cover
Contact Name
Karto Wijaya
Contact Email
jurnalarsitekturarcade@gmail.com
Phone
+6281220697972
Journal Mail Official
kartowijaya@ukri.ac.id
Editorial Address
Jln. Terusan Halimun No.37 (Pelajar Pejuang 45) Bandung 40263, Jawa Barat, Indonesia (+62) 22-7301987
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Arsitektur ARCADE
ISSN : 25808613     EISSN : 25973746     DOI : 10.31848
Core Subject : Engineering,
Jurnal Arsitektur Arcade is Open Journal System published by Prodi Architecture (UKRI) in 2023 has migrated to the link: https://e-journal.ukri.ac.id/arcade. This journal is a means of research publications that concentrate on the study of architecture to accommodate authors interested in the field of heritage architecture, built environment, urban design, housing and settlement, Building Technology, Interior Design. Jurnal Arsitektur Arcade was published for the first time in 2017 for its e-ISSN 2597-3746 (Online) and p-ISSN 2580-8613 (Print) publications which are published 3 times a year in March, July and November. The Editorial Board of Jurnal Arsitektur ARCADEÂ starting in 2023 publishes an e-ISSN 2597-3746 (Online) edition which will be published every 3 months, namely in March, June, September and December each year.
Articles 448 Documents
ADAPTASI PERUMAHAN PASCA BENCANA LONGSOR (Studi Kasus: Perumahan UNDIP Dewi Sartika, Semarang) Huwaida, Nurma Mediasri; Harsritanto, Bangun I.R.
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This paper is motivated by the urgency of adaptations against natural disaster are part of human effort to keep their existence. The rapid development of urban areas in line with population growth has led to the need for space in urban areas. Housing and settlement is one of the basic human needs that must be met. Housing requires suitable land, but the land that suitable for housing in Semarang is limited. This causes the area that is not suitable for housing (landslide prone areas) built as housing. UNDIP Dewisartika housing was not an area prone to landslides, but poor environmental conditions caused the housing to be hit by a landslide. The phenomena, raises the response of the community to adapt to adjust to survive in their environment. This study aims to determine the form of adaptation that is done by the community. This research uses descriptive qualitative method, with purposive sampling technique (taking the appropriate sampling). The analysis was carried out in the form of identifying disaster areas in housing, as well as forms of spatial patterns arising from community adaptations. The results showed that UNDIP housing was a potential disaster area, efforts made by the community in the form of drainage on the slopes and the construction of talud next to the slopes, and there were similarities pattern of space formed by the community.Keyword: Adaptation, Spatial Mapping, Landslide DisastersAbstrak: Paper ini dilatarbelakangi oleh urgensi adaptasi masyarakat terhadap bencana longsor sebagai salah satu upaya keberlangsungan hidup. Permasalahan pesatnya perkembangan Kawasan perkotaan mengakibatkan meningkatnya kebutuhan ruang perkotaan, terutama sector perumahan dan permukiman. Perumahan dan permukiman adalah salah satu dari kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi. Pengadaan perumahan membutuhkan lahan yang sesuai, namun lahan yang sesuai untuk perumahan di kota Semarang sangat terbatas. Hal ini menyebabkan kawasan yang tidak sesuai untuk perumahan (kawasan rawan bencana tanah longsor) terbangun sebagai perumahan. Perumahan UNDIP Dewisartika tadinya bukan merupakan daerah rawan bencana longsor, akan tetapi kondisi lingkungan yang buruk menyebabkan perumahan ini terkena bencana longsor. Terjadinya fenomena tersebut, memunculkan respon masyarakat untuk beradaptasi menyesuaikan diri untuk bertahan hidup di lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk adaptasi yang di lakukan masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan teknik purposive sampling (mengambil penarikan sampel yang sesuai). Analisis yang dilakukan berupa identifikasi area bencana pada perumahan, serta bentuk pola ruang yang timbul akibat adaptasi masyarakat.  Hasil penelitian menunjukan bahwa perumahan UNDIP merupakan daerah yang berpotensi terjadi bencana, upaya yang dilakukan masyarakat berupa pemberian jalur air pada lereng dan pembangunan talud di sebelah lereng, serta terdapat kemiripan pada pola ruang yang terbentuk dari adaptasi yang dilakukan masyarakat.Kata Kunci: Adaptasi, Pola Ruang, Bencana Longsor
TIPOLOGI STADION SEPAK BOLA KONTEMPORER (OBJEK STUDI: GELORA BANDUNG LAUTAN API) Gaputra, Agara Dama
