cover
Contact Name
Sudikno
Contact Email
onkidus@gmail.com
Phone
+6281316350502
Journal Mail Official
redaksipgm@yahoo.com
Editorial Address
Grand Centro Bintaro Blok B2, Jl. Raya Kodam Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan 12320 Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research)
ISSN : 01259717     EISSN : 23388358     DOI : https://doi.org/10.36457
Core Subject : Health, Social,
Focus and Scope Penelitian Gizi dan Makanan is a journal developed to disseminate and discuss the scientific literature and other research on the development of health in the field of food and nutrition. This journal is intended as a medium for communication among stake holders on health research such asresearchers, educators, students, practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service center, as well as the general public who have an interest in the matter. The journal is trying to meet the growing need to study health. Vision: Becoming a notable national journal in the field of food and nutritions towards a reputable international journal. Mission: Providing scientific communication media in food and nutritions research in order to advance science andtechnology in related fields. Organizes scholarly journal publishing in health research with an attempt to achieve a high impact factorin the development of science and technology.
Articles 16 Documents
Search results for , issue "JILID 16 (1993)" : 16 Documents clear
PENDIAGNOSAAN STATUS BESI BERDASARKAN NILAI HEMOGLOBIN PADA ANAK WANITA DI PERKEBUNAN TEH, JAWA BARAT M. A. Husaini
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2272.

Abstract

Untuk mendiagnosa status besi harus dilakukan tiga macam pemeriksaan biokimia yaitu: trasferin jenuh, ferritin, dan FEP (free erythrocyte phorphyrin). Dua diantara tiga macam parameter ini tidak normal maka disebut defisiensi besi. Tetapi ketiga macam pemeriksaan ini sulit dilakukan di dalam program, karena itu perlu ada suatu teknologi sederhana yaitu dengan hanya pemeriksaan Hb. Berdasarkan penelitian terhadap 209 orang anak Balita dan 107 orang wanita dewasa pemetik teh di Perkebunan Teh, Pengalengan, Bandung, didapatkan bahwa 12.0 g% Hb (Se=83.5%, Sp=83.7%) untuk anak Balita, dan 12.0 g% Hb (Se=86.0%, Sp=68.1%) untuk wanita dewasa, adalah batas yang dinyatakan paling tepat untuk menilai status besi. Diatas atau sama dengan nilai-nilai tersebut seseorang dinyatakan normal, sebaliknya dibawah nilai-nilai tersebut seseorang dinyatakan defisiensi besi. Sedangkan nilai batas anemia untuk Balita adalah 11 g% dan wanita dewasa adalah 12 g%. Berdasarkan kedua macam indikator tersebut diatas (batas defisiensi besi dan batas anemia) akan didapatkan tiga macam status besi, yaitu: (1) anemia defisiensi besi, (2) non anemia tapi defisiensi besi, dan (3) non anemia non defisiensi besi (normal). Nilai-nilai tersebut disarankan untuk dapat dipergunakan dalam pemecahan maupun penilaian program kesehatan masyarakat.
BEBERAPA ASPEK PSIKO-SOSIAL PADA ANAK KURANG ENERGI PROTEIN (KEP) DI DAERAH BOGOR Djoko Kartono; Sihadi Sihadi
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2273.

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendapatkan data tentang aspek psiko-sosial anak usia bawah lima tahun (Balita) dengan keadaan gizi buruk, gizi kurang dan gizi baik. Aspek-aspek tersebut meliputi tingkat pendidikan ayah dan ibu, keadaan psikologis ibu, aktifitas ibu di luar rumah, tipe rumah tangga dan keadaan perumahan. Sebanyak 126 keluarga bertempat tinggal di daerah Bogor tercakup dalam penelitian ini. Keluarga dibagi menjadi 3 kelompok yaitu keluarga dengan anak gizi buruk, dengan gizi kurang dan gizi baik. Jumlah sampel masing-masing kelompok sebanyak 42 anak. Dalam penelitian ini ditunjukkan adanya pengaruh yang nyata dari beberapa aspek psiko-sosial terhadap keadaan gizi anak. Aspek-aspek tersebut adalah nomor urut anak dalam keluarga, tingkat pendidikan ayah dan pendidikan ibu, umur pada waktu pertama menikah baik ayah maupun ibu dan aktivitas ibu di luar rumah. Akan tetapi, tidak ada perbedaan bermakna dalam tipe rumah tangga dan keadaan perumahan. Selain itu, ibu-ibu yang selalu khawatir terhadap kehidupan rumah tangganya dan kurang aktif dalam kegiatan di luar rumah cenderung mempunyai anak dengan keadaan kurang gizi. Demikian pula, ibu-ibu yang jarang mengikuti kegiatan di luar rumah seperti pengajian dan penimbangan bulanan.
STATUS GIZI ANAK BALITA DAN KETERLIBATAN IBU DALAM KEGIATAN DI LUAR RUMAH Sri Muljati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2274.

