a single public space. The methods used are qualitative, including observation, literature review, site and activity analysis, and the exploration of architectural concepts and forms. The design approach is implemented through the arrangement of open and semi-open spaces, barrier-free universal circulation paths, multiple building masses, creative architectural elements, the use of color, textures and materials, as well as the integration of natural landscapes. The result is a space that supports comfort, social interaction, and reading interest in a relaxed atmosphere, while subtly stimulating creativity. Keywords: Surakarta, literacy, public space, book and magazine park, creative leisure space Abstrak: Kota Surakarta diwacanakan sebagai kota literasi karena memiliki latar belakang rekam jejak Sejarah dalam penulisan. Namun demikian, minat baca Masyarakat di Surakarta sebagian besar terfasilitasi melalui ruang-ruang informal, karena ruang baca formal dan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah dirasa belum cukup nyaman, terlalu kaku, dan belum mampu menjangkau seluruh kalangan. Perancangan ini bertujuan menghadirkan Taman buku dan Majalah dengan pendekatan creative leisure space, yang menggabungkan fungsi edukatif, sosial, dan rekreatif dalam satu kesatuan ruang publik. Metode yang digunakan bersifat kualitatif, meliputi observasi, studi literatur, analisis lokasi dan aktivitas, serta eksplorasi konsep dan bentuk arsitektural. Pendekatan diimplementasikan melalui pengolahan ruang terbuka dan semi terbuka, jalur sirkulasi universal tanpa hambatan, komposisi massa jamak, elemen-elemen kreatif, penggunaan warna, tekstur dan material, dan integrasi lanskap alami. Hasilnya adalah ruang yang mendukung kenyamanan, interaksi, peningkatan minat baca secara yang santai, sekaligus mendorong kreativitas secara halus. Kata Kunci: Surakarta, literasi, ruang public, taman buku dan majalah, creative leisure space  
The Elderly Wayfinding: Wayfinding Lanjut Usia Berbasis Sensorik Pendengaran, Penciuman, dan Kulit di Kota Tua Jakarta Boi Dapot Lumban Raja; Dedes Nur Gandarum
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4271

Abstract

Abstract: One of the actions in the program is the National Programs for Age-Friendly Cities and Communities (AFCC) is to support all elderly people enjoying independence and good health. To enhance independence, an elderly-friendly environment needs to pay attention to the elderly-friendly wayfinding aspect to help the process of achieving and moving activities independently. However, elderly wayfinding have not been studied in a lot. The wayfinding process is influenced by the individual's sensory abilities and the condition of the physical setting (environment). The physical condition of the elderly continues to decline with increasing age. The research question from the problem above is what is the role of physical settings on sensory in elderly wayfinding. The purpose of this study is to obtain a picture of the influence of physical settings on the sensory abilities of the elderly in wayfinding patterns particularly responded by kinesthesia and haptic sensory. The method in this study aims to obtain a picture of the physical environment responded by kinesthesia and haptic sensory that is friendly to the elderly in supporting independence. The research method used in this study is a quantitative method. This method uses a study approach to the Jakarta History Museum and Fatahillah Park Kota Tua in the old city area of Jakarta. The research method is carried out by observing the relationship between sensory abilities in a particular setting in the wayfinding process. Keywords:  Wayfinding, Elderly, Physical Setting, Sensory Abstrak: Salah satu tindakan dalam program tersebut adalah National Programs for Age-Friendly Cities and Communities (AFCC) untuk mendukung semua orang lanjut usia menikmati kemandirian dan kesehatan yang baik. Untuk meningkatkan kemandirian, lingkungan yang ramah lansia perlu memperhatikan aspek wayfinding ramah lansia untuk membantu proses mencapai dan memindahkan aktivitas secara mandiri. Namun, wayfinding lansia belum banyak dipelajari. Proses wayfinding dipengaruhi oleh kemampuan sensorik individu dan kondisi setting fisik (lingkungan). Kondisi fisik lansia terus menurun seiring bertambahnya usia. Pertanyaan penelitian dari masalah di atas adalah apa peran setting fisik terhadap sensorik dalam wayfinding lansia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang pengaruh setting fisik terhadap kemampuan sensorik lansia dalam pola wayfinding khususnya yang direspon oleh kinestesi dan sensorik haptik. Metode dalam penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang lingkungan fisik yang direspon oleh kinestesi dan sensorik haptik yang ramah terhadap lansia dalam mendukung kemandirian. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Metode ini menggunakan pendekatan studi kasus di Museum Sejarah Jakarta dan Taman Fatahillah Kota Tua di kawasan kota tua Jakarta. Metode penelitian dilakukan dengan mengamati hubungan antara kemampuan sensorik pada suatu setting tertentu dalam proses pencarian jalan. Kata Kunci: Pencarian Jalan, Lansia, Setting Fisik, Sensorik
TINGKAT WALKABILITY PADA KORIDOR JALAN DANAU TAMBLINGAN, KELURAHAN SANUR, KOTA DENPASAR Koming Noziari; Ni Ketut Agusintadewi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4338

