Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pengaruh Kesadaran Hemat Energi Terhadap Perilaku Hemat Energi Rizky Bachtiar; Azmi Al Bahij; Nadiroh Nadiroh; Sihadi Sihadi
Jurnal PGSD Vol 6 No 1 (2020): Januari-Juni
Publisher : PGSD Universitas Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32534/jps.v6i1.964

Abstract

This research is motivated by the low awareness of students in energy-efficient behavior, awareness of the Indonesian people needs to be grown to realize that energy reserves are no longer abundant, so far there has been a view in the community that our energy sources are abundant so that their behavior in consuming energy becomes wasteful and inefficient. The aim is to find whether there is an effect of energy-saving awareness on energy-saving behavior and how much influence it has. The research was conducted at SDN Pondok Aren 04 with a population and a sample of 155 students. This type of research used quantitative methods with a survey model. Data collection techniques used by researchers are questionnaires, documentation, and observation. The instrument used was a questionnaire, with a total of 40 questions, each with 20 variable X statements and 20 variable Y statements. The data analysis test technique was a simple regression test. The results of this study were obtained, namely 1) that there is an influence between energy saving awareness on energy saving behavior; 2) based on data obtained from the questionnaire the influence of energy saving awareness on Rsquare energy saving behavior of 0.605 or KD = 0.605X100% = 60.5%. While 39.5% is influenced by other variables. The results of this study are expected to give more information to teachers or education to students about energy-saving behavior and make students more aware of the importance of behaving energy-saving behavior.
Psychosocial Aspects of Mothers of Malnourished and Well-Nourished Children Zein Sulaiman; M. A. Husaini; Joko Kartono; Rini Azwein Jenie; Sihadi Sihadi; Paul F. Matulessy; Darwin Karyadi
Paediatrica Indonesiana Vol 36 No 11-12 (1996): November - December 1996
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.957 KB) | DOI: 10.14238/pi36.11-12.1996.248-57

Abstract

In order to determine whether differences in sociopsychological environ­ment and related factors exist between malnourished and well-nourished children, a study on 126 underfive children was carried out in Bogor, West Java, Indonesia. The children were grouped into severely malnourished, mild-moderately malnourished, and well-nourished children. Each group consisted of 42 children, and they were selected from die same surrounding which have fairly same housing condition, age, and sex. Differences were found between the three groups on parent's education, the birth order of the child, the expenditure per capita, and breast feeding history. However, there was no significant difference on knowledge about health and nutrition, mother and child relationship. It was observed that children who were never breastfed had a tendency to be severely or moderately malnourished. The mothers who were doing only household chores were worried about the future of their children; on the other hand, the mothers who have more contact with community (monthly welfare movement meetings, and other activities outside homes) have a tendency to have well-nourished children. The proposed hypothesis that mother and child interaction affects the level of die nutritional status of the children requires more testing in a more comprehensive study.
SISTEM DISTRIBUSI TABLET BESI DALAM PENANGGULANGAN MASALAH ANEMI GIZI PADA WANITA HAMIL Sandjaja Sandjaja; Djoko Kartono; Endi Ridwan; M. Saidin; Suryana Purawisastra; Sihadi Sihadi
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 9 (1986)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1972.

Abstract

Dalam upaya mendapatkan cara pendistibusian tablet besi untuk wanita hamil, dilakukan penelitian ujicoba dengan menggunakan empat cara distribusi. Masing-masing cara terdiri atas tiga kegiatan yang sama tetapi berbeda frekuensinya, yaitu pembagian tablet besi, penuluhan anemi gizi dan kunjungan rumah (supervisi). Pada cara (A), pembagian tablet dan penyuluhan anemi gizi dilakukan sekali seminggu dan kunjungan rumah sekali dua hari. Pada cara (B), (C) dan (D), frekuensi kegiatan, secara berturut mansing-masing sekali seminggu, sekali dua minggu dan sekali empat minggu (sebulan). Keefektifan cara distribusi ditentukan berdasarkan perbandingan masukan (frekuensi kegiatan) dan keluaran (jumlah tablet yang diminum, kenaikan kadar hemoglobin dan peningkatan pengetahuan gizi). Kegiatan distribusi dengan frekuensi sekali dua minggu (C) merupakan alternatif pilihan yang terefektif diantara keempat cara distribusi yang diujicobakan.
BEBERAPA ASPEK PSIKO-SOSIAL PADA ANAK KURANG ENERGI PROTEIN (KEP) DI DAERAH BOGOR Djoko Kartono; Sihadi Sihadi
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2273.