Abstract

Tulisan ini menyajikan analisis dari data hasil penelitian Aspek psikososial pada anak balita KKP yang dilakukan di wilayah kabupaten Bogor dengan rancangan kasus kontrol berjodoh (match case control). Dari data tersebut diperoleh 42 anak balita penderita gizi buruk (kasus) dan 42 anak balita dengan status gizi balk sebagai kontrol. Status gizi ditentukan berdasarkan pemeriksaan klinis dan indeks berat badan menurut umur. Sedangkan kontrol ditentukan berdasarkan kriteria: jenis kelamin, umur, sosial ekonoml dan lingkungan tempat tinggal yang relatif sama dengan kasus. Data yang diolah adalah status gizi anak, pengetahuan gizi ibu, sumber informasi tentang cara memberi makan kepada anak, dan kegiatan di luar rumah tangga yang diikuti ibu. Sumber informasi tentang cara memberi makan kepada anak umumnya berasal dari kerabat dekat yaitu orang tua, famili, tetangga dan teman, berturut-turut pada kelompok anak gizi baik dan buruk sebanyak 88.1% dan 92.0%. Pengetahuan ibu tentang gizi sebagian besar tergolong kurang, yaitu sebanyak 69.1% pada kelompok anak gizi baik dan 73.8% pada kelompok anak gizi buruk. Disamping itu ditemukan 76.2% dan 57.2% ibu dari kelompok anak balita gizi baik dan buruk yang mengikuti kegiatan penimbangan serta 69.0% dan 59.5% ibu dari kelompok anak gizi baik dan buruk yang mengikuti kegiatan pengajian. Namun kedua kegiatan tersebut nampaknya belum dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan gizi kepada masyarakat. Hal ini tampak dari sebagian besar ibu-ibu yang mengikuti kegiatan penimbangan, masih memiliki pengetahuan gizi yang kurang yaitu sebanyak 47.7% pada kelompok anak gizi baik dan 45.2% pada kelompok anak gizi buruk.
POLA MENYUSUI DAN PEMBERIAN MAKANAN PADA ANAK BALITA PENDERITA GIZI BURUK DI WILAYAH BOGOR Sudjasmin Sudjasmin; Sri Muljati; Sihadi Sihadi; Suhartato Suhartato; M. A. Husaini
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2275.

Abstract

Penelitian pola menyusui dan pemberian makanan pada penderita Gizi Buruk telah dilakukan terhadap pengunjung Klinik Gizi Bogor, berusia antara 6 bulan sampai dengan 48 bulan. Anak-anak penderita Gizi Buruk yang diteliti umumnya berumur di bawah 24 bulan dan hanya sedikit di atas 24 bulan. Yang paling banyak ditemui adalah marasmus (90.8%), sedangkan kwashiorkor dan marasmic-kwashiorkor hanya sedikit yaitu masing-masing 4.6% dan 4.6%. Umumnya anak-anak ini disapih pada usia sangat muda, bahkan lebih dari setengahnya (53.3%) telah disapih pada usia kurang dari 7 bulan. Alasan disapih adalah karena ibu hamil lagi, ibu sakit dan ASI tidak keluar. Anak-anak penderita Gizi Buruk ini juga telah mendapat makanan tambahan terlalu dini yaitu sejak berumur kurang dari 4 bulan. Selain itu juga sering diberi makanan jajanan berupa chiki, pisang goreng, ubi, agar-agar dan roti (biskuit); tabu diberi makan ikan; dan mengalami sulit makan karena sering sakit.
PRAKTIK PEMBERIAN MAKANAN PADA BAYI DI BOGOR DAN FAKTOR-FAKTOR SOSIAL BUDAYA YANG MEMPENGARUHI Arnelia Arnelia; Sri Muljati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2276.

