cover
Contact Name
Sudikno
Contact Email
onkidus@gmail.com
Phone
+6281316350502
Journal Mail Official
redaksipgm@yahoo.com
Editorial Address
Grand Centro Bintaro Blok B2, Jl. Raya Kodam Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan 12320 Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research)
ISSN : 01259717     EISSN : 23388358     DOI : https://doi.org/10.36457
Core Subject : Health, Social,
Focus and Scope Penelitian Gizi dan Makanan is a journal developed to disseminate and discuss the scientific literature and other research on the development of health in the field of food and nutrition. This journal is intended as a medium for communication among stake holders on health research such asresearchers, educators, students, practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service center, as well as the general public who have an interest in the matter. The journal is trying to meet the growing need to study health. Vision: Becoming a notable national journal in the field of food and nutritions towards a reputable international journal. Mission: Providing scientific communication media in food and nutritions research in order to advance science andtechnology in related fields. Organizes scholarly journal publishing in health research with an attempt to achieve a high impact factorin the development of science and technology.
Articles 597 Documents
KOMPONEN AKTIF DALAM TEMPE UNTUK PENCEGAHAN DIARE Mien KMS Mahmud; Hermana Hermana; Heru Yuniati; Endi Ridwan
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 13 (1990)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1964.

Abstract

Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa tempe mempunyai khasiat yang bermanfaat bagi kesehatan yaitu kemampuan menegah terjadinya kenaikan kadar kolesterol darah dan diare akibat infeksi bakteri enteropatogenik Eserichia coli (E.coli). Komponen atau zak aktif dalam tempe yang berperan pada pencegahan diare belum diketahui. Komponen tersebut dapat ditentukan melalui dua tahap penelitian yaitu pertama menguji jenis ekstrak tempe yang mampu mencegah diare, dan kedua menentukan komponen atau senyawa yang terkandung dalam ekstrak tersebut. Penelitian ini bertujuan menentukan jenis ekstrak tempe yang mampu mencegah/menghambat terjadinya diare akibat infeksi bakteri enteropatogenik E.coli. Penelitia dialkukan secara biologi menggunakan kelinci sebagai hewan percobaan. kelinci sapihan yang sehat dibagi menjadi lima kelompok, masing-masing kelompok disampinng ransum basal diberi ekstrak tempe dengan pelarut etanol atau pelarut etanol-hexan (1:1) atau pelarut hexan, satu kelompok diberi residu dan satu kelompok lagi hanya diberi ransum basal (kelompok kontrol). Setelah 30 hari pemberian ransum, kelinci diinfeksi dengan E.coli. Pengamatan dilakukan terhadap kenaikan berat badan, kejadian diare, jangka waktu diare, reaksi imun, patologi-anatomi dan histopatologi saluran pencernaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen dalam tempe yang berpengaruh terhadap pertumbuhan terdapat di dalam residu. Komponen yang berpengaruh mengurangi resiko diare terdapat di dalam ekstrak etanol. Komponen yang menghambat kejadian diare terdapat di dalam residu dan ekstrak etanol. Komponen yang bersifat sebagai antigen yang dapat menimbulkan reaksi imunitas terhadap bakteri E.coli terdapat di dalam ekstrak hexan.
KANDUNGAN ASAM FITAT DAN TANIN DALAM KACANG-KACANGAN YANG DIBUAT TEMPE Almasyhuri Almasyhuri; Heru Yuniati; Dewi Sabita Slamet
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 13 (1990)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1965.

