cover
Contact Name
Bibi Suprianto
Contact Email
bibisuprianto78@gmail.com
Phone
+6285787083964
Journal Mail Official
bibisuprianto78@gmail.com
Editorial Address
Jalan Danau Sentarum, Gg Haji Nawawi No. 64-66 Pontianak, Kalimantan Barat
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Ngaji
ISSN : -     EISSN : 29646197     DOI : https://doi.org/10.24260/ngaji
Core Subject : Religion, Education,
NGAJI: Jurnal Pendidikan Islam dengan ISSN 2964-6197 (media online) ini adalah jurnal yang menerbitkan karya ilmiah hasil riset, baik riset lapangan maupun riset kepustakaan, dalam ruang lingkup pendidikan Islam yang diproses melalui peninjauan sebaya (peer review). NGAJI: Jurnal Pendidikan Islam diterbitkan oleh Perkumpulan Sarjana Pendidikan Islam Indonesia (PSPII) Wilayah Kalimantan Barat. Sabagai bagian dari organisasi PSPII, Pengurus Wilayah PSPII berkomitmen untuk menjalankan visi dan misi PSPII yang dituangkan dalam salah satu program unggulan yang berupa piblikasi ilmiah hasil riset untuk kemajuan bidang ilmu pendidikan Islam. Anggota PSPII, khususnya dari Kalimantan barat, bersama para penulis lainya dapat menerbitkan artikel hasil risetnya di NGAJI: Jurnal Pendidikan Islam. Selain itu, para penulis di bidang pendidikan, khususnya pendidikan Islam, dari semua kalangan juga dapat mengirim naskahnya untuk diterbitkan di NGAJI: Jurnal Pendidikan Islam. Semua naskah yang diterima oleh dewan redaksi NGAJI: Jurnal Pendidikan Islam akan diproses melalui peninjauan sebaya yang dilakukan oleh para pakar di bidang pendidikan Islam sehingga naskah yang terbit merupakan naskah yang layak menurut para pakar yang telah melakukan peninjauan sebaya tersebut. Untuk pengiriman naskah, silahkan layari bagian Pengiriman Naskah dan Petunjuk Untuk Penulis.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 45 Documents
Manajemen Kewirausahaan di Pondok Pesantren Terpadu Darussyifa Al-Fithroh Sukabumi Badrudin, Badrudin; Yuli, Yuliana; Hasanah, Nisa Fauziah
Ngaji: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Perkumpulan Sarjana Pendidikan Islam Indonesia (PSPII) Wilayah Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/ngaji.v3i1.38

Abstract

This study uses a qualitative approach, while the method used is a case study method. A qualitative approach with the case study method is used to examine and answer problems and to obtain a deeper meaning about the management of facilities and infrastructure. A qualitative approach is a research and understanding process based on a methodology that investigates a social phenomenon and human problem. In this approach, the researchers create a complex picture, examine words, report detailed, views of the respondents, and conduct studies in natural situations. Methods of data collection using the method of observation, interviews, and documentation. Data analysis techniques used in this research are data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Checking the validity of the data is done by using triangulation. The results showed that the entrepreneurial management process at the Darussyifa Al-Fithroh Islamic boarding school, Sukabumi, was through a management pattern of planning, organizing, implementing and evaluating. Based on field observations, this Islamic boarding school has many entrepreneurial fields such as fisheries, animal husbandry, agriculture, laundry, and bottled drinking water. The management of these various entrepreneurs is to maintain the existence and carrying capacity of the cottage as teaching for students and managers if they are involved in the community.   Abstrak: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sedangkan metode yang digunakan adalah metode studi kasus. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan untuk mengkaji dan menjawab permasalahan serta untuk memperoleh makna yang lebih mendalam tentang manajemen sarana dan prasarana. Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia. Pada pendekatan ini, peneliti ini membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami. Metode pengumpulan data dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dengan menggunakan triangulasi. Hasil penelitian bahwa proses manajemen kewirausahana di Pondok Pesantren Terpadu Darussyifa Al-Fithroh Sukabumi yaitu melalui pola manajemen perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi. Berdasarkan pengamatan dilapangan bahwa pondok pesantren ini memiliki banyak bidang wirausaha seperti bidang perikanan, peternakan, pertanian, laundry dan air minum dalam kemasan. Pengelolaan berbagai wirausaha ini guna mempertahankan eksistensi dan daya dukung bagi pondok sebagai bentuk pengajaran bagi santri maupun pengelola jika terjun di masyarakat. Kata Kunci: Manajemen, Kewirausahaan, Pondok Pesantren
Strategi Penanaman Nilai Moderasi Beragama Terhadap Pembelajaran Di Sekolah Tiwi, Pratiwi Amalia Putri
Ngaji: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Perkumpulan Sarjana Pendidikan Islam Indonesia (PSPII) Wilayah Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/ngaji.v2i2.40