Abstract

Telah dilakukan penelitian di daerah perkotaan dan pedesaan Ciomas di Kabupaten Bogor, untuk mempelajari praktek pemberian makanan pada bayi serta faktor sosial budaya yang mempengaruhi dengan menggunakan metoda Rapid Assesment Procedures (RAP). Sampel penelitian adalah ibu-ibu yang mempunyai bayi umur (13-18) bulan, kader Posyandu, dukun bayi dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukan bahwa makanan pralaktasi berupa madu dan air putih, biasa diberikan kepada bayi baru lahir di kedua desa. Bayi di daerah perkotaan sudah diberi ASI sejak berusia sehari, sedangkan di pedesaan umumnya pada hari ke empat karena ASI pada tiga hari pertama dianggap kotor dan biasanya dibuang. Pemberian makanan tambahan dimulai pada usia terlalu dini, yaitu rata-rata usia dua minggu di pedesaan dan satu bulan di perkotaan. Sebaliknya pemberian sayuran hijau dan protein hewani umumnya terlambat. Sayuran hijau baru diberikan setelah usia sembilan bulan di perkotaan, dan setelah 18 bulan di pedesaan. Protein hewani umumnya baru mulai diberikan setelah bayi berusia 12 bulan. Bahkan di daerah pedesaan, jenis ikan basah baru diberikan setelah anak berusia tiga tahun.
KADAR ZAT IODIUM DARI GARAM BERIODIUM SELAMA PROSES PENGEMASAN, PENYIMPANAN DAN PENANGANAN DI RUMAH TANGGA DI WILAYAH BOGOR Anies Irawati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2277.

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui banyaknya kadar iodium (KI03) yang masih ada dalam garam beriodium selama pengemasan, penyimpanan dan penanganan di rumah tangga. Pada penelitian ini garam beriodium dikemas dengan menggunakan 4 macam jenis pengemas yaitu plastik bening, plastik gelap, gelas bening dan gelas merah gelap. Masing-masing garam dalam kemasan disimpan selama 0.2, 4.6 dan 8 minggu; dan kemudian diambil kadar iodiumnya (KI03). Selaln itu diteliti pula kadar iodium yang ada pada sayuran (wortel, bayam dan labu siam) selelah masing-masing sayuran tersebut dibubuhi garam beriodium dan kemudian dimasak secara dikukus, direbus dan ditumis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa garam beriodium yang dikemas dengan gelas yang berwarna merah gelap, selama penyimpanan kadariodium (KI03) yang masih ada paling banyak (39.43 ppm) dibanding ketiga jenis kemasan lainnya (antara 31.40 ppm dan 33.53 ppm). Dua minggu pertama peyimpanan merupakan periode berkurangnya kadar iodium (KI03) paling banyak yaitu antara 2.30 persen dan 14.40 persen. Semakin lama disimpan kadar iodium garam semakin rendah. Garam beriodium yang dibubuhkan pada sayuran yang dimasak dengan cara dikukus, kadar iodium yang masih ada paling banyak (antara 13.76 ppm dan 18.64 ppm) dibandingkan sayuran yang dimasak dengan kedua cara pemasakan lainnya (masih ada antara 7.86 ppm dan 12.04 ppm)
DETERMINAN PERTUMBUHAN ANAK 6-8 TAHUN DI DAERAH ENDEMIK GAKI Basuki Budiman
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2278.

Abstract

Pertumbuhan yang diukur dari tinggi badan pada anak usia 6-8 tahun di daerah endemik Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI) cenderung lebih buruk daripada di daerah non-endemik. Oleh karena pertumbuhan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik internal maupun eksternal, maka determinan pertumbuhan di setiap daerah akan berbeda. Penelitian ini mengungkapkan determinan pertumbuhan di daerah endemik GAKI. Rancangan penelitian kasus-kontrol dipilih dengan kasus ditentukan sebagai anak usia 6-8 tahun yang tumbuh di daerah endemik dan mengalami gangguan pertumbuhan; sedangkan kontrol adalah anak yang berjenis kelamin dan berusia relatif sama (toleransi tiga bulan) ang tumbuh di daerah yang sama pula serta tidak mengalami gangguan pertumbuhan. Determinan dianalisis dari regresi ganda logistik pada 52 pasang sampel. Penyusunan model regresi menggunakan paket analisis SPSS versi 3.1. Hasil analisis memberi petunjuk bahwa faktor tinggi badan ayah tidak memberikan resiko terhadap pertumbuhan anak; sedangkan faktor tinggi badan ibu memberikan resiko terhadap pertumbuhan anak sebesar 2.72 (1.08-6.83). Faktor-faktor lain tidak dapat disimpulkan dan masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
TEMPAT PELAYANAN KESEHATAN DASAR UNTUK ANAK USIA 6-36 BULAN YANG DITUJU MASYARAKAT KOTA Basuki Budiman
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2279.