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The development of sports, especially football, began to articulate as an industry and cultural statement. The stadium, as a place for football matches and as a form of architectural work, continues to develop along with the times. The architectural development of stadiums in the modern era, led them not to act only as a building, these stadiums often transformed as an icon of a city or even the country where they located. This research was conducted to identify the factors that shape the typology of contemporary stadiums, with Gelora Bandung Lautan Api as the object of study. Based on interviews, observations and literature studies, various kinds of factors determine the typology of contemporary football stadiums. Although the standards issued by FIFA are the main influences, the concepts and approaches taken by the designer also gives considerable contribution. Thus, the application of standards applied to the design should be balanced by appropriate design approach, which resulting functional stadium architectures while still in accordance with its identitiy as a part of a city or country where it located.Keyword: contemporer, football stadium, typologyAbstrak: Perkembangan olah raga, terutama sepak bola mulai berartikulasi sebagai sebuah industri dan pernyataan budaya. Stadion, sebagai tempat berlangsungnya pertandingan sepak bola dan sebagai suatu bentuk karya arsitektur, terus berkembang seiring perkembangan zaman. Perkembangan arsitektur stadion di era modern ini kemudian menggiring stadion tidak hanya menjadi bangunan fungsional saja, sering kali stadion menjelma sebagai icon sebuah kota atau bahkan negara tempatnya berdiri. Penelitian yang dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang membentuk tipologi dari stadion kontemporer ini menetapkan Gelora Bandung Lautan Api sebagai objek studi. Berdasarkan wawancara, observasi dan studi literatur, ditemukan berbagai macam faktor yang menentukan tipologi stadion sepak bola yang kontemporer. Meskipun standar yang dikeluarkan oleh FIFA menjadi pengaruh utama, konsep serta pendekatan yang dilakukan oleh perancang juga memiliki andil yang cukup besar. Dengan demikian, pengaplikasian standar yang diberlakukan pada rancangan hendaknya diimbangi oleh pendekatan perancangan yang tepat agar arsitektur stadion yang tercipta dapat berfungsi sebagaimana mestinya tetapi tetap sesuai dengan identitasnya sebagai bagian dari suatu kota atau negara tempatnya berdiri.Kata Kunci: kontemporer, stadion sepak bola, tipologi
ANALISIS ELEMEN FASAD PADA BANGUNAN KOLONIAL KARYA F.D. CUYPERS & HELSWIT DI KOTA CIREBON Gaputra, Agara Dama
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Colonial Architecture in Indonesia is a historical heritage that should be preserved. Characteristics of colonial architecture, among others, can be seen from the typology and elements forming its facade. The architectural consulting firm F.D. Cuypers & Hulswit whose works are spread in major cities of Indonesia is one of many influential architects during the Dutch colonial administration. This study describes the works of F.D. Cuypers & Hulswit based on elements forming their facade. The results of this study indicate the works of related architects, although they follow the development of existing styles and technologies, still maintain similarities in their characteristics.Keyword: facade, characteristic, colonialAbstrak: Arsitektur Kolonial di Indonesia merupakan peninggalan sejarah yang seharusnya dilestarikan. Karakteristik arsitektur kolonial antara lain dapat dilihat dari tipologi serta elemen-elemen pembentuk fasadnya. Dari sekian banyak arsitek-arsitek yang berpengaruh saat masa pemerintahan kolonial Belanda, adalah biro konsultan arsitektur F.D. Cuypers & Hulswit yang karya-karyanya tersebar di kota-kota besar Indonesia. Penelitian ini mendeskripsikan karya-karya F.D. Cuypers & Hulswit berdasarkan elemen pembentuk fasadnya. Hasil penelitian ini mengindikasikan karakteristik dari karya-karya arsitek terkait, meskipun mengikuti perkembangan langgam serta teknologi yang ada, tetap memiliki kesamaan pada karakteristiknya.Kata Kunci: fasad, karakteristik, kolonial
SERIAL VISION PADA KORIDOR JALAN MENARA KOTA KUDUS Jamaluddin, Rizqi; Sardjono, Agung Budi; Murtini, Titien Woro