Abstract

Abstract: This study aims to analyze the level of walkability of pedestrian pathways (sidewalks) based on the Global Walkability Index (GWI) and to analyze the gap between user perception and expectation in the Jalan Danau Tamblingan corridor. The research object is the pedestrian pathway of Jalan Danau Tamblingan, and the subjects are its users. The methods used include the analysis of the GWI walkability level through field observation and a gap analysis of perception using a Likert-scale questionnaire. Sampling was conducted using a non-probability sampling technique of the accidental sampling type, involving a total of 99 respondents. The results show that the walkability level of Jalan Danau Tamblingan is classified as low to moderate. Although sidewalks are available, the low GWI score is primarily caused by a total failure in disability accessibility (identified as the most critical weakness), as well as high conflict with vehicles and inconsistent physical obstructions along the corridor. Significant improvement in walkability (to achieve a high GWI score) necessitates serious intervention in infrastructure repair and the implementation of universal design. The analysis of the perception and expectation gap also provides a guide for prioritizing the interventions most needed by users. Keyword: Walkability, Perception, Expectation. Abstrak: Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat walkability jalur pejalan kaki (trotoar) berdasarkan Global Walkability Index (GWI) dan menganalisis kesenjangan (gap) antara persepsi dan harapan pengguna di koridor Jalan Danau Tamblingan. Objek penelitian adalah jalur pejalan kaki Jalan Danau Tamblingan, dengan subjek penelitian adalah penggunanya. Metode yang digunakan mencakup analisis tingkat walkability GWI melalui observasi lapangan dan analisis gap persepsi menggunakan kuesioner berskala Likert. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non-probability sampling jenis accidental sampling dengan total 99 responden. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat walkability Jalan Danau Tamblingan tergolong rendah hingga sedang. Meskipun trotoar tersedia, skor rendah GWI disebabkan oleh kegagalan total dalam aksesibilitas disabilitas (menjadi kelemahan paling kritis), serta konflik tinggi dengan kendaraan dan hambatan fisik yang inkonsisten di sepanjang koridor. Peningkatan signifikan walkability (mencapai skor GWI tinggi) memerlukan intervensi serius pada perbaikan infrastruktur dan penerapan desain universal. Analisis gap persepsi dan harapan juga dapat memberikan panduan untuk memprioritaskan intervensi yang paling dibutuhkan pengguna. Kata Kunci: Walkability, Harapan, Persepsi.  
Transformasi Pasar Sekanak di Palembang : Kajian Sense of Place dalam Konteks Modernisasi Kawasan Riparian Rakhmat Fikran Zuhair; Rizka Drastiani; Syifa Rahmi Meliansari; Viata Viriezky
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4343

Abstract

Abstract: The transformation of Sekanak Market in Palembang reflects a shift from water-based to land-based activities due to riparian modernization. This change affects not only the market’s physical form but also its meaning, identity, and spatial attachment. Using a qualitative approach and the sense of place framework, this study explores how space, experience, and local culture interact. Data were obtained through interviews, observation, and visual documentation, and analyzed within three dimensions: place identity, place attachment, and place of community. Findings indicate that modernization has altered the market’s orientation to the river and reduced social interaction, yet riparian cultural values persist in collective memory and daily economic life. Integrating sense of place principles is essential to ensure that revitalized traditional markets preserve local identity and cultural continuity. Keyword: Riparian Culture, Sekanak Traditional Market, Sense of Place, Traditional Market Transformation Abstrak: Transformasi Pasar Sekanak di Palembang mencerminkan pergeseran orientasi masyarakat dari aktivitas air ke darat akibat modernisasi kawasan riparian. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada bentuk fisik pasar, tetapi juga pada makna, identitas, dan keterikatan ruang masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan kerangka sense of place untuk memahami hubungan antara ruang, pengalaman, dan budaya lokal. Analisis dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi visual berdasarkan tiga dimensi utama: place identity, place attachment, dan place of community. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modernisasi pasar mengubah orientasi terhadap sungai dan pola interaksi sosial, namun nilai-nilai budaya riparian tetap hidup dalam memori kolektif dan aktivitas ekonomi. Integrasi prinsip sense of place menjadi penting dalam revitalisasi pasar tradisional agar kontinuitas identitas lokal tetap terjaga. Kata Kunci: Budaya Riparian, Pasar Sekanak, Sense of Place, Transformasi Pasar Tradisional
STRATEGI OPTIMALISASI JALUR WISATA DALAM MENINGKATKAN AKSESIBILITAS WISATAWAN DI CANDI BARONG Vieka Alana Leyla Siddiq; Balbino Da Conceicao Soares; Emmelia Tricia Herliana; Incentia Reni Vitasurya
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4348