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh perebusan dan perendaman serta fermentasi kacang-kacangan terhadap kandungan asam fitat dan tanin. Kacang-kacangan yang diteliti sebanyak delapan macam, yaitu kacang kedelai, kacang gude, kecipir, koro benguk, kacang merah, kacang tolo, koro wedus dan lamtoro gung. Penentuan asam fitat dilakukan dengan cara tidak langsung, dimana asam fitat diubah menjadi feri-fitat, kemudian kadar besinya ditetapkan dengan spektrofotometri. Sedangkan kadar tanin ditetapkan dengan metoda Folin-Denis. Diperoleh hasil bahwa perebusan dan perendaman pada proses pembuatan tempe dapat menurunkan asam fitat dan tanin, tetapi tidak sampai menghilangkannya. Sementara fermentasi dapat menyebabkan penurunan asam fitat, namun sebaliknya meningkatkan kandungan tanin.
KELARUTAN NITROGEN DAN ASAM FITAT BIJI KECIPIR (PSOPHOCARPUS TETRAGONOLOBUS) Komari Komari
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 13 (1990)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1966.

Abstract

Winged bean (Psophocarpus tetragonolobus) flour has been studied for nitrogen and phytic acid aolubilities. The nitrogen solubility of defatted winged bean protein has an isoelectric point at about pH 4. The profile of phytic acid solubility is similar to the nitrogen solubility, but has lower solubility at alkaline pH. The nitrogen recovered in protein isolated from the seeds was highest if the solubility was taken at pH 12 and at pH of coagulation (pH 4), however, at this condition, the phytic acid content of the isolate was highest at this condition.
KOMPOSISI ZAT GIZI MAKANAN SIAP SANTAP BERBAGAI HIDANGAN NASI/MIE LENGKAP DAN PENGANAN KHAS INDONESIA Dewi Sabita Slamet
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 13 (1990)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.1967.

Abstract

Pada tahun anggaran 1989/1990 telah diteliti komposisi zat gizi 14 masakan (mie, dll) dan 10 makanan penganan (jajanan). Kandungan zat gizi jenis-jenis masakan berkisar antara 60-291 Kal dengan protein berkisar antara 0.85-15.6 g. Kandungan kalori jenis-jenis penganan berkisar antara 93-310 Kal, dan kandungan protein jenis penganan ini berkisar antara 0.70-8.0 g.
PENDIAGNOSAAN STATUS BESI BERDASARKAN NILAI HEMOGLOBIN PADA ANAK WANITA DI PERKEBUNAN TEH, JAWA BARAT M. A. Husaini
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2272.

Abstract

Untuk mendiagnosa status besi harus dilakukan tiga macam pemeriksaan biokimia yaitu: trasferin jenuh, ferritin, dan FEP (free erythrocyte phorphyrin). Dua diantara tiga macam parameter ini tidak normal maka disebut defisiensi besi. Tetapi ketiga macam pemeriksaan ini sulit dilakukan di dalam program, karena itu perlu ada suatu teknologi sederhana yaitu dengan hanya pemeriksaan Hb. Berdasarkan penelitian terhadap 209 orang anak Balita dan 107 orang wanita dewasa pemetik teh di Perkebunan Teh, Pengalengan, Bandung, didapatkan bahwa 12.0 g% Hb (Se=83.5%, Sp=83.7%) untuk anak Balita, dan 12.0 g% Hb (Se=86.0%, Sp=68.1%) untuk wanita dewasa, adalah batas yang dinyatakan paling tepat untuk menilai status besi. Diatas atau sama dengan nilai-nilai tersebut seseorang dinyatakan normal, sebaliknya dibawah nilai-nilai tersebut seseorang dinyatakan defisiensi besi. Sedangkan nilai batas anemia untuk Balita adalah 11 g% dan wanita dewasa adalah 12 g%. Berdasarkan kedua macam indikator tersebut diatas (batas defisiensi besi dan batas anemia) akan didapatkan tiga macam status besi, yaitu: (1) anemia defisiensi besi, (2) non anemia tapi defisiensi besi, dan (3) non anemia non defisiensi besi (normal). Nilai-nilai tersebut disarankan untuk dapat dipergunakan dalam pemecahan maupun penilaian program kesehatan masyarakat.
BEBERAPA ASPEK PSIKO-SOSIAL PADA ANAK KURANG ENERGI PROTEIN (KEP) DI DAERAH BOGOR Djoko Kartono; Sihadi Sihadi
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2273.