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: In structuring a city there is a high complexity experienced by cities so that existing problems will not be endless. When conducting city structuring there are many factors that influence in creating a good city environment. In providing a strong identity, there needs to be a harmonious relationship between one place and another. To find out the description of the strong characteristics and the clear need for serial vision scanning. Kudus itself is a city that has interesting characteristics on the road corridor. The corridors in the holy area have unique visual characteristics, which triggers the community to remember a building in that location. In this case, the corridor in the Menara Kudus Mosque Area is interesting to be appointed as an effort to revive the identity of the old city of the holy region through serial vision and its components. This research is considered important enough to be one of the basic studies in its design. In addition, it is very important to maintain the visual character of a corridor.Keyword: Serial Vision, Corridor, Jl.Menara KudusAbstrak: Dalam penataan sebuah kota terdapat kompleksitas yang tinggi dialami oleh kota sehingga permasalahan yang ada tidak akan ada habisnya. Saat melakukan penataan kota terdapat banyak faktor yang mempengaruhi dalam menciptakan lingkungan kota yang baik. Dalam memberikan identitas yang kuat perlu adanya keselarasan hubungan antar satu tempat dengan tempat yang lain. Untuk mengetahui gambaran tentang cirikhas yang kuat dan jelas perlu adanya pemindaian secara serial vision. Kudus sendiri merupakan kota yang memiliki cirikhas yang menarik pada koridor jalan. Adapun koridor yang ada di kawasan kudus mempunyai karakteristik visual unik sehingga memicu masyarakat untuk mengingat sebuah bangunan di lokasi tersebut. Dalam hal ini koridor di Kawasan Masjid Menara Kudus menarik untuk diangkat sebagai upaya mengangkat kembali identitas kawasan kota lama kudus melalui serial vision dan komponen didalamnya. Penelitian ini dirasa cukup penting untuk menjadi salah satu dasar kajian dalam perancangannya. Selain itu sangat penting untuk menjaga karakter visual sebuah koridor.Kata Kunci: Serial Vision, Koridor, Jl. Menara Kudus
AKTIVITAS WISATA RELIGI DALAM PERUBAHAN PERMUKIMAN DI KAWASAN BERSEJARAH MENARA KUDUS Adiyati, Arlina; Sardjono, Agung Budi; Murtini, Titin Woro
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Menara Kudus area is a settlement of urban villages that has own characteristics and urban embryo of Kudus city. Many traditional houses and ancient buildings can be found in there as a historical area. But, Menara Kudus area continues to develop into a religious tourism area that makes the process changes physically and non-physically. The purpose of this study is to find out what changes occur in Menara Kudus area and the underlying factors. A research method is qualitative explorative with informants as the main resource and uses purposive observation to sample selection. The results of this study indicate a public response to new activities by utilizing residential houses and their residential environment as business space in supporting religious tourism activities. The factors behind the change are increasing the number of visitors, the needs of tourist facilities, type of business space, and orientation of buildings following tourist routes. These changes have an impact on changes in the economy of society, lifestyle, and social society in the Menara Kudus area. But tourism activities are able to maintain the culture and traditions community because it is an interest in tourist visits.Keyword: changes, settlement, houses, religious tourism, historical area, Menara Kudus area.Abstrak: Kawasan Menara Kudus merupakan sebuah permukiman masyarakat kampung kota yang memiliki ciri khas tersendiri dan cikal bakal berdirinya kota Kudus. Banyak rumah-rumah tradisional dan bangunan kuno masih dapat ditemukan disana sehingga ditetapkan sebagai kawasan bersejarah. Namun sebagai kawasan permukiman kawasan Menara Kudus terus berkembang menjadi kawasan wisata religi sehingga mengalami proses perubahan secara fisik maupun non fisik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan apa saja yang terjadi di kawasan Menara Kudus dan faktor yang melatarbelakanginya. Metode penelitian ini adalah kualitatif yang digali secara eksploratif dengan informan sebagai narasumber utama dan menggunakan pemilihan sampel amatan secara purposive. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya respon masyarakat terhadap aktivitas baru dengan memanfaatkan ruang rumah tinggal dan lingkungan permukiman mereka sebagai ruang usaha dalam mendukung aktivitas wisata religi. Faktor yang melatarbelakangi perubahan tersebut adalah adanya faktor peningkatan jumlah pengunjung, kebutuhan fasilitas wisata, perubahan jenis usaha yang dimiliki, dan perubahan arah orientasi bangunan mengikuti akses jalur wisata. Perubahan tersebut berdampak pada perubahan perekonomian masyarakat, gaya hidup, dan sosial kemasyarakatan di kawasan Menara Kudus. Namun aktivitas wisata religi mampu mempertahankan budaya dan tradisi adat istiadat leluhur karena menjadi minat bagi kunjungan wisatawan.Kata Kunci: perubahan, permukiman, rumah tinggal, wisata religi, kawasan bersejarah, kawasan Menara Kudus.
