cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Biologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 363 Documents
PENGARUH EKSTRAK MINYAK BIJI BUNGA MATAHARI (HELIANTHUS ANNUUS) TERHADAP PROSES AWAL PENYEMBUHAN LUKA Rodhiyah, Rodhiyah; Sulistiyawati, Sulistiyawati
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.861 KB)

Abstract

ABSTRAK   Penyembuhan luka merupakan proses pergantian jaringan yang rusak atau mati oleh jaringan yang baru. Proses ini terdiri dari tiga fase yang saling tumpang tindih yaitu fase inflamasi, fase proliferasi dan fase maturasi atau remodeling. Biji bunga matahari mengandung ?-sitosterol, flavonoid dan linoleic acid yang mampu memacu proses penyembuhan luka dan sudah dipakai pada pengobatan tradisional. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh aplikasi topikal minyak biji bunga matahari (Helianthus Annuus) terhadap proses awal penyembuhan luka. Penelitian ini menggunakan tiga ekor tikus putih jantan strain Spraque Dawley umur 3 bulan dengan berat badan 200-300 gram dibuat luka eksisi punch biopsy pada kulit punggung 0,5 cm kanan dan kiri dari kolumna vertebralis dan 2,5 cm dari telinga. Luka eksisi dibagi menjadi dua kelompok, kelompok kontrol yaitu satu luka eksisi pada punggung sebelah kiri selanjutnya tanpa diberi obat-obatan dan kelompok perlakuan yaitu satu luka eksisi pada punggung sebelah kanan yang ditetesi minyak biji bunga matahari.Tikus dibagi menjadi 3 kelompok terdiri dari 1 ekor tikus sesuai periode dekapitasi yaitu hari ke-3, 7 dan 12 setelah perlukaan. Jaringan luka dibuat preparat histologis untuk mengetahui fase inflamasi pada penyembuhan luka dengan menghitung jumlah sel leukosit PMN. Hasil penelitian menunjukkan jumlah leukosit PMN hari ke 3 pada kelompok kontrol sejumlah 200 dan pada kelompok minyak biji bunga matahari sejumlah 153 leukosit PMN, dan terus menurun pada hari ke 7 dan 12. Hasil penelitian membuktikan adanya perbedaan yang bermakna jumlah leukosit PMN pada setiap periode dekapitasi dan kelompok. Kesimpulan dari penelitian adalah aplikasi topikal ekstrak minyak biji bunga matahari dapat mempercepat fase inflamasi sehingga penyembuhan luka lebih cepat terjadi.   Kata kunci: penyembuhan luka, Helianthus Annuus, leukosit PMN
MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR PADA MATERI EKOSISTEM MELALUI PENERAPAN GUIDED NOTE TAKING DENGAN MEDIA POWERPOINT PADA SISWA KELAS VIII SMP MUHAMMADIYAH 1 SURAKARTATAHUN PELAJARAN 2011/2012 Jumadi, Wiro; Djumadi, Djumadi; Chalimah, Siti
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.845 KB)

Abstract

ABSTRAK   Tujuan penelitian meningkatkan keaktifan dan hasil belajar pada materi Ekosistem melalui penerapan Guided Note Taking dengan Media Powerpoint pada siswa kelas VII I SMP Muhammadiyah 1 Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri atas perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi dengan Strategi Guided Note Taking dengan media powerpoint yang dilakukan dalam dua siklus. Teknik analisis data yang digunakan adalah kualitatif. Metode yang dipakai adalah metode wawancara, observasi, tes, dan dokumentasi. Parameter yang diukur dalam penilaian afektif dan kognitif dalam setiap siklusnya. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai rata-rata kognitif siswa pada siklus I meningkat menjadi 70,56 dari nilai awal sebesar 61,54; sedangkan nilai rata-rata afektif sebesar 11,75 (termasuk kategori cukup berminat). Nilai rata-rata kognitif pada siklus II meningkat menjadi 80,77 dari siklus I 70,56; sedangkan nilai rata-rata afektif meningkat menjadi 13,61 (termasuk kategori berminat). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran melalui penerapan Guided Note Taking dengan Media Powerpoint dapat meningkatkan hasil belajar IPA Biologi siswa kelas VII I SMP Muhammadiyah 1 Surakarta tahun pelajaran 2011/2012.   Kata Kunci : Hasil belajar, Strategi Guided Note Taking, Media Powerpoint.
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI ISOLAT ACTINOMYCETES DARI RIZOSFER PADI (ORYZA SATIVA) TERHADAP SALMONELLA TYPHOSA DAN STAPHYLOCOCCUS AUREUS Ambarwati, Ambarwati; S, Tanti Azizah; Sembiring, Langkah; Wahyuono, Subagus
Prosiding Seminar Biologi Vol 10, No 2 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.06 KB)