Abstract

Indonesia is known as a country that has a pluralistic and diverse society with horizontal and vertical differences, either in ethnicity, language, race, culture, to religiosity. The diversity makes the Indonesian nation a great country and becomes a force if all its citizens unite to build diversity based on kebhinekaan. However, in reality, there are still people who are not harmonious. Therefore, the religious moderation program continues to be echoed by the Indonesian government. This paper aims to describe the strategies used in instilling the value of religious moderation in learning at school. This study uses a descriptive qualitative approach. The data obtained by library research through various literature has been filtered according to the topic to be discussed. Then, the data collection technique is done through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study show that the strategy that can be carried out in instilling the value of religious moderation as an effort to develop an attitude of moderation in students is to insert moderation values into learning designs that cover from the planning stage to the evaluation stage, those it from the curriculum, educators, materials, strategies learning, learning methods, and learning evaluation.   Abstrak: Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki masyarakat majemuk dan beraneka ragam dengan melahirkan perbedaan secara horizontal maupun vertikal, baik pada suku, bahasa, ras, budaya, hingga pada religiositas. Dari keberagaman itulah yang membuat bangsa Indonesia menjadi negara besar serta menjadi sebuah kekuatan apabila seluruh warga masyarakatnya bersatu membangun keberagaman dengan dilandasi kebihnekaan. Namun, pada realitasnya, masih saja terdapat masyarakatnya yang tidak harmonis. Oleh karenanya, progam moderasi beragama terus digaungkan oleh pemerintah Indonesia. Adapun tulisan ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan tentang strategi yang dilakukan dalam penanaman nilai moderasi beragama pada pembelajaran di sekolah. Kajian ini menggunakan upaya pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Pemerolehan datanya didapatkan secara library research melalui berbagai literatur yang telah disaring sesuai dengan topik yang akan dibahas. Kemudian, teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi yang dapat dilakukan dalam penanaman nilai moderasi beragama sebagai upaya pengembangan sikap moderasi pada peserta didik adalah dengan menginsersi nilai-nilai moderasi ke dalam desain pembelajaran yang mencakupi dari tahap perencanaan hingga tahap evaluasi, yaitu dari kurikulum, pendidik, materi, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran. Kata Kunci: Strategi, Moderasi Beragama, Pembelajaran, Sekolah
Penyelengaraan Akreditasi Sekolah dalam Peningkatan Mutu Pendidikan di Kabupaten Garut Jawa Barat (2020-2021) Abdullah, Ayu Qurrota 'Ayun; Sanusi, Hary Priatna
Ngaji: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Perkumpulan Sarjana Pendidikan Islam Indonesia (PSPII) Wilayah Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/ngaji.v2i2.43

