cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
jurnalarsitekturarcade@gmail.com
Phone
+6281220697972
Journal Mail Official
kartowijaya@ukri.ac.id
Editorial Address
Jln. Terusan Halimun No.37 (Pelajar Pejuang 45) Bandung 40263, Jawa Barat, Indonesia (+62) 22-7301987
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : 10.31848
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur Arcade is Open Journal System published by Prodi Architecture (UKRI) in 2023 has migrated to the link: https://e-journal.ukri.ac.id/arcade. This journal is a means of research publications that concentrate on the study of architecture to accommodate authors interested in the field of heritage architecture, built environment, urban design, housing and settlement, Building Technology, Interior Design. Jurnal Arsitektur Arcade was published for the first time in 2017 for its e-ISSN 2597-3746 (Online) and p-ISSN 2580-8613 (Print) publications which are published 3 times a year in March, July and November. The Editorial Board of Jurnal Arsitektur ARCADEÂ starting in 2023 publishes an e-ISSN 2597-3746 (Online) edition which will be published every 3 months, namely in March, June, September and December each year.
Articles 448 Documents
WALKABILITY DI KAWASAN TITIK NOL KILOMETER YOGYAKARTA MELALUI SIMULASI URBAN MODELLING INTERFACE (UMI) Nugrahaini, Fadhilla Tri
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Sustainable city development considered as a way to create better environment for the society. Walkability needs to be encouraged to reduce emissions and increase energy efficiency. This paper highlights the walkability assessment in Titik Nol Kilometer Yogyakarta. The simulation using Urban Modelling Interface (UMI) evaluates that the walkscore is need to be increased.  Keyword: Sustainable, Walkability, Walkscore Abstrak: Pengembangan kota berkelanjutan dinilai sebagai suatu langkah untuk menciptakan lingkungan yang baik bagi masyarakat. Kemudahan dalam berjalan kaki perlu didorong untuk mengurangi emisi dan meningkatkan efisiensi energy. Pengukuran nilai walkability di Titik Nol Kilometer Yogyakarta sebagai langkah awal untuk mempelajari tingkat keberlanjutan pada kawasan tersebut. Metode simulasi menggunakan Urban Modelling Interface menampilkan bahwa nilai walkscore pada kawasan tersebut belum ideal. Kata Kunci: Keberlanjutan, Walkability, Walkscore
ADAPTASI PERMUKIMAN TERDAMPAK BENCANA ROB (Studi Kasus: Kelurahan Bandengan, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan) Adlina, Zata Izzati; Sardjono, Agung Budi; Sari, Suzanna Ratih
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The occurrence of climate change and environmental problems resulted changes in Bandengan urban Village’s settlements, and especially on its physical elements. Bandengan urban Village as a settlement in coastal area was threatened by the “rob” disaster, which means the phenomenon of flooding result of rising sea levels that regularly occur until now. Moreover, there are also threats from high wave disasters, abrasion, Land Subsidence, and flooding. The existence of these phenomena, bring up responses from the community to adapt and survive in the environment from the threat of its disaster. This study aims to determine the form of adaptation that has been done by the community in settlements affected by the “rob” disaster in Bandengan urban Village. The research uses qualitative methods with descriptive approaches, and uses purposefully select sampling techniques. That is by taking the research zone in an areas that are suspected of having the highest risk, and the areas with the lowest risk level from the threat of “rob” disaster in Bandengan urban Village. The analysis was only focus on the physical form of houses element within the settlement, that’s because to get the specific and comprehensive findings. The results showed that the most dominant form of adaptation was divided into three groups, that were the avoidance adaptation was done by moving to another place that was more secure or evacuate, protect adaptation was done by creating dikes and fill with soil, as well as adaptation to accommodate was done by elevating the floor and lifted up the roof of the houseKeyword: Adaptation, Settlements, “Rob” disasterAbstrak: Terjadinya perubahan iklim dan permasalahan lingkungan mengakibatkan permukiman di kelurahan Bandengan mengalami perubahan secara signifikan, khususnya pada elemen fisik permukiman. Kelurahan Bandengan sebagai permukiman di daerah pesisir terancam oleh bencana rob, yaitu fenomena banjir akibat naiknya permukaan air laut yang rutin terjadi sampai saat ini. Selain itu terdapat pula ancaman dari bencana gelombang tinggi, abrasi, Land Subsidence, dan banjir. Adanya fenomena tersebut memunculkan respon dari masyarakat untuk menyesuaikan diri dan bertahan hidup di lingkunganya dari ancaman bencana. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui bentuk adaptasi yang dilakukan masyarakat pada permukiman terdampak bencana rob di Kelurahan Bandengan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, serta menggunakan teknik sampling purposefully select. Yaitu dengan mengambil zona penelitian pada daerah yang diduga memiliki resiko tertinggi, dan daerah dengan tingkat resiko paling rendah terhadap ancaman bencana rob di Kelurahan Bandengan. Analisis yang dilakukan hanya berfokus pada bentuk fisik elemen rumah dalam permukiman, dikarenakan untuk mendapat hasil temuan secara spesifik dan komperhensif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk adaptasi yang paling dominan dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu adaptasi menghindar dilakukan dengan pindah ke tempat lain yang lebih aman atau mengungsi, adaptasi melindungi dilakukan dengan membuat  tanggul dan mengurug, serta adaptasi mengakomodasi dilakukan dengan meninggikan lantai dan meninggikan atap rumah.Kata Kunci: Adaptasi, Permukiman, Bencana Rob
PENGARUH MATERIAL KACA SEBAGAI SELUBUNG BANGUNAN TERHADAP BESAR PERPINDAHAN PANAS PADA GEDUNG DIKLAT PMI PROVINSI JAWA TENGAH Aseani, Wingky; Setyowati, Erni; Sari, Suzanna Ratih
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Buildings in the tropical area should be able to anticipate the tropical climate well. Buildings with active systems design need to be planned in such a way that energy use in the building becomes effective and efficient, Setyowati (2015). The envelope  of the building became the front guard of radiation into the building. With the right building envelope  design, the use of energy in the building can be optimally saved. Building envelope  as a building element that enclosesit  is a wall and translucent roof or non-translucent light where most thermal and light energy moves through the element. The results show that solar radiation contributes the largest amount of heat entering the building. The concept of OTTV calculates the heat transfer from outside into a building that is conduction through infinite walls of light, sun-glass radiation, and heat conduction on glass. Large solar radiation transmitted through the building envelope is influenced by the building facade, the ratio of the glass area and the overall wall of the wall (wall to wall ratio), and the type and thickness of glass used. If the OTTV value of a building is less than or equal to 35 W / m2, then the building is in compliance with the Energy Efficient Building Terms SNI 03-6389-2011. PMI Training Center Central Java Province as the object of study is a modern building dominated by glass material. The glass used is a hot-colored glass. The result of the OTTV calculation on the East wall of the Central Java Education Center was 33.140 W / m2, on the North Wall was 33.577 W / m2, on the West wall was 41.645 W / m2, at the South wall of 30.468 W / m2. From the OTTV calculation, total OTTV value is 35,5991 W / m2, so it is concluded that the building of PMI Training Center in Central Java Province does not meet the requirement of energy-saving building based on SNI 03-6389-2011. To achieve the ideal value of OTTV energy-saving buildings based on SNI 03-6389-2011 at PMI Training Center Central Java Province, it is necessary to reduce the use of glass to 10.5% of the wall area on the western wall. From the simulation result after repairing on West side wall, total OTTV value is 32.9795 W / m2 in order that PMI Training Center of Central Java Province could fulfilled energy saving building requirement based on SNI 03-6389-2011.Keywords: Building Envelope, Glass, OTTVAbstrak: Bangunan di daerah tropis seyogyanya dapat mengantisipasi iklim tropis dengan baik. Bangunan dengan sistem aktif desain perlu direncanakan sedemikian rupa agar pemanfaatan energi didalam bangunan menjadi efisien, efektif dan hemat, Setyowati (2015). Selubung bangunan menjadi garda depan masuknya radiasi ke dalam bangunan. Dengan desain selubung bangunan yang tepat, maka pemakaian energi didalam bangunan dapat dihemat seoptimal mungkin. Selubung Bangunan sebagai elemen bangunan yang menyelubungi yaitu dinding dan atap tembus atau yang tidak tembus cahaya dimana sebagian besar energi termal dan