Abstract

Abstract: Barong Temple, a Hindu cultural heritage site in Yogyakarta, faces accessibility challenges that affect the tourist experience, particularly in terms of navigation and the availability of tourist route information. This study aims to analyse the factors that hinder tourist route accessibility at Barong Temple and to design optimisation strategies through the development of tourist maps in physical and digital formats. The study employs a qualitative method with a case study approach to Barong Temple. The analytical approach uses a descriptive-exploratory method, focusing on wayfinding strategies and tourist accessibility. Data collection was conducted through literature review, observation, and interviews with Barong Temple managers to obtain professional perspectives on the temple. The research findings identified the lack of directional signs, tourist spot information, and supporting facilities as the main challenges. The proposed strategies include physical maps with clear visual designs and interactive digital maps based on applications or QR codes, covering main routes, photo spots, and facilities such as parking areas. The implementation of these strategies is expected to enhance accessibility, tourist satisfaction, and visitor numbers, while supporting cultural preservation and sustainable site management. Recommendations include the implementation of tourist maps, regular maintenance, and evaluation of their impact on tourist experiences. Keyword: Tourism accessibility, Tourism Map, Optimalism Strategy, Barong Temple) Abstrak: Candi Barong, situs warisan budaya Hindu di Yogyakarta, menghadapi tantangan aksesibilitas yang memengaruhi pengalaman wisatawan, terutama terkait navigasi dan ketersediaan informasi jalur wisata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menghambat aksesibilitas jalur wisata di Candi Barong dan merancang strategi optimalisasi melalui pengembangan peta wisata dalam format fisik dan digital. Penelitian mengggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus terhadap Candi Barong. Pendekatan analitis Menggunakan metode deskriptif-eksploratif, dengan fokus pada strategi wayfinding dan aksesibilitas wisata. Pengumpulan data dilakukan dengan studi literatur, observasi, dan wawancara terhadap pengelola candi Barong untuk mendapatkan perspektif profesional terhadap candi barong. Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa kurangnya petunjuk arah, informasi spot wisata, dan fasilitas pendukung menjadi kendala utama. Strategi yang diusulkan meliputi peta fisik dengan desain visual yang jelas dan peta digital interaktif berbasis aplikasi atau QR code, yang mencakup rute utama, spot foto, serta fasilitas seperti area parkir. Implementasi strategi ini diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas, kepuasan wisatawan, dan jumlah kunjungan, sekaligus mendukung pelestarian budaya dan pengelolaan situs secara berkelanjutan. Rekomendasi meliputi penerapan peta wisata, pemeliharaan berkala, dan evaluasi dampaknya terhadap pengalaman wisatawan. (ARIAL 9, spasi tunggal). (ARIAL 9, spasi tunggal). Kata Kunci: aksesibilitas wisata, peta wisata, strategi optimalisasi, Candi Barong.  
ENHANCING TOURISM ACCESSIBILITY IN BATAM CITY THROUGH SMART SUSPENDED MONORAIL ROUTE MODELLING Livvy Rinoa; Hendro Murtiono; Stivani Ayuning Suwarlan; Andri Irfan Rifai
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4349

Abstract

The transportation fulfils as the support of human activity and is the leading factor for economy as well as tourism development. Batam City, positioned strategically close to Singapore and Malaysia, is confronted with severe problems in urban mobility after experiencing a rapid rise in population and the inflow of international tourists. The low capacity of Trans Batam and infrastructure development stagnation have restricted tourism access, calling for urgent new and sustainable solutions for transportation. In this research, an integrated suspended monorail route in the framework of the Smart City will be designed to enhance tourism connectivity and sustainable urban mobility in this regard. It is a qualitative approach, including interviews with stakeholders, observation on the field and survey of 400 tourists, both domestic and international. Thematic analysis based on GIS spatial mapping was utilized to analyze accessibility gaps and to develop strategic routes. The results indicate that there is a strong support from public and institutional to introduce a technology-based monorail system that will connect Nongsa-Batam Center-Harbour Bay as the main tourism nodes. Its potential integration with Intelligent Transportation Systems (ITS) and Smart Tourism concepts further emphasizes its importance in improving efficiency, equity, and the experience of the visitors. This paper makes conceptual contributions by linking spatial–qualitative methods and smart transport design in the context of mid-sized cities in Southeast Asia, and offers practical policy implications for tourism-based sustainable mobility innovation in Batam.
RUMAH ADAT SEBAGAI PUSAT DALAM POLA RUANG LUHUR KAMPUNG ADAT KRANGGAN Di KOTA BEKASI Abdullah Ali; R. Siti Rukayah; Agung Budi Sardjono; Sudarmawan Juwono
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4354