Abstract

School accreditation is an effort to ensure school quality and achieve the expected quality of education. The purpose of this study is to compare data from two different years to determine school accreditation in Garut Regency, West Java in 2020 and 2021. This research uses a literature review approach. The data used is school accreditation tables available from the Central Bureau of Statistics, Regional Education Balance (NPD) for 2020 and 2021. The results show that the percentage of school accreditation in the Garut regency in 2020 and 2021 has various percentage figures. Namely in the Elementary School (SD) education unit and there has been an increase in schools that have not been accredited from 0.4% in 2020 to 0.45% in 2021, and High School (SMA) in 2020 at 3.2% while in 2021 shows a figure of 4.73%. And the decline in junior high school education units (SMP), in 2020 which have not been accredited at 6.2%, while in 2021 it is 5.82%. Vocational High Schools (SMK) in 2020 the figure is 15.3% while in 2021 it will be 9.01%. In the PAUD education unit in 79.6%, while in 2021 it will be 62.42%. And in PKBM in 2020 the figure is 95.7%, while in 2021 it will be 87.44%. Garut district school accreditation shows a different percentage in 2020/2021. In 2021 the percentage of schools that have not been accredited, namely at the SMP, SMK, PAUD, and PKBM levels, will experience a significant decrease, while the SD and SMA levels will increase. So, it can be said that school accreditation in Garut Regency guarantees the quality of education.   Abstrak: Akreditasi sekolah merupakan upaya untuk menjamin mutu sekolah dan tercapainya mutu pendidikan yang diharapkan. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan data dari dua tahun yang berbeda untuk menentukan akreditasi sekolah di Kabupaten Garut Jawa Barat tahun 2020 dan tahun 2021. Penelitian ini menggunakan pendekatan literature review. Data yang digunakan adalah tabel akreditasi sekolah yang tersedia dari Biro Pusat Statistika, Neraca Pendidikan Daerah (NPD) tahun 2020 dan 2021. Hasil penelitian menunjukkan angka persentase akreditasi sekolah di kabupaten Garut pada tahun 2020 dan 2021 memiliki angka persentase yang beragam. Yaitu pada satuan pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan terjadi peningkatan sekolah yang belum terakreditasi dari angka 0,4% ditahun 2020 menjadi 0,45% ditahun 2021, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) ditahun 2020 pada angka 3,2% sedangkan pada tahun 2021 menunjukkan angka 4,73%. Dan penurunan pada satuan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), ditahun 2020 yang belum terakreditasi pada angka 6,2% sedangkan pada tahun 2021 5,82%. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di tahun 2020 angka 15,3% sedangkan pada tahun 2021 pada angka 9,01%. Pada satuan pendidikan PAUD pada tahun pada angka 79,6% sedangkan pada tahun 2021 pada angka 62,42 %. Dan pada PKBM ditahun 2020 yang pada angka 95,7 %, sedangkan pada tahun 2021 pada angka 87,44%. Akreditasi sekolah kabupaten Garut menunjukkan persentase yang berbeda pada tahun 2020/2021. Pada tahun 2021 persentase sekolah yang belum terakreditasi yaitu pada tingkat SMP, SMK, PAUD dan PKBM mengalami penurunan yang cukup signifikan, sedangkan pada tingkat SD dan SMA mengalami peningkatan. Sehingga dapat dikatakan bahwa akreditasi sekolah di Kabupaten Garut menjamin mutu pendidikan. Kata Kunci: Akreditas Sekolah, Mutu Pendidikan, Kabupaten Garut
Implementasi Fungsi Perencanaan Pendidikan Karakter Santri Melalui Peran Asatidz di Pesantren Modern Daarul ‘Uluum Lido Hasbiyallah, Hasbiyallah; Sina, Siti Nabilah; Hasanah, Nisa
Ngaji: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Perkumpulan Sarjana Pendidikan Islam Indonesia (PSPII) Wilayah Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/ngaji.v3i1.46