Abstract

Dalam penelitian ini telah dipelajari pemanfaatan pelayanan kesehatan dasar terutama untuk anak usia 6-36 bulan. Penelitian dilaksanakan di dua kelurahan dari dua kecamatan di Kotamadya Semarang. Dari hasil analisis data penelitian ini dapat diungkapkan bahwa masyarakat kota mempunyai banyak pilihan tempat pelayanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dasar anaknya. Pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang merupakan upaya pemerintah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat ternyata masih lebih banyak digunakan terutama oleh kelompok ekonomi kurang mampu dan ibu rumahtangga yang berpendidikan tamat sekolah lanjutan pertama atau kurang.
POLA KONSUMSI MAKANAN MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI WILAYAH PENGEMBANGAN INDUSTRI Trintrin T. Mudjianto; Tjetjep S. Hidayat; Hermina Hermina; Triasari Andanwerti; Nurfi Afriansyah; Adhi Dharmawan Tato; Siti Hasnah Soetedjo; Djoko Susanto
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2280.

Abstract

Studi ini dilakukan untuk menggali faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap pola konsumsi makanan responden buruh pabrik dan keluarganya di wilayah pengembangan industri. Sebagai pembanding diteliti pula keluarga petani kecil di wilayah pertanian. Sebanyak 100 orang responden dan keluarganya di masing-masing wilayah menjadi sumber data penelitian ini. Beberapa temuan menunjukkan keragaan sebagai berikut: Sebagian KK di wilayah pertanian selain bekerja sebagai petani juga bekerja sebagai buruh pabrik. Penghasilan KK di wilayah industri relatif lebih tinggi dibandingkan dengan di wilayah pertanian. Ketersediaan makanan dan bahan makanan yang berasal dari pedagang tetap maupun pedagang keliling di kedua wilayah tidak banyak berbeda. Konsumsi makanan keluarga di wilayah industri relatif lebih baik dibandingkan dengan di wilayah pertanian baik dalam hal jumlah maupun macamnya. Di kedua wilayah penelitian, macam makanan yang dikonsumsi KK tidak banyak berbeda dengan yang dikonsumsi anggota keluarga lainnya. Dibandingkan terhadap kecukupan gizi yang dianjurkan (ROA) maka kecuali protein, konsumsi zat-zat gizi darl makanan yang diperoleh KK di lingkungan pabrik dan di rumah umumnya masih belum memenuhi patokan gizi tersebut. Namun demikian konsumsi energi dan proteinnya lebih tinggi dibandingkan dengan di wilayah industri, sedangkan konsumsi vitamin dan mineral sebaliknya. Sebanyak 67% KK di wilayah industri memperoleh makan siang dengan cara membeli di warung sekilar pabrik, 1% membawa bekal dari rumah, 4% mendapat jatah dari pabrik, 22% makan di rumah dan 6% tidak makan. Alasan responden tidak makan siang karena pendapatannya tidak mencukupi.
LEMAK TUBUH DAN KESEGARAN JASMANI PEKERJA INDONESIA Y. Krisdinamurtirin; Dewi Permaesih; Ance Murdiana; Sri Murni Prastowo
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2281.