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendapatkan data tentang aspek psiko-sosial anak usia bawah lima tahun (Balita) dengan keadaan gizi buruk, gizi kurang dan gizi baik. Aspek-aspek tersebut meliputi tingkat pendidikan ayah dan ibu, keadaan psikologis ibu, aktifitas ibu di luar rumah, tipe rumah tangga dan keadaan perumahan. Sebanyak 126 keluarga bertempat tinggal di daerah Bogor tercakup dalam penelitian ini. Keluarga dibagi menjadi 3 kelompok yaitu keluarga dengan anak gizi buruk, dengan gizi kurang dan gizi baik. Jumlah sampel masing-masing kelompok sebanyak 42 anak. Dalam penelitian ini ditunjukkan adanya pengaruh yang nyata dari beberapa aspek psiko-sosial terhadap keadaan gizi anak. Aspek-aspek tersebut adalah nomor urut anak dalam keluarga, tingkat pendidikan ayah dan pendidikan ibu, umur pada waktu pertama menikah baik ayah maupun ibu dan aktivitas ibu di luar rumah. Akan tetapi, tidak ada perbedaan bermakna dalam tipe rumah tangga dan keadaan perumahan. Selain itu, ibu-ibu yang selalu khawatir terhadap kehidupan rumah tangganya dan kurang aktif dalam kegiatan di luar rumah cenderung mempunyai anak dengan keadaan kurang gizi. Demikian pula, ibu-ibu yang jarang mengikuti kegiatan di luar rumah seperti pengajian dan penimbangan bulanan.
STATUS GIZI ANAK BALITA DAN KETERLIBATAN IBU DALAM KEGIATAN DI LUAR RUMAH Sri Muljati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2274.

Abstract

Tulisan ini menyajikan analisis dari data hasil penelitian Aspek psikososial pada anak balita KKP yang dilakukan di wilayah kabupaten Bogor dengan rancangan kasus kontrol berjodoh (match case control). Dari data tersebut diperoleh 42 anak balita penderita gizi buruk (kasus) dan 42 anak balita dengan status gizi balk sebagai kontrol. Status gizi ditentukan berdasarkan pemeriksaan klinis dan indeks berat badan menurut umur. Sedangkan kontrol ditentukan berdasarkan kriteria: jenis kelamin, umur, sosial ekonoml dan lingkungan tempat tinggal yang relatif sama dengan kasus. Data yang diolah adalah status gizi anak, pengetahuan gizi ibu, sumber informasi tentang cara memberi makan kepada anak, dan kegiatan di luar rumah tangga yang diikuti ibu. Sumber informasi tentang cara memberi makan kepada anak umumnya berasal dari kerabat dekat yaitu orang tua, famili, tetangga dan teman, berturut-turut pada kelompok anak gizi baik dan buruk sebanyak 88.1% dan 92.0%. Pengetahuan ibu tentang gizi sebagian besar tergolong kurang, yaitu sebanyak 69.1% pada kelompok anak gizi baik dan 73.8% pada kelompok anak gizi buruk. Disamping itu ditemukan 76.2% dan 57.2% ibu dari kelompok anak balita gizi baik dan buruk yang mengikuti kegiatan penimbangan serta 69.0% dan 59.5% ibu dari kelompok anak gizi baik dan buruk yang mengikuti kegiatan pengajian. Namun kedua kegiatan tersebut nampaknya belum dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan gizi kepada masyarakat. Hal ini tampak dari sebagian besar ibu-ibu yang mengikuti kegiatan penimbangan, masih memiliki pengetahuan gizi yang kurang yaitu sebanyak 47.7% pada kelompok anak gizi baik dan 45.2% pada kelompok anak gizi buruk.
POLA MENYUSUI DAN PEMBERIAN MAKANAN PADA ANAK BALITA PENDERITA GIZI BURUK DI WILAYAH BOGOR Sudjasmin Sudjasmin; Sri Muljati; Sihadi Sihadi; Suhartato Suhartato; M. A. Husaini
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2275.