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendapatkan data tentang aspek psiko-sosial anak usia bawah lima tahun (Balita) dengan keadaan gizi buruk, gizi kurang dan gizi baik. Aspek-aspek tersebut meliputi tingkat pendidikan ayah dan ibu, keadaan psikologis ibu, aktifitas ibu di luar rumah, tipe rumah tangga dan keadaan perumahan. Sebanyak 126 keluarga bertempat tinggal di daerah Bogor tercakup dalam penelitian ini. Keluarga dibagi menjadi 3 kelompok yaitu keluarga dengan anak gizi buruk, dengan gizi kurang dan gizi baik. Jumlah sampel masing-masing kelompok sebanyak 42 anak. Dalam penelitian ini ditunjukkan adanya pengaruh yang nyata dari beberapa aspek psiko-sosial terhadap keadaan gizi anak. Aspek-aspek tersebut adalah nomor urut anak dalam keluarga, tingkat pendidikan ayah dan pendidikan ibu, umur pada waktu pertama menikah baik ayah maupun ibu dan aktivitas ibu di luar rumah. Akan tetapi, tidak ada perbedaan bermakna dalam tipe rumah tangga dan keadaan perumahan. Selain itu, ibu-ibu yang selalu khawatir terhadap kehidupan rumah tangganya dan kurang aktif dalam kegiatan di luar rumah cenderung mempunyai anak dengan keadaan kurang gizi. Demikian pula, ibu-ibu yang jarang mengikuti kegiatan di luar rumah seperti pengajian dan penimbangan bulanan.
POLA MENYUSUI DAN PEMBERIAN MAKANAN PADA ANAK BALITA PENDERITA GIZI BURUK DI WILAYAH BOGOR Sudjasmin Sudjasmin; Sri Muljati; Sihadi Sihadi; Suhartato Suhartato; M. A. Husaini
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2275.

Abstract

Penelitian pola menyusui dan pemberian makanan pada penderita Gizi Buruk telah dilakukan terhadap pengunjung Klinik Gizi Bogor, berusia antara 6 bulan sampai dengan 48 bulan. Anak-anak penderita Gizi Buruk yang diteliti umumnya berumur di bawah 24 bulan dan hanya sedikit di atas 24 bulan. Yang paling banyak ditemui adalah marasmus (90.8%), sedangkan kwashiorkor dan marasmic-kwashiorkor hanya sedikit yaitu masing-masing 4.6% dan 4.6%. Umumnya anak-anak ini disapih pada usia sangat muda, bahkan lebih dari setengahnya (53.3%) telah disapih pada usia kurang dari 7 bulan. Alasan disapih adalah karena ibu hamil lagi, ibu sakit dan ASI tidak keluar. Anak-anak penderita Gizi Buruk ini juga telah mendapat makanan tambahan terlalu dini yaitu sejak berumur kurang dari 4 bulan. Selain itu juga sering diberi makanan jajanan berupa chiki, pisang goreng, ubi, agar-agar dan roti (biskuit); tabu diberi makan ikan; dan mengalami sulit makan karena sering sakit.
HUBUNGAN ANTARA PEMBESARAN KELENJAR GONDOK YANG TAMPAK DENGAN GANGGUAN PERTUMBUHAN ANAK SEKOLAH DASAR DI DAERAH GONDOK ENDEMIK Basuki Budiman; Ratna D. Hatma; Pandu Riono; Sihadi Sihadi
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2199.

Abstract

Salah satu spektrum gangguan akibat iodium (GAKI) adalah gangguan pertumbuhan ragawi. Pembesaran kelenjar gondok, disatu pihak merupakan salah satu manifestasi kekurangan iodium, sementara di lain pihak, defisit tinggi badan merupakan petunjuk gangguan pertumbuhan. Hasil penelitian Bautista et.al. dan Koutras et.al. tidak menunjukkan hubungan antara pembesaran kelenjar gondok dengan postur tubuh. Penelitian untuk konfirmasi hasil penelitian tersebut dengan keadaan di Indonesia telah dilakukan di daerah gondok endemik di Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Sebanyak 1110 siswa sekolah dasar (7 SD) diperiksa pembesaran gondoknya dengan palpasi dan diukur tinggi badannya secara antropometri. Data yang diperoleh dianalisis secara kasus-kontrol dan distratifikasi menurut jenis kelamin dan umur. Kasus adalah anak penderita gangguan pertumbuhan pada nilai Z-skor 2.51 dari sebaran tinggi badan NCHS/WHO. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa resiko anak yang terganggu pertumbuhannya karena menderita kekurangan iodium sama besar dengan resiko anak yang pertumbuhannya normal (rasio odd, OR=0.84); demikian pula resiko pertumbuhan, pada anak perempuan (OR=0.90) hampir sama besar dengan pada anak laki-laki (OR=0.81). Efek umur, tampaknya, juga tidak menunjukkan perbedaan resiko. Disimpulkan bahwa hasil penelitian ini menegaskan hasil penelitian Bautista et.al. dan Koutras et.al.
STATUS GIZI ANAK BALITA DI DAERAH MALARIA Sihadi Sihadi; Sandjaja Sandjaja
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2201.