Abstract

Students at the Daarul Uluum Lido Modern Islamic Boarding School apply asatidz (teacher) courtesy, especially by establishing friendships intensively. Doing work outside the classroom, such as helping out at the asatidz’s house in their spare time or cleaning Islamic boarding schools’ operational vehicles, is one way to build strong friendships. Students do this not to take advantage of asatidz; rather, they do so solely to show their respect and tahrim to a teacher and to practice what they have learned so far, especially during the study of the book which is held every Friday at noon. The authors use a qualitative approach by examining the condition of natural objects. The authors use case studies as a more suitable method for answering research questions about how or why this phenomenon can occur. According to the findings of this study, the role of asatidz as an example is one of the main factors in helping to create a generation that is noble and civilized in shaping the character and morals of the students. Generations that have decency and morality will be able to distinguish between good and bad deeds. In this case, it is the generation that can put things in their place and make people more likable in good relationships.   Abstrak: Santri-santri di Pondok Pesantren Modern Daarul Uluum Lido menerapkan adab asatidz (guru), khususnya dengan intens menjalin silaturahmi. Melakukan pekerjaan di luar kelas, seperti membantu pekerjaan di rumah asatidz di waktu senggang atau membersihkan kendaraan operasional pondok pesantren, merupakan salah satu cara membangun silaturahmi yang kuat. Santri melakukan hal ini bukan untuk memanfaatkan asatidz; melainkan, mereka melakukannya semata-mata untuk menunjukkan penghormatan dan tahrim mereka kepada seorang guru dan untuk mempraktekkan apa yang telah mereka pelajari selama ini, terutama selama belajar kitab yang diadakan setiap hari Jumat di siang hari. Penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengkaji kondisi objek alam. Penulis menggunakan studi kasus sebagai metode yang lebih cocok untuk menjawab pertanyaan penelitian tentang bagaimana atau mengapa fenomena ini dapat terjadi. Menurut temuan penelitian ini, peran asatidz sebagai keteladanan merupakan salah satu faktor utama dalam membantu terciptanya generasi yang berakhlak mulia dan beradab dalam membentuk watak dan akhlak santri. Generasi yang memiliki kesopanan dan moralitas akan dapat membedakan antara perbuatan baik dan buruk. Dalam hal ini adalah generasi yang mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan membuat orang lebih disukai dalam hubungan yang baik. Kata kunci: Adab, Etika, Figur
Revitalisasi Tri Pusat Pendidikan dalam Upaya Revolusi Mental Mu'adz, Muhammad Mush'ab; Purwaningsih, Rahma Fitria
Ngaji: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Perkumpulan Sarjana Pendidikan Islam Indonesia (PSPII) Wilayah Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/ngaji.v3i1.47

Abstract

The Arabic nation was originally surrounded by two empires that already had civilization, science and one of them had a great heritage in the form of philosophy and wisdom. The two empires are the Roman and the Persian Empire. The Roman Empire was governed by a social system that ignored the human rights of the weak before the strong (rulers). To a certain extent, it is only protecting and giving privileges to the nobles without ignoring the rights of the weak. As there was chaos in Roman society, so it was in Persian society. The conflict between social classes that occurred was no less than what existed in Rome. Even when the Persians were united in sovereignty and political disintegration disappeared, social disintegration continued. So, the true solution to social problems is education which is known by the term Three Education Center. It means that in education there are three elements involved in the educational process, namely family, school, and community. Therefore, the authors try to review more deeply the role of the Three Education Centers as organizers of the mental revolution. The purpose of this writing is to find out the revitalization efforts of the Three Education Centers in the mental revolution effort. The method used is library research, which is in the form of searching for information in books or related scientific articles. The results of the research and conclusions are that in the Three Education Centers, 3 education centers must always be balanced and continuous, namely education at home, education in schools, and education in the community. If it has been carried out, it will undoubtedly create a character, morality, character, and behavior.   Abstrak: Bangsa Arab pada awalnya dikelilingi oleh dua imperium yang telah memiliki peradaban, ilmu pengetahuan dan salah satunya menyimpan warisan agung berupa filsafat dan hikmah. Dua imperium itu adalah Kekaisaran Romawi dan Persia. Kekaisaran Romawi diatur oleh suatu sistem sosial yang mengabaikan hak asasi kaum lemah di hadapan kaum yang kuat (penguasa). Dalam batas tertentu hanyalah melindungi dan memberikan hak-hak privilege kepada para bangsawan tanpa mengacuhkan hak-hak kaum lemah. Sebagaimana kekacauan pada masyarakat Romawi, demikian pula terjadi pada masyarakat Persia. Pertentangan antar kelas-kelas sosial yang terjadi tidak lebih kecil dari apa yang ada di Romawi. Sekalipun ketika Persia dapat bersatu dalam kedaulatan dan disintegrasi politik lenyap, akan tetapi disintegrasi sosial terus berlangsung. Maka sejatinya solusi yang tepat problematika sosial ialah pendidikan yang dikenal dengan istilah Tri Pusat Pendidikan. Maksudnya ialah dalam pendidikan terdapat tiga unsur yang terlibat dalam proses pendidikan, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Maka dari itu, penulis mencoba mengulas lebih dalam mengenai peran Tri Pusat Pendidikan ini sebagai penyelenggara revolusi mental. Tujuan penulisan ini adalah untuk mencari tahu upaya revitalisasi Tri Pusat Pendidikan dalam upaya revolusi mental. Metode yang digunakan adalah library research berupa pencarian informasi ke buku atau artikel ilmiah terkait. Hasil penelitian dan kesimpulan adalah dalam Tri Pusat Pendidikan terdapat 3 sentral pendidikan yang harus selalu balance dan continue, yaitu pendidikan di rumah, pendidikan di sekolah dan pendidikan di masyarakat. Apabila telah terlaksana, maka niscaya akan tercipta akhlak, moralitas, budi pekerti dan tingkah laku. Kata Kunci: Revitalisasi, Tri Pusat Pendidikan, Revolusi Mental
Imbalan Mengajar dalam Perspektif Islam: Studi Hadis Nabi Muhammad SAW dan Pandangan Ulama Al Qosam, Arvaddin Hamasy
Ngaji: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Perkumpulan Sarjana Pendidikan Islam Indonesia (PSPII) Wilayah Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/ngaji.v3i1.48