Abstract

Actinomycetes merupakan anggota bakteri yang dipromosikan sebagai penghasil zat  antimikrobial  terbesar.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi dan mengidentifikasi Actinomycetes dari rizosfer padi (Oryza sativa) yang berpotensi sebagai penghasil antibakteri dan dapat menghambat pertumbuhan Salmonella typhosa dan Staphylococcus aureus. Penelitian ini menghasilkan 17 isolat Actinomycetes, 8 isolat diantaranya mampu menghasilkan zat antibakteri. Diantara 8 isolat tersebut, satu isolat mampu menghambat pertumbuhan kedua bakteri uji, yaitu NRPR 13 yang menghambat Salmonella typhosa (dengan diameter daerah hambatan 14 mm) dan Staphylococcus aureus (12 mm). Tiga isolat mampu menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella  typhosa, yaitu NRPR  14  (11 mm), NRPR  62 dan NRPR 67 (masing-masing 10 mm). Dan empat isolat mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, yaitu RPR 15 (14 mm),  NRPR 11 (17 mm), NRPR 33 (11 mm) dan NRPR 46 (16 mm).  Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Actinomycetes yang diisolasi dari rizosfer padi berpotensi menghasilkan zat antibakteri. Kata kunci : Actinomycetes,  Zat Antibakteri, S. typhosa,  S. aureus.
PEMANFAATAN TUMBUHAN IRIS AIR (NEOMARICA GRACILLIS) SEBAGAI AGEN BIOREMEDIASI AIR LIMBAH RUMAH TANGGA Wulandari, Rischa; F, Yuli Siti; W, Eka Septia; N, Jenni Indah DP; H, Niken R
Prosiding Seminar Biologi Vol 10, No 3 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.549 KB)

Abstract

Kadar limbah rumah tangga yang meningkat di suatu perairan dapat menyebabkan kualitas air menurun. Kualitas air yang menurun dapat mengganggu aktivitas biota perairan maupun manusia, sehingga perlu adanya upaya peningkatan kulitas air. Peningkatan kualitas air dapat dilakukan dengan bioremediasi.  Bioremediasi yang dilakukan oleh tumbuhan disebut fitoremediasi. Tumbuhan iris air (Neomarica gracilis) diduga dapat bertindak sebagai agen bioremediasi. Metode bioremediasi dilakukan secara ex situ. Limbah rumah tangga dibuat dengan konsentrasi 25%, 50%,  dan 100%, kemudian diberi dua perlakuan. Perlakuan pertama diberi tanaman Neomarica gracillis, sedangkan perlakuan kedua tanpa diberi  tanaman Neomarica gracillis. Parameter kualitas air yang terdiri atas  pH, suhu, DO, BOD, CO2 bebas, dan kesadahan total diukur selama tiga minggu. Tanaman Neomarica gracillis secara umun dapat menurunkan pH, suhu, BOD, CO2 bebas, dan kesadahan total, serta meningkatkan nilai DO. Hal ini menunjukkan kualitas air limbah rumah tangga meningkat.  Kata kunci :  Bioremediasi, Neomarica gracillis, Air Limbah
RECONSIDER OUR UNDERST ANDING ON BIOLOGICAL SYSTEM (A NEW CONCEPT DRIVEN BY NANOBIOLOGY AND COMPLEXITY SCIENCE) Sumitro, Sutiman Bambang
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4957.715 KB)