Abstract

STATUS GIZI ANAK BALITA DI DAERAH MALARIA
PROFIL KEADAAN GIZI USILA DI DKI JAKARTA DAN YOGYAKARTA Heryudarini Harahap; Anies Irawati; Dyah Santi Puspitasari; Sihadi Sihadi; M. A. Husaini
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 14 (1991)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2203.

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang profil keadaan gizi usila di DKI Jakarta dan DIY. DKI Jakarta menggambarkan daerah perkotaan dengan etnik yang beragam; DIY menggambarkan daerah pedesaan dengan etnik Jawa yang kebudayaannya masih kuat dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian dilakukan pada 90 orang usila di DKI Jakarta dan 180 usila di DIY dengan tingkat sosial ekonomi rendah. Hasil penelitian menunjukkan 82.8% dan 58.3% usila masing-masing untuk DKI Jakarta dan DIY adalah perempuan. Usila perempuan yang janda adalah 91.9% di DKI Jakarta dan 78.1% di DIY. Usila laki-laki yang duda 62.5% di DKI Jakarta dan 16.0% di DIY. Rata-rata jumlah anggota keluarga Usila di Jakarta 6.4 ± 3.5 orang, lebih besar daripada jumlah anggota keluarga Usila di DIY, yaitu 4.0% ± 2.2 orang. Pendapatan keluarga Usila di DKI Jakarta dan DIY hampir sama, yaitu Rp 87.744 di DKI Jakarta dan Rp 85.988 di DIY, tetapi pendapatan per kapita berbeda. Rata-rata pendapatan per kapita di DKI Jakarta adalah Rp 14.590 dan DIY Rp 18.160. Konsumsi zat-zat gizi Usila di DKI Jakarta dan DIY umumnya tidak ada yang mencapai 100% RDA, kecuali konsumsi vitamin C di Usila di DIY. Konsumsi kalori, protein dan zat besi Usila di kedua daerah penelitian kurang dari 80%, kalsium kurang dari 60%. Konsumsi zat-zat gizi Usila di DIY. Rata-rata perbedaan konsumsi berkisar antara 19.2%-59.3% kecukupan gizi pada laki-laki dan 8.2%-41.3% kecukupan gizi pada perempuan. Lebih dari 3/4 laki-laki berstatus gizi kurus yaitu 83.3% di DKI Jakarta dan 89.9% di DIY. Tidak terdapat laki-laki yang berstatus gizi gemuk, sedangkan pada perempuan terdapat 21.5% di DKI Jakarta dan 2.2% di DIY yang berstatus gizi gemuk. Prevalensi anemia Usila di DKI Jakarta lebih tinggi daripada di DIY yaitu 50.0% pada laki-laki dan 52.3% pada perempuan, dibanding 39.1% pada laki-laki dan 35.3% pada perempuan.
PENDAYAGUNAAN KELEMBAGAAN SWADAYA MASYARAKAT (LSM) DALAM UPAYA PENINGKATAN CAKUPAN DISTRIBUSI PIL BESI M. Saidin; Sukati Sukati; Sri Martuti; Sihadi Sihadi; Kodrat Pramudho; Djoko Susanto
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 19 (1996)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2299.