PERSEPSI MASYARAKAT BANDAR LAMPUNG TERHADAP PENGGUNAAN SIGER PADA BANGUNAN Kurniawan, Guruh Kristiadi; Mardiyanto, Anggi; Matondang, Adelia Enjelina; Purwono, Eko
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The use of siger elements is found in commercial and government buildings in the city of Bandar Lampung. The existence of the siger element in the building is widely used after the issuance of the mayor's regulation that every commercial building and government in the city of Bandar Lampung must use the siger element. The lack of understanding about the preservation of local culture and architectural design of buildings makes the use of siger elements seem compelling and careless. This condition can be triggered because of the existence of regional regulations which in its formulation do not consider the perceptions of the local community about the use of the Siger element and the incomplete information in the existing regional regulations. The analysis that will be used in this study is an analysis of public perceptions about the use of siger in buildings. In this study, it was revealed how the perceptions of the people of Bandar Lampung about the use of siger elements in buildings. By knowing the perception of the Bandar Lampung community about the use of the siger element in the building, it is hoped that this study can be used as a recommendation in policy making to preserve local culture through building architectural design. The results of the study found 88% of respondents agreed with the use of siger elements in buildings and 12% of respondents said they did not agree.Keyword: Perception, Siger, BuildingAbstrak: Penggunaan elemen siger banyak ditemui pada bangunan-bangunan komersial dan pemerintah di Kota Bandar Lampung. Keberadaan elemen siger pada bangunan marak digunakan setelah dikeluarkannya peraturan walikota bahwa setiap bangunan komersial dan pemerintah yang berada di Kota Bandar Lampung harus menggunakan elemen siger. Kurangnya pemahanan tentang pelestarian budaya lokal dan desain arsitektural bangunan menjadikan penggunaan elemen siger terkesan memaksa dan asal-asalan. Kondisi tersebut dapat dipicu karena keberadaan peraturan daerah yang dalam perumusannya tidak mempertimbangkan persepsi masyarakat lokal akan penggunaan elemen siger dan kurang lengkapnya informasi dalam peraturan daerah yang ada.Studi ini dilakukan untuk mengetahui persepsi masyarakat Bandar Lampung tentang penggunaan elemen siger pada bangunan. Analisis yang akan digunakan dalam studi ini adalah analisis persepsi masyarakat tentang penggunaan siger pada bangunan. Pada studi ini diungungkapkan bagaimana persepsi masyarakat Bandar Lampung tentang penggunaan elemen siger pada bangunan. Dengan mengetahui persepsi masyarakat Bandar Lampung tentang penggunaan elemen siger pada bangunan diharapkan studi ini dapat digunakan sebagai rekomendasi dalam pembuatan kebijakan untuk melestarikan budaya lokal melalui desain arsitektur bangunan. Hasil studi didapatkan 88% responden setuju dengan penggunaan elemen siger pada bangunan dan 12% responden menyatakan tidak setuju.Kata Kunci: Persepsi, Siger, Bangunan
KARAKTERISTIK PEDAGANG INFORMAL SEBAGAI “ACTIVITY SUPPORT” KORIDOR JALAN KINTAMANI - BATAM Cia, Helen; Sarjono, Agung Budi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The Maitreya school and tourists who came to Maha Vihara Duta Maitreya made the Kintamani corridor increasingly active, can be seen by the existence of shops as a formal activity which was followed by the proliferation of informal activities.Informal activities using road shoulder that should be provided as an emergency route are used as a place of activity where this activity also moves the economy and social activities for the road user community, this activity helps especially students, students and the surrounding community to fulfill their needs because of their superior location and more affordable prices, especially when compared to goods and services provided by formal traders.The phenomenon of Informal Activity as the Kintamani corridor support activity is the purpose of the research so that the structuring of the area of informal activities is better and safer for the perpetrators of the activity. The technique of survey primary data collection is through visual observations in the form of observations of "time budget method" and photo media, secondary data collection techniques by searching for the needs of informal activities and the behavior of the perpetrators of these informal activities..Keyword: activity support , informal traders , setting area Abstrak: Sekolah Maitreya dan wisatawan yang datang ke Maha Vihara Duta Maitreya membuat koridor Kintamani semakin meningkat aktivitasnya, bisa dilihat dengan adanya pertokoan sebagai aktivitas formal yang diikuti semakin menjamurnya aktivitas informalnya.   