Abstract

Sistem kehidupan adalah merupakan obyek kajian yang sangat rumit, dengan demikian Biologi menjadi bidang ilmu dengan obyek penelitian paling sulit dibandingkan Kimia, Fisika dan bahkan Matematika.  Akibat dari rumitnya obyek, maka kajian di bidang Biologi dan life sciences pada umumnya, cenderung dilakukan dengan pendekatan analitik  yang  bertujuan  mengurai kerumitan sehingga memudahkan pembicaraan dalam  pengembangan  konsep dan simpulan.  Namun demikian, tetap saja kita dihadapkan pada kenyataan rumitnya sistem serta banyaknya data sehingga cenderung untuk memilih maupun memilah yang pada akhirnya melakukan penyederhanaan dan pembatasan pada hal-hal yang dianggap penting atau utama sesuai dengan kapasitas kemampuan manusiawi yang kita miliki. Aktivitas penyederhanaan  (reduksionistik)  di atas merupakan jalan mencari pengetahuan yang selama kurun waktu puluhan sampai ratusan tahun belakangan ini dianggap sebagai jalan  untuk dapat  berfikir yang dapat diandalkan untuk pengembangan ilmu-ilmu hayati.  Melalui pendekatan reduksionistik seperti tersebut ini sudah banyak pengetahuan dan rahasia sistem kehidupan diperoleh dan menjadi pengetahuan ummat berupa khasanah keilmuan. Namun demikian di sisi lain, masih sangat  banyak  pula  hal yang menjadi misteri dan  terasa  tidak akan pernah dapat dipahami  bila  dikaji dengan  cara pendekatan yang selama ini dilakukan. Dominasi jalan berfikir analitik dan reduksionistik ini menjadikan khasanah ilmu hayati bersifat parsial dan bahkan terasa hanya menjadi tumpukan  pengetahuan-pengetahuan yang sulit dirajut menjadi pengetahuan untuk memahami hakekat yang memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif.  Kecenderungan penyerderhanaan  obyek kajian  umumnya disertai  dengan memilih bagian yang dianggap strategis dan penting.  Sebagai konsekuensinya  banyak sekali asumsi dan  sekaligus juga pengabaian fakta, Akibat dari jalan berfikir selama ini  terlihat nyata pada pada Ilmu Kedokteran ketika melakukan  upaya-upaya  mengatasi permasalahan penyakit-penyakit  yang memiliki ketidak-jelasan  antara  sebab dan akibat. Penyakit-penyakit degeneratif  maupun penyakit-penyakit kejiwaan  adalah contoh  problematika  yang dianggap  pelik  di bidang Kedokteran  yang memerlukan bahasan dengan sudut pandang baru untuk mengatatasinya. Untuk memberikan kajian yang lebih komprehensif terhadap konsep-konsep bersifat linearistik hasil pendekatan analitik-reduksionistik, maka dalam kajian Ilmu-ilmu Hayati termasuk Kedokteran perlu memanfaatan konsep-konsep Fisika Modern. Hal ini berarti  Biologi  harus  menyentuh aspek diskusi  sampai pada sistem kerja atomik maupun partikel. Dengan demikian sebuah makro molekul tidak cukup hanya didiskusikan strukturnya ataupun dibahas hanya dengan bahasa Kimia, nmaun juga harus ada bahasan tentang karakter makro molekul tersebut di aspek medan gaya energi  serta  fenomena-fenomena  gerakan sangat cepat  yang  mengabaikan asas ruang dan waktu.  Selama ini,  menurut kaidah Fisika, pendekatan  Biologi diklasifikasikan sebagai cara berfikir  Newtonian. Maksudnya,  seluruh  fakta  Biologi hanya dikembangkan dari  fenomena yang  dapat  diamati melalui  indera dan  atau dengan instrumentasi yang membantu keterbatasan indera. Basis berfikir Newtonian ini menuntut  seluruh proses hidup  perlu  digambarkan dan divisualisasikan  baik tentang  struktur, bentuk, posisi (spatial) maupun  pola dan  mengamati  kecepatan gerakannya. Ceramah kali ini  berbicara tentang pemanfaatan pandangan  Nano  Biology dalam bidang Ilmu-ilmu Hayati dengan ilustrasi kajian-kajian yang menyentuh aspek molekul dan unit penyelenggara kehidupan yang berukuran antara 1 sampai 100 nm dengan memakai konsep fisika modern. Unit-unit berukuran nano tersebut  selama ini hanya didekati melalui perspektif hukum kimia  dan Biologi  dalam  kajian-kajian Biokimia dan  Biologi Sel.    Unit-unit ini umumnya berupa makro molekul bersifat susunan komplek dari beberapa komponen monomer, mereka    bekerja sangat spesifik bahkan dianggap memiliki kecerdasan. Mereka tahu kapan,  bagaimana, dimana dan dengan siapa  mereka harus bekerja.  Namun demikian bagaimana mekanismenya, medan gaya apa yang bekerja, dan mengapa dapat tetap bekerja dengan respon sangat cepat (dalam ukuran mikro sampai piko detik) sampai saat ini tidak dibahas. Selain itu sistem kehidupan mustinya juga dipandang sebagai aliran kontinu energi dan materi yang sedang menyelenggaraan  keteraturan  tubuh yang dinamis. Dengan diasumsikan bahwa rancangan atau konsep hidup sudah ada pada molekul-molekul makro ukuran nanomener ini, maka pendekatan Fisika Modern diharapkan dapat lebih membuka tabir rahasia  atom-atom atau molekul-molekul ketika mereka  menyelenggarakan  sifat hidup.  Pemikiran baru  ini terdukung oleh perkembangan  Ilmu Komputer dan Sistem Informasi,  yang memungkinkan penerapan Complexity Science dan sedapat mungkin menghindarkan pengabaian karena semua keberadaan dianggap memiliki peranan.   Kata Kunci: Biological System, Nanobiology, Complexity Science
DAYA ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN DAN BUAH MURBEI (MORUS ALBA L.) TERHADAP STAPHYLOCOCCUS AUREUS DAN SHIGELLA DYSENTERIAE Hastuti, Utami Sri; Oktantia, Anggia; Khasanah, Henny Nurul
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.801 KB)