Abstract

Penelitian pola menyusui dan pemberian makanan pada penderita Gizi Buruk telah dilakukan terhadap pengunjung Klinik Gizi Bogor, berusia antara 6 bulan sampai dengan 48 bulan. Anak-anak penderita Gizi Buruk yang diteliti umumnya berumur di bawah 24 bulan dan hanya sedikit di atas 24 bulan. Yang paling banyak ditemui adalah marasmus (90.8%), sedangkan kwashiorkor dan marasmic-kwashiorkor hanya sedikit yaitu masing-masing 4.6% dan 4.6%. Umumnya anak-anak ini disapih pada usia sangat muda, bahkan lebih dari setengahnya (53.3%) telah disapih pada usia kurang dari 7 bulan. Alasan disapih adalah karena ibu hamil lagi, ibu sakit dan ASI tidak keluar. Anak-anak penderita Gizi Buruk ini juga telah mendapat makanan tambahan terlalu dini yaitu sejak berumur kurang dari 4 bulan. Selain itu juga sering diberi makanan jajanan berupa chiki, pisang goreng, ubi, agar-agar dan roti (biskuit); tabu diberi makan ikan; dan mengalami sulit makan karena sering sakit.
PRAKTIK PEMBERIAN MAKANAN PADA BAYI DI BOGOR DAN FAKTOR-FAKTOR SOSIAL BUDAYA YANG MEMPENGARUHI Arnelia Arnelia; Sri Muljati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2276.

Abstract

Telah dilakukan penelitian di daerah perkotaan dan pedesaan Ciomas di Kabupaten Bogor, untuk mempelajari praktek pemberian makanan pada bayi serta faktor sosial budaya yang mempengaruhi dengan menggunakan metoda Rapid Assesment Procedures (RAP). Sampel penelitian adalah ibu-ibu yang mempunyai bayi umur (13-18) bulan, kader Posyandu, dukun bayi dan tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukan bahwa makanan pralaktasi berupa madu dan air putih, biasa diberikan kepada bayi baru lahir di kedua desa. Bayi di daerah perkotaan sudah diberi ASI sejak berusia sehari, sedangkan di pedesaan umumnya pada hari ke empat karena ASI pada tiga hari pertama dianggap kotor dan biasanya dibuang. Pemberian makanan tambahan dimulai pada usia terlalu dini, yaitu rata-rata usia dua minggu di pedesaan dan satu bulan di perkotaan. Sebaliknya pemberian sayuran hijau dan protein hewani umumnya terlambat. Sayuran hijau baru diberikan setelah usia sembilan bulan di perkotaan, dan setelah 18 bulan di pedesaan. Protein hewani umumnya baru mulai diberikan setelah bayi berusia 12 bulan. Bahkan di daerah pedesaan, jenis ikan basah baru diberikan setelah anak berusia tiga tahun.
KADAR ZAT IODIUM DARI GARAM BERIODIUM SELAMA PROSES PENGEMASAN, PENYIMPANAN DAN PENANGANAN DI RUMAH TANGGA DI WILAYAH BOGOR Anies Irawati
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2277.

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui banyaknya kadar iodium (KI03) yang masih ada dalam garam beriodium selama pengemasan, penyimpanan dan penanganan di rumah tangga. Pada penelitian ini garam beriodium dikemas dengan menggunakan 4 macam jenis pengemas yaitu plastik bening, plastik gelap, gelas bening dan gelas merah gelap. Masing-masing garam dalam kemasan disimpan selama 0.2, 4.6 dan 8 minggu; dan kemudian diambil kadar iodiumnya (KI03). Selaln itu diteliti pula kadar iodium yang ada pada sayuran (wortel, bayam dan labu siam) selelah masing-masing sayuran tersebut dibubuhi garam beriodium dan kemudian dimasak secara dikukus, direbus dan ditumis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa garam beriodium yang dikemas dengan gelas yang berwarna merah gelap, selama penyimpanan kadariodium (KI03) yang masih ada paling banyak (39.43 ppm) dibanding ketiga jenis kemasan lainnya (antara 31.40 ppm dan 33.53 ppm). Dua minggu pertama peyimpanan merupakan periode berkurangnya kadar iodium (KI03) paling banyak yaitu antara 2.30 persen dan 14.40 persen. Semakin lama disimpan kadar iodium garam semakin rendah. Garam beriodium yang dibubuhkan pada sayuran yang dimasak dengan cara dikukus, kadar iodium yang masih ada paling banyak (antara 13.76 ppm dan 18.64 ppm) dibandingkan sayuran yang dimasak dengan kedua cara pemasakan lainnya (masih ada antara 7.86 ppm dan 12.04 ppm)