cahaya berpindah melalui elemen tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa radiasi matahari adalah penyumbang jumlah panas terbesar yang masuk ke dalam bangunan. Konsep OTTV menghitung perpindahan panas dari luar ke dalam bangunan yaitu konduksi melalui dinding tak tembus cahaya, radiasi matahari yang melalui kaca, dan konduksi panas pada kaca. Besar radiasi matahari yang ditransmisikan melalui selubung bangunan dipengaruhi oleh fasade bangunan yaitu perbandingan luas kaca dan luas dinding bangunan keseluruhan (wall to wall ratio), serta jenis dan tebal kaca yang digunakan. Bila nilai OTTV suatu bangunan yang dihasilkan kurang/sama dengan 35 W/m2, maka bangunan tersebut sudah sesuai dengan Syarat Bangunan Hemat Energi pada SNI 03-6389-2011. Gedung Diklat PMI Provinsi Jawa Tengah sebagai objek studi adalah bangunan berlanggam modern dengan dominasi bukaan dinding bermaterial kaca. Kaca yang digunakan adalah kaca berwarna jenis Panasap. Hasil perhitungan OTTV pada dinding Timur Gedung Diklat PMI Provinsi Jawa Tengah sebesar 33,140 W/m2, pada dinding Utara sebesar 33,577 W/m2, pada dinding Barat sebesar 41,645 W/m2, pada dinding Selatan sebesar 30,468 W/m2. Dari hasil perhitungan OTTV didapatkan nilai Total OTTV sebesar 35,5991 W/m2, sehingga disimpulkan bangunan Gedung Diklat PMI Provinsi Jawa Tengah tidak memenuhi syarat bangunan hemat energi berdasarkan SNI 03-6389-2011. Untuk mencapai nilai ideal OTTV bangunan hemat energi berdasar SNI 03-6389-2011 pada Gedung Diklat PMI Provinsi Jawa Tengah, maka perlu dilakukan pengurangan  pemakaian kaca menjadi 10,5% dari luas dinding pada dinding sisi Barat. Dari hasil simulasi setelah dilakukan perbaikan pada dinding sisi Barat, didapatkan nilai Total OTTV sebesar 32,9795 W/m2 sehingga Gedung Diklat PMI Provinsi Jawa Tengah memenuhi syarat bangunan hemat energi berdasarkan SNI 03-6389-2011.Kata Kunci: Selubung Bangunan, Kaca, OTTV
KARAKTERISTIK PERMUKIMAN DAERAH KOTO DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI, PROVINSI RIAU Yandri, Sepli; Sari, Suzanna Ratih; Sardjono, Agung Budi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: An area usually has an important area as the center of government activities. as found in every area in Kuantan Singingi Regency. Every region in Kuantan Singingi district has an area that functions as a customary area. the customary area is named as koto. Traditional Koto settlements are one of the traditional settlements in Kuantan Singingi that try to maintain culture amid the development of modernization. In the Koto area, there are buildings that function as customary buildings, namely in the form of the Koto mosque, balai, and Koto house building. These three buildings are a sign that this area is the center of traditional activities in a region. The purpose of this study was to find buildings that functioned as traditional activities and concluded the characteristics of settlements which became the identity of traditional settlements in Kuantan Singingi. The method of descriptive analysis is used as a method of delivering descriptions relating to the traditional settlement of the Koto area by analyzing traditional settlements in the Koto Benai and Koto Sentajo.Keyword: Traditional Settlement, Vernacular Architecture, Kuantan Singingi Traditional House, Koto House.Abstract: Suatu daerah memiliki sebuah kawasan yang penting sebagai pusat kegiatan pemerintahan. Begitu pula yang terdapat pada setiap kenegrian di Kabupaten Kuantan Singingi. Setiap kenegrian di Kuantan Singingi memiliki daerah yang berfungsi sebagai kawasan adat. Kawasan adat tersebut diberi nama dengan sebutan koto. Permukiman tradisional koto menjadi salah satu permukiman tradisional di Kuantan Singingi yang berusaha mempertahankan budaya ditengah perkembangan modernisasi. Pada daerah koto terdapat bangunan yang berfungsi sebagai bangunan adat yaitu berupa bangunan mesjid, bangunan balai adat, dan bangunan rumah adat. Ketiga bangunan ini menjadi pertanda bahwa daerah ini adalah sebagai pusat kegiatan adat istiadat dalam suatu nagori (negri).  Tujuan penelitian ini untuk menemukan bangunan yang berfungsi sebagai aktivitas adat dan menyimpulkan karakteristik permukiman yang menjadi identitas permukiman tradisional di Kuantan Singingi. Metode deskripsi analisis, di pakai sebagai cara penyampaian deskripsi mendalam terkait permukiman adat daerah koto dengan menganalisa permukiman tradisional pada daerah Koto Benai dan Koto Sentajo.Kata Kunci : Permukiman Tradisional, Arsitektur Vernakular, Rumah Adat Kuantan Singingi, Rumah koto.