Abstract

ABSTRAK   Buah murbei (Morus alba L.) selain dapat dikonsumsi langsung, juga dapat dimanfaatkan sebagai obat batuk. Daun murbei juga dapat digunakan untuk mengobati beberapa macam penyakit, antara lain: batuk, gangguan pencernaan makanan, bisul radang kulit. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menguji daya antibakteri dari ekstrak ethanol daun dan buah murbei  (M. alba L.) dalam beberapa macam konsentrasi terhadap Staphylococcus aureus secara in vitro; 2) menguji daya antibakteri dari ekstrak ethanol daun dan buah murbei (M. alba L.) dalam beberapa macam konsentrasi terhadap Shigella dysenteriae secara in vitro; 3) mengetahui konsentrasi ekstrak ethanol daun dan buah murbei (M. alba L.) yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus; 4) mengetahui konsentrasi ekstrak ethanol daun dan buah murbei (M. alba L.) yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan  Shigella dysenteriae. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Mikrobiologi FMIPA UM dan laboratorium ekstraksi Materia Medika Batu. Daun dan buah murbei (M. alba L.) dihaluskan dan dilakukan maserasi dengan alkohol 95% selama 3 hari, kemudian disaring steril. Hasil penyaringan daun dan buah murbei tersebut dipisahkan dari pelarutnya melalui evaporasi. Selanjutnya dilakukan pengenceran ekstrak untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak 5%, 15%, 25%, 35%, 45%, 55%, 65%, 75%, 85%, dan 95%. Pengujian daya antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar. Ekstrak daun dan buah murbei (M. alba L.) diperlakukan pada biakan S. aureus dan S. dysenteriae yang telah ditumbuhkan pada medium Nutrient Agar dan diinkubasikan pada suhu 37ºC selama 1 24 jam. Penentuan daya antibakteri ekstrak ethanol daun dan buah murbei (M. alba L.) dilakukan berdasarkan hasil zona hambat perrtumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Shigella dysenteriae pada medium Nutrient Agar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) ada pengaruh yang signifikan dari ekstrak ethanol daun dan buah murbei (M. alba L.) dalam beberapa macam konsentrasi terhadap Staphylococcus aureus secara in vitro; 2) ada pengaruh yang signifikan dari ekstrak ethanol daun dan buah murbei (M. alba L.) dalam beberapa macam konsentrasi terhadap Shigella dycenteriae secara in vitro; 3) konsentrasi baik ekstrak daun maupun buah murbei (M. alba L.) yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus ialah 85%; 4) konsentrasi ekstrak daun murbei (M. alba L.) yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan  Shigella dysenteriae ialah 95%, sedangkan konsentrasi ekstrak buah murbei (M. alba L.) yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan  Shigella dysenteriae ialah 85%.   Kata Kunci: daun dan buah murbei (M. alba L.), efek antibakteri, Staphylococcus aureus, Shigella dysenteriae.
ILMU PENGETAHUAN BIOLOGI DALAM KETAHANAN NASIONAL Supari, Siti Fadilah
Prosiding Seminar Biologi Vol 9, No 1 (2012): Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1642.079 KB)