Aktivitas informal menggunakan bahu jalan yang seharusnya disediakan sebagai jalur darurat digunakan sebagai tempat beraktivitas dimana aktivitas ini juga menggerakkan perekonomian dan aktivitas sosial bagi masyarakat pengguna jalan, aktivitas ini membantu khususnya para siswa, mahasiswa dan masyarakat sekitar dalam memenuhi kebutuhannya karena keunggulannya lokasi yang lebih dekat dan harga yang lebih terjangkau, terutama ketika dibandingkan dengan barang dan jasa yang disediakan oleh pedagang formal.Fenomena Aktivitas Informal sebagai activity support koridor Kintamani inilah yang menjadi tujuan dari penelitian sehingga penataan area aktivitas informal yang menjadi lebih baik dan aman bagi pelaku aktivitas. Tehnik pengumpulan data primer survei dengan observasi visual berupa pengamatan “time budget method” dan media foto, teknik pengumpulan data sekunder dengan cara mencari kebutuhan dari aktivitas informal dan perilaku pelaku aktivitas informal tersebut. Kata Kunci: Activity Support , Pedagang Informal , Setting Area
IDENTIFIKASI ASPEK KENYAMANAN WARGA TERHADAP KEBERADAAN RUANG TERBUKA PUBLIK DI KAMPUNG GAMPINGAN KOTA YOGYAKARTA Wirastri, Maria Vika; Pramudito, Sidhi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Public open spaces are spaces that can be accessed for free and can accommodate a variety of peoples and activities. Therefore, both if in each residential area or at a certain radius there is at least one public open space, no exception in urban villages with a characteristic population density that has become the root of settlement culture in Indonesia. This research then took a case study in one of the villages in the city of Yogyakarta, namely Kampung Gampingan, which despite entering into a slum arrangement according to Mayor Decree Number 216 Year 2016, but still has one existing public open space that still exists utilized by residents around every day, both by children until adults. Related to these findings, this study was conducted as a basic study whose results can be used as a foundation for the arrangement of slums in the future. In its design, public open space must also pay attention to the times and various aspects and needs for the convenience of its users. Although comfort is very difficult to define, at least comfort can be assessed through people's preferences through the responsiveness of each individual. For this reason, through a qualitative-exploratory method using a questionnaire filled out by users of public open spaces in Kampung Gampingan, this study aims to find citizens' preferences for aspects of the comfort of public open spaces based on comfort theory; what matters that must be prioritized or must be avoided in the design for the creation of the convenience of citizens. From this study it was found that in order to achieve the comfort of a public open space, aspects of governance needed include cleanliness, safety, circulation, shape / dimension, noise, lighting, smell, natural/ climate power, and supporting facilities such as the free internet access, parks, CCTV, drink water, trash cans, streetlights, children's games, and furniture. Keyword: Comfort, Public Open Space, Residents, Kampung Gampingan, Yogyakarta City Abstrak: Ruang terbuka publik adalah ruang yang dapat diakses secara gratis dan mampu menampung berbagai pelaku maupun aktivitas. Oleh karenanya, baik apabila dalam setiap wilayah permukiman warga atau pada radius tertentu terdapat minimal satu buah ruang terbuka publik, tidak terkecuali di kampung kota dengan ciri khas kepadatan penduduknya yang sudah menjadi akar budaya permukiman di Indonesia. Penelitian ini kemudian mengambil studi kasus di salah satu kampung di Kota Yogyakarta yakni Kampung Gampingan, yang meskipun masuk ke dalam penataan kawasan kumuh menurut Surat Keputusan Walikota Nomor 216 Tahun 2016, namun masih memiliki satu buah ruang terbuka publik eksisting yang masih eksis dimanfaatkan warga sekitar setiap harinya, baik oleh anak-anak