Abstract

Abstract: Kampung Kranggan is one of the traditional villages in Bekasi City that has the strength to maintain its cultural tradition space amidst the dynamics of urban space development. The factors that make Kranggan Village exist are historical aspects, ancestral knowledge, traditional houses, and heirs, or actors of its space called Kokolot. The Kranggan traditional community adheres to the philosophy of Opat Mandahap Kalima Pancer which is an understanding of spatial order that starts from human existence in their environment. This study aims to determine how spatial patterns, traditional houses as the center of customary order, and village spatial order are in the philosophy of Opat Mandahap Kalima Pancer. This study uses a qualitative method with a phenomenological approach, which emphasizes observation, the essence behind existence, the reality behind appearance, and the noema behind visible phenomena. Based on inductive analysis, the results of this study found local genius, namely the noble space typical of Kampung Kranggan. Where the noble variant is a spatial pattern of Kampung Kranggan which consists of a hierarchy between the center or pancer, namely the area of the traditional house of the Sepuh Agung, and sub-centers, namely the traditional houses of the Kokolot. This spatial pattern intersects with the spatial behavior of the kokolot as pancer in traditional rituals and daily activities. Therefore, local knowledge of the noble space is the soul of the space that contains values-meanings, obedience, agreement and kinship which are the capital of the cultural space of the Kampung Kranggan. Keyword: Traditional House, Center, Luhur, Kampung  Abstrak: Kampung Adat Kranggan merupakan salah satu kampung adat di Kota Bekasi yang memiliki kekuatan dalam mempertahankan ruang tradisi budayanya di tengah dinamika perkembangan ruang kota. Faktor-faktor yang membuat Kampung Kranggan eksis adalah aspek kesejarahan, pengetahuan warisan leluhur, rumah adat, dan pewaris, atau aktor pelaku ruangnya yang disebut Kokolot. Masyarakat adat Kranggan berpegang pada filosofi Opat Mandahap Kalima Pancer yang merupakan pemahaman tatanan ruang yang bertitik tolak dari keberadaan manusia terhadap lingkungan hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola keruangan, rumah adat sebagai pusat tata adat, dan tata ruang kampung dalam filosofis Opat Mandahap Kalima Pancer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang menekankan pada pengamatan, esensi di balik eksistensi, realitas di balik kenampakan, dan noema di balik fenomena yang nampak. Berdasarkan pada analisis induktif, hasil penelitian ini  menemukan kegeniusan lokal yaitu ruang luhur khas Kampung Kranggan. Dimana varian luhur,  merupakan  pola ruang Kampung Kranggan yang terdiri dari hirarkis antara pusat atau pancer yaitu wilayah rumah adat Sepuh Agung, dan sub-sub pusat yaitu rumah-rumah adat Para Kokolot. Pola Keruangan ini, beririsan dengan perilaku keruangan oleh para kokolot sebagai pancer dalam ritual adat dan aktivitas keseharian. Oleh sebab itu  pengetahuan lokal ruang luhur merupakan jiwa ruang yang terkandung nilai-makna, kepatuhan, kesepakatan dan kekerabatan yang merupakan modal ruang budaya Kampung Adat Kranggan. Kata Kunci: Rumah Adat, Pusat, Luhur, Kampung
Analisis Sumber Inspirasi Mahasiswa Arsitektur dalam Gubahan Massa Bangunan Bentang Lebar lukman afif; Mukhamad Risa Diki Pratama; Bambang Perkasa Alam; Okita Sisy Tiara; muhammad sega sufia purnama
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4355