Abstract

PENGARUH PEMBERIAN GETAH TANAMAN PATAH TULANG SECARA TOPIKAL TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGIS DAN KETEBALAN LAPISAN KERATIN KULIT Supriyanto, Supriyanto; Ika Luviana, Lilis Astria
Prosiding Seminar Biologi Vol 7, No 1 (2010): Seminar Nasional VII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.539 KB)

Abstract

ABSTRAK   Tumbuhan patah tulang merupakan salah satu tumbuhan yang mempunyai sifat toksik terhadap kulit dan lapisan lendir. Sifat toksik terdapat pada getahnya yang putih seperti susu. Kandungan utama getah tanaman patah tulang ini adalah phorbol ester dan ingenol ester. Seringkali, penggunaan getah tanaman patah tulang ini pada waktu dioleskan mengenai jaringan sehat di sekitar kulit yang sakit. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian bagaimana pengaruh kerjanya dan apakah pengobatan dengan getah tanaman ini cukup aman ataukah menimbulkan kerusakan juga pada jaringan yang sehat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perubahan histopatologis pada kulit serta mengetahui perubahan ketebalan lapisan keratin kulit setelah pemberian getah tanaman patah tulang secara topikal. Dalam penelitian ini, 6 ekor kelinci putih dibagi secara acak menjadi 3 kelompok pemberian, masing-masing kelompok pemberian terdiri dari 2 ekor yaitu kelompok pemberian 1 hari, 5 hari, dan 10 hari. Kontrol dan perlakuan terdapat pada satu individu. Pemberian getah tanaman patah tulang dilakukan rutin sekali sehari sesuai dengan kelompok pemberian. Mencatat perubahan warna kulit sebelum pembedahan. Pembedahan dilakukan sebanyak 3 kali yaitu setelah 1 hari, 5 hari dan 10 hari pemberian getah tanaman patah tulang, selanjutnya dibuat preparat kulit dengan pewarnaan hematoxilin-eosin untuk melihat struktur mikroanatomi dan perubahan histologis. Hasil penelitian  pemberian getah tanaman patah tulang secara topikal menunjukkan perubahan warna pada kelompok pemberian berupa eritem. Eritem terjadi mulai dari eritem sangat tipis hingga eritem yang sangat jelas. Dari gambaran mikroanatomi kulit terdapat hiperplasi epidermis, namun tidak ditemukan piknosis maupun nekrosis. Hiperplasi dapat dilihat terjadi peningkatan ketebalan lapisan keratin pada epidermis.   Kata kunci : Euphorbia tirucalli, histopatologis, epidermis, keratin.
STUDI TENTANG PENGARUH LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KEANEKARAGAMAN KAPANG KONTAMINAN PADA TEPUNG TERIGU Khasanah, Henny Nurul; Dewi, Otavia; Abidin, Safrudin M.; Hastuti, Utami Sri
Prosiding Seminar Biologi Vol 10, No 2 (2013): Seminar Nasional X Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.533 KB)