Abstract

The writing of this article is to discuss the theory of receiving rewards or teaching wages for teachers or instructors from the hadith perspective. The purpose of this study is to explain how the concept of teaching rewards for an educator is related to Islamic religious theory. The research method used is library research and uses a qualitative approach. The data sources used in this study are divided into two, namely primary and secondary sources. The primary data source is in the form of the hadith of the prophet regarding teaching rewards, while the secondary sources are obtained from several data from scientific journals, papers, previous research results, and books related to this research. The article writing results are, (1) there is a hadith by Bukhari from Ibn Abbas which explains that it is permissible to receive wages for teaching results. (2) According to Al-Ghazali, receiving rewards from students is only permissible in the realm of teaching non-religious sciences, and it is permissible to receive rewards from educational institutions but only to meet needs, not to enrich oneself. (3) According to Al-Zarnuji, it is permissible to receive rewards from students, whether in religious or non-religious knowledge. (4) while Ibn Jama’ah argues that it is permissible to receive rewards from students, and suggests educational institutions to meet the necessary of teachers.   Abstrak: Penulisan artikel ini adalah membahas tentang teori menerima imbalan atau upah mengajar bagi para guru atau pengajar dalam sudut pandang hadis. Adapaun tujuan dari penelitian ini ialah untuk menjelaskan terkait bagaiamana konsep imbalan mengajar bagi seorang pendidik menurut teori agama Islam. Metode penelitian yang digunakan bersifat studi pustaka (library research) dan menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan pada penelitian terbagi menjadi dua, yakni sumber primer dan sekunder. Sumber data primer berupa hadis nabi tentang imbalan mengajar, sedangkan sumber sekunder diperoleh dari data beberapa jurnal ilmiah, karya tulis , hasil penelitian sebelumnya dan buku-buku yang terkait dengan penelitian ini. Hasil penulisan artikel ini adalah, (1) terdapat hadis oleh bukhari dari Ibnu Abbas yang menjelaskan terkait bolehnya menerima upah dari hasil mengajar. (2) Menurut Al-Ghazali, menerima imbalan dari murid hanya diperbolehkan pada ranah mengajar ilmu non keagamaan, dan diperbolehkan menerima dari lembaga pendidikan tetapi hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan, bukan untuk memperkaya diri. (3) Menurut Al-Zarnuji memperbolehkan menerima imbalan dari murid, baik dalam ilmu agama atau non agama. (4) sedangkan Ibn Jama’ah berpendapat memperbolehkan menerima imbalan dari murid, dan menyarankan kepada lembaga pendidikan untuk memenuhi kebutuhan guru. Kata Kunci: Imbalan, Islam, Mengajar
Telaah Klasifikasi Hukum Syara’ (Hukum Taklifi dan Hukum Wadh`i) Hopipah, Eva Nur; Nurkholis, Mujiyo
Ngaji: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Perkumpulan Sarjana Pendidikan Islam Indonesia (PSPII) Wilayah Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/ngaji.v3i1.50