ANALISIS KONFIGURASI RUANG PONDOKAN MAHASISWA DI KAWASAN TAMAN HEWAN BALUBUR - TAMANSARI, BANDUNG Permana, Asep Yudi; Wijaya, Karto
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: In simple terms, space can be interpreted as a container of activity. The complexity of an urban environment begins with a variety of activities which then affect the arrangement of space. The variety of activities requires an effective and efficient space configuration that is determined by the formation of spatial structures. As part of a configuration, space is not only a node, but also a path or path that is generally public. This node and path connects the fields and binds them in a relationship system (lingkage system). The research method uses a space configuration analysis approach through calculation of total depth, mean depth, and RA. Next is a descriptive analysis. The research parameters consisted of: connectivity, integrity, intelligibility, and axial line. The results of the study showed that space configuration occurred resulting in 7 (seven) spatial configurations.Keyword: Connectivity, integrity, intelligibility, lingkageAbstrak: Secara sederhana, ruang dapat diartikan sebagai wadah aktivitas. Kompleksitas yang dimiliki lingkungan perkotaan dimulai dengan beragamnya aktivitas yang kemudian berdampak pada susunan ruang. Beragamnya aktivitas membutuhkan konfigurasi ruang yang efektif dan efisien yang ditentukan dari pembetukan struktur ruang. Sebagai bagian darisebuah konfigurasi, ruang tidak hanya berbentuk node, tetapi juga path atau jalur yang umumnya bersifat publik. Node dan path ini menghubungkan lahan-lahan dan mengikatnya dalam suatu sistem hubungan (lingkage system). Metode penelitian menggunakan pendekatan analisis konfigurasi ruang melalui perhitungan total depth, mean depth, dan RA. Selanjutnya dilakukan analisis deskriptif. Parameter penelitian terdiri dari: cennectivity, integrity, intelligibility, dan axial line.  Hasil penelitian menunjukkan konfugiransi ruang yang terjadi menghasilkan 7 (tujuh) konfigurasi ruang.Kata Kunci: Konektivitas, integritas, kejelasan, keterkaitan
TELAAH PENGUKURAN SOUNDSCAPE SEBAGAI KRITIK TERHADAP ELEMEN ARSITEKTURAL DI TAMAN FILM BANDUNG SEBAGAI USAHA PENINGKATAN KUALITAS RUANG KOTA Sugiarto, Roni; Wijaya, Nadya Gani
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Although in Indonesia has a standard rules about the level of noise in the region and the environment according to the decree of the Minister of Environment No. KEP-48/MENLH/11/1996, but the evaluation and control done to an area is still lacking. Soundscape is an environmentally acoustics part that is closely related to the quality perception of region noise. The purpose of this research is to critically study how architectural elements of the Bandung Film Park, are able to effectively and optimally contribute to the quality of environmental auditory, while also discovering the soundscape benefits as one of the analytical tools in designing. By implementing a qualitative approach with direct observation data retrieval techniques and merge into the phenomenon, the research can be an example of strategic implementation in the creation of good environmental sound quality. In other respects, a soundscape research can be a necessity to raise human awareness or designer in particular to environmental sounds as an aspirational and evaluative means to a sustainable city and community order.Kata Kunci: Soundscape, City Park, Architectural ElementAbstrak: Walaupun di Indonesia