cover
Contact Name
Sudikno
Contact Email
onkidus@gmail.com
Phone
+6281316350502
Journal Mail Official
redaksipgm@yahoo.com
Editorial Address
Grand Centro Bintaro Blok B2, Jl. Raya Kodam Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan 12320 Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research)
ISSN : 01259717     EISSN : 23388358     DOI : https://doi.org/10.36457
Core Subject : Health, Social,
Focus and Scope Penelitian Gizi dan Makanan is a journal developed to disseminate and discuss the scientific literature and other research on the development of health in the field of food and nutrition. This journal is intended as a medium for communication among stake holders on health research such asresearchers, educators, students, practitioners of Health Office, Department of Health, Public Health Service center, as well as the general public who have an interest in the matter. The journal is trying to meet the growing need to study health. Vision: Becoming a notable national journal in the field of food and nutritions towards a reputable international journal. Mission: Providing scientific communication media in food and nutritions research in order to advance science andtechnology in related fields. Organizes scholarly journal publishing in health research with an attempt to achieve a high impact factorin the development of science and technology.
Articles 597 Documents
DETERMINAN PERTUMBUHAN ANAK 6-8 TAHUN DI DAERAH ENDEMIK GAKI Basuki Budiman
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2278.

Abstract

Pertumbuhan yang diukur dari tinggi badan pada anak usia 6-8 tahun di daerah endemik Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI) cenderung lebih buruk daripada di daerah non-endemik. Oleh karena pertumbuhan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik internal maupun eksternal, maka determinan pertumbuhan di setiap daerah akan berbeda. Penelitian ini mengungkapkan determinan pertumbuhan di daerah endemik GAKI. Rancangan penelitian kasus-kontrol dipilih dengan kasus ditentukan sebagai anak usia 6-8 tahun yang tumbuh di daerah endemik dan mengalami gangguan pertumbuhan; sedangkan kontrol adalah anak yang berjenis kelamin dan berusia relatif sama (toleransi tiga bulan) ang tumbuh di daerah yang sama pula serta tidak mengalami gangguan pertumbuhan. Determinan dianalisis dari regresi ganda logistik pada 52 pasang sampel. Penyusunan model regresi menggunakan paket analisis SPSS versi 3.1. Hasil analisis memberi petunjuk bahwa faktor tinggi badan ayah tidak memberikan resiko terhadap pertumbuhan anak; sedangkan faktor tinggi badan ibu memberikan resiko terhadap pertumbuhan anak sebesar 2.72 (1.08-6.83). Faktor-faktor lain tidak dapat disimpulkan dan masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
TEMPAT PELAYANAN KESEHATAN DASAR UNTUK ANAK USIA 6-36 BULAN YANG DITUJU MASYARAKAT KOTA Basuki Budiman
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2279.

Abstract

Dalam penelitian ini telah dipelajari pemanfaatan pelayanan kesehatan dasar terutama untuk anak usia 6-36 bulan. Penelitian dilaksanakan di dua kelurahan dari dua kecamatan di Kotamadya Semarang. Dari hasil analisis data penelitian ini dapat diungkapkan bahwa masyarakat kota mempunyai banyak pilihan tempat pelayanan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan dasar anaknya. Pos pelayanan terpadu (Posyandu) yang merupakan upaya pemerintah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat ternyata masih lebih banyak digunakan terutama oleh kelompok ekonomi kurang mampu dan ibu rumahtangga yang berpendidikan tamat sekolah lanjutan pertama atau kurang.
POLA KONSUMSI MAKANAN MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI WILAYAH PENGEMBANGAN INDUSTRI Trintrin T. Mudjianto; Tjetjep S. Hidayat; Hermina Hermina; Triasari Andanwerti; Nurfi Afriansyah; Adhi Dharmawan Tato; Siti Hasnah Soetedjo; Djoko Susanto
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2280.