Abstract

Sharia law exists to facilitate human life in general. And the judge or lawmaker is essentially Allah subhanahu wa ta’ala who is the most perfect lawgiver. The classification of Syara’ law according to the number of scholars, especially fiqh experts, divides it into two parts, namely taklifi law and wadh’i law. Taklifi law means orders to act, leave, and choices which are divided into five parts, namely there is consent, nadb, tahrim, karahah and ibahah. Then the wadh’i law is an act that can be a cause, condition, or barrier to the occurrence of a legal action. Although some scholars classify wadh’i law into five parts, namely there are azimah and rukhsah as well as valid and invalid. The research methodology used in this paper is library research which explores and comprehensively examines the classification of Syara’ law, which will then show the basic linkages and differences between the two.   Abstrak: Hukum syara’ hadir untuk mempermudah kehidupan manusia pada umumnya. Dan hakim atau pembuat hukum secara hakikat adalah Allah subhanahu wa ta’ala yang merupakan law giver Maha Sempurna. Klasifikasi hukum syara’ menurut jumhur ulama, khususnya para ahli fiqh membaginya ke dalam dua bagian, yaitu hukum taklifi dan hukum wadh’i. Hukum taklifi berarti perintah untuk berbuat, meninggalkan dan pilihan yang terbagi ke dalam lima bagian yaitu ada ijab, nadb, tahrim, karahah dan ibahah. Kemudian hukum wadh’i adalah suatu perbuatan yang bisa menjadi sebab, syarat, hingga penghalang terjadinya suatu perbuatan hukum. Mekipun ada beberapa ulama yang mengklasifikasikan hukum wadh’i ke dalam lima bagian, yaitu ada ‘azimah dan rukhsah serta sah dan batal. Metodologi penelitian yang digunakan dalam karya tulis ini adalah penelitian kepustakaan yang mengupas dan menelaah secara komprehensif klasifikasi hukum syara’ yang selanjutnya akan terlihat keterkaitan dan perbedaan yang mendasar pada keduanya. Kata Kunci: Hukum Syariah, Klasifikasi Hukum Syariah, Hukum Taklifi, Hukum Wadh’i
Kemandirian Belajar Siswa Melayu di SMPN 2 Sungai Raya Kepulauan Aliska, Mia
Ngaji: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 2 (2023)
Publisher : Perkumpulan Sarjana Pendidikan Islam Indonesia (PSPII) Wilayah Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/ngaji.v3i2.57

Abstract

Learning independence refers to the learner's specific way of controlling his learning. Ethnicity or ethnic groups can have an influence on learning independence, but these factors are complex and can vary depending on social, cultural and educational contexts. The purpose of this study was to determine the learning independence of Malay students at SMPN 2 Sungai Raya Kepulauan. This research is a qualitative research. Data collection was carried out through in-depth interviews with Grade 9 Malay students. From the research that has been done, it can be concluded that the level of independence of Malay students at SMPN 2 Sungai Raya Kepulauan, especially grade 9, is not optimal. Because they have not been able to meet the existing indicators of independence in learning, namely the ability to plan learning, the ability to manage time, the ability to organize themselves, the ability to seek information, the ability to solve problems and the ability to communicate.   Abstrak: Kemandirian belajar mengacu pada cara spesifik pembelajar dalam mengontrol belajarnya. Suku atau kelompok etnis dapat memiliki pengaruh terhadap kemandirian belajar, tetapi faktor-faktor ini bersifat kompleks dan dapat bervariasi tergantung pada konteks sosial, budaya, dan pendidikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemandirian belajar siswa Melayu di SMPN 2 Sungai Raya Kepulauan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam kepada siswa melayu kelas 9. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa tingkat kemandirian pada siswa Melayu di SMPN 2 Sungai Raya Kepulauan khususnya kelas 9 yaitu belum maksimal. Karena mereka belum bisa memenuhi indikator yang ada dalam kemandirian belajar yaitu Kemampuan merencanakan belajar, Kemampuan mengelola waktu, Kemampuan mengatur diri, Kemampuan mencari informasi, Kemampuan memecahkan masalah dan Kemampuan berkomunikasi. Kata Kunci: kemandirian belajar, suku Melayu
Makna Nilai Religius dalam Belajar bagi Siswa Melayu MAN Putussibau Ashari, Jannatun Salwa
Ngaji: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 2 (2023)
Publisher : Perkumpulan Sarjana Pendidikan Islam Indonesia (PSPII) Wilayah Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/ngaji.v3i2.58