Abstract

Penelitian mengenai Lemak Tubuh dan Kesegaran Jasmani telah dilakukan terhadap 62 orang karyawan gemuk, 73 orang karyawan sedang dan 86 orang karyawan kurus. Mereka terdiri atas kelompok Gemuk Aktif (GPA): 33 orang; Gemuk Sendentary (GPSD): 29 orang; Sedang Aktif (SPA): 33 orang; Sedang Sendentary (SPSD): 40 orang; Kurus Aktif (KPA): 35 orang; Kurus Sendentary (KPSD): 51 orang. Umur mereka adalah antara 20 tahun dan 40 tahun. Uji Kesegaran jasmani menggunakan cara Harvard Step Test (HST) menunjukkan bahwa skor list kelompok Gemuk cenderung kurang bila dibandingkan dengan kelompok Sedang maupun Kurus. Uji kemaknaan perbedaan secara statistik menggunakan Student test, ternyata perbedaan terdapat pada tingkat Kegemukan, sedangkan pada tingkat jenis kegiatan (aktif/sendentary ) tidak menunjukkan perbedaan skor. Demikian pula clengan menggunakan Analisis Variance, menunjukkan bahwu ada kailan antaru Kegemuknn dengan skor HST (P:0,002), sedangkan antara jenis kegiatan dengan skor HST tidak ada kaitan (P:0,9049). Garis regresi memberikan gambaran bahwa makin tinggi presentase lemak tubuh, tingkat kesegaran jasmani yang dinyatakan dalam skor HST makin menurun. Garis regresi antara% 88/TB dengan kesegaran jasmani, memberikan gambaran pula ada kecenderungan bahwa pada % 88/TB 100%, kesegaran jasmani menurun. Sedangkan regresi antara kesegaran jasmani dengan tinggi duduk tidak menunjukkan kaitan yang jelas. Tetapi antara urnur dan kesegaran jasmani, menunjukkan ada kecenderungan makin tinggi urnur, kesegaran jasmani menurun. Kesimpulan dari penelitlan inl ialah bahwa ada kaitan antara kesegaran jasmani yang dinyatakan dalam skor Uji HST dengan (a) kegemukan dan (b) umur.

Page 1 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

1993 1993


Filter By Issues
All Issue Vol. 47 No. 2 (2024): PGM VOL 47 NO 2 TAHUN 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): PGM VOL 47 NO 1 TAHUN 2024 Vol. 46 No. 2 (2023): PGM VOL 46 NO 2 TAHUN 2023 Vol. 46 No. 1 (2023): PGM VOL 46 NO 1 TAHUN 2023 Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022 Vol. 45 No. 1 (2022): PGM VOL 45 NO 1 TAHUN 2022 Vol. 44 No. 2 (2021): PGM VOL 44 NO 2 TAHUN 2021 Vol. 44 No. 1 (2021): PGM VOL 44 NO 1 TAHUN 2021 Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020 Vol. 43 No. 1 (2020): PGM VOL 43 NO 1 TAHUN 2020 Vol. 42 No. 2 (2019): PGM VOL 42 NO 2 TAHUN 2019 Vol. 42 No. 1 (2019): PGM VOL 42 NO 1 TAHUN 2019 Vol. 41 No. 2 (2018): PGM VOL 41 NO 2 TAHUN 2018 Vol. 41 No. 1 (2018): PGM VOL 41 NO 1 TAHUN 2018 Vol. 40 No. 2 (2017) Vol. 40 No. 1 (2017) Vol. 39 No. 2 (2016) Vol. 39 No. 1 (2016) Vol. 38 No. 2 (2015) Vol. 38 No. 1 (2015) Vol. 37 No. 2 (2014) Vol. 37 No. 1 (2014) Vol. 36 No. 2 (2013) Vol. 36 No. 1 (2013) Vol. 35 No. 2 (2012) Vol. 35 No. 1 (2012) Vol. 34 No. 2 (2011) Vol. 34 No. 1 (2011) Vol. 33 No. 2 (2010) Vol. 33 No. 1 (2010) Vol. 32 No. 2 (2009) Vol. 32 No. 1 (2009) Vol. 31 No. 2 (2008) Vol. 31 No. 1 (2008) Vol. 30 No. 2 (2007) Vol. 30 No. 1 (2007) Vol. 29 No. 2 (2006): PGM VOL 29 NO 2 Desember Tahun 2006 Vol. 29 No. 1 (2006) Vol. 28 No. 2 (2005) Vol. 28 No. 1 (2005) Vol. 27 No. 2 (2004) Vol. 27 No. 1 (2004) Vol. 26 No. 2 (2003) Vol. 26 No. 1 (2003) Vol. 25 No. 2 (2002) Vol. 25 No. 1 (2002) JILID 24 (2001) JILID 23 (2000) JILID 22 (1999) JILID 21 (1998) JILID 20 (1997) JILID 19 (1996) JILID 18 (1995) JILID 17 (1994) JILID 16 (1993) JILID 15 (1992) JILID 14 (1991) JILID 13 (1990) JILID 12 (1989) JILID 11 (1988) JILID 10 (1987) JILID 9 (1986) JILID 8 (1985) Vol. 6 (1984): JILID 6 (1984) JILID 7 (1984) Vol. 5 (1982): JILID 5 (1982) JILID 4 (1980) JILID 3 (1973) JILID 2 (1972) JILID 1 (1971) More Issue