Abstract

Tepung terigu merupakan komoditas pangan yang banyak digunakan oleh masyarakat. Penggunaan tepung terigu biasanya meliputi dalam proses pembuatan roti, makanan ringan dan aneka masakan. Dalam skala rumahtangga penggunaan terigu ini umumnya tidak digunakan sekaligus. Para konsumen biasanya menyimpan sisa penggunaan tepung terigu dalam jangka waktu yang lama  untuk digunakan secara berkala. Tujuan penelitian ini ialah: 1) untuk mengidentifikasi spesies-spesies kapang  kontaminan yang terdapat pada tepung terigu; 2) untuk meneliti pengaruh lama penyimpanan terhadap keanekaragaman spesies kapang kontaminan pada tepung terigu. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang. Sampel tepung terigu terdiri dari tiga macam merk yang disimpan dalam stoples kaca selama 0 hari, 7 hari dan 14 hari. Sampel tepung diperiksa kualitas mikrobiologinya berdasarkan Angka Lempeng Total Koloni Kapang. Sampel tepung terigu yang diperlakukan dengan lama penyimpanan diambil 25 gram kemudian dilarutkan dalam 225 ml larutan air pepton 0,1% sehingga diperoleh suspensi dengan tingkatan pengenceran 10-1. Selanjutnya dilakukan pengenceran suspensi  sehingga diperoleh suspensi dengan tingkat pengenceran 10-2, 10-3, 104, 10-5, dan 10-6. Masing-masing suspensi diinokulasikan sebanyak 0,1 ml pada permukaan medium lempeng Czapek Agar (CA), lalu diinkubasikan pada suhu 25-270C selama 7x24 jam. Kapang kontaminan yang tumbuh diisolasi, dihitung jumlahnya dan diidentifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : 1) ada 14 spesies kapang kontaminan yang tumbuh dalam tepung terigu yaitu Penicillium funiculosum, Aspergillus flavus, Penicillium paraherquei, Eupenicillium hirayamae  Paecilomyces fulva, Aspergillus oryzae, Penicillium rugulosum, Aspergillus niger, Stachybotrys chartarum, Paecilomyces variotii, Cladosporium sphaerospermum, Aspergillus fumigatus, Aspergillus penicilloides, dan Penicillium corylophilum; 2) pada hari ke-0 terdapat lima spesies, pada hari ke-7 terdapat sembilan spesies dan pada hari ke-14 terdapat 14 spesies kapang kontaminan yang tumbuh      Kata kunci : tepung terigu, lama penyimpanan, kapang kontaminan
INTEGRASI PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME DALAM MODEL PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS KOOPERATIF UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI MAHASISWA PADA MATA KULIAH STRATEGI PEMBELAJARAN BIOLOGI TAHUN AKADEMIK 2009/2010 Sugiharto, Bowo; Prayitno, Baskoro Adi; Suciati, Suciati
Prosiding Seminar Biologi Vol 8, No 1 (2011): Seminar Nasional VIII Pendidikan Biologi
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.583 KB)

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa dengan pembelajaran yang mengintegrasikan pendekatan konstruktivisme dalam model problem based learning berbasis kooperatif pada mata kuliah Strategi Pembelajaran Biologi. Sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai, penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNS pada semester genap tahun akadamik 2009/2010. Subjek penelitian adalah 48 mahasiswa semester IV kelas A yang menempuh mata kuliah Strategi Pembelajaran Biologi. Variabel masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah kompetensi mahasiswa dalam mata kuliah Strategi Pembelajaran Biologi, sedangkan variabel tindakannya adalah penerapan pembelajaran yang mengintegrasikan Pendekatan Konstruktivisme dalam Model Problem Based Learning Berbasis Kooperatif. Tindakan ini dirumuskan dengan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari pembentukan kelompok kooperatif, orientasi masalah, kerja kelompok, konstruksi pengetahuan, diskusi kelas, dan finalisasi proyek. PTK ini dilaksanakan dalam tiga siklus. Masing-masing siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Target dari penelitian ini adalah rata-rata nilai uji kompetensi mahasiswa sebesar 85. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan rata-rata nilai uji kompetensi yaitu sebesar 82,92 pada siklus I, 84,44 pada siklus II, dan 85,15 pada siklus III. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa kompetensi mahasiswa dapat ditingkatkan dengan pembelajaran yang mengintegrasikan pendekatan konstruktivisme dalam model problem based learning berbasis kooperatif pada mata kuliah Strategi Pembelajaran Biologi.   Kata kunci: kompetensi mahasiswa, integrasi pendekatan konstrtuktivisme dalam PBL berbasis kooperatif, Strategi Pembelajaran Biologi