Abstract

Abstract: This study aims to identify the sources of ideas used by architecture students during the process of mass composition exploration in two types of buildings, medium-rise buildings and wide-span buildings. The research method used a descriptive quantitative approach involving 74 students as respondents who produced two mass compositions each. The data obtained were then analyzed qualitatively and quantitatively to identify the origin of ideas, both from the building function, environmental elements, basic geometric forms, and cultural context. Findings reveal that the predominant source of ideas is derived from pure geometric transformations, followed by objects in the surrounding environment and thematic concepts such as organic and tropical styles. A minority applied pragmatic inspiration adapting to environmental conditions. These results underline the diversity of conceptual approaches among students and emphasize the importance of environmental context and cultural elements in architectural creativity. The study contributes to better understanding of the creative process in architectural education and provides insights for curriculum development aimed at nurturing student creativity. Keyword: Mass composition, Idea sources, Architecture students, Design process, Architectural education, Creative process. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sumber ide yang digunakan mahasiswa arsitektur dalam proses eksplorasi gubahan massa pada dua jenis bangunan, yaitu bangunan bertingkat sedang dan bangunan bentang lebar. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 74 mahasiswa sebagai responden yang menghasilkan dua gubahan massa masing-masing. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif untuk mengidentifikasi asal usul ide, baik dari fungsi bangunan, elemen lingkungan, bentuk geometri dasar, maupun konteks budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber ide dominan berasal dari perubahan bentuk geometri murni, diikuti oleh ide dari objek atau benda sekitar, dan konsep tematik seperti organik dan tropis. Sebagian kecil menggunakan ide pragmatis sebagai bentuk adaptasi dan respon terhadap lingkungan. Temuan ini menegaskan keragaman pendekatan mahasiswa dalam mencari ide untuk eksplorasi gubahan massa, serta pentingnya konteks lingkungan dan konteks budaya dalam proses kreatif perancangan arsitektur. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman proses kreatif dalam pendidikan arsitektur dan dapat menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum yang menunjang kreativitas mahasiswa. Kata Kunci: Gubahan massa, Sumber ide, Mahasiswa arsitektur, Proses perancangan, Pendidikan arsitektur, Kreativitas desain.
Optimalisasi Pencahayaan Alami pada Ruang Studio Prodi Desain Interior ISI Yogyakarta sebagai Upaya Efisiensi Energi Mira Fitriana; Sandy Aelea Jennyta
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4360

Abstract

Abstract: This study aims to optimize the use of natural lighting in the Design Interior studio at the Indonesian Institute of Art Yogyakarta to enhance energy efficiency. The research employed a qualitative descriptive method with a case study approach, involving field observations, light intensity measurements using a lux meter, and user interviews. Measurements revealed that natural light intensity in Studio C2 ranged between 149-281 lux, below the SNI 6197:2011 standard of 750 lux. Dialux simulations confirmed uneven light distribution, with over-lighting near windows (up to 2500 lux) and under-lighting in central and opposite areas. Key obstacles included window orientation, external vegetation, and non-reflective interior materials. Proposed design solutions include spatial rearrangement, use of reflective materials, and window modifications to improve light distribution and reduce reliance on artificial lighting, supporting the green campus initiative Keyword: Natural Lighting, Energy Efficiency, Studio, Interior Design Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan pencahayaan alami pada ruang studio Prodi Desain Interior Institut Seni Indonesia Yogyakarta guna meningkatkan efisiensi energi. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus, meliputi observasi lapangan, pengukuran intensitas cahaya menggunakan lux meter, dan wawancara dengan pengguna. Hasil pengukuran menunjukkan intensitas cahaya alami di Studio C2 berkisar antara 149-281 lux, di bawah standar SNI 6197:2011 sebesar 750 lux. Simulasi Dialux memperlihatkan distribusi cahaya tidak merata, dengan area dekat jendela terlalu terang (hingga 2500 lux) dan area tengah serta sisi berlawanan gelap. Hambatan utama meliputi orientasi bukaan, vegetasi luar, dan material interior yang kurang reflektif. Solusi desain yang diusulkan mencakup penataan ulang ruang, penggunaan material reflektif, dan modifikasi bukaan jendela untuk meningkatkan distribusi cahaya dan mengurangi ketergantungan pada pencahayaan buatan, mendukung terwujudnya green campus. Kata Kunci: Kata Pencahayaan Alami, Efisiensi Energi, Studio, Desain Interior

Filter by Year

2017 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2026 Vol 10 No 1 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE, Maret 2026 Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025 Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025 Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025 Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2025 Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024 Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024 Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024 Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2024 Vol 7 No 4 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2023 Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023 Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2023 Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023 Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022 Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022 Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022 Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021 Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2021 Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021 Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020 Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020 Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020 Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019 Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019 Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019 Vol 2 No 3 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2018 Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2018 Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2018 Vol 1 No 2 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2017 Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2017 More Issue