hingga orang dewasa.Terkait temuan tersebut, maka dilakukan penelitian ini sebagai kajian dasar yang hasilnya dapat digunakan untuk landasan penataan kampung kumuh di masa depan.Dalam perancangannya, ruang terbuka publik juga harus memperhatikan perkembangan zaman serta berbagai aspek maupun kebutuhan demi kenyamanan penggunanya. Meskipun kenyamanan sangat sulit didefinisikan, setidaknya kenyamanan dapat dinilai melalui preferensi warga lewat penilaian responsif setiap individunya. Untuk itu, melalui metode kualitatif-eksploratif dengan menggunakan kuesioner yang diisi oleh pengguna ruang terbuka publik di Kampung Gampingan, penelitian ini bertujuan untuk menemukan preferensi warga terhadap aspek kenyamanan ruang terbuka publik yang didasarkan pada teori kenyamanan; hal-hal apa saja yang harus diutamakan maupun harus dihindarkan dalam desain perancangan demi terciptanya kenyamanan warga. Dari penelitian ini ditemukan bahwa ternyata untuk mencapai kenyamanan suatu ruang terbuka publik, diperlukan aspek-aspek penataan yang meliputi kebersihan, keamanan, sirkulasi, bentuk/dimensi, kebisingan, penerangan, aroma, daya alam/iklim, dan fasilitas penunjang seperti adanya internet gratis, taman, CCTV, air siap minum, tempat sampah, lampu jalan, permainan anak, serta furnitur.Kata Kunci: Kenyamanan, Ruang Terbuka Publik, Warga, Kampung Gampingan, Kota Yogyakarta
PENINGKATAN KUALITAS TAMAN DENGGUNG DI SLEMAN SEBAGAI TAMAN RAMAH ANAK MELALUI PENGEMBANGAN KECERDASAN ANAK Prasetyo, Anggar
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Taman Denggung is the ones of green public space that was located in central government of Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Taman Denggung as public space can be easily accesed by general public. All levels of society with various groups ranging from children until street vendors and those with commercial interests can access Taman Denggung. With the large number of users in Denggung Park, it causes insecurity towards visitors, especially children. Infertility is caused by the commercial activities of street vendors and business people, vehicles and community egos with motorized vehicles that undermine the development of children's intelligence. So that efforts are needed to improve the quality of Denggung Park to become a child-friendly park. This study uses the qualitative method with observation and interviews to get the existing data then completed through theoretical studies related to the development of children's intelligence. From this study, it was found that creating a Denggung Park into a child-friendly park needed an effort to improve zoning, which emphasized the safety of children, then from the zoning it began to be inserted and applied to each element of children's intelligence development.Keyword: child friendly, children's intelligence, green open spaceAbstrak: Taman Denggung merupakan salah satu ruang terbuka hijau yang terletak di pusat pemerintahan Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Taman Denggung sebagai ruang publik dapat secara mudah diakses oleh mesyarakat umum. Seluruh lapisan masyarakat dengan berbagai kalangan mulai dari anak-anak hingga PKL serta yang memiliki kepentingan komersil dapat mengakses Taman Denggung. Dengan banyaknya pengguna pada Taman Denggung menimbulkan ketidak ramahan terhadap pengunjung, terutama anak anak. Ketidak ramahan diakibatkan karena aktifitas komersil PKL dan pembisnis wahana serta ego masyarakat dengan kendaraan bermotornya yang menggagu pengembangan kecerdasan anak. Dengan demikian diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas Taman Denggung menjadi taman ramah anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitastif dengan observasi dan wawancara untuk mendapatkan data kemudian diselesaikan melalui kajian teori berkaitan denngan pengembangan kecerdasan anak. Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa dalam membentuk Taman Denggung menjadi taman ramah anak diperlukan usaha pembenahan zonasi yang menitik beratkan terhadap keamanan anak kemudian dari zonasi tersebut mulai disisipkan dan diaplikasian setiap elemen pengebangan kecerdasan anak.Kata Kunci: ramah anak, kecerdasan anak, ruang terbuka hijau
KINERJA TERMAL SELUBUNG GEDUNG KULIAH KOTA BANDAR LAMPUNG ITERA Sani, Andi Asrul; Matondang, Adelia Enjelina; Kurniawan, Guruh Kristiadi; Mardiyanto, Anggi