Abstract

Malay is one of the most extensive ethnic groups known as Malayan Polynesia or Austronesian. In terms of religion, the majority of the Malay tribe embraced Islam, precisely since the 13th century. Religious values are character values used as attitudes and behaviors that shape students in rituals, moral or social actions based on His rules. This assessment aims to know the meaning of the values of Regiliusity in learning in the tribal students of MAN Putussibau class X Ips 2. The method used in this research is the qualitative research method. This data collection uses interview techniques. The results of this study show that the meaning of the tribal religious values is based on the worship performed, and can interpret the values contained in learning and apply them in everyday life.   Abstrak: Melayu merupakan salah satu rumpun bangsa yang sangat luas dikenal sebagai Polinesia Malaya atau Austronesian. Dalam hal agama, mayoritas suku Melayu memeluk agama Islam, tepatnya sejak abad ke-13. Nilai Religius merupakan salah satu nilai karakter yang digunakan sebagai sikap dan perilaku yang membentuk siswa dalam ritual, tindakan moral atau sosial berdasarkan aturan-Nya. Penilaian ini bertujuan untuk mengetahui makna nilai-nilai Regiliusitas dalam belajar pada siswa suku melayu dari MAN Putussibau kelas X Ips 2. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Pengumpulan datanya ini menggunakan teknik wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa makna nilai-nilai Religiusitas suku melayu didasarkan pada ibadah yang dilakukan, dan dapat menafsirkan nilai yang terkandung dalam pembelajaran dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kata Kunci: Melayu, Religius, Putussibau
Self Leadership dalam Membangun Kepercayaan Diri Siswa Melayu di SMPN 5 Sanggau Arfiani, Efi
Ngaji: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 2 (2023)
Publisher : Perkumpulan Sarjana Pendidikan Islam Indonesia (PSPII) Wilayah Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/ngaji.v3i2.59

Abstract

The capacity of a person to direct and control their own resources internally to achieve predetermined goals is referred to as Self Leadership. Using qualitative research methods with interview techniques, this study aims to determine the ability of Grade 8A Malay students at SMPN 5 Sanggau to use self-leadership to build self-confidence. The results of the study found that the leadership of grade 8A Malay students was determined by their ability to communicate effectively and their leadership attitudes which were responsible, firm, and confident. To develop their leadership skills, many students join school organizations.   Abstrak: Kapasitas seseorang untuk mengarahkan dan mengendalikan sumber daya mereka sendiri secara internal untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya disebut sebagai Self Leadership. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik wawancara, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa Melayu SMPN 5 Sanggau kelas 8A menggunakan self leadership untuk membangun kepercayaan diri. Hasil penelitian menemukan bahwa kepemimpinan siswa Melayu kelas 8A ditentukan oleh kemampuan mereka berkomunikasi secara efektif dan sikap kepemimpinan mereka yang bertanggung jawab, tegas, dan percaya diri. Untuk mengembangkan keterampilan kepemimpinan mereka, banyak siswa bergabung dengan organisasi sekolah. Kata Kunci: Suku Melayu, Self Leadership, Kepercayaan Diri