Abstract

Telah dilakukan penelitian "Pendayagunaan Kelembagaan Swadaya Masyarakat (LSM) dalam Upaya Peningkatan Cakupan Distribusi Pil Besi". Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari dan mengidentifikasi lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang berpotensi untuk dilibatkan dalam upaya peningkatan cakupan distribusi pil besi. Penelitian dilakukan di tiga propinsi yaitu Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Wilayah penelitian di Jawa Barat adalah Kabupaten Cianjur, meliputi 7 desa perlakuan dan 7 desa kontrol, di NTB penelitian dilakukan di Kabupaten Lombok Barat meliputi 5 desa perlakuan dan 5 desa kontrol. Di NTT penelitian dilakukan di Kabupaten Kupang, meliputi 10 desa perlakuan dan 10 desa kontrol. Di desa perlakuan distribusi pil besi dilakukan oleh kader LSM melalui forum pengajian disamping jalur biasa (Posyandu), sedangkan di desa-desa kontrol distribusi pil besi dilakukan seperti biasanya yaitu melalui Posyandu. Petugas LSM yang terlibat di Jawa Barat adalah anggota pengurus Majelis Ulama tingkat Kecamatan, Majelis Ta'lim dan Karang Taruna. Petugas LSM di NTB adalah anggota/pengurus Fatayat NU, Muslimat Nahdlatul Wathon, Nasiyatul Aisiyah Muhamadiyah, Yayasan Pondok Pesantren Bayyinul Ulum. Di NTT petugas LSM yang terlibat adalah kader masyarakat setempat binaan PLAN International. Petugas LSM di Jawa Barat berperan sebagai motivator, sedangkan di NTB dan NTT berperan sebagai motivator dan distribusi pil besi. Setelah kegiatan berlangsung 3 bulan, di Jawa Barat terjadi kenaikan cakupan distribusi pil besi di daerah perlakuan sebesar 17.4% dan kontrol sebesar 7.6% (p>0.05). Rataan pil besi yang diminum selama 3 bulan per ibu di daerah perlakuan sebanyak 60 pil lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan daerah kontrol sebesar 44 pil. Rataan kenaikan kadar Hb di daerah perlakuan sebesar 0.6±1.438 g/dl dan di daerah kontrol sebesar 0.4±0.744 g/dl (p>0.05). Di NTB terjadi kenaikan cakupan distribusi pil besi di wilayah perlakuan sebesar 22.3% lebih tinggi secara bermakna (p<0.05) daripada di daerah kontrol sebesar 10.6%. Rataan pil besi yang diminum di daerah perlakuan sebesar 85 pil, lebih tinggi secara bermakna (p<0.05) daripada daerah kontrol (60 pil). Rataan kenaikan kadar Hb di daerah perlakuan sebesar 0.6±1.146 g/dl dan di daerah kontrol sebesar 0.3±1.130 g/dl dan secara statistik berbeda bermakna (p<0.05). Di NTT, meskipun cakupan distribusi pil besi di daerah perlakuan lebih tinggi (14.2%) daripada di daerah kontrol (6.6%), tetapi perbedaan tersebut tidak bermakna. Rataan pil besi yang diminum per ibu hamil selama 3 bulan di daerah perlakuan 52 pil dan di daerah kontrol sebesar 40 pil. Kenaikan kadar Hb di daerah perlakuan sama dengan di daerah kontrol yaitu sebesar 0.4 g/dl.
STATUS GIZI DAN KESEHATAN MURID-MURID DI EMPAT SEKOLAH DASAR IDT BENGKULU SETELAH ENAM BULAN PROGRAM PMT-AS Astuti Lamid; Arnelia Arnelia; Sihadi Sihadi; Dyah Santi Puspita
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 20 (1997)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2354.

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang status gizi dan kesehatan murid-murid sekolaah dasar di beberapa desa yang termasuk Inpres Desa Tertinggal (IDT) di Bengkulu, setelah enam bulan program makanan tambahan anak sekolah (PMT-AS) berjalan. Maksud dan tujuan dari program PMT-AS yang secara nasional dimulai pada tahun 1996/1997 di desa-desa IDT untuk di luar Jawa dan Bali adalah untuk meningkatkan ketahanan fisik anak Sekolah Dasar melalui perbaikan keadaan gizi dan peningkatan kesehatan. Adapun tujuan penelitian ini yang berkaitan dengan program PMT-AS yaitu untuk mengetahui gambaran status gizi dan kesehatan murid-murid di empat Sekolah Dasar pada desa-desa IDT di Bengkulu setelah makanan tambahan dalam program PMT-AS diberikan selama enam bulan. Empat Sekolah Dasar dipilih secara purposive, dan responden penelitian adalah murid kelas 1 sampai kelas 6. berhasil diperiksa 543 murid dari empat sekolah dasar dan tidak ditemukan perbedaan yang nyata status gizi dengan menggunakan indikator BB/U, TB/U dan BB/TB antara awal dan akhir penelitian (p>0.05). Demikian juga konsumsi zat-zat gizi energi dan protein ditemukan tidak berbeda nyata pada awal dan akhir penelitian (p>0.05). Gejala penyakit yang banyak diungkapkan oleh murid-murid yaitu batuk pilek, panas dan penyakit kulit.