memiliki aturan standar tentang tingkat kebisingan dalam kawasan dan lingkungan, menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Kep-48/Menlh/11/1996, namun evaluasi dan kontrol yang dilakukan terhadap suatu kawasan masih kurang dilakukan. Soundscape merupakan bagian akustika lingkungan yang terkait erat dengan kualitas persepsi kenyamanan bunyi kawasan. Tujuan penelitian ini adalah secara kritis menelaah bagaimana elemen arsitektural pembentuk Taman Film Bandung mampu secara efektif dan optimal dalam memberi kontribusi yang baik terhadap kualitas audial lingkungan, sekaligus menemukan manfaat soundscape sebagai salah satu alat analisis dalam perancangan. Dengan menerapkan pendekatan yang bersifat kualitatif dengan teknik pengambilan data observasi langsung serta melebur dengan fenomena yang terjadi, maka penelitian dapat menjadi contoh penerapan strategis dalam penciptaan kualitas suara lingkungan yang baik. Di lain hal, penelusuran soundscape dapat menjadi kebutuhan untuk meningkatkan kesadaran manusia atau perancang secara khusus terhadap suara-suara lingkungan sebagai sarana aspiratif dan evaluatif menuju tatanan kota dan masyarakat yang berkelanjutanKata Kunci: Soundscape, Taman Kota, elemen Arsitektur
DAMPAK PEMBANGUNAN FLYOVER MANAHAN SOLO DITINJAU DARI AKSESIBILITAS PENGGUNA JALAN Widya Prasongko, Datta Sagala; Sari, Suzanna Ratih
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The junction between the roads Jl. Adi Sucipto, Jl. MT Haryono, Jl. and Dr. Moewardi is one point of congestion that occurred in the city of Solo. The junction of these roads is the third in the area of education, sport, offices, commerce, and settlements, so that congestion can occur at any time. Solo City Government decided to build a flyover, which was given the name Flyover Manahan Solo, which connects the road to address the congestion problem that occurred. By using descriptive qualitative approach method, the author does observation and research on the impact posed Manahan Solo Flyover, in terms of how aksesibilitasnya against road users. Based on observation and the research that has been done, the results show that the road of third accessibility less well after compared with factors that affect accessibility, specifically time and distance.Keyword: Impact, Manahan Solo Flyover, Accessibility of Road UsersAbstrak: Persimpangan antara ruas Jl. Adi Sucipto, Jl. MT Haryono, dan Jl. Dr. Moewardi merupakan salah satu titik kemacetan yang terjadi di Kota Solo. Persimpangan ketiga ruas jalan tersebut berada di kawasan pendidikan, olah raga, perkantoran, perniagaan, dan permukiman, sehingga kemacetan bisa terjadi kapan pun. Pemerintah Kota Solo memutuskan untuk membangun sebuah jalan layang, yang diberi nama Flyover Manahan Solo, yang menghubungkan ketiga ruas jalan tersebut untuk mengatasi masalah kemacetan yang terjadi. Dengan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, penulis melakukan observasi dan penelitian terhadap dampak yang ditimbulkan Flyover Manahan Solo, ditinjau dari bagaimana aksesibilitasnya terhadap pengguna jalan. Berdasarkan observasi dan penelitian yang telah dilakukan, hasilnya menunjukkan bahwa aksesibilitas ketiga ruas jalan tersebut kurang baik setelah dikaitkan dengan faktor yang mempengaruhi aksesibilitas, yaitu waktu dan jarak tempuh.Kata Kunci: Dampak, Flyover Manahan Solo, Aksesibilitas Pengguna Jalan
ELEMEN FISIK PEMBENTUK PUSAT KOTA JEPARA BERDASARKAN PETA MENTAL MASYARAKAT Ramadan, Muhammad Bagas; Sari, Suzana Ratih; Pandelaki, Edward E.