Abstract

Studi ini dilakukan untuk menggali faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap pola konsumsi makanan responden buruh pabrik dan keluarganya di wilayah pengembangan industri. Sebagai pembanding diteliti pula keluarga petani kecil di wilayah pertanian. Sebanyak 100 orang responden dan keluarganya di masing-masing wilayah menjadi sumber data penelitian ini. Beberapa temuan menunjukkan keragaan sebagai berikut: Sebagian KK di wilayah pertanian selain bekerja sebagai petani juga bekerja sebagai buruh pabrik. Penghasilan KK di wilayah industri relatif lebih tinggi dibandingkan dengan di wilayah pertanian. Ketersediaan makanan dan bahan makanan yang berasal dari pedagang tetap maupun pedagang keliling di kedua wilayah tidak banyak berbeda. Konsumsi makanan keluarga di wilayah industri relatif lebih baik dibandingkan dengan di wilayah pertanian baik dalam hal jumlah maupun macamnya. Di kedua wilayah penelitian, macam makanan yang dikonsumsi KK tidak banyak berbeda dengan yang dikonsumsi anggota keluarga lainnya. Dibandingkan terhadap kecukupan gizi yang dianjurkan (ROA) maka kecuali protein, konsumsi zat-zat gizi darl makanan yang diperoleh KK di lingkungan pabrik dan di rumah umumnya masih belum memenuhi patokan gizi tersebut. Namun demikian konsumsi energi dan proteinnya lebih tinggi dibandingkan dengan di wilayah industri, sedangkan konsumsi vitamin dan mineral sebaliknya. Sebanyak 67% KK di wilayah industri memperoleh makan siang dengan cara membeli di warung sekilar pabrik, 1% membawa bekal dari rumah, 4% mendapat jatah dari pabrik, 22% makan di rumah dan 6% tidak makan. Alasan responden tidak makan siang karena pendapatannya tidak mencukupi.
LEMAK TUBUH DAN KESEGARAN JASMANI PEKERJA INDONESIA Y. Krisdinamurtirin; Dewi Permaesih; Ance Murdiana; Sri Murni Prastowo
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2281.

Abstract

Penelitian mengenai Lemak Tubuh dan Kesegaran Jasmani telah dilakukan terhadap 62 orang karyawan gemuk, 73 orang karyawan sedang dan 86 orang karyawan kurus. Mereka terdiri atas kelompok Gemuk Aktif (GPA): 33 orang; Gemuk Sendentary (GPSD): 29 orang; Sedang Aktif (SPA): 33 orang; Sedang Sendentary (SPSD): 40 orang; Kurus Aktif (KPA): 35 orang; Kurus Sendentary (KPSD): 51 orang. Umur mereka adalah antara 20 tahun dan 40 tahun. Uji Kesegaran jasmani menggunakan cara Harvard Step Test (HST) menunjukkan bahwa skor list kelompok Gemuk cenderung kurang bila dibandingkan dengan kelompok Sedang maupun Kurus. Uji kemaknaan perbedaan secara statistik menggunakan Student test, ternyata perbedaan terdapat pada tingkat Kegemukan, sedangkan pada tingkat jenis kegiatan (aktif/sendentary ) tidak menunjukkan perbedaan skor. Demikian pula clengan menggunakan Analisis Variance, menunjukkan bahwu ada kailan antaru Kegemuknn dengan skor HST (P:0,002), sedangkan antara jenis kegiatan dengan skor HST tidak ada kaitan (P:0,9049). Garis regresi memberikan gambaran bahwa makin tinggi presentase lemak tubuh, tingkat kesegaran jasmani yang dinyatakan dalam skor HST makin menurun. Garis regresi antara% 88/TB dengan kesegaran jasmani, memberikan gambaran pula ada kecenderungan bahwa pada % 88/TB 100%, kesegaran jasmani menurun. Sedangkan regresi antara kesegaran jasmani dengan tinggi duduk tidak menunjukkan kaitan yang jelas. Tetapi antara urnur dan kesegaran jasmani, menunjukkan ada kecenderungan makin tinggi urnur, kesegaran jasmani menurun. Kesimpulan dari penelitlan inl ialah bahwa ada kaitan antara kesegaran jasmani yang dinyatakan dalam skor Uji HST dengan (a) kegemukan dan (b) umur.
PREVALENSI ANEMIA ANAK SEKOLAH DASAR DI DAERAH PENGHASIL DAN BUKAN PENGHASIL SAYURAN HIJAU DI KABUPATEN BOGOR Sukati Saidin; M. A. Husaini; Ignatius Tarwotjo; Suhardjo Suhardjo; Yuniar R.
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2282.