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: The use of glass material should consider the comfort of space in the building. Field of glass is needed as natural lighting and visual facilities between the occupants and the surrounding environment. Its function as natural lighting is often accompanied by an increase in temperature in buildings, considering that Indonesia is a tropical country. Building temperatures that increase due to incoming sunlight can cause discomfort to building occupants. Such conditions make building occupants use air conditioner (AC). The use of air conditioners can increase the value of building energy consumption. For this reason, research on the value of heat transfer in buildings or the value of OTTV (Overall Thermal Transfer Value). OTTV value calculation is done by manual calculation. Bandar Lampung City lecture building at the Sumatra Institute of Technology was chosen as the object of this study. From the results of the study found that the value of heat transfer of a building or OTTV (Overall Thermal Transfer Value) is influenced by the factor of the ratio of the window area to the facade or WWR (Window Wall Ratio) and the shading factor (Shading Coefficient).(Keywords: Keyword: energy consumption, building energy, glass. Abstract: Penggunaan material kaca semestinya mempertimbangkan kenyamanan ruang dalam bangunan. Bidang kaca diperlukan sebagai pencahayaan alami dan sarana visual antara penghuni dan lingkungan sekitar. Fungsinya sebagai pencahayaan alami seringkali disertai dengan peningkatan temperatur pada bangunan, mengingat Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis. Temperatur bangunan yang meningkat akibat dari radiasi sinar matahari yang masuk dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi penghuni bangunan. Kondisi seperti itu membuat penghuni bangunan menggunakan air conditioner (AC). Penggunaan air conditioner tersebut dapat meningkatkan nilai konsumsi energi bangunan. Untuk  itu dilakukan penelitian mengenai nilai perpindahan panas dalam bangunan atau nilai OTTV (Overall Thermal Transfer Value). Penghitungan nilai OTTV dilakukan dengan penghitungan manual. Gedung kuliah Kota Bandar Lampung di Institut Teknologi Sumatera di pilih sebagai objek dalam penelitian ini. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa nilai perpindahan panas suatu bangunan atau OTTV (Overall Thermal Transfer Value) dipengaruhi oleh faktor nilai perbandingan luas jendela terhadap bidang fasad atau WWR (Window Wall Ratio) dan faktor pembayangan (Shading Coefficient).Kata kunci : konsumsi energi, energi bangunan, kaca.

Page 7 of 45 | Total Record : 448


Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 9 No 3 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2025 Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025 Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2025 Vol 8 No 4 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2024 Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024 Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024 Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2024 Vol 7 No 4 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2023 Vol 7 No 3 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2023 Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2023 Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2023 Vol 6 No 3 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2022 Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022 Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2022 Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021 Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2021 Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2021 Vol 4 No 3 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2020 Vol 4 No 2 (2020): Jurnal arsitektur ARCADE Juli 2020 Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2020 Vol 3 No 3 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2019 Vol 3 No 2 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2019 Vol 3 No 1 (2019): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2019 Vol 2 No 3 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2018 Vol 2 No 2 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2018 Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2018 Vol 1 No 2 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2017 Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2017 More Issue