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: City’s imagery formation consist of physical elements that can be seen in terms of function, location, shape, magnitude, uniqueness, character. The exploratory of image forming elements is one of the important keys to get a positive image of the city. By using the community mental map method based on Lynch's theory, this study is expected to be able to purify the elements that make up the image of Jepara city that are built through people's perceptions, experiences, imagination and feelings. This study used qualitative research with exploration method, in order to understand the physical elements forming the city center, since the informant must freely provide an understanding of the meaning of the object that would represent the physical element forming the center of Jepara. Based on the analysis results, it can be concluded that the physical elements forming the central image of the city of Jepara are physical elements formed through the of the objects that make up the physical elements forming the image of the city of Jepara which are are arranged through physical objects Alun - Alun, Pendopo, SCJ (Jepara Culinary Place), Kaliwiso Bridge, Kaliwiso River, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Yos Sudarso, Jalan Wolter Monginsidi, Chinatown.Keywords: Physical elements, mental maps, Jepara Abstrak: Pembentukan citra dari kota dibangun elemen fisik yang dapat dilihat dari segi fungsi, lokasi, bentuk, besaran, keunikan, karakter. Penggalian elemen pembentuk citra merupakan salah satu kunci penting untuk mendapat citra yang positif dari kota. Jepara merupakan kota dalam proses berkembang menguatkan citra dalam kotanya. Dengan menggunakan metode peta mental masyarakat berdasarkan teori Lynch, penelitian ini diharapkan akan dapat mengerucutkan elemen yang menjadi pembentuk citra kota Jepara yang dibangun melalui persepsi, pengalaman, imajinasi dan perasaan masyarakatnya. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Penelitian ini dilakukan dengan cara eksplorasi,karena untuk memahami elemen fisik pembentuk pusat kota informan harus secara bebas memberikan pemahaman makna terhadap obyek yang akan mewakili elemen fisik pembentuk pusat kota Jepara. Berdasarkan pada hasil analisis maka dapat ditarik kesimpulan bahwa elemen fisik pembentuk citra pusat kota jepara adalah Elemen fisik dibentuk melalui fungsi atau cara kerja dari obyek – obyek yang menyusun elemen fisik pembentuk citra kota jepara. Elemen fisik pembentuk citra pusat kota jepara disusun melalui obyek – obyek fisik  Alun - Alun, Pendopo, SCJ(Tempat Kuliner Jepara), Jembatan Kaliwiso, Sungai Kaliwiso, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Yos Sudarso, Jalan Wolter Monginsidi, Pecinan.Kata Kunci: Elemen fisik, peta mental,  Jepara.
SETTING RUANG KOMUNAL DI SEPANJANG PANTAI SANUR, BALI. Nurwarsih, Ni Wayan; Wijaya, I Kadek Merta
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract:. Beach spaces in Bali, for traditional communities are very important and are part of their ritual life cycle. Open space on the beach is very important because it can accommodate many religious, social, cultural and ritual activities. The many social levels of the community come together to use the area on the beach to carry out various kinds of activities, to produce spaces and areas that are architecturally formulated and their meanings. The communal space setting on the object of research is intended to find out whether communal space already exists or is newly formed after various activities are present. Or the space has never existed, even though there are indeed private spaces that have been acknowledged by users and providers of tourist accommodation that were present later. The method used is descriptive qualitative method by thinking logically, structured and creatively, by mapping activities based on time segments and interviews. Formulate problems by describing the problem into smaller and more manageable segments, identifying patterns, solving complex problems into small steps, organizing and making a series of steps to provide solutions, and construct data representations through simulation. Keyword: Public Space Conflict, Space Pattern, Meaning of Space. Abstrak : Ruang-ruang pantai di Bali, untuk masyarakat tradisional menjadi amat penting dan merupakan bagian dari siklus kehidupan ritual mereka. Mengapa demikian, karena ruang pantai dapat mengakomodasi banyak kegiatan keagamaan, sosial, budaya dan ritual. Berbagai macam tingkatan sosial masyarakat hadir bersama-sama menggunakan area pantai untuk melakukan berbagai macam aktifitas, hingga menghasilkan ruang dan area yang secara arsitektur harus di telurusi bentuk dan maknanya. Setting ruang komunal pada objek penelitian dimaksudkan untuk menemukan apakah ruang komunal sudah ada atau baru terbentuk setelah beragam kegiatan hadir di tempat tersebut. Atau ruang tersebut tidak pernah ada, bahkan yang ada memang ruang-ruang privat yang sudah diakui oleh pengguna dan penyedia akomodasi wisata yang hadir belakangan. Metoda yang digunakan yakni metoda dengan jalan berfikir secara logis, terstruktur dan kreatif, dengan melakukan mapping kegiatan berdasarkan segmen waktu dan wawancara. Merumuskan masalah dengan menguraikan masalah tersebut ke segmen yang lebih kecil dan lebih mudah dikelola, mengidentifikasi pola, memecahkan masalah selain kompleks menjadi langkah-langkah kecil, mengatur dan membuat serangkaian langkah untuk memberikan solusi, dan membangun representasi data melalui simulasi. Hasil penelitian menujukan bahwa ruang komunal tidak hadir begitu saja di ruang publik apabila ruang tersebut terzonasi dan diberikan batas. Kata Kunci :  Konfilk Ruang, Pola Ruang, Makna Ruang.