Abstract

Telah dilakukan penelitian secara cross-sectional untuk mengetahui gambaran dan perbedaan konsumsi sayuran hijau dan prevalensi anemia anak SD di daerah penghasil dan bukan penghasil sayuran hijau di Kabupaten Bogor. Penelitian dilakukan di tlga desa penghasil sayuran hijau di Kecamatan Ciampea dan tiga desa bukan penghasil sayuran hijau di Kecamatan Nanggung di wilayah Kabupaten Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak SD di daerah penghasil sayuran hijau lebih sering dan lebih banyak mengkonsumsi sayuran hijau dibandingkan dengan anak SD di daerah bukan penghasil sayuran hijau (P<0.05). Prevalensi anemia pada anak SD di daerah penghasil sayuran hijau tidak berbeda nyata dengan anak SD di daerah bukan penghasil sayuran hijau. Tetapi rata-rata kadar Hb anak SD di daerah penghasil sayuran hijau berbeda nyata dengan anak SD di daerah bukan penghasil sayuran hijau (12.3 g/dl vs 11.9 g/dl). Faktor-faktor yang berpengaruh nyata pada kadar Hb anak SD di daerah penghasil sayuran hijau ialah frekuensi makan sayur dan konsumsi zat besi dengan koefisien regresi sebesar 0.38009 dan 0.32432. Demikian juga faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap kadar Hb anak SD di daerah bukan penghasil sayuran hijau ialah konsumsi zat besi dan frekuensi makan sayur dengan koefisien regresi sebesar 0.49240 dan 0.43696.
BAHAN PANGAN SEBAGAI ALTERNATIF DETEKSI IODIUM PADA GARAM BERIODIUM Yuniar Rosmalin; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2283.

Abstract

Telah dilakukan penelitian terhadap bahan pangan sebagai alternatif deteksi iodium pada garam beriodium. Bahan yang digunakan yaitu Singkong, Gadung, Rebung dan Biji Karet. Diperoleh 10 sampel Singkong, 4 jenis dari Kuningan (SRK, SGHK, SGK, SMK), 3 jenis dari Sukabumi (SBMS, SBHS, SSKS) dan 3 jenis dari Bogor (SCB, SPB dan SMB). Gadung diperoleh 6 sampel yaitu 2 sampel dari Kuningan (GPK & GKK), 2 sampel dari Sukabumi (GP1S dan GP2S) dan 2 sampel dari Bogor (GPB dan GKB). Rebung diperoleh 9 sampel yaitu 3 sampel dari Kuningan (RBK, RTK, RHK), 3 sampel dari Sukabumi (RBS, RTmS, RTS) dan 3 sampel dari Bogor (RTB, RAB dan RBB). Biji Karet diperoleh 8 sampel yaitu 3 sampel dari Bogor (GT1B, LCB 1320 B, WRB), 2 sampel dari Kuningan (LCB479K, PR300 K) dan 3 sampel dari Sukabumi (GT1S, PR303S, PR300S). Hasil pengujian garam iodium menggunakan singkong menunjukkan tidak terlihat adanya pengaruh kadar air, HCN dan amilosa singkong terhadap intensitas warna yang timbul pada tiap konsentrasi garam. Begitu pula hasil pengujian menggunakan gadung, rebung atau biji karet, menunjukkan tidak adanya pengaruh kadar air, HCN atau amilosa terhadap intensitas warna yang timbul pada tiap konsentrasi garam. Singkong, gadung, rebung dan biji karet dapat digunakan untuk memperoleh gambaran apakah suatu garam beriodium yang beredar memenuhi syarat iodisasi atau tldak. Mengingat adanya variasi warna yang timbul perlu diperhatikan intensitas warna yang timbul serta lamanya intensitas tersebut bertahan.
HUBUNGAN ANTARA STATUS BESI DAN STATUS VITAMIN A PADA IBU MENYUSUI Ance Murdiana Dahro; Clara M. Kusharto; Sukati Saidin; Dewi Permaesih; Muhilal Muhilal
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2285.