Filter by Year

1971 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 47 No. 2 (2024): PGM VOL 47 NO 2 TAHUN 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): PGM VOL 47 NO 1 TAHUN 2024 Vol. 46 No. 2 (2023): PGM VOL 46 NO 2 TAHUN 2023 Vol. 46 No. 1 (2023): PGM VOL 46 NO 1 TAHUN 2023 Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022 Vol. 45 No. 1 (2022): PGM VOL 45 NO 1 TAHUN 2022 Vol. 44 No. 2 (2021): PGM VOL 44 NO 2 TAHUN 2021 Vol. 44 No. 1 (2021): PGM VOL 44 NO 1 TAHUN 2021 Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020 Vol. 43 No. 1 (2020): PGM VOL 43 NO 1 TAHUN 2020 Vol. 42 No. 2 (2019): PGM VOL 42 NO 2 TAHUN 2019 Vol. 42 No. 1 (2019): PGM VOL 42 NO 1 TAHUN 2019 Vol. 41 No. 2 (2018): PGM VOL 41 NO 2 TAHUN 2018 Vol. 41 No. 1 (2018): PGM VOL 41 NO 1 TAHUN 2018 Vol. 40 No. 2 (2017) Vol. 40 No. 1 (2017) Vol. 39 No. 2 (2016) Vol. 39 No. 1 (2016) Vol. 38 No. 2 (2015) Vol. 38 No. 1 (2015) Vol. 37 No. 2 (2014) Vol. 37 No. 1 (2014) Vol. 36 No. 2 (2013) Vol. 36 No. 1 (2013) Vol. 35 No. 2 (2012) Vol. 35 No. 1 (2012) Vol. 34 No. 2 (2011) Vol. 34 No. 1 (2011) Vol. 33 No. 2 (2010) Vol. 33 No. 1 (2010) Vol. 32 No. 2 (2009) Vol. 32 No. 1 (2009) Vol. 31 No. 2 (2008) Vol. 31 No. 1 (2008) Vol. 30 No. 2 (2007) Vol. 30 No. 1 (2007) Vol. 29 No. 2 (2006): PGM VOL 29 NO 2 Desember Tahun 2006 Vol. 29 No. 1 (2006) Vol. 28 No. 2 (2005) Vol. 28 No. 1 (2005) Vol. 27 No. 2 (2004) Vol. 27 No. 1 (2004) Vol. 26 No. 2 (2003) Vol. 26 No. 1 (2003) Vol. 25 No. 2 (2002) Vol. 25 No. 1 (2002) JILID 24 (2001) JILID 23 (2000) JILID 22 (1999) JILID 21 (1998) JILID 20 (1997) JILID 19 (1996) JILID 18 (1995) JILID 17 (1994) JILID 16 (1993) JILID 15 (1992) JILID 14 (1991) JILID 13 (1990) JILID 12 (1989) JILID 11 (1988) JILID 10 (1987) JILID 9 (1986) JILID 8 (1985) Vol. 6 (1984): JILID 6 (1984) JILID 7 (1984) Vol. 5 (1982): JILID 5 (1982) JILID 4 (1980) JILID 3 (1973) JILID 2 (1972) JILID 1 (1971) More Issue