KONSEP PERANCANGAN FASAD BANGUNAN BERDASARKAN KARAKTER FASAD BANGUNAN DALEM DI JALAN MONDORAKAN KOTAGEDE, YOGYAKARTA Putra, Augustinus Madyana; Wibowo, Andi Prasetiyo
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The uniqueness of an area is a soul place that will distinguish a location from another location. The historic Kotagede area of Yogyakarta is divided into four road sections, and one of the road sections is the Mondorakan Road. The building on Mondorakan Road originally consisted of a series of palace buildings with a very distinctive facade appearance with three types of building facades. After the earthquake that occurred in 2006, many buildings in this area were destroyed and renovated but did not adjust to the appearance of the original facade, so the uniqueness of the city became blurred. Through this research, it is expected to be able to identify and provide solutions to these conditions. The methods applied are case studies and observations in the field, then analyzed based on previous findings regarding three types of facade displays. The results of the analysis produce outcomes in the form of guidelines in the design process that are expected to be able to maintain the characteristics of an area. Facade reading is an important thing to keep because it can help preserve the soul of a place in this part of the road.Keyword: palace buildings, facade, the soul of a placeAbstrak: Keunikan sebuah kawasan merupakan sebuah jiwa tempat yang akan membedakan suatu lokasi dengan lokasi lain. Kawasan bersejarah Kotagede Yogyakarta terbagi menjadi 4 penggal jalan, dan salah satu penggal jalan tersebut yaitu Jalan Mondorakan. Bangunan di Jalan Mondorakan pada mulanya terdiri dari jajaran bangunan dalem dengan tampilan fasad yang sangat khas dengan tiga tipe fasad bangunan. Pasca gempa yang terjadi tahun 2006, banyak bangunan di area ini yang hancur dan direnovasi namun tidak menyesuaikan dengan tampilan fasad semula, sehingga keunikan kawasan menjadi kabur. Melalui penelitian ini diharapkan mampu mengidentifikasi dan memberi solusi mengenai kondisi tersebut. Metode yang diterapkan yaitu studi kasus dan observasi di lapangan, kemudian dianalisis berdasar temuan sebelumnya mengenai 3 tipe tampilan fasad. Hasil analisis menghasilkan temuan berupa panduan dalam proses perancangan yang diharapkan mampu mempertahankan ciri khas suatu kawasan. Keterbacaan fasad ini menjadi hal penting untuk tetap dipertahankan karena dapat membantu adanya jiwa tempat di penggal jalan ini.Kata Kunci: bangunan dalem, fasad, jiwa tempat

Page 6 of 45 | Total Record : 448


Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025 Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025 Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2025 Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024 Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024 Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024 Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2024 Vol 7 No 4 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2023 Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023 Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2023 Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023 Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022 Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022 Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022 Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021 Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2021 Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021 Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020 Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020 Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020 Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019 Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019 Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019 Vol 2 No 3 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2018 Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2018 Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2018 Vol 1 No 2 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2017 Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2017 More Issue