Abstract

Kualitas ASI pada ibi hamil khususnya kandungan besi dan vitamin A dipengaruhi oleh status besi dan status vitamin A ibu. Ibu menyusui yang tinggal di pedesaan hingga saat ini masih mempunyai kebiasaan memberikan ASI pada anak balitanya walau sudah berumur 2 tahun. Sampai saat ini belum ada data status besi dan status vitamin A ibu menyusui, kecuali status besi dan status vitamin A ibu hamil. Data ibu hamil menunjukkan bahwa anemi gizi masih merupakan masalah dan status vitamin A ibu hamil pun sebagian masih rendah. Kedua masalah gizi tersebut merupakan masalah yang terpisah akan tetapi ada kemungkinan keduanya merupakan masalah yang berkaitan antara satu dengan lainnya. Penelitian status besi dan status vitamin A telah dilakukan pada 75 orang ibu menyusui dari pedesaan di Kabupaten Bogor. Sampel berumur antara 16 tahun sampai dengan 35 tahun dengan status gizi baik, yang mempunyai anak balita berumur sampai dengan 2 tahun. Dari hasil penelitian terungkap bahwa rata-rata kadar vitamin A ibu menyusui tersebut adalah 32.8±11 ug/dl, sedangkan kadar ferritin (besi) adalah 20.4±12.6 ng/ml. Uji regresi menunjukkan bahwa setiap kenaikan 1 ug/dl vitamin A akan terjadi kenaikan ferritin sebesar 0.32 ng/ml (Fsign.=0.0149), Uji korelasi Pearson antara vitamin A dan ferritin adalah 0.2803 (p<0.05).
FORTIFIKASI ZAT BESI PADA TEPUNG TERIGU DAN KECAP Komari Komari; Hermana Hermana
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2286.

Abstract

Fortifikasi zat besi merupakan salah satu program jangka panjang dalam memerangi anemi gizi besi. Fortifikasi ferosulfat dan ferofumarat telah dilakukan ke dalam tepung terigu dan kecap. Tepung terigu dan kecap yang difortifikasi dengan zat besi disimpan masing-masing di dalam kantung plastik dan botol berwarna. Kada zat besi dan ketersediaan biologi tepung terigu ditentukan menggunakan metoda in vitro selama penyimpanan 2 bulan. Variasi kadar zat besi pada tepung terigu yang diperoleh dalam penelitian ini terjadi oleh pengadukan zat besi ke dalam tepung terigu. Selama penyimpanan kecap yang difortifikasi dengan ferosulfat, kadar zat besinya meningkat mendekati 100%, ini diakibatkan oleh adanya proses keseimbangan zat besi dalam kecap selama penyimpanan. Ketersediaan biologi besi berkisar antara 10% dan 12%. Warna dan bau tepung terigu tak berubah selama penyimpanan tersebut. Namun demikian, daya terima makanan yang menggunakan tepung terigu dan kecap yang difortifikasi memerlukan pengujian.
PERUBAHAN KANDUNGAN PROTEIN DAN KOMPOSISI ASAM AMINO KEDELAI PADA WAKTU PEMBUATAN TEMPE DAN TAHU Suryana Purawisastra; Dewi Sabita Slamet; Uken S.S. Soetrisno
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2287.

Abstract

Telah dilakukan pengamatan terhadap peerubahan kandungan serta komposisi asam amino protein kedelai pada waktu pembuatan tempe dan tahu. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa protein kedelai berkurang 18.0% pada waktu pembuatan tempe, dan berkurang 46.5% pada waktu pembuatan tahu. Akan tetapi komposisi asam amino protein tempe banyak yang menurun, secara total penurunan asam amino protein tempe mencapai 22.6% dari total asam amino protein kedelai, sedangkan pada protein tahu malah terjadi kenaikan sebesar 9.9%. Ampas dari pembuatan tahu digunakan untuk membuat tempe gembus, dan protein kedelai yang tertinggal sebesar 18.25% dalam ampas ini bisa dimanfaatkan dengan total penurunan asam aminonya hanya 7.5%. Pada penelitian ini juga dilakukan pengamatan pengaruh proses pemasakan (goreng) terhadap perubahan komposisi asam amino protein tempe, tahu dan tempe gembus. Hasilnya menunjukkan bahwa komposisi asam amino protein tempe gembus mengalami penurunan terbanyak.
PENGARUH PEMBERIAN SUPLEMENTASI ASAM AMINOBERCABANG TERHADAP PRESTASI PEJUDO DI PUSLATNAS JUDO CILOTO, JAWA BARAT D. S. Slamet; Y. Krisdinamurtirin; S. M. Prastowo; Almasyhuri Almasyhuri
Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) JILID 16 (1993)
Publisher : Persagi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/pgm.v0i0.2288.

Abstract

Beberapa faktor berpengaruh terhadap peningkatan prestasi olahragawan, antara lain bobot latihan fisik dan masukan zat gizi, terutama saat dan menjelang bertanding. Kebutuhan energi diharapkan bagi olahragawan lebih besar daripada bukan olahragawan. Bila energi dari karbohidrat dipakai terus menerus selama bertanding, kebutuhan energi diambil dari protein. Bila keadaan tersebut berlanjut dapat menurunkan prestasi olahragawan tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut dengan disuplementasi asam amino bercabang ke dalam makanan olahragawan akan digunakan pada waktu proses metabolisme protein sebagai sumber energi selama bertanding. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui bila ke dalam makanan olahragawan diberikan asam amino bercabang (BCAA) akan meningkatkan prestasi olahragawan. Subyek diambil dari cabang olahraga judo sebanyak 15 orang pejudo yunior, umur antara 14-19 tahun, dibagi dalam 2 kelompok (A dan B) masing-masing terdiri dari komposisi, berat badan dan jenis kelamin yang sama, tinggal di asrama dan mendapat makanan yang sama pula. Perlakuan ada 3 periode, masing-masing selama 12 hari. Periode I subyek diberi kapsul placebo ke dalam makanannya selama 12 hari. Hari ke 11 subyek diperiksa keadaan klinis, biokimia darah dan uji kebugaran jasmani. Setelah diistirahatkan selama 14 hari, dilakukan Periode II, subyek diberi kapsul placebo selama 12 hari, pada hari ke 11 dilakukan pemerlksaan klinis, biokimia darah menjelang uji kebugaran jasmani. subyek diberi kapsul asam amino bercabang (BCAA). Setelah diistirahatkan selama 14 hari, dilakukan Periode III, pemberian kapsul placebo diganti dengan kapsul yang berisi asam amino campuran selama 12 hari. Pada hari ke 11 diperiksa ulang klinis dan biokimia darah. Menjelang uji kebugaran jasmani subyek diberi kapsul BCAA. Parameter yang digunakan adalah masukan dan keluaran energi, zat gizi makanan yang dikonsumsi, biokimia darah dan uji kebugaran jasmani. Periode I, II, III, dengan melalui statistik uji-t. Hasil dari penelitian tersebut sebagai berikut: Penggunaan energi pada perlakuan Periode II lebih besar dari masukan energi. Keadaan biokimia darah selama 3 macam perlakuan (PI, PII, PIII) tidak memberikan perbedaan yang bermakna. Uji kebugaran jasmani selama 3 periode dibandingkan dengan standar minimum dari KONI, beberapa kegiatan memberi pengaruh, terutama yang menggunakan otot walaupun setelah diuji t memberikan hasil yang tak nyata. Kesimpulan dari penelitian ini mengungkapkan bahwa pemberian asam amino bercabang (BCAA) terhadap para pejudo yunior sedikit meningkatkan prestasi terhadap beberapa kegiatan uji kebugaran jasmani, yaitu yang menggunakan tenaga otot, sedangkan terhadap ketahanan fisik (endurance) belum tampak pengaruhnya.

Filter by Year

1971 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 47 No. 2 (2024): PGM VOL 47 NO 2 TAHUN 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): PGM VOL 47 NO 1 TAHUN 2024 Vol. 46 No. 2 (2023): PGM VOL 46 NO 2 TAHUN 2023 Vol. 46 No. 1 (2023): PGM VOL 46 NO 1 TAHUN 2023 Vol. 45 No. 2 (2022): PGM VOL 45 NO 2 TAHUN 2022 Vol. 45 No. 1 (2022): PGM VOL 45 NO 1 TAHUN 2022 Vol. 44 No. 2 (2021): PGM VOL 44 NO 2 TAHUN 2021 Vol. 44 No. 1 (2021): PGM VOL 44 NO 1 TAHUN 2021 Vol. 43 No. 2 (2020): PGM VOL 43 NO 2 TAHUN 2020 Vol. 43 No. 1 (2020): PGM VOL 43 NO 1 TAHUN 2020 Vol. 42 No. 2 (2019): PGM VOL 42 NO 2 TAHUN 2019 Vol. 42 No. 1 (2019): PGM VOL 42 NO 1 TAHUN 2019 Vol. 41 No. 2 (2018): PGM VOL 41 NO 2 TAHUN 2018 Vol. 41 No. 1 (2018): PGM VOL 41 NO 1 TAHUN 2018 Vol. 40 No. 2 (2017) Vol. 40 No. 1 (2017) Vol. 39 No. 2 (2016) Vol. 39 No. 1 (2016) Vol. 38 No. 2 (2015) Vol. 38 No. 1 (2015) Vol. 37 No. 2 (2014) Vol. 37 No. 1 (2014) Vol. 36 No. 2 (2013) Vol. 36 No. 1 (2013) Vol. 35 No. 2 (2012) Vol. 35 No. 1 (2012) Vol. 34 No. 2 (2011) Vol. 34 No. 1 (2011) Vol. 33 No. 2 (2010) Vol. 33 No. 1 (2010) Vol. 32 No. 2 (2009) Vol. 32 No. 1 (2009) Vol. 31 No. 2 (2008) Vol. 31 No. 1 (2008) Vol. 30 No. 2 (2007) Vol. 30 No. 1 (2007) Vol. 29 No. 2 (2006): PGM VOL 29 NO 2 Desember Tahun 2006 Vol. 29 No. 1 (2006) Vol. 28 No. 2 (2005) Vol. 28 No. 1 (2005) Vol. 27 No. 2 (2004) Vol. 27 No. 1 (2004) Vol. 26 No. 2 (2003) Vol. 26 No. 1 (2003) Vol. 25 No. 2 (2002) Vol. 25 No. 1 (2002) JILID 24 (2001) JILID 23 (2000) JILID 22 (1999) JILID 21 (1998) JILID 20 (1997) JILID 19 (1996) JILID 18 (1995) JILID 17 (1994) JILID 16 (1993) JILID 15 (1992) JILID 14 (1991) JILID 13 (1990) JILID 12 (1989) JILID 11 (1988) JILID 10 (1987) JILID 9 (1986) JILID 8 (1985) Vol. 6 (1984): JILID 6 (1984) JILID 7 (1984) Vol. 5 (1982): JILID 5 (1982) JILID 4 (1980) JILID 3 (1973) JILID 2 (1972) JILID